19 January 2017

Kunjungan PM Jepang yang dingin

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe baru saja berkunjung ke Indonesia. Tak ada berita besar di media massa. Bahkan banyak koran yang tidak memuat berita atau foto lawatan orang penting dari negeri sakura itu.

Media kita lebih suka membahas harga lombok yang naik selangit. Atau kasus Ahok. Aksi-aksi FPI. Atau penangkap pelaku judi kelas teri di kampung-kampung. Jepang sudah tak penting?

Yang pasti, suasananya berbeda jauh dengan era 70an dan 80an yang masih alergi Jepang. Khususnya investasinya yang gila-gilaan. Bahkan sempat ada peristiwa Malari 74 ketika ribuan mahasiswa memprotes kunjungan PM Jepang. 

Disambut meriah atau tidak, PM Abe dan rombongan pasti senang bukan main melihat jalanan di Indonesia yang penuh dengan mobil dan motor made in Japan. Honda Yamaha Suzuki Toyota Daihatsu Nissan....

Mungkin PM Abe tak menyangka kendaraan buatan Jepang ternyata jauh lebih banyak ketimbang di negara asalnya. Saking berlimpahnya produksi, saat ini uang muka motor hampir tidak ada alias nol. Bisa dibayangkan 20 tahun lagi jalanan di tanah air seperti apa kalau kepemilikan kendaraan pribadi dibebaskan sebebas-bebasnya seperti sekarang.

Indonesia punya hubungan sejarah yang pahit dengan Belanda dan Jepang. Setelah merdeka, kita praktis memutus ikatan dengan negara bekas penjajah itu. Hubungan dengan Jepang tinggal urusan dagang semata. Dengan Belanda hampir tidak ada kecuali segelintir indo-indo yang merasa punya hubungan darah.

Beda banget dengan Malaysia misalnya yang memberi penghormatan istimewa kepada perdana menteri atau ratu atau pangeran Inggris yang berkunjung. Di Indonesia, kunjungan kepala negara/pemerintahan Jepang dan Belanda tak beda dengan Timor Leste atau Kamboja atau Filipina. 

11 comments:

  1. Karena Bapak Presidennya Jokowi. Orang yang punya harga diri, jadi tidak perlu ngatok kepada orang asing.
    Lho Bung Hurek masih ingat sejarah Indonesia yang pernah dijajah oleh 2 negara asing. Banyak lho orang Indonesia yang sudah melupakan sejarah bangsanya.
    Daripada selalu ribut soal TKA dan investasi asing, seharusnya bangsa Indonesia bangkit, memproduksi barang2 dan membangun infrastruktur sendiri.
    100% truck dan bus di RRT bikinan dalam negeri, pakai merek cina. 80% mobil dan sepeda motor bikinan pabrik cina tulen, yang 20 % adalah merek asing, VW, BMW, Toyota, Mitsubishi, Honda,..dll, walaupun mereknya asing, tetapi dibikin 100% oleh pabrik di China, kecuali Ferrari, Bentley, Porsche, Lamborghini dan Rools Royce.
    Mobil dan sepeda motor saya di Tiongkok bikinan China. Tidak pernah mogok, tidak karatan, selalu tok-cer, walaupun usianya sudah 6 tahun.
    Mobil SUV saya beli baru gres cuma seharga
    5000,- Euro. Sepeda motornya cuma 250.- Euro.
    Anehnya di Tiongkok, harga makanan naik, tetapi harga barang2 technik justru tambah turun.
    Kwalitas barang2 Made in China makin lama makin bagus, mungkin tertinggal oleh Eropa, Jepang dan Korea, hanya 10 tahun lah.

    ReplyDelete
  2. Luar biasa Tiongkok itu. 100 persen bus dan truk made in China itu gak main2 bung! Mobil dan sepeda motor di Tiongkok 80 persen buatan dalam negeri itu juga luar biasa... apalagi Tiongkok itu komunis yang baru belajar jadi kapitalis.

    Saya rasa permusuhan Tiongkok vs Jepang dimanfaatkan dengan baik untuk bikin pabrik2 sendiri ketimbang menggunakan produk2 musuh meskipun dia punya kwaliteit ada lebih bagus.

    Indonesia juga sebetulnya sangat anti penjajah khususnya Belanda dan Jepang. Sayangnya.. Jepang pinter memanfaatkan Pak Harto untuk menanam investasi yg luar biasa. Pemerintah terlena sehingga tidak sempat mikir bikin pabrik2 motor truk bus sendiri. Kita kadung mabok buatan Jepang sampai sekarang.

    Dulu waktu masih di NTT saya pernah bikin tulisan singkat: Kalau Pak Habibie bisa bikin kapal terbang, mengapa tidak bisa bikin mobil dan sepeda motor? Kok semuanya buatan Jepang?

    Makin tua saya makin sadar bahwa kita sudah masuk perangkap Nippon. Jokowi yang waktu jadi wali kota Solo punya ide bikin mobil sendiri, bikin percobaan dengan mobil Esemka... akhirnya tidak berkutik ketika jadi presiden. Yah.. kita nikmati aja sambil nyeruput kopi pahit lah.

    ReplyDelete
  3. Kalau Pak Habibie bisa bikin kapal terbang, mengapa tidak bisa bikin mobil dan sepeda motor ?
    Pertanyaan serupa sudah pernah diajukan oleh seorang moderator TV jerman kepada pak Habibie dalam wawancara siaran langsung, yang saya lihat dan dengar sendiri,33 tahun silam.
    Jawaban Pak Habibie dengan gaya khas-nya dan marah, karena merasa tersinggung:
    Kalau bangsa saya mampu membuat barang yang sulit seperti pesawat terbang, apakah artinya membuat barang2 sepele macam sepeda motor dan mobil !
    Si-Bule : Maaf Pak Minister, maksud saya, seorang anak harus belajar berangkang, berdiri, jalan, barulah berlari.
    Pak Habibie makin marah: Apa salahnya jika bangsa saya langsung melompat !
    Kalau orang China bertemu bule yang lebih pandai,
    dia akan memuji si bule setinggi langit dan berlagak lebih bodoh lagi, dan minta diajari kepandaian supaya mengerti.
    Memang betul barang2 produksi China adalah barang tiruan, yang dihina oleh orang2 Indonesia,
    di-olok2 dengan istilah KW.
    Barang2 KW dari China : pesawat ruang angkasa, satelit, roket interkontinental, bom atom, pesawat tempur dan penumpang, kereta api cepat,
    peniti, odol, sikat gigi,....dll.
    Sepeda motor saya di Tiongkok adalah Honda KW 3.
    Mobil saya Daihatsu KW 2. So what ? Pokoknya bisa jalan dan murah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Itulah... Tahun 74 mahasiswa2 sudah unjuk rasa menolak produk2 jepang yg makin banjir di pasar indonesia. Tapi pimpinan mahasiswa ditangkap dan dipenjara. Kemudian motor dan mobil Jepang makin merajelela... sampai kita kecanduan. Sampai sekarang orang indonesia asyik2 aja dengan otomotif jepang. Malah menganggap aneh kalau ada orang yg punya ide untuk bikin industri otomotif made in indonesia.

      Sudah kadung rusak.

      Delete
    2. Itulah..... Sudah kadung rusak.
      Kata kiasan yang sopan : Kleptokrasi.

      Delete
  4. Tiongkok punya sentimen negatif alias bermusuhan dengan Jepang. Energi berkelahi itu dioptimalkan untuk membuat pabrik2 untuk bikin motor mobil dan mesin2 lain agar Tiongkok bisa terbebas dari penjajahan ekonomi Jepang. Rupanya Tiongkok sangat berhasil.

    Indonesia juga aslinya punya luka sejarah dijadikan mainan Nippon saat penjajahan. Sayangnya, kita akhirnya takluk dan dijajah lagi dengan kolonialisme ekonomi gaya baru. Nippon bisa merajalela karena orang kita cenderung bermental kacung (eks) penjajah. Untung saja Belanda tidak punya kekuatan ekonomi sehingga bisa ditendang dengan mudah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pd waktu itu Belanda tidak kuat ekonomi krn di tanah mereka habis perang dengan Jerman shg banyak butuhkan dana utk membangun kembali. Dana itu datang dari Uncle Sam berupa Marshall Plan, tetapi mereka harus angkat kaki dr Indonesia, yg ditakutkan oleh US jatuh seperti kartu domino ke blok komunis.

      Coba sekarang? Unilever, Phillips, ABN Amro, dll perusahaan Belanda masih merajalela di dunia ini krn dijalankan dengan profesional. PDB Indonesia total sama dengan PDB total Belanda yg jumlah penduduknya kurang dari 10x. Masih kuat Pak Lambertus.

      Delete
    2. Oh... baguslah kalo gitu. Belanda ternyata punya investasi yg banyak di mana2. Tapi kesan sebagai negara spesial yg pernah berkuasa tiga abad di Indonesia kayaknya tidak ada lagi.

      Indonesia sepertinya tidak membutuhkan Belanda sejak Pak Harto membubarkan IGGI. Sekarang ini musik, film, gaya hidup bahkan american english yg jadi makanan di nusantara. Tinggal segelintir indo2 lawas yg masih merasa punya ikatan emosional dengan Londo. Suwun.

      Delete
    3. Kalau itu benar, pengaruh budaya Belanda di Indonesia sangat luntur. Ada seorang diplomat pejuang kemerdekaan yang bilang, Belanda itu sangat goblok, pd saat itu (1945-1949) masuk Indonesia kembali dengan Agresi yang mereka sebut sebagai Aksi Kepolisian. Seandainya mereka biarkan Indonesia merdeka, kita masih akan menjadi bagian dari semacam persemakmuran seperti Netherlands Antilles, Suriname.

      Delete
    4. Istilah sekarang : Belanda tidak punya exit strategy yg bagus. Selain itu Londo adalah penjajah paling kemaruk yg hanya mikir bagaimana mengeruk habis kekayaan alam nusantara. Politik etisnya juga gak jalan.

      Delete
  5. Kebetulan dulu saya pernah aktif di Yayasan Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia Belanda (YPKIB). Kelihatan banget kalo belanda tidak punya kebijakan soft power dengan diplomasi seni budaya bahasa dsb. Duitnya gak ada. Belanda juga tidak menganggap indonesia sebagai negara yg penting.

    Beda banget dengan Prancis dan USA yg punya banyak agenda rutin di Surabaya. Belakangan Tiongkok yg punya pusat kebudayaan Konfusius dan masuk ke sekolah2.

    Belanda bahkan tidak punya diplomat di Surabaya. Dia cuma menunjuk pengusaha lokal sebagai konsul kehormatan. Kalau tidak ada pelajaran sejarah mungkin anak2 muda yg lahir tahun 2000an tidak tau kalo indonesia itu dulunya dijajah belanda. Termasuk Londo Ireng...

    ReplyDelete