24 January 2017

Ki Subur Panen Rezeki Wayang Potehi

Setiap tahun jelang tahun baru Imlek, KI SUBUR panen tanggapan. Dua bulan sebelum Sincia jadwal manggungnya penuh. Dalang wayang potehi asal Sidoarjo, kelahiran Surabaya 25 Mei 1962, ini sudah boyongan properti potensinya ke Jakarta sejak akhir Desember 2016.

Sincia atau tahun baru Imlek jatuh pada 28 Januari 2017. Tahun Ayam Api. "Alhamdulillah, saya dapat job lagi di Jakarta dan Tangerang. Ini rezeki tahunan," ujarnya. 

Saya pun ikut bersyukur sambil berdoa semoga hobinya bagus di tahun ayam api. Ayam itu rajin nyekar cari makan di mana saja meskipun hasilnya juga cenderung eceran aja.



Di Kabupaten Sidoarjo sendiri tidak ada tradisi wayang potehi untuk imlekan. Ki Subur hanya tampil dua kali setahun di Sidoarjo: hari jadi Makco di Kelenteng Tjong Hok Kiong Sidoarjo dan perayaan sembahyang rebutan di Kelenteng Teng Swie Bio Krian. Maka di luar dua perayaan itu, Ki Subur dan krunya  (5 sampai 7 orang) manggung di berbagai kota.

Ki Subur paling terkenal di Jakarta sejak awal 2000an. Tepatnya ketika Presiden Abdurrahman Wahid secara resmi mengizinkan perayaan hari besar Tionghoa di tempat umum. Sejak itulah Ki Subur jadi langganan sejumlah pengusaha Jakarta. 

"Karena di sana belum ada dalang potehi. Kalaupun ada, sudah sangat sepuh dan tidak aktif. Mana ada orang Tionghoa yang berani main potehi di zaman Orde Baru," ujar Subur yang asli Jawa dan Islam.

Nah, jelang Imlek 2017 ini Ki Subur ditanggap Mal Ciputra Jakarta selama satu bulan. Durasi main setiap tahun memang sebulan. Bisa diperpanjang jika panitianya menghendaki. Bermainnya pun harus tambahkan. Setiap hari Ki Subur main dua sesi: pukul 15.00 dan 18.00 mulai 11 Januari sampai 11 Februari 2017. Durasinya masing-masing dua jam.

Lakonnya apa? Ternyata Ki Subur mengambil cerita klasik Tiongkok yang pernah dipentaskan di Sidoarjo tahun lalu. Tentang 18 raja di Tiongkok yang memberontak karena tidak puas dengan maharani di pusat. Ki Subur menyebut judul lakon dalam bahasa Hokkian: Cap Pwee Lo Hoan Ong.

"Ceritanya panjaaaang dan seru. Kalau dibahas secara detail, dua bulan pun tidak akan selesai. Belum lagi bumbu-bumbu asmara, intrik, perselingkuhan dsb," ujar seniman yang dulu tinggal persis di pinggir sungai depan Kelenteng Sidoarjo itu. 

Dua tahun lalu, 2015, di tempat yang sama Mal Ciputra, Ki Subur menerima penghargaan Muri sebagai dalang wayang potehi yang menggelar pertunjukan terpanjang di Indonesia. Tahun ini rupanya panitia tidak berselera untuk memecahkan rekor sendiri. 

"Saya sih siap saja bermain lebih lama. Terserah pengusahanya saja," ujar pelestari kesenian Tionghoa itu. 

Haiya... haiya... haiya... ciamiiik soro!!!

Selamat Sincia semoga kita orang ada dikasih rejeki yang banyak, dikasih sehat, panjang umur!

2 comments:

  1. Di Tiongkok pun wayang Potehi sangat jarang peminatnya, orang China lebih gandhrung lihat Smartphone.
    Dikota Chuan-ciu ada kelenteng Boen-bio yang sangat besar dan luas. Setiap malam disana ada pertunjukan wayang potehi, musik klasik dan opera cina kuno.
    Setiap kali lewat selalu saya menonton sejenak, saudara sepupu saya selalu menggerutu dan geleng2 kepala, katanya : Ayo pergi ! Lu toh tidak ngerti apa yang dikatakan. Gua saja yang asli pribumi Chuan-ciu dan sejak lahir menetap dipinggir Boen-bio, tidak ngerti bahasanya, sebab mereka menggunakan bahasa hokkien kuno zaman dinasti Tang. Kalau lagi sendirian, tanpa saudara sepupu, saya sering nonton, dikasih minum teh gratis dan boleh ngudut rokok dengan santai. Acara2 itu diseponsor oleh pemerintah daerah untuk melestarikan kebudayaan yang hampir punah. Penontonnya semua orang jompo, saya yang paling muda, usiaku pitungpuluh. Para senimannya para muda-mudi usia 20-an. Xiao-mei nya ayu2.
    Didepan Boen-bio ada Hotel Hoakiao, menurut saudara sepupu saya, areal Hotel dan sekitarnya dulu waktu dia masih kanak2, adalah lahan milik Boen-bio.
    Kalau sarapan pagi dihotel, separo tamu yang nginap disana adalah rombongan hoakiao indonesia, yang lainnya hoakiao2 dari philippina, Malaysia dll.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Masa kecil sekitar usia 4 tahun saya sering diajak mama ke klenteng Kampung Dukuh, menikmati wayang potehi pas mama sembahyang. Kalau pas hari raya apa saja baik bakcang, ronde, thiankong, selalu ramai orang jualan kue2 angku isi kajangijo, wajik dr ketan, semuanya lezat2. Itulah masa kecil jaman Orde Baru. Sekolah2 Tionghoa tutup. Merayakan festival2 gak boleh terbuka. Tapi kalau ke klenteng masih boleh krn diganti nama menjadi Vihara. Kalau daftar di sekolah agama ditulis Buddha, padahal ga mengerti blas prinsip2 agama Buddha.

      Selamat menikmati kue2 tahun baru Imlek.

      Delete