12 January 2017

Kania Sutisnawinata Kembali ke Metro TV

Semalam saya sulit tidur. Data habis. Maka tidak bisa mampir ke Youtube. Pukul 01.30 saya setel Metro TV. Wow... ada wajah presenter lama yang dulu jadi favorit saya: Kania Sutisnawinata.

Kania bersama Aviani Malik, juga presenter bagus dan sueger, membahas kekerasan di STIP. Kok ada taruna senior yang menganiaya adik kelasnya hingga tewas. Kedua penyiar wanita ini cukup piawai dan agak galak, khususnya Aviani, mengorek keterangan dari pihak STIP.

Kania ini pernah sangat terkenal karena keseleo lidah saat mengucapkan nama televisinya. Maksudnya METRO TV diucap METRO MINI. Media sosial pun ramai dengan guyonan soal ini. Kania waktu itu tersipu malu saat sadar kalau salah ucap.

Kania yang cukup lama di Metro TV, bahkan jadi ikon, kemudian pindah ke Bloomberg TV. Ada tiga atau empat orang Metro yang hijrah. Semuanya presenter senior yang apik. Kalau tidak salah Februari 2013.

Sejak itu saya kehilangan Kania. Ada beberapa pengganti tapi menurut saya masih kalah jam terbang. Ini sangat terasa ketika sang presenter menjadi ancher untuk berita-berita politik ekonomi pendidikan dsb yang kelas berat. Pengetahuan dan wawasan sang presenter akan sangat kelihatan.

Kembalinya Kania ke Metro TV ini sekaligus membuktikan bahwa televisi-televisi berita sangat membutuhkan jurnalis atau presenter berjam terbang tinggi. Beda dengan berita gosip artis yang bisa dipandu siapa saja yang... good looking. Apalah artinya wajah rupawan jika tak menguasai masalah.

Berbeda dengan televisi-televisi Indonesia, televisi berita di Barat umumnya menampilkan presenter-presenter-presenter senior. Bahkan ada presenter yang kakek nenek alias di atas 60 tahun. Bandingkan dengan TV kita yang lebih suka menampilkan presenter di bawah 30 tahun plus cakep.

''Kalau gak cakep gak ada yang lihat,'' ujar teman saya yang kerja di televisi lokal. Tapi ya itu... karena mendahulukan cakepnya, teman itu harus bolak-balik menyediakan bahan, contekan dsb untuk presenter cantik yang baru lulus kuliah itu. ''Wong ayu itu bikin semangat,'' katanya.

Kembali ke presenter tua di televisi-televisi Barat. Saking hebatnya, penguasaan materi, omongan mereka itu sudah seperti profesor yang spesialis mendalami topik tertentu. Kita yang memirsa TV pun dapat banyak pengetahuan. Sebaliknya, kebanyakan presenter di Indonesia masih tergagap-gagap membahas topik yang memang tidak dikuasai dengan baik.

Kembalinya Kania, juga Don Bosco, ke Metro TV bagi saya menjadi angin segar bagi jurnalistik televisi di Indonesia. Bagaimanapun juga jam terbang dan keluasan wawasan tidak bisa disepelekan di televisi berita. Lebih ideal lagi kalau presenternya juga cantik dan segar.

No comments:

Post a Comment