20 January 2017

Imlek dirayakan, Natal dimusuhi

Seperti dugaan saya, suasana menjelang tahun baru Imlek, 28 Januari 2017, tenang-tenang aja. Aksesoris lampion dan aneka hiasan berwarna merah terlihat di pusat perbelanjaan. Baju-baju Tionghoa juga dijual (dan dibeli) di mana-mana.

Ini jauh berbeda dengan bulan Desember jelang Natal. Setiap tahun MUI bikin fatwa yang ada kaitan dengan natalan. Termasuk menggaungkan lagi fatwa lama tentang haram hukumnya mengucapkan selamat Natal.

Saya belum pernah dengar ada fatwa haram selamat tahun baru Imlek.. gongxi facai dsb. Juga larangan menggunakan pakaian menyerupai orang Tionghoa yang merayakan tahun barunya.

FPI pun masih sibuk mengawal kasus Ahok di Jakarta. Apalagi ketuanya dilapor oleh sejumlah pihak karena dianggap menista Pancasila dsb.

Hem... suasana di Indonesia memang sudah berubah. Kalau dulu segala sesuatu yang berbau Tionghoa dilarang, kini dirayakan secara bebas. Sebagian besar mahasiswa yang dikirim Andre Su ke Tiongkok dan Taiwan justru kebanyakan santri-santri.

"Carilah ilmu hingga ke negeri China," ujar Andre, teman saya yang Buddhis, ketika memperkenalkan pendidikan Tiongkok di sekolah-sekolah muslim di seluruh Indonesia.

Begitulah. Ketika budaya Tionghoa makin diapresiasi, bahkan kalangan Matakin dengan tegas menganggap tahun baru Imlek sebagai hari raya agama Konghucu, Natal dan Tahun Baru justru makin dimusuhi di negeri ini. Jadi bahan perdebatan panas di media massa dan media sosial.

Mungkin suatu ketika Natal dan Tahun Baru dilarang di negeri ini. Itu kalau FPI atau HTI dan sejenisnya yang menang pemilu.

5 comments:

  1. Tionghoa2 konghucu dan buddha bak domba2 liar dipadang rumput, tidak ada pemiliknya, jadi boleh ditangkap lalu disunat.
    Sedangkan kalian yang kristen dan katolik adalah domba2 milik orang lain, jadi haram fatwanya menangkap dan menyunat kalian.
    Hal yang serupa juga lazim di Eropa; jika seorang Pastor atau Suster bertanya kepada saya,
    agamamu apa ? Saya jawab, tidak punya. Beliau akan senyum dengan ramah berkata: Oh, tidak apa-apa, suatu hari pasti engkau akan aku permandikan.
    Kalau dijawab, saya sudah sunat, maka reaksi mereka; Oye, oye, engkau telah tersesat.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hihihi lucu juga pater di eropa itu. Memang pater2 jaman biyen menganggap sunat itu identik dengan sunat. Lah wong nasrani di Jawa hampir semuanya wis disunat kabeh. Wong operasi cilik murah.. malah gratisan. Beberapa gereja malah sering bikin baksos (bakti sosial) sunatan massal untuk anak2 hehe.

      Delete
  2. Zaman dulu memang Tahun Baru Imlek itu identik dengan klenteng karena orang Tionghoa hampir semuanya Konghucu. Sekarang sebagian besar orang Tionghoa memeluk agama Katolik, Kristen Protestan, dan Islam. Bahkan kejawen. Hari Tahun Baru Imlek itu atheis, dan FPI berhak merayakannya. Apalagi mereka doyan angpao. Di mana ada fulus, di situ ada FPI.

    ReplyDelete
  3. Hihihi.. menarik: di mana ada fulus di situ ada dia. Tahun baru Imlek asyik2 aja, makan nian gao, angpao, perayaan yg meriah di kota2. Kalau jelang Natal, orang Indonesia yg itu ngomong pake sudut teologi melulu, bahkan ngawur dengan menganggap santa claus itu simbol nasrani. Kalo imlekan, MUI tidak melihat secara teologis. Dianggap tahun baru wong cino aja lah... hehe

    ReplyDelete
  4. Bung Hurek, mengapa di TV Indonesia ditayangkan
    selamat tahun baru imlek 2568, padahal menurut kalender Tiongkok, tahun masehi 2017 adalah tahun 4654 bagi orang Cina.
    Tidak semua orang Cina menganggap Confucius sebagai seorang nabi, walaupun demikian, kami sangat menghormati beliau sebagai Guru besar kami, yang telah mengajarkan kami tentang etika, moral dan tatakrama bermasyarakat.
    Penghitungan kalender Cina dimulai tahun 2637 B.C.

    ReplyDelete