05 January 2017

Ibadah pribadi vs ibadah ilmiah

SMAN 1 Sidoarjo berencana membangun musala senilai Rp 5,7 miliar. Woro-woronya sudah lama dipasang di dekat pintu masuk sekolah favorit itu.

Apa tidak terlalu mahal musala hampir enam miliar? ''Kalau wali murid dan alumninya mampu, mengapa tidak? SMAN 1 itu kan alumninya banyak pejabat dan pengusaha sukses,'' ujar seorang kenalan di warkop.

Bapak yang lulusan S2 itu sangat setuju dengan pembinaan agama dan akhlak pelajar. Dia menilai anak-anak muda sekarang kurang punya tata krama, sopan santun, unggah ungguh dsb. Itu antara lain karena dasar agamanya kurang. ''Kita dukung kalau musala-musala lebih diperhatikan di sekolah,'' katanya.

Wow... rupanya saya berhadapan dengan orang yang berbeda pandangan. Bukan apa-apa. Saya melihat sendiri banyak gedung sekolah rusak di Sidoarjo dan kota-kota lain. Bahkan ada sekolah di luar Jawa yang lebih jelek ketimbang kandang ayam.

Mengapa duit miliaran tidak dipakai untuk membantu perbaikan sekolah-sekolah itu? Toh, semua sekolah sudah punya musala. Kalau butuh tempat yang sangat luas untuk beribadah kan bisa ke masjid agung di alun-alun. Tidak begitu jauh. Begitu pikiran polos saya di warkop depan stadion tempat latihan Deltras dan Persida.

Saya membayangkan sekolah-sekolah atau perguruan tinggi di Indonesia lebih fokus membangun laboratorium, pusat kajian ilmiah, dan fasilitas lain yang lain yang berbau iptek (ilmu pengetahuan dan teknologi). Bukan tempat ibadahnya yang mewah dan mahal.

Tapi ya... bagaimana lagi? Indonesia adalah negara super religius yang makin marak kegiatan-kegiatan ritual akhir-akhir ini. Ibadah pribadi, vertikal, lebih diutamakan ketimbang ibadah sosial. Padahal ibadah sejati para saintis sesungguhnya justru dilakukan di laboratorium dan pusat-pusat kajian ilmiah. Bukan di dalam masjid, gereja, pura, wihara, dsb.

6 comments:

  1. Bung Hurek yang budiman, Pikiran Polos Anda tidak lazim untuk diterapkan di Indonesia, kalau sedang sial, bisa-bisa dipenjarakan.
    Saya berkhayal; mengapa kata Fitza Hats dipersoalkan diperdebatkan di Indonesia ? Bukankah hal tersebut sangat lumrah dalam Bahasa Indonesia ! Yang penting khan kita tahu apa yang dimaksudkan.
    Saya masih menyimpan buku rebuwes C yang saya peroleh secara legal dikantor polisi lalu lintas, jalan Ngemplak Surabaya tahun 1963.
    Kenapa Pak Politie tidak menulis rijbewijs ?
    Kenapa kaartje jadi karcis, horloge jadi arloji,
    ventiel jadi pentil, dst...nya ? Pentil juga bisa diartikan bagian anatomie dada wanita.
    Mungkin suatu hari Fitza Hats menjadi kata Bahasa Indonesia. So what ?
    Mengapa harus membully seseorang yang salah tulis atau yang sengaja menyerap bahasa asing kedalam bahasa Indonesia.
    Mengapa hal-hal yang sepele selalu di-besar2-kan di Indonesia ?

    ReplyDelete
  2. Awas anda bisa dituduh menista agama krn berani mempertanyakan pembangunan masjid untuk mendidik ahlak para muslimin dan muslimah muda. Apalagi berani pasang di internet, itu menyebarkan sekulerisme! Tertawalah, sebelum tertawa itu dilarang Taliban.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Akhlak ya akhlak... tapi piye ya? Masalahnya kita di surabaya sidoarjo dll masih ribut soal biaya pendidikan, bosda, biaya personal dsb. Pembahasan perbup sidoarjo tentang biaya personal (yg boleh dipungut dari wali murid) lagi deadlock gara2 sumbangan ortu murid itu. Belum lagi kita bicara soal guru2 honorer di sidoarjo yg sering unjuk rasa karena gajinya jauh di bawah UMK yang Rp 3 jutaan itu.

      Delete
  3. Saya kan baru pulang dari Madura. Di sepanjang jalan masyarakat mencoba menghentikan motor atau mobil untuk minta sumbangan pembangunan atau renovasi masjid. Itu mulai dari Bangkalan sampai Pamekasan. Saya gak sempat ke Sumenep.

    Nah, saya jadi ingat beberapa sekolah elite yang ngotot membangun masjid mahal... dan sudah pasti minta bantuan wali murid dsb. Menurut saya, musala2 di sekolah itu secukupnya saja lah. Sebaiknya uang yg ada dibelanjakan untuk peningkatan mutu pelajar, guru, laboratorium dsb. Termasuk mendatangkan bule2 untuk mengajar bahasa inggris lah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Menurut logika absurd aliran Taliban, seorang non-Muslim dilarang memperbincangkan hal-hal yang berhubungan dengan agama Islam, termasuk alokasi dana untuk pembangunan masjid krn itu termasuk ranah penistaan agama. Sampeyan iki dikandani kok ngotot, seeeeeh ...??? Mau dituduh atheis selain penista agama? :)

      Delete
    2. Hihi.. logika absurd itu yg bikin negara sulit maju. Kita cuman nyenthil sekolah negeri yg jelas2 milik rakyat. Beda dengan sekolah2 swasta yg bebas melakukan apa saja sesuai kepentingannya. Tabik.

      Delete