26 January 2017

Gelar sarjana lebih penting

Tulisan Dr Rahma Sugihartati dosen Unair Surabaya di Jawa Pos pagi ini (26 Januari 2017) bikin kita tambah prihatin. Sebetulnya sih sudah jadi rahasia umum di Indonesia. Tentang kondisi universitas-universitas yang mirip perusahaan dagang.

Kualitas mahasiswa sekarang menurun. Itu di PTN. Jangan tanya lagi di PTS yang tidak ada tes masuknya. Satu-satunya tes masuk adalah kemampuan membayar uang kuliah yang selangit itu. Kalau bisa bayar dijamin jadi sarjana. IP-nya pun bisa 3 koma sekian. 

Dr Rahma Sugihartati menulis begini:

"Gelar sarjana lebih penting daripada pemahaman terhadap materi kuliah yang mendalam. Pada tingkat yang ekstrem, bahkan bisa saja seseorang tidak pernah hadir dalam kuliah tetapi bisa lulus dan menjalani wisuda untuk memperoleh gelar sarjana... asalkan mau membayar mahal."

Wuih... mengerikan sekali wajah pendidikan tinggi kita. Tidak ikut kuliah, bikin tugas, praktikum kok lulus. Mungkin fakta inilah yang membuat kualitas perdebatan kita di media sosial dan ruang publik makin lama makin dangkal. Keranjingan bahas Ahok, FPI, fatwa-fatwa itu. 

Tentu saja tidak semua universitas dan mahasiswanya sejelek itu. Banyak juga yang benar-benar haus ilmu. Bukan cuma memburu gelar sarjana. Gelar untuk memenuhi syarat kenaikan pangkat... dan gaji.

Semoga pemerintah mau melakukan revolusi mental di dunia pendidikan kita secara total. Dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Agar universitas tidak berubah menjadi usaha dagang waralaba ala restoran ayam tepung ala Amerika. 

No comments:

Post a Comment