22 January 2017

Donald Trump jadi inspirasi politisi tua

Naiknya Trump, 71 tahun, jadi presiden USA kayaknya bakal jadi inspirasi politisi tua di Indonesia. Para pensiunan jenderal, pengusaha kaya, pemilik media dsb seolah dapat angin segar dari negara kampiun demokrasi itu. Bahwa usia tua bukan halangan untuk jadi presiden. 

Delapan tahun lalu, ketika Obama jadi presiden USA, orang muda di seluruh dunia seakan dapat angin surga. Seakan era digital ini miliknya orang-orang yang berusia di bawah 50 tahun. Orang tua alias lansia dianggap gaptek. Sulit mengikuti dinamika generasi internet alias netizen.

Maka efek Obama pun terasa di Indonesia. Jokowi yang wajahnya rada mirip Obama pun akhirnya menang pilpres. Prabowo yang mewakili generasi tua, pensiunan jenderal, kalah. Bupati, wali kota, gubernur pun banyak yang di bawah 40 tahun. Bupati Momon di Bangkalan bahkan berusia 25 tahun saat dilantik. Terlepas dari Momon ini putranya mantan bupati Fuad Amin yang ingin bikin dinasti di Bangkalan.

Era media sosial makin kencang. Semua pihak menganggap orang-orang sepuh lebih cocok ngemong cucu, dengar keroncong campursari, atau mancing di tambak-tambak. Maka setelah Obama, kita menyangka muncul calon presiden yang lebih muda dari Obama. Atau seumuran lah.

Tapi apa yang terjadi? Hehe... Capres USA justru sama-sama tua: Donald Trump vs Hillary Clinton. Sama-sama konservatif. Beda jauh dengan generasi Obama. Lalu Trump yang menang. 

Seperti Obama sewindu lalu, saya yakin efek Trump pun akan menyebar ke mana-mana. Politisi tua, kakek nenek, melihat peluang besar untuk tampil di panggung kekuasaan. Prabowo, Wiranto, Surya Paloh, Megawati, SBY, Ical Bakrie, Hary Tanoe... sudah lama bersiap dengan partai masing-masing. Mereka juga punya media, khususnya televisi, untuk jualan kecap setiap hari.

Semalam saya lihat Surya Paloh bicara panjang lebar di televisinya. Tentang tekad Nasdem jadi pemenang pemilu. Ribuan kader Nasdem mengelukan polikus tua brewokan itu. Hebatnya brewok dan rambutnya Surya Paloh masih hitam dan lebat. Jamunya apa ya?

9 comments:

  1. Pak Lambertus apa ga kleru analisa anda? Golongan radikal itu justru diberi angin oleh SBY. PKS masuk koalisinya. FPI dipiara. Ganti sekarang jadi piaraan Gerindra. PKS masuk koalisi Gerindra. Anies dan Diago harus sowan ke FPI. Kalau Prabowo jd, bisa dibayangkan kelompok itu akan naik di atas angin. Yg berani menghadapi mereka secara tegas justru Jokowi. PDI-P nyatakan kalau Riziek mau cem macem, dihadapi oleh pasukan banteng. Anda kira yg lapor2in Riziek itu tdk ada semacam orkestrasi di belakang layar? Kapolri dan Kapolda2 DKI, bahkan Jabar yg dipimpin oleh Gubernur PKS berani skrg menindak tegas FPI. Apa Twitter menutup akun2 itu tanpa lobby atau kerjasama intelijen Republik Indonesia? Jangan terlalu naif Pak. Salut dengan Jokowi. Mudah2an beliau terus sampai 2019 lalu terpilih lagi oleh rakyat Indonesia yg cerdas

    ReplyDelete
    Replies
    1. Suwun masukan sampean.. Sudah saya koreksi alias hapus alinea bawah tentang mr Prabowo itu. Naskah ini cuma guyonan enteng2an tentang orang2 sepuh yg masih berkiprah di dunia yg makin bergegas.. apalagi di USA yg mbahnya teknologi.

      Sisi positifnya : semua manusia itu harus tetap produktif dan sehat sampai tua.

      Barusan saya baca Bernie F1 baru pensiun dari F1 setelah berusia 86 tahun. Bukan apa2, saya sering diajak baksos ke panti asuhan dan penampungan lansia. Mereka yg baru berumur 60an tahun sudah merasa jompo dan tidak berdaya.

      Delete
    2. Ya benar. Ronald Reagan jadi presiden usia 69, pensiun umur 77! Kalau Trump mungkin punya istri yang muda dan bahenol seperti jadi vitamin buat dia, hehehe.

      Delete
    3. Haiya... vitamin2nya mbah Trump itu memang heibaaat... tapi sulit ditiru.

      Delete
    4. Lha pejabat2 di Indonesia kan banyak yang punya Vitamin C(wek) istri2 ke-2,3,4 setelah berhasil mengeruk Vitamin D(uit) dari jalur2 ajaib.

      Delete
  2. Berikan Donald Trump kesempatan, kita tunggu hasilnya. Seandainya Obama tetap tinggal di Menteng, seyogianya rakyat Syria dan Lybia tidak menderita seperti sekarang. Selain itu Isis tidak merajalela.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Ya jelas diberi kesempatan, wong dia pemenang. Bukan berarti kita setuju dengan kecenderungan dia yang narsis dan selalu mau dipuji dan dibenarkan seperti Hitler dan Kim Jong-un.

      Saya kira tidak fair menyalahkan Obama utk ISIS. Kondisi di Timur Tengah merupakan rangkaian kebijakan luar negeri Amerika yang kacau. Dimulai dari jaman Ronald Reagan yang membantu perlawanan thd Uni Soviet di Afghanistan (lihat film Mr Wilson's War dibintangi Tom Hanks). Eh, ternyata bekas mujahidin ada yg menjelma jadi Taliban yg lalu menjadi konco dan menerima Al Qaeda. Blunder besar dilakukan oleh Bush Jr., yang menyerbu Iraq, walaupun Al Qaeda bersembunyi di Afghanistan. Dengan menggulingkan orang kuat Saddam Hussein, peta kekuatan berubah. Syiah menjadi penguasa di Irak, dan golongan Sunni radikal yang tidak suka (simpatisan Al Qaeda) akhirnya menyempal dan menjadi ISIS.

      ISIS semakin kuat setelah adanya Arab Spring, yang menggulingkan pemerintahan2 diktator termasuk di Libya, dengan bantuan air cover dari pemerintah Obama. Obama serba salah, mau bantu, rakyat Amerika sudah tdk mau perang krn terkena krisis keuangan. Bantu, nanti salah lagi seperti di Irak. Akhirnya bantu setengah2 dengan kirim jet fighters saja (no fly zone) agar Khaddafi tidak bisa mengebom dari udara. Khaddafi tewas, lalu terjadi vakuum kekuasaan; tetapi tidak seperti di Irak yang ada tentara Amerika, ISIS masuk. Kacau sekali. Sebenarnya sekarang ISIS sudah lemah krn oleh Obama sudah dibom secara berantai dan jaringan keuangan dan rekrutmen mereka dibantai perlahan-lahan. Tidak akan bisa hilang, seperti juga NeoNazi masih ada hingga sekarang walaupun ada larangan macam2 dari pemerintah Jerman.

      Bisa saja Trump gembor2 bahwa dia akan melenyapkan teroris Islam radikal dari muka bumi. Kita tunggu apa tindakannya. Yang bisa melenyapkan itu sebenarnya ialah umat Islam sendiri yang masih waras. Seperti di Indonesia yang sudah terserang virus kebodohan yg dibungkus agama itu, yang bisa menghancurkan virus itu yang umat agama tsb yang masih waras.

      Delete
  3. Donald Trump ini memang aneh dan sangat menarik. Sebagian besar orang heran kok wong mogok uji iso menang? Kok mayoritas rakyat USA memilih dia? Tentu ada latar belakang psikologi politik ekonomi dsb di Amerika yg membuat mr Trump menang. Ini juga membuktikan bahwa dalam sistem demokrasi siapa saja punya peluang untuk dipilih.

    Makanya saya selalu analogikan pemilihan gubernur atau polres dengan warung makanan. Ada soto, pecel, rawon. Semua makanan itu enak dan dimasak dengan baik. Tapi pilihan atau preferensi mayoritas konsumen ke soto. Kita yg doyan pecel atau rawon tidak boleh ngamuk karena pelanggan sudah memutuskan.

    Di pilgub Jakarta juga begitu. Silakan 3 kandidat itu jualan kecap kampanye sebagai orang yg paling hebat. Nanti kalo Ahok yg menang oke, Anies menang silakan, Agus SBY yg dapat suara terbanyak ya no problem. Dibuat enteng aja lah biar masyarakat gak kisruh terus. Paling jahat kalo pake politisasi etnis ras agama dsb.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pak Lambertus yang budiman, koreksi: mayoritas rakyat Amrik TIDAK memilih Trump. Hillary Clinton unggul dengan 3 juta suara dari kira-kira 100 juta lebih pemilih. Tapi dengan sistem Electoral College di Amrik, keunggulan itu tidak cukup krn pemilih Hillary ada di negara2 bagian yang padat penduduk, seperti California dan New York; sedangkan negara2 bagian tsb. hanya mendapatkan jatah suara Electoral College yang lebih kecil, tidak proporsional dengan jumlah penduduk negara2 bagian tsb karena konstitusi Amrik menghendaki demikian untuk mendahulukan negara2 bagian yang berpenduduk tidak banyak.

      Setuju dengan anda, ngamuk ga boleh, percuma. Lebih baik energi kemarahan disalurkan untuk berjuang, berorganisasi menggalang kekuatan untuk pemilihan berikutnya. Jangan seperti barisan sakit hati yg kemudian menggalang preman bersorban.

      Delete