16 January 2017

Di radio warga marah dan ngamuk



Beda banget isi siaran radio sekarang dan dulu. Apalagi bagi kita yang sejak kecil aktif mendengarkan radio-radio swasta di kota. Sekarang ini radio-radio berlomba menyiarkan komentar dan pendapat masyarakat yang kritis, tajam, emosional. Kata-kata saru pun sering on air tanpa sensor.

Dulu saya tinggal di tengah Kota Malang. Ada tiga stasiun radio terkenal yang biasa saya datangi: Senaputra, TT 77, dan Immanuel. Ketiga radio Ngalam ini punya segmen pendengar berbeda. Corak musik, gaya penyiar, sound berbeda. Tapi semuanya sama-sama menyajikan hiburan yang memanjakan telinga. 

Radio Senaputra terkenal karena bung Ovan Tobing sangat piawai mengawal program musik rock, metal. Saat itu tidak ada internet. Majalah pun terbatas. Maka Senaputra jadi rujukan utama musik rock di Malang dan sekitarnya. 

Radio TT 77 lain dari lain. Musiknya dominan jazz dan blues. Lagu pop Indonesia pun cenderung ngejes macam Dian Permana Putra, Ermy Kullit, Karimata, Krakatau... Jangan harap ada lagu pop manis ala Dian Piesesha, Betharia Sonata, atau Tommy J Pisa diputar di radio yang berlokasi di samping sekolahan Santu Yusuf ini.

Radio Immanuel lebih ringan dan ngepop. Lagu-lagu Dian Piesesha, Obbie Messakh, Nike Ardilla, Nicky Astria dan sejenisnya punya tempat besar di Immanuel. Tiap akhir pekan ada tangga lagu pop macam ini. Betharia Sonata, Vina Panduwinata, sering jadi favorit. Tak lupa kirim lagu kirim salam....

Mendengar radio-radio lokal sambil membaca buku.. asyik banget. Apalagi sering ada lawakan ala Kartolo, Wono Kairun, hingga guyonan BOM di Radio KDS 8. Kita dibikin ketawa sendiri. 

Pagi ini saya putar beberapa radio di Surabaya. Isinya sebagian besar kritik masyarakat tentang apa saja. Saat menulis catatan ini Pak F lagi bahas jalan raya Surabaya-Gresik. 'Tiap hari saya menderita saat lewat di sana,' katanya. 

Ada lagi warga Taman Pinang Sidoarjo yang marah-marah karena perumahannya sering dipadati pedagang kaki lima. Dia heran pemerintah daerah cenderung membiarkan ratusan PKL berjualan di situ. 

Ada pula pengendara mobil yang melapor kemacetan di Aloha Gedangan. Banjir di beberapa kawasan. Tak ketinggalan bicara tentang unjuk rasa FPI, kasus Ahok, lombok mahal, dsb. 

Alunan musik yang membelai telinga makin jarang terdengar. Musik tidak lagi jadi menu utama tapi selingan. Yang dijual justru traffic report dan laporan para pendengar. Untunglah, sekarang ada Youtube yang menyediakan jutaan lagu.

Mungkin iklim demokrasi membuat rakyat berlomba-lomba mengkritik pemerintah, marah, maki-maki siapa saja. Beda dengan zaman Orde Baru yang tidak demokratis. Rakyat takut mengkritik penguasa, tidak berani membahas jalan rusak, banjir dsb. Rakyat dulu lebih suka menikmati musik, ludruk, atau sandiwara radio Mak Lampir atau Saur Sepuh.

Dulu ada lagu yang sangat ngetop:

''Di radio... aku dengar
lagu kesayanganmu
Kututupi telingaku
Dengan dua tanganku...''

15 comments:

  1. Efek samping kebebasan berpendapat ya itu, borok dan bentol jd kelihatan semua. Jangan dikira di Amrik atau Inggris tidak begitu. Malahan sering lebih parah. Kalau kemarahan warga bisa disalurkan dengan adanya perbaikan sarana, bagus sebenarnya. Tetapi kalau menjadi ajang memaki maki berdasarkan SARA, itu harus diatur dengan undang undang

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. contoh paling bagus adalah Pak Trump yg segera dilantik jadi presiden. Omongannya gak kayak wong bule yg sudah lama menikmati enlightment demokrasi human rights dsb. Pernyataan2 pak Trump cenderung gak enak didengar. Tapi mungkin tipe manusia macam itu yg lagi disukai rakyat USA yg nyoblos kemarin.

      Delete
  2. Radio saya masa Student adalah Philips tua yang masih memakai tabung kathode.
    Ada 3 lagu yang selalu membuat saya menjadi sendu, sedih karena masa muda telah berlalu, rindu karena mengenang indahnya ketika masih student.
    Lagu2 itu adalah : Last Date (Floyd Cramer),
    A Whiter Shade Of Pale (Procol Harum),
    Hang On Sloopy (The McCoys).
    Cara berdebat orang Indonesia memang sangat berbeda dengan orang barat. Entah karena budaya ataukah karena bahasa.
    Perdebatan di medsos jerman tidak ada yang saling caci-maki, menghina, menggunakan kata2 kotor. Orang bule itu debatnya boleh dibilang santun, berargumentasi memakai logika, kalau marah pun, mereka memakai kata kiasan atau pepatah, sehingga musuhnya tidak marah.

    ReplyDelete
  3. Radio saya masa Student adalah Philips tua yang masih memakai tabung kathode.
    Ada 3 lagu yang selalu membuat saya menjadi sendu, sedih karena masa muda telah berlalu, rindu karena mengenang indahnya ketika masih student.
    Lagu2 itu adalah : Last Date (Floyd Cramer),
    A Whiter Shade Of Pale (Procol Harum),
    Hang On Sloopy (The McCoys).
    Cara berdebat orang Indonesia memang sangat berbeda dengan orang barat. Entah karena budaya ataukah karena bahasa.
    Perdebatan di medsos jerman tidak ada yang saling caci-maki, menghina, menggunakan kata2 kotor. Orang bule itu debatnya boleh dibilang santun, berargumentasi memakai logika, kalau marah pun, mereka memakai kata kiasan atau pepatah, sehingga musuhnya tidak marah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya.. perdebatan di kalangan orang yg punya peradaban tinggi memang penuh sopan santun dan hormat. Mereka terbiasa diskusi yg dalam sejak SD. Suka bertanya dan adu argumen.

      Kita menikmati kran kebebasan yg bocor setelah reformasi. Kalau dulu masa Orde Baru rakyat diam aja.. gak wani kritik pemerintah, sekarang bebas ngomong apa aja.. termasuk ngawur2an. Lama2 kita capek dengan komentar yg kelihatannya kritis tapi ada udang di balik batunya.

      Radio swasta masih tetap eksis meskipun ada TV internet dsb. Tapi pendengarnya kebanyak para sopir mobil pribadi yg stres karena macet di jalan raya. Mereka selalu putar radio untuk memonitor titik2 mana aja yg macet.

      Namanya aja wong stres.. kata2 kasar yg keluar dari mulutnya. Beda dengan radio tempo dulu yg isinya salam salam sayang, lagu romatis When I Falling Love, Tonight I Celebrate My Love, Endless Love...

      Makanya jaman biyen wuakeh puisi2 cinta hehe..

      Delete
  4. Bung Hurek, sejarah hidup kita ternyata ada paralelitasnya. Lahir di Kepoelaoean Soenda Ketjil. Pernah menetap di Karesidenan Surabaya, dan sekolah dikota Malang. Tiap kali perjalanan ke Malang, mata saya mecicil ingin lihat penjara Lowokwaru yang dulu terlihat dari jalan raya, tetapi sekarang sudah tak terlihat.
    Blimbing, Celaket, Oro oro dowo, Splendid juga saya tak kenal lagi. Semuanya berubah.
    Setiap kali saya minta diantar kejalan Anjasmoro, tempat saya dulu pernah indekost.
    Oleh teman sekolah saya ditunjuki jalan Anjasmoro; iki lho dalane ! Aku ora percoyo.
    Aku takon, endi kaline ? Biyen ning arepe omah kos-kosan-ku ono kaline.

    ReplyDelete
  5. Iya.. perubahan di Malang memang sangat pesat Xiansheng. Jangankan puluhan tahun, dalam 10 tahun aja kita sudah pangling kecuali alun2 bunder dan alun2 kota yg relatif sama. Yang paling terasa itu jalan jadi sangat padat karena penuh motor dan mobil. Tanah2 kosong dijadikan perumahan2 di semua kawasan.

    Splendid masih bisa dikenali kayak jaman biyen. Yang banyak itu orang menjual rumah sehingga kepemilikan rumah berganti cepat sekali. Kita jadi kehilangan orang2 lama yg dulu kita kenal baik, karena rumahnya sudah dua tiga kali ganti pemilik. Si pemilik sekarang dijamin tidak tahu kalau dulu saya pernah indekos di rumahnya yg dulu milik mas Galih. Tetangga2 pun sudah banyak yg berubah... bukan keturunan orang yang dulu kita kenal.

    Bangunan2 lama eks londo masih sama kayak gereja kayutangan, Cor Jesu, frateran BHK, toko Oen.. masih ada.

    Radio2 yg saya sebut di atas sudah tidak ada. Radio Senaputra si dekat Splendid sudah disapu karena konflik manajemen. Radio TT 77 jadi ruko. Radio Immanuel ganti nama kalo gak salah.

    Orang2 lama juga merasa Malang Raya kalo Malang tidak lagi sesejuk jaman biyen. Tapi Gunung Kawi dengan klinik hokinya masih ada hehe...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul. Saya pernah seminggu lebih tinggal di Blimbing pas 1983; di daerah Ijen 1988; dan bolak balik dr Surabaya (ada proyek) thn 1995. Bahkan thn 1995 pun masih sejuk.

      Thn 2010 sy berkunjung (4 jam lebih gara2 lumpur Lapindo) ada kondangan manten. Wah ramai, padat. Dekat alun2 padat merayap penuh motor ... Bahkan jalan sepanjang kota Lawang yg dulu bisa menikmati sawah terhampar penuh pasar kaget dan parkiran sepeda motor.

      Delete
    2. Nah... titik macet paling parah memang di pasar Lawang. Nyaris tidak bergerak kendaraan2 ke arah surabaya krn jalan masih sama dengan jaman Belanda. Sementara motor dan mobil ada ribuan. Belum ada solusi sampai 2017 ini. Mestinya dari dibangun jalan baru untuk mengimbangi percepatan pertambahan kendaraan yg luar biasa.

      Titik macet lain di jalan layang samping Terminal Arjosari. Masalahnya sama: jalan raya di kota Malang itu tergolong sempit untuk ukuran kota besar.

      Makanya orang Surabaya lebih suka piknik akhir pekan ke Pacet Trawas Prigen Tretes ketimbang ke Malang.

      Jalan raya Porong yg kena imbas lumpur Lapindo itu sudah dibuatkan jalan arteri yg lebar. Gak macet lagi. Tinggal rel kereta api yg tahun ini dipindahkan ke wilayah barat karena sering tenggelam.

      Delete
  6. Aku dulu malah nyaris jadi penyiar di tt 77 bung oni bung oli dan yulia salim.lapis lagu pengantar istirahat siang.top bnget.

    ReplyDelete
  7. Sy asli malang.skrng malah sumpek kalo k malang.macet.bnyk ruko.pokok.e ga nyaman lg kyak dulu.

    ReplyDelete
  8. Ms hurek.dulu malah sy nyaris jadi penyiar tt77.bung oni malah datang ke rumah.jadi kangen mbk yulia salim.pengasuh acra lapis lagu pengantar istirahat siang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wow... luar biasa TT77 jaman biyen di Ngalam. elit banget dengan iklan2 yg juga berkelas. Saya sering jalan kaki di depan TT77 untuk latihan paduan suara lingkungan (gereja katolik) di kompleks sekolahan Santo Yusuf. Kadang mampir di TT77.

      Dulu radio itu pernah bikin kuis pundi2 yg memaksa pendengar untuk menghitung duit yg dimasukkan ke dalam pundi2 dari pagi sampe tengah malam. Kuis ini memaksa pendengar untuk selalu menyimak siaran TT77 agar tidak ketinggalan nominal duit yg dimasukan ke pundi2. Hadiahnya lumayan.

      Matur nuwun Sam Gandi sudah mau mampir di saya punya blog.

      Delete
  9. KDS8 juga radio yg sangat populer di Malang. Beberapa penyiarnya sangat terkenal pada 1980-an dan 90-an. salah satunya almarhum Hamim Zarkasih yg suaranya banyak menghiasi iklan2 di radio di Jatim. Kalau pak Hamim ini duet sama Irena Suprapto wah.. heboh luar biasa.

    ReplyDelete