20 January 2017

Dagang musik yang mati suri

Tulisan Yockie Suryo Prayogo di status FB-nya singkat tapi menghentak. Komposer kawakan, eks personel Godbless, ini bilang jangan dagang musik kalau ingin cepat kaya.

Sudah lama JSOP (inisial populer Yockie) mengeluhkan industri musik pop yang karut marut. Bisnis kaset CD VCD dsb sudah lama mati suri. Banyak perusahaan rekaman bangkrut dimakan Youtube dan aplikasi musik di internet. Lagu-lagu bisa diunduh gratis tististis.

Hari gini kita bisa mendengaf musik apa saja, kapan saja, di mana saja. Siapa pun bisa mengakses musik di internet. Sayang, komposer, penyanyi, musisi, pekerja di studio rekamanan tak dapat apa-apa dari Youtube.

"Penghasilan musisi jadi tidak menentu. Tiap hari cuma menunggu job," kata musisi lain yang juga pernah kondang.

Maka tidak heran kalau banyak musisi yang pindah ke jalur politik. Sebut saja Pasha Ungu jadi wakil wali kota. Ahmad Dhani jadi politisi. Kini pentolan band Dewa itu lagi kampanye untuk jadi wakil wali kota. Deddy Dores juga pernah mencalonkan diri jadi wali kota... sebelum meninggal.

Industri musik memang berubah drastis, revolusioner, di era digital, media sosial, internet. Pemain-pemain lama bertumbangan. Saya dengan beberapa juragan kaset era 80an dan 90an stroke di rumah.

"Kita harus menghadapi kenyataan ini," ujar putra mantan juragan kelas kakap yang dulu banyak mencetak penyanyi-penyanyi top.

Industri musik gaya lama memang mati. Dagang musik tak lagi menghasilkan. Dagang lombok saat ini pasti jauh lebih menghasilkan ketimbang jualan lagu-lagu pop. Lah, wong sudah ada di Youtube semua. Beda dengan lombok yang cuma ada gambarnya di internet.

Mungkin ini zaman transisi dari bisnis musik gaya lama ke gaya baru. Perusahaan rekaman boleh saja bangkrut tapi musik pop niscaya selalu ada dari masa ke masa. Dengan cara yang baru sesuai zamannya. Kerupuk lama yang melempem pasti diganti kerupuk baru yang hangat dan gurih.

5 comments:

  1. Seorang teman sekolah saya adalah pemilik Studio rekaman yang terbesar di Indonesia. Sepuluh tahun silam dia sudah mengeluh dihadapan saya;
    Dulu kalau seorang artis- atau penyanyi-gua, lagunya ngetop, gua bisa jual CD 300 ribu sampai 500 ribu keping. Sekarang paling banyak 30 ribu.
    Rugi, sebab biaya promosi dan bikin video jalan2 keluar negeri, jauh lebih mahal. Selain itu, sebelum seorang jadi terkenal karena jasa gua, mereka nyembah2 dan ngerengek2 ke gua, namun setelah terkenal jadi artis, mereka ngelunjak.
    Si-teman lalu berkata : Kita sudah mulai tua, jangan coba2 investasi yang beresiko, simpan saja uang-lu ditabungan bank, walaupun bunga tabungan jauh dibawah inflasi, jangan serakah dan tamak. Yang penting, jika kita perlu uang, selalu tersedia di-bank.
    Teman itu membayar para ahli IT, supaya CD nya tidak bisa dibajak di Youtube, tetapi tidak ada gunanya.
    Pernah sekali saya mau download CD produknya dia dari Youtube, tetapi tidak bisa. Lalu saya panggil anak saya, dalam waktu kurang dari 2 menit rahasia kuncinya terbongkar.

    ReplyDelete
  2. Betul Xiansheng.. bisnis musik sekarang memang berubah total setelah ada Youtube dsb. Pedagang2 lama mulai tenggelam, ada yg masih panen kayak Musica, tapi pasti muncul pemain2 dengan sistem baru. Begitulah hukum alam.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Pemain2 baru di USA berupa iTunes Apple, streaming radio seperti Spotify. Itu untuk distribusinya. Kalau produser banyak bermunculan studio2 kecil krn biaya produksi turun. Musikus2 yg tadinya tdk punya kesempatan utk rekaman skrg gampang meluncurkan single atau album. Promosi lewat YouTube. Musikus2 besar pun hrs kerja lebih keras. Keliling bikin konser, ga jamannya lagi mereka dan produser2 ongkang2 menikmati royalti setelah bikin hit. Yg jelas konsumen yg untung. Krn itu kita berterima kasih kpd Steve Jobs dan pencipta2 teknologi yg lain.

      Delete
  3. Betul.. yg gamang dan stres itu pemain2 lama yg kehilangan sawah. Mereka dimanja oleh kenyamanan dan lupa menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi. Sehingga nasibnya seperti lagu keroncong dan langgam yg sebentar lagi musnah.

    Sekarang masih transisi di industri musik. Artis2 juga lagi belajar mendapatkan uang di era internet medsos dsb. Bayangin, ratusin lagu mereka diunggah di Youtube tapi mereka tidak dapat satu sen pun. Yang dapat uang justru perusahaan2 macam Youtube Google dsb. Kita sebagai konsumen sih lalala... senang banget.

    ReplyDelete
  4. Sebenarnya musisi2 itu mudah utk mendapatkan hak mereka. Tinggal mereka hubungi kantor Google mengklaim video2 yg mentayangkan lagu2 ciptaan mereka dan minta bagian atas pendapatan dr iklan atau streaming. Kalau di Amrik ada asosiasi pencipta lagu dan artis rekaman (NARAS, yg membagikan Grammy awards); mereka mewakili artis2 itu utk negosiasi, menagih dan menguruskan administrasi para anggotanya. Itu bisnis yg bisa Anda kerjakan!

    ReplyDelete