17 January 2017

Cabai rawit jadi isu politik

Cabai rawit jadi isu panas di Indonesia sekarang ini. Gara-gara cabai (lebih lazim ditulis CABE), ada mahasiswa yang meminta Jokowi dilengserkan karena dianggap tidak mampu mengendalikan harga cabai dan kebutuhan lainnnya.

Saya sendiri tidak suka cabai. Sambal yang pedas membuat perut saya mules. Karena itu, saya sih cuek aja ketika cabai (bahasa Lamaholot: SILI atau chili) melonjak tajam. Setiap hari ada berita di televisi, internet, radio, surat kabar tentang harga cabai yang di atas Rp 100 ribu.

Wow... mahal banget si cabai!

Solusinya apa? Tentu menggerojok cabai ke pasar. Tapi cabai bukan beras atau gula yang bisa disimpan berbulan-berbulan-bulan di gudang. Orang Indonesia, khususnya Jawa, membutuhkan cabai segar. Beda dengan sebagian orang NTT yang lebih suka cabai tepung kering.

Impor cabai juga belum tentu menjawab persoalan cabai. Menanam cabai pun butuh waktu lama. Sementara setiap menit orang butuh cabai untuk sambal atau bumbu masak.

Saya punya pengalaman pahit menanam cabai rawit dan cabai lain ketika mahasiswa. Sekaligus praktek lapangan budidaya pertanian. Harga cabai saat itu memang lagi bagus-bagusnya. Di atas kertas bisa dapat untung 200 persen.

Apa yang terjadi? Rupanya dalam waktu bersamaan banyak orang punya pikiran serupa: menyewa tanah untuk menanam cabai. Maka hasilnya sudah bisa ditebak. Panen sangat melimpah sehingga harga cabai hancur berantakan.

Boro-boro untung, balik modal saja tidak. Utang pun sulit dibayar. "Cabai itu memang pedes," kata teman saya Mas Budi yang modalnya paling banyak.

Sejak itu saya malas bicara cabai rawit, cabai hijau dsb. Selera makan cabai makin hilang meskipun saya hidup di tengah masyarakat yang doyan sambal pedes.

Di televisi, beberapa menit lalu, ada pengamat yang meminta masyarakat ramai-ramai menanam cabai. Kalau cuma menanam di lahan samping rumah yang sempit sih gak masalah. Tapi kalau menyewa sawah yang agak luas kayak saya dan teman-teman dulu ya... monggo mawon.

2 comments:

  1. Kalau untuk sambel ulek atau rujak, memang lebih marem pakai lombok segar, tetapi untuk menyedap masakan soto, rawon atau gulai, pakai lombok kering saya kira rasanya sami mawon.
    Untuk kebutuhan rumah tangga se-hari2 cukuplah menanam lombok di pot, daripada menanam bunga kertas (bougainville).

    ReplyDelete
  2. Njih cak.. nandur lombok di halaman (bagi yg punya) atau di pot sangat bagus. Bunga kertas juga bagus ketimbang kosongan aja. Kalo lombok larang baru orang2 mikir oh.. seandainya ada lombok di pot. Sekarang lombok masih mahal.

    Mungkin pemerintah NTB bisa menjadikan Pulau Lombok sebagai sentra lombok nasional.

    ReplyDelete