13 January 2017

Buruh Tiongkok vs TKI Ilegal

Isu tenaga kerja asal Tiongkok makin heboh akhir-akhir ini. Di media sosial banyak orang yang asbun, asal bunyi, tanpa verifikasi. Seakan-akan wong cungkuo itu merebut peluang kerja orang Indonesia.

Tiongkok yang dulu lebih miskin dari Indonesia kini menjadi salah satu kampiun ekonomi dunia. Produksinya berlimpah. Mesin-mesinnya dikirim ke seluruh dunia. Tentu saja pengusaha-pengusaha kita membutuhkan beberapa teknisi Tiongkok untuk operator mesin.

Itu pun hanya tahap asal saja. Setelah itu dihanti pekerja lokal. Yang jadi masalah kalau buruh-buruh kasar Tiongkok juga diselundupkan ke Indonesia. Namanya juga cari makan. Itu mah urusan imigrasi, dinas tenaga kerja, aparat keamanan.

Kok bisa lolos? Jangan-jangan ada oknum yang bermain? Sayang, banyak pengamat di Indonesia malah ngomporin rakyat dengan memainkan isu SARA. Salah satunya Dr Sri Bintang Pamungkas yang sedang berurusan dengan polisi karena dugaan kasus makar. Analisisnya melebar terlalu jauh, ke zaman Kertanegara segala.

Warga Tionghoa di Indonesia yang tak punya kaitan dengan orang Tiongkok dibuat ketar-ketir. Apalagi ada kasus Ahok yang panas di Jakarta. Di Sidoarjo yang punya ribuan pabrik, pekerja asal Tiongkok masih normal. Cuma ada 5 atau 7 orang yang menyalahgunakan visa dan dokumen lainnya.

Bicara soal WNA Tiongkok atau negara lain yang masuk ke Indonesia secara ilegal, saya dari dulu menganggapnya biasa aja di era globalisasi. Sejak dulu orang nekat masuk ke negara mana pun untuk mencari nafkah.

Kalau mau fair, orang Indonesia yang menjadi pendatang haram di Malaysia jauh lebih banyak. Bukan puluhan atau ratusan, tapi ribuan. Dulu sebagian besar warga NTT yang merantau di Malaysia - paling banyak di Sabah - tidak punya surat-surat imigrasi. Paspor tak ada. Visa tak. KTP pun banyak yang tak punya. Modalnya cuma nekat dan kebiasaan. Orang-orang lama sudah tahulah celah-celah menembus imigresyen jiran itu.

TKI ilegal di Timur Tengah juga buanyaak. Jauh lebih banyak ketimbang total warga Tiongkok yang bekerja di Indonesia. Lah... kok kita ribut dengan wong Tiongkok? Itu mah urusan kecil. Tangkap dan deportasi... beres!

Yang bikin saya gumun itu: kok Tiongkok yang komunis, tak kenal demokrasi, cenderung ateis... bisa jadi negara maju dengan fresh money berlimpah? Bisa menyulap kampung-kampung-kampung kumuh menjadi kota modern dalam waktu kurang dari 30 tahun? Kok Indonesia masih begini-begini aja?

Malah belakangan kita lebih rajin bertengkar soal agama, ras, kelompok, golongan... dan lupa membahas cara membuat Indonesia jadi makmur. Energi kita tersedot ke FPI dan ormas-ormas radikal, fatwa-fatwa agama, dan masalah tetek bengek.

Jangan kaget kalau negara-negara yang baru lepas dari jerat perang saudara kayak Vietnam, Kamboja, Laos, Myanmar melesat meninggalkan Indonesia. Jangan-jangan kita malah dikalahkan Timor Leste!

6 comments:

  1. Tulisan yang sangat cerdas ! Pertama-tama saya sangat setuju : Orang China yang melanggar aturan keimigrasian harus ditangkap, dipenjara, didenda lalu dideportasi ! Hal yang sama juga dilakukan oleh pemerintah China terhadap pendatang ilegal.
    Bapak Jokowi sudah berkata, mana mungkin buruh kasar China sudi bekerja di Indonesia, lha wong bayaran mereka di Tiongkok 3X lipat lebih banyak daripada gaji di Indonesia.
    Saya hidup sejak 17 tahun di China, saya kasih fakta yang akurat : bayaran kuli kasar bangunan,
    penggali tanah, pemikul pasir dan semen sehari minimum 200 RMB, sedangkan tukang batu dan tukang cor beton 300 RMB per hari. Sebulan jadi 6000 dan 9000 RMB, dikalikan kurs RMB-Rupiah, menjadi 12 juta dan 18 juta Rupiah per bulan.
    Saya tidak tahu berapa bayaran kuli bangunan di Indonesia.
    Tentang touristmus; semua negara didunia welcoming kedatangan Tourist China, karena terbukti paling berani mengeluarkan duit, walaupun tingkah laku mereka terlalu kampungan.
    Kementerian luar negeri China sudah mengeluarkan buku pedoman tata krama untuk para Tourist China, supaya ojo ngisin-ngisini dinegeri orang.
    Saya sering bepergian dengan pesawat, dibandara internasional saya heran melihat orang2 China yang memborong barang2 luxus di duty free shop.
    Mereka berebut sambil cengar-cengir dan teriak
    便宜,便宜,(pianyi, pianyi).
    Jika Sinophobia dipelihara dan disuburkan di Indonesia, maka Tourist Jepang, Korea, Taiwan, China, Thailand, Vietnam, Singapore akan takut datang ke Indonesia. Siapa yang bisa membedakan tampang mereka dengan tampang WNI-Tionghoa.
    Maksud hati mau pukul cino, ternyata wong Korea dan yang lain kena getahnya.
    Contoh: di Eropa banyak orang kulit hitam yang jadi pengedar narkoba. Polisi bule sering kesal dan berlaku kasar. Pernah polisi memukul seorang kulit hitam, tidak tahunya dia dosen dari Amerika serikat, alhasil kedutaan protes dan pilisinya dipecat.

    ReplyDelete
  2. Hehe Xiansheng.. iki tulisan enteng2an aja ala wong kampung. Bukan tulisan cerdas kayak pakar2 yg ilmiah.

    Kebetulan banyak teman dan kenalan saya yg jadi TKI ilegal di Malaysia (biyen). Ada yg ditangkap didenda kemudian dipulangkan.. tapi lebih banyak yg lolos dan bisa kerja sampai bertahun2. Itu dari dulu. Kita sih anggap biasa meskipun mestinya tidak boleh. Lah.. sekarang ada beberapa pekerja cungkuo yg cari makan di sini dengan bantuan calo dan oknum kok kita ribut. Emangnya kita gak pernah melakukan seperti itu?

    Kalau Tiongkok punya banyak lapangan kerja, siapa tahu suatu saat jadi tujuan TKI selain Taiwan dan Hongkong.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bung Hurek janganlah terlalu merendahkan diri sendiri. Mohon diijinkan bercerita sedikit.
      Ipar saya adalah pengembang real estate di Jakarta. Dia telah membangun puluhan proyek dibanyak kota di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi. Setiap memulai sebuah proyek baru, dia selalu membawa atau mengirim para tenaga2 kerja yang telah berpengalaman dan telah bekerja diperusahaannya ber-tahun2. Dia menyewa hotel dan mencharter pesawat untuk karyawannya.
      Saya bertanya mengapa tidak pakai orang lokal ? Dia bilang, ngajari orang baru butuh waktu dan belum tentu cocok. Proyek harus sesuai spesifikasi dan harus selesai sesuai jadwal. Kalau terlambat dia harus membayar denda kepada nasabahnya.
      Itu juga yang dilakukan oleh perusahaan China kalau membangun pabrik2 atau pelabuhan diluar negeri. Setelah proyek di Indonesia selesai, para buruh itu akan dikirim ke Afrika atau Latin-Amerika.
      Tidak mungkinlah buruh China mau bekerja di-negara2 berkembang. Mereka mimpinya ke Kanada, Amerika Serikat, Australia dan Eropa. Banyak wanita China yang menjadi PSK diluar negeri. Itupun karena mereka dibohongi dan diintimidasi oleh para Mafia China yang bersekongkol dengan cukong2 hoakiao dinegara tujuannya.

      Delete
    2. Oh ya.. upah buruh di Jatim itu pake standar yg namanya UMK (upah minimum kabupaten). UMK paling tinggi Rp 3,2 juta sebulan di surabaya sidoarjo Gresik atau disebut ring satu.

      UMK di kota2 lain di luar ring satu ya tentu lebih rendah lagi. Kalau upah buruh di Tiongkok Rp 12 juta per bulan ya jauuuh banget lah. Empat kali lipat. Biasanya tenaga kerja asing dibayar lebih mahal ketimbang buruh lokal tapi tetap lebih rendah dari Rp 12 juta di tiongkok itu. Gak masuk akal lah wong cungkuo rame2 golek pangan nang jowo.

      Jujur aja... iki sing gak enak.. yg banyak dari dulu itu ayam2 cungkuo yg berkeliaran di tempat2 hiburan malam. Banyak juga ayam2 cantik ini yg jadi peliharaan orang2 beruang di sini. Biasanya habis manis, si ayam dibuang atau dibiarkan keleleran. Biasanya mereka ngaku sebagai artis atau entertainer hehe..

      Delete
    3. Xiansheng betul. Yg diramaikan itu buruh yg skilled utk pemasangan jembatan, alat2 pertambangan, dll. Mereka sudah kerja sama dalam satu tim bertahun2 keliling dunia dalam berbagai proyek. Kalau gunakan tenaga lokal, harus latih dan jangka waktu molor. Ga bisa murah. Maka itu Pemerintah hrs putuskan, mau cepat dan kualitas bagus, atau mau lebih lama dan mahal? Orang yg pikiran rasional ga akan gampang termakan isu2 a seng, asing.

      Delete
  3. Nah.. tukang2 tiongkok itu yg dulu bekerja memasang jembatan suramadu yg sempat mangkrak sangat lama. Jembatan penghubung surabaya - madura 5,4 km itu akhirnya rampung dengan sangat cepat di tangan wong cungkuo. Tukang2 macam itulah yg dipake para tauke untuk bikin macam2 projek di Indonesia.

    Cuma karena Indonesia sekarang lagi musim buah hoax n fake news maka semuanya dipelintir untuk bikin kacau kita punya negara. Sayangnya banyak orang Indonesia yg mau menelan mentah2 buah hoax di media sosial.

    ReplyDelete