24 January 2017

Kue keranjang bisa sekeras batu



Oleh: Redaksi BOK TOK, majalah Tionghoa di Malang, 1946 

Tahun Baru Imlek dengan tidak ada kue keranjang rasanya ganjil. Kue keranjang yang di Jawa Kulon dikasih nama kue cina ada satu makanan yang bukan saja enak tetapi juga sangat terkenal di antara segala golongan bangsa.

Nama asli kue ini adalah Nien Kao atau Ni Kwee alias kue tahunan. Sebab dibikinnya satu tahun satu kali pada deket tahun baru. 

Sebabnya di Jawa Wetan kue ini dinamakan kue keranjang lantaran masaknya di-cwee dengan ditempati dalam semacam keranjang bolong kecil. Sedang di Jawa Kulon sebutan kue cina cuma mengunjuk asalnya kue itu ada dari negeri Cina  (Tiongkok).

Di Tiongkok ada kebiasaan pada hari tahun baru sebelonnya orang makan nasi, makan dulu kue keranjang itu sebagai kias biar sepanjang tahun ia beroleh banyak untung kalau yang makan ada hidup dari perdagangan. Tambah naik pangkat kalau yang makan kebetulan memegang salah satu jabatan negeri. Banyak turunan kalau justru yang makan itu gemar sama anak-anak dan begitu seterusnya. 

Kue keranjang itu terbikin dari beras ketan dan tahan lama. Malah kalau dijemur bisa keras seperti batu. Banyak orang makan kue keranjang dengan digoreng sama sedikit tepung dan telor ayam hingga gurih rasanya. 

8 comments:

  1. Budaya Tiongkok menjelang Sincia, semua perselisihan, utang piutang harus dibereskan, kotoran dirumah harus dibersihkan.
    Kotoran dikepala susah dicuci, jika kotoran itu sudah numpuk, maka akan lumber melalui mulut.
    Biasanya pikiran kotor itu didiskusikan didapur atau diruang makan. Yang mendengarkan confessio
    itu adalah dewa dapur, supaya dia tidak wadhul ke big-boss-nya (Thian), maka disuaplah dia dengan kue kranjang yang manis dan lengket, supaya mulut dan bibirnya situkang wadhul lengket. Setiap famili dan manusia dewasa ada menyimpan bangkai diotaknya, ada yang bangkai semut, ada juga yang bangkai gajah.
    Sekarang di Indonesia sedang musim ungkapan: Belajarlah sampai kenegeri Cina.
    Maka mumpung Imlek, seyogianya para Kleptokrat di Indonesia menyuap KPK dengan kue keranjang.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Haiya.. kita orang boleh unjuk syukur alhamdulillah karena KPK sebegitu jauh masih ada kebal terhadap yg namanya suap bin sogok. Barusan kita orang kaget setengah mati karena tuan Patrialis Akbar ditangkep KPK karena terima uang sogok. Denger2 beliau ada jalan2 dengan cewek ketika dicokok itu orang KPK.

      Aha.. rupanya tuan PA hakim konstitusi yg terhormat itu tidak kuat tahan godaan vitamin D. Padahal kalo tidak salah PA ini seorang politikus yg sangat agamis dari PAN. Mungkin omongan bung Hatta tempo doeloe ada benarnya: bahwasanya korupsi itu sudah jadi budaya di Indonesia sehingga akan sangat sulit menguburnya dari bumi nusantara. Hilang satu tumbuh seribu..

      Semoga Sin Tjia ini bisa membuat pejabat2 Indonesia lebih sadar. Gawat kalo sudah masuk ke kawasan kleptokrasi alias para maling yg berkuasa di negeri ini.

      Delete
    2. Nek katane mamaku sing gedhe ndik Kapasan Dalem cedhake Boen Bio, itu ngisin-ngisini. Mosok jadi hakim mahkamah konstitusi kok kenek tangkep KPK, ketangkep tangan lagi, pas jalan-jalan ambek arek wedhok sing bukan bojone. Yak apa sih, Indonesia ini ...? Dadi hakim MK itu lak podo dukure ambek posisi Hakim Supreme Court ndek nggone Amerika sana. Ntik Jokowi dituduh nggerakno KPK ben nargetno orang-orange SBY ambek bolo-bolone. Waduh rame ... wes Hurek, lu sing ati-ati nek nulis-nulis sing aman-aman ae, ojok sing nyerang sana sini, ntik lu kenek imbase, tambah soro, Hurek.

      Delete
    3. Haiya... itu ada betul kenyaan begitu bahwasanya hakim MK itu punya kedudukan sangat tinggi dan terhormat kerana di Indonesia hanya ada 9 orang. Maka dari itulah dia orang harus punya watak yg jujur objektif konstitusionalis antikorupsi dsb dsb... juga dia tida boleh maen2 serong dengan cewek2 nakal (kalo kawim dua tiga masih boleh lah).

      Maka dari itulah kita orang terperanjat betul2 kok hakim tertinggi macam tuan PA bisa ditangkep lantaran terima suap...

      Tapi haiya... pengusaha2 tajir itu dari doeloe jamannya VOC suka maen2 belakang.

      Delete
  2. Nemu aja Bertje, dapat dari mana?

    ReplyDelete
  3. Haiya... itu saja dapet dari lapak boekoe2 bekas. Saja ada tertarik membatja toelisan2 pers melajoe tionghoa tempoe doeloe boat hiboeran en menambah saja poenja wawasan. Itoe mereka poenja gaja bertjerita sangat sedap diikoeti karena sanget hidoep dengen gaja bahasa jang chas.
    Sekalian saja djoega nostalgia dengen pendekar2 pers tionghoa masa lalu. Dari sini kita aken tahoe kalo tuan2 tionghoa tempoe doeloe itu djoega poenja pemikiran jang tadjam tentang nasionalisme, seni boedaja dsb.. dus boekan tjuma dagang kelontong adja seperti dianggap banjak orang boemi poetra.

    Sekalian meramekan tahun baru imlek toh... salam tahun ajam api semoga dikasih banjak redjeki. Amin.... Halelujah... (kata terachir ini tionghoa anjar jang soedah dipermandikan hehe).

    ReplyDelete
  4. Kang Hurek, coba Riko lihat harian surat kabar Djawa Timur terbitan awal tahun 60-an ( antara 61 - 63 ), entah Surabaja Post atau lainnya.
    Ketika itu ada kasus Atamimi di Bangil. Sehingga kita anak2 remaja didaerah Tapal Kuda memakai ungkapan: Kon kiro aku iki Atamimi tah !
    Jika tidak ketemu, silahkan bertanya kepada teman2 di Sidoarjo yang usianya diatas 70 tahun.
    Ketika sedang ramainya kasus tersebut, kasihan para saudara asal hadramaut, mereka tidak berani keluar rumah. Tidak seperti sekarang mereka berani memaki presiden.

    ReplyDelete
  5. Oh.. kita orang belom denger ada itu tjerita tentang Attamimi van Bangil. Kapan2 kita mau tanja orang2 sepuh lao ren siapa tau ada jang mesih inget itu kedjadian. Barusan saja tjoba tanya mbah Google ternjata tidak ada. Jang dibahas tjuma Atamimi masa kini jang trada kaitan dengen konteks 60an.

    Tjari koran2 lawas itu tidak gampang kerana tidak banjak orang jang mau simpan barang2 lawas. Bikin rumah dan gudang penuh... plus datengkan banjak penjakit2 seperti jang diadjarken tuan2 dokter itu.

    Saja tidak heran kalo anak tjutju wong Hadramaut punja kelakuan macem itu kerana dia orang merasa sudah djadi pribumi jang bener2 tulen. Apalagi dikasih bumbu2 agama dsb... tambah pedes itu rasanja.

    Selamat makan kuwe kerandang jang manis... semoga Xiansheng lebih beruntung di taun ajam djago ini. Kita djuga haturken diperbanjak terima kasih kerana Xiansheng sudah menulis komentar2 jang bagus di kita punya pondok sederhana ini.

    ReplyDelete