14 January 2017

Ahok masih di atas angin

Debat di televisi baru saja usai. Ahok kelihatannya tenang, santai, tahu masalah, dan bisa ngomong enak. Itulah enaknya petahana alias incumbent. Sudah tahu isi perutnya program-program pemerintah daerah.

Ahok juga punya kelebihan fasih lidah. Omongnya lancar, runtut, logikanya enak. Orang Tionghoa Belitong ini juga kemampuan mengingat angka-angka yang sangat teknis. Maka Ahok bisa menjawab pertanyaan apa pun dengan enak. 

Diserang soal penggusuran warga di pinggir sungai, tidak manusiawi, Ahok punya tangkisan yang jitu. Dia jawab dengan fakta bahwa sungai makin bersih, normalisasi sungai bisa jalan... dan ujung-ujungnya untuk mengatasi banjir yang kronis di Jakarta.

Jujur aja... sangat jarang ada pejabat yang punya kemampuan komplet macam Ahok. Banyak bupati atau wali kota atau gubernur yang bagus, tapi tidak bisa presentasi dengan lancar. Presiden Jokowi atau Presiden Megawati misalnya bukan tipe pembicara yang mengalir lancar. Ahok ini punya kecepatan berpikir plus kecepatan bicara. 

Agus Yudhoyono yang masih muda, belum pengalaman di politik atau birokrasi, kelihatannya berusaha menyerang petahana. Wajar dan harus begitu. Tapi Agus belum punya ketenangan dan kedalaman berpikir seperti bapaknya, SBY. 

Kelihatan sekali Agus masih emosional. Khas anak-anak muda yang tidak sabaran. 

Anies Baswedan pun fasih bicara dan punya ketenangan. Tapi dia bukan teknokrat yang biasa menangani hal-hal teknis. Anies lebih banyak bicara filosofi yang cenderung abstrak. Tapi saat debat kandidat gubernur DKI Jakarta ingin menunjukkan bahwa dia pun seorang eksekutor.

Berdasar pengalaman, debat di televisi tidak punya korelasi dengan keterpilihan. Di Jawa Timur lebih banyak calon bupati atau wali kota yang bicara tak lancar, tidak meyakinkan saat debat, justru menang. 

Saat debat wali kota Surabaya beberapa tahun lalu, calon dari jalur independen yang paling fasih berdebat dengan retorika yang mengundang tepuk tangan. Tapi perolehan suaranya justru paling sedikit. Pemenangnya Bu Risma.

Maka anggap saja debat Ahok vs Agus vs Anies ini sebagai hiburan di tengah harga cabai yang makin pedas ini. Di Sidoarjo cabai satu kilogram sudah Rp 90 ribu.

10 comments:

  1. Junior saja, Ahok itu Cina, eh, Tionghoa. Dan dia itu kafir, eh, Kristen. Krn itu dia dibenci dan dituduh menista agama oleh lawan2nya, termasuk bekas pendananya utk menjadi wakil gubernur pd tahun 2012 yg sekarang justru mensponsori demo anti Ahok gede2an.

    ReplyDelete
  2. Hihi.. kita lihat sajalah perjalanan kasus Ahok dan pilkada. Silakan masyarakat DKI yg memilih tiga menu spesial di atas meja: mau pecel rawon soto.. sumonggo.

    ReplyDelete
  3. Bagusnya dinegara yang bersystem demokratis ialah
    pemilu kepala negara dan kepala daerah dipilih langsung oleh rakyat. Jadi para pejabat yang terpilih adalah cermin dari rakyatnya.
    Jika pemimpinnya koruptif atau begok, itulah cermin dari rakyatnya.
    Every national has the government it deserves.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul... makanya pilkada atau pilpres gak perlu gontok2an. Ruleks aja lah. Yang suka soto silakan, rawon monggo, capcay juga bagus. Masalahnya di indonesia masih banyak yg belum paham filosofi demokrasi. Bahkan belakangan ada kelompok yg ngotot teokrasi.

      Delete
    2. Pada suatu hari, menjelang pemilu parlemen, saya, istri dan keempat anak2 yang masih mahasiswa duduk makan siang bersama. Pada pemilu itu ada 5 partai yang berkompetisi.
      Saya nyeletuk, hai, kalian akan pilih partai yang mana ? Anak2 semuanya terperanjat dan diam. Achirnya anak saya yang nomor 3 berkata; Papa, mengapa engkau bertanya yang ndak-ndak, pemilu khan hak demokrasi kita yang sifatnya rahasia dan pribadi !!!
      Saya tidak marah, itulah hak mereka sebagai warganegara. Saya juga tidak ambil pusing istriku mau nyoblos partai apa.
      Lain halnya di Indonesia, seorang bapak koar2, kami sekeluarga akan nyoblos capcay, dan bapak yang lain, kami se-RT akan nyoblos soto.

      Delete
    3. Kalau di jawa kota masih ada rahasia. Di NTT hampir tidak ada rahasia setelah coblosan. Orang2 kampung hafal si A nyoblos soto, B rawon, C nasi goreng dsb. Ini juga menimbulkan hubungan kekeluargaan agak retak kalau pak X ternyata gak nyoblos caleg Y yg merupakan keponakan sendiri tapi malah nyoblos caleg yg keluarga istri.

      Delete
    4. Apropos NTT. Saya membaca sebuah Artikel di koran: 700 warga NTT ingin pindah menjadi warganegara Timor Leste, karena merasa tidak diperhatikan oleh pemerintah. Apakah tuntutan atau permintaan mereka ?
      Kami tidak minta listrik atau air ledeng, yang kami butuhkan hanyalah jalan. Kami tidak bisa menjual hasil bumi kami kepasar karena tidak ada jalan. Tengkulak datang kedesa kami, dan hanya bersedia memberi kami uang 200,- Rupiah untuk sesisir pisang.
      Sekarang di RRT seluruh kampung dipelosok punya aliran listrik, antenna handy dan jalan beton selebar 3 meter. 17 tahun lalu masih seperti NTT.
      Caranya orang China membuat jalan dipelosok sbb.:
      Pemerintah provinsi atau kabupaten menyediakan bahan dan seorang insinyur sipil ahli membuat jalan sebagai mandor.
      Buruh2-nya adalah penduduk kampung itu sendiri, laki2 dan wanita, mereka diberi upah oleh pemerintah.
      Caranya sangat primitif tetapi efektif.
      Setelah dasar jalan dipadatkan, mereka cuma perlu 4 batang lempengan besi baja setebal 2 Cm.: 2 batang ukuran 3 M x 10 Cm dan 2 batang ukuran 5 M x 10 Cm.
      Begitulah mereka mencetak jalan beton, seperti orang mencetak batu bata.
      Tiap hari bikin jalan sepanjang 5 Meter atau 10 meter. Setelah 5 tahun mereka punya jalan, dan selama itu mereka dapat bayaran dari pemerintah untuk biaya hidup. Begitu gampang seperti menanam cabai sendiri. Asal saja ada kemauan.

      Delete
    5. Penduduk pasti ada kemauan xiansheng tapi perlu bantuan dr Pemerintah juga toh? Alat berat utk mempadatkan tanah, biaya hidup utk mengganti pendapatan dari mata pencarian.

      Delete
    6. Betul betul xiangshen...
      Di Indonesia juga ada proyek padat karya di perdesaan macam di Tiongkok. Tapi tidak bisalah orang2 desa yg bikin jalan aspal karena butuh pengalaman dan keahlian teknik, alat2 berat dsb. Di kota2 pun pengerjaan jalan hanya dilakukan pemborong2 yg berpengalaman dengan sistem lelang.

      Proyek padat karya di NTT yang saya lihat sering digarap asal jadi kayak tanggul laut. Tidak bisa kuat dan tahan lama.

      Informasi orang NTT yg pindah ke Timor Leste itu perlu diluruskan. Mereka itu Flores itu punya karakter yg berbeda dengan Timor Timur meskipun sama2 hitam dan Katolik. NTT itu eks Hindia Belanda kayak Jawa dsb, sementara Timor Leste itu eks jajahan Portugis.

      Dulu waktu mahasiswa, kami sering ajak mahasiswa Timtim untuk doa bersama umat Katolik di lingkungan/wilayah. Tapi mereka hampir tidak pernah datang. Kalau ada wong Timtim yang datang biasanya dijadikan bahan guyonan.

      'Kamu itu Fransisco, bukan Fransiskus. Roberto bukan Robertus..,' kata senior2 itu. Karena sejak dulu mereka sudah punya bibit2 merdeka dan merasa bukan bagian dari NKRI.

      Delete
  4. Ahok dan Djarot selalu dikritisi oleh pasangan cagub+cawagub no.1 dan cagub+cawagub no.3, karena memindahkan penghuni gubuk2 kumuh dibantaran kali kerumah susun. Penentang Ahok+Djarot menolak penggusuran.
    Seandainya saya Ahok : saya akan menantang, Agus, Silvy, Anis dan Uno, supaya mereka beserta anak- dan istri- mereka untuk menghuni gubuk2 kumuh tersebut selama 1 minggu. Penghuni gubuk selama itu boleh tinggal dirumahnya para cagub+cawagub. Jadi tukar tempat tinggal selama seminggu, tanpa pembantu.
    Demikian pula saya dan Djarot beserta keluarga akan pindah kerusun selama 2 minggu, penghuni rusun boleh tinggal dirumah saya dan rumahnya Djarot. Tantangan yang sangat adil bukan ?

    ReplyDelete