31 January 2017

Oei Hiem Hwie, perpustakaan, memoar

Pagi ini OEI HIEM HWIE masuk koran lagi. Cerita lama tentang pengalamannya di Pulau Buru karena dianggap antek-antek Bung Karno. Pak Oei juga punya kedekatan khusus dengan Pramoedya Ananta Tour saat berada di pulau pembuangan tahanan politik itu.

Cerita tentang Pak Oei sudah sering dibeber di media massa. Saya juga beberapa kali menulis pengalaman mantan wartawan Trompet Masjarakat, Surabaya, itu di koran. Kalau perlu pendapat tokoh atau pengamat Tionghoa, biasanya saya kontak Oei Hiem Hwie.

Lama-lama jadi dekat dengan sesepuh Tionghoa Surabaya itu. Apalagi beliau punya perpustakaan antik di Medokan Ayu Surabaya. Satu-satunya perpustakaan yang menyimpan begitu banyak majalah, koran, buku, dan dokumen tempo doeloe.

Mau cari koran prakemerdekaan macam Sin Poo, Sin Jit Poo, Keng Poo... ada saja arsipnya di perpustakaan yang bernama Medayu Agung. "Saya memang hobi membaca dan mengoleksi media massa dan buku-buku," ujarnya.

Sayang, banyak buku koleksinya yang diambil aparat setelah peristiwa kelabu 65 itu. Masih lumayan ada setumpuk yang disembunyikan di plafon rumahnya ketika ditangkap dan dibuang ke Pulau Buru, Maluku.

Kembali ke Jawa Timur, Oei kelahiran Malang tapi cari duit di Surabaya, bersyukur karena buku-buku lamanya masih ada. Tapi di masa Orde Baru dia hidup dalam kecemasan gara-gara status ET di kartu penduduk. ET : eks tapol. "Kami terus diawasi setiap saat," ujarnya.

Orde Baru kemudian tumbang. Pak Oei bisa sedikit lega meskipun tetap eling lan waspada. Diam-diam dia buka perpustakaan sederhana, kecil, agar koleksi-koleksi lawas itu bisa dibaca banyak orang. "Tiap hari ada mahasiswa, dosen, wartawan, tokoh masyarakat datang ke sini," tuturnya lantas tertawa kecil.

Hehehe... Saya ikut tersindir karena memang sering ke perpustakaannya yang dekat perbatasan Kota Surabaya dan Kabupaten Sidoarjo. Kalau saya lewat di tambak-tambak Sedati Juanda hingga Tambakoso biasanya saya merapat ke Medayu Agung.

Makin hari saya lihat buku-buku makin menumpuk. Selain membeli pakai duit sendiri, banyak orang yang ikut menyumbang. Di era digital ini tentu sumbangan buku makin banyak. Sebab manusia modern lebih banyak membaca di internet ketimbang buka-buka buku kertas.

Saya merasa asyik membaca tulisan-tulisan lawas dengan gaya Melayu Pasar atau Melayu Tionghoa. Penulis-penulis lama senang bermain-main kata, guyon, nyindir... sehingga berita-berita jadi sangat berwarna. Beda dengan model jurnalistik modern yang singkat, padat, tidak bertele-tele, to the point.

Kelemahan perpustakaan milik Tuan Oei hanya satu: tidak ada AC. Bisa dibayangkan betapa sejuknya ruangan perpustakaan dua lantai itu di Surabaya yang panas. Tapi tentu saja Pak Oei tidak punya anggaran untuk pengadaan AC. Pemkot Surabaya juga belum berkenan menyumbang karena lebih memperhatikan perpustakaannya sendiri yang mutunya biasa-biasa saja.

Tahun ini Pak Oei genap 80 tahun. Beliau mau menerbitkan buku memoar yang isinya pasti werno-werni dan interesan. Semoga lancar dan Tuhan kasih sehat untuk Pak Oei.

Salam Sin Cia tahun ayam!

29 January 2017

Kenapa orang Tionghoa melakukan pemujaan abu leluhur (hio hwee)

Oleh Wartawan Bok Tok Malang, 1946




Pada riboean tahoen jang lalu, sebelonnja ada hitungan Masehi, ja, pada sabelonnja bangsa Barat berpakean seperti sekarang dan mempoenjai gedoeng2 jang indah, bangsa Tionghoa soedah mengerti hal sopan santoen dan tjara bagaimana menghormat orang toea.

Malah penghormatan atau kebaktian itoe tidak meloeloe ditoendjoekkan pada masa si orang toea masih hidoep. Orang jang soedah poelang ke alam aloes dipandang masih hidoep rochnja dan rochnja orang mati ini jang mendjadi pemoedjaan bangsa Tionghoa.

Sangat boleh djadi pada zaman poerbakala di Tiongkok orang mati itoe dibakar dan aboenja disimpan baik2 dalam seboeh tempat jang dinamakan HIO LOW.... Dan pemoedjaan aboe leloehoer itoe dinamakan pemoedjaan HIO HWEE.

Sampe sekarang, meskipoen djinasat dikoeboer, orang masih pelihara hio low, dalam mana ada tersimpan aboe dari alat persembahjangan jang dibakar di koeboeran.

Hio low (tempat aboe leloehoer) itoe dapat tempat istimewa dalam roemah tangga koeno, ditaroeh atas medja jang dibikin tinggi kakinja, medja mana biasanja ditaroeh di roewangan pertengahan.

Medja ini sebenernja bersoesoen tiga: doea medja ketjilan sama tingginja (lebarnja 60 cm, pandjang 115 cm, dan kira2 90 cm tinggi), sementara bio low itoe ditaroeh atas medja besar di mana satoe standaard ketjil. Inilah diseboet SAM KAY (tiga soesoen) symbol dari doenia kasar, langit, dan doenia haloes tempatnja roch soetji.

Sesoeatoe hio low ada mempoenjai doea gagang jang mengoendjoek ke atas. Doea gagang ini ada sembojan "kematian" dan mengoendjoek ke atas maoe diartikan roch manoesia naik ke atas.

Di sebelah hio low biasanja orang pasang pelita jang mesti teroes-meneroes menjala. Doeloe orang pake minjak katjang dengan soemboenja dari lawee dan apinja pelita ini didjaga hati2 sebagai pelambang dari YANG (tjahja jang kekal abadi) ataoe pokok penghidoepan, sedang hio low dianggap sembojan dari IM (tidak kekal).

Dengan lain perkataan, dimaksoedkan hio low mengoendjoek segala apa di doenia tidak kekal. Jalah habisnja segala djenis mendjadi aboe. Tetapi di samping tidak ada kekekalan ada apa2 jang bersifat kekal, jalah api atau noer tjahja.

Maka tiap2 orang Tionghoa jang bersoedjoet hadapan hio low itoe agaknja diperingatkan bahwa manoesia poenja hidoep di alam doenia tiada kekal. Dan meskipoen raga soedah mendjadi aboe, tetapi rochnja masih tetap hidoep.

Tiap2 boelan Imlek orang Tionghoa bikin oepatjara sembahjang doe kali di hadapan hio low itoe, jaitoe tanggal 1 (tjee it) dan tanggal 15 (tjap gouw).

Sebagi sadjen di medja sembahjang tertampak bebrapa tjangkir ketjil isi air teh, boeah2an jang keloear pada moesim itoe, koewe2, manisan dan doea lampoe ketjil di kanan kiri hio low.

Djadi, sama pelita tadi ada tiga penerangan. Ketiga penerangan ini memperoempamakan Thian (langit), Tee (boemi), dan Djin (manoesia).

Moela2nja ada langit, kemoedian tertjipta boemi dan baroe belakangan manoesia.

Dalam kapertjajaan Hindoe ini disebut Trimoerti dan dalam kapertjajaan Kristen : Bapa, Poetra dan Roch Soetji.

Pada waktoe diadakan persembahjangan besar seperti pada perajaan Tjhing Bing, Tjio-ko, dan Sin Tjhia (tahoen baroe), tiga penerangan ini ditambah lagi dengan 2 lilin. Djadi sama sekali 5 penerangan atau ngo-sing dan ini 5 pokok ada 5 element (anasir) jang penting dan dioempamakan 5 bahan, misalnja :

Kiem : emas
Bok : kajoe
Soei : air
Hwee : api
Tow : tanah.

Lima pokok ini jang mendjadikan segala djenis di doenia.

Dalam pengetahuan modern kiem itu boleh dikatakan barang anorganisch, mineralen seperti besi, emas, perak, timah dsb.

BOK barang organisch jang berasal dari pepohonan. SOEI jaitoe midden stof atau barang tjair dan dengan tida ada barang tjair pasti segala machloek tida bisa hidoep karena semoea akan kering dan mati.

HWEE adalah energi atau tenaga, hawa anget, api dsb jang senantiasa memberi tenaga pada manoesia dll machloek akan mengerdjakan ini dan itoe.

Poesat dari tenaga ini adalah matahari. TOW jalah tanah atau asal dari segala apa. Semoea poelang ke tanah, dari jang paling haloes sampe paling kasar.

Badan manoesia ini mengandoeng 5 pokok anasir dan 75% dari barang tjair.

Djikalau orang mengerti semoe ini, sebenarnja tiap2 roemah tangga Tionghoa soedah meroepakan gredja atau klenteng ketjil, di mana orang Tionghoa dapat mendjalankan kepertjajannja dengan soenggoeh hati.

Barang2 sadjen jang disediakan pada tiap2 sembahjang itoe hanja sekedar peringetan pada jang mati poenja kasoekaan waktoe hidoepnja. Djadi tida boleh diartikan dengan tentoe2 makanan itoe nanti dimakan oleh roch2 jang sedang disembahjangi.

Tiap2 roch jang soedah tida mempoenjai poela badan kasar sebenarnja tida bisa makan atau itjipi itoe koewe2 dll makanan. Tetapi roch itoe moengkin merasai minat dari orang hidoep jang mendjadikan segala makanan itoe.

Orang Barat jang koerang loeas pemandangannja mengatakan pemoedjaan hio hwee itoe ada kapertjajaan tachajoel, sebenarnja meleset djaoeh sekali. Kalaoe orang ingat jang oepatjara sembahjang ini saben2 memperingatkan anak tjoetjoe boeat selaloe menaroeh endah pada orang toea ataoe leloehoernja jang soedah lama meninggal doenia.

Sajang, dengan menioepnja angin Barat jang santer, banjak kasopanan Tionghoa djadi toeroet terbang dan segala apa ditjap tachajoel dengan hampir tiada ada orang jang hendak tjapekan sedikit otaknja akan menjelidiki poesaka Tionghoa jang berharga mahal itoe.

28 January 2017

Malam Sin Cia di Kelenteng Hong San Ko Tee

Suasana khusyuk terasa di Kelenteng Hong San Ko Tee, Jl Cokroaminoto Surabaya. Tepat pukul 00.00 ratusan orang Tionghoa melakukan doa bersama melepas tahun lama dan menyambut tahun baru.

Seorang bapak memimpin doa dalam bahasa Hokkian campur Mandarin plus Indonesia. Beberapa kali terdengar kata 'Indonesia''Indonesia'. Mungkin doa untuk kemakmuran bangsa Indonesia.

"Semoga Indonesia semakin makmur aman sentosa. Rakyatnya rukun," ujar Juliani Pudjiastuti pemimpin kelenteng.

Sembahyang Sin Cia di TITD Hong San Ko Tee tidak lama. Tidak pake khotbah. Pukul 00.15 sudah selesai. Kemudian umat bebas melanjutkan doa di dalam kelenteng, bersantai atau makan-makan. Ada nasi goreng, soto, tapi tidak ada makanan Tionghoa alias chinese food.

Saya seperti biasa memilih nasi goreng jawa. Wuenaak...

Oh ya.. ada juga pembagian angpao. Semua pasti dapat. Isinya? Tulisan Mandarin, mungkin puisi, dan uang 2.000 rupiah (bukan dolar). Juga bagi-bagi-bagi telor warna merah.

Selamat tahun baru!
Gongxi facai!

27 January 2017

Asal usul petasan di Tiongkok



Sumber: Majalah Bok Tok, Malang, 1946

Tiap2 keramean Tionghoa seringkali disertakan dengan pembakaran mertjon atau petasan. Teroetama dalam penjamboetan tahoen baroe, orang Tionghoa paling rojal bakar petasan, katanja boeat mengoesir iblis2 djahat.

Dari mana asalnja kepertjajaan ini ada diterangkan dalam dongengan sebagi berikoet:

Pada zaman poerbakala di Tiongkok ada seorang jang tingginja loear biasa, jalah 10 kaki dan romannja sanget menakoeti orang. Orang kasih djoeloekan SAN SOO padanja dan siapa sadja jang pernah bertemoe padanja pasti orang itu akan mendjadi sakit.

Soepaja hindarkan diri dari bahaja penjakit, orang2 laloe membakar bamboe jang sebagimana pembatja poen mengatahoei, bamboe itoe meledak keras kalau kena api. Peledakan2 bamboe2 ini bikin San Soo djadi tida berani mendeketi orang2 biasa.

Lain tjerita menoetoerkan seorang desa di pegoenoengan telah diganggoe iblis, tetapi oentoeng tetangganja nama Lie Tan laloe membakar bamboe jang mengasih soeara letoesan heibat, sehingga iblis itoe maboer.

Pembakaran bamboe oentoek mengoesir setan ataoe pengaroeh djajat itoe diseboet PHOK TIOK.

Belakangan orang dapat akal boeat membikin PHAO, jalah obat pasang jang bisa meledak keras dan inilah djadi penggantinja pembakaran bamboe. Lambat laoen pembikinan mertjon atau petasan itoe djadi sampoerna dan sampe sekarang petasan itoe diboeat sjarat baik dan kebiasaan menjoeloet mertjon ini merata pada segala golongan bangsa di Indonesia.

Kenapa orang Tionghoa suka warna merah?



Oleh Wartawan Bok Tok, Malang, 1946 


Orang Tionghoa soeka sekali sama warna-warna jang terang atau menjolok mata dan Tiongkok kenal 5 pokok warna, jaitoe merah, koening, blaoe, poetih dan hitam.

MERAH ada sembojan dari Selatan. Merah ada warnanja matahari dan melambangkan kegembiraan dan kesenangan. Pakean penganten perempoean merah, randjangnja ditjat merah dan segala-galanja pake merah.

Sepasang tjawan anggoer dari mana kedoea penganten bersama-sama minoem poen dikasih libetan merah. Menoeroet dongengan Poeteri Remboelan telah mengikat sepasang merpati jang baroe menikah poenja kedoea kaki dengan benang merah.

Merah itoe ada sifatnja JANG, sifat lelaki, berani dan gagah serta djoega moerni.

Maka gambarnja Kwan Kong diloekiskan sebagai ksatria jang berdjenggot merah, moekanja poen merah, koedanja merah dan pakeannja poen merah. 

Segala pesta jang diselenggarakan oleh bangsa Tionghoa mesti pake merah-merah. Soerat-soerat hoe (djimat = azimat) poen kertasnja merah. Soerat oendangan pesta atas kertas merah.

Kaisar-kaisar Tionghoa dalam mendjalankan oepatjara sembahjangan besar poen memake badjoe kebesaran jang warnanja merah.

Kalau orang mengatakan hatinja merah itoe tandanja hatinja poetih bersih. Warna merah mendjadi pelambang kebadjikan, tetapi ada kalanja orang menampak di waktoe menggerip langit jang berwarna merah darah. Ini tandanja bakal ada bentjana peprangan haibat. 

POETIH ada warna berdoeka tjita. Orang-Orang-orang jang berkaboeng berpakean poetih dan sembojan dari Barat. 

Pernah kedjadian seorang Tionghoa jang baroe semboeh dari sakitnja telah dikirimi boeket lily poetih oleh sobatnja. Orang sakit itoe merasa tidak senang karena ia mengira sobatnja itoe doakan ia lekas mati. Kalau maoe kirim kembang pada bangsa Tionghoa haroes merah sumringah.

Tetapi tidak selamanja warna poetih berarti kedoekaan, sebab ini bisa diartikan djoega kebersihan, kasoetjian dan kemoernian, tetapi orang mesti hati-hati memakenja.

HITAM ada warna kedjahatan, angkara moerka dan iblis. Setan-setan diloekiskan machloek jang hitam dan hitam ini ada lambang Oetara. Kalau di langit tertampak awan-awan hitam tandanja bakal ada bandjir besar. 

Di Tiongkok kalau orang mengatakan si anoe hatinja hitam, tandanja orang itu djahat. Oemoemnja di Tiongkok segala matjam warna mesti terang (semringah). Dalam kunst Tiongkok, dalam apa sadja garis-garis besarnja koedoe tandes.

KOENING ada warna kebangsaan. Astananja kaisar Tiongkok di Peiping mempoenjai genteng-genteng jang warnanja koening.

Koening bisa mengusir setan katanja dan ada sembojan dari IM atau sifat perempuan.

Kalau orang menampak awan-awan koening tandanja bakal ada kemakmuran. Dalam oepatjara sembahjang boeat menunjoekkan kebaktian pada Thian (Allah) sebagai tanda terima kasih. Kaisar Tiongkok harus berpakean koening.

Koening djoega mendjadi sifatnja boemi dan pesta-pesta panen.

IDJO atau blaoe ada warnanja kaoem terpeladjar, literati. Kalau kaisar Tiongkok sembahjang kepada Langit, ia haroes memake pakean blaoe. Poen warna ini ada warna dari kaum berilmoe jang telah dapat gelaran dari salah satoe midrasa. Biroe ini djoega ada warna Timoer.

Warna hidjo ada timboel dari warna blaoe. Kata paribahasa Tionghoa kuno, "maka djoega moerid sering mengatasi goeroenja meskipoen asalnja dari sang goeroe."

26 January 2017

Gelar sarjana lebih penting

Tulisan Dr Rahma Sugihartati dosen Unair Surabaya di Jawa Pos pagi ini (26 Januari 2017) bikin kita tambah prihatin. Sebetulnya sih sudah jadi rahasia umum di Indonesia. Tentang kondisi universitas-universitas yang mirip perusahaan dagang.

Kualitas mahasiswa sekarang menurun. Itu di PTN. Jangan tanya lagi di PTS yang tidak ada tes masuknya. Satu-satunya tes masuk adalah kemampuan membayar uang kuliah yang selangit itu. Kalau bisa bayar dijamin jadi sarjana. IP-nya pun bisa 3 koma sekian. 

Dr Rahma Sugihartati menulis begini:

"Gelar sarjana lebih penting daripada pemahaman terhadap materi kuliah yang mendalam. Pada tingkat yang ekstrem, bahkan bisa saja seseorang tidak pernah hadir dalam kuliah tetapi bisa lulus dan menjalani wisuda untuk memperoleh gelar sarjana... asalkan mau membayar mahal."

Wuih... mengerikan sekali wajah pendidikan tinggi kita. Tidak ikut kuliah, bikin tugas, praktikum kok lulus. Mungkin fakta inilah yang membuat kualitas perdebatan kita di media sosial dan ruang publik makin lama makin dangkal. Keranjingan bahas Ahok, FPI, fatwa-fatwa itu. 

Tentu saja tidak semua universitas dan mahasiswanya sejelek itu. Banyak juga yang benar-benar haus ilmu. Bukan cuma memburu gelar sarjana. Gelar untuk memenuhi syarat kenaikan pangkat... dan gaji.

Semoga pemerintah mau melakukan revolusi mental di dunia pendidikan kita secara total. Dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Agar universitas tidak berubah menjadi usaha dagang waralaba ala restoran ayam tepung ala Amerika. 

24 January 2017

Kue keranjang bisa sekeras batu



Oleh: Redaksi BOK TOK, majalah Tionghoa di Malang, 1946 

Tahun Baru Imlek dengan tidak ada kue keranjang rasanya ganjil. Kue keranjang yang di Jawa Kulon dikasih nama kue cina ada satu makanan yang bukan saja enak tetapi juga sangat terkenal di antara segala golongan bangsa.

Nama asli kue ini adalah Nien Kao atau Ni Kwee alias kue tahunan. Sebab dibikinnya satu tahun satu kali pada deket tahun baru. 

Sebabnya di Jawa Wetan kue ini dinamakan kue keranjang lantaran masaknya di-cwee dengan ditempati dalam semacam keranjang bolong kecil. Sedang di Jawa Kulon sebutan kue cina cuma mengunjuk asalnya kue itu ada dari negeri Cina  (Tiongkok).

Di Tiongkok ada kebiasaan pada hari tahun baru sebelonnya orang makan nasi, makan dulu kue keranjang itu sebagai kias biar sepanjang tahun ia beroleh banyak untung kalau yang makan ada hidup dari perdagangan. Tambah naik pangkat kalau yang makan kebetulan memegang salah satu jabatan negeri. Banyak turunan kalau justru yang makan itu gemar sama anak-anak dan begitu seterusnya. 

Kue keranjang itu terbikin dari beras ketan dan tahan lama. Malah kalau dijemur bisa keras seperti batu. Banyak orang makan kue keranjang dengan digoreng sama sedikit tepung dan telor ayam hingga gurih rasanya. 

Ki Subur Panen Rezeki Wayang Potehi

Setiap tahun jelang tahun baru Imlek, KI SUBUR panen tanggapan. Dua bulan sebelum Sincia jadwal manggungnya penuh. Dalang wayang potehi asal Sidoarjo, kelahiran Surabaya 25 Mei 1962, ini sudah boyongan properti potensinya ke Jakarta sejak akhir Desember 2016.

Sincia atau tahun baru Imlek jatuh pada 28 Januari 2017. Tahun Ayam Api. "Alhamdulillah, saya dapat job lagi di Jakarta dan Tangerang. Ini rezeki tahunan," ujarnya. 

Saya pun ikut bersyukur sambil berdoa semoga hobinya bagus di tahun ayam api. Ayam itu rajin nyekar cari makan di mana saja meskipun hasilnya juga cenderung eceran aja.



Di Kabupaten Sidoarjo sendiri tidak ada tradisi wayang potehi untuk imlekan. Ki Subur hanya tampil dua kali setahun di Sidoarjo: hari jadi Makco di Kelenteng Tjong Hok Kiong Sidoarjo dan perayaan sembahyang rebutan di Kelenteng Teng Swie Bio Krian. Maka di luar dua perayaan itu, Ki Subur dan krunya  (5 sampai 7 orang) manggung di berbagai kota.

Ki Subur paling terkenal di Jakarta sejak awal 2000an. Tepatnya ketika Presiden Abdurrahman Wahid secara resmi mengizinkan perayaan hari besar Tionghoa di tempat umum. Sejak itulah Ki Subur jadi langganan sejumlah pengusaha Jakarta. 

"Karena di sana belum ada dalang potehi. Kalaupun ada, sudah sangat sepuh dan tidak aktif. Mana ada orang Tionghoa yang berani main potehi di zaman Orde Baru," ujar Subur yang asli Jawa dan Islam.

Nah, jelang Imlek 2017 ini Ki Subur ditanggap Mal Ciputra Jakarta selama satu bulan. Durasi main setiap tahun memang sebulan. Bisa diperpanjang jika panitianya menghendaki. Bermainnya pun harus tambahkan. Setiap hari Ki Subur main dua sesi: pukul 15.00 dan 18.00 mulai 11 Januari sampai 11 Februari 2017. Durasinya masing-masing dua jam.

Lakonnya apa? Ternyata Ki Subur mengambil cerita klasik Tiongkok yang pernah dipentaskan di Sidoarjo tahun lalu. Tentang 18 raja di Tiongkok yang memberontak karena tidak puas dengan maharani di pusat. Ki Subur menyebut judul lakon dalam bahasa Hokkian: Cap Pwee Lo Hoan Ong.

"Ceritanya panjaaaang dan seru. Kalau dibahas secara detail, dua bulan pun tidak akan selesai. Belum lagi bumbu-bumbu asmara, intrik, perselingkuhan dsb," ujar seniman yang dulu tinggal persis di pinggir sungai depan Kelenteng Sidoarjo itu. 

Dua tahun lalu, 2015, di tempat yang sama Mal Ciputra, Ki Subur menerima penghargaan Muri sebagai dalang wayang potehi yang menggelar pertunjukan terpanjang di Indonesia. Tahun ini rupanya panitia tidak berselera untuk memecahkan rekor sendiri. 

"Saya sih siap saja bermain lebih lama. Terserah pengusahanya saja," ujar pelestari kesenian Tionghoa itu. 

Haiya... haiya... haiya... ciamiiik soro!!!

Selamat Sincia semoga kita orang ada dikasih rejeki yang banyak, dikasih sehat, panjang umur!

23 January 2017

Saatnya Melancong ke Bali - Tiket Lagi Anjlok

Iseng-iseng saya cek Traveloka. Wow.. tiket pesawat rupanya lagi di titik bawah. Tiket penerbangan Juanda Surabaya ke Denpasar Bali cuma Rp 300 ribuan. Sangat miring dibandingkan saat Natal dan Tahun baru lalu yang di atas sejuta.

Saya rasa inilah tiket Juanda-Ngurah Rai termurah. Kayaknya tidak mungkin turun lagi ke IDR 200 ribuan. Lah.. wong selir Surabaya - Jakarta aja 200an.

Maka teman-teman yang ingin berlibur ke pulau dewata, sekaranglah saatnya. Jangan tunda sampai puasa atau lebaran karena tiketnya bisa naik tiga kali lipat. Tapi susah juga minta cuti di luar hari raya. 

Penginapan murah di Bali juga mudah dicari. Kalau cuma sekadar tidur, istirahat, tentu ada hotel yang tarifnya di bawah IDR 200k. Apalagi sekarang ada aplikasi yang menyediakan informasi kamar-kamar rumah yang bisa disewakan.

Yang jadi keluhan teman-teman biasanya soal transportasi. Sebab Bali tidak punya bus atau angkot yang melimpah. Pelancong seperti dipaksa untuk menggunakan taksi atau menyewa kendaraan. Ini yang mahal. 

"Paling enak itu sewa sepeda motor. Kita bisa keliling ke mana saja di seluruh Bali," kata teman yang rajin jalan-jalan ke Bali.

 Lebih enak lagi kalau kita punya teman yang mau meminjamkan motor atau mobilnya. Kalau tidak punya ya duit kita akan habis hanya untuk membayar taksi yang memang sangat mahal. Sebab orang Bali sering menggunakan standar bule yang pakai dolar atau euro.

22 January 2017

Donald Trump jadi inspirasi politisi tua

Naiknya Trump, 71 tahun, jadi presiden USA kayaknya bakal jadi inspirasi politisi tua di Indonesia. Para pensiunan jenderal, pengusaha kaya, pemilik media dsb seolah dapat angin segar dari negara kampiun demokrasi itu. Bahwa usia tua bukan halangan untuk jadi presiden. 

Delapan tahun lalu, ketika Obama jadi presiden USA, orang muda di seluruh dunia seakan dapat angin surga. Seakan era digital ini miliknya orang-orang yang berusia di bawah 50 tahun. Orang tua alias lansia dianggap gaptek. Sulit mengikuti dinamika generasi internet alias netizen.

Maka efek Obama pun terasa di Indonesia. Jokowi yang wajahnya rada mirip Obama pun akhirnya menang pilpres. Prabowo yang mewakili generasi tua, pensiunan jenderal, kalah. Bupati, wali kota, gubernur pun banyak yang di bawah 40 tahun. Bupati Momon di Bangkalan bahkan berusia 25 tahun saat dilantik. Terlepas dari Momon ini putranya mantan bupati Fuad Amin yang ingin bikin dinasti di Bangkalan.

Era media sosial makin kencang. Semua pihak menganggap orang-orang sepuh lebih cocok ngemong cucu, dengar keroncong campursari, atau mancing di tambak-tambak. Maka setelah Obama, kita menyangka muncul calon presiden yang lebih muda dari Obama. Atau seumuran lah.

Tapi apa yang terjadi? Hehe... Capres USA justru sama-sama tua: Donald Trump vs Hillary Clinton. Sama-sama konservatif. Beda jauh dengan generasi Obama. Lalu Trump yang menang. 

Seperti Obama sewindu lalu, saya yakin efek Trump pun akan menyebar ke mana-mana. Politisi tua, kakek nenek, melihat peluang besar untuk tampil di panggung kekuasaan. Prabowo, Wiranto, Surya Paloh, Megawati, SBY, Ical Bakrie, Hary Tanoe... sudah lama bersiap dengan partai masing-masing. Mereka juga punya media, khususnya televisi, untuk jualan kecap setiap hari.

Semalam saya lihat Surya Paloh bicara panjang lebar di televisinya. Tentang tekad Nasdem jadi pemenang pemilu. Ribuan kader Nasdem mengelukan polikus tua brewokan itu. Hebatnya brewok dan rambutnya Surya Paloh masih hitam dan lebat. Jamunya apa ya?

Resolusi tahun baru sering dilanggar

Tahun 2017 belum berusia satu bulan. Namun resolusi saya di awal tahun (kayak bule aja) sudah banyak yang dilanggar. Di antaranya, bersepeda lebih sering dan lebih jauh. 

Bukankah Januari Februari itu puncak musim hujan? Betul. Maka ada resolusi tambahan. Kalau hujan ganti dengan senam selama 30 menit. Toh gerak badan bisa dilakukan di mana dan kapan saja. (Gerak badan itu istilah orang-orang-orang tua di kampung saya untuk menyebut senam.)

Ternyata tidak butuh waktu lama untuk melanggar resolusi tahun ayam. Minggu pertama Januari sudah jarang sepedaan. Hujan. Kadang tidak hujan tapi kesiangan. Bersepeda yang baik harus start minimal pukul 05.00. Lewat 06.00 sudah gak asyik karena jalanan sudah padat.

Ahad pagi ini tidak hujan. Hawanya sejuk karena semalam hujan sangat lama. Maka tidak ada alasan untuk tidak sepedaan atau ikut senam bersama masyarakat di mana saja kita mau. Tapi saya sudah kadung keasyikan mengikuti wawancara dua pengamat di Metro TV tentang fenomena Presiden Trum yang bakal mengubah semua kebijakan ekonomi dan internasionalnya. 

Pengamat dari CSIS itu cukup menguasai persoalan. Obama dan Trump sebetulnya tidak jauh berbeda. Sama-sama mendulukan kepentingan USA. Indonesia jauh dari radar USA. Amerika bakal lebih fokus ke negara-negara besar macam Rusia atau Tiongkok. 

Lah... kalau dituruti bisa-bisa gak sepedaan lagi. Pukul 06.00 saya pun memutuskan nggowes ke Tambakoso Segorotambak Kalanganyar Buncitan dst. Gak ada urusan lagi dengan resolusi-resolusi-resolusian. Wong resolusi PBB aja gak digubris Israel, USA dan sekutunya, opo maneh cuma resolusi tahun baru enteng-entengan!

21 January 2017

Mencicipi kue keranjang Tante Tok di Sidoarjo

Sincia atau tahun baru Imlek sudah dekat. Kesempatan untuk mencicipi nian gao atau kue keranjang. Ke mana ya? Pilihannya tidak banyak. Sebab orang Tionghoa di Surabaya atau Sidoarjo sekarang tidak punya waktu untuk mengukus dodol cina itu.

"Cukup membeli di toko-toko. Ngapain capek-capek masak kue keranjang?" Begitu omongan klise Tionghoa Surabaya yang makmur. Orang kota mah sudah lama meninggalkan dapur.. kecuali pedagang makanan.

Syukurlah, saya punya beberapa kenalan Tionghoa yang masih melestarikan budaya leluhurnya. Kemarin saya mampir ke rumahnya Tante Tok di pecinan Sidoarjo. Agenda tahunan jelang sincia. Ibu yang Buddhis plus jemaat kelenteng ini memang salah satu dari sedikit ahli masak nian gao original.

"Resepnya langsung dari papa saya asal Hokkian," katanya dengan logat Jawa kental. 

Tante Tok dibantu tiga asisten, salah satunya Jawa, kerja keras di dapur. Hari itu menghabiskan 20 kg ketan. Bukan ketan lokal tapi impor Thailand. Ketan hasil pertanian di Jawa Timur sulit menghasilkan kue keranjang yang pas. Malah tidak jadi.

Saya perhatikan, dari dulu, Tok Swie Giok ini memasak kue keranjang dengan cinta yang besar. Ini membuat semangatnya selalu tinggi di usia kepala tujuh. Dari subuh sampai 23.00. Dia mulai masak sejak akhir Desember.

"Tiap tahun makin banyak yang pesan gara-gara kamu," ujar Tante Tok sambil tertawa.

Kok bisa? "Kamu yang memasukkan ke internet. Orang jadi tahu kalau saya bikin kue keranjang," ujarnya. 

Oh ya... cerita kue keranjang buatan Tante Tok memang saya muat di blog ini sejak beberapa tahun silam. Tante Tok pun kebanjiran pesanan... meskipun dari dulu pelanggannya sudah banyak. 

Maka, saya diminta mencicipi nian gao buatan kota udang Sidoarjo ini. "Wuenaak... maknyusss," kata saya. Gimana tidak enak (manis), kue khas Tiongkok ini pakai banyak gula. 

Selamat bikin kue keranjang! Semoga Tante Tok selalu hoki di tahun ayam!

Wisata Ngadem di Pacet Mojokerto

Orang Surabaya dari dulu senang ngadem di pegunungan. Mulai dari Trawas, Tretes, Pacet, Batu, Malang. Malang Batu sudah terlalu kota, kaya polusi, macet di beberapa titik. Apalagi dulu jalur Porong macet parah karena lumpur Lapindo. 

Tretes bagus tapi padat banget di depan Hotel Surya. Jalan yang sudah sempit ditempati PKL di kanan kiri. Gak asyik.

Makelar-makelar vila di Tretes juga main hantam kromo aja. Dikira semua laki-laki yang pesiar ke Tretes itu cari cewek nakal atau tukang pijat. Imejnya Tretes memang kurang elok. 

Trawas lebih aman dan asyik. Tapi vila-vila makin banyak. Ada hotel, tempat retret atau rekoleksi gereja, bahkan bukit doa. Umat Katolik di Surabaya yang punya kegiatan besar dan masal biasanya ke Sasana Krida milik Keuskupan Surabaya di Desa Jatijejer Trawas.

Saya sendiri penggemar wisata ngadem di Jolotundo, Desa Seloliman Kecamatan Trawas. Ada petirtaan suci, puluhan situs candi, dan pusat pendidikan lingkungan hidup alias PPLH. Di sini kita bisa belajar bercakap English karena selalu ada rombongan bule.

Kawasan Pacet juga jadi pilihan untuk mendinginkan badan dan otak. Sudah lima tahun saya tidak ke Pacet. Dinginnya sama dengan Tretes dan Trawas. Suasananya masih lebih desa dengan sawah yang luas. Tanaman hijau jadi pemandangan yang asyik.

Beda dengan Tretes yang nyaris tanpa spasi karena vila-vila berdempetan. Pun tidak ada makelar-makelar macam di Tretes.

 Tapi saya lihat pekan lalu Pacet ini juga pelan-pelan mengadah ke Trawas. Banyak tanah dibangun vila. "Sebagian besar sudah dikapling," ujar tukang kembang yang punya lapak jagung bakar di atas kolam air panas. 

Mungkin tidak sampai 10 tahun lagu sawah yang luas itu sudah berubah jadi vila merah - warna khas vila-vila di Pacet. Jualan kamar atau penginapan rupanya lebih asyik dan untung ketimbang jadi petani. 

Yang bikin ganjal di hati itu retribusi di tempat wisata air panas terlalu mahal. Masuk pintu bayar Rp 15 ribu. Masuk kolam renang + kolam air panas bayar lagi Rp 10 ribu. Belok ke air terjun bayar lagi. Dan seterusnya. 

"Makanya jarang ada penduduk sini yang rekreasi ke air panas," kata mas penjual jagung bakar yang asli Desa Padusan Kecamatan Pacet. 

Geli melihat spanduk MARRY CRISTMAS

Lima tahun lebih saya tidak mampir ke permandian air panas di Pacet Mojokerto. Maka kesempatan piknik bersama teman-teman sekantor saya manfaatkan untuk menengok tempat rekreasi keluarga itu.

Aha... masih ada spanduk selamat Natal dan Tahun Baru di dekat pintu gerbang utama. Ditulis pakai bahasa Inggris. MARRY CRISTMAS....

Matur nuwun. Di tengah fatwa haram mengucapkan selamat natal baik lisan maupun tulisan, ternyata pengelola tempat rekreasi terkenal itu masih kasih kita selamat. 

Sayang, ejaan atau penulisan dua kata English itu tidak tepat. Seharusnya MERRY CHRISTMAS... Bukan seperti di spanduk itu. 

Tapi tidak apa-apa lah. Semangat untuk berbahasa global dari pengelola tempat wisata air panas di Pacet layak dipuji. Semoga tahun depan tidak salah ketik ya! Mengapa harus pakai bahasa Inggris? Bahasa Indonesia atau bahasa Jawa justru lebih aman! 

Lah, wong nasrani di Jawa itu aslinya lebih suka sembahyang misa pakai bahasa Jawa. 

Lukas 2 : 13
Dumadakan banjur ana balatantra swarga kang akeh banget cacahe, kang mbarengi malaekat mau sarta padha memuji marang Gusti Allah, sabdane:


"Kamulyakna Gusti Allah kang ana ing ngaluhur lan tentrem-rahayu anaa ing bumi, ing antarane manungsa kang dadi renaning panggalihe."

20 January 2017

Dagang musik yang mati suri

Tulisan Yockie Suryo Prayogo di status FB-nya singkat tapi menghentak. Komposer kawakan, eks personel Godbless, ini bilang jangan dagang musik kalau ingin cepat kaya.

Sudah lama JSOP (inisial populer Yockie) mengeluhkan industri musik pop yang karut marut. Bisnis kaset CD VCD dsb sudah lama mati suri. Banyak perusahaan rekaman bangkrut dimakan Youtube dan aplikasi musik di internet. Lagu-lagu bisa diunduh gratis tististis.

Hari gini kita bisa mendengaf musik apa saja, kapan saja, di mana saja. Siapa pun bisa mengakses musik di internet. Sayang, komposer, penyanyi, musisi, pekerja di studio rekamanan tak dapat apa-apa dari Youtube.

"Penghasilan musisi jadi tidak menentu. Tiap hari cuma menunggu job," kata musisi lain yang juga pernah kondang.

Maka tidak heran kalau banyak musisi yang pindah ke jalur politik. Sebut saja Pasha Ungu jadi wakil wali kota. Ahmad Dhani jadi politisi. Kini pentolan band Dewa itu lagi kampanye untuk jadi wakil wali kota. Deddy Dores juga pernah mencalonkan diri jadi wali kota... sebelum meninggal.

Industri musik memang berubah drastis, revolusioner, di era digital, media sosial, internet. Pemain-pemain lama bertumbangan. Saya dengan beberapa juragan kaset era 80an dan 90an stroke di rumah.

"Kita harus menghadapi kenyataan ini," ujar putra mantan juragan kelas kakap yang dulu banyak mencetak penyanyi-penyanyi top.

Industri musik gaya lama memang mati. Dagang musik tak lagi menghasilkan. Dagang lombok saat ini pasti jauh lebih menghasilkan ketimbang jualan lagu-lagu pop. Lah, wong sudah ada di Youtube semua. Beda dengan lombok yang cuma ada gambarnya di internet.

Mungkin ini zaman transisi dari bisnis musik gaya lama ke gaya baru. Perusahaan rekaman boleh saja bangkrut tapi musik pop niscaya selalu ada dari masa ke masa. Dengan cara yang baru sesuai zamannya. Kerupuk lama yang melempem pasti diganti kerupuk baru yang hangat dan gurih.

PMKRI vs FPI buat apa?



Tidak banyak orang yang kenal PMKRI: Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia. Bahkan umat kristiani, yang bukan aktivis gereja, pun kurang tahu. Sebab PMKRI merupakan kelompok kategorial yang dominan bergerak di luar paroki. Beda dengan Legio Maria, OMK (dulu mudika), misdinar, Santa Ana, dsb.

Nah, belakangan ini nama PMKRI muncul di media massa gara-gara melaporkan Rizieq, ketua FPI, ke polisi. Angelo, ketua PMKRI asal Flores itu, tersinggung dengan ceramah Rizieq yang membahas kelahiran Yesus. "Bidannya siapa?" ujar Rizieq.

Sebetulnya Angelo dan anak-anak PMKRI tidak perlu tersinggung. Ucapan Rizieq itu mah sudah jamak kita dengar. Karena ajaran agama memang berbeda-beda. Rizieq menggunakan doktrin agamanya untuk menilai agama orang lain.

Mungkin Angelo yang kampung asalnya mayoritas Katolik belum pernah dengar ceramah-ceramah macam ini. Begitu juga anak-anak Flores lain yang aktif di PMKRI. Makanya, saya sempat bicara dengan Stanley ketua PMKRI Surabaya, yang juga asli Flores, untuk tidak ikut-ikutan ngurusin FPI dan Rizieq.

"Sudahlah, omongan Rizieq itu tidak usah digubris. Energi kalian habis kalau meladeni FPI. Lebih baik kalian fokus pada tiga benang merah PMKRI," ujar saya sedikit menggurui.

Jelek-jelek begini, saya juga mantan PMKRI sehingga paham tiga benang merah, pro ecclesia et patria, religium omniarium.. hingga himne PMKRI Bhayangkara Gereja dan Nusa. Bahkan mungkin saya yang (dulu) paling menguasai himne yang memang punya kesulitan tinggi itu.

Saya minta Stanley dkk di PMKRI Surabaya fokus pada agenda yang sudah dibuat. Termasuk menggairahkan kembali mahasiswa. Kaderisasi anggota yang makin sulit. Hingga gerakan mahasiswa pascareformasi yang makin kompleks. "Terlalu kecil kalau PMKRI ngurusin FPI," kataku.

Rupanya aksi PMKRI melaporkan Rizieq ke polisi menjadi inspirasi bagi orang atau kelompok lain untuk melakukan hal serupa. Kalau tidak salah sudah ada lima atau enam laporan. Termasuk laporan dari Sukmawati karena Rizieq dianggap menghina Pancasila.

Ada juga laporan dari hansip tua karena korpsnya dinistakan. Makin ramai aja! Lumayan, Rizieq dan anak buahnya jadi lebih sering datang ke kantor polisi. Waktu untuk unjuk rasa dan razia tempat-tempat yang dianggap maksiat tentu jadi berkurang.

Kembali ke PMKRI. Kemarin saya baca di internet, Angelo dkk mengadakan seminar di margasiswa PMKRI pusat di Menteng Jakarta. Ini bagus karena cocok dengan salah satu benang merah. Kajian-kajian sosial politik ekonomi budaya agama dsb jauh lebih produktif ketimbang debat kusir dengan FPI.

Apologi itu tidak ada gunanya.

Imlek dirayakan, Natal dimusuhi

Seperti dugaan saya, suasana menjelang tahun baru Imlek, 28 Januari 2017, tenang-tenang aja. Aksesoris lampion dan aneka hiasan berwarna merah terlihat di pusat perbelanjaan. Baju-baju Tionghoa juga dijual (dan dibeli) di mana-mana.

Ini jauh berbeda dengan bulan Desember jelang Natal. Setiap tahun MUI bikin fatwa yang ada kaitan dengan natalan. Termasuk menggaungkan lagi fatwa lama tentang haram hukumnya mengucapkan selamat Natal.

Saya belum pernah dengar ada fatwa haram selamat tahun baru Imlek.. gongxi facai dsb. Juga larangan menggunakan pakaian menyerupai orang Tionghoa yang merayakan tahun barunya.

FPI pun masih sibuk mengawal kasus Ahok di Jakarta. Apalagi ketuanya dilapor oleh sejumlah pihak karena dianggap menista Pancasila dsb.

Hem... suasana di Indonesia memang sudah berubah. Kalau dulu segala sesuatu yang berbau Tionghoa dilarang, kini dirayakan secara bebas. Sebagian besar mahasiswa yang dikirim Andre Su ke Tiongkok dan Taiwan justru kebanyakan santri-santri.

"Carilah ilmu hingga ke negeri China," ujar Andre, teman saya yang Buddhis, ketika memperkenalkan pendidikan Tiongkok di sekolah-sekolah muslim di seluruh Indonesia.

Begitulah. Ketika budaya Tionghoa makin diapresiasi, bahkan kalangan Matakin dengan tegas menganggap tahun baru Imlek sebagai hari raya agama Konghucu, Natal dan Tahun Baru justru makin dimusuhi di negeri ini. Jadi bahan perdebatan panas di media massa dan media sosial.

Mungkin suatu ketika Natal dan Tahun Baru dilarang di negeri ini. Itu kalau FPI atau HTI dan sejenisnya yang menang pemilu.

19 January 2017

Terima Kasih Blackberry! Sayonara...

Blackberry (BBM) sudah kedaluwarsa. Ibarat wanita tua yang sudah tak dilirik kaum adam. Maka ponsel khusus BBM yang dulu harus antre untuk membeli dipensiunkan. Disimpan buat kenang-kenangan. Siapa tahu suatu saag jadi barang antik yang mahal.

Ponsel BBM saya resmi pensiun pada Desember 2016. Ini karena operator seluler langganan lawas itu tidak lagi melayani BBM. Apa boleh buat, saya harus mengistirahatkan ponsel hitam antik itu.

Grup-grup BBM sebelumnya sudah lama tutup. Grup untuk kerjaan di kantor pun tutup karena dianggap tidak efektif. Pakai WA aja. Soalnya BBM itu boros data, kata teman yang paham IT.

Bagi saya, ponsel khusus Blackberry ini punya arti yang khusus. Lewat HP itulah saya mulai belajar mengetik pakai dua jempol. Awalnya lambat tapi makin lama makin cepat. Makin mendekati kecepatan mengetik di laptop atau komputer biasa.

Sejak itulah saya mulai keasyikan dengan Blackberry dan mulai meninggalkan laptop. Laptop benar-benar jarang dipakai. Tapi untuk pekerjaan yang rumit dan makan waktu memang harus pakai laptop atau desktop (komputer biasa).

Teknologi ponsel rupanya berganti begitu cepat. Smartphone dan tablet berbasis android yang kita pakai sekarang pun sudah bukan lagi gadis remaja SMA tapi sudah lulus kuliah S1 dan S2. Di bawahnya sudah muncul gadis-gadis belasan tahun yang centil dan menggoda.

Lama-lama kita capek sendiri memburu gadis-gadis muda... eh HP anyar, yang fiturnya makin canggih dan buanyaak. Berbahagialah orang-orang di pelosok yang tak terjangkau sinyal seluler! Bisa hidup ayem tentrem terganggu rayuan produsen HP anyar.

Pidato menteri dibatasi 7 menit

Presiden Jokowi bikin kebijakan yang bagus untuk urusan pidato. Ia membatasi pidato menteri paling lama 7 menit. Tentu pejabat-pejabat lain juga perlu menyesuaikan. Ini bukan sekadar imbauan tapi ada semacam surat keputusan resminya.

Saya yang kurang suka pidato-pidato-pidato panjang (kecuali Bung Karno dan Gus Dur) sangat setuju gebrakan kecil Jokowi ini. Sebab banyak sekali pidato atau sambutan atau pengarahan dsb yang tidak berisi. Cuma omongan basa-basi aja.

Yang justru enak dikutip itu ketika sang pejabat bicara spontan. Tidak membaca teks yang biasanya disusun orang lain. Isinya klise, banyak jargon, tidak konkret. Sulit dijadikan berita. Makanya wartawan-wartawan biasanya tidak puas. Harus wawancara lagi agar pernyataan si pejabat lebih nendang.

Pidato di Indonesia sering bertele-tele karena salam dan pembukaannya terlalu panjang. Bagian isi malah tidak jelas. Data dan informasinya sangat kurang. Beda dengan pidato Bung Karno yang ditulis sendiri dan dirancang layaknya materi kuliah umum. Tapi ya tetap saja membosankan kalau sang proklamator ini berpidato pada 2017.

Sebelum ada kebijakan pidato maksimal 7 menit dari Presiden Jokowi, sebetulnya sudah ada menteri yang pidato-pidatonya selalu singkat dan enak. Siapakah dia? Dahlan Iskan.

Ketika masih jadi menteri BUMN, Pak Dahlan bahkan sering pidato singkat sesingkat-singkatnya. Mungkin tidak sampai 3 menit. Salam dan doa-doa pembukaannya pun tidak lama.

Suatu ketika Pak Dahlan yang menteri BUMN dan Menteri Pendidikan M Nuh membuka sebuah acara di Surabaya. Setelah sambutan ketua panitia, giliran Menteri Nuh pidato. Cukup panjang dan detail. Bicara tentang kualitas manusia dsb dsb.

Lalu giliran Pak Dahlan. Setelah assalamualaikum dsb, menteri BUMN ini berkata, "Pidato saya sama persis dengan Pak Nuh. Apa yang ingin saya sampaikan sudah disampaikan oleh Pak Nuh. Maka sekian saja pidato saya. Assalamualaikum...."

Ribuan masyarakat di Taman Surya bertepuk tangan dan tertawa riuh. Bukan main Pak Dahlan! Selalu punya ide dan action yang tidak terduga.

Kunjungan PM Jepang yang dingin

Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe baru saja berkunjung ke Indonesia. Tak ada berita besar di media massa. Bahkan banyak koran yang tidak memuat berita atau foto lawatan orang penting dari negeri sakura itu.

Media kita lebih suka membahas harga lombok yang naik selangit. Atau kasus Ahok. Aksi-aksi FPI. Atau penangkap pelaku judi kelas teri di kampung-kampung. Jepang sudah tak penting?

Yang pasti, suasananya berbeda jauh dengan era 70an dan 80an yang masih alergi Jepang. Khususnya investasinya yang gila-gilaan. Bahkan sempat ada peristiwa Malari 74 ketika ribuan mahasiswa memprotes kunjungan PM Jepang. 

Disambut meriah atau tidak, PM Abe dan rombongan pasti senang bukan main melihat jalanan di Indonesia yang penuh dengan mobil dan motor made in Japan. Honda Yamaha Suzuki Toyota Daihatsu Nissan....

Mungkin PM Abe tak menyangka kendaraan buatan Jepang ternyata jauh lebih banyak ketimbang di negara asalnya. Saking berlimpahnya produksi, saat ini uang muka motor hampir tidak ada alias nol. Bisa dibayangkan 20 tahun lagi jalanan di tanah air seperti apa kalau kepemilikan kendaraan pribadi dibebaskan sebebas-bebasnya seperti sekarang.

Indonesia punya hubungan sejarah yang pahit dengan Belanda dan Jepang. Setelah merdeka, kita praktis memutus ikatan dengan negara bekas penjajah itu. Hubungan dengan Jepang tinggal urusan dagang semata. Dengan Belanda hampir tidak ada kecuali segelintir indo-indo yang merasa punya hubungan darah.

Beda banget dengan Malaysia misalnya yang memberi penghormatan istimewa kepada perdana menteri atau ratu atau pangeran Inggris yang berkunjung. Di Indonesia, kunjungan kepala negara/pemerintahan Jepang dan Belanda tak beda dengan Timor Leste atau Kamboja atau Filipina. 

18 January 2017

John Seme penyanyi top NTT



Tidak banyak penyanyi asal NTT yang mencuat di belantika musik pop nasional. Kalaupun ada bisa dihitung dengan jari. Dulu ada Obbie Messakh dan Ingrid Fernandez. Sekarang? Sepertinya tidak ada. Atau mungkin saya yang ketinggalan informasi tentang industri musik. 

Belum lama ini saya kebetulan mendengar suara JOHN SEME di ruang tunggu Bandara Juanda. Suaranya khas, melankolis, merdu dan bersih. Sedikit mirip Obbie Messakh yang sama-sama asli Rote, pulau kecil paling selatan NTT. Keduanya juga sama-sama pintar bikin lagu-lagu manis melankolis.

Bedanya, kalau Obbie ada suara sengau dan sedikit fals, John Seme ini merdu banget. Cocok dengan selera musik orang NTT yang memang suka lagu-lagu slow dan manis. 

Nah, lagu Langit Masih Biru John Seme mengingatkan saya pada bumi NTT, tempat kelahiran saya. "Enak sekali Bung," ujar seorang laki-laki menjawab pertanyaan saya mengapa dia begitu menikmati John Seme.

Padahal lagu LANGIT MASIH BIRU ini dirilis JK Records Jakarta pada 1993. Sudah lama sekali. Tapi masih disimpan di HP dan dinikmati sambil menunggu pesawat ke Kupang yang delayed cukup lama. "Orang kita memang cocok dengan lagu-lagu Obbie Messakh, Pance, John Seme," kata bung Thomas. 

Dia heran mengapa lagu-lagu koplo sangat digandrungi di Jawa, khususnya Jatim. Padahal musiknya kurang harmonis dan lebih memojokkan goyang erotis. "Beda selera Bung. Sebaliknya orang Jawa juga heran mengapa hari gini Bung masih putar John Seme. Hehe..," kata saya.

John Seme boleh dikata tidak dikenal di Jawa meskipun kaset-kasetnya dirilis JK Records yang waktu itu masih ngetop. Tapi di NTT bung John ini penyanyi top yang awet sampai sekarang. Selain pop manis, dia bikin rekaman lagu rohani  (gospel) dan lagu-lagu daerah NTT, khususnya Rote.

John Seme sempat kolaborasi dengan Obbie Messakh dan Deddy Dores, sesama penyanyi dan komposer sealiran. Ini juga sangat digemari orang NTT karena liriknya pakai bahasa Melayu Kupang. 

Syukurlah, di era internet ini rekaman-rekaman lama John Seme tersimpan di Youtube. Maka saya pun bisa menikmati lagu pop lawas itu. Sambil nyeruput kopi pahit sedikit gula!

LANGIT MASIH BIRU
Vokal: John Seme

Jangan buang air gula 
kalau memang kau tak suka 
Jangan buang air mata 
Hanya karena putus cinta 

Laut masih biru 
Langit masih tinggi 
Masih ada aku
Yang ada di sini

Janganlah kau simpan suka
Kenangan boleh kau simpan
Jangan lagi kau sesalkan
Cintamu yang kini hilang
Laut masih biru....

Jangan biarkan 
Yang lalu biarlah berlalu 
Jangan biarkan
Duka hatimu
Kini ku datang 
membawa cinta untukmu

Cintaku bukan cinta palsu
Cintaku hanyalah untukmu 

17 January 2017

Cabai rawit jadi isu politik

Cabai rawit jadi isu panas di Indonesia sekarang ini. Gara-gara cabai (lebih lazim ditulis CABE), ada mahasiswa yang meminta Jokowi dilengserkan karena dianggap tidak mampu mengendalikan harga cabai dan kebutuhan lainnnya.

Saya sendiri tidak suka cabai. Sambal yang pedas membuat perut saya mules. Karena itu, saya sih cuek aja ketika cabai (bahasa Lamaholot: SILI atau chili) melonjak tajam. Setiap hari ada berita di televisi, internet, radio, surat kabar tentang harga cabai yang di atas Rp 100 ribu.

Wow... mahal banget si cabai!

Solusinya apa? Tentu menggerojok cabai ke pasar. Tapi cabai bukan beras atau gula yang bisa disimpan berbulan-berbulan-bulan di gudang. Orang Indonesia, khususnya Jawa, membutuhkan cabai segar. Beda dengan sebagian orang NTT yang lebih suka cabai tepung kering.

Impor cabai juga belum tentu menjawab persoalan cabai. Menanam cabai pun butuh waktu lama. Sementara setiap menit orang butuh cabai untuk sambal atau bumbu masak.

Saya punya pengalaman pahit menanam cabai rawit dan cabai lain ketika mahasiswa. Sekaligus praktek lapangan budidaya pertanian. Harga cabai saat itu memang lagi bagus-bagusnya. Di atas kertas bisa dapat untung 200 persen.

Apa yang terjadi? Rupanya dalam waktu bersamaan banyak orang punya pikiran serupa: menyewa tanah untuk menanam cabai. Maka hasilnya sudah bisa ditebak. Panen sangat melimpah sehingga harga cabai hancur berantakan.

Boro-boro untung, balik modal saja tidak. Utang pun sulit dibayar. "Cabai itu memang pedes," kata teman saya Mas Budi yang modalnya paling banyak.

Sejak itu saya malas bicara cabai rawit, cabai hijau dsb. Selera makan cabai makin hilang meskipun saya hidup di tengah masyarakat yang doyan sambal pedes.

Di televisi, beberapa menit lalu, ada pengamat yang meminta masyarakat ramai-ramai menanam cabai. Kalau cuma menanam di lahan samping rumah yang sempit sih gak masalah. Tapi kalau menyewa sawah yang agak luas kayak saya dan teman-teman dulu ya... monggo mawon.

16 January 2017

Di radio warga marah dan ngamuk



Beda banget isi siaran radio sekarang dan dulu. Apalagi bagi kita yang sejak kecil aktif mendengarkan radio-radio swasta di kota. Sekarang ini radio-radio berlomba menyiarkan komentar dan pendapat masyarakat yang kritis, tajam, emosional. Kata-kata saru pun sering on air tanpa sensor.

Dulu saya tinggal di tengah Kota Malang. Ada tiga stasiun radio terkenal yang biasa saya datangi: Senaputra, TT 77, dan Immanuel. Ketiga radio Ngalam ini punya segmen pendengar berbeda. Corak musik, gaya penyiar, sound berbeda. Tapi semuanya sama-sama menyajikan hiburan yang memanjakan telinga. 

Radio Senaputra terkenal karena bung Ovan Tobing sangat piawai mengawal program musik rock, metal. Saat itu tidak ada internet. Majalah pun terbatas. Maka Senaputra jadi rujukan utama musik rock di Malang dan sekitarnya. 

Radio TT 77 lain dari lain. Musiknya dominan jazz dan blues. Lagu pop Indonesia pun cenderung ngejes macam Dian Permana Putra, Ermy Kullit, Karimata, Krakatau... Jangan harap ada lagu pop manis ala Dian Piesesha, Betharia Sonata, atau Tommy J Pisa diputar di radio yang berlokasi di samping sekolahan Santu Yusuf ini.

Radio Immanuel lebih ringan dan ngepop. Lagu-lagu Dian Piesesha, Obbie Messakh, Nike Ardilla, Nicky Astria dan sejenisnya punya tempat besar di Immanuel. Tiap akhir pekan ada tangga lagu pop macam ini. Betharia Sonata, Vina Panduwinata, sering jadi favorit. Tak lupa kirim lagu kirim salam....

Mendengar radio-radio lokal sambil membaca buku.. asyik banget. Apalagi sering ada lawakan ala Kartolo, Wono Kairun, hingga guyonan BOM di Radio KDS 8. Kita dibikin ketawa sendiri. 

Pagi ini saya putar beberapa radio di Surabaya. Isinya sebagian besar kritik masyarakat tentang apa saja. Saat menulis catatan ini Pak F lagi bahas jalan raya Surabaya-Gresik. 'Tiap hari saya menderita saat lewat di sana,' katanya. 

Ada lagi warga Taman Pinang Sidoarjo yang marah-marah karena perumahannya sering dipadati pedagang kaki lima. Dia heran pemerintah daerah cenderung membiarkan ratusan PKL berjualan di situ. 

Ada pula pengendara mobil yang melapor kemacetan di Aloha Gedangan. Banjir di beberapa kawasan. Tak ketinggalan bicara tentang unjuk rasa FPI, kasus Ahok, lombok mahal, dsb. 

Alunan musik yang membelai telinga makin jarang terdengar. Musik tidak lagi jadi menu utama tapi selingan. Yang dijual justru traffic report dan laporan para pendengar. Untunglah, sekarang ada Youtube yang menyediakan jutaan lagu.

Mungkin iklim demokrasi membuat rakyat berlomba-lomba mengkritik pemerintah, marah, maki-maki siapa saja. Beda dengan zaman Orde Baru yang tidak demokratis. Rakyat takut mengkritik penguasa, tidak berani membahas jalan rusak, banjir dsb. Rakyat dulu lebih suka menikmati musik, ludruk, atau sandiwara radio Mak Lampir atau Saur Sepuh.

Dulu ada lagu yang sangat ngetop:

''Di radio... aku dengar
lagu kesayanganmu
Kututupi telingaku
Dengan dua tanganku...''

Gelandangan tidur pulas di emperan

Setiap malam pria 40an tahun ini tidur di emperan bekas showroom Nissan di Sidoarjo. Nyenyak banget. Pagi tadi saya coba bangunkan... gak mempan.

Semalam hujan deras. Cuaca jauh lebih sejuk dari biasanya. Ini membuat orang itu makin menikmati tidurnya. 'Saya suka blusukan ke mana-mana,' ujar lelaki yang tidak mau menyebutkan namanya itu.

Dia bilang bisa tidur di mana saja. Emperan bangunan kosong cukup banyak. Peseban alun-alun luas dan bersih. Bisa hi-wifi pula. Kadang tidur di masjid. 'Saya cuma cari ketenangan. Di rumah saya justru tidak bisa tidur,' katanya.

Kita yang 'normal' sering merasa aneh melihat Pak X yang menggelandang ini. Mengapa tidak tidur di rumah? Kalau tidak punya gubuk, di Sidoarjo ada liponsos untuk menampung para tunawisma, pengemis dsb?

Orang ini pernah dicokok satpol PP dan dimasukkan ke liponsos. Tapi dasar pengelana, dia kembali ke jalanan. Tidur malam di emperan bekas showroom yang belum laku itu.

Malam sebelumnya, saya menikmati malam di sebuah vila mewah di kawasan Pacet Mojokerto. Udara sejuk, bersih, dengan sawah-sawah hijau di sekelilingnya. Sayang, malam itu saya sangat sulit tidur. Bagun pagi, jalan kaki ke permandian air panas, rasanya badan gak enak blass...

Begitulah. Ternyata vila bagus, hotel berbintang yang mahal... tak menjamin lelapnya tidur.

Rekor tidur siang lelap saya yang panjang, pukul 13.00 sampai 19.00, justru terjadi di sebuah gubuk bambu sederhana di kawasan Jolotundo Trawas. Ah... namanya aja wong kampung!

15 January 2017

Kue Keranjang Khas Sidoarjo

Suatu pagi, 12 Februari 2010, saya mampir ke kediaman merangkap toko milik Tok Swie Giok di Jalan Raden Patah 19. Kawasan pecinan di Kota Sidoarjo. Mumpung mau Sin Cia, tahun baru Imlek, siapa tahu Tante Giok sedang bikin nian gao alias kue keranjang.

Sebelumnya, tante berusia 69 tahun ini saya kenal saat jalan sehat HUT Sidoarjo, Minggu 31 Januari 2010. Tante Giok sudah sepuh, tapi selalu semangat. Senyumnya manis, ramah, gampang akrab dengan orang baru macam saya. Dia terlibat aktif dalam paguyuban lansia sekaligus main liang-liong, kesenian tradisional Tionghoa.

Benar saja. Ketika saya tiba di rumah, Tante Tok Swie Giok sedang asyik di belakang. Sibuk menyiapkan kue ranjang alias nian gao tadi. Kue khas Imlek ini bahannya sangat sederhana: tepung ketan dan gula putih. Dibuat adonan, kemudian dikukus hingga empat jam lebih. "Ini semua baru diangkat," kata Tante Giok sambil tersenyum.

Ditemani dua tante yang lain, Tok Swie Lan dan Tan Sie Ing, semuanya orang Sidoarjo, Tante Giok asyik memindahkan nian gao dari oven ke dalam kemasan kertas berwarna merah. Kue-kue ini mirip dodol di Jawa. Manis, legit, ditanggung halal.

"Tahun ini saya tidak bikin kue keranjang dalam jumlah besar. Hanya sekadarnya untuk dinikmati sendiri setelah sembahyangan Sin Cia," kata Tok Swie Giok yang lahir pada 10 Oktober 1940 itu.

Sudah 20 tahun ini Tante Tok menekuni usaha kue ranjang. Namun, karena kondisi kesehatan kurang baik, menjelang Tahun Macan ini Tante Giok tidak produksi seperti biasanya. Belum lagi ada pertimbangan khusus menurut hitung-hitungan tradisional Tionghoa. "Kurang tepat kalau sekarang saya harus bikin banyak-banyak," katanya.

Namun, rupanya, diam-diam Njoo Tiong Hoo, rohaniwan dan pemimpin Vihara Dharma Bhakti "membocorkan" kepiawaian Tante Giok kepada wartawan. Maka, Tok Swie Giok pun ditulis besar-besar di koran Jawa Pos edisi 11 Februari 2010. Setelah masuk koran, banyak orang datang untuk memesan nian gao.

"Saya sampai kewalahan. Makanya, tolong saya jangan dimasukin koran lagi. Susah aku!" pinta Tante Giok.

Saya hanya ketawa-ketawa saja. "Masuk koran kan bagus, Tante! Orang jadi lebih mengenal tradisi dan budaya Tionghoa, termasuk kue ranjang. Ibu ikut berjasa melestarikan budaya Tionghoa," ujar saya mirip juru penerang era Orde Baru. Selanjutnya, obrolan kami pun mengalir lancar. Mas Tik alias Tan Tek Swee menjamu saya dengan teh botol manis.

Sebagai orang Tionghoa, apalagi tinggal di pecinan, Tante Giok tak asing lagi dengan kue ranjang. Apalagi, sang ayah, Tok Ie Siek (almarhum), dulu dikenal sebagai jagoan pembuat kue ranjang. Orang-orang Tionghoa di Sidoarjo dan sekitarnya, termasuk Surabaya, banyak yang pesan nian gao padanya. Bakat itu kemudian menurun pada Tante Giok, yang dulu sekolah di Sin Hwa High School Surabaya.

Dilihat sepintas, cara membuat kue ranjang ini sangat gampang dan sederhana. Namun, berdasar pengalaman Tante Giok selama 20 tahun terakhir, faktanya tidak sesederhana itu. Karena kue ranjang ini dipakai untuk persembahan saat Sin Cia, maka bisa disebut kue suci. Si Pembuatnya pun harus bikin dalam keadaan suci. Hati bersih.

"Kalau tidak, kuenya nggak akan jadi," kata Tante Giok. "Saya berkali-kali mengalami hal itu. Sudah menunggu beberapa jam, eh, kuenya nggak jadi."

Selain melayani pesanan orang, Tante Giok setiap tahun sengaja menyediakan nian gao untuk warga tidak mampu. Jangan lupa, tidak semua orang Tionghoa itu kaya-raya, punya uang berjibun. Tak sedikit keluarga Tionghoa yang miskin alias prasejahtera. Mereka-mereka ini umumnya lebih rajin sembahyang saat Sin Cia untuk meminta berkat dan rezeki dari Sang Pencipta Alam Raya. Namun, karena tak punya uang, mereka kesulitan memiliki kue ranjang.

"Jadi, saya selalu sisihkan kue ranjang untuk orang yang tidak mampu. Saya sudah tahu siapa-siapa saja yang membutuhkan karena tiap tahun selalu begitu," kata Tante Giok.

Tak terasa, sudah hampir satu jam saya cangkrukan di rumah Tante Tok, markas pembuatan nian gao di Sidoarjo. Saya pun minta diri. Tante Giok kemudian menyerahkan dua keping kue ranjang sebagai oleh-oleh.

"Silakan dinikmati," kata tante yang murah hati ini.

Kamsia! Gong xi fa cai!

Kata ABSEN yang salah kaprah

''Sudah absen belum?''

''Kalau gak absen, uang makannya dipotong lho!''

''X gak pernah absen. Makanya uang makannya gak ada!''

Begitu kata-kata yang hampir tiap hari kita dengar di lingkungan buruh, karyawan, PNS, bahkan anggota parlemen di pusat dan daerah. Begitu masuk kantor harus memasukkan sidik jari ke kotak elektronik kecil itu.

''Wartawan-wartawan dulu tidak pernah mengisi buku daftar hadir dan sejenisnya. Yang penting kita bikin berita banyak dan bagus. Percuma Anda rajin ngisi daftar hadir kalau beritamu cuma satu atau dua dan jelek semua,'' kata wartawan senior Peter Rohi.

Era Peter Rohi yang berjaya pada 70an dan 80an sudah lama berlalu. Reporter-reporter sekarang tidak bisa bebas blusukan kayak jurnalis lawas. Bung Peter yang bikin banyak koran itu sering meninggalkan newsroom berminggu-minggu. ''Tapi beta selalu setor berita HL halaman depan. Beta tidak akan setor berita yang ecek-ecek,'' ujar bung asal Pulau Sabu NTT itu.

Berita ecek-ecek itu kayak apa? Bung Peter tertawa kecil lalu menunjuk beberapa berita di koran lokal. Seperti bupati meresmikan projek A, senam bersama ibu-ibu, komunitas anggrek, judi togel dsb. ''Siapa yang baca berita ecek-ecek? Itu yang bikin koran tidak laku.''

Lalu? ''Bikinlah berita-berita investigasi. Investigative reporting. Ungkap kasus-kasus besar yang merugikan rakyat kecil. Kongkalikong pejabat dan pengusaha. Indepth reporting... Kalau cuma ecek-ecek ya cukup baca media sosial atau online,'' ujar Peter Rohi dengan gaya meledak-ledak.

Eitt... sudah melantur jauh.

Saya sebetulnya hanya ingin membahas kata ABSEN yang sering salah kaprah. Termasuk di kalangan karyawan yang semuanya lulusan strata satu. Di KBBI (kamus besar bahasa Indonesia), seperti aslinya dalam English, ABSEN artinya tidak hadir. Mangkir.

Dulu di SD saya ingat tiga macam absen di kampung: SIA = sakit, izin, alpa. Sakit dan izin biasanya ada pemberitahuan kepada guru kelas. Alpa berarti tidak masuk tanpa menyampaikan alasan.

Lah.. kok ABSEN yang artinya tidak hadir jadi terbalik-balik di Indonesia? ABSEN dianggap sinonim dengan hadir. Dus, rajin absen artinya rajin mengisi daftar hadir elektronik atau buku tulis biasa. Hehe...

Namanya juga salah kaprah, kekeliruan mengartikan ABSEN ini sudah sangat meluas di masyarakat. Orang asing dipastikan bingung begitu mengetahui ABSEN ternyata sangat jauh maknanya dari bahasa Inggris.

Syukurlah, KBBI tidak ikut arus salah kaprah di masyarakat. KBBI mengartikan ABSEN dengan tidak masuk atau tidak hadir. ABSENSI ketidakhadiran. Sidang IN ABSENTIA sidang tanpa kehadiran terdakwa.

14 January 2017

Ahok masih di atas angin

Debat di televisi baru saja usai. Ahok kelihatannya tenang, santai, tahu masalah, dan bisa ngomong enak. Itulah enaknya petahana alias incumbent. Sudah tahu isi perutnya program-program pemerintah daerah.

Ahok juga punya kelebihan fasih lidah. Omongnya lancar, runtut, logikanya enak. Orang Tionghoa Belitong ini juga kemampuan mengingat angka-angka yang sangat teknis. Maka Ahok bisa menjawab pertanyaan apa pun dengan enak. 

Diserang soal penggusuran warga di pinggir sungai, tidak manusiawi, Ahok punya tangkisan yang jitu. Dia jawab dengan fakta bahwa sungai makin bersih, normalisasi sungai bisa jalan... dan ujung-ujungnya untuk mengatasi banjir yang kronis di Jakarta.

Jujur aja... sangat jarang ada pejabat yang punya kemampuan komplet macam Ahok. Banyak bupati atau wali kota atau gubernur yang bagus, tapi tidak bisa presentasi dengan lancar. Presiden Jokowi atau Presiden Megawati misalnya bukan tipe pembicara yang mengalir lancar. Ahok ini punya kecepatan berpikir plus kecepatan bicara. 

Agus Yudhoyono yang masih muda, belum pengalaman di politik atau birokrasi, kelihatannya berusaha menyerang petahana. Wajar dan harus begitu. Tapi Agus belum punya ketenangan dan kedalaman berpikir seperti bapaknya, SBY. 

Kelihatan sekali Agus masih emosional. Khas anak-anak muda yang tidak sabaran. 

Anies Baswedan pun fasih bicara dan punya ketenangan. Tapi dia bukan teknokrat yang biasa menangani hal-hal teknis. Anies lebih banyak bicara filosofi yang cenderung abstrak. Tapi saat debat kandidat gubernur DKI Jakarta ingin menunjukkan bahwa dia pun seorang eksekutor.

Berdasar pengalaman, debat di televisi tidak punya korelasi dengan keterpilihan. Di Jawa Timur lebih banyak calon bupati atau wali kota yang bicara tak lancar, tidak meyakinkan saat debat, justru menang. 

Saat debat wali kota Surabaya beberapa tahun lalu, calon dari jalur independen yang paling fasih berdebat dengan retorika yang mengundang tepuk tangan. Tapi perolehan suaranya justru paling sedikit. Pemenangnya Bu Risma.

Maka anggap saja debat Ahok vs Agus vs Anies ini sebagai hiburan di tengah harga cabai yang makin pedas ini. Di Sidoarjo cabai satu kilogram sudah Rp 90 ribu.

13 January 2017

Buruh Tiongkok vs TKI Ilegal

Isu tenaga kerja asal Tiongkok makin heboh akhir-akhir ini. Di media sosial banyak orang yang asbun, asal bunyi, tanpa verifikasi. Seakan-akan wong cungkuo itu merebut peluang kerja orang Indonesia.

Tiongkok yang dulu lebih miskin dari Indonesia kini menjadi salah satu kampiun ekonomi dunia. Produksinya berlimpah. Mesin-mesinnya dikirim ke seluruh dunia. Tentu saja pengusaha-pengusaha kita membutuhkan beberapa teknisi Tiongkok untuk operator mesin.

Itu pun hanya tahap asal saja. Setelah itu dihanti pekerja lokal. Yang jadi masalah kalau buruh-buruh kasar Tiongkok juga diselundupkan ke Indonesia. Namanya juga cari makan. Itu mah urusan imigrasi, dinas tenaga kerja, aparat keamanan.

Kok bisa lolos? Jangan-jangan ada oknum yang bermain? Sayang, banyak pengamat di Indonesia malah ngomporin rakyat dengan memainkan isu SARA. Salah satunya Dr Sri Bintang Pamungkas yang sedang berurusan dengan polisi karena dugaan kasus makar. Analisisnya melebar terlalu jauh, ke zaman Kertanegara segala.

Warga Tionghoa di Indonesia yang tak punya kaitan dengan orang Tiongkok dibuat ketar-ketir. Apalagi ada kasus Ahok yang panas di Jakarta. Di Sidoarjo yang punya ribuan pabrik, pekerja asal Tiongkok masih normal. Cuma ada 5 atau 7 orang yang menyalahgunakan visa dan dokumen lainnya.

Bicara soal WNA Tiongkok atau negara lain yang masuk ke Indonesia secara ilegal, saya dari dulu menganggapnya biasa aja di era globalisasi. Sejak dulu orang nekat masuk ke negara mana pun untuk mencari nafkah.

Kalau mau fair, orang Indonesia yang menjadi pendatang haram di Malaysia jauh lebih banyak. Bukan puluhan atau ratusan, tapi ribuan. Dulu sebagian besar warga NTT yang merantau di Malaysia - paling banyak di Sabah - tidak punya surat-surat imigrasi. Paspor tak ada. Visa tak. KTP pun banyak yang tak punya. Modalnya cuma nekat dan kebiasaan. Orang-orang lama sudah tahulah celah-celah menembus imigresyen jiran itu.

TKI ilegal di Timur Tengah juga buanyaak. Jauh lebih banyak ketimbang total warga Tiongkok yang bekerja di Indonesia. Lah... kok kita ribut dengan wong Tiongkok? Itu mah urusan kecil. Tangkap dan deportasi... beres!

Yang bikin saya gumun itu: kok Tiongkok yang komunis, tak kenal demokrasi, cenderung ateis... bisa jadi negara maju dengan fresh money berlimpah? Bisa menyulap kampung-kampung-kampung kumuh menjadi kota modern dalam waktu kurang dari 30 tahun? Kok Indonesia masih begini-begini aja?

Malah belakangan kita lebih rajin bertengkar soal agama, ras, kelompok, golongan... dan lupa membahas cara membuat Indonesia jadi makmur. Energi kita tersedot ke FPI dan ormas-ormas radikal, fatwa-fatwa agama, dan masalah tetek bengek.

Jangan kaget kalau negara-negara yang baru lepas dari jerat perang saudara kayak Vietnam, Kamboja, Laos, Myanmar melesat meninggalkan Indonesia. Jangan-jangan kita malah dikalahkan Timor Leste!

Pabrik Sepatu PT Salim Brothers di Sedati tutup

Sudah tiga bulan ini puluhan buruh pabrik sepatu PT Salim Brothers di Sedati Sidoarjo berkemah di pinggir jalan raya. Persis di depan pabrik. Hujan panas tak membuat para buruh yang kebanyakan wanita itu bubar.

Ada kompor gas dan peralatan masak. Sampai kapan unjuk rasa nginap itu? "Sampai hak-hak kami dipenuhi majikan," ujar seorang buruh pria.

Pabrik sepatu yang cukup terkenal itu praktis tutup total. Ada yang bilang mau relokasi ke kota lain di Jatim yang upah minimumnya lebih rendah ketimbang Sidoarjo. UMK Sidoarjo yang masuk ring 1 bersama Surabaya dan Gresik dianggap terlalu mahal: Rp 3,2 juta.

Namanya juga unjuk rasa, spanduk-spanduk di pinggir jalan berisi kecaman terhadap pengusaha. Intinya buruh minta pesangon segera dibayar. "Jangan biarkan kami keleleran. Kami kan sudah kerja bertahun-tahun," ujar buruh 40an tahun.

Sebagai kota industri, kasus macam PT Salim Brothers ini sebetulnya cukup banyak. Para pengusaha besar, pemilik pabrik, mengalami kesulitan dalam 10 tahun terakhir. Banyak pabrik yang mengurangi pekerja, relokasi, bahkan tutup.

Pabrik Philips yang besar itu, di Berbek Industri Waru, bahkan sudah pindah ke Vietnam. Ribuan buruh kehilangan pekerjaan. Ada lagi pabrik-pabrik lain yang lesu darah.

Salah siapa? Ada apa dengan industri kita? Masih gelap. Yang pasti, UMK yang naik terus setiap tahun sudah sering dikeluhkan bos-bos pabrik. Para laopan ini sering membandingkan produktivitas buruh kita dengan buruh di negara-negara lain.

"Jujur aja satu buruh di Tiongkok bisa menghasilkan produk lima kali lebih banyak ketimbang buruh Indonesia," ujar Pak Han pengusaha Tionghoa muslim yang sering jalan-jalan ke Tiongkok.

12 January 2017

Kania Sutisnawinata Kembali ke Metro TV

Semalam saya sulit tidur. Data habis. Maka tidak bisa mampir ke Youtube. Pukul 01.30 saya setel Metro TV. Wow... ada wajah presenter lama yang dulu jadi favorit saya: Kania Sutisnawinata.

Kania bersama Aviani Malik, juga presenter bagus dan sueger, membahas kekerasan di STIP. Kok ada taruna senior yang menganiaya adik kelasnya hingga tewas. Kedua penyiar wanita ini cukup piawai dan agak galak, khususnya Aviani, mengorek keterangan dari pihak STIP.

Kania ini pernah sangat terkenal karena keseleo lidah saat mengucapkan nama televisinya. Maksudnya METRO TV diucap METRO MINI. Media sosial pun ramai dengan guyonan soal ini. Kania waktu itu tersipu malu saat sadar kalau salah ucap.

Kania yang cukup lama di Metro TV, bahkan jadi ikon, kemudian pindah ke Bloomberg TV. Ada tiga atau empat orang Metro yang hijrah. Semuanya presenter senior yang apik. Kalau tidak salah Februari 2013.

Sejak itu saya kehilangan Kania. Ada beberapa pengganti tapi menurut saya masih kalah jam terbang. Ini sangat terasa ketika sang presenter menjadi ancher untuk berita-berita politik ekonomi pendidikan dsb yang kelas berat. Pengetahuan dan wawasan sang presenter akan sangat kelihatan.

Kembalinya Kania ke Metro TV ini sekaligus membuktikan bahwa televisi-televisi berita sangat membutuhkan jurnalis atau presenter berjam terbang tinggi. Beda dengan berita gosip artis yang bisa dipandu siapa saja yang... good looking. Apalah artinya wajah rupawan jika tak menguasai masalah.

Berbeda dengan televisi-televisi Indonesia, televisi berita di Barat umumnya menampilkan presenter-presenter-presenter senior. Bahkan ada presenter yang kakek nenek alias di atas 60 tahun. Bandingkan dengan TV kita yang lebih suka menampilkan presenter di bawah 30 tahun plus cakep.

''Kalau gak cakep gak ada yang lihat,'' ujar teman saya yang kerja di televisi lokal. Tapi ya itu... karena mendahulukan cakepnya, teman itu harus bolak-balik menyediakan bahan, contekan dsb untuk presenter cantik yang baru lulus kuliah itu. ''Wong ayu itu bikin semangat,'' katanya.

Kembali ke presenter tua di televisi-televisi Barat. Saking hebatnya, penguasaan materi, omongan mereka itu sudah seperti profesor yang spesialis mendalami topik tertentu. Kita yang memirsa TV pun dapat banyak pengetahuan. Sebaliknya, kebanyakan presenter di Indonesia masih tergagap-gagap membahas topik yang memang tidak dikuasai dengan baik.

Kembalinya Kania, juga Don Bosco, ke Metro TV bagi saya menjadi angin segar bagi jurnalistik televisi di Indonesia. Bagaimanapun juga jam terbang dan keluasan wawasan tidak bisa disepelekan di televisi berita. Lebih ideal lagi kalau presenternya juga cantik dan segar.

11 January 2017

Wayang Wahyu tinggal cerita

Semalam saya pijat di padepokannya Pak Soetadji Puspo Pinardi di Pasar Seni Pondok Mutiara Sidoarjo. Pria 75 tahun ini bisa membenahi urat-urat yang ruwet. Telaten banget. Sambil mijat Pak Taji ngomong ngalor ngidul soal wayang kulit, wayang wahyu, gamelan, hingga Alkitab.

Selain praktisi kesenian Jawa, Soetadji dulu aktivis gereja berbahasa Jawa. Makanya dia hafal ayat-ayat Alkitab berbahasa Jawa. ''Saya juga pernah dirikan gereja di Surabaya. Dekat Jagir Wonokromo,'' ujar sang seniman yang ditemani bu Nur Hayati, sinden dan penyanyi keroncong senior di Sidoarjo. 

Suami istri memang kompak. Bu Nur nyinden, Pak Taji mendalang atau menari. Orang yang belum kenal tentu menganggap aneh dan janggal. Tapi begitulah keseharian pasutri seniman tua ini. Malam Jumat Pak Taji sering mendalang diiringi musik rekaman dan vokal bu Nur. Ada atau tidak ada penonton ya tetap semangat.

Bagi pasutri ini, kesenian Jawa itu terapi jiwa. Tidak beda dengan agama. Bahkan Pak Taji sering mengoplos cerita wayang kulitnya dengan kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Mendengar tuturan Pak Taji sambil mengurut badan saya, rasanya kekristenan itu sangat dekat dengan budaya Jawa. Jangan-jangan Yesus itu keturunan Jawa!

Kabarnya Pak Taji pernah mengembangkan WAYANG WAHYU di kalangan umat Kristen pedesaan. Wayang kulit yang mengangkat cerita dari Alkitab. Seni sekaligus perkabaran Injil tempo doeloe ketika masyarakat Jawa masih sangat tradisional. Ketika masih banyak penduduk yang buta huruf.

''Penggemar wayang wahyu dulu banyak sekali,'' ujar pria kelahiran Pare Kediri itu.

Mengapa tidak dilanjutkan? Biar wayang wahyu tidak punah, pancing saya.

Pak Taji mengaku sudah berbicara dengan beberapa pendeta di Surabaya, Sidoarjo, dan kota lain di Jatim. Tapi rupanya pendeta-pendeta itu gak nyambung. Mereka tidak tahu wayang wahyu, pedalangan, gunungan, sabetan dsb. ''Kalau pendetanya aja gak respon, gimana bisa jalan?'' katanya sedih.

Di Sidoarjo hampir tidak mungkin mementaskan wayang wahyu karena masyarakatnya masyarakat santri. Orang nasrani cuma segelintir. Itu kebanyakan umat gereja-gereja aliran yang berkiblat ke Amerika. Gereja-gereja yang sangat pop dalam tata ibadatnya.

Sudah ke GKJW? Ternyata tidak mudah juga. Apa boleh buat, wayang wahyu hanya tinggal cerita dari mulut Pak Taji. Tapi seniman tua ini tak putus asa. Dia percaya bahwa kesenian yang baik pasti tetap akan lestari dari masa ke masa.

10 January 2017

Perayaan Natal Bersama di Rutan Medaeng


Biasanya perayaan Natal di Rutan Medaeng Sidoarjo digelar pada pertengahan Desember. Khusus tahun ini digelar setelah 1 Januari 2017. Kali ini giliran Gereja Katolik Santo Yakobus, Citraland Surabaya, yang dipercaya sebagai penyelenggara.

Asal tahu saja, di Gereja Katolik, perayaan Natal hanya boleh dilakukan pada 25 Desember dan setelahnya. Sebelum misa malam Natal dilarang bikin perayaan karena masih masa Adven sesuai kalender liturgi.

Maka suasana perayaan Natal di rumah tahanan terbesar di Indonesia Timur ini pun berbeda dari biasanya. Pihak Paroki Yakobus bikin misa di Gereja Efesus Medaeng. Romo Prima Novianto yang memimpin ekaristi. Ini juga bagus untuk memperkenalkan liturgi Katolik kepada para tahanan dan narapidana nasrani yang mayoritas bukan Katolik.

Total warga binaan yang beragama kristiani (katolik protestan pentakosta baptis dsb) di Rutan Medaeng saat ini sekitar 100 orang. Saya perhatikan sebagian besar terlibat kasus narkoba. Ada pengedar kelas teri hingga bandar antarnegara. Ada juga kasus penipuan dan penggelapan. Penjahat-penjahat jalanan kelas teri umumnya berasal dari kawasan timur macam NTT, Maluku, Papua.

Ditambah perwakilan 30 gereja dan komunitas yang biasa pelayanan di Medaeng plus keluarga tahanan, jemaat yang mengikuti perayaan Natal dan Tahun Baru di Rutan Medaeng ini sekitar 600 orang. Gereja yang kecil itu tentu saja tidak muat. Maka dibuatlah tenda di luar gereja.

Tema Natal kali ini Karena Kasih, Hidupku Berharga. Usai liturgi yang tenang, warga bina bergantian tampil di atas panggung. Paduan suara, grup vokal, dsb.

''Natal di dalam penjara itu selalu memberi kesan yang mendalam. Sukacita kelahiran Kristus juga dirasakan warga binaan,'' ujar Lanny Chandra, ketua Yayasan Pelita Kasih.
Tante Lanny yang juga penerjemah bahasa Mandarin ini sudah puluhan tahun mendampingi narapidana kristiani di berbagai rutan dan lapas di Jawa Timur. Sayang, kali ini tidak ada nona-nona manis dari Tiongkok yang biasanya jadi Kristen setelah mendekam di Medaeng. ''Mereka sudah lama dipindahkan ke Lapas Wanita Malang,'' kata Lanny.

09 January 2017

Persida Sidoarjo Tak Jelas Nasibmu

Persebaya akhirnya dipastikan ikut kompetisi divisi utama. Kompetisi kasta kedua ini dimulai akhir Maret 2017. Seminggu Indonesia Super League (ISL) kompetisi sepakbola tertinggi di Indonesia. Selamat kepada Persebaya yang lima tahun dikucilkan dari kompetisi.

Berbeda dengan Persebaya, 6 klub eks IPL lain harus ikut Liga Nusantara, kompetisi kasta ketiga. Statusnya pun amatir. Selain faktor sejarah dan basis pendukung, Persebaya memang paling heroik berjuang untuk kembali ke keluarga besar sepak bola. Enam klub yang sama-sama dihukum PSSI cenderung adem ayem.

Kalau Persebaya harus mati-matian berjuang sampai lima tahun agar ikut divisi utama, Persida Sidoarjo justru sudah lama pegang tiket divisi utama. Tapi, anehnya, klub yang dulu jadi jujukan pemain-pemain muda di Kabupaten Sidoarjo ini malah tenang-tenang saja.

Sejauh ini belum ada latihan. Kerangka tim, pelatih, pemain, manajemen belum jelas. Padahal kompetisi tinggal dua bulan lagi. Dan Persebaya kemungkinan besar bakal jadi lawan Persida. Ikut nggak Persida di divisi utama.

''Masih belum jelas. Dulu katanya main dibahas dalam sarasehan, tapi sampai sekarang belum diadakan,'' ujar seorang teman yang akrab dengan balbalan lokal.

Kalau soal pemain sih banyak sekali di Sidoarjo, Surabaya dan sekitarnya. Ada 30an klub di Sidoarjo yang siap dipanggil kapan saja. Pemain-pemain lama juga akan senang kalau diajak gabung. Persoalan utamanya... uang!

Divisi utama itu kompetisi (semi)profesional sehingga perlu kontrak pemain. Butuh sekitar 24 pemain muda dan senior. Biayanya sekitar Rp 10 miliar kalau ingin bisa bersaing. Itu pun masih sulit promosi ke ISL. Kalau cuma punya Rp 5 miliar ya hanya bisa sekadar memenuhi kewajiban ikut kompetisi. Agar tidak dicoret PSSI.

Tahun lalu Deltras tak punya uang untuk bikin tim. Maka jalan pintasnya memakai pemain-pemain Deltras plus tim pelatih di kompetisi Indonesia Socccer Championship alias ISC B. Nama Persida tidak dipakai, tapi Sidoarjo United. Hasilnya tidak terlalu buruk.

Akankah model ini dipakai lagi? Kayaknya sulit. Sebab pemain-pemain SU sudah kembali ke klub asalnya Deltras. Sejak Desember 2016 mereka rutin berlatih untuk persiapan Liga Nusantara 2017. Deltras yang hancur-hancuran di Liga Nusantara 2016 (main 8 kali, menang 0, juru kunci grup) tak ingin mengulang performa buruk itu. Bahkan Deltras bertekad kembali ke divisi utama.

Lantas, bagaimana langkah nyata agar Persida bermain di divisi utama yang sudah di depan mata? Riyadh Balahmar, direktur PT yang menaungi Persida, sudah lama lempar handuk. Advokat senior ini tidak kuat lagi menanggung biaya Persida. ''Uang saya sudah banyak dipakai Persida,'' katanya.

Riyadh bahkan sudah mengembalikan Persida ke Pemkab Sidoarjo. Alasannya Persida ini aslinya memang milik pemkab. PT Bumi Jenggolo hanya payung hukum agar Persida bisa ikut divisi utama yang nonamatir. APBD tidak boleh dipakai untuk membiayai tim Persida karena dianggap profesional.

''Kalau pemkab yang membiayai Persida justru salah. Aturan hukum tidak membolehkan,'' kata Bupati Saiful Ilah yang dulu banyak terlibat dalam urusan sepakbola di Kabupaten Sidoarjo. Sebaliknya, Deltras yang main di Liga Nusantara masih bisa dibantu APBD karena sifatnya yang amatir.

Urusan Persida Sidoarjo ini sudah mbulet kayak benang kusut. Perusahaannya kolaps. Sponsor tidak ada. Pemkab tidak mungkin cawe-cawe-cawe. Padahal status sebagai tim divisi utama tidak bisa dianggap remeh di Indonesia. Tinggal satu langkah lagi tembus ISL...

Ironis! Ketika ribuan bonek rame-rame ke Bandung untuk memperjuangkan Persebaya main di divisi utama, kita yang di Sidoarjo malah membiarkan Persida terhempas dari kompetisi divisi utama.

Sawah yang terjepit perumahan

Pagi ini saya masih melihat sawah di Desa Kwangsan Sedati Sidoarjo. Tak seberapa jauh dari Bandara Juanda. Ada dua orang petani yang bekerja di sawah yang baru dibajak itu.

Sawah sekitar 10 ha itu dikelilingi deretan rumah-rumah baru. Di pinggir jalan berdiri ruko-ruko yang makin ramai. Di timur jalan yang sudah mulus, belakang ruko, masih ada hamparan sawah. Tapi juga sudah dijepit perumahan baru yang belum punya atap.

Amboi! Betapa cepatnya perubahan di Sidoarjo. Tiga tahun lalu wilayah ini masih kosong. Sawah luas membentang. Tak ada ruko atau perumahan. Yang ada cuma gubuk kecil sederhana yang dijadikan warkop. Tempat cangkrukan petani atau warga yang kebetulan ingin jalan pintas ke Sidoarjo atau sebaliknya.

Semua itu tinggal cerita nostalgia. Ketika saya bersama pak Bambang Haryadjie (almarhum) pelukis senior malam-malam mampir di gubuk warkop yang tidak ada aliran listriknya. Cuma pakai lampu minyak tanah ala orang kampung di pelosok NTT.

Begitu cepat sawah-sawah itu hilang. Sekarang cuma tinggal lahan sempit yang terjepit perumahan. Sampai kapan sawah itu bertahan? Satu tahun? Dua tiga tahun? Entahlah. Ada teman yang bisik-bisik bahwa sebagian besar tanah sawah sudah diincar pengembang. Bahkan sudah dibeli.

''Wong tanah kas desa saja dijual. Apalagi sawah biasa,'' ujar teman yang tinggal tak jauh dari desa itu.

Yah... tahun 2016 lalu memang ada beberapa kepala desa di Sidoarjo yang masuk penjara karena kasus TKD. Alih-alih mempertahankan dan mengelola TKD untuk kepentingan rakyat, aset desa itu malah dilepas ke pengembang. Maka para lurah ini sulit diharapkan untuk menjaga sawah di desanya.

Konversi lahan pertanian tak hanya terjadi di wilayah utara yang bertetangga dengan Surabaya. Kota raya yang sudah kehabisan tanah sehingga mau tak mau ekspansi ke Sidoarjo, khususnya utara macam Waru, Taman, Sedati, Gedangan. Saat ini wilayah barat dan selatan pun sudah gencar pembangunan rumah, gudang, ruko hingga pusat belanja. Padahal wilayah selatan-barat ini tanahnya sangat subur.

Sejak dulu jadi sentra pertanian di Kabupaten Sidoarjo. Makanya pabrik gula dibangun di Krembung dan Prambon. Tapi... struktur ekonomi sudah berubah. Pengembang-pengembang sejak tujuh tahun lalu mulai rajin menyulap kebun-kebun tebu menjadi perumahan.

08 January 2017

Hafal kitab suci dapat beasiswa

Ada berita kecil, tapi sangat menarik, di koran kemarin. Lulusan SMA (sederajat) yang hafal kitab suci berpeluang dapat beasiswa. Tidak dijelaskan beasiswa ini untuk fakultas apa.

Universitas Airlangga rupanya ingin mengapresiasi anak-anak muda penghafal Alquran. Sebab kitab suci agama lain bisa dipastikan sulit dihafalkan. Khususnya Alkitab atau Bible yang selama ini hanya terjemahan bahasa Indonesia yang beredar.

Itu pun terjemahannya ada beberapa versi. Yang umum itu terjemahan baru (TB) 1974. Ada juga versi BIS alias bahasa Indonesia sehari-hari. Dulu ada terjemahan Katolik yang sudah tidak dipakai. Belum lagi terjemahan versi denominasi gereja tertentu yang berbeda dengan TB.

Kalau penghafal Alquran sih bisa dipastikan banyak sekali. Hampir semua santri adalah hafidz. Ada juga anak-anak SD yang hafal Quran.

Para penghafal kitab suci memang layak diapresiasi. Tapi apakah harus dengan memberikan beasiswa atau tiket masuk ke universitas? Fakultas apa? Kalau fakultas yang berkaitan dengan keislaman seperti IAIN dulu sih cocok. Tapi fakultas kedokteran? Hukum? Sospol?

Sebuah universitas, apalagi negeri yang favorit, mestinya mempertahankan standar akademik setinggi mungkin. Para calon mahasiswa mestinya lulusan SMA yang memiliki kemampuan tinggi untuk menangkap materi kuliah kelas tinggi. Dan itu tidak ada kaitan dengan kemampuan menghafal kitab suci di luar kepala.

Mestinya jatah beasiswa diberikan kepada anak-anak berotak cemerlang yang orang tuanya miskin. Atau para juara olimpiade fisika kimia matematika, penelitian ilmiah remaja dsb. Akan sangat ideal kalau sang juara fisika atau kimia itu juga hafal Alquran.

Sudah ke gereja belum?

Ada paradoks di era yang sangat modern ini. Manusia makin individualistis, gotong royong, gugur gunung... nyaris hilang. Tapi di sisi lain, orang makin ingin tahu agenda pribadi orang lain. Termasuk soal ibadah.

Setiap Minggu ada saja pesan yang masuk: ''Sudah ke gereja belum?''

Pertanyaan kepo yang bikin kita serbasalah. Tidak dijawab gak enak, dijawab kok aneh. Mengapa harus bertanya seperti itu? Lama-lama bisa disambung: romonya siapa, bacaan pertama kedua injilnya apa? Isi khotbahnya apa?

''Saya sudah lama tidak ke gereja hari Minggu,'' jawab saya sekenanya.
Kok bisa? ''Saya selalu misa Sabtu petang/malam. Soalnya, Minggu pagi biasa kerja mengawasi kegiatan Car Free Day. Minggu malam mengedit berita.''

Akhirnya, seorang bapak lulusan S2 itu tidak lagi mengirim SMS yang sama setiap Minggu.

Selain kepo masalah pribadi, di era media sosial ini warga senang melaporkan kegiatan ibadahnya. Bung JC di Sidoarjo saya perhatikan sangat rajin melapor ke Facebook aktivitas ibadahnya di gereja. Tak lupa selfie di depan gerejanya.

Salahkah JC dan teman-teman yang suka melapor ibadahnya di media sosial? Hem... tidak salah kalau medsos itu dianggap sama dengan catatan harian (diari) zaman dulu. Bedanya, diari ditulis di buku tulis dan dibaca sendiri. Sifatnya rahasia.

Sebaliknya, media sosial bisa diakses oleh siapa saja. Dus, status di @ media sosial tidak bisa disamakan dengan catatan harian tempo doeloe. Kalau menyerang pihak lain, rasis, maki-maki, bisa kena pasal di undang-undang ITE.

Kembali ke pertanyaan kepo soal ibadah pribadi. Di negara maju, pertanyaan macam ini sudah kebablasan dan tidak sopan. Bahkan pertanyaan 'agamamu apa' pun sangat tidak pantas. Makanya di negara-negara maju tidak ada kolom agama di KTP, SIM dsb.

Indonesia memang beda.

06 January 2017

Demokrasi tanpa kultur demokrasi

Sejak reformasi 98 kita belajar menjadi negara demokrasi. Demokrasi liberal ala USA. Pemilihan langsung bupati, gubernur, wali kota, sampai presiden. Satu orang satu suara.

Kelihatannya demokrasi itu asyik karena rakyat terlibat langsung dalam proses politik. Berbanding terbalik dengan sistem orde baru yang semuanya sudah ditentukan dari atas. Kita pun sempat euforia dengan 48 partai di awal reformasi.

Sayang, kita rupanya lupa bahwa demokrasi itu ada filosofi dan syarat-syaratnya. Dan itu tidak mudah dipenuhi negara-negara ketiga yang ingin menerapkan demokrasi ala USA.

Apakah Indonesia yang mayoritas muslim mampu menerapkan demokrasi liberal ala Amerika? Dari dulu banyak orang yang meragukannya. Sebab di semua negara berpenduduk mayoritas muslim, demokrasi dianggap tidak kompatibel dengan doktrin Islam. Kecuali Turki yang sejak dulu secara sadar memilih menjadi negara sekuler ala Eropa Barat.

''Indonesia bisa kok berdemokrasi,'' begitu pendapat banyak pejabat cum politisi melihat suksesnya pemilihan langsung kepala daerah dan presiden selama ini.

Hem... ternyata belajar demokrasi ala barat itu tidak mudah. Kasus Ahok saat ini menjadi ujian berat demokrasi kita yang baru berusia belasan tahun. ''Kita ikut-ikutan demokrasi ala Amerika tapi nggak paham literatur kultur Amerika,'' kata mas Yockie dalam sebuah diskusi tentang kasus Ahok di Jakarta kemarin.

Seandainya kultur demokrasi sudah dihayati orang Indonesia, tentu tak akan ada gerakan sejuta umat untuk mengawal kasus Ahok. Aksi-aksi mendesak agar Ahok ditahan atau diadili.