23 May 2017

Mourinho merusak irama MU

Akankah MU memenangi Liga Eropa (Europa League)? Saya kok ragu. Sangat ragu. Bukan apa-apa. Penampilan MU jauh dari standar MU versi Alex Ferguson yang selama dua dekade kita nikmati. Sepeninggal Sir Alex, MU berubah menjadi klub yang biasa-biasa saja.

Lebih parah lagi ketika MU dilatih Jose Mourinho. Pelatih asal Portugis yang gaya permainannya sangat tidak menarik, menurut saya. Operan-operan bola sering meleset, pemain mudah kehilangan bola, dan sulit merebutnya kembali.

Karena itu, dulu saya pernah menulis di blog ini agar Mou dipecat dari Chelsea. Dan... betul Mou akhirnya dipecat. Setelah dipegang Conte, Chelsea langsung berubah menjadi tim yang dahsyat. Juara Liga Inggris musim ini. Dengan materi pemain yang sama versi Mourinho kecuali Kante di lini tengah.

Mou yang dipecat Chelsea kok malah direkrut untuk melatih MU? Yang filosofi bermainnya beda dengan Mou? Tentu manajemen United lebih paham. Mereka rupanya terpukau dengan rekor trofi yang dikoleksi Mou. Apalagi dia pernah pegang tim raksasa Real Madrid.

Tapi seperti dugaan saya, Mou is Mou. Gayanya yang bertahan, minim ball possession ditularkan di MU. Maka laga-laga MU tidak enak ditonton... menurut saya. MU juga sulit menang meskipun sulit kalah juga.

Mou membuat MU jadi raja seri di Liga Inggris. Ya sulit jadi juara. Jangankan juara, masuk empat besar saja susah. Musim ini MU cuma finish di posisi 6. Jelas jelek untuk tim sebesar MU.

Masih untung Mou berhasil membawa MU ke final Liga Eropa. Lawannya Ajax Amsterdam. Setahu saya, tim-tim Belanda jago passing dan bermain atraktif. Tidak melulu bertahan dan sesekali counter attack ala Mourinho.

Saya membayangkan di final nanti Ajax bisa mendikte MU dengan operan-operan pendek cepat untuk mengancam gawang De Gea. Sebaiknya pelatih-pelatih yang membuat sepak bola jadi menjemukan macam Mou ini tak lagi mendampingi tim-tim besar.

Ahok memilih jadi lilin

Kalau banding, kemungkinan besar hukuman Ahok diperberat. Bisa 5 tahun, bisa 10 tahun, bisa lebih. Terserah hakim yang dianggap wakil Tuhan. Karena itu, bisa dipahami mengapa Ahok dan keluarganya memilih untuk menerima vonis 2 tahun itu.

''Kami ingin masalah ini selesai sampai di sini,'' ujar Bu Tan istri Ahok kalau gak salah ingat.

Ahok rupanya seorang negarawan sejati. Dia memilih menjalani hukuman dua tahun meskipun para pendukungnya tidak terima dengan vonis yang tidak adil ini. Ahok memikirkan nasib rakyat Jakarta (dan Indonesia) yang butuh suasana kondusif untuk bekerja dan membangun.

Seandainya proses banding tetap berlaku, maka aksi ribuan orang untuk mendukung Ahok akan terus terjadi. Lilin-lilin akan dinyalakan di mana-mana. Bagus untuk pedagang lilin tapi masyarakat akan menuai kemacetan lalu lintas.

Sebaliknya, aksi pro Ahok bakal dibalas dengan demonstrasi sejuta umat setiap Jumat siang. Perang kata-kata kasar pasti tidak akan berhenti. Caci maki, ujaran kebencian, saling hujat... jalan terus. Sampai keluar putusan final dari MA yang makan waktu satu sampai dua tahun.

Maka, kasihan gubernur Anies dan wakilnya yang baru menjabat. Polarisasi pilkada tetap ada, bahkan makin memanas. Situasi itu tidak bagus bagi Anies dan Sandi untuk membangun Jakarta Raya.

Kita yang tinggal di luar Jakarta pun jengah dengan situasi ini. Isu SARA bisa menjalar ke mana-mana.

Nah, Ahok rupanya sengaja memilih menjadi lilin. Yang sengaja membakar dirinya sendiri agar ada secercah terang di tengah kegelapan. Pelan-pelan lilin itu akan hilang di belantara politik nasional yang tidak asyik ini.

Dua tahun bukan waktu yang singkat. Tapi juga tidak terlalu lama... dibandingkan terpidana 20 tahun atau seumur hidup. Selama menjalani masa pemurnian di penjara, lama-lama orang Jakarta jadi lupa sama Ahok.

Apalagi kalau Gubernur Anies ternyata memang lebih hebat ketimbang Ahok. Ini menjadi tantangan berat bagi Anies-Sandi untuk mewujudkan janji-janji manis kampanye kemarin.

22 May 2017

Ahok ngalah tapi ora kalah



Basuki Tjahaja Purnama jelas bukan orang Jawa. Tapi kelihatannya gubernur DKI Jakarta (nonaktif) ini mulai melakoni coro Jowo. Yakni dengan mencabut bandingnya. Alias menerima vonis 2 tahun penjara. Alias putusan PN Jakarta Utara beberapa lalu berkekuatan hukum tetap (in kracht).

Mengapa Ahok yang biasanya ngotot, menggebu-gebu, kini melunak? Rasanya tak ada yang membayangkan Ahok sepasrah ini. "Pertimbangan keluarga. Istri Pak Ahok dan keluarga besarnya sudah punya pertimbangan matang," kata pengacara Ahok.

Wow... Ahok kelihatannya sudah patah arang. Mungkin juga dia sudah punya firasat kalau hukumannya bakal ditambah (jadi 5 tahun) di pengadilan tinggi. Bisa diperbanyak tahunnya di MA.

Yah, mendingan terima saja dua tahun. Toh, biasanya masa hukuman tidak dijalani full dua tahun. Biasanya cuma dua pertiga setelah dapat remisi macam-macam. Bisa jadi hanya satu tahun di penjara.

Orang Jawa bilang "Wani Ngalah Luhur Wekasane" atau "Andhap Asor, Wani Ngalah Luhur Wekasane". Artinya, siapa yang mau ngalah bakal menang pada akhirnya. Apalagi kalau Ahok dipenjara karena direkayasa oleh lawan-lawan politik agar jagonya menang pilkada DKI Jakarta.

"Ngalah itu bukan berarti kalah," kata Pak Bambang, budayawan senior Sidoarjo.

Mudah-mudahan Ahok bisa memanfaatkan waktu dua tahunnya di dalam penjara untuk refleksi. Baca buku. Menimba banyak ilmu sesama warga binaan (nama resmi penghuni lembaga pemasyarakatan).

Selamat Jalan Cak Leo Kristi




Mas tau Leo Kristi? Tidak.
Pernah lihat rekaman konser Leo Kristi di YouTube? Tidak.

Begitulah jawaban seorang pemusik muda, 20 tahun, saat ditanya Cak Amdo pelukis senior di Pondok Mutiara Sidoarjo kemarin. Berita kematian Leo Kristi seniman musik kelahiran Surabaya 8 Agustus 1949 baru tersebar di media massa dan media sosial. Orang-orang lama macam Amdo, Yunus, Bello, Heri kaget bukan kepalang.

''Gak nyangka Leo Kristi meninggal. Lah, bulan lalu dia baru mampir ke sini sama seorang wanita cantik,'' tutur Amdo dengan gaya yang humoris. ''Orangnya sehat dan kekar seperti olahragawan. Beda dengan saya yang ceking hehehe....''

Di tempat jujukan seniman itu kami berbagi cerita tentang Leo Kristi. Seniman musik yang punya gaya lain dari lain. Bikin Konser Rakyat dengan tema-tema khas petani, nelayan, wong cilik. Salah satu komposisinya yang terkenal adalah Salam dari Desa.

Musik Leo Kristi berbeda total dengan musik pop industri. Karena itu, sulit masuk televisi dan radio. Karena itu, tidak heran anak-anak muda di bawah 30 tahun mengenal seniman yang suka memakai topi, kaos hitam ketat, itu. Jangankan yang muda, orang-orang tua di atas 50 pun tak banyak yang punya apresiasi terhadap Leo Kristi.

''Musiknya sangat unik. Dia memposisikan diri sebagai corong wong cilik seperti nelayan dan petani,'' ujar Amdo Brada yang asli Surabaya dan punya kedekatan dengan almarhum.

Saya sendiri beberapa kali menyaksikan Konser Rakyat. Leo Kristi benar-benar bintang. Bermodal gitar bolong, vokal dengan tekstur yang tebal, Leo terus gelisah dalam syair dan melodi yang rancak. Teman-temannya musisi lain, penyanyi latar, hanya sekadar pendukung. Wanita-wanita muda itu cuma pemanis di panggung.

Karena itu, Leo Kristi sebetulnya tidak perlu siapa-siapa untuk Konser Rakyat. Cukup dia sendiri di atas panggung. Itu yang diperlihatkan saat pembukaan pasar seni lukis di Surabaya tahun lalu. Suaranya masih garang di usia jelang kepala tujuh. ''Leo itu seniman di luar mainstream. Bahkan anti mainstream,'' ujar Amdo teman akrab almarhum.

Suatu ketika hujan deras di kawasan Ngagel Surabaya. Saya menepi untuk berteduh. Eh... gak nyangka ada seorang laki-laki berkaos hitam dengan topi yang khas. Mas Leo Kristi? Apa kabar? Lho, kok di sini?

Benar-benar kejutan dan berkah. Saya bisa bertemu dan ngobrol santai dengan seniman pengelana itu. Ternyata Bung Leo ini biasa menggunakan kendaraan umum ke mana saja. Gak beda dengan rakyat jelata. Cocok dengan konser-konsernya yang selalu ia sebut konser rakyat.

''Naik angkot atau mobil mewah itu sama saja. Sama-sama sampai ke tempat tujuan,'' ujarnya seraya tersenyum ramah.

Kesempatan lain saya bertemu Leo Kristi di Taman Surya Surabaya. Kebetulan ada tiga seniman besar yang menerima penghargaan dari Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini. Leo Kristi, Slamet Abdul Sjukur, dan Tedja Suminar. Kami ngobrol santai, bahasa Suroboyoan, plus guyonan khas arek-arek yang lepas bebas.

Kini tiga seniman besar itu sudah sama-sama paripurna. Tugas mereka sudah rampung.

Selamat jalan Cak Leo Kristi!

Koran cuma jadi bungkus kacang

Akhir-akhir ini saya sering membawa koran dan majalah bekas (tidak tua
amat) ke kawasan Jolotundo di Trawas Mojokerto. Untuk bahan bacaan
anak-anak SD sampai SMA dan masyarakat desa yang biasa cangkrupan di
warung-warung kopi. Apalagi sinyal seluler nyaris tidak ada.

Saya titipkan bahan-bahan bacaan ini di dua warung langganan saya.
Sekadar mencontoh gerakan mendiang Bambang Haryaji pelukis senior
Sidoarjo sekitar tahun 2005 dan 2006. Gerakan literasi ini gagal
total. Siapa tahu saya agak berhasil.

Betapa kagetnya saya, pekan lalu, melihat koran-koran titipan saya itu
tersebar ke mana-mana. Dibaca orang? Dikliping anak-anak? Bukan.
Justru jadi tutup makanan di warung.

''Korannya sampean memang bagus untuk nutupi makanan biar gak
dihinggapi lalat. Warungnya kelihatan lebih bersih,'' ujar Mbak
Hasanah seraya tersenyum.

Mbak yang gemuk ini cerita kalau sebagian koran diambil si Liauw,
orang Tionghoa Sidoarjo yang minggat ke pegunungan Penanggungan di
Trawas. Sang mbak kelihatan tidak suka koran jatahnya dibawa Liauw.

Ngapain Koh Liauw bawa koran? ''Katanya buat dibaca,'' ujar Hasanah.

Wow, syukurlah, masih ada orang yang serius membaca berita-berita di
koran dan majalah. Justru di tengah era media sosial dan digital yang
kian menepikan surat kabar. ''Kalau naik lagi tolong bawa koran-koran
bekas ya. Di sini saya kehilangan informasi banyak,'' ujar Koh Liauw
serius.

''Jangan dikasihkan mbak Hasanah itu. Nanti cuma dibuat bungkus kacang
dan makanan,'' ujar si Tionghoa yang cerdas tapi agak stres itu. Stres
karena tekanan ekonomi dan keluarga di Sidoarjo.

''Percuma sampean bawa koran ke sini kalau tidak dibaca. Kalau cuma
untuk bungkus makanan kan bisa pakai daun pisang atau daun-daun yang
lain,'' ujar kenalan lama itu.

Benar juga si Liauw. Sebagai orang koran, saya tidak suka koran-koran
bekas dikilokan di pasar loak. Harganya terlalu murah. Bahkan tak
berharga sama sekali. Sebab yang dilihat cuma kertasnya. Bukan huruf,
kata, dan gambar yang tercetak di kertas putih pucat itu.

Karena itu, saya lebih suka menyumbangkan koran-koran bekas kepada
kenalan. Syukur-syukur dibaca. Bukan dikilokan atau dibuat bungkus
kacang rebus. Tapi... begitu sulitnya menemukan orang-orang yang mau
membaca koran gratisan.

Zaman memang berubah total. Dulu, ketika masih SD di pelosok NTT, kami
berebut membaca koran dua mingguan Dian dan majalah bulanan anak-anak
Kunang-Kunang terbitan SVD Ende Flores. Satu koran dikeroyok rame-rame
5 sampai 10 orang. Padahal berita-beritanya sudah basi satu dua bulan
lalu.

Majalah, koran, buku atau apa saja dilahap anak-anak desa yang belum
kenal peradaban listrik atau televisi. Majalah Katolik Hidup yang
bekas pun jadi rebutan. Koran-koran bekas dari Malaysia pun dibaca
rame-rame.

Rupanya era digital yang bermula awal 2000 mengubah kebiasaan membaca
rakyat kita. Koran-koran cuma dijadikan bungkus makanan di
warung-warung. Masih untung ada Liauw, 30an tahun, yang lapar
informasi dari koran.

Koran koran koraaaan....

Dahlan Iskan gemar Dangdut Academy

''Ada pelajaran penting yang saya peroleh dari DA4: menyanyi itu ternyata sulit. Lebih sulit dari yang saya bayangkan. Cengkok. Nada. Vibra. Dan banyak lagi. Ada suara perut segala. Di samping ada suara diafragma. Menjadi menteri rasanya tidak sesulit itu.''

Ini kutipan catatan Dahlan Iskan pagi ini di Jawa Pos. Catatan setiap Senin yang ngangeni. Bikin orang senyam-senyum atau ketawa sendiri. Sentilan dan guyonan khas mantan menteri BUMN itu memang cocok dengan judulnya: Pelajaran Menikmati Diri Sendiri.

Syukurlah, catatan yang dulu rutin setiap Senin di halaman 1 Jawa Pos itu muncul lagi. Setelah sempat absen lama gara-gara Pak Bos harus bolak-balik melayani aparat hukum. Kejaksaan, pengadilan, tahanan kota dsb.

Selama 4 bulan diperkarakan Kejati Jatim, Dahlan Iskan jadi kecanduan nonton Dangdut Academy 4 di Indosiar. Hampir tiap malam. Sampai hafal nama-nama peserta, juri, host, iklan-iklannya.

''Kalau sudah nonton DA4, saya lupa jaksa-jaksa yang menuntut saya,'' tulis Dahlan Iskan.

Hahaha (bukan hehehe)....

Saya ketawa sendiri di warkop dekat Juanda. Ngakak. Mas-mas lain yang sibuk main ponsel, nunut internet, pun memandang ke arah saya. Ada apa? Kok tertawa sendiri?

Begitulah. Kolom-kolom Dahlan Iskan memang sejak dulu selalu menggelitik, enak dibaca, dan bikin kangen penggemarnya. Saking khasnya, sangat sulit menemukan kolom sejenis. Sudah begitu banyak kolumnis yang coba-coba meniru Pak Dahlan tapi ya tetap saja gak asyik.

Karena itu, begitu banyak orang yang mendoakan Pak Dahlan agar selalu sehat dan terus menulis. Mereka juga tidak percaya dengan dakwaan jaksa yang macam-macam itu. ''Tuhan pasti akan melindungi orang baik seperti Pak Dahlan. Saya gak ngerti hukum, tapi feeling saya mengatakan Pak Dahlan tidak bersalah,'' ujar beberapa ibu Tionghoa di Surabaya.

Mereka ini sejak 90an tidak pernah melewatkan tulisan-tulisan Dahlan Iskan. Surabaya yang panas akan terasa sejuk kalau baca tulisan Pak Dahlan. Wow...

17 May 2017

Nyadran di Balongdowo

Menjelang bulan puasa, nelayan di Balongdowo Candi, Kabupaten Sidoarjo, mengadakan ritual nyandran. Atau ruwat desa. Nyadran tahun ini digelar pada Ahad pagi kemarin.

Saya pun datang ke lokasi karena kangen suasana nyadran yang (biasanya) sangat meriah. Biasanya ada puluhan perahu (di atas 50an) yang beriringan ke pantai Kepetingan di muara sungai perairan Selat Madura.

Sayang, kali ini cuma 25 perahu. Mungkin kurang sedikit. ''Dulu memang banyak perahu. Tapi beberapa tahun ini sebagian perahu dijual. Lah, anak-anak muda sekarang lebih suka kerja di pabrik ketimbang jadi nelayan,'' kata Bu Sanipah.

Ibu yang rumahnya dekat sungai ini dulu juga punya perahu. Tapi, karena itu tadi, suaminya sudah tua dan anaknya tak mau melanjutkan, ya dijuallah perahu itu. ''Padahal hasil kupang itu lumayan lho. Bisa mbangun omah,'' katanya.

Asyik juga ngobrol sama ibu-ibu nelayan Balongdowo. Kampung yang sejak dulu dikenal sebagai penghasil kupang dan petis di Sidoarjo. Kita jadi tahu banyak tentang dunia nelayan hingga pergeseran pilihan kerja anak-anak nelayan. Boleh dikata, sangat jarang ada anak cucu nelayan yang mau nyemplung ke laut setiap hari untuk mengambil kupang atau ikan.

Doa pelepasan rombongan ke makam Dewi Sekardadu di Kepetingan pun dibacakan seorang kiai. Lalu berangkatlah para nelayan untuk unjuk syukur sekaligus pengajian di makam ibunda Sunan Giri itu. Ada pula polisi air yang ikut mengawal peserta nyadran.

''Biasanya kalau mau coblosan atau pilkada ada pejabat yang ke sini. Sekarang kan nggak ada hajatan politik. Makanya nggak ada pejabat yang nongol,'' ujar seorang bapak seraya tersenyum.

12 May 2017

Vonis Ahok yang overdosis


Vonis 2 tahun penjara untuk Gubernur Ahok memang terlalu berat. Ini kalau dibandingkan tuntutan jaksa yang cuma hukuman percobaan.

Sebaliknya, dari sudut lawan-lawan Ahok yang rajin unjuk rasa itu, hukuman 2 tahun terlalu ringan. Sebab mereka maunya minimal 5 tahun. Saat orasi bahkan ada tokoh yang meneriakkan hukuman yang sangat sangat berat.... digantung!

Berat ringan memang relatif. Tergantung kepentingan. Maka majelis hakim sebagai wakil Tuhan yang mestinya jadi penengah. Membuat ultra petita alias memutuskan jauh lebih tinggi ketimbang tuntutan tidak bisa dibilang bijaksana.

Yang lebih ganas lagi: hakim malah meminta Ahok ditahan saat itu juga. Wow... putusan yang rasanya membuat para lawan politik Ahok pun geleng kepala. Mereka memang meminta Ahok dipenjara tapi sesuai prosedur.

Artinya, Ahok dijebloskan ke penjara setelah putusan itu inkracht. Alias sudah banding sampai MA. Alias sudah mentok.

Lah, terdakwa Ahok banding kok langsung eksekusi? Ditahan? Ada apa dengan majelis hakim? Memangnya Ahok itu tersangka teroris atau penjahat berbahaya sehingga perlu dikurung di penjara?

Tentu majelis hakim yang mulia, yang punya pengalaman membuat vonis, punya pertimbangan tertentu. Tapi rakyat, setidaknya yang bersimpati pada Ahok, merasa vonis ini berlebihan.

''Overdoing! Overkill!'' kata ahli hukum Todung Mulya Lubis.

Ahok sudah kalah telak di pilkada DKI Jakarta. Dia bersama wagub Djarot tinggal menyelesaikan tugas untuk melayani rakyat Jakarta sampai Oktober 2017. Tinggal 4 bulan lebih sedikit.

Mengapa majelis hakim tidak memberi kesempatan kepada Gubernur Ahok untuk menyelesaikan tugasnya sampai Oktober? Toh dia pasti diganti
Anies. Toh, kalaupun tidak ditahan sekarang (karena belum inkracht), Ahok pasti dipenjara juga ketika sudah ada putusan final dari MA.

Sayang, majelis hakim rupanya sangat gregetan. Tidak sabar melihat Ahok menyelesaikan sisa masa baktinya. Apa pun protes orang, kecaman luar negeri, hakim sudah ketok palu. Ahok divonis sebagai penoda agama.

Yang jelas, ketika ribuan orang melakukan aksi simpati untuk Ahok, majelis Ahok naik pangkat. Dapat promosi. Katanya jubir MA sih cuma kebetulan. Hem....

Selamat untuk majelis hakim!

Waisak - Semua Makhluk Bahagia

Hari Waisak kemarin menjadi saat yang tepat untuk mengambil jarak dengan gonjang ganjing sosial politik ekonomi di tanah air. Mas Nico Tri Sulistyo Budi, yang memimpin upacara di Wihara Dharma Bakti Sidoarjo, mengajak umat Buddha untuk melakukan meditasi dan puja bakti untuk Yang Kuasa.

Saya yang bukan Buddhis ikut merasakan ketenangan saat meditasi sekitar 20 menit. Anak-anak hingga lansia macam Tante Tok memejamkan mata, menata pernapasan, konsentrasi, dan membersihkan pikiran. Suasana damai begitu terasa.

Saat khotbah, Pandita Nico menyampaikan pesan perdamaian dan cinta kasih. Bukan cuma antarmanusia tapi semua makhluk di alam raya ini. Maka tidak heran umat Buddha selalu menyampaikan salam: Semoga semua makhluk berbahagia!

Melihat umat Buddha yang larut dalam meditasi, menata hati dan pikiran, saya merasa begitu damai. Serasa berada di lingkungan keluarga sendiri. ''Jangan pulang dulu sebelum makan ya,'' ujar Bu Nugroho, mamanya mas Nico sang pandita muda.

Selamat Hari Waisak.
Semoga semua makhluk berbahagia.

09 May 2017

Mulut Ahok jadi harimau

Sudah jatuh diimpit tangga pula. Itulah yang dialami Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Sudah kalah telak di pilkada Jakarta... eh divonis 2 tahun penjara. Majelis hakim bahkan memerintahkan agar Ahok ditahan.

Sudah berbulan-bulan kita berdiskusi, debat, tentang ucapan Ahok di Pulau Seribu yang dianggap menodai agama Islam. Sudah banyak saksi ahli yang memberi keterangan di persidangan. Baik yang memberatkan dan meringankan. Sidangnya juga sangat lama dan panjang.

Akhirnya... palu hakim dijatuhkan. Ahok harus masuk penjara. Di tingkat banding hukumannya bisa ditambah, bisa kurang, bisa tetap. Yang pasti, Ahok punya banyak waktu untuk meditasi atau introspeksi di dalam penjara.

Jauh sebelum rame-rame unjuk rasa ribuan umat, saya sudah menulis bahwa Ahok telah melakukan blunder besar. Mulutnya jadi harimaunya. Gara-gara mulut besar yang tak terkontrol itulah, lawan-lawan politik beroleh peluang untuk melakukan serangan masif jelang pilkada.

Strategi serangan berbasis SARA itu sangat efektif. Masyarakat Jakarta boleh puas dengan kinerja Ahok tapi di bilik suara mereka justru memilih Anies. Suara Ahok cuma 40 persen. Sangat jauh dari tingkat kepuasan yang mencapai 70 persen.

Nasi sudah jadi bubur. Ahok kalah total. Masuk bui pula. Peluang untuk maju lagi di pilkada lain pun rasanya berat. Jokowi pun mungkin berpikir panjaaang jika harus mengangkat Ahok sebagai menteri dsb. Bisa-bisa didemo sejuta umat karena dianggap melindungi penista agama.

Puaskah para demonstran itu? Saya rasa belum. Mereka baru puas kalau Ahok dipenjara 5 tahun, 10 tahun, 20 tahun. Tapi mungkin mereka bisa menerima karena toh Ahok sudah kalah di pemilihan gubernur DKI Jakarta. Bukankah itu motif utama gerakan mereka selama ini?

Terlalu banyak pelajaran yang bisa kita petik dari kasus Ahok. Khususnya bagi kaum minoritas di Indonesia. Jangan ngawur kalau bicara tentang agama mayoritas. Diam itu emas. Lebih baik bicara tentang musik, kuliner, kesenian, pemandangan yang indah, wanita cantik, atau angin sepoi basa.

06 May 2017

Mengapa naskah makin sedikit

Bulan April 2017 kemarin total naskah yang diposkan di blog ini anjlok drastis. Tidak sampai 10. Padahal biasanya di atas 15 (asumsinya posting dua hari sekali). Bahkan dulu dalam sehari bisa 5 naskah sekaligus.

Ada apa gerangan? Kehilangan ide? Blog sudah memasuki masa senja? Tidak juga.

Ide-ide sih banyak. Bahkan makin banyak kesumpekan sosial politik budaya yang bisa jadi lumayan panjang, kadang 2000 karakter, tiba-tiba disapu bersih oleh si back space. Srrretttt.... habis. Saya coba menulis ulang tapi kasusnya kambuh lagi.

Maka, apa boleh buat, blog ini belum bisa seramai dulu. Yang menggembirakan saya, pengunjung yang kesasar di sini (biasanya diajak mbah Google) masih stabil.

Sekian dulu. Naskah yang pendek ini pun barusan disapu bersih. Ya... harus ngetik lagi. Korban keyboard virtual yang sejak dulu tidak saya suka.

Jadi rindu dengan ponsel Blackberry lawas yang bisa dipakai untuk mengetik naskah sepanjang apa pun tanpa masalah seperti di Samsung ini.

05 May 2017

Cak Priyo Ingin Wayang Goro-Goro



Pelawak sekaligus presenter senior Priyono, yang akrab disapa Cak Priyo, saat ini terbaring lemah di rumahnya kawasan Jenggolo, Kelurahan Pucang, Kecamatan Sidoarjo. Mantan host Cangkrukan JTV itu baru saja menjalani operasi pengangkatan tumor ganas di dalam perutnya.

Cak Priyo menjelaskan, operasi dilakukan di RSUD dr Soetomo Surabaya tepat pada Hari Kartini, 21 April 2017. Tindakan medis ini dilakukan sekitar tujuh jam. Tepatnya, mulai pukul 06.31 dan keluar kamar operasi pukul 13.14.

"Katanya dokter operasi biopsi. Yaitu pengambilan contoh tumor untuk dievaluasi. Lain hari harus dilaser atau kemo atau operasi pengangkatan. Menurut dokter, tumor itu tergolong jenis baru, yaitu lemak yang bisa menjadi tumor ganas," tutur pria yang masih senang bercanda usai menjalani operasi besar itu.

Puluhan rekannya pun datang membesuk Cak Priyo di rumahnya. Meski begitu, dia sering berpesan melalui media sosial agar diberi kesempatan untuk istirahat di 'ruang inspirasi'. "Yang paling penting itu, saya mohon doa dari teman-teman untuk kesembuhan. Nggak perlu bertanya nama penyakitku itu apa," ujarnya.

Seniman yang sehari-hari bekerja di Dinas Sosial Jatim, Jalan Pahlawan Sidoarjo, ini kemarin dikunjungi Wakil Gubernur Jawa Timur Saifullah Yusuf. Meski sakit berat, Cak Priyo masih senang bercanda dengan Gus Ipul, sapaan akrab Wagub Saifullah Yusuf. Jika sembuh, Cak Priyo ingin menggelar wayang goro-goro bersama Djadi Galajabo di THR Surabaya. Ada Petruk, Gareng, Kresno dan Semar yang nanti dimainkan.

"Nanti Semar tetap bijak, Petruk dan Gareng penuh polemik berdebat, apakah Kresno apik opo ino. Dan begitulah hidup: ono seng podo, ono seng gak podo, biarkan tidak perlu dirisaukan," kata Cak Priyo.

Bagaimana ending dari kisah wayang itu? Cak Priyo menjawab, "Akhir cerita diserahkan ke penonton. Hidup itu tidak ada kesimpulan, biarkan
penonton yang menyimpulkan sendiri," ujarnya.

Sebelum meninggalkan rumah Cak Priyo, Gus Ipul sempat menelepon direktur RSUD Dr Soetomo agar segera mengirimkan tim dokter guna memeriksa Cak Priyo.

04 May 2017

Mengenang Romo Janssen CM (1922-2017)



Romo Prof. Dr. Paulus Henricus Janssen, CM, yang akrab disapa Romo Janssen, lahir di sebuah kota kecil di Belanda, Venlo, pada 29 Januari 1922. Beliau adalah putra dari pasangan Hubertus Janssen dan Maria Helena Fillot. Sejak awal tak ada cita-cita lain kecuali menjadi misionaris.

Tahun 1940 masuk biara CM (Kongregasi Misi) dan ditahbiskan menjadi imam pada 13 Juli 1947. Moto imamatnya adalah “Kamu adalah alat pilihan untuk-Ku, untuk membawa nama-Ku ke bangsa-bangsa. Dan Aku akan menunjukkan kepadamu betapa banyak engkau akan bersusah-payah demi nama-Ku”.
Romo Paulus Henricus Janssen CM adalah adik dari Romo Willem Paul Janssen yang telah dipanggil Tuhan.


Tepat satu bulan ditahbiskan, cita-citanya terpenuhi. Berlayar menuju China. Dua bulan ada di kapal dagang sampai akhirnya tiba di Shanghai. Tugas pertamanya bukan di Shanghai tapi di Nan Chang yang terletak di tengah-tengah China. Baru setengah tahun di Nan Chang beliau ditarik ke Kasim, kota di sebelah selatan Shanghai, untuk mengajar di Seminari. Kesan romo selama tugas di China adalah tersentuh oleh penderitaan dan kemelaratan manusia akibat perang, lebih-lebih selama musim dingin.

Saat itulah beliau melihat dari dekat, penderitaan yang dialami oleh anak-anak yang sakit, cacat, telantar di jalan, dibuang oleh keluarganya sendiri karena kesulitan ekonomi, dan tidak sedikit yang yatim piatu, karena perang.

Hal yang paling berat dialami Romo Janssen dalam tugasnya di lain benua namun dijalankan dengan tabah dan setia sebagai misionaris, adalah saat mendapat kabar ibunya wafat. Kesetiaan atas panggilan misinya, ditunjukkan dengan tidak sering pulang ke negara asal kelahirannya. Baru setelah 17 tahun di luar negeri, romo mengambil cuti dan melihat tanah air yang telah lama ditinggalkan.

Malapetaka karena perang belum berakhir, muncul prahara baru, serbuan komunis dari Utara. Kota Nan Chang pun mereka rebut. Terjadilah pertempuran antara pengikut Mao Zhedong dan Chiang Khai Sek. Keadaan hidup serba tidak menentu. Dan yang paling tragis adalah serbuan komunis membuat misionaris terjepit.

Tak ada pilihan lain, Internuntius memutuskan agar semua frater dan profesor (sebutan untuk para dosen) dipidahkan ke luar negeri. Maka seminari dipecah menjadi dua bagian, yang CM pindah ke Manila dan yang Projo pindah ke Italia. Akhir 1948, Romo Janssen bersama kira-kira 20 frater menuju ke Manila, Filipina.

Di Manila kongregasi CM memiliki 5 seminari, salah satunya adalah seminari Projo yang dipercayakan ke CM. Kesibukannya membina calon imam projo, tidak menyurutkan romo untuk melanjutkan studi. Romo Janssen melanjutkan studinya di Universitas Santo Thomas dan memperoleh gelar doktor dalam bidang theologi dengan disertasinya berjudul: "Katolisitas Gereja dalam Karya Santo Agustinus". Di universitas yang sama romo memperdalam bidang pendidikan, khususnya guidance, counseling dan psikologi.


Tahun 1950 Romo meninggalkan Filipina. Mau ke China tak mungkin karena dominasi politik komunis yang merajalela. Pilihannya untuk melanjutkan karya misinya di Chili, Amerika Latin ditolak oleh Provinsial. Tempat baru Romo Janssen adalah Indonesia.

Pada 1 Mei 1950 Romo Janssen tiba di Surabaya dan bertemu dengan Uskup. Terus terang kedatangannya ke Indonesia tak terlalu membuatnya gembira. Mengapa? Karena amat khawatir akan ditempatkan dibagian pendidikan, padahal kerinduannya adalah untuk menjadi misionaris. Uskup sempat bertanya: "Mau menjadi misionaris? Kalau begitu silakan ke Kediri."


Pada 5 Mei 1951 Romo sudah berada di Kediri. Ketika bertugas di Puhsarang, Romo sangat senang. Inilah tempat yang selama ini dicari. Stasi-stasi kecil dikunjunginya dengan naik sepeda. Pastor kepala waktu itu, Pastor E Mensvoort yang amat fasih berbahasa Jawa, menawarkan nasihat kepada Romo Jannsen, bagaimana mulai mengenal budaya Jawa. "Jangan mulai belajar bahasa Indonesia, mulailah belajar bahasa Jawa," demikian tawaran Romo E Mensvoort CM.

Kebahagiaan Romo dalam tugas semakin bertambah ketika menemukan suasana yang penuh dengan kelembutan, keramahan, keterbukaan, yang konon menjadi ciri khas orang Jawa. Tugas utama Romo Janssen adalah mencari orang-orang yang dulu sudah menjadi Katolik namun kemudian kurang mendapat perhatian. Bersama dengan Romo Wolters CM, Romo Janssen membangun daerah Puhsarang dan Gereja Puhsarang. Salah satu kegiatan rohani yang patut dicatat di Kediri ialah berdirinya Legio Maria pertama di Indonesia. Pendirinya tak lain adalah Romo Janssen.

Dalam melakukan pelayanan pastoralnya berkeliling ke daerah Gringging, Kalinanas, dan Kalibago, Romo Janssen menemui banyak sekali orang yang sakit TBC dan frambosia. Beliau juga banyak berjumpa dengan anak-anak cacat, miskin dan telantar. Hati Romo Janssen mulai tersentuh untuk menangani anak-anak cacat dan miskin itu. Menghadapi umatnya yang banyak mengidap penyakit TBC, Romo kadang juga harus bertindak sebagai "dokter". Obat-obatan beliau usahakan dengan mencari bantuan ke Surabaya.

Selain menjalankan tugas pastoralnya, Romo Janssen mulai giat mendirikan sekolah baik Taman Kanak Kanak Montesori, SD maupun SMP Don Bosco. Dasar pemikirannya adalah orang dapat terbantu melalui pendidikan yang diperolehnya. Untuk merekrut tenaga guru, beliau datang ke Jogjakarta. Selain itu beliau juga mendirikan kursus B1 Pendidikan (sebagai cikal bakal Perguruan Tinggi Pendidikan Guru, yang kemudian menjadi FKIP). Aktivitasnya mendirikan dan mengelola/menyelenggarakan lembaga pendidikan, tidak mengurangi perhatiannya pada anak-anak cacat, terlantar dan miskin.


Juli 1959, Romo Janssen hijrah ke Madiun. Di kota inilah Romo Janssen mendirikan ALMA (Akademi Lembaga Misionaris Awam), tepat pada peringatan 300 tahun wafatnya Vincensius a Paulo, yang jatuh pada 27 September 1960.

Pada 8 September 1963, di Jalan Wilis No 21 Madiun, 7 orang secara resmi mengikat diri seumur hidup untuk menjalankan karya dan pelayanan yang sesuai dengan nasihat Injil. Mereka adalah Ibu C Pariys D, Ismilah, Yustine Sumringah, Cecilia Suliyah, Modesta, Robutine dan Maria. Lembaga ini terus berkembang, sampai tahun 1997 tercatat 200 orang tergabung di komunitas ini.

Dalam perkembangannya, berdasarkan renungan pendiri ALMA, Romo Janssen, yang dijiwai oleh pandangan dasar Konsili Vatikan II (Romo Janssen sendiri hadir dan mengambil bagian dalam Konsili Vatikan II di Roma), bahwa tugas Gereja dalam dunia adalah tugas seluruh umat. Timbul gagasan pendiri untuk menjalankan tugas Kristiani dari dan dalam situasi yang konkret dunia.

Kader awam yang dimaksud adalah awam yang menyerahkan hidupnya untuk membawa umat kepada Kristus dalam situasi awam melalui karisma yang diberikan dan dikembangkan oleh mereka menurut panggilan masing-masing. Maka ALMA yang kita kenal sekarang adalah Asosiasi Lembaga Misionaris Awam (ALMA) yang tanggal lahirnya 8 September 1968.

Karya besar romo yang paling tak boleh kita lupakan adalah mendirikan Yayasan Bhakti Luhur di Madiun pada 5 Agustus 1959.

Perjalanan karya Romo Janssen berikutnya:

(1) Pada 26 Agustus 1967, Mgr. AEJ Albert OCarm secara resmi menerima ALMA sebagai Institut Sekulir dibawah yuridiksi Uskup Malang.
(2) Perkembangan selanjutnya adalah berdirinya ALMA Putra, yang banyak berkecimpung pada karya evangelisasi, pelayanan anak-anak cacat dan CBR (Community Based Rehabiltion). Romo Janssen tetap hadir sebagai pelindung sekaligus bapak rohani.

(3) 1973, Institut Pembangunan Masyarakat didirikan oleh Romo Janssen tahun 1969, menempati gedung di Galunggung, Malang.
(4) Menjadi guru besar di IKIP Malang.
(5) Mendirikan SMPS (Sekolah Menengah Pekerja Sosial) di Malang.
(6) 29 Juni 1968 mendirikan IPI (Institut Pastoral Indonesia), di Malang.
(7) Mendirikan Sekolah Evangelisasi Katolik di Malang.


Bahan: Buku Kenangan 50 Tahun Pesta Imamat Romo Paul Janssen

18 April 2017

Akhirnya dapat lagu-lagu seriosa di YouTube

Luar biasa era digital ini. Beberapa menit lalu saya mengunduh 20 lagu seriosa Indonesia di warkop perbatasan Surabaya-Sidoarjo. Gratis. Cukup bayar kopi segelas plus pisang goreng dua biji. Internet free.

Ada 15 lagu seriosa lama yang dibawakan Christopher Abimanyu, tenor terbaik yang dipunyai Indonesia. Cintaku Jauh di Pulau, Wanita, Bintang Sejuta, Embun.... Sebagian nomor seriosa ini saya hafal karena memang sangat populer di tanah air.

Sekitar 10 tahun saya mencari album seriosa bung Abimanyu ini di Surabaya, Malang, Sidoarjo, tapi tidak ketemu. Saya juga sempat kontak langsung Abimanyu yang beberapa kali saya tulis kiprahnya di surat kabar dan blog.

'Coba hubungi manajemen saya karena CD-nya terbatas,' kata penyanyi yang beberapa kali juara bintang radio dan televisi jenis seriosa itu. Saking seringnya juara, Abimanyu dilarang ikut lomba nyanyi yang pernah sangat populer di Indonesia itu. Belakangan Abimanyu sering jadi juri atau kasih master class teknik vokal klasik di berbagai kota.

Nah, ternyata manajemen pun tidak bisa membantu. Saya pun melupakan album itu. Cari di YouTube cuma ada 4 lagu Abimanyu yang diunggah (upload). Maklum, tidak banyak peminat seriosa di Indonesia.

Baru pagi tadi saya iseng mengetik seriosa Indonesia di YouTube. Wow... lagu-lagu Christopher Abimanyu yang saya inginkan itu muncul semua. Lengkap dengan foto Inne Lopulisa pianis yang mengiringi Abimanyu. Eureka.....

YouTube memang menjawab hampir semua pertanyaan saya tentang musik. Asal ada orang yang mengunggah lagu atau video ke YouTube maka seisi dunia bisa menikmatinya. Tidak perlu capek-capek ke toko CD/VCD yang hampir pasti tidak punya stok lagu-lagu seriosa ala Christopher Abimanyu.

Namun, saya juga prihatin dengan para musisi macam Christopher Abimanyu ini. Sebab kerja kerasnya tidak mendapat insentif alias uang. Beda kalau kita membeli kaset atau CD di toko yang resmi.

Mudah-mudahan ke depan ada solusi yang menguntungkan para musisi di era digital yang serba bebas dan mudah ini.

15 April 2017

Wartawan tua menulis sampek matek

Minggu lalu saya bertemu beberapa wartawan emeritus di sebuah warkop di Surabaya. Badan boleh tua tapi semangat masih muda. Mereka juga tetap mengikuti isu-isu mutakhir di Indonesia: sosial politik ekonomi budaya olahraga digital dsb.

Topik Persebaya yang kembali berlaga di kompetisi resmi setelah dimatikan oleh PSSI selama lima tahun juga dibahas. Bapak-bapak pensiunan wartawan ini juga masih konsisten ngebul asap rokok.

"Wartawan itu tidak kenal pensiun. Tidak ada yang namanya wartawan emeritus," ujar seorang mantan redaktur mengoreksi istilah wartawan emeritus karangan saya.

"Pensiun kalau sudah mati," tambah yang lain.

Lalu, para emeritus ini memperlihatkan tulisan-tulisan mereka di internet. Wow... rupanya mereka punya laman khusus (website) untuk menulis opini, analisis, hingga reportase. Tulisan-tulisan mereka terasa gurih dan enak karena tidak dikejar deadline.

"Menulis sampek matek...," ujar wartawan lawas lantas tertawa.

Semua orang di warkop ikut tertawa ngakak. "Kalau saya mati, insyaallah teman-teman yang masih hidup menulis obituari untuk mengenang saya. Begitu seterusnya."

Hehe... iso ae Cak!

13 April 2017

Ketika pedagang warkop lupa ingatan

Pagi ini ada sedikit ganjalan di warkop. Masalahnya boleh dibilang sepele tapi bisa juga serius. Sangat serius malah. Pemuda 20an tahun penjaga warkop itu rupanya punya penyakit lupa yang serius.

Setelah ngopi, baca koran Jawa Pos (hampir semua warkop di Surabaya dan Sidoarjo langganan Jawa Pos), nunut internet gratis, saya mau melanjutkan perjalanan. Sudah bayar kopi plus dua roti goreng. Total tak sampai Rp 10 ribu.

Eh, adik kurus itu ngotot bilang saya belum bayar. Aneh. Duit yang tadi dia terima itu memangnya daun? Malah kembaliannya saya masukkan ke kotak amal. Sia-sia saya meyakinkan anak itu. Dia telanjur menuduh saya belum bayar.

Hehe... Saya hanya geleng-geleng lalu membayar lagi. Pemuda itu masih belum ingat kalau tadi menerima duit recehan dari tangan saya. Apa boleh buat, saya bayar lagi.

Masalahnya sih bukan rupiah yang tidak seberapa itu. Tapi memori di kepalanya yang rusak itu bisa menimpa pengunjung yang lain. Sebab warkop-warkop embongan tentu tidak pakai kuitansi, struk dsb. Cukup saling percaya.

Di jalan, sambil nggowes sepeda tua, saya berpikir betapa gawatnya manusia yang memorinya rusak. Apalagi manusia itu pedagang, pemberi utangan dan sejenisnya. Akan banyak masalah kalau duitnya bukan recehan tapi jutaan.

Syukurlah, di Sidoarjo ini masih ada banyak orang yang memorinya sangat sehat. Contohnya Fu Xiansheng, pengusaha di kawasan Juanda Sidoarjo. Saking percayanya dengan orang media, yang sudah lama kenal, Pak Fu tidak mau pakai kuitansi meskipun transaksi iklannya jutaan rupiah.

'Gak usah kuitansi-kuitansian... yang penting kita saling percaya,' ujar Pak Fu.

Mengingat ucapan Pak Fu, saya jadi lupa dengan anak muda di warkop tadi.

Andrew Weintraub teliti musik pop lawas



Andrew Weintraub datang lagi ke tanah air. Kemarin profesor musik dari University of Pittsburg USA ini menghubungi saya. Minta diajak nonton pertunjukan dangdut koplo?

Aha, rupanya tahun 2017 sang professor plontos ini sudah pindah jalur ke pop lawas. 'Apa kamu punya kontak dengan penyanyi-penyanyi-penyanyi 60an dan 70an?' tanya orang Amrik yang lebih fasih bahasa Indonesia ketimbang sebagian orang Indonesia itu.

Hem... jelas beliau mau bikin riset musik pop lama. Pertanyaan-pertanyaan Andrew (dia tidak suka embel-embel prof, doktor, mister, bapak dsb) memang selalu ada maunya. Bukan pertanyaan orang pinggir jalan. Dan dia pasti sudah punya data dan menyimak musik-musik yang akan dia bedah tuntas.

Cukup sulit menyebut nama-nama penyanyi dan pemusik tempo dulu di Surabaya yang masih hidup. Kalau yang era 60an pasti sudah sangat tua. Mungkin di atas 70 tahun. Contohnya Hari Noerdy yang pensiunan hakim. Ida Laila juga artis 60an tapi aliran dangdut.

Oh, ada bu Susy drummer Dara Puspita tinggal di Gedangan Sidoarjo. 'Tapi Dara Puspita sudah banyak yang teliti,' kata Andrew yang punya band Dangdut Cowboy di USA itu.

Lalu saya sebut beberapa nama artis 70an. Ervinna yang sejak 90an lebih sibuk di gereja. Pemilik ratusan album itu bahkan ketua Bunda Kudus Keuskupan Surabaya. Kemudian Sunatha Tanjung gitaris AKA yang juga menghabiskan masa tuanya di gereja aliran karismatik.

Ada juga Ira Puspita yang populer dengan lagu Mama, aku ada tanya... Ada pula Surabaya All Stars kelompok jazz sang maestro mendiang Bubi Chen. 'Ada lagi?' tanya Andrew. Ya, saya sebut beberapa lagi artis sepuh itu.

Dugaan saya memang tidak keliru. Setelah menerbitkan buku Dangdut Stories, kemudian koplo, saat ini Andrew sibuk menggali pop Indonesia di bawah 1970. Masa ketika industri musik masih sederhana. Bahkan belum bisa disebut industri. Kaset masih awal-awal, musik direkam di piringan hitam atau LP.

Andrew juga sempat diundang ke UGM Jogja untuk membahas musik pop Indonesia. Perserta seminar tentu bertanya juga tentang dangdut dan koplo yang sangat ia kuasai. Maklum, Andrew mendalami musik Indonesia sejak 1985 di Bandung. Dia punya data yang lengkap tentang dangdut... dan sulit dilawan peneliti dalam negeri. 

Mana ada profesor doktor kita yang bahas dangdut?

'Saya belum baca kajian Anda tentang koplo,' kata saya. 

Besoknya Prof Andrew Weintraub sudah mengirim buku kajian koplo versi pdf. Detail banget. Sejak dulu saya puji Andrew karena selalu blusukan langsung untuk wawancara dengan sumber pertama di lokasi. Nonton pertunjukan dangdut, ikut joget, nyawer dsb. Beda dengan peneliti-peneliti kita yang bahan-bahan lapangannya sangat mentah karena kurang fulus.

Sayang, Andrew tidak bisa berlama-lama di Surabaya. Sang profesor sudah punya banyak agenda untuk keliling menemui para seniman pop Indonesia tempo doeloe untuk kepentingan risetnya. Kita tunggu buku terbarunya.

 Buku yang benar-benar buku. Bukan kumpulan artikel pendek seperti buku-buku di Indonesia sejak era reformasi.

11 April 2017

Pekan Suci Tahun Ini Lebih Longgar

Tak terasa umat Katolik sudah masuk pekan suci. Ada 3 hari penting yang tidak boleh dilewatkan: Kamis Putih, Jumat Agung, dan Sabtu Suci.

Misa atau ekaristi selalu diadakan sore atau malam hari. Bagaimana kalau kita kerja malam? Tidak bisa libur atau cuti? Ini memang masalah di Jawa. Sebab orang Jawa, kecuali yang Katolik, tidak kenal pekan suci, kamis putih, jumat agung, paskah dsb.

Beda dengan di NTT, khususnya Flores dan Lembata, yang pekan suci dinyatakan sebagai hari libur. Maka saya selama bertahun-tahun tidak bisa ikut Kamis Putih. Maklum, setiap kali pulang kerja malam hari misa sudah selesai. Tidak bisa menikmati Ubi Caritas est Amor atau Pange Lingua Gloriosi - pengalaman masa kecil yang sulit dilupakan.

Puji Tuhan, rupanya tahun ini jadwal pekan suci di Sidoarjo lebih ramah untuk orang-orang yang kerjanya malam hari. Barusan saya mampir di Gereja Katolik Maria Annuntiata Jalan Monginsidi 13 Sidoarjo.

Wow, misa Kamis Putih sesi kedua pukul 21.30. Rasanya pas lah. Jarak kantor dengan gereja hanya sekitar 7 menitan. Selama ini semua pekerjaan beres di bawah 21.00. Beda dengan di Surabaya dulu yang pukul 22.00 belum tuntas.

Jadwal Sabtu Suci lebih longgar lagi: pukul 22.00. Pasti lebih aman. Jumat Agung juga sangat aman (untuk kita yang tidak kenal tanggal merah) karena sesi pertama jam 12.00.

Rupanya baru tahun ini Jumat Agung di Kota Sidoarjo dibuat tiga sesi. Sejak dulu biasanya dua sesi, yakni jam 15.00 dan 18.00.

Melihat jadwal pekan suci di halaman gereja, saya pun senyam-senyum sendiri. Wow, saya bisa mengikuti Triduum atau trihari suci secara penuh. Selama bertahun-tahun saya hanya bisa ikut Jumat Agung dan Sabtu Suci.

Selamat pekan suci!
Selamat menyambut Paskah untuk umat kristiani di mana saja!

Kampung Pecinan tertua sebelum Majapahit

Salah satu bangunan cagar budaya yang selalu menarik perhatian saya adalah Raos Pecinan. Ada juga yang bilang Pecinan Raos. Lokasinya dekat Kejapanan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Tepatnya di Desa Carat, Kecamatan Gempol. Tidak jauh dari Sungai Porong yang memisahkan Kabupaten Pasuruan dan Kabupaten Sidoarjo.

Saya beberapa kali mampir ke situs sejarah ini. Sayang, kondisinya kurang terpelihara - sama dengan situs-situs lain di Jawa Timur. Lebih parah lagi, akses ke Raos Pecinan pun susahnya bukan main. Harus menyusuri jalan setapak di kebun tebu yang luas.

Hampir semua pemerintah daerah memang kurang memperhatikan cagar budaya di daerahnya. Padahal Raos Pecinan dan situs-situs lain macam candi peninggalan Majapahit bisa dikembangkan sebagai objek wisata. Sayang, kita orang masih menelantarkan begitu banyak situs atau petilasan yang bernilai sejarah itu.

Nah, setiap kali ke Raos Pecinan, saya selalu bertanya apakah situs ini ada kaitan dengan pecinan? Semacam kampung Tionghoa (China Town) atau punya jejak dengan Tiongkok di masa lalu? Apakah penduduknya ada yang keturunan Tionghoa?

Sayang, pertanyaan ini tidak berjawab di Raos Pecinan. Sebab kita sulit menemukan warga setempat untuk dimintai informasi meskipun cuma sepotong. Juru peliharanya pun kebetulan tidak ada di tempat saat tiga kali saya datang ke sana.

'Di kampung ini tidak ada keturunan Cinanya. Semua penduduk di Raos Pecinan ini pribumi (orang Jawa),' kata seorang bapak.

Kok namanya Raos Pecinan? 'Mungkin cuma nama aja. Bisa juga karena tempo doeloe pernah jadi tempat pertempuran tentara Mongol yang dikirik dari China,' kata bapak itu mengutip pendapat umum yang berkembang selama ini.

Saya kemudian mencari informasi di internet tentang Raos Pecinan. Tapi tidak banyak menolong. Bongkar beberapa buku pun tidak dapat jawaban. Malah mbah Google merujuk ke sebuah artikel yang sudah lama saya tulis di blog saya sendiri. Hehe... asem tenan! Sejak itu saya hanya membatin setiap kali melintas di papan penunjuk ke Raos Pecinan ketika turun dari Trawas atau Jolotundo.

Akhirnya, seperti kata pepatah barat lama, waktu jugalah yang menjawab. Pertanyaan saya 10 tahun lalu baru terjawab 10 April 2017 di rumah Bapak Gatot Hartoyo, peminat sejarah yang baru dua pekan lalu merilis 4 buku tentang peradaban Gunung Pemanggungan, petirtaan Jolotundo, hingga sejarah Kabupaten Sidoarjo dan Kerajaan Jenggolo (cikal bakal Sidoarjo sekarang).

Pak Gatot sempat membahas Raos Pecinan di Dusun Pecinan Raos, Desa Carat, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan. Situs itu punya sepasang Dwarapala atau dua patung raksasa sebagai pintu gerbang. Kira-kira di situlah bibir Sungai Porong jaman biyen yang konon lebarnya satu sampai tiga kilometer. Tahun 2017 ini lebar Sungai Porong kurang dari 100 meter.

Mengutip Negara Kertagama, Gatot Hartoyo menulis: '... bangsa Cina Mongol pada 1 Maret 1293 mendirikan perkampungan di tepi Sungai Brantas (Kali Porong). Tepatnya di Dusun Pecinan Raos, sekarang masuk Desa Carat wilayah Kecamatan Gempol, berbatasan (berseberangan sungai) dengan Dusun Macanmati, Desa Kebonagung, Kecamatan Porong Sidoarjo. Perkampungan pecinan ini melebar hingga Jembatan Porong-Gempol sekarang.'

Gatot menambahkan: 'Kelompok masyarakat Cina Mongol ini berasal dari kesatuan pasukan Tartar di bawah komandan Sih Pi, Kau Tsing, dan Ike Masse atas perintah Kaisar Khublai Khan.

Yang juga menarik, seperti ditulis Mpu Prapanca dalam buku Negara Kertagama, perkampungan China di tepi Sungai Brantas itu sudah ada sebelum pasukan Tartar datang. 'Jadi, perkampungan Cina di Dusun Pecinan Raos itu sudah terbentuk sejak zaman Kerajaan Kahuripan pada awal-awal bandar Hujung Galuh dibangun,' tulis Gatot Hartoyo dalam bukunya yang berjudul Lembah Hilir Delta Sungai Brantas Kahuripan - Sejarah Sidoarjo.

Masih mengutip Negara Kertagama, Gatot mengungkapkan fakta sejarah yang sangat menarik: 'Kunjungan masyarakat Cina dari perkampungan Cina di Raos Pecinan ke Terik pada saat Sanggrama Wijaya mendirikan Desa Majapahit.'

Disebutkan pula dalam sejarah Dinasti Yuan bahwa pada bulan April 1293 Raden Wijaya mengirim utusan ke masyarakat Cina di perkampungan Cina di tepi Kali Porong itu.

Jarak antara Terik (Majapahit) dengan perkampungan Tionghoa itu relatif dekat. Sekitar 5 sampai 7 kilometer. 'Dari Pecinan Raos ke Desa Majapahit itulah bandar dagang sungai Hujung Galuh,' tegas Gatot dalam percakapan dengan saya di rumah panggungnya di Dusun Biting, Desa Seloliman, Trawas, Mojokerto.

Catatan sejarah ini kian membuktikan bahwa kehadiran orang Tionghoa di Nusantara sebenarnya jauh lebih tua ketimbang Kerajaan Majapahit yang berdiri pada 1293. Komunitas Tionghoa di tepi Sungai Porong ini jelas berbeda dengan para pendatang baru dari negeri Tiongkok pada zaman penjajahan Belanda.

Kalau Belanda sengaja membuat pecinan untuk memisahkan (segregasi) komunitas Tionghoa dengan pribumi, menurut Gatot, komunitas Tionghoa di Pecinan Raos ini justru memilih hidup sebagai pribumi. 'Artinya, hidup dengan kebiasaan, tradisi, adat istiadat masyarakat Jawa di sekitarnya,' ujar Gatot.

'Mereka tidak ada kontak apa pun dengan warga etnis Cina yang datang berikutnya. Mereka merasa sebagai pribumi asli.... Warga Pecinan Raos (sekarang) memang hampir 100 persen persis tipe Jawa pada umumnya. Namun samar-samar masih terpancar (Tionghoa) walau hanya 5 persen,' tulis Gatot Hartoyo di bukunya yang lain, Gunung Penanggungan Awal Peradaban dan Menyimpan Teknologi Leluhur.

09 April 2017

Perarakan Minggu Palem di Salib Suci Sidoarjo

Tidak terasa hari ini sudah masuk pekan suci. Pagi buta saya sudah meluncur ke Gereja Salib Suci, Tropodo Waru Sidoarjo. Niat misa minggu palem sesi pertama. Pukul 05.00 sudah sampai di gereja.

Kok sepi? Cuma ada empat lima orang di halaman. Parkiran masih kosong. Misanya jam berapa? Biasanya misa pertama jam 5.30. Hem... pasti ada perubahan jadwal misa untuk pekan suci. Saya yang tidak tahu karena selama ini lebih sering misa di Wonokromo atau Sidoarjo.

''Nggak tau Mas jadwalnya,'' ujar seorang bapak di warkop dekat Gereja Katolik Salib Suci. Dia memang bukan Katolik sehingga tidak punya urusan dengan jadwal misa, pekan suci, kamis putih, jumat agung dsb. Urusannya cuma jualan kopi, nasi bungkus, cemilan dsb.

Maka saya pun berjalan ke halaman gereja. Ketemu seorang ibu yang ramah. ''Misa Minggu Palem mulai jam 7.00. Kumpulnya di sekolahan Santo Yosef,'' ujar ibu asal Jakarta yang tunggal di sini sejak 1972.

Saya dikasih lihat jadwal pekan suci. ''Kamu motret aja biar gak lupa.'' Kami pun ngobrol ngalor ngidul untuk membunuh waktu. Sebab masih ada waktu hampir dua jam.

Lalu saya pamit ke warkop untuk cangkrukan sambil ngopi bersama beberapa polisi yang bertugas menjaga keamanan gereja. Ada juga tiga pria muslim warga perumahan yang sering kebanjiran itu. Temanya sepak bola. Mas yang gemuk itu pinter banget menganalisis sepak bola Spanyol, khususnya Barcelona.

Ngobrol di warkop itu memang membuat menit demi menit berlalu begitu cepat. Umat makin banyak membawa daun palem. Rupanya sudah diumumkan jauh hari. Saya tidak bawa karena biasa minta di halaman gereja. Siapa tahu kali ini ada tersisa daun yang bagus.

Jam 06.00 lebih sedikit saya cabut dari warkop. Jalan kaki ke sekolahan yang jaraknya lumayan jauh. Sekitar 600an meter atau hampir satu kilometer. Melewati jalan perumahan yang kiri kanannya ramai pedagang kaki lima.

Wow, luar biasa Paroki Salib Suci! Selama bertahun-tahun tinggal di Surabaya dan Sidoarjo baru kali ini saya mengikuti prosesi minggu palem yang jauh dari gereja. Biasanya cuma di halaman thok. Bahkan lebih sering tidak ada perarakan melambai-lambaikan daun palem sambil bernyanyi Hosanna, Anak-Anak Ibrani, dan sebagainya.

Beda dengan di kampung saya di NTT, waktu saya kecil, perarakan jalan kaki ini bisa tujuh sampai delapan km dari kampung A ke kampung B. Maka saya bersyukur bisa ikut perayaan ekaristi minggu palem di Salib Suci Waru. ''Kami dari dulu memang biasa perarakan dari sekolahan ke gereja,'' ujar Pak Heri salah satu tokoh umat Katolik kepada saya.

Saya pun kagum dengan tata liturgi paroki ini, khususnya minggu palem (orang kampung di Flores menyebut minggu daun-daun), yang mirip di NTT yang mayoritas kristiani. Di tengah mayoritas muslim, umat Katolik di Wisma Tropodo ini 'berani' tampil berliturgi di luar kompleks gereja.
''Paroki Salib Suci ini parokinya romo-romo SVD. Jadi, liturginya sangat diperhatikan,'' kata Pak Heri yang Tionghoa itu. Asal tahu saja, Paroki Salib Suci Sidoarjo (hampir) selalu juara lomba paduan suara di Keuskupan Surabaya. Mereka juga paling jago membawakan lagu-lagu gregorian yang mengalir lembut itu.

Misa dipimpin Pater Servas Dange SVD, pastor asal Flores, yang dua tahun lalu merayakan pesta perak imamat. Beliau didampingi romo asal Flores juga. Saya lupa namanya. Ada juga frater asal Batak yang ikut membantu. Plus banyak suster karena di Wisma Tropodo ini memang ada biara susteran.

Setelah homili tentang Yesus masuk Kota Yerusalem: mengalami keledai, mengapa betina... perarakan pun dimulai. Umat mengangkat daun palma sambil berjalan ke gereja. Menyanyi Terpuji Raja Kristus (PS 552) selama perarakan. Lagunya cuma satu ini. Beda dengan di Flores yang lagunya banyak, ditambah doa Bapa Kami dan Salam Maria, karena jaraknya sangat jauh.

Bagaikan karnaval, perarakan minggu palem ini jadi tontonan warga setempat. Mungkin mereka heran ada apa kok orang Katolik jalan kaki sambil mengangkat daun-daun palma. Sayang, tidak ada atraksi yang ciamik seperti sandiwara Yesus naik keledai (bisa diganti kuda) atau visualisasi kitab suci.

Polos-polos aja tapi sangat berkesan bagi saya yang sudah sangat lama tidak mengikuti adegan ini di Jatim. Oh ya, saya juga berterima kasih kepada seorang suster kongregasi ALMA yang memberi saya sehelai daun palem yang bagus.

25 March 2017

Ogoh-ogoh sensual jelang Nyepi 2017 di Sidoarjo

Menjelang hari Nyepi, umat Hindu di Kabupaten Sidoarjo juga melakukan persiapan. Kemarin saya mampir ke Pura Jala Siddi Amerta di Jalan Raya Gedangan untuk melihat suasana pura. Awalnya sih dari Gereja Katolik St Paulus, ngobrol dengan suster asal Sumatera Utara.

Gusti Putra pengurus pura menyambut saya dengan ramah. Senyum hangat khas orang Bali yang sadar pariwisata. Beberapa tukang sedang menyelesaikan Candi Bentar yang jadi pintu masuk pura yang bersama Gereja Katolik berdiri di atas tanah milik TNI AL ini.

Melasti atau upacara penyucian di sumber air (bisa laut, sungai, danau dsb) dilakukan Minggu pagi. Umat Hindu di Juanda ini bergabung dengan Surabaya. ''Melasti di Bumimoro Surabaya ke pantai,'' katanya. Sedangkan pura satunya di Krembung mengadakan melasti di Jolotundo Trawas Mojokerto.

Ogoh-ogohnya mana? Pak Putra kemudian mengajak saya ke balai yang luas. Wow, ada dua ogoh-ogoh yang sensual dengan buah dada buesaar banget. Menggantung kayak kates alias pepaya. Simbol hawa nafsu manusia akan hal-hal duniawi. Angkara murka. Ketamakan. 

Itulah yang akan dibakar hari Senin atau sehari menjelang tapa brata Nyepi hari Selasa. ''Anak-anak muda yang bikin ogoh-ogoh itu. Kalau beli sih mahal, sekitar tiga jutaan,'' katanya.

Persiapan Nyepi, khususnya bikin ogoh-ogoh, membuat muda-mudi Hindu di Sidoarjo jadi lebih sering berkumpul. Gotong royong untuk membuat dua patung itu. Meskipun kualitasnya tentu tidak sebagus buatan seniman di Bali yang mahal itu. Begitu penjelasan Pak Putra.

Semoga Nyepi ini membawa kedamaian bagi alam semesta. 

Raja pelet pasang reklame

Saat nggowes pagi ini, saya melihat banyak banget reklame aneh yang ditempel di tiang-tiang jalan tol dan tiang listrik di kawasan Tambaksumur Waru Sidoarjo. Iklan raja pelet nomor HP... 

Dukun pelet alias tukang sihir pasang iklan? Itu sih sudah biasa di koran-koran atau majalah yang punya rubrik misteri, klenik, pesugihan dsb macam Posmo atau Liberty di Surabaya. Tapi raja pelet pasang iklan di pinggir jalan raya, wah... baru kali ini saya lihat.

Saya sempat coba menghubungi nomor telepon si raja pelet itu. Tapi tidak aktif. Mungkin karena masih terlalu pagi. Dukun santet juga perlu tidur... iya toh!  

Saya cuma ingin bertanya alasan pasang iklan di tiang tol, rekam jejak, hasil kerjanya selama ini, tarifnya berapa, belajar nyantet di mana dsb. Kalau bisa sih saya minta dia menyantet politisi dan pejabat-pejabat yang raja korupsi itu.

Seandainya raja pelet ini bisa melet koruptor, saya kira tidak perlu ada KPK. Tidak perlu operasi tangkap tangan segala. 

Ah, rupanya santet atau pelet tidak hanya ada di masyarakat pelosok di luar Jawa yang buta buruf, tapi masih gentayangan di kota sebesar Surabaya.

23 March 2017

Aqyu Chintha Syama Qhamu: Pop Indonesia Kebule-bulean

Minggu lalu saya sempat tengok lomba menyanyi pop di kawasan utara Sidoarjo, dekat perbatasan Surabaya. Hampir semua peserta berusia di bawah 25 tahun. Suara peserta bagus-bagus. Juga sulit menemukan cewek yang wajahnya jelek.

Boleh dikata semua peserta (laki perempuan) punya pengucapan kata seperti penyanyi-penyanyi terkenal di televisi itu. Artikulasi macam bule-bule yang baru belajar bahasa Indonesia. Yah... kayak gaya Ahmad Dhani pentolan Dewa serta artis-artis binaannya.

HANCHUL HATHIKHU
MENGENANG DHIKHAU
MENJADHI KHEPHING KHEPHING

Bagi kita yang biasa menikmati lagu-lagu pop Indonesia sebelum 2005-an, pengucapan kata-kata ala penyanyi-penyanyi pop (kemudian ditiru anak-anak sampai mahasiswa), rasanya janggal. Kuping jadi gatal. Apalagi bagi orang-orang yang pernah aktif di paduan suara yang baik dan benar.

Di paduan suara, latihan artikulasi, vokalisasi, melafalkan syair mendapat porsi yang sangat besar. Sebagian besar waktu latihan dihabiskan untuk membiasakan diri mengucapkan a i u e o.. la li lu le lo.. tra.. tri.. tru.. tre.. tro...

Anak-anak paduan suara biasanya mengucapkan:

HANN... CURR... HAA.. TII.. KU

Mengapa jadi begini ya? Kok orang Indonesia jadi kebule-bulean? Padahal orang bulenya sendiri berusaha keras untuk berlatih berbicara dengan aksen Indonesia.

Kok jadi mirip Cinta Laura semua: ''Kenapa gitchu dunkz .... which is which is ... so far dan .... aqyu chintha syama qhamu...''

Saya sendiri sudah lama tidak mengikuti perkembangan industri musik Indonesia. Sebab saya merasa tidak menarik lagi. Magnet musik pop Indonesia sudah tak berdaya untuk menarik perhatian saya. Padahal dulu saya hampir tidak pernah absen menonton konser band-band Indonesia di Surabaya, Sidoarjo, dan kadang-kadang Malang.

Saya bahkan sampai kenal baik Pak Jo Karundeng yang jadi koordinator pengamanan sebagian besar artis top. Ini membuat saya punya akses untuk ngobrol dengan bintang-bintang itu di belakang panggung. Bisa bersalaman dengan artis-artis yang sebetulnya tidak secantik di televisi atau media sosial. Ada penyanyi cewek terkenal yang jerawatnya banyak dan besar-besar-besar.

Ada apa dengan musik pop Indonesia?

Dalam beberapa kali diskusi di medsos dengan Yockie Suryo Prayogo, komposer, arranger dan pemain keyboard senior, topik ini juga jadi rasan-rasan orang-orang lawas. Musik pop Indonesia semakin ke sini semakin kehilangan rasa indonesianya. Tak hanya syair (lirik) dan pronunsiasi, tata musik dan sebagainya pun berubah.

JSOP menulis: ''.... setelah era gaya r & b (baca: er dan be) .... nyaris semuanya berubah jadi ngeselin.''

22 March 2017

Timnas U22 Masih Memble

Tim nasional Indonesia bermain bagus kayak Spanyol? Tiki taka, umpan2 pendek cepat dan akurat, banyak menguasai bola... umpan terobosan.. dan gol? Itulah impian banyak orang Indonesia ketika Luis Milla dikontrak sebagai pelatih timnas. Maklum, Luis Milla berasal dari Spanyol dan punya prestasi hebat di negaranya.

Sayang, di laga melawan Myanmar kemarin Indonesia kalah 1-3. Kalah fisik, teknik, dan segalanya. Padahal pemain2 Myanmar juga doyan makan nasi. Hehe... opo hubungane? Gak ono.

Gak popo. Ini cuma uji coba. Bukan pertandingan resmi. Kalah berapa pun gak masalah, kata saya menghibur anak-anak muda di warkop Gedangan Sidoarjo. Kita lihat saja perkembangan anak-anak muda U22 ini. Sebab mereka disiapkan untuk SEA Games. Masih ada waktu.

Tapi ya begitulah... kesan pertama Luis Milla kok tidak meyakinkan! Lupakan tika taka, penguasaan bola, mendikte lawan dsb. Yang saya lihat di babak pertama (babak kedua tidak lihat karena kecewa) adalah team work yang buruk. Kerja sama belum jalan. Pemain-pemain kurang visi bermain.

Ketika ada pemain di kiri yang bebas, si pemain tengah malah ngotot bawa bola sendiri. Sudah pasti dicegat oleh dua bek. Ketika wilayah kiri pertahanan lawan kosong, bola malah diumpan ke tengah. Kacau!

Saya bukan pengamat sepak bola. Cuma penggemar sepak bola yang biasa menonton latihan dan pertandingan bola kelas usia 12 tahun di Stadion Jenggolo Sidoarjo hingga tim nasional di Gelora Delta Sidoarjo juga. Belum lagi siaran langsung di televisi. Meskipun sudah sangat berkurang sejak Pep Guardiola tidak lagi melatih Barcelona.

Maka, kita beri kesempatan kepada Luis Milla untuk kerja kerja kerja untuk membenahi sepak bola Indonesia. Jelas butuh waktu sangat lama. Spanyol bisa begitu hebat karena punya pembinaan sepak bola yang luar biasa sejak usia SD hingga senior. Tidak ada jalan pintas untuk meraih prestasi.

''Jangankan Luis Milla, pelatih sekaliber Jose Mourinho pun tidak akan bisa membuat timnas kita bagus dan menangan,'' kata temanku wartawan senior yang juga kecewa berat menyaksikan laga Indonesia vs Myanmar.

Pelukis Itu Harus Gila Dulu

Buku terbaru karya Henri Nurcahyo berjudul SENI RUPA PANTANG MENYERAH dibahas di Kampung Seni Pondok Mutiara Sidoarjo. Sejumlah perupa antusias mendiskusikan isi buku tentang kegigihan para perupa dalam berkarya dan berpameran.

Dibandingkan seniman-seniman lain, menurut Henri Nurcahyo pengurus Dewan Kesenian Sidoarjo, para pelukislah yang paling banyak mengadakan pameran. Baik pameran tunggal maupun pameran bersama. Di mana sana, termasuk di bawah pohon seperti di Pondok Mutiara Sidoarjo. ''Mereka tidak memikirkan soal laku apa tidak laku,'' ujar Henri.

Penulis 35 buku yang tinggal di Bungurasih Timur itu membahas kiprah sejumlah pelukis di Jawa Timur yang gigih dalam berkarya. Baik yang sudah meninggal maupun yang masih seger waras. Di antaranya, Jansen Jasien asal Krian yang juga dikenal sebagai aktivis pelestari bangunan cagar budaya, M Thalib Prasodjo (almarhum), Hardono (almarhum), hingga maestro sketsa Lim Keng (almarhum) yang lahir di Desa Kalitengah, Tanggulangin.

Menurut Henri, yang sudah puluhan tahun menjadi pemerhati seni rupa di Jatim, pameran-pameran lukisan yang sangat banyak itu tidak selalu jadi ajang pasar atau jual beli lukisan. Meskipun banyak pelukis yang diam-diam berharap lukisannya laku saat pameran. ''Tapi ada juga pelukis yang sedemikian idealisnya sampai-sampai dia menolak lukisannya laku,'' tutur pria kelahiran 22 Januari 1959 itu.

''Pelukis jenis ini sengaja tidak mau menjual lukisannya. Dia bisa mencari penghasilan dari usaha lain, bukan lukisan,'' tambahnya.

Ada tiga kutipan menggelitik dari maestro Affandi yang memancing diskusi hangat di kalangan para perupa. Pertama, ngelukis iku sing asik sing cepet. Kedua, pelukis itu harus pernah gendheng. Nek durung tau gendheng ojo dadi pelukis. Ketiga, nek dodol lukisan ojo didol dhewe, ora apik. Ngongkono wong liya!

Benarkah seorang pelukis itu harus pernah gila (gendheng)? Amdo Brada, pelukis senior yang juga kepala suku Kampung Seni, tertawa ngakak. Tapi ada pula beberapa pelukis yang tidak setuju omongan Affandi yang memang nyentrik itu.

''Gendheng di sini jangan diartikan secara harfiah. Intinya, pelukis atau seniman apa pun harus total dalam berkarya. Tidak boleh setengah-setengah,'' kata Amdo.

Gendheng juga bisa diartikan sebagai menciptakan karya-karya yang unik, eksperimental, tidak klise. Para pelukis tidak boleh terjebak dalam tuntutan pasar atau pesanan pedagang-pedagang seni rupa. ''Di dunia seni lukis itu selalu ada orang yang suka goreng-menggoreng lukisan untuk menaikkan harga,'' katanya.

Muhammad Adnan, pelukis senior, tidak setuju ucapan Affandi tentang kegilaan pelukis itu tadi. Selama 30-an tahun menekuni seni lukis, dia merasa selalu sehat jasmani dan rohani. ''Kalau gendheng tentu saya nggak bisa berkarya,'' ujarnya lalu tertawa kecil.

Amdo Brada tergolong pelukis yang pantang menyerah. Selain jam terbangnya yang panjang di seni rupa, dia masih tetap mempertahankan Kampung Seni di Pondok Mutiara yang dibuka pada 2015. Ruko yang disulap jadi studio dan tempat tinggal seniman itu sepi pengunjung dan berkali-kali ditinggal penghuninya. Namun, Amdo tetap saja berkarya dan menggelar pameran bersama di halaman.

Amdo juga mewajibkan peserta untuk membuat karya-karya terbaru yang out of the box dengan tema daur ulang. ''Alhamdulillah, bupati, kapolresta, ketua DPRD, beberapa pejabat dan tokoh masyarakat datang untuk memberikan apresiasi. Ada juga beberapa lukisan yang laku meskipun kami tidak jualan. Hehehe...,'' ujarnya.

21 March 2017

Zona Waktu Timor Leste yang Unik

Fretilin kembali pimpin Timor Leste. Begitu salah satu berita di koran Surabaya pagi ini. Laporan bung Justin dari Dilli menyebutkan Fretilin yang dulu musuh nomor 1 Indonesia (saat Timor Timor provinsi ke-27) itu masih populer di mata rakyat sana.

Xanana yang pentolan CNRT (juga musuh besar Indonesia zaman Pak Harto) mendukung Lu Olo dari Fretilin. Presiden Timor Leste ini nama aslinya Francisco Guterres. Nama-nama orang Timor Leste memang mirip orang Portugis, negara bekas penjajahnya.

Kok bisa negara jajahan meniru penjajah? Itulah hebatnya Portugal. Beda dengan Belanda yang menganggap bumiputra sebagai inlander kelas kelas kambing. Inlander dan anjing dilarang masuk, begitu tulisan di gedung Balai Pemuda Surabaya. Cuk... asu Londo!

Yang menarik dari berita pilpres di Timor Leste bagi saya bukan Fretilin, Guterres atau Xanana. Tapi zona waktu yang ditulis di berita itu. ''Hingga pukul 21.00 waktu Timor Leste atau pukul 19.00.....''

Haiya, kita orang baru tahu kalau Timor Leste pakai zona waktu yang berbeda dengan NTT kampung halaman saya. Padahal Timor Leste itu satu pulau dengan Kupang ibukota NTT yang pakai waktu Indonesia tengah. Timor Leste pun tidak pakai waktu Indonesia Barat. Timor Leste memundurkan waktunya satu jam lebih cepat dari WIB alias GMT+6.

Bagi saya, yang sudah lama banget mengkritik zona waktu Indonesia, pilihan pemerintah Timor Leste menggunakan GMT+6 sangat sangat cerdas dan cermat. Itu berarti pemerintahnya sudah membandingkan Malaysia, Singapura atau Brunei yang punya kebijakan cerdas soal zona waktu.

Zona waktu Timor Leste yang diajukan dua jam dari NTT (Indonesia) punya banyak kelebihan. Ketika Kabupaten Belu NTT, tetangga terdekat, pukul 07.00, Timor Leste sudah jam delapan. Ketika anak-anak Timor Leste sudah berada di sekolah jam tujuh pagi, di NTT masih jam enam.

Apakah wilayah NTT masih gelap dan Timor Leste sudah hangat mentari? Tidak. Sama saja. Tapi dengan GMT plus 6 maka orang Timor Leste yang bekerja jam tujuh dijamin lebih sejuk. Asal tahu saja, jam 7 pagi di Surabaya rasanya sudah panas. Jam 5 pun sudah sangat terang.

Kalau diperpanjang, implikasi zona waktu Timor Leste ini lebih panjang lagi. Matahari tenggelam alias magrib di Surabaya yang rata-rata pukul 5.30 hingga dekat 6pm, di Timor Leste justru baru jam delapanan. Kantor-kantor dan perusahaan bisa hemat listrik buanyaaak sekali karena karyawan sudah pulang ketika masih sangat terang.

Salam untuk rakyat Timor Leste!

14 March 2017

Mengapa Grup Medsos Mati Suri?

Sejak tahun lalu saya perhatikan berbagai grup media sosial, khususnya Facebook, di Sidoarjo bubar. Sebetulnya masih ada tapi tidak ada status atau pos baru. Ada grup yang cuma punya 4 postingan dalam setahun.

Kelihatannya grup-grup media sosial di Sidoarjo sudah mencapai titik jenuh. Grup SMS (Suara Masyarakat Sidoarjo) pagi ini cuma ada 4 status baru. Itu pun tidak lagi berisi informasi tentang kemacetan, genangan air, kesehatan, pendidikan, atau hal-hal yang menyangkut kepentingan masyarakat.

Postingan yang ada 90 persen jualan alias iklan. Kemudian dakwah teman-teman yang beraliran skripturalis dan mengusung isu purifikasi. Dakwah macam ini sangat aktif di media sosial. Aslinya sih hasil copy paste atau share dari sumber-sumber lain.

Lantas ke mana 3504 member SMS yang pernah disebut-sebut grup paling populer di Sidoarjo itu? Tidak aktif. Bahkan banyak member yang sudah tidak follow. "Grup-grup medsos itu kan cuma untuk guyonan aja. Orang cepat bosan kalau isinya tidak sesuai dengan seleranya," kata Syamsul dari Gedangan.

Berikut beberapa penyebab grup-grup medsos di Sidoarjo mati suri:

1. Anggota yang terlalu heterogen dengan berbagai latar belakang.

2. Tidak saling kenal di dunia nyata. Hanya sedikit yang berteman di alam nyata. Itu pun hasil kopi darat beberapa kali.

3. Tidak ada TS alias topic starter yang mumpuni. TS yang sejalan dengan visi dan misi grup.

4. Terlalu banyak dakwah dan isu SARA yang cenderung menyudutkan agama lain. Termasuk menyerang sesama agama yang berbeda aliran atau paham.

5. Terlalu banyak iklan baik terselubung maupun terang-terangan. Grup-grup medsos memang lahan empuk bagi bakul-bakul start-up untuk promosi.

6. Para admin tidak melakukan evaluasi secara berkala. Mengapa grup sepi? Mengapa banyak member yang dulu rajin menulis isu-isu penting mundur.

7. Perpecahan di tubuh administrator. Mereka membuat grup-grup baru yang sejenis.

8. Diskusi sering tidak terarah. Isu jalan rusak misalnya ditanggapi dengan guyonan atau meme-meme yang kocak atau rada ngeres. Moderator atau admin seperti tak berdaya.

9. Banyak isu lawas atau foto-foto lawas di-republish seakan-akan peristiwa aktual. Contoh: ada member menaikkan foto tumpukan sampah di daerah Taman plus komentar yang sangat kritis. Setelah dicek ternyata foto itu sudah satu tahun lalu.

10. Informasi atau diskusi di medsos jarang ditindaklanjuti oleh pemerintah. Contoh: jalan rusak atau pungutan liar di sekolah. Isu ini paling banyak dibahas di grup-grup Sidoarjo tapi efeknya hampir tidak ada.

11. Dianggap kurang spesifik. Grup Forum Kesenian Sidoarjo ditinggalkan para pelukis yang bikin grup sendiri namanya Komunitas Perupa Delta. Ada pelukis lain yang bikin grup Sketsapora, Bumbu Pawon, dan entah apa lagi.

Grup-grup beranggota sedikit ini biasanya sangat kompak dan guyub. Seperti Komperta (pelukis) yang rajin mengadakan kegiatan melukis on the spot. Jadi bukan cuma diskusi atau debat kusir di dunia maya.

12. Banyak laki-laki yang menggoda janda-janda dengan meme atau guyonan dsb.

13. Silakan tambah sendiri.

13 March 2017

Terima Kasih Baginda Raja Salman

Terima kasih Raja Salman yang sudah mengunjungi Indonesia. Sang Baginda berlibur cukup lama di Bali. Saking senangnya, penguasa Arab Saudi ini memperpanjang masa liburnya dua hari pulau dewata itu.

Fenomenal. Saya rasa belum ada kepala negara asing yang berlibur hampir dua minggu di Indonesia. Biasanya cepat-cepat balik karena banyak urusan kenegaraan sudah menanti. Makanya banyak kepala negara/pemerintahan yang tidak sampai bermalam di Indonesia.

Kehadiran Raja Salman di tanah air juga membuktikan bahwa Arab Saudi ternyata tidak seekstrem yang kita bayangkan selama ini. Raja Salman justru bertemu dengan pimpinan berbagai agama. Malah ngobrol akrab pakai bahasa Arab dengan seorang pastor SVD asal Flores di Bali.

Mengapa Raja Salman justru memilih berlibur begitu lama di Bali? Pulau yang mayoritas penduduknya Hindu? Kok bukan jalan-jalan ke Aceh atau Minangkabau yang islamnya lebih kental?

Ini juga menarik. Sekaligus membungkam Munarman dari FPI yang beberapa waktu lalu menyerang para pecalang di Bali dengan tuduhan miring. Bali kembali membuktikan diri sebagai pulau wisata ternyaman di dunia. Raja Salman mau menambah waktu liburnya itu luar biasa.

Kadang-kadang orang Indonesia, khususnya yang merasa alam dan sangat islami, merasa lebih Arab ketimbang wong Arab. Lihat saja tulisan di pesawat Saudi Arabian Airlines yang membawa rombongan Raja Salman: GOD BLESS YOU.

Kata-kata God Bless You sudah lama dianggap tidak islami oleh orang-orang Indonesia yang merasa alim. Mereka ganti GOD dengan ALLAH. Jadilah ALLAH BLESS YOU. Lah, kok Kerajaan Arab Saudi yang katanya beraliran wahabi malah pake God Bless You?

Seandainya Baginda Raja Salman berulang tahun di Indonesia, saya yakin pengguna media sosial di sini akan mengucapkan Happy MILAD to King Salman! Kata BIRTHDAY sudah lama dihapus oleh orang-orang alim di Indonesia karena dianggap tidak islami.

Tapi saya tetap yakin orang-orang Saudi menggunakan frase bahasa Inggris yang lazim Happy Birthday to HE King Salman!

Sekali lagi, terima kasih dan selamat jalan Raja Salman! Kunjungan Baginda sudah memberi makna yang sangat dalam baik eksplisit maupun (terutama) implisit bagi kami di Indonesia.

10 March 2017

Sukari 40 Tahun Menjaga Pulau Dem Sidoarjo


Tahun ini genap 40 tahun Pulau Dem di Dusun Tlocor, Desa Kedungpandan, Kecamatan Jabon, Kabupaten Sidoarjo, dihuni orang. Sukari yang babat alas pulau di dekat muara Sungai Porong ini pun masih bertahan bersama keluarga Slamet Solikin untuk menjaga pulau yang luasnya sekitar 600 hektare itu.

Saking lamanya menetap di Dem, lelaki asal Jember ini sering disebut Danyang Pulau Dem. Tak terasa, waktu 40 tahun berlalu begitu cepat. Sukari pun tak lagi khawatir menghadapi binatang-binatang liar seperti celeng, ular, monyet, hingga buaya. "Sekarang ini ramai karena banyak pekerja tambak dan orang-orang yang datang ke sini untuk mancing. Makanya, saya dan istri bisa jualan kopi, mi instan, camilan, dan sebagainya," ujar Sukari kepada saya di rumahnya di Pulau Dem, Minggu 5 Maret 2017.

Mengapa Pulau Dem tidak dijadikan tempat wisata? Wacana seperti itu sudah sering diucapkan. Apalagi ketika jalan akses dari Jembatan Porong ke arah timur hingga Dermaga Tlocor sudah mulus. Namun, tidak mudah diwujudkan mengingat ribuan petak tambak ini dimiliki begitu banyak juragan asal Tanggulangin, Porong, Jabon, Sidoarjo dan sebagainya. Berbeda dengan pulau buatan BPLS yang bernama Pulau Lumpur alias Pulau Sarinah yang statusnya 100 persen milik pemerintah pusat. Sehingga Pulau Sarinah punya prospek yang sangat cerah untuk dikemas sebagai destinasi wisata baru.

Sebaliknya, para juragan tambak di Pulau Dem ini rupanya sudah kerasan dengan usaha pertambakan yang memang sangat menguntungkan. Usaha rumput laut yang baru belakangan dikembangkan di Pulau Dem pun ternyata cocok. Hasilnya tidak kalah dengan di Tanjungsari, salah satu desa di Kecamatan Jabon. "Selama ini wisatanya ya mancing itu. Ada juga pelajar yang ke sini untuk survei dan
wawancara," katanya.

Meski begitu, Sukari mengakui pernah ada pengusaha yang mencoba membangun tempat wisata di Pulau Dem. Pengusaha dari luar itu bahkan sempat membangun gazebo, jembatan, dan sebuah dermaga baru. Juga membuat fondasi bangunan yang cukup luas di dekat tempat
peristirahatan yang menghadap ke Tlocor itu. Namun, tiba-tiba 'pembangunan yang sangat gencar di awal itu dihentikan.

"Saya tidak tahu kenapa kok tidak dilanjutkan. Lah, wong saya nggak pernah ngobrol sama pengusaha itu," katanya.

Apakah ada masalah dengan status tanah? "Setahu saya tidak ada karena sertifikatnya kan ada. Yah, kita lihat saja perkembangannya," ujar ayah tiga anak itu.

Di sisi lain, Pulau Dem yang dikuasai puluhan individu juragan tambak juga menjadi kendala bagi pemerintah untuk mengembangkannya sebagai destinasi wisata. Sebab pemkab tentu tidak mungkin membangun wahana rekreasi di lahan milik warga. Kecuali tanah-tanah itu dibebaskan dulu alias dibeli pemerintah.

Sejauh ini Pemkab Sidoarjo hanya bisa membantu pemavingan jalan-jalan setapak di pematang tambak. Itu pun sangat terbatas. "Alhamdulillah, sekarang sudah ada listrik (PLN) sehingga kami bisa punya hiburan televisi, ngecas HP, pasang kipas angin dan sebagainya," ujar Sukari.

07 March 2017

Nostalgia Bahasa Latin di Gereja Katolik

Misa di Wonokromo Surabaya malam Minggu kemarin dipimpin Pater Kris Anen SVD asal Adonara Flores Timur NTT. Sama-sama berbahasa Lamaholot seperti saya yang asal Lembata, tetangga terdekat Adonara. Sejak awal 70an romo-romo asal NTT, khususnya Flores, memang dipercaya mengelola Paroki Yohanes Pemandi Surabaya itu.

Yang menarik bukan karena kedekatan asal usul dan kesamaan bahasa ibu saya dan pater paroki. Melainkan penggunaan bahasa Latin oleh kor yang dominan. Mulai ordinarium Kyrie sampai Agnus Dei plus Pater Noster alias Bapa Kami.

Lagu-lagu Gregorian Latin memang agak diabaikan gereja-gereja Katolik di Indonesia selama 50 tahun ini. Bahkan di seluruh dunia. Setelah Konsili Vatikan II tahun 1965, dimulailah penggunaan bahasa lokal untuk misa alias perayaan ekaristi. Syair Gregorian yang aslinya Latin pun jadi berbahasa Indonesia.

Maka umat Katolik yang lahir di atas 1970 boleh dikata tidak hafal doa-doa utama dalam bahasa Latin. Bahkan Pater Noster dan Ave Maria, doa resmi yang paling banyak diucapkan di kalangan Katolik, pun tidak hafal. Hanya para pater atau suster yang menguasai doa-doa bahasa Latin.



Begitulah. Saat paduan suara di Wonokromo mengajak umat menyanyikan Pater Noster dari Puji Syukur nomor 402, semua orang kelimpungan. Bolak balik Puji Syukur tapi tetap kesulitan karena tidak biasa. Padahal melodinya sangat sederhana dan hampir tiap Minggu dinyanyikan di kampung asal saya di Lembata... tapi pakai syair bahasa Indonesia.

Rupanya setelah 50 tahun meninggalkan bahasa Latin, saya perhatikan umat Katolik mulai kangen-kangenan atau nostalgia ke masa lalu. Kor-kor makin banyak membawakan Gregorian asli bahasa Latin. Malah banyak lagu yang tingkat kesulitannya sangat tinggi.

Bahkan, banyak pula umat Katolik yang ikut komunitas pencinta Misa Tridentina alias Tridentine Mass. Misa versi pra Vatikan Kedua ini sepenuhnya dalam bahasa Latin. Kecuali homili dan bacaan kitab suci. Romo juga tidak menghadap umat seperti sekarang.

Saya pun mencoba membiasakan diri menikmati tembang-tembang Gregorian yang diambil dari Youtube. Awalnya terasa datar seperti sayur kurang garam.. tapi lama-lama ketagihan. Apalagi kalau menikmati Exsultet yang biasa dibawakan saat malam Paskah itu. Luar biasa indah. Bikin pikiran jadi tenang.

Fenomena kembalinya nuansa Latin ini rupanya tidak bisa dilepaskan dari kepemimpinan Paus Benediktus XVI yang sekarang emeritus. Bapa Suci ini memang mengajak umat Katolik untuk melantunkan beberapa doa sederhana dalam bahasa Latin. Meskipun sudah diganti Paus Fransiskus yang gayanya agak lain, imbauan Paus Benediktus makin dirasakan di tanah air.

Saya sendiri masih belum bisa hafal doa Saya Mengaku alias Confiteor Deo. Apa boleh buat, saya terpaksa baca aja dari buku misa tua terbitan tahun 1958 di lapak pedagang buku bekas di Jalan Semarang, Surabaya. Saya yakin tidak banyak orang Katolik di Jawa Timur yang masih menyimpan buku Misa Tridentina itu.

Confiteor Deo omnipotenti,
et vobis, fratres,
quia peccavi nimis
cogitatione, verbo,
opere, et omissione:
...............................
...............................

01 March 2017

Mea Culpa, Saya Lupa Rabu Abu

Tak terasa hari ini Rabu Abu. Awal puasa atau masa prapaskah Katolik yang berlangsung 40 hari. Saya baru sadar Rabu Abu justru setelah makan siang di tempat perayaan ulang tahun koran Radar Gresik.

Duh.. Gusti, awal puasa dan pantang saya justru makan enak layaknya di pesta. Makan kenyang, porsinya banyak pula. Ada kue-kue, buah-buahan dsb. Puasa dan pantang hari pertama sudah pasti gagal.

Tiba-tiba saya dapat SMS dari Pak Paulus Latera, guru SMA Kristen Petra 3 Surabaya. Pake bahasa Lamaholot atau Flores Timur: "Ama, hode abu kae le wati Ama!"

Artinya, Bung, sudah terima abu atau belum?

Oh Tuhan! Mau jawab apa nih. Saya pun menjawab belum terima alias belum pigi gereja karena ada kegiatan kantor di Gresik. Saya kemudian mengucapkan selamat memasuki prapaskah.

Sekitar 10 menit kemudian datang lagi SMS dari bung Yan di Lembata NTT. Seperti biasa isinya agak panjang dan mirip khotbah. Bunyinya begini:

"Kasihanilah kami, ya Allah menurut kasih SetiaMu! Selamat memasuki masa Prapaskah!

Kita saling doakan dalam menjalankan retret agung ini spy bisa membawa penyelamatan bagi dunia & diri sendiri. Selamat merayakan Perjamuan KasihNya."

Hehehe... tambah gak enak. Tapi saya bersyukur karena diingatkan Tuhan melalui beberapa rekan ini. Bahwa sesibuk apa pun kita tak boleh mengabaikan kewajiban liturgis.

Lima menit lalu, saat menulis catatan ini di Sidoarjo, Ricky yang Tionghoa menyapa saya. "Sekarang Rabu Abu. Kamu ke gereja di Sidoarjo atau Surabaya? Saya mau misa di HKY Surabaya," ujar teman akrab itu dengan suara dikeraskan.

Hehe... asem tenan!

Selamat Rabu Abu!

26 February 2017

Gerson Poyk kembali ke bumi NTT




Gerson Poyk sastrawan hebat asal NTT itu telah pergi untuk selamanya. Usianya 86 tahun. Tapi banyak orang yakin usia aslinya lebih dari itu karena penulis hebat itu diduga kuat memudakan usia agar bisa tetap muda di depan wanita.

Gerson Poyk juga membuktikan bahwa kopi, sopi dan rokok tak membuat umurnya jadi pendek. Meskipun sudah puluhan tahun tinggal di Jakarta, Bung Gerson selalu antusias pulang kampung ke bumi NTT. Mengapa? Karena di seluruh NTT selalu ada sopi, tuak, arak dan sejenisnya.

"Wanita-wanita akan terlihat lebih menawan kalau kita minum sopi," ujar sastrawan yang selalu jenaka dan ceria itu.

Gerson Poyk memang fenomenal dan unik. Betapa tidak. Ketika sebagian besar rakyat NTT masih buta huruf, ia sudah bergelut dengan buku-buku kelas berat. Menghasilkan tulisan sastra, jurnalistik, yang banyak. Dialah sastrawan besar asal NTT yang sulit dicari tandingannya.

Gerson Poyk mendapat penghargaan Adinegoro pada 1985 dan 1986. Kemudian SEA Write Award pada 1989. Kumpulan cerpennya sangat banyak. Sebut saja Hari-Hari Pertama (68), Sang Guru (71), Matias Akankari (75), Cinta Rajaguguk (75), Nostalgia Nusa Tenggara (76), Cumbuan Sabana (79)... dan masih banyak lagi.

Hingga tahun 2016, ketika fisiknya sangat menurun karena tua, Bung Gerson pun tetap menulis. Beberapa cerpennya dimuat di koran terbitan Jakarta.

Yang menarik, hampir semua karyanya ada tali temali dengan kehidupan orang sederhana di Nusa Tenggara. Gerson bercerita tentang singkong, kebun, bambu betung, panen dan sejenisnya. Inilah yang membuat Gerson Poyk sejak dulu dianggap sebagai humas orang NTT lewat sastra.

Tak heran, orang-orang NTT (maksudnya intelektual, sastrawan, dan budayawan) mendesak agar jenazah Gerson Poyk dimakamkan di NTT. Dan harus di taman makam pahlawan!

Peter Apollonius Rohi wartawan senior dan sahabat Bung Gerson menulis:

"Masyarakat meminta jenazah sastrawan Gerson Poyk dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kupang. Ia memang seorang pahlawan dalam dunianya, dikenal dalam dan luar negeri. Polemik terjadi. Masyarakat meminta, tapi persyaratan memberatkan. Ia harus memiliki unsur TNI atau unsur tentara. Bersenjata.

"Perjuangan Gerson untuk mengangkat nama bangsa, dimulai dari bawah. Coretan kalbu dalam penanya mengundang decak kagum. Diterjemahkan dalam berbagai bahasa sebagai karya sastra dunia, termasuk Turki dn Rusia. Tentu saja juga dalam bahasa Prancis, Inggris, Belanda dll. Kata Napolion Bonaparte, pena penulis lebih tajam dari seribu bayonet.

Penulis akan dikeang sepanjang masa. Orang tahu siapa itu seniman2 besar seperti Leo Tolstoy, Shakespeare, musicus Chopin, Mozart, pelukis Van Gogh, Michelangelo dll, tapi mereka tidak ingat siapa para penguasa zaman itu, siapa para konglomerat masa mereka, siapa jenderal atau lain2nya.

Para pemikir dan pencipta tetap besar dan dikenang sepanjang massa. Gerson sendiri tidak meminta, tapi masyarakat telah mempahlawankan dia, sebagai pemberi semangat dan inspirasi jutaan anak2 muda Indonesia, jutaan anak2 muda NTT.

Mari kita berpikir baru, bahwa para pahlawan itu adalah mereka yang juga para pemikir, para penemu, para perintis dalam berbagai hal yang karya2 mereka dinikmati jutaan orang. Berpikirlah bahwa Makam Pahlawan bukanlah makam tentara. Pahlawan adalah mereka yang diakui masyarakat sebagai pahlawan."

Selamat jalan Bung Gerson Poyk!

25 February 2017

Indonesia berubah kayak Afghanistan?




Sascha Stevenson punya opini yang gelap tentang masa depan Indonesia. Seperti apa Indonesia 10 tahun mendatang? 20 tahun? 50 tahun? Simak di sini
https://m.youtube.com/watch?v=Dnrs1ulccgA

Akankah Indonesia bakal jadi seperti Afghanistan yang kacau balau? Yang perempuannya tidak boleh sekolah, cuma mendekam di dalam rumah? Tidak ada kebebasan bicara atau berpendapat? Bahkan model pakaian yang dipakai pun sudah ditentukan oleh tokoh masyarakat, pemerintah atau ulama?

Sascha termasuk bule pendatang baru di Indonesia. Awalnya jadi guru bahasa Inggris di EF, kemudian belajar Islam, jadi mualaf, pakai cadar yang sangat tertutup... dan akhirnya jadi seperti sekarang. Nikah dengan dosen asal Bandung.

Sascha banyak mencermati kehidupan sosial politik agama musik pendidikan dsb di Indonesia sejak 2001. Satu dekade lebih. Tapi rupanya wanita asal Kanada ini sudah merasakan ada indikasi yang mengarah ke gaya hidup ala Afghanistan.

Siapa orang Indonesia yang mau berwisata ke Afghanistan sekarang? Apalagi wanita. Apa yang bisa dinikmati di Afghanistan yang penuh chaos itu? "Saya tidak akan mau," ujar Sascha yang sangat terkenal di Youtube itu.

Jauh sebelum Sascha bicara gamblang di Youtube, saya sudah membaca tulisan-tulisan beberapa sarjana Barat pada tahun 80an dan 90an. Mereka sudah menangkap isyarat itu sejak lama. Dan itu dimulai saat perdebatan panas pembahasan undang-undang perkawinan tahun 1974.

"Sekitar 30an tahun ke depan Indonesia akan sangat berubah. Anda akan kesulitan melihat rambut wanita Indonesia di depan umum," tulis pakar asal Jerman yang saya lupa namanya.

Begitulah. Yang namanya masyarakat senantiasa berubah mengikuti perkembangan zaman. Tentu berubah menjadi lebih baik dan baik. Kalau berubah menjadi seperti Afghanistan yang dikuasai Taliban ya wassalam.

22 February 2017

Baba Ahok kini underdog

Blunder Baba Ahok di Pulau Seribu benar-benar dimanfaatkan Anies Baswedan untuk menyalip di tikungan. Perolehan suara Ahok kemarin masih terbanyak tapi tidak sampai 50 persen. Pilgub DKI Jakarta pun harus diulang di putaran kedua pada 19 April 2017.

Nasi sudah jadi bubur. Baba Ahok yang mestinya menang satu putaran kini harus menghadapi cabaran yang berat. Dengan posisi yang seimbang maka suara pendukung Agus SBY yang 17 persen yang bakal menentukan pemenang pilgub Jakarta.

Di atas kertas boleh dikata sebagian besar pemilih Agus condong ke Anies. Apalagi melihat aksi berbalas pendapat kubu SBY dan Jokowi akhir-akhir ini. Bagaimanapun juga Ahok itu diusung PDIP yang punya kaitan dengan Jokowi.

Kalau analisis di atas kertas itu terwujud di lapangan, ya Anies bisa dipastikan menang dengan selisih 5-7 persen. Bisa saja Ahok mengambil suara pemilih yang kemarin belum sempat nyoblos. Tapi jumlahnya tidak banyak. Dan tidak semuanya pendukung Ahok.

Satu-satunya jalan ya meyakinkan pemilih Agus SBY tadi. Mungkinkah itu? Dalam politik apa saja mungkin. Siapa yang menyangka seorang Anies yang dulu tangan kanan Jokowi, menterinya Jokowi, merapat ke Prawobo? Siapa sangka Anies yang orang Paramadina bergandengan tangan dengan Rizieq pimpinan FPI?

Begitulah. Politik bukan matematika meskipun bisa diramalkan berdasar peta sosial budaya ekonomi dsb. Kita yang berada di luar Jakarta hanya berharap Jakarta dan negara ini tetap aman dan damai.

20 February 2017

Baba Tionghoa menang lagi di Lembata



Pemilihan bupati di Lembata NTT sudah selesai. Meski belum ada pengumuman resmi dari KPU, pasangan Yenci Sunur dan Thomas Ola Langoday bisa dipastikan menang. Baba Sunur yang peranakan Tionghoa masih terlalu tangguh buat empat pasangan lainnya.

Viktor Mado Watun mantan bupati rupanya harus puas di posisi ketiga. Padahal politisi asal Atawatung Ileape ini didukung penuh Gubernur NTT Frans Lebu Raya, sesama kader PDI Perjuangan. Klaim tim sukses Viktor Mado pun terpatahkan.

Di mana-mana yang namanya petahana (incumbent) memang sulit dikalahkan. Kecuali dia melakukan tindak pidana kelas berat macam korupsi, jadi bandar narkoba atau otak pembunuhan. Kalau cuma salah ngomong, tidak menjaga lidah macam Ahok di Jakarta ya tidak begitu berpengaruh pada hasil pemilihan

Selama lima tahun menjabat bupati Lembata, Baba Sunur ini sering digoyang oleh lawan-lawan politiknya. Begitu banyak tuduhan miring terhadap baba yang lebih banyak menghabiskan umur di Jakarta dan Bekasi itu. Malah ada orang (anonim) yang bikin website khusus di internet untuk menyerang Baba Sunur.

Tapi buktinya baba yang kabarnya punya leluhur di Kedang ini tetap saja sakti. Lawan-lawannya justru kelelahan sendiri. Bukannya bersatu untuk maju menghadapi Baba Sunur, para politisi Lembata ini rame-rame keroyok Sunur di pilkada 15 Februari 2015.

Bayangkan, Kabupaten Lembata yang kecil itu (dulu gabung Flores Timur) punya lima pasangan calon. Yang menarik, 4 pasangan punya cabup atau cawabup asal Ile Ape, kecamatan asal saya. Bahkan ada satu desa (Atawatung) yang punya dua calon bupati: Viktor Mado Watun dan Lukas Witak.

Lah, bagaimana suara rakyat tidak terpecah ke banyak pasasangan kalau yang maju begitu banyak? Apalagi Baba Sunur yang ahli strategi menggandeng orang Ile Ape, Thomas Ola Langoday, sebagai calon wakil bupati.

Maka perbedaan dukungan pun terlihat nyata. Erni di Lamahora memilih Viktor Mado, sementara suaminya mencoblos Baba Sunur. Orang Ile Ape malah banyak yang memberikan suara untuk calon bupati yang Tionghoa. ''Kita kan bebas memilih,'' ujar Siba asal Ile Ape yang senang Baba Sunur.

Leo Larantukan, pengamat politik NTT, mengatakan kemenangan Marianus Sae di Ngada, Baba Sunur di Lembata dan AG Hadjon di Flores Timur punya pola yang sama. Selain memainkan isu daerah, mereka sangat rajin mengunjungi bapa-mama petani kecil di kampung-kampung pelosok.

''Duduk makan sirih pinang bersama, Ja'i, Sole, dan Dolo bersama. Sehingga berkali-kali demo kepada Marianus dan Yenci Sunur, oleh kebanyakan orang kampung dianggap sebagai permainan para elit semata,'' ujar teman lama yang asli Waibalun Flores Timur itu.

Kemenangan kedua Baba Sunur di Lembata ini juga menunjukkan bahwa politik SARA tidak efektif di Indonesia. Orang-orang sederhana di Lembata tidak lagi berkutat dengan isu lama TITEN NIMUN (putra daerah, pribumi, orang kita) tapi sudah sangat rasional.

''Saya heran mengapa Baba Sunur dapat suara banyak dari Ile Ape. Padahal orang Ile Ape sendiri ada dua orang yang jadi calon bupati,'' ujar Siba.

13 February 2017

Komperta dan geliat kesenian di Sidoarjo

Teman-teman seniman Sidoarjo sempat loyo setelah diterjang lumpur Lapindo akhir Mei 2006. Apalagi cukup banyak seniman yang tinggal di daerah terdampak lumpur. Beberapa seniman senior yang biasa menggerakkan kesenian di Sidoarjo macam Eyang Thalib, Bambang Thelo, Eyang Bete meninggal dunia.

Bung Yasluck ketua dewan kesenian juga wafat. Pelukis Djoko Lelono Stefanus juga meninggal mendadak. Maka 10 tahun ini hampir tidak ada pemeran lukisan atau pertunjukan kesenian yang besar. Ada satu dua kegiatan seni tapi cuma percikan-percikan kecil.

Syukurlah, dua tahun ini sudah ada geliat kesenian, khususnya seni rupa. Teman-teman pelukis muda bikin Komperta : Komunitas Perupa Delta. Dipimpin Antonius Juniarto Dwi Nugroho, seniman Komperta rajin blusukan ke berbagai kawasan Sidoarjo untuk OTS.

OTS iku opo? ''On the spot. Melukis langsung di lokasi,'' ujar Juniarto yang juga guru seni rupa. OTS ini juga sekaligus mengangkat candi-candi dan tempat wisata di Kabupaten Sidoarjo.

Lama-lama OTS jadi agenda rutin seniman Sidoarjo plus Surabaya dan kota-kota sekitar. Lama-lama lukisan jadi banyak. Lama-lama ada gairah untuk bikin pameran. Jujur aja... Komperta inilah yang sekarang jadi motor penggerak kesenian di Sidoarjo.

Komunitas-komunitas lain pun ikut terprovokasi untuk bangkit lagi. Komunitas Sketsapora makin aktif. Bumbu Pawon yang dimotori Rojib alias Mbah Bey juga makin kenceng. Bung Santoso juga aktif mendampingi perupa-perupa muda.

Pasar Seni di Pondok Mutiara pun hidup lagi setelah mati suri cukup lama. Komunitasnya Jansen Jasien di Krian juga menghidupkan gedung Lokaphala yang mangkrak itu.

Saat ini dua komunitas perupa lagi bikin pameran dalam waktu bersamaan. Komperta gelar pameran bersama dengan tajuk Among Karsa di Taman Budaya Jatim, Gentengkali Surabaya. Ada 21 pelukis Sidoarjo plus Surabaya dan sekitar ikut bergabung. Masing-masing pelukis dibatasi 2 karya.

Luar biasa! Karena itu, saya gembira ketika diminta Mas Juniarto ketua Komperta untuk menyumbang tulisan di katalog Among Karsa. Saya sampaikan apresiasi kepada Komperta yang kembali memanaskan mesin kesenian di Sidoarjo yang macet sangat lama.

Saya juga salut dengan Cak Amdo yang menghidupkan kembali pasar seni yang tidur lama itu. Apalagi kemarin Bupati Sidoarjo Saiful Ilah, Ketua DPRD Sidoarjo Sullamul Hadi Nurmawan, dan beberapa pejabat penting hadir untuk membuka pameran lukisan bertema lingkungan itu.