26 September 2017

Banyak mahasiswa buta EYD

Masalahnya sama dari tahun ke tahun. Para mahasiswa semester akhir, tinggal skripsi, belum menguasai ejaan yang disempurnakan alias EYD. Sebagian besar calon sarjana (bahkan dosen) belum bisa membedakan awal di- (prefiks) dan kata depan di.

Sepanjang tahun 2017 ini saya menjadi pengampu magang beberapa mahasiswa universitas negeri dan swasta di Surabaya. Hampir semuanya gagal di EYD. Khususnya penulisan di- awalan vs di sebagai kata depan.

Si X selalu menulis di terpisah. Misalnya: di cium. Padahal yang benar: dicium.

Si Y sebaliknya. Dia selalu menulis di terpisah - meskipun awalan. Disini disana disitu diatas dibawah disamping.... Yang benar : di sini, di sana, di situ, di atas, di bawah, di samping....

Mengapa generasi yang sangat muda ini, milenial, sangat lemah EYD? Salah siapa? Bukankah di internet sudah ada ribuan artikel tentang EYD, bahasa yang baik dan benar? Buku-buku juga jauh lebih banyak?

Apakah salah dosen di universitas? Saya kira tidak. Dosen-dosen terlalu sibuk untuk memelototi tulisan mahasiswa yang jumlahnya ratusan itu. Apalagi sampai titik koma, EYD dan tetek bengek itu.

Saya cenderung menyalahkan guru-guru di tingkat SD, SMP, dan SMA. Tapi kuncinya di sembilan tahun pertama pendidikan. Kelas 1 sampai kelas 9.

Kalau di sembilan level ini guru-gurunya apatis, tidak mau mengoreksi EYD... ya wassalam. Di SMA dan universitas si pelajar pasti sulit berubah. Jangan harap seorang calon sarjana bisa membedakan kata depan dan awalan di-.

''Guru-guru sekarang itu orientasinya bukan kualitas pengajaran. Idealisme sudah lama luntur,'' ujar GK, guru sebuah sekolah negeri terkenal di Sidoarjo.

Saking hilangnya idealisme, nilai-nilai siswa bisa disulap menjadi sangat kinclong. Maka, jangan heran dalam penerimaan siswa baru beberapa waktu lalu, siswa yang nilai rata-ratanya 90 tidak diterima. Sebab nilai terendah justru 95. Mendekati sempurna.

Wow... pinter-pinter anak sekarang! Tapi kok gak iso EYD???

Indonesia tuan rumah Piala Dunia???

Indonesia mau jadi tuan rumah Piala Dunia 2034? Sebaiknya jangan. Melihat prestasi olahraga NKRI, khususnya sepak bola, Indonesia belum memenuhi syarat untuk jadi tuan rumah pesta sepak bola sejagat itu.

Jangankan Piala Dunia FIFA, jadi tuan rumah Piala Asia pun masih jauh lah. Kualitas sepak bola kita belum ada apa-apanya dibandingkan Jepang atau Korea Selatan. Belum lagi negara-negara Timur Tengah.

Jangankan di Asia, sekadar berkompetisi di Asia Tenggara saja belum sanggup. Padahal 11 negara Asean ini paling lemah di Asia.

Masih jelas dalam ingatan kita, Agustus 2017, timnas Indonesia gagal di SEA Games. Untuk kesekian kalinya dihentikan Malaysia. Timmas seperti tidak berkutik saat menghadapi Malaysia.

Di Piala AFF beberapa tahun lalu juga sama. NKRI keok di kaki Malaysia. Padahal kita pakai pelatih Eropa sekelas Alfred Riedl atau Luis Milla. Sebaliknya Malaysia hanya mengandalkan pelatih tempatan keturunan Tionghoa, Datuk Ong Kim Swee.

Indonesia belum bisa meraih emas SEA Games sepak bola sejak 1991. Sudah 26 tahun. Kapan bisa dapat emas? Saya bertanya ke kemenpora. Tapi tidak ada jawaban tegas. Insya Allah, kata pihak kemenpora via WA.

Karena itu, sebaiknya kita fokus dulu untuk mengangkat sepak bola NKRI di level Asia Tenggara. Jadi juara SEA Games dulu. Tidak usah ngoyo jadi tuan rumah Piala Asia. Apalagi Piala Dunia yang bisa habis Rp 200 triliun.

Saya bahkan menolak Indonesia jadi tuan rumah Asian Games 2018. Tapi pemerintah sudah kadung senang. Seakan-akan event tingkat Asia ini punya manfaat luar biasa.

Lah... di Asia Tenggara saja kita hanya bisa peringkat 5, bagaimana bisa bersaing di Asian Games? Celakanya lagi, selisih medali emas Malaysia (juara umum SEA Games) dengan Indonesia ibarat langit dan sumur.

Celakanya lagi, banyak atlet kita yang keleleran di Malaysia karena manajemen olahraganya kacau. Kok mau jadi tuan rumah Piala Dunia?

24 September 2017

Zow Min Pengungsi Myanmar yang Buddha di Sidoarjo

Ratusan ribu warga Rohingya terpaksa mengungsi gara-gara kebijakan pemerintah Myanmar. Gara-gara isu itu, teman-teman wartawan rajin mendatangi Rusunawa Puspa Agro di Jemundo, Taman, Sidoarjo. Beberapa televisi menurunkan pasukan lengkap dengan mobilnya. Siaran langsung dari Jemundo.

Rumah susun di Puspa Agro memang menampung sekitar 140 pengungsi dari berbagai negara. Pakistan, Afghanistan, Iran, Somalia, termasuk Myanmar. Pencari suaka asal Myanmar ada 13 orang. Dua belas orang beragama Islam, etnis Rohingya, dan satu orang beragama Buddha.

Nah, yang Buddha ini namanya Zow Min. Saking seringnya bertemu, ngopi di warkopnya mbak Sri di Puspa Agro, saya jadi akrab dengan dia. Zow Min pun paling luwes ketimbang pengungsi-pengungsi lain. Potongannya kayak wong Jowo, tinggi 160an cm. Suka senyum dan lancar bahasa Indonesia meskipun ucapannya sering gak jelas. Khususnya huruf R.

''Saya ingin kerja di sini saja. Indonesia ini aman dan tenang. Nggak seperti di negara saya,'' ujarnya seraya tersenyum.

Zow Min tiap hari membantu beberapa tukang warung. Dulu kalau gak salah dia cawe-cawe di warungnya bu Ida. Belakangan di warung pojok. Biasa disuruh-suruh memikul air galonan atau barang-barang berat. Hasilnya bisa untuk beli rokok atau tambahan uang saku.

''Jatah kami sebulan cuma Rp 1.250.000 dari IOM. Cuma untuk bertahan hidup saja,'' ujarnya. IOM dan UNHCR yang selama ini mengurusi kebutuhan para pengungsi mancanegara itu. Termasuk yang membayar sewa rumah susun kepada Pemprov Jatim.

Mengapa Zow Min yang Buddha ikut meninggalkan negaranya bersama orang Rohingya? Sudah pernah saya tulis di sini. Dia jadi sebatang kara karena istri dan anaknya hilang. Tak jelas rimbanya.

Meskipun bukan muslim, Zow Min mengaku tidak punya masalah dengan teman-temannya yang Rohingya. Maklum, nasib mereka sama saja. Sama-sama menunggu negara ketiga yang bersedia menerima mereka. ''Kalau bisa sih saya tinggal di Indonesia saja,'' katanya.

''Lho, orang Indonesia itu juga banyak yang miskin. Jutaan orang jadi TKI di Malaysia, Hongkong, Timur Tengah. Nggak mungkin lah bisa menampung ribuan pengungsi,'' kata saya. Menirukan omongan mbak Sri yang ingin agar pengungsi-pengungsi ini segera pergi ke negara lain. Sebab masih banyak orang Jatim yang lebih membutuhkan rumah susun itu.

Sambil asyik ngobrol, wartawan Kompas TV masuk ke pos keamanan. Minta dipanggil koordinator pengungsi Rohingya. ''Zow Min ini juga dari Myanmar tapi Buddha,'' ujar saya. Teman dari Kompas TV itu pun tampak tertarik dengan Mas Paijo, sapaan akrab Zow Min.

Kemudian Paijo alias Zow Min beranjak ke rusunawa untuk memanggil temannya, Muhammad Suaib, ketuanya Rohingya. Dialah yang selama ini jadi narasumber para wartawan. ''Kami sudah bosan di sini. Cuma makan tidur aja. Keluar juga harus izin. Tidak boleh kerja,'' katanya.

Yah... namanya aja pengungsi, pencari suaka, ya begitu. Masih untung dapat jatah bulanan, tinggal di rusun yang bagus di Sidoarjo. Ketimbang ratusan ribu pengungsi Rohingya yang tinggal di tenda-tenda di Bangladesh dsb.

Suab dkk dari Myanmar tinggal di Sidoarjo sejak 2013. Mereka sudah di-screening oleh IOM dan UNHCR agar bisa dikirim ke negara ketiga. Tapi tidak ada kepastian berangkat. Ironisnya, kondisi di Rakhine daerah asal mereka makin tidak karuan. Mata dunia pun tertuju ke sana.

Suaeb, Zow Min... dan kawan-kawan hanya bisa menanti dan menanti. Sampai kapan?

September memang bulan yang super panas

September memang bulan yang panas. Dari dulu juga begitu. Tapi sebagian besar orang Indonesia, khususnya Surabaya dan Sidoarjo, lupa dengan fenomena alam ini. Begitu banyak orang yang menggerutu. Bak orang Eropa dekat kutub utara yang setiap hari menikmati suhu ekstrem dingin.

Syukurlah, beberapa media di Surabaya selalu berinisiatif untuk menjelaskan siklus alam yang disebut EQUINOX ini. BMKG Juanda juga berusaha menjelaskan peristiwa setiap bulan September ini secara seserhana. Bahwa tiap 23 September posisi matahari berada di garis katulistiwa. Di atas daratan Indonesia.

Ya... terang saja cuaca begitu teriaknya. Menyengat. Apalagi di musim kemarau yang kering seperti tahun 2017 ini. Beda dengan tahun lalu yang masih banyak hujan di musim kemarau.

''Suhu di Surabaya meningkat hingga 34-35 derajat celcius,'' ujar Agatha dari BMKG Juanda di Sedati Sidoarjo.

Tapi rupanya banyak warga Surabaya yang termakan isu di media sosial. Katanya suhu bisa mencapai 40 derajat celcius. Super panas. Betul begitu? ''Hoax itu,'' kata Agatha.

Temperatur 37 celcius pun hanya pernah terjadi di NTT. Surabaya memang panas, apalagi September, tapi belum sampai 40. Gerakan penanaman pohon sejak wali kota Bambang DH hingga Risma lumayan membantu meredam suhu tinggi.

''Tapi di aplikasiku kok suhunya 43 derajat celcius?'' ujar Kris, warga Gedangan Sidoarjo.

Di papan digital Wonokromo pun sering tertera angka 38, 39, hingga di atas 40 celcius. Kok berbeda dengan versi BMKG? Jelas lah. Termometer dan alat-alat lain di BMKG pasti jauh lebih akurat.

Rupanya mata pelajaran lama, Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa (IPBA), perlu diajarkan lagi di sekolah-sekolah. Agar rakyat tidak kaget dengan gerakan semu matahari, equinox, rotasi bumi, revolusi dsb.

Bahwa matahari seolah bergerak ke selatan menuju titik 23,5 lintang selatan. Nanti kembali ke katulistiwa pada 23 Maret sehingga terjadi equinox lagi menjelang kemarau. September ini equinox untuk mempersiapkan musim hujan. Siklus alam yang sudah berjalan selama jutaan tahun silam.

Khusus di Indonesia, fenomena alam equinox yang ekstrem panas setiap September ini menjadi lebih panas lagi gara-gara selalu muncul isu PKI, komunis, ekstrem kiri, ateisme dan sejenisnya. Polemik nonton bareng film Pengkhianatan G30S PKI lagi ramai di Indonesia.

Karena itu, lagu lama September Ceria ciptaan James F. Sundah (vokal Vina Panduwinata) sebetulnya tidak cocok dengan suasana di Indonesia. Panas suhunya... panas politiknya. Apanya yang ceria kalau konflik ideologis tahun 1965 ini tidak ada ujungnya?

Semoga September cepat berlalu!

22 September 2017

Nonton film Pengkhianatan G30S PKI

Semalam saya nonton film Pengkhianatan G30S PKI yang sangat terkenal itu. Bukan nonton bareng tapi nonton sendiri. Di Youtube. Sudah lama film propaganda ini diunggah di Youtube.

Karena itu, acara nobar sebetulnya tidak relevan. Apalagi kalau nobar itu pakai instruksi seperti zaman saya sekolah dulu. Pasti ada agenda politiknya.

Lebih baik biarkan saja rakyat nonton film yang durasinya 3,5 jam itu. Bisa disaksikan kapan saja.... tidak harus September. Khususnya 30 September. Mau nonton sehari tiga kali atau 10 kali silakan. Tidak ada yang larang.

Apa yang menarik dari film bikinan sutradara Arifin C. Noer, atas pesanan orde baru, itu? Tidak ada. Maklum sudah sering kita nonton di masa orba dulu. Pakai layar tancap. Isinya sama dengan pelajaran sejarah versi orba, PSPB, buku putih dan berbagai dokumen versi orba lainnya.

Yang jadi masalah adalah narasi tentang G30S itu tidak lagi tunggal seperti di zaman Soeharto. Sejak reformasi muncul banyak kajian dan publikasi tentang kejadian yang mengubah wajah Indonesia itu. Sekaligus menjadikan Pak Harto sebagai presiden selama 32 tahun.

Lantas, mengapa panglima TNI getol meminta masyarakat untuk nonton bareng G30S PKI? Selain alasan sejarah seperti dikutip di televisi, panglima yang berasal dari TNI AD (di film ini pakai istilah Adri) jadi lakon protagonis. Aidit dkk dari PKI jadi antagonis yang jahatnya seperti setan.

Situasi politik global sudah jauh berubah. Perang dingin sudah lama berakhir. Komunisme sebagai ideologi bangkrut di mana-mana. Tapi sebagian besar orang Indonesia, khususnya pimpinannya, masih berpikir seakan-akan kita masih di tahun 1965 atau awal 1970an.

18 September 2017

Sayur kelor mulai disukai di Jatim

Tak jauh dari Stadion Jenggolo Sidoarjo, belakang ruko lama, ada taman yang luas. Selain mangga, terong, aneka bunga, ada juga kelor. Cukup banyak tanaman kelor yang batangnya lumayan besar. Masih hijau di musim kering ini.

''Kok tidak dibuat sayur? Enak banget lho!'' pancing saya.

Pak Yanto, pengurus taman dan tokoh perumahan, tertawa kecil. Saya pun maklum. Di Jawa memang orang tidak biasa makan jangan kelor. Tabu. Sebab tanaman yang biasa tumbuh di daerah kering itu biasa dipakai untuk menangkal ilmu sihir, ilmu hitam, jimat, dan sebangsanya.

Mayat-mayat orang yang dianggap punya banyak ilmu (hitam) pun biasanya dibersihkan dengan kelor. Orang-orang yang pakai susuk juga begitu alergi dengan kelor. Susuknya bisa hilang tuahnya.

Lain di Jawa, lain di NTT. Khususnya di Flores Timur dan Lembata. Kelor atau merungge (marunggai) atau motong (bahasa Lamaholot) justru sangat populer. Hampir tiap hari orang makan sayur kelor. Tanaman yang tumbuh liar di halaman, ladang, hutan... tanpa perawatan.

Cara memasaknya pun semudah mi instan. Cukup dimasukkan ke air mendidih, diaduk, dikasih sedikit garam dan bumbu. Beres. Rasanya enak dan segar menurut lidah NTT. Sayur kelor ini juga sering disiramkan ke jagung titi (semacam emping jagung khas Flores Timur dan Lembata).

Bisa menghilangkan ilmu sihir? Di NTT tidak ada kepercayaan itu. Dukun-dukun kampung yang dianggap sakti di NTT pun saya lihat doyan merungge. Toh ilmunya tidak hilang.

Di internet dan koran di Surabaya akhir-akhir ini sering diberitakan khasiat tanaman kelor. Banyak banget. Katanya mencegah jantung koroner, kanker, diabetes, sakit mata, dsb dsb. Buku-buku tentang kelor juga mudah dijumpai di toko buku.

Karena itu, sudah mulai ada inisiatif dari ibu-ibu PKK untuk mengolah kelor menjadi aneka makanan. Yang paling ramai di Sukorejo, Bungah, Gresik. ''Bisa dibuat cemilan, sayuran, minuman dsb,'' kata Sri Ludiana, pengurus PKK Sukorejo.

Awalnya tidak mudah meyakinkan masyarakat untuk mengonsumsi kelor. Apalagi yang sudah telanjur percaya dengan sihir, klenik, dan sebagainya. Namun perlahan-lahan cemilan dari kelor itu mulai disukai. Apalagi setelah beredar informasi tentang khasiat daun kelor di internet.

''Kalau saya sih gak akan makan kelor. Kelor di halaman rumah saya ini hanya untuk hijau-hujauan,'' kata Gunawan, warga Ngagel, Surabaya.

16 September 2017

Pelukis Dharganden tutup usia



Satu lagi seniman Kota Delta berpulang ke pangkuan Sang Khalik. Dharganden, pelukis senior asal Tanggulangin, Sidoarjo, meninggal di kediamannya Perumtas II karena sakit hati dan ginjal. Komplikasi penyakit di tubuhnya ternyata sudah lama.

Kepergian pelukis yang aktif berkarya di Kampung Seni Pondok Mutiara itu tak ayal mengagetkan kalangan seniman di Sidoarjo, Surabaya, dan kota-kota lain di tanah air. Maklum, selama ini Dharganden selalu terlihat ceria, semangat, murah senyum, dan jarang sakit.

''Saya sendiri terkejut banget karena Mas Dar tidak pernah mengeluh sakit. Energi dan staminanya luar biasa untuk berkarya,'' ujar Amdo Brada, pelukis senior yang juga sahabat akrab almarhum Dharganden.

Lahir di Tanggulangin, 56 tahun silam, Dharganden dikenal luwes dan mudah bergaul dengan siapa saja. Meski sudah malang melintang di jagat seni rupa nasional, pria bernama asli Darsono itu oke-oke saja diajak melakukan pameran bersama dengan pelukis-pelukis yang jauh lebih muda.

''Almarhum tidak senang diajak diskusi dan mau membagi ilmunya,'' ujar Muhammad Bella Bello, pelukis muda asal Desa Siring, Porong, yang kini hijrah ke Desa Penambangan, Balongbendo.

Dharganden juga selalu menekankan kepada anak-anak muda untuk berkarya dengan media apa saja. Seni rupa tidak harus mahal. Melukis bisa di mana saja. Itulah yang terlihat saat pameran bersama bertema daur ulang di Pondok Mutiara. Saat itu Darganden menggunakan papan-papan bekas untuk melukis berbagai objek menarik.

Lukisan karya Dharganden dan kawan-kawan itu dipamerkan di alam terbuka. Tepat di jalan masuk ke kompleks ruko lawas di Pondok Mutiara. Bupati Sidoarjo Saiful Ilah, Ketua DPRD Sidoarjo Sullamul Hadi Nurmawan, dan beberapa pejabat pemkab sempat mengapresiasi karyanya.
''Jadi, pameran lukisan itu tidak harus di hotel atau gedung yang mahal. Di mana saja bisa,'' ujar seniman yang gemar merokok itu.

Dharganden berencana menggelar pameran lukisan pada Oktober 2017. Maka, dia pun bekerja keras, lembur untuk menghasilkan lukisan-lukisan baru. Tapi rupanya Allah berkehendak lain....

Jenazah almarhum Dharganden dibumikan di makam umum Desa Kalisampurno, Tanggulangin. Tak jauh dari tanggul lumpur Lapindo. Selamat jalan Cak Dar! (*)

KRIS MARIYONO, pengamat seni rupa Jawa Timur, menulis:

Seniman lukis Dharsono yang memiliki nama populer Dharganden tidak hanya mampu mewujudkan kreasi karya yang unik dan naif. Dia juga pelukis yang fenomenal. Nilai fenomenal Dharganden yang paling tinggi ketika pelukis kelahiran Surabaya 17 Agustus 1957 ini menggelar Pameran Tunggal kedua bertajuk Lingkungan Terkoyak di Galaeri Surabaya 29 Mei hingga 5 Juni 2009.

Saat itu Dharganden menampilkan salah satu lukisan dari kurang 15 lukisan yang dipamerkan berukuran panjang 13 meter lebar 120 sentimeter. Lukisan terpanjang itu menggambarkan tentang kepanikan masyarakat yang mengalami musibah bencana Lumpur Lapindo.

Memang sangat detail dan tematis pelukis yang juga dikenal sebagai ahli taman ini mengangkat persoalan lumpur Lapindo karena keluarganya merupakan salah satu korban Lumpur Lapindo di kawasan Ketapang Keres, Porong, Sidoarjo.

Pengamat seni rupa Henri Nurcahyo memberikan apresiasi bahwa bencana Lumpur Lapindo sebagai sumber inspirasi yang luar biasa bagi Dharganden yang terlibat langsung secara fisik kemudian diwujudkan dalam karyanya. Karyanya itu pun bukan sebuah eksploitasi atau dramatisasi bencana, melainkan menjadi semacam jeritan yang artistik.

Mengenali karya-karya Dharganden tidak terasa nuansa yang mendayu-dayu. Goresan-goresan karyanya tidak sedang berteriak-teriak dengan nada protes. Dharganden telah menemukan caranya sendiri bagaimana menyuarakan substansi bencana dengan tampilan yang artistik tanpa terjebak dalam karya yang semarak.

Dharganden kini tidak akan lagi melukis dari realitas yang hendak diungkapkan. Kenapa? Karena pria yang akrab dan senang berdiskusi mengenai persoalan seni rupa itu telah kembali ke hadirat Ilahi Robbi pada 16 Sepetmber 2017. Ia meninggalkan sejuta kenangan tentang berbagai karyanya yang sarat persoalan sosial.

Selamat jalan Dharganden! Semoga Allah Maha Pemurah memberikan tempat yang lapang dan ampunan dosa!

06 September 2017

Wajah bopeng orang Indonesia di media sosial

Gara-gara Rohingya, orang Indonesia sibuk perang kata di media sosial. Isu SARA pun menguat lagi. Ada yang ingin mengepung Candi Borobudur segala.

Lah.. kok Borobudur? Salah apa candi yang jadi salah satu keajaiban dunia itu? 

Betul Borobudur candi yang dulu jadi tempat puja bakti umat Buddha di nusantara. Tapi sudah lama banget, jauh sebelum NKRI merdeka, Candi Borobudur jadi cagar budaya milik bangsa Indonesia. Bukan milik orang Buddha aja.

Tadinya saya pikir setelah Ahok dipenjara dua tahun, obrolan dan diskusi di medsos lebih positif. Lebih produktif. Nyatanya tidak. Medsos tetap aja rame. Selalu ada isu baru yang digoreng dengan bumbu SARA yang sangat pedas. 

Ternyata banyak sekali teman yang resah dengan situasi ini. Salah satunya Mas Hendro jurnalis senior Surabaya. Saya baca sekilas catatannya di fesbuk. 

Hendro D. Laksono:
''Lha yo. Biyen aku sempat mikir. Ahok dipenjara trus sosmed iso anteng, adem. Nang dunia nyata kene iso guyon mesra ambek jambak-jambakan maneh. Ternyata enggak. Bendino jek dipekso moco wong gegeraaaan ae...''

Ada lagi orang Surabaya yang gumun. Ke mana ciri khas bangsa kita yang welas asih, toleran, gotong royong dsb itu? 

Hehehe... 

Memangnya bangsa Indonesia itu welas asih dan toleran? Di medsos wajah penghuni NKRI ini tampak beda dengan citra yang dikembangkan selama ini. Muka kita ternyata sangar, bopeng... menghalalkan segala cara untuk kepentingan politik ekonomi ideologi dsb.

Termasuk jualan berita palsu untuk dapat duit. Alamak....

02 September 2017

Surabaya kota nomor 10

Ada baiknya juga berada di daerah yang tidak punya sinyal internet. Bisa fokus membaca koran atau buku. Berita-berita kecil yang biasanya dilewatkan di Surabaya akhirnya bisa dipelototi. Termasuk iklan-iklan yang banyak itu.

Salah satu berita ringan di koran lama, Jawa Pos 28 Agustus 2017, membuat saya senyum sendiri di kawasan perhutani Trawas Mojokerto. Berita tentang seminar motivasi di kampus Universitas NU Surabaya. Dahlan Iskan, mantan menteri BUMN, seperti biasa jadi bintang di seminar itu.

Pak Bos, sapaan Dahlan Iskan di kalangan karyawan JP Group, mengatakan gap ekonomi Jakarta dan Surabaya semakin jauuuh. Surabaya bukan kota terbesar kedua. "Surabaya itu peringkat ke-10," kata mahagurunya sebagian besar wartawan di Indonesia itu.

Lalu, kota nomor 2 sampai 9? Jawabannya: Jakarta Jakarta Jakarta.... "Jakarta dan Surabaya bukan lagi langit dan bumi, tapi langit dan sumur," kata ayah dua anak yang sempat ganti hati di Tianjin Tiongkok itu.

Gap ekonomi, bisa juga perputaran uang ini, sudah lama terjadi di Indonesia. Uang menumpuk di ibukota NKRI. Alih-alih menyebar ke luar Pulau Jawa, di kota-kota besar Jawa saja cuma kecipratan sedikit. Dulu, awal 2000-an, Pak Dahlan selalu bilang Surabaya itu kota nomor 6 di NKRI. Nomor 1 sampai 5 Jakarta.
Artinya, gapnya makin lebar? Rupanya begitu yang ditangkap Pak Dahlan. Dan... ini bukan sekadar guyon suroboyoan karena diucapkan Pak Dahlan yang sempat jadi dirut PLN, kemudian menteri BUMN. Beda dengan pernyataan 'Surabaya kota nomor 6' ketika Pak Bos belum jadi pejabat di pusat.

Presiden Jokowi pasti sadar akan gap ekonomi yang luar biasa ini. Pun sudah banyak program untuk memajukan daerah-daerah. Tapi rupanya kabinet kerja belum berhasil mengurangi ketimpangan itu. Jakarta justru makin meleset jauh meninggalkan kota-kota lain.

Mungkinkah pemindahan ibukota NKRI dari Jakarta ke Kalimantan (atau kota lain di luar Jawa) bisa sedikit demi sedikit mengurangi gap ini? Kita tunggu.

27 August 2017

Malaysia masih terlalu tangguh

Pelatih sekaliber Luis Milla pun tidak mampu membuat tim nasional sepak bola kita berjaya di Asia Tenggara. Beberapa menit lalu Evan Dimas dkk dihentikan Malaysia di semifinal. Medali emas SEA Games pun masih tetap jadi impian panjang.

Terakhir kali kita meraih emas sepak bola di SEA Games 1991. Dua puluh enam tahun silam. Entah kapan timnas mampu jadi juara di ASEAN. Kumpulan 11 negara yang sama-sama sepak bolanya kurang maju.

Lah, di Asia Tenggara saja tidak bisa juara... bagaimana mau melejit ke Asia? Ikut Piala Dunia? 

Kita memang pantas kalah dari Malaysia. Meskipun Malaysia sebetulnya tidak bagus-bagus amat. Kita pantas kalah karena tidak mampu memanfaatkan peluang. Mandul di depan gawang. Sebaliknya, Malaysia mampu memanfaatkan bola lambung dari sepak pojok.

Apa yang salah dari sepak bola Indonesia? Kok selalu gagal di tangan Malaysia? Luis Milla, pelatih timnas kita, jelas bukan coach ecek-ecek. Milla bekas pelatih timnas Spanyol junior yang hebat. Milla juga mantan pemain Real Madrid. 

Tapi Luis Milla bukanlah tukang sihir yang bisa menyulap timnas jadi juara ASEAN atau Asia. Pembinaan sepak bola harus ditangani serius sejak usia sekolah dasar. Fondasinya harus kuat. Jangan harap timnas kuat jika pembinaan usia dini, remaja, dsb belum ditata dengan baik.

Luis Milla jelas gagal... kalau merujuk ke target medali emas dari Pak Eddy ketua PSSI. Tapi apakah dipecat seperti pelatih-pelatih-pelatih sebelumnya? Bisa saja. Sudah terbukti bahwa pelatih sekaliber Milla pun tidak mampu membawa Indonesia jadi juara SEA Games alias ASEAN. 

Lupakan dulu Piala Dunia atau Piala Asia. Asian Games. Level Indonesia masih jauh di bawah negara-negara kuat Asia macam Arab Saudi, Iran, Irak, Jepang, Korea Selatan, apalagi Australia. Bahkan dengan Malaysia pun kita masih kedodoran. 

Indonesia hanya sedikit di atas Timor Leste. Cuma bisa menang 1-0. Itu pun dengan susah payah.

24 August 2017

Musik Siter Bu Warsini di Ambang Punah

Bu Warsini namanya. Sudah 10 tahun lebih saya menikmati permainan musiknya yang bikin hati tenang. Alat musik siter atau kecapi dipetik wanita asal Wonoayu Sidoarjo ini dengan skill tingkat tinggi. Lalu kadang ditingkahi dengan tembang Jawa.

Dulu, sekitar 2005, pelukis senior Bambang Thelo dan Thalib Prasodjo (keduanya sudah almarhum) sering nganggap Bu Warsini untuk menghibur sesama seniman di Akar Jati Cafe, dekat Gelora Delta. Dikasih Rp 50 ribu aja pemusik siter ini matur nuwun. Apalagi 100 ribu atau lebih.

''Kalau kita tidak ikut menghidupi... tidak lama lagi musik siter jowo ini akan hilang. Coba anda cari di seluruh Sidoarjo, berapa orang yang masih main siter? Mungkin gak sampai lima orang,'' ujar Bambang Thelo pelukis yang doyan menggambar tekek alias tokek. Makanya disapa Eyang Tekek.

Ketika kafe plus galeri itu masih ada, Bu Warsini dapat slot tampil reguler. Honornya sedikit tapi selalu ada saweran dari pengunjung kafe. Lumayan kalau dikumpulkan dari hari ke hari. ''Alhamdulillah, ada saja rezeki dari Tuhan. Saya bisanya hanya main siter,'' ujar Bu Warsini.

Sayang, umur Akar Jati ternyata tidak panjang. Eyang Thalib dan Eyang Tekek pun sudah kembali ke pangkuan Sang Pencipta. Maka saya pun tak lagi menikmati instrumentalia tunggal ala Bu Warsini. Katanya sih ngamen dari warung ke warung di Sidoarjo. Dalam kota.

''Biasanya Bu Warsini main di dekat kantor pos,'' kata Pak Totok, pengasuh Napak Tilas JTV, yang juga pimpinan Pusat Lembaga Kebudayaan Jawa. ''Beliau masih mau nguri uri budaya dengan melakukan pertunjukan musik keliling dari depot ke depot.''

Pak Totok sendiri korban lumpur Lapindo. Dua rumah warisan di Siring, tak jauh dari pusat semburan lumpur, sudah lama tenggelam. Kehidupan rumah tangganya dengan Mbak Hesti pun tidak mulus lagi. Maka perhatiannya terhadap seni budaya jauh berkurang.

''Sekarang ini seniman tradisi seperti Bu Warsini harus berjuang sendiri untuk bisa bertahan. Berat banget... tapi lumayan banyak orang yang mau nyumbang,'' kata Pak Totok.

Bagaimana dengan pemerintah daerah? Dinas pariwisata dan kebudayaan? Dewan kesenian? Rupanya tak banyak harapan. Seni budaya sepertinya diserahkan ke pasar. Tentu saja seni tradisi seperti musik siter ini tinggal menunggu ajal karena pemainnya sudah lanjut usia.

Itu pula yang terjadi dengan wayang wong atau ketoprak yang sudah lama hilang di Sidoarjo. Ludruk masih ada tapi sekarat. ''Mestinya ada pemihakan dari pemerintah. Sayang kalau sampai hilang,'' ujar Alfian mantan duta wisata.

Mas Nonot, pengurus Dewan Kesenian Jatim, yang tinggal di Taman Sidoarjo, menjawab pertanyaan saya tentang musik siternya Bu Warsini yang terancam punah. Begini isinya:

''Karena tidak ada regenerasi, di samping itu pengembangan seni tradisi tidak ditangani dengan benar. Seni tradisi hanya dianggap kelangenan bukan sebagai bagian dari jati diri budaya bangsa, maka jangan berharap akan lestari.''

Waduh....

Orang dewan kesenian pun pesimistis melihat seni tradisi yang kian meranggas. Bagaimana pula dengan masyakarat yang kian menjadi penikmat musik pop modern dan aneka hiburan di era digital? Sulit membayangkan seniman tradisi kayak Bu Warsini harus bersaing dengan Raisa, Rossa, Ayu Ting Ting, Agnes Monica....

Indonesia makin terpuruk di SEA Games

Indonesia kelihatannya terseok-seok di SEA Games. Masih ada harapan untuk menambah medali tapi sudah pasti tidak akan bisa jadi juara. Posisi kedua pun sulit.

Betapa jauhnya perolehan medali Malaysia (peringkat 1) dengan Indonesia. Dengan Singapura saja jauh. Kok Indonesia tidak berdaya di Asia Tenggara? Padahal 11 negara yang ikut SEA Games ini sebenarnya sangat rendah levelnya di Asia. Gak usah ngomong olimpiade lah!

Di sepak bola tim nasional kita juga kelihatan susah banget mengalahkan Timor Leste. Cuma menang 1-0. Padahal, dulu, ketika masih ikut NKRI, anak-anak Timtim tidak bisa main bola. Lawan NTT, yang sepak bolanya sangat lemah, pun selalu kalah.

Tapi Timor Leste perlahan-lahan mulai maju. Skill, taktik, goreng bola... sudah bagus. Kalau tidak hati-hati, suatu ketika Indonesia jadi bulan-bulanan bekas provinsi ke-27 itu.

Saya jadi teringat masa kecil ketika menyaksikan SEA Games di TVRI. Hitam putih. Milik seorang pejabat Kabupaten Flores Timur di Larantuka. Wuih... atlet-atlet-atlet Indonesia sepertinya gampang banget dapat emas. Emas emas emas... perak... perunggu.

Indonesia pun jadi juara umum dengan mudah. Perolehan medali emas Indonesia saat itu jauh dibandingkan negara-negara lain. Malaysia? Tidak masuk hitungan.

Lah, Indonesia sekarang kok mirip negara kecil? Jadi figuran di pesta olahraga Asia Tenggara? Kalah jauh dari Malaysia dan Singapura?

Pasti ada banyak yang salah dalam pembinaan olahraga kita. Selain itu, lawan-lawan kita sudah belajar dari kegagalan masa lalu.. dan berbenah. Kita ibarat raksasa limbung yang tertidur pulas.

Saat menyaksikan timnas Indonesia vs Vietnam, saya melihat pemain-pemain kita dalam tekanan berat. Pola permainan tidak jalan. Untung seri 0-0. Indonesia seperti kalah kelas dari Vietnam.

Sangat miris. Bukan apa-apa. Vietnam (juga Laos, Kamboja, Myanmar) adalah negara-negara yang tercabik perang saudara selama puluhan tahun. Indonesia dulu bahkan menyiapkan pulau khusus untuk menampung ribuan pengungsi dari negara-negara ini.

Hebatnya, setelah perang berlalu, Vietnam Laos Kamboja Myanmar mulai menata diri. Gencar membangun. Termasuk bidang olahraga. Hasilnya dahsyat. Indonesia yang dulu raksasa ASEAN sekarang justru jadi kerdil di bidang olahraga. Dan bidang-bidang lain.

Cak Imam, menpora, target sampean Indonesia peringkat berapa? Pak Menteri yang dulu tinggal di Jabon Sidoarjo ini kelihatan cuma ngomong ngalor ngidul di televisi. Gak jelas. Karena memang dia tahu betul peluang Indonesia untuk finis tiga besar pun sulit.

Masih lumayan ada insiden bendera terbalik yang dibuat panitia SEA Games. Kita bisa maki-maki Malaysia yang panen medali emas.

16 August 2017

Prabowo Muda Sering Digoda Cewek di London

Oleh THREES NIO



Kriiiiingg.....
Can I speak with Bowo, please?
Who's speaking here?
Jane.

Demikianlah telepon di rumah keluarga Dr Sumitro di London setiap saat berdering. Kebanyakan telepon-telepon itu berasal dari gadis-gadis Inggris cilik yang ingin bicara dengan Bowo.

Nama lengkapnya Prabowo Subiyanto, anak ketiga Dr Sumitro, yang sering dikejar-kejar oleh gadis-gadis cilik karena parasnya yang cakep. Kali ini Jane yang ingin bicara. Lima menit kemudian Margareth. Lain kali Rose. Akan tetapi, gadis-gadis cilik ini kerap kali dibuat kecewa. B

Prabowo yang baru berusia 15 tahun dan belum suka cewek-cewekan sering kali membentak mereka agar jangan mengganggunya di rumah. ''I've told you many times not to call me at home!''

Prabowo sudah beberapa tahun menetap di London bersama ibunya Ny Dora Sumitro, kakaknya Maryani Ekowati, dan adiknya Hashim Suyono. Kakaknya yang sulung Biantiningsih yang berusia 19 tahun telah setahun lebih meninggalkan mereka untuk belajar pada Universitas Wisconsin, Amerika Serikat. Sedangkan ayahnya, Prof Dr Sumitro Djojohadikusumo, dalam enam bulan hanya satu minggu tinggal bersama mereka.

Di sini nampaklah betapa beratnya kehidupan Ibu Dora Sumitro, seorang wanita Manado, sebagai seorang ibu dari 4 orang anak yang selalu harus berpisah dengan suaminya di tempat asing. Problem-problem rumah tangga kerap kali harus dipecahkannya seorang diri.

Salah satu problem misalnya Hasyim, yang ketika meninggalkan Indonesia baru berusia tiga tahun, kini sama sekali tidak dapat berbahasa Indonesia. Untunglah anak-anak tersebut dalam bidang pendidikan tidak banyak menimbulkan kesulitan bagi ibunya. Mereka semua pada umumnya mewarisi kepandaian ayahnya.

Prabowo sangat menonjol sekali kecerdasannya di sekolah sehingga ia meloncat satu kelas. Kini duduk bersama dengan kakaknya Maryani di kelas dari sebuah sekolah menengah di London. Menurut rencana, keluarga Sumitro akan kembali ke tanah air setelah kedua anak ini lulus.

Kehidupan di London ini jika dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya jauh lebih bahagia. Pada saat permulaan hidup pengembaraan mereka, 1957-1958, mereka jauh lebih banyak mengalami kesengsaraan.

Ketika meninggalkan Indonesia pada 10 Mei 1957, mereka mengungsi ke Singapura. Di sini mereka tidak tinggal lama. Kemudian Dr Sumitro kembali ke Manado untuk mondar mandir di daerah-daerah, khususnya di Padang dan Palembang.

Tahun 1958 untuk kedua kalinya mereka meninggalkan tanah air untuk mengembara di Singapura, Kuala Lumpur, Zurich, dan akhirnya London. Di Singapura dan KL mereka hanya tinggal kira-kira satu setengah tahun karena tidak dikehendaki oleh pemerintah negara-negara tersebut. Demikian pula di Zurich permintaan perpanjangan izin mereka tidak dikabulkan.

Dr Sumitro sendiri mondar mandir dari satu negara ke negara lain. Hanya kadang-kadang saja singgah ke rumah mengunjungi anak istrinya. Terutama di Bangkok, Singapura dan Kuala Lumpur Dr Sumitro sering tinggal karena ia membuka kantor penasihat ekonomi yang diberi nama Economic Consultant for South East Asia sekadar untuk mencari nafkah bagi hidupnya.

Sumber: Kompas 11 Juli 1967

15 August 2017

Patung Jayandaru Sidoarjo Pindah ke Finna Golf Pandaan

Ribut-ribut patung Dewa Kwang Kong di Tuban mengingatkan kita pada kisruh patung di Alun-Alun Sidoarjo. Tepatnya di monumen Jayandaru di tengah Kota Sidoarjo. Kejadiannya menjelang pemilihan bupati tahun 2015.

Singkat cerita, patung nelayan, petani, dan wong cilik di tambak karya Nyoman Winten dari Bali itu diturunkan. Padahal Sekar Laut Group mengeluarkan biaya tak sedikit untuk produksi patung, pemasangan, transportasi dsb. ''Kami mengikuti aspirasi yang berkembang di masyarakat,'' begitu ucapan pihak Sekar Laut.

Apakah tidak ada izin? Belum koordinasi dengan pemkab? Tidak dijelaskan. Yang pasti, perusahaan pengolahan hasil laut ini punya tim analisis yang canggih.

Menghabiskan uang miliaran rupiah untuk patung untuk diturunkan? Mending dipakai untuk perbaikan sekolah-sekolah atau jalan desa yang rusak.

Pekan lalu saya mampir ke Finna Golf di Pandaan Pasuruan. Lapangan golf yang hijau dan asri ini milik Sekar Laut. Ternyata patung eks Sidoarjo itu dipasang di sana. Di jalur trek para pejalan kaki.

Karena itu, tidak banyak warga yang tahu ada patung-patung realis yang begitu detail khas seniman Bali itu. Maklum, kawasan Finna Golf ini memang eksklusif buat para tamu yang ingin main golf atau sekadar mampir ngopi plus istirahat.

''Membuat patung manusia di Jawa Timur memang masih rawan karena masyarakat punya persepsi yang berbeda,'' kata Santoso seniman patung di Gedangan Sidoarjo. Cak San ini pembuat patung Cak Durasim di Taman Budaya Jatim, Jalan Gentengkali Surabaya.

Apresiasi terhadap seni rupa tiga dimensi memang masih payah di sini. Apalagi kalau sudah ada muatan politik SARA di dalamnya. Karena itu, Santoso lebih sering membuat patung manusia di luar Jawa. ''Kalau di Sidoarjo, saya yang paling banyak membuat patung udang dan bandeng. Pasti aman,'' katanya.

11 August 2017

Kisruh Gereja Bethany di Nginden

Gereja Bethany kembali jadi berita di koran umum. Bukan kabar tentang kebaktian kebangunan rohani dengan pembicara pendeta USA atau bule... tapi konflik internal. Waduh, gak asyik blas!

Selain di koran, beberapa televisi lokal juga mengangkat berita seputar gereja aliran karismatik yang sangat terkenal itu. Ratusan jemaat menghadang petugas yang hendak mengeksekusi gereja lama di Nginden Surabaya. Bangunan bersejarah yang menjadi cikal bakal Bethany hingga jadi gereja sebesar sekarang.

Sebetulnya ini konflik lama. Saling klaim kepengurusan antara Pendeta Abraham Alex Tanuseputra vs Pendeta Leonard Limanto. Sama-sama pendeta senior. Dulunya akrab, rekan kerja sehati sepikir di kebun anggur Tuhan. Tapi... begitulah, di tengah jalan ada polemik, beda pendapat, kepentingan hingga mencuat keluar.

Singkat cerita, gereja lama di Nginden Intan itu tidak jadi disita. Ditunda karena penolakan itu. ''Eksekusi ini salah sasaran. Masalahnya kan sengketa kepengurusan,'' kata Hans pengacara Bethany.

Apa boleh buat. Konflik internal di tubuh gereja yang (dulu) biasanya bisa diselesaikan secara musyawarah mufakat di tingkat sinode, kini harus dibawa ke ranah hukum. Maka media massa pun mengungkap secara detail plus bumbu-bumbu opini yang cenderung menyudutkan bapak-bapak pendeta itu.

Hikmah kebijaksanaan bapak-bapak pendeta juga makin hilang justru di usia senja. Ternyata memang lebih mudah berkhotbah - tentang cinta kasih, sehati sepikir, saling mengampuni, doa Bapa Kami dsb dsb - ketimbang mempraktikkannya sendiri.

Kutipan ini sering banget dikhotbahkan pendeta atau pastor di gereja.

Matius 5 : 23-24:

''Sebab itu, jika engkau mempersembahkan persembahanmu di atas mezbah dan engkau teringat akan sesuatu yang ada dalam hati saudaramu terhadap engkau,
tinggalkanlah persembahanmu di depan mezbah itu dan pergilah berdamai dahulu dengan saudaramu, lalu kembali untuk mempersembahkan persembahanmu itu.''

10 August 2017

Ayo kerja! Kerja nyata! Kerja bersama!

Gaya bahasa Presiden Joko Widodo berbeda dengan bahasa pejabat Orde Baru. Juga beda dengan gaya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang masih ada nuansa orba. SBY juga masih kental gaya jenderal angkatan darat.

Jokowi ini gaya bahasanya swasta khas rakyat yang bukan pejabat. Mirip Presiden Gus Dur yang juga sangat komunikatif khas kiai NU. Jokowi tidak sefasih Gus Dur. Maklum, sebelum jadi presiden, setiap hari Gus Dur ceramah di banyak tempat.

Omongan Gus Dur membuat para mahasiswa jelang akhir orba, macam saya, terpukau. Rasanya sangat rugi kalau kita tidak mengikuti ceramah Gus Dur di kota kita atau kota tetangga. Tema-tema keagamaan selalu ditarik jadi masalah sosial politik ekonomi budaya ideologi dsb.

Jokowi bukan presiden yang jago ngomong. Khususnya di awal jadi kepala negara. Tapi lama-lama dia punya kekhasan yang menarik. Naskah pidato tidak selalu dibaca apa adanya. Sering dibaca sedikit lalu improvisasi sendiri. Asyik juga.
Gaya Jokowi yang efisien terlihat dalam tema Hari Kemerdekaan. Sudah tiga tahun ini tema tujuh belasan tidak lagi klise dan panjang lebar. Semuanya pakai kata KERJA. Cocok dengan kabinetnya yang dinamakan Kabinet Kerja.

Tema Hari Kemerdekaan pertama era Jokowi AYO KERJA. Tahun lalu KERJA NYATA. Tahun 2017 ini KERJA BERSAMA. Lengkap dengan logo yang dibuat khusus.

Kita yang bertahun-tahun terbiasa dengan gaya orba pasti pangling dengan tema yang unik itu. Cukup dua kata.

Tema orba dari tahun ke tahun sama saja: DENGAN SEMANGAT PROKLAMASI KEMERDEKAAN REPUBLIK INDONESIA, KITA TINGKATKAN KETAHANAN NASIONAL DALAM RANGKA MENCIPTAKAN MASYARAKAT YANG ADIL DAN MAKMUR BERDASARKAN PANCASILA DAN UUD 1945.

Panjang banget. Pola orba ini ditiru presiden-presiden sebelum Jokowi. Rupanya Jokowi orang yang sering berpikir di luar kotak. Lelaki kurus yang semula sering diragukan itu ternyata memberi warna baru di NKRI.

Ayo kerja!
Kerja nyata!
Kerja bersama!

09 August 2017

Patung Kwan Kong di Tuban jadi polemik

Agak aneh patung Dewa Kwan Kong di dalam kompleks Kelenteng Tuban dipermasalahkan. Bahkan harus ditutupi kain oleh petugas negara. Setelah jadi viral di media sosial dengan narasi yang provokatif.

Sentimen SARA begitu kuatnya di medsos. Khususnya setelah pilkada di Jakarta yang heboh itu. Seakan-akan semua yang berbau Tionghoa salah.

Memangnya pengelola kelenteng di Tuban itu begitu bodohnya sehingga membuat patung Kwan Kong setinggi 30 meter tanpa izin? Wong duit yang dihabiskan pasti banyak. Rugi besar kalau setelah jadi kemudian dirusak atau diturunkan massa dan petugas.

Begitulah. Di era medsos ini terlalu banyak prasangka dan provokasi SARA yang memecah belah bangsa Indonesia. Bisa jadi orang yang menyebarkan bumbu informasi soal patung di Kelenteng Tuban itu tidak pernah datang ke kelenteng mana pun. Apalagi ngobrol dengan orang kelenteng atau budayawan Tionghoa.

Sayang, pemerintah daerah seakan memanfaatkan isu yang viral di medsos ini untuk membredel patung Kwan Kong berukuran raksasa - tinggi 30an meter. Mengapa saat masih dibuat tidak disoal? Kalau memang tidak punya izin... mengapa tidak distop sejak awal?

Bukankah Kelenteng Tuban itu salah satu tempat wisata utama di Kabupaten Tuban? Letaknya di pinggir pantai, terbuka, siapa saja boleh masuk... dan menginap di penginapan yang gratis?

Sangat aneh kalau pemkab setempat tidak tahu bahwa pihak kelenteng membangun patung di salah satu objek wisata kabupaten. Sebab rencana dan maketnya sudah dirilis sejak belasan tahun lalu.

Seandainya pemerintah-pemerintah daerah tunduk pada tekanan medsos, bisa dibayangkan berapa banyak patung di Indonesia yang harus dirobohkan. Meskipun patung itu dibuat di halaman rumah anda sendiri.

Di Sidoarjo, menjelang pilkada 2015, patung-patung-patung petani, nelayan, pembuat kerupuk pun harus dibongkar. Gara-gara tekanan massa. Menggunakan dalil agama, sosial budaya dsb.

Sayang banget, masyarakat kita umumnya masih sangat lemah dalam hal apresiasi seni. Khususnya seni rupa. Khususnya lagi seni patung. ''Makanya seni patung kurang berkembang di Indonesia,'' kata Santoso, seniman patung di Gedangan Sidoarjo.

Pak Santoso ini lebih sering membuat patung di luar Jawa, khususnya Kalimantan, ketimbang di Jawa Timur. Padahal kemampuannya untuk membuat patung realis tidak kalah dengan seniman Bali yang bikin patung di Alun-Alun Sidoarjo itu.

''Kalau di Sidoarjo saya lebih aman bikin patung bandeng dan udang. Pasti gak akan diturunkan hehe...,'' ujar seniman lulusan ISI Jogjakarta itu.

01 August 2017

Kupinta Lagi - komposisi paduan suara yang bikin kangen

Cukup lama saya tak membahas paduan suara. Juga tidak sempat menyaksikan konser kor di Surabaya atau Sidoarjo. Paling cuma melihat kor gereja mingguan yang masih jauh dari standar minimal paduan suara yang bagus. Maklum, kor-kor lingkungan yang bertugas di gereja atau kurang latihan. Biasanya cuma rajin berlatih kalau ada lomba atau festival saja. Atau kalau kebetulan dapat tugas untuk ekaristi Paskah atau Natal. 

Eh, minggu lalu saya dengar beberapa anak SMA menyanyikan Kupinta Lagi. Sudah pasti mereka aktif di padus (paduan suara). Sebab lagu karya Cornel Simanjuntak itu memang hanya populer di paduan suara pelajar atau mahasiswa. Anak sekolah biasa kemungkinan besar tidak tahu.

Gara-gara senandung anak SMA di Sidoarjo itu, saya mencoba membongkar buku-buku-buku nyanyian  (partitur). Siapa tahu masih ada. Soalnya sebagian besar partiturku sudah disumbangkan ke beberapa adik pembina kor gereja dan mahasiswa Katolik di Surabaya. 

Puji Tuhan, masih ada buku Lagu Daerah dan Nasional susunan Nortier Simanungkalit. Almarhum Simanungkalit ini pernah dijuluki bapak paduan suara Indonesia... saking banyaknya aransemen SATB (sopran alto tenor bas) yang dia susun. Juga paling banyak menulis komposisi khusus paduan suara untuk festival di perguruan tinggi dan gereja pada tahun 1970an hingga awal 2000an.

Di buku terbitan Gramedia ini ada lagu KUPINTA LAGI. Pak Simanungkalit membuat aransemen tiga suara. Kok bukan SATB? Maklum, buku ini memang untuk pelajar sekolah dasar dan menengah pertama yang belum cocok SATB. Kor campur alias mixed choir hanya efektif untuk SMA kelas 2 dan 3. Paling bagus mahasiswa yang suaranya sudah jadi.

Melihat partitur Kupinta Lagi ini, saya jadi ingat lomba-lomba paduan suara di Jawa Timur. Baik tingkat SMA, perguruan tinggi, dan gereja. Lagu ini hampir selalu jadi lagu wajib atau lagu pilihan.

Mengapa? Memang enak banget. Dari intro sampai koda asyik. Dinamikanya banyak. Melodinya juga enak meskipun baru kenal pertama kali. Beda dengan komposisi klasik atau ciptaan N. Simanungkalit yang baru terasa enaknya ketika sudah sering dinyanyikan. 

Ada juga modulasi (ganti nada dasar) yang membuat suasana dan tempo berubah drastis. Ini memang salah satu lagu favorit saya, selain BUMIKU INDONESIA komposisi paduan suara karya Lilik Sugiarto almarhum. 

(Pak Lilik pelatih paduan suara mahasiswa Universitas Indonesia dulu saya juluki sebagai bapaknya PSM (paduan suara mahasiswa). Saking banyaknya aransemen SATB lagu-lagu daerah plus lagu ciptaannya yang dibawakan PSM-PSM di seluruh Indonesia.)

Saya pun mencoba membunyikan nada-nada Kupinta Lagi. Memang enak banget.... Bikin kangen sama paduan suara mahasiswa atau OMK (Orang Muda Katolik) - dulu Mudika (Muda Mudi Katolik). 

Syukurlah, di Youtube ada banyak rekaman Kupinta Lagi dari padus-padus pelajar dan mahasiswa. Tapi gregetnya tetap beda dengan mendengarkan langsung di arena konser. Lebih greget lagi kalau kita ikut bernyanyi bersama paduan suara... diiringi pianis cewek yang cantik dan hebat permainannya. 

..........
kulihat terang meski tak benderang 
sehingga gelap lambat laun kan lenyap....

datanglah cahaya di hati
bawalah imanku kembali
........

30 July 2017

Stephen Tong gelar simfoni di Surabaya

Pendeta Dr Stephen Tong baru saja bikin konser di PTC Surabaya. Sayang, tidak ada berita atau ulasan tentang konser musik klasik Jakarta Simfonia Orchestra pimpinan Stephen Tong. Padahal konser semacam ini tergolong sangat langka di Surabaya.

Selain Stephen Tong, selama ini konser orkes simfoni hanya digelar Solomon Tong bersama Surabaya Symphony Orchestra (SSO) sejak akhir 1996. SSO rutin bikin konser tiga kali setahun: jelang Natal, Paskah, dan Kemerdekaan RI.

Adakah hubungan Stephen Tong dan Solomon Tong? Sangat dekat. Kakak adik kandung. Keduanya juga sama-sama fokus di gereja (Reformed) dan musik klasik. Tapi Pendeta Stephen Tong jauh lebih terkenal di kalangan umat Kristen, khususnya aliran Reformed. Stephen Tong bahkan sering dijuluki Johannes Calvin dari Indonesia.

Musikalitas bapa pendeta senior ini tak kalah dengan Solomon Tong, kakaknya. Bakat itu terlihat sejak anak-anak. Stephen bahkan bisa bermain piano-pianoan. Piano imajinasi karena ibunya belum bisa membeli piano beneran. Saat itu mereka baru hijrah dari Hokkian Tiongkok ke Surabaya.

Nah, ketika diberi piano beneran, Stephen Tong bisa memainkannya dengan baik. Begitu antara lain cerita yang saya ingat dari buku memoar Solomon Tong. Kebetulan saya jadi editor buku terbitan JP Book itu.

Maka, jangan heran kalau Stephen Tong yang pendeta kondang itu sering mengadakan konser klasik dari kota ke kota. Bulan Juli 2017 ada tujuh kota yang disinggahi: Semarang, Surabaya, Malang, Denpasar, Solo, Jogja, Bandung.

Tahun ini Pendeta Stephen mengangkat Simfoni No 2 Lobgesang karya Medelssohn sebagai sajian utama. Kakek yang juga penulis lagu-lagu liturgi Reformed ini mengandalkan Koor Besar Reformed Injili untuk membunyikan komposisi klasik dalam Grand Concert Tour 2017.

Ada pula menu lain dari Mozart, Beethoven, Strauss, Handel, Suppe dan beberapa lagi. ''Kita ingin menghidupkan musik klasik di Surabaya,'' ujar Pak Tong yang Stephen.

Baik Stephen maupun Solomon sama-sama idealis. Selalu ingin menampilkan orkes simfoni dengan standar tinggi. Jelas tidak akan bisa selevel Eropa atau Amerika. Tapi paling tidak konser klasik yang bisa diperhitungkan di tingkat Asia Tenggara.

''Sayang, kita tidak punya concert hall di Surabaya,'' ujar Tong yang Solomon, dirigen dan pendiri SSO.

Sejak awal 2000 Solomon Tong mengutarakan keinginan agar ada concert hall itu. Saya juga beberapa kali menulis ucapan Pak Tong di koran. Bahkan Pak Tong pernah ngomong langsung di depan Bambang DH, wali kota Surabaya saat itu. Tapi sampai sekarang belum ada wujudnya. Meskipun Bu Risma sudah menjawab dua periode.

Bagaimana konser Stephen Tong kemarin? ''Puji Tuhan... bagus. Orkestranya terlihat lebih siap dan sering latihan,'' ujar seorang kenalan yang doyan konser klasik.

Sayang banget, selain Stephen dan Solomon Tong, yang usianya dekat 80 tahun, belum ada dirigen orkes simfoni usia muda yang siap menerima tongkat estafet. Tongkat dirigen masih sulit lepas dari genggaman dua pendekar tua itu.

Membakar bambu penolak bala

Ada tontonan yang gak lucu di televisi nasional kemarin pagi. Acara keagamaan. Seorang pemuda 20an tahun di Sidoarjo, daerah Pepelegi Waru, kerasukan. Lalu, dibersihkan ilmu pegangannya itu oleh seorang guru (ustad).

Setelah dibaca doa-doa, diurut, dikasih makan bawang hitam, pemuda itu meronta-ronta. Ilmunya dikeluarkan sedikit demi sedikit dari tubuhnya. ''Tapi ada yang masih mengganjal,'' ujar sang guru.

Oh, ternyata ada sesuatu di halaman rumah. Tidak sulit mencarinya. Sebatang pohon bambu kuning yang rimbun. Rupanya, menurut guru, yang jadi salah satu pegangan remaja itu. Untuk tolak bala dan sebagainya. ''Ini yang harus dihilangkan,'' katanya.

Lalu, pohon bambu itu dicabut. Dicuci akarnya. Kondisi si pemuda mulai lebih baik. Tidak lagi kejang-kejang dan berteriak. Agar bambu itu tidak lagi mengikat pemuda itu... maka dibakar. Habislah bambu yang sebetulnya membuat indah pemandangan itu.

Sebagai penggemar bambu, saya sedih melihat tanaman yang juga disukai masyarakat Tionghoa itu dibakar. Apa salah si bambu? Siapa yang bilang bambu jadi penolak bala? Tempat bersarang ilmu hitam? Menjauhkan orang dari Tuhan?

Saya jadi ingat pohon-pohon besar yang dianggap keramat di desa-desa. Masyarakat turun-temurun menganggap pohon besar itu ada penunggunya. Makhluk halus, jin, atau apa pun namanya. Jika pohon itu dirusak atau ditebang, maka ada dampak negatif yang luar biasa. Kualat.

Begitu kepercayaan orang kampung tempo doeloe yang belum makan sekolah. Kemudian datanglah orang-orang muda terpelajar yang gandrung agama. Mereka menertawakan kepercayaan lama yang dianggap sirik dsb. ''Omong kosong itu. Itu pohon biasa. Tidak ada apa-apanya,'' kata orang modern yang rasional.

Lalu, pohon besar yang dikeramatkan turun-temurun itu ditebang. Memang tidak ada jin atau makhluk halus yang terlihat. Cuma batang, ranting, dan daun-daun yang rimbun. Tapi... tidak lama kemudian... mata air di kampung itu kering. Warga kesulitan air bersih.

Begitu kira-kira isi cerpen Dawam Rahardjo beberapa tahun lalu.

Mengapa bambu kuning dianggap punya kelebihan tolak bala? Mengapa pohon besar dianggap ada penunggunya? Mungkin ini yang dianggap kearifan lokal zaman dulu. Ketika ilmu hayat (biologi) belum berkembang. Ekologi belum dipelajari.

Nenek moyang dulu membuat cerita-cerita klenik, yang absurd, tentu ada maksudnya. Menciptakan pemali agar tidak ada orang yang menebang pohon-pohon sembarangan. Khususnya pohon-pohon besar yang akar-akarnya mengikat air tanah.

Sayang, kita yang hidup di zaman internet ini sering gagal paham dengan kearifan lokal.

28 July 2017

Redenominasi rupiah makin tidak jelas

Redenominasi rupiah kapan? Sepertinya masih lama. Bisa jadi setelah Jokowi menjabat periode kedua (kalau menang). Bisa jadi lebih lama lagi. Sebab orang Indonesia sulit bersepakat untuk urusan begini. 

Jauh sebelum ada isu redenominasi, sekitar 10 tahun lalu, saya sudah usulkan penghapusan tiga nol di mata uang rupiah. Lewat surat pembaca. Ini karena ada beberapa orang asing yang terheran-heran dengan banyaknya nol di rupiah. Uang USD 100 ketika dijadikan rupiah... wow buanyaak banget. 

Sebaliknya, kita orang Indonesia yang berada di luar negeri terkejut ketika menukar uang. Kok IDR 1 juta cuma jadi sedikit ringgit atau dolar Singapura? Betapa lemahnya rupiah. 

Pisang goreng yang di masa kecil saya cuma IDR 100, sekarang ini 2000 di Sidoarjo. Itu yang di kaki lima. Di restoran atau hotel pasti lebih mahal lagi. Artinya, inflasi memang luar biasa.

Saya teringat omongan Monsinyur Bello, saat jadi Uskup Dilli, Timor Timur. Waktu masih masuk Indonesia. Bapa Uskup bilang rupiah ini terlalu lemah. Mestinya satu rupiah sama dengan satu dolar. Atau setidaknya 10 dolar. Caranya? Yang tahu ahli keuangan dan ekonomi, katanya. 

Waktu itu belum ada istilah redenominasi. Maka saya cuma iseng-iseng menulis surat pembaca tentang perlunya menghapus tiga nol. Sehingga kita kembali punya uang receh sen.

 Istilah jutawan pun sudah lama tidak relevan di Indonesia karena semua orang memang jutawan. Wong upah minimum buruh sudah di atas 3 juta. Beda kalau jutawan di Eropa atau Amerika.

Lalu, kapan redenominasi? Menkeu Sri Mulyani kemarin mengatakan masih perlu diskusi dan proses panjang. Pemerintah malah belum berpikir untuk mengajukan rancangan undang-undang ke parlemen. ''Belum prioritas,'' katanya. 

Pagi ini saya untuk pertama kalinya melihat uang kertas baru IDR 1000. Ada gambar gunung dan pemandangan di Banda Neira. Seorang penari berpakaian adat sedang memukul tifa. Eksotis memang.

 Sayang, duit seribu itu tidak cukup untuk menukar tahu isi di warkop kawasan Waru Sidoarjo. 

23 July 2017

Jokowi bakal jadi capres tunggal?

Begitu kecurigaan politisi Gerindra dan kawan-kawan. Fadli Zon pentolan Gerindra bahkan curiga presidential threshold 20 persen sengaja dipaksakan koalisi pemerintah (minus PAN) untuk menjegal Prabowo Subianto.

Namanya aja politisi, apalagi kelas Fadli, ada saja analisis ala teori konspirasi. Yang pasti, konfigurasi politik sekarang akan beda dengan 2014 ketika Jokowi duet seru dengan Prabowo. Pemilihan presiden paling panas dalam sejarah NKRI.

Seandainya koalisi pemerintah solid, kompak mencalonkan Jokowi, maka dukungan suaranya mencapai 71 persen. Sisa yang 30 persen masih bisalah untuk mengusung Prabowo. Biar bekas komandan Kopassus ini bisa bertarung lagi dengan Jokowi. Syaratnya : Demokrat yang cuma punya 10 persen mau gabung.

Maukah SBY memberi kendaraan politik untuk Prabowo? Namanya juga politik, selalu ada peluang. Tapi dari rekam jejak kedua jenderal tua ini sebenarnya SBY lebih dekat ke Jokowi. Hanya saja ada kerikuhan dengan Megawati bos PDI Perjuangan.

Bagaimana kalau Demokrat gandeng PAN (yang kelihatannya setengah hati di koalisi pemerintah)? Sangat mungkin. Bisa tambah suara dari PBB. Tapi kurang sedikit ke 20 persen.

Maka, kuncinya di PKS. Kalau PKS gabung Demokrat + PAN maka Gerindra sulit memajukan Prabowo ke pilpres. Karena itu, tidak heran Fadli Zon marah-marah dan menuduh ada skenario untuk menjegal Prabowo. Bahkan bisa-bisa hanya ada calon tunggal jika partai-partai-partai gagal membentuk koalisi untuk menghadapi sang juara bertahan Jokowi.

Skenario ini, yang menggunakan hasil pemilu 2014, bakal bubrah jika MK membatalkan ketentuan presidential threshold 20 itu. Kemungkinan itu sangat besar! Sehingga nanti semua partai perserta pemilu berhak mengajukan calon presiden. Termasuk Yusril IM yang partainya (PBB) hanya meraih 1,5 persen sehingga gagal masuk ke Senayan.

Sang raja dangdut Rhoma Irama, ketua Partai Idaman, pun bisa menjadi capres. Tidak perlu koalisi ketika presidential threshold nanti dijadikan nol persen oleh MK.

Apakah koalisi pemerintah bakal buyar jika MK memenangkan gugatan Yusril dkk? Belum tentu. Golkar yang pragmatis rupanya masih mendukung Jokowi (lewat statement) meskipun ketua umumnya jadi tersangka korupsi. PAN yang lihai besar kemungkinan keluar dari koalisi jika kadernya digandeng Prabowo.

Karena itu, penghapusan syarat minimal capres tidak serta-merta membuat partai-partai mengusung calon sendiri-sendiri. Tidak mungkin ada 15 capres. Hary Tanoe ketua Perindo pun besar kemungkinan berpikir ulang untuk maju capres meskipun didukung penuh begitu banyak medianya.

Jika presidential threshold dihapus, saya perkirakan tahun 2019 nanti paling banyak ada lima capres. Bahkan bisa mengerucut jadi tiga saja. Jokowi, Prabowo, dan Mr X. Siapa Mr X itu? Silakan tanya ke dukun.

22 July 2017

Terlalu banyak PTS kacangan

Berapa banyak perguruan tinggi swasta (PTS) di Indonesia? Jawabannya ada di Google. Yang paling valid tentu dari mulut M Nasir, menteri pendidikan tinggi dan riset. Pak Menteri mengungkapkan total perguruan tinggi 4.529.

Rinciannya: 370 perguruan tinggi negeri (PTN). Sisanya swasta alias 4.159 biji. Bayangkan, empat ribu lebih kampus swasta. Alias 92 persen. 

Saking banyaknya, saya tidak hafal nama-nama PTS di Surabaya dan Sidoarjo. Yang kita tahu hanya kampus-kampus swasta yang sudah kondang macam Petra, Ubaya, Widya Mandala, atau Ubhara. Yang terakhir ini saya tahu karena dempet dengan Graha Pena.

Dari 4528 perguruan tinggi negeri dan swasta itu, hanya 50 kampus yang berakreditasi A. Rinciannya : 24 negeri dan 26 swasta. Syukurlah, Unibersitas Negeri Jember masuk akreditasi A. Tergolong elite di Jawa Timur. Gak nyangka.

Apa artinya data yang baru dirilis pemerintah itu? Sederhana saja. Kita di Indonesia masih menang angka (kuantitas) tapi sangat lemah di mutu. Bayangkan... perguruan tinggi yang akreditasi A tidak sampai 1 persen. Tepatnya 0,5 persen. Kampus negeri yang dibiayai negara pun hanya 6 persen. 

PTS yang masuk kelas A cuma 0,6 persen. Paling banyak yang belum bisa diakreditasi alias cuma terdaftar. Atau kelas C yang jumlahnya ribuan itu.

Mengerikan! Tanpa ada solusi yang revolusioner, jangan harap mutu pendidikan tinggi kita membaik. Pemerintah tidak punya pilihan lain selain bertindak sangat keras alias revolusioner itu. Artinya menutup kampus-kampus yang memang sulit berkembang atau tidak memenuhi syarat cukup.

Moratorium pendirian kampus baru saja tidak cukup. Obral izin di masa lalu telah membuat kondisi perguruan tinggi jadi runyam seperti sekarang. Orang akhirnya hanya memburu gelar di depan dan belakang namanya tanpa peduli mutu dsb.

Tata negara yang masih amburadul

Akar masalahnya adalah pemilu serentak. Pilpres dan pileg digelar bersamaan. Itulah yang menyebabkan kisruh saat voting UU Pemilu kemarin. Fraksi-fraksi propemerintah, kecuali PAN, walk out.

Putusan MK tentang pemilu serentak ini memang menimbulkan komplikasi konstitusional... kayak penyakit aja. Sebab bisa saja semua partai boleh mencalonkan presiden. Tidak ada syarat presidential threshold. Namanya juga partai baru pasti belum punya suara atau kursi.

Yang punya suara tentu partai-partai lama. Apalah valid perolehan suara lima tahun lalu dijadikan dasar untuk syaraf pencalonan presiden? Siapa yang jamin partai lama masih meraih dukungan seperti dulu? Jangan-jangan justru partai baru yang menang!!!

Tapi ada benarnya juga koalisi pemerintah minus PAN itu. Harus ada dukungan minimal untuk mencalonkan pasangan presiden dan wakil presiden. Kalau tidak ada syarat minimal - dengan dalih pemilu serentak - maka capres nanti bisa banyak sekali. Kalau peserta pemilu ada 20 parpol maka capresnya bisa 10 bisa 20 pasangan. Ruwet banget.

Pemandangan tidak enak saat voting di DPR yang disiarkan televisi kemarin sekali lagi menunjukkan bahwa tata negara kita masih kacau. Trial and error tak ada habisnya.

Indonesia sudah merdeka 70 tahun fapi sistem politiknya masih jauh dari stabil dan mapan. Undang-undang yang belum berusia 5 tahun pun bisa diubah di tengah jalan. Ingat Koalisi Merah Putih yang menlmbongkar undang-undang untuk menguasai kursi pimpinan DPR dan MPR.

Sudah jelas politisi di Senayan gagal menjadi negarawan. Gagal jadi law maker. Gagal menulis undang-undang yang bisa digunakan jauh ke depan. Ibarat main sepak bola, aturan offside bisa diubah ketika pertandingan sedang berlangsung.

Kita hanya bisa menaruh harapan pada Mahkamah Konstitusi. Sudah hampir pasti aturan tentang presidential threshold 20 persen itu akan dibatalkan. Tidak perlu ahli tata negara yang hebat untuk memperkirakan arah putusan MK nanti.

Lalu? Pilpres tanpa syarat minimal dukungan? Rasanya di Barat yang demokrasinya jauh lebih tua pun tidak begitu.

Yang pasti, putusan MK tentang pemilu serentak telah menimbulkan keruwetan baru di Indonesia. Lah, untuk maju jadi ketua OSIS, karang taruna, kepala desa, ketua PSSI, ketua RT, ketua PKK... saja harus ada dukungan minimal. Kok jadi calon presiden RI tidak perlu dukungan minimal dari partai-partai yang punya wakil di parlemen.

20 July 2017

Anda ini wartawan atau tukang pos???

Ngobrol di gedung tua di Kembang Jepun dengan beberapa wartawan tua (emeritus) selalu menarik. Nostalgia para senior era 80an dan 90an ketika belum ada HP, internet, media sosial dsb. Namun para jurnalis lawas ini selalu bisa menemukan narasumber (pelaku, korban) yang rumahnya nyelempit di dalam gang.

Sekarang enak. Cukup googling... sudah dapat banyak informasi dan petunjuk. Motret juga bisa pakai HP. Gak perlu boros film yang mahal. Foto korban (semasa hidup) bisa cuplik di medsos. ''Dulu kita harus datang ke rumahnya. Itu belum tentu keluarga punya foto,'' kata Cak Sur anggota Cowas JP, komunitas wartawan lawas JP dan grupnya. 

Oh ya... Djowo W. Oesman, juga Cowas JP, pekan lalu baru menulis catatan tentang penugasan ke Lampung. Meliput gajah main bola. Penugasan langsung dari Pak Bos: Dahlan Iskan. Mantan redaktur plus guru saya ini menulis:

''Saya wartawan Jawa Pos 24 tahun. 
Dulu, wartawan Jawa Pos tidak bertanya lagi, setelah ditugasi. Tidak ada penolakan, tidak ada pertanyaan. Doktrin: Tugas... kerjakan...

Seandainya ada wartawan bertanya: "Nama orangnya siapa, pak?" atau "Alamatnya di mana?" 

Maka, Dahlan akan balik bertanya:

''ANDA INI WARTAWAN ATAU TUKANG POS? KALAU TUKANG POS MAKA SAYA BERI NAMA LENGKAP, ALAMAT LENGKAP, NOMOR TELEPON!!!''

Padahal, Dahlan juga tidak tahu nama dan alamat orang yang akan diwawancarai wartawan.

Prinsipnya: Wartawan jago mencari. Ibarat, sampai lubang semut pun, harus dapat. Meskipun sangat banyak lubang semut. Setelah ketemu lubangnya, tangkap seekor yang dicari. Idiiih.''

Hehehe.... Cak Djono yang asli Surabaya ini memang paling seru kalau menulis boks. Apa saja jadi enak di tangan DWO sapaannya. Apa lagi kalau menulis ditemani kopi dan rokok (minus bir hehe...).

Zaman memang sudah jauh berubah. Wartawan-wartawan sekarang punya kemudahan dan kemewahan yang tiada tara. Internet, google, media sosial sangat membantu kerja jurnalis di lapangan. Tapi ya itu... cerita petualangan ala DWO mencari pusat latihan gajah di Lampung itu tidak ada lagi.

''Pak, pabrik yang itu alamatnya di mana? Namanya apa? Sebelah barat atau timur jalan raya?'' Begitu pertanyaan khas wartawan tahun 2017.

Hemm... Saya jadi ingat omongan Bos Dahlan Iskan di era sepak bola gajah: ''Anda ini wartawan atau tukang pos?''

19 July 2017

Siapa suruh pilih Setya Novanto

Setya Novanto jadi tersangka korupsi? 

Gak heran. Sudah lama proses ketua DPR cum ketua Golkar itu diperiksa KPK. Dan namanya pun bolak-balik disebut saksi dan terdakwa kasus bancakan duit e-KTP. 

Malah sebelumnya Yorrys, pengurus Golkar keturunan Tionghoa Serui, Papua sudah lama mengimbau Novanto fokus menghadapi kasus KTP elektronik ini. Alias mundur sementara... atau seterusnya. Tapi Yorrys yang kena semprit. 

Sekarang kita tinggal mengikuti sinetron dengan aktor utama Setya Novanto. Kena berapa tahun? Atau jangan-jangan KPK yang kena batunya karena berani mengusik politisi elite sekaliber SN?

Bagi orang NTT, termasuk perantau NTT di Jawa, Malaysia dsb, sosok Setya Novanto ini sudah lama jadi tanda tanya. Kok bisa dia jadi wakil rakyat NTT di DPR RI? Apa hubungannya dengan NTT? Barangkali ada leluhur dari Timor, Sumba, Sabu dsb?

Atau mungkin Novanto ini sangat peduli dengan NTT yang terbelakang itu? ''Ini cuma soal kepeng Bung. Uang. Siapa yang punya uang ya punya peluang masuk Senayan,'' ujar mantan aktivis PMKRI Kupang yang tidak terpilih di pemilu lalu.

Novanto ini memang jarang ke NTT. Terlalu sibuk mengurus proyek-proyek-proyek besar kayak KTP sakti itu di Jakarta. Urusan Golkar, parlemen dsb. ''Tapi dia punya kaki tangan di NTT,'' ujar aktivis politik itu.

Maka, ketika banyak orang NTT marah-marah di media sosial, saya cuma kasih komentar pendek. Siapa suruh pilih Setya Novanto jadi wakil rakyat NTT? Sendiri suka... sendiri rasa! 

14 July 2017

Pater John Lado SVD di Graha Wacana Ledug Pasuruan




Pria yang tinggal di kawasan Ledug, Pasuruan, ini tak pernah lepas dari kopiah. Koleksi kopiah alias songkoknya banyak. Mulai yang hitam biasa, putih, hingga motif tenun ikat ala NTT.

''Kopiah khas Flores sudah saya hadiahkan kepada seorang bapak kiai di dekat sini,'' ujarnya sambil tersenyum. Logatnya masih kental NTT, lebih khusus lagi Flores Timur, khususnya lagi Lembata.

Bapa Haji dari Flores nyasar ke kawasan Tretes yang sejuk?

Aha, bapa ini bukan haji. Bukan pula orang biasa. Dialah Pater Yohanes Lado SVD. Seorang pastor kongregasi Societas Verbi Divini alias SVD yang sehari-hari bertugas di Graha Wacana.. sebuah rumah retret milik kongregasi SVD.

Sudah 10 tahun Pater John, sapaan akrabnya, melayani Tuhan dengan menjadi pembimbing retret, rekoleksi, hingga konsultan keluarga. Graha Wacana ini memang sejak awal dibangun untuk pembinaan keluarga Katolik di Keuskupan Malang dan Keuskupan Surabaya.

Meskipun sudah banyak rumah retret, bukit doa, hingga camping ground milik Gereja Katolik, Protestan, Pentakosta, Karismatik hingga Advent bertebaran di Prigen, Trawas, Pacet, hingga Batu (semuanya hawa sejuk di bawah 23an derajat celcius), Graha Wacana yang diresmikan pada 24 Maret 2007 oleh Uskup Malang HJS Pandojoputro OCarm ini punya penggemar setia.

''Paling banyak dari Surabaya. Setiap akhir pekan selalu ada keluarga yang datang ke sini. Ada juga yang rombongan,'' ujar Pater John yang sudah bertugas di Graha Wacana sejak 2006.

Betul memang omongan romo berkopiah ini. Belum sampai lima menit ngobrol di depan ruang makan, tiba dua mobil plat L (Surabaya). Pater John langsung menyapa pelanggan tetapnya itu. Rupanya Graha Wacana sudah kayak tempat istirahat pribadi keluarga-keluarga Katolik itu.

Tidak sedikit juga yang bukan Katolik. Sebab keberadaan Graha Wacana sedikit banyak terkait erat dengan Retret Tulang Rusuk. Pembinaan pasutri yang sejak dulu digarap imam-imam SVD, khususnya Pater Jusuf Halim SVD. Begitu dahsyatnya retret ini (kesaksian para alumni) sehingga mereka ingin selalu bertemu. Kebetulan sebagian besar peserta Tulang Rusuk pengusaha-pengusaha Tionghoa kaya dari Surabaya, Malang, Jakarta, dan kota-kota lain di tanah air.

Mereka setiap tahun mengadakan pertemuan Tulang Rusuk di Graha Wacana Ledug ini. Ada pula umat yang adakan rekoleksi atau retret jelang Natal atau Paskah. ''Anda ke sini kebetulan lagi sepi. Cuma kunjungan beberapa keluarga untuk istirahat,'' ujar Pater John.

Wilayah Ledug ini masuk Paroki Pandaan. Sekitar 30 menit turunan pakai motor atau mobil. Umat Katolik biasa misa mingguan di paroki yang mulai setahunan ini dipegang romo-romo CM itu (sebelumnya dari zaman Belanda romo-romo Karmelit alias Ordo Carmel). Maka, umat Katolik di Pandaan juga bisa memanfaatkan Graha Wacana untuk berbagai kegiatan. Selain Griya Santo Vincentius (GSV) di Prigen.

Sebaliknya, umat Katolik juga bisa menumpang ekaristi Minggu pagi di Graha Wacana SVD Ledug. Misa biasanya dimulai pukul 07.00. ''Tapi kadang saya geser ke jam 8. Sesuai kebutuhan keluarga-keluarga yang retret di sini,'' kata Pater John.

Sayang, saya tidak bisa ngobrol lebih banyak dengan pater asal Desa Lerek, Lembata, ini. Sebab Pater John harus mendampingi para tamunya.

Lah, wong saya cuma nyelonong masuk karena kebetulan kesasar dan membaca tulisan Graha Wacana SVD di Ledug. Masuk di dalam pagar, suasananya berubah kayak kampung di NTT saja. Selain romonya dari Lembata dan Manggarai (Pater Elenterius Bon SVD), hampir semua pekerjanya pun orang Flores, khususnya Manggarai.

''Kalau umat Katolik di Sidoarjo atau Surabaya mau adakan kegiatan, silakan ke sini saja. Bisa tampung 800 sampai seribu orang,'' ujar seorang pekerja asal Manggarai yang saya lupa namanya.

Di perjalanan pulang, saya jadi teringat guyonan masa remaja di Flores Timur dulu. ''Di mana ada SVD, di situ ada orang Flores!''

Guyonan main-main ini ternyata terbukti di Ledug Pasuruan.

Jokowi ternyata berani juga

Kapan HTI dibubarkan? Mana realisasinya?

Rupanya di era demokrasi (katanya), pemerintah tidak punya power seperti zaman Orde Baru. Membubarkan ormas yang anti Pancasila, ingin meniadakan NKRI, bikin khilafah... sulitnya bukan main. Proses panjang. Bisa tahunan.

Bandingkan dengan orba. Pak Harto cuma perlu waktu beberapa jam untuk membredel koran. Kalau cuma mencabut izin ormas, pasti lebih mudah lagi.

Tapi begitulah.... demokrasi memang jalan panjang berliku. Butuh kesabaran revolusioner, kata Prof Tanto. Padahal, di sisi lain, ormas-ormas anti Pancasila itu melakukan propaganda di berbagai media. Setiap saat. Apalagi di media sosial.

Kasusnya mirip terorisme. Dulu, masih zaman orba, polisi dan tentara sudah bisa menciduk oknum-oknum yang masuk daftar ekstrem kanan dan ekstrem kirim. Cokok dulu. Tidak perlu ada barang bukti dsb dsb.

Sekarang? Harus ada barang bukti dulu baru cokok. Kalau perlu bom meledak dulu baru pelakunya ditangkap. Maka, jangan heran serangan teroris makin kerap di Indonesia. Undang-undang yang ada masih membelenggu polisi dan tentara.

Revisi undang-undang? Ada saja partai dan politisi yang menolak. Belum semua politisi melihat teorisme sebagai kejahatan luar biasa. Korupsi juga begitu. KPK malah mau dibubarkan oleh politisi di Senayan.

Karena itu, keputusan Presiden Jokowi untuk mengeluarkan perppu tentang ormas merupakan langkah berani. Meskipun konsekuensinya bakal digugat HTI bersama pembelanya seperti Prof Yusril di pengadilan. Perppu itu juga bisa membuat banyak elemen yang pro HTI (dan sejenisnya) menganggap Jokowi tidak demokratis.

Mengapa tidak menggunakan mekanisme pembubaran biasa? Mengapa tidak sabar memproses lewat pengadilan? Memangnya HTI sudah sangat mengancam negara Pancasila? Anggota HTI itu berapa orang sih? Kok HTI begitu ditakuti kayak ISIS?

Tentu Presiden Jokowi sudah mendapat banyak masukan dan pertimbangan dari berbagai pihak. Termasuk dari MUI, NU, ormas-ormas Islam yang lain. Jokowi pasti tidak asal mengeluarkan perppu ormas itu.

Apa pun kritik dan kecaman terhadap Jokowi, kita perlu salut untuk sang kepala negara. Presiden NKRI memang harus berani mengambil keputusan untuk menyelamatkan ideologi dan dasar negara. Mumpung situasinya belum separah Afganistan dan sejenisnya.

''Afganistan sekarang pecah jadi 40-an faksi. Dan itu sangat sulit disatukan lagi,'' ujar Presiden Jokowi di hadapan para alim ulama (minus HTI).

Jokowi mengutip omongan Presiden Afganistan yang sangat kagum dengan Indonesia yang masih bisa bersatu.... meskipun sudah banyak bibit-bibit penyakit menular yang sangat berbahaya bila dibiarkan.

10 July 2017

Sekolah favorit itu perlu

Menteri P dan K Muhadjir Effendy bikin beberapa gebrakan yang bikin geger. Selain sekolah lima hari, full day school, yang terbaru penerimaan siswa baru sistem zonasi. Istilah lawas: rayonisasi.

Salah satu tujuannya adalah menghapus sekolah favorit. Semua sekolah negeri harus sama mutunya. Dus, tidak boleh ada lagi penumpukan siswa di beberapa SMA negeri. Kalau di Surabaya sekolah favorit itu namanya SMA kompleks. Kalau di Malang ya di Tugu Utara sebelahnya alun-alun bunder yang terkenal itu.

Dengan zonasi, maka anak-anak bisa sekolah dekat rumahnya. Anak pintar di Balongbendo tidak usah jauh-jauh sekolah di SMA Negeri 1 Sidoarjo yang di tengah kota. Sekitar 40 menit sampai 70 menit perjalanan pakai motor. Sebab SMA negeri di radius Balongbendo dibuat sama mutunya seperti SMAN 1.

Apa mungkin? Mungkin saja kalau dipaksakan pemerintah. Pakai skor desa kecamatan kabupaten segala. Sehingga anak yang nilai unasnya tinggi kalah bersaing dengan yang unasnya sedang tapi rumahnya dekat SMAN favorit (dulu).

Pagi ini, saya baca di salah satu koran tiga dosen sangat setuju zonasi. Bisa membongkar kasta pendidikan, kata seorang penerbit buku sekolah Intan Pariwara. Bagus karena tidak ada lagi murid cerdas menumpuk di satu sekolah, ujar dosen farmasi UII. Sekolah bisa dekat rumah, begitu pendapat mahasiswa STKIP di Ponorogo.

Hanya Pak Tito Adi dari Sidoarjo yang sedikit kontra. Doktor managemen yang juga pejabat di Dinas Pendidikan Sidoarjo ini menulis, kebijakan zonasi akan membatasi warga negara untuk memilih sekolah sesuai keinginannya. Siswa jadi cuma bersaing di tingkat kecamatan. Padahal sekarang ini kompetisinya sudah global. Antarnegara.

Sayang, dari semua artikel yang saya baca di koran dalam sebulan terakhir, tidak ada yang mengutip pakar-pakar pendidikan lawas yang kawakan seperti Pater Drost. Atau pakar-pakar pendidikan dari Eropa Amerika yang sudah lama menggeluti isu ini. Bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka.

Entah Pak Menteri yang dari Muhammadiyah itu pakai rujukan pakar pendidikan yang mana. Tampaknya kebijakan sekolah di dekat rumah ini ada kaitan dengan obsesi pendidikan karakter itu. Agar si anak cepat pulang ke rumah. Kumpul orangtuanya.

Memangnya orangtua sekarang selalu ada di rumah? Apa tidak kerja di pabrik, kantor dsb yang pulangnya malam?

Satu hal yang selalu saya ingat dari Pater Drost SJ: sadarlah bahwa anak itu punya bakat dan kemampuan berbeda. Ada yang sangat cepat menangkap pelajaran, tapi ada yang sedang, lambat, bahkan tidak akan bisa memahami hukum Ohm dsb.

Bahkan Drost sejak dulu bilang sebagian besar lulusan SMA di Indonesia itu sejatinya tidak mampu kuliah di universitas. Kalau mau kuliah beneran, menyerap konsep-konsep abstrak di universitas, orang harus dapat NEM minimal 80. Dan harus benar-benar murni. Tanpa rekayasa. Padahal dari dulu NEM rata-rata lulusan SMA di seluruh Indonesia di bawah 60.

Apa jadinya kalau anak yang unasnya di atas 90 dijadikan satu dengan yang 60 atau 70? Sulit dibayangkan. Anak cerdas pasti akan malas kalau pelajaran bolak balik diulang untuk mengakomodasi anak yang lambat belajar itu.

Karena itu, suka tidak suka, penerimaan siswa atau mahasiswa baru selalu menggunakan kriteria akademis alias otak. Otomatis anak-anak pintar berkumpul di sekolah tertentu. Seperti SMAN 3 Malang alias Bhawikarsa yang terkenal itu. Anak dari Lawang atau Kepanjen dari dulu pasti masuk SMAN 3 kalau NEM-nya tinggi.

Sebaliknya, anak yang rumahnya di Jalan Sultan Agung tidak bisa masuk SMAN 3 meskipun jaraknya cuma beberapa meter dari sekolah. Kalau pakai zonasi, anak dari Sultan Agung itu skornya pasti paling tinggi. Meskipun kalah NEM sama yang dari Kepanjen.

Karena itu, sekali lagi, sekolah favorit atau apa pun namanya tidak bisa dielakkan dalam pendidikan. Bahkan, setelah diterima di sekolah tertentu pun, ada lagi pembagian kelas atas dasar peringkat NEM. Sehingga anak-anak cerdas bakal dikumpulkan di satu kelas khusus.

Kastanisasi? Tidak. Ini memang bawaan dari sana. Klasifikasi ini untuk memudahkan pengajaran. Kecuali P dan K sudah menemukan metode pengajaran yang bisa mengangkat kemampuan anak medioker itu. Atau malah menurunkan standar anak yang IQ-nya tinggi itu.

Jangan lupa, di masa lalu, pemerintah Orde Baru justru membuat sekolah khusus untuk anak-anak super cerdas. SMA Taruna Nusantara bikinan Jenderal Benny Murdani itu. Beberapa tokoh lain juga mendirikan sekolah unggulan serupa.

Salahkah sekolah unggulan atau favorit itu?

Seorang Aji Santoso pemain bola asli Kepanjen pasti tidak akan sehebat yang kita kenal kalau tidak pindah ke Arema atau Persebaya. Kalau cuma bermain di tingkat kecamatan saja, ya mana bisa maju?

02 July 2017

Hongkong setelah 20 tahun merdeka

Agak aneh Presiden Tiongkok Xi Jinping baru kali pertama berkunjung ke Hongkong pekan lalu. Padahal Hongkong itu bagian dari RRT. Semacam salah satu provinsinya meski punya sistem yang berbeda.

Satu negara dua sistem! Itulah komitmen RRT ketika Hongkong dikembalikan ke RRT pada 1997. Tak terasa sudah 20 tahun berlalu. Hongkong tetap berjalan dengan sistemnya ala Inggris yang telah berjalan satu abad. Plus beberapa modifikasi sebagai konsekuensi jadi bagian dari negara komunis RRT itu.

''Hongkong selalu ada di hati saya,'' ujar Presiden Xi yang memang suka puisi dan istrinya penyanyi klasik Tiongkok papan atas Nyonya Peng Liyuan.

Apakah sistem Hongkong yang beda dengan Zhongguo tetap dipertahankan? Seperti biasa, Pak Xi tidak menjawab secara tegas. Cukup basa-basi ala diplomat. Katanya, sistem HK masih bisa dipertahankan paling tidak selama 50 tahun.

Setelah tahun 2047? Pak Xi hanya tersenyum. Tidak ada tanya jawab dengan wartawan.

Yang pasti, RRT tentu ingin punya kontrol penuh atas Hongkong. Konsep satu negara dua sistem itu hanya bersifat sementara. Tidak bisa seterusnya. Negara komunis yang punya satu partai saja pasti ingin 'satu negara satu sistem'. Mulai sistem politik, ekonomi, hukum, sosial budaya dsb. Termasuk bahasa.

Bukan apa-apa. Orang Hongkong lebih suka menggunakan bahasa Kanton ketimbang Putonghua alias Mandarin itu. Berkali-kali rakyat Hongkong unjuk rasa menolak apa yang mereka sebut pemaksaan bahasa Mandarin. Mereka lebih suka bahasa Kanton yang sudah berurat berakar. Mereka tidak suka bahasa elite ala orang utara itu.

Orang Hongkong juga tidak suka sistem transliterasi Hanyu Pinyin ala Beijing. Makanya pimpinan tertinggi Hongkong pakai nama CY Leung, bukan penulisan ala RRT.

''Kenapa kalian belajar bahasa Mandarin? Belajar bahasa Inggris saja lebih bagus,'' ujar Josephine seorang aktivis Gereja Katolik asal Hongkong saat berkunjung ke Surabaya beberapa waktu lalu.

Nah, khusus untuk yang Katolik ini ada persoalan yang jauh lebih serius. Yakni sikap Beijing yang sejak dulu tidak mengakui takhta suci di Vatikan. Pemerintah komunis RRT hanya mengakui gereja patriotik yang dikontrol penuh oleh kaki tangan rezim komunis itu. Makanya di Tiongkok ada dua macam gereja: Gereja bawah tanah (yang berafiliasi dengan Vatikan) dan gereja patriotik yang diakui pemerintah tapi berada di luar kontrol Sri Paus di Vatikan.

Apa jadinya Gereja Katolik di Hongkong kalau nanti Tiongkok tidak lagi memberlakukan satu negara dua sistem? ''Sulit dibayangkan,'' kata wanita Katolik asal Hongkong itu. ''Kita hanya bisa berdoa dan berusaha.''

30 June 2017

Menarik... Samenleven ala Messi

Obrolan di warung kopi pagi ini tentang Lionel Messi. Bukan kejeniusan pemain Barcelona asal Argentina itu mengolah bola di stadion dan mengecoh tiga empat pemain lawan sekaligus. Tapi soal pernikahan sang super star. Soalnya ada berita kecil tentang pesta pernikahan Messi yang sudah tentu super mahal. Namanya juga olahragawan terkaya sejagat.

Lah, kok Messi baru nikah?
Dia kan sudah punya dua anak? Anak sulung lahir lima tahun lalu? Begitu pertanyaan seorang kenalan baru asal Gedangan Sidoarjo.

Berarti selama ini kumpul kebo dong! Punya anak di luar nikah! Ngurus akta kelahiran anak jadi sulit dong! Kenapa nggak nikah dulu baru punya anak? Apa nggak ada larangan agama?

Waduh... repot kalau sudah menyinggung norma sosial dan norma agama. Apalagi kalau pakai ukuran Indonesia, khususnya Jawa Timur yang santri. Gak akan ketemu.

Budaya dan adat kita dengan mereka (Barat) memang beda Cak. Komentar saya sok tahu. Kalau di Indonesia tidak boleh ada pasangan laki-perempuan yang hidup bersama serumah sekamar tanpa menikah. Kumpul kebo dilarang keras... (meskipun praktiknya buanyaak).

Nah, di Eropa Amerika dan negara-negara Barat orang boleh tinggal serumah dengan pacarnya. Tidak perlu nikah di gereja, KUA, dsb. Pokoknya sama-sama punya komitmen saling cinta dan tanggung jawab.

Karena itulah, pasangan Messi-Antonella punya dua anak yang lucu-lucu itu. Soal nikah resmi atau catatan sipil bukan urusan penting bagi orang Barat kayak Messi atau Ronaldo.

Siapa yang jamin pasangan yang nikah di gereja lebih bertanggung jawab ketimbang Messi-Antonella? ''Kalau di Indonesia mungkin sudah jadi masalah besar. Dibahas ramai di media massa dan media sosial,'' kata teman lain asal Papua yang lagi ikut seleksi di Jatim.

Bagi orang NTT, khususnya Flores Timur, praktik macam Messi ini (punya anak dulu, tinggal serumah, pemberkatan di gereja belakangan) sudah lazim. Khususnya sebelum tahun 1990. Anak-anak muda di kampung ngebet tidur dan punya anak sebelum pernikahan.

Maklum, urusan pernikahan itu sangat ribet. Masalah belis atau mahar. Urusan adat yang panjang. Kursus persiapan perkawinan di gereja. Kanonik ini itu. Maka lahirlah banyak anak di luar nikah. Sebelum akhirnya disahkan dalam lembaga pernikahan seperti yang dilakukan Mas Messi dari Argentina itu.

29 June 2017

Khilafah yang gerogoti Pancasila

OJO SAMPE KRIWIKAN DADI GROJOGAN!

Begitu peringatan Prof Dr Tjuk Kasturi Sukiadi, dosen emeritus Universitas Airlangga Surabaya. Ibarat bara api kecil di puntung rokok, kalau dibiarkan bisa menjadi bencana kebakaran hebat. Ratusan bahkan ribuan hektare hutan bisa terbakar ludes.

Pak Tjuk yang nasionalis tulen, sukarnois, menggunakan ungkapan Jawa soal kriwikan saat diskusi informal membahas situasi kebangsaan saat ini. Konservatisme agama makin menjadi. Ada gerakan sistematis, masif, dan terstruktur untuk mengubah dasar negara Pancasila.

Pancasila mau diganti paham khilafah yang transnasional. Bhinneka Tunggal Ika, UUD 45, NKRI mau dibubarkan. Diseminasi ideologi khilafah ini begitu deras di media sosial. Bahkan masuk sekolah-sekolah dasar sampai universitas.

Pemerintah pun kewalahan. Mau membubarkan HTI saja sulitnya bukan main. Karena paham khilafah itu sudah banyak pendukungnya. Jadi, bukan lagi cuma kriwikan... tapi sudah membesar meskipun belum sampai taraf grojokan.

''Yang mau berpetualangan mengubah negeri dengan KONSEP ABSURD YG NGGAK JELAS itu jumlahnya berapa orang! SENYAMPANG KEKUATANNYA MASIH KECIL DAN LEMAH LIBAS SAJA! Jangan sampai terjadi Kasus yg dalam ungkapan Jawa : KRIWIKAN DADI GROJOGAN!" Begitu peringatan keras Prof Tjuk Sukiadi.

Contohnya tidak usah jauh-jauh. Saat ini pemerintah Filipina sedang kewalahan menanangi kasus MARAWI yang terkait ISIS dan paham khilafah itu. Kombatannya tidak sampai 500 orang. ''Tapi karena nggak ditangani secara tepat dari sejak awal, mereka sempat menguasai sebuah wilayah dan MEREPOTKAN militer Filipina dan sekarang jadi MASALAH tiga negara Asia Tenggara: Filipina, Indonesia dan Malaysia!'' ujar profesor yang rajin menonton konser musik klasik di Surabaya itu.

Presiden Jokowi bersama pembantu-pembantunya tentu sudah punya agenda untuk menyelamatkan bangsa dari para petualang ideologi absurd dan fasis itu. Ojo sampe dadi grojokan!!!

22 June 2017

Doa BAPA KAMI yang sering dilupakan

Umat Katolik di seluruh dunia hari ini disuguhi bacaan tentang doa Bapa Kami. Pater Noster. Romo Kawulo. Our Father. Ama Kamen (bahasa Lamaholot, Flores Timur)....

Doa sederhana yang diajarkan untuk anak-anak TK, selain Salam Maria, Aku Percaya, Kemuliaan. Kalau tidak hafal Bapa Kami jangan harap ikut komuni pertama. Itu pernah dialami teman saya di pelosok NTT... dulu.

''Bapa kami yang ada di surga... saya sudah tobat,'' begitu doa Bapa Kami versi teman saya yang sangat sulit mengingat.

Sampai sekarang saya masih ingat teman masa kecil ini ketika umat Katolik mendaraskan (lebih sering dinyanyikan) Bapa Kami di gereja. Saya tidak sempat mengecek apakah kawan ini sudah hafal Bapak Kami setelah punya beberapa anak.

Yang pasti, umat Kristen (semua denominasi) sangat paham Bapa Kami. Bahkan tahu banyak lagu yang syairnya diambil dari doa yang diajarkan Yesus Kristus ini. Mulai yang gregorian (banyak versi), pentatonik Jawa, Tionghoa, Flores (versinya banyak), hingga versi keroncong dan karismatik.

Saya sendiri belakangan suka Bapa Kami versi KAJ (Keuskupan Agung Jakarta) yang hit di paroki-paroki seluruh Pulau Jawa itu. Dua nyanyian Bapa Kami ciptaan Pak Putut itu memang indah sekali melodinya. Dan tetap dalam pakem liturgi.

Beda dengan lagu Bapa Kami Filipina yang sudah lama tidak dipakai dalam misa karena iramanya mars. Katanya tidak cocok dengan kriteria liturgi. Padahal dulu Bapa Kami Filipina paling ngetop di Jawa. Sampai semua orang Katolik di Jawa hafal nomornya di Madah Bakti: 144.

Bacaan Injil pagi tentang Bapa Kami juga mengingatkan saya pada seorang ibu Tionghoa di kawasan Trawas Mojokerto. Ibu janda ini bangga banget dengan putrinya yang punya banyak prestasi di sekolah, fashion show, duta wisata, dsb.

Apa rahasianya Bu? ''Doa Bapa Kami. Tiap hari saya dan anak-anak saya selalu berdoa Bapa Kami,'' ujar ibu yang aktif di gereja aliran Pentakosta.

Wow... Saya pun manggut-manggut. Jadi malu karena saya tidak rutin berdoa Bapa Kami.

Pater noster
qui est in caelis...

20 June 2017

Ali Aspandi Ketua Dewan Kesenian Sidoarjo



Apa yang kau cari di Dewan Kesenian Sidoarjo (Dekesda)?
Adakah gaji bulan atau proyek untuk pengurus?

Begitu pertanyaan Denny Novita, novelis di Sedati, yang mengaku baru tahu kalau di Sidoarjo ada dewan kesenian. Dewan seniman yang dinamikanya tidak kalah dengan partai politik. ''Kok ribut seperti itu?'' tanya Novita kepada saya.

Yang jelas, tidak ada gaji atau honor. Dekesda biasanya cuma dapat dana hibah dari APBD Sidoarjo. Jumlahnya tidak pasti. Pernah cuma Rp 10 juta setahun (versi Hartono mantan ketua Dekesda), kemudian dinaikkan terus. Kabarnya sudah di atas Rp 100 juta. Bahkan katanya lagi sekitar Rp 450 juta.

Yang pasti, suasana musyawarah seniman di Museum Mpu Tantular, Buduran, Minggu 18 Juni 2017 jauh dari kata kondusif. Hiruk pikuk, penuh interupsi, teriak-teriak layaknya sidang parlemen di Senayan. Pengurus lama mempertanyakan panitia musyawarah yang dianggap cacat prosedural.

Sebaliknya, panitia yang dipimpin Lidia Iik memiliki legitimasi dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan. Ada surat keputusan dari Kepala Dikbud Sidoarjo Mustain tertanggal 13 Juni 2017. Debat, adu argumentasi pun terus berlanjut.

Akhirnya, kubu pengurus lama memilih walkout alias meninggalkan ruang musyawarah. Dari 59 peserta (49 undangan dan 10 pengurus lama), yang bertahan tinggal 33 peserta.

''Sudah lebih dari kuorum. Sidangnya jalan terus. Lah, mereka sendiri yang memilih tidak menggunakan hak untuk memberikan suara,'' ujar Gatot Kintranggono, sekretaris panitia.

Ada empat calon ketua umum yang diajukan. Ali Aspandi (sutradara film), Dwi Puji Utami (tari), Aji (musik), dan Lidia Iik (seni rupa). Mbak Lidia mundur dari bursa calon. Sudah bisa diperkirakan hasilnya seperti apa.

Ali Aspandi, lawyer yang tinggal di Sekardangan, meraih dukungan terbanyak dengan 8 suara. Aji dapat 3 suara. Dwi nihil. Maka, Ali Aspandi dinyatakan sah sebagai ketua Dewan Kesenian Sidoarjo periode 2017-2022. Tinggal menyusun pengurus lengkap untuk disahkan Kepala Dinas Dikbud Sidoarjo sebelum dilantik oleh bupati.

Apakah hasil musyawarah (yang tidak mufakat) di museum ini bisa diterima semua kalangan seniman dan pembina kesenian di Kabupaten Sidoarjo? Rasanya berat. Mengingat pengurus lama yang walkout tadi. Bukan tidak mungkin akan ada musyawarah tandingan untuk membentuk Dekesda versi yang lain.

''Yang jelas, saya datang ke sini dalam kapasitas pribadi. Bukan sebagai ketua Dekesda (lama),'' tegas Djoko Supriyadi.

Mumpung masih Ramadan, bulan suci, penuh rahmat dan ampunan, mudah-mudahan para seniman Sidoarjo bisa kompak dan bersatu lagi. Jarene rukun agawe sentosa!!!

19 June 2017

Sulitnya menyimak khotbah di gereja

Tidak gampang menyimak homili (alias khotbah) di gereja. Khususnya usia kita sudah tak muda lagi. Ketika usia romo lebih muda. Sebab bahan-bahan khotbah itu sudah kita kunyah sejak sekolah dasar.

Joke-joke pastor untuk bumbu khotbah pun hampir tidak ada yang baru. Guyonan lawas. Kita sudah hafal kelucuannya di mana. Maka, ketika banyak orang tertawa, saya hanya diam saja. Senyum sedikit lah.

''Mazmur itu seluruhnya ada berapa? Ada umat yang tahu,'' ujar Romo Stanislaus E. Beda CM dengan logat Flores Timur super kental.

''Ada 150 romo....,'' jawab seorang pelajar dengan suara keras.

''Bagus... ternyata ada juga umat Katolik yang paham kitab Mazmur,'' ujar romo kongregasi misi (CM) itu. Umat tertawa sejenak.

Setelah pater senior ini bicara tentang ekaristi. Sesuai topik Tubuh dan Darah Kristus. Isi homilinya sudah tak asing lagi bagi umat yang usianya di atas 30.

''Kita harus menjadi umat Katolik yang ekaristis,'' ujar pater masih dengan logat Lamaholot kental punya.

Maksudnya ekaristis? Saya sudah melamun ke mana-mana. Badan di dalam gereja, dengar homili, tapi otak berkeliaran tak menentu. Betapa sulitnya mengendalikan pikiran. Konsentrasi mendengarkan khotbah.

Tahu-tahu khotbah selesai. Misa dilanjutkan dengan Credo alias Aku Percaya.

''Maksudnya pater tentang umat yang ekaristis ya umat yang rajin ikut ekaristi. Aktif misa di gereja,'' begitu kesimpulan yang saya buat sendiri di warkop usai misa.

Apa benar begitu? Kapan-kapan saya tanya Pater Stanis, romo asal Flores, yang nyasar ke Pandaan Pasuruan, Keuskupan Malang.

Salam ekaristi.

Sidoarjo hanya perlu satu klub super

Sidoarjo mestinya hanya punya SATU klub sepak bola yang berlaga di level tinggi. Sidoarjo tidak punya kapasitas ekonomi, sumber daya, pemain-pemain bermutu untuk membentuk lebih dari satu klub di Liga Indonesia.

Sayang, rupanya orang-orang bola di Kabupaten Sidoarjo sulit bersatu. Dan mengalah. Egonya terlalu tinggi. Maka wacana merger klub-klub besar di Sidoarjo gagal total. Situasi persepakbolaan di Sidoarjo pun tak beranjak dari masa lalu. Bahkan mungkin lebih buruk.

Saat ini ada beberapa klub Sidoarjo yang berkiprah di Liga 2 dan Liga 3. Persida di Liga 2, Deltras di Liga 3. Sinar Harapan dari Tulangan juga main di Liga 3. Selevel dengan Deltras.

Ada juga klub luar yang memilih homebase di Sidoarjo. Kalau tidak salah Jombang FC di Tulangan. Mitra Muda di Gedangan. Dulu Bhayangkara FC (papan atas Liga 1) di Gelora Delta Sidoarjo. Sebelumnya lagi Laga FC juga berumah di Sidoarjo.

Sayangnya, semua klub ini tidak punya penonton setia. Stadion selalu kosong. Maka Bhayangkara memilih hengkang ke Bekasi atau Jakarta. Laga FC juga lari ke Jawa Tengah.

Dari sekian banyak tim itu, sebetulnya hanya dua yang bisa dianggap mewakili Sidoarjo: Deltras dan Persida. Yang punya nama besar tentu Deltras. Persida yang merupakan klub tertua (tepatnya perserikatan) tidak terlalu buruk. Siapa sangka Persida bisa lolos ke Liga 2 alias Divisi Utama? Deltras yang justru terjun ke kasta terendah.

Baik Persida maupun Deltras sama-sama sulit dapat sponsor alias duit. Apalagi ada larangan menggunakan APBD untuk membiayai sepak bola di daerah. Larangan itulah yang membuat Deltras akhirnya degradasi. Dulu punya nama besar ya karena didukung APBD.

Musim kompetisi tahun ini sangat berat bagi semua klub Sidoarjo. Ini akan menjadi seleksi alam sekaligus bahan evaluasi bagi pengurus PSSI Sidoarjo, pemkab, suporter, stakeholder yang lain untuk melakukan evaluasi.

Apakah tetap semangat ikut kompetisi terbawah, Liga 3, buat cari pengalaman pemain muda, kemudian dijual ke klub-klub di atasnya? Atau membentuk satu tim yang benar-benar tangguh? Sebagai ikon Kota Sidoarjo?

Kita bisa belajar dari tetangga di utara itu. Persebaya makin mantap sebagai satu-satunya ikon kebanggaan arek Suroboyo. Loyalitas ribuan bonek tidak ada duanya di Indonesia. Dan, ironisnya, sebagian besar anak-anak muda Sidoarjo penggemar bola justru bonek alias suporter fanatik Persebaya.

Maka, kalaupun Sidoarjo hanya punya satu superclub, belum tentu Gelora Delta Sidoarjo dijubeli penonton. Apalagi dengan banyak tim seperti sekarang.

Persebaya masih mengkhawatirkan

Persebaya sudah kembali ke kompetisi resmi. Manajemennya baru dan bagus. Suporter tulen yang disebut Bonek pun tetap setia mendukung tim kesayangannya. Dukungan masih yang tidak diperoleh tim-tim mana pun di Indonesia.

Bandingkan dengan Persida Sidoarjo yang sama-sama main di Liga 2. Tim lawas tetangga Persebaya ini tidak punya suporter dan penonton. ''Kami seperti bermain di kandang lawan,'' kata Alhadad pelatih Persida yang asli Surabaya itu.

Bandingkan dengan Persebaya yang ditonton 50 ribu orang. Gelora Bung Tomo kemarin penuh sesak saat laga hari jadi melawan Persik Kediri. Ini modal bisnis sepak bola yang luar biasa. Persebaya bakal punya masa depan yang cerah. Sebagai klub sepak bola yang sangat sehat. Pasti banyak sponsor yang berminat.

Sayang banget, mutu permainan Persebaya belum bagus. Cuma seri 1-1. Padahal peluangnya banyak. Padahal bonek-bonek, yang datang dari berbagai kota di Jatim sudah haus kemenangan.

''Kami haus gol kamu!'' Begitu tulisan besar-besar di kaos beberapa bonek Waru Sidoarjo yang saya baca.

Kapan menangnya mas-mas Persebaya? Di uji coba sebelumnya kalah dari Badung Bali yang tidak terkenal. Lah.. kok sama Persik yang bukan Liga 1 belum menang juga?

Ini jadi PR besar dan sangat berat pelatih baru Alfredo Vera. Sangat sangat berat. Sebab materi pemain Persebaya bukan sekelas Evan Dimas atau Andik atau kelas Liga 1. Mereka nama-nama baru yang masih muda. Belum terbiasa menghadapi tekanan yang luar biasa dari Bonek dan media massa.

Ojo lali, coach Iwan Setiawan dipecat gara-gara arogan dan... gagal memberi kemenangan. ''Kualitas Persebaya sekarang ini masih jauhlah (ketimbang Persebaya-Persebaya) yang lalu,'' ujar Suhu Slamet, wartawan balbalan senior plus pengamat Persebaya sejak era perserikatan tahun 1980-an.

Setelah Lebaran, Persebaya kembali berkompetisi di Liga 2. The Green Force ini dituntut untuk menang menang menang.... agar bisa promosi ke Liga 1. Minimal bisa bertahan di Liga 2.