26 December 2017

Macet di Malang tanpa solusi

Malang tidak lagi asyik untuk berwisata. Selain suhu udara yang tidak sesejuk tahun 1990an, jalan rayanya makin macet. Mulai dari Pasar Lawang hingga masuk wilayah Kota Malang.

Yang paling parah Lawang sampai Karangploso. Mobil dan motor dari arah Surabaya seperti masuk perangkap. Bergerak pelan-pelan kayak siput. Masih lebih cepat pejalan kaki di trotoar.

Polisi, seperti dikutip Malang Pos, menyebut kendaraan mencapai 15 ribu unit per jam. Itu karena banyaknya warga dari Surabaya dan sekitarnya yang berekreasi di Malang Raya. "Apalagi libur Natal dan tahun baru ini bersaman dengan liburan anak sekolah," kata Kasatlantas Polres Malang AKP Probandono.

Kalau saya amati, kemacetan di Malang ini sebetulnya tidak hanya karena libur akhir tahun atau Idulfitri. Setiap hari pun macet. Dan titik-titik rawan kemacetan bisa dilihat dengan mudah. Dan penyebab kemacetan pun gampang diidentifikasi. Tidak perlu jadi ahli untuk menganalisis kemacetan lalu lintas di Malang Raya.

Setahu saya, ruas jalan raya utama sejak 30 tahun lalu sampai sekarang sama saja. Tidak ada pelebaran. Yang sedikit beda adalah pembangunan jembatan layang atau flyover di dekat Terminal Arjosari. Lain-lainnya sami mawon.

Di pihak lain, seperti juga di kota-kota lain, pertumbuhan kendaraan bermotor pribadi luar biasa. Kita makin sulit menyeberang di Malang. Jangankan di jalan protokol Surabaya-Malang, jalan-jalan kecil kayak Kahuripan menuju Alun-Alun Bunder pun super padat. Anda dijamin sulit menyeberang di kawasan alun-alun di depan balai kota itu.

Lalu, apa solusinya? Pemkot Malang sepertinya tidak berbuat banyak. Mungkin karena jalan utama itu tergolong jalan nasional atau jalan provinsi. Tapi kalau tidak ada action, ya situasinya akan semakin parah.

Pemkot Malang mestinya bisa meniru Surabaya yang ngotot membuat jalan pendamping atau frontage road. Padahal Surabaya itu sebetulnya tidak macet parah. Titik kepadatan hanya di Jalan Ahmad Yani dari bundaran Waru karena kendaraan-kendaraan yang datang dari Sidoarjo. Nah, titik macet di Ahmad Yani yang tidak seberapa jauh itu kini sudah sembuh berkat FR itu.

Bandingkan dengan Malang Raya yang macetnya dari Lawang sampai Blimbing. Itu benar-benar parah. Tapi kelihatannya pemkot adem ayem saja. Yang ramai justru orang Surabaya yang sering cuap-cuap di radio. Curhat soal kemacetan di Malang yang tanpa solusi itu.

Abah Anton, wali kota, tentu sudah punya jurus-jurus jitu. Selain minta tolong Tuhan yang mahakuasa tentu saja.

Pantai Sendang Biru dengan Homestay Selangit

Salah satu objek wisata yang mulai naik daun di Kabupaten Malang adalah pantai Sendang Biru di Kecamatan Sumbermanjing Wetan. Pantainya unik, airnya tenang, meskipun terletak di Segoro Kidul alias Laut Selatan yang terkenal ganas. Posisi Sendang Biru, Goa Cina, dan beberapa destinasi wisata lain kebetulan agak menjorok masuk di teluk.

Dibandingkan wisata pantai di Jember, apalagi Kuta dan Sanur di Bali, masih jauh lah. Sendang Biru (sekitar 60 km dari Malang) masih sederhana. Belum dikemas bagus kayak Kuta. Yang ada cuma perahu-perahu nelayan saja. Pengunjung tidak bisa main-main di pasir karena memang tidak ada pasirnya.

Mandi atau berenang? Kelihatannya tidak dianjurkan. Sebab, bagaimanapun juga ini segoro kidul. Airnya tenang tapi dalam. Hanya nelayan setempat yang saya lihat bermain-main di air.

Para pengunjung cuma menghabiskan waktu di warung-warung yang cukup banyak. Pohon-pohon yang rindang dan besar-besar bikin kerasan. Duduk di pantai serasa di pinggir danau tengah hutan saja. Ini juga kelebihan Sendang Biru dibandingkan objek wisata pantai yang lain. Apalagi pesisir pantai Sidoarjo yang panas karena cuma ada pohon-pohon bakau yang tidak tinggi.

Bagaimana dengan penginapan? Tidak ada hotel memang di desa yang umat kristennya cukup banyak itu (ada GKJW yang bagus). Tapi jangan khawatir. Warga Sendang Biru ternyata sangat sadar wisata. Lebih tepat: sadar uang!

Kamar-kamar rumah warga disewakan. Jadi homestay. Mereka juga manfaatkan situs online macam Travelola untuk promosi kamar. Homestay ini tentu sangat membantu pengunjung yang ingin bermalam. Tidak perlu balik ke Malang yang makan waktu lama. Apalagi harus lewat di jalan desa yang gelap gulita di tengah hutan.

Saya iseng-iseng survei tarif homestay di Sendang Biru. Wow... selangit harganya. Ada yang minta Rp 300 ribu, 350, bahkan 400. Saya juga mampir di rumah orang Kristen yang ada pohon natalnya.

Berapa tarif kamar? Bapak yang ramah itu berunding dengan istrinya. Agak lama. Lalu keluar angka 200 ribu. Tarif yang paling murah ketimbang lima rumah lainnya. Padahal, ya, rumah biasa. Tidak ada fasilitas layaknya hotel, selain AC.

Rupanya konsep homestay sudah berubah total di Desa Sendangbiru itu. Aslinya homestay itu numpang nginap di rumah orang. Biayanya pasti lebih murah ketimbang hotel. Suasana rumah, home, yang jadi kelebihan homestay (yang otentik).

Dulu rumah saya di pelosok NTT juga sering diinapi turis Eropa, Jawa, atau tamu dari mana saja. Tidak bayar alias gratis.

Homestay yang asli juga ditemukan di tempat-tempat ziarah Katolik seperti Gua Maria Lourdes, Sendangsono, Kulonprogo, Jogjakarta. Saya beberapa kali homestay di rumah Pak Warno dekat Gua Maria yang terkenal itu. Gratis. Tapi biasanya tamu macam saya menitipi sedikit duit saat pamitan.

Maka, homestay di Sendang Biru ini saya anggap aneh. Masak, harganya lebih mahal daripada hotel di Malang! Masih banyak hotel bagus di Malang yang pasang tarif di bawah 200 ribu. Hotel bintang pun ada yang 300an di luar peak season.

Penginapan untuk backpacker di Malang sekitar Rp 70-80 ribu per malam. Dengan fasilitas yang lebih bagus ketimbang homestay di pantai Malang Selatan itu.

Sambil menyeruput kopi buatan pabrik di Taman Sidoarjo, saya merenungkan perilaku orang desa yang komersial abis alias mata duitan. Menguangkan kamarnya dengan harga yang tidak patut. Lebih mahal ketimbang hotel-hotel di Kota Malang.

Kehangatan dan keramahtamahan orang desa sepertinya tinggal cerita zaman old. Di zaman now... uang adalah segalanya.

Pesan Natal Romo Stanis: Jadilah Palungan!

Malam Natal yang cerah. Romo Stanis Beda CM, dengan logat Flores Timur yang kental, bicara tentang palungan. Gaya homili pater ini memang dialogis. Suka tanya jawab macam guru di kelas.

"Palungan itu apa? Ada yang tahu? Silakan jawab."

Tidak ada jemaat yang acungkan tangan. Bukan karena tidak tahu palungan, tapi agak aneh aja. Beda kalau tanya jawab di kelas atau seminar. "Ayo... palungan itu apa? Palungan lho, bukan pasungan!!!"

Akhirnya, pater kongregasi misi ini menjawab sendiri. Dengan deskripsi yang agak detail. Tentang tempat makanan ternak, sapi kambing dsb... di kandang. Makanan dan minuman untuk ternak ditaruh di palungan itu. Lalu hewan ternak ramai-ramai makan.

"Bayangkan saudara-saudara... Yesus lahir di palungan," ujar pater yang homilinya selalu menggelitik dan bikin ketawa itu. Ada kalanya juga sindiran keras, humor pahit.

Kisah kelahiran Yesus di kandang binatang, palungan, Maria dan Yosef, gembala-gembala sudah sangat umum. Tertulis di Injil bagian awal. Tapi Pater Stanis mampu menggoreng lagi berita kelahiran sang penebus ini menjadi sajian yang lezat.

Palungan sederhana itu bahkan punya makna yang sangat dalam. Bisa merembet ke mana-mana. Mulai soal rumah tangga, suami istri anak, masyarakat dsb.

"Kita sering lupa palungan karena terpukau dengan pohon Natal. Tidak ada itu Yesus lahir di atas pohon," ujar pater berkacamata ini disambut tawa umat.

Selamat Natal!

19 December 2017

Konser Natal SSO 2017 yang Sederhana

Konser Natal Surabaya Symphony Orchestra (SSO) 2017 malam ini tidak segebyar tahun-tahun sebelumnya. Tidak digelar di hotel berbintang (biasanya Shangri-La), tapi di auditorium SSO Jalan Manyar Rejo I/4 Surabaya. Kapasitasnya tidak sampai 200 tempat duduk.

Mengapa SSO berubah? Bukankah Solomon Tong sejak mengibarkan bendera SSO pada Desember 1996 hanya mau bikin konser besar di hotel berbintang? Penggemar SSO pun sekitar seribu sampai 2.000 orang? Ada apa dengan SSO?

Siang tadi saya mampir ke markas SSO. Sayang, tidak ada Pak Tong di kantor. Pun tidak terlihat kesibukan layaknya persiapan konser di Shangrila. Mbak Mimin, staf SSO, hanya bertugas rutin. Sibuk menjawab panggilan telepon.

Mengapa tidak konser di Shangrila? ''Kondisi Pak Tong kurang memungkinkan. Lagi pemulihan,'' ujar wanita asal Sidoarjo itu.

Solomon Tong alias Tong Tjong An, kelahiran Xiamen, Tiongkok, 20 Oktober 1939, memang sudah sepuh. Meskipun rajin olahraga, makan bergizi, plus jamu-jamu chungkuo, usia yang mendekati 80 memang ikut mempengaruhi irama tubuhnya. Tidak segesit dulu.

''Anaknya yang di Jakarta minta Pak Tong untuk tidak terlalu capek. Banyak istirahat,'' kata Mimin yang kelihatan makin serius dan tegas itu. Padahal dulu Mimin senang guyon dan tertawa. Hehehe...

Kalau kondisinya seperti itu, apakah Pak Tong masih memimpin orkestra? Jadi dirigen? ''Iya lah...,'' jawaban Mimik terkesan kurang meyakinkan.

Saya pun beranjak ke auditorium. Panggungnya kecil saja. Tidak mungkin untuk full orchestra dan paduan suara besar. Ini lebih cocok untuk konser kecil-kecilan. Bukan khas Christmas Concert ala SSO sejak 1996.

Bintang tamunya siapa? Mimin tidak menjawab karena sibuk ngomong di telepon. Biasanya SSO mendatangkan bintang tamu dari Tiongkok atau Eropa. Kadang musisi Indonesia yang tinggal di Eropa.

Saya lihat program konser bertajuk Emmanuel di samping meja resepsionis. Memang tidak ada nama-nama artis seperti biasanya. Bahkan nama Pauline Poegoeh soprano andalan SSO pun tidak tertulis.

Semoga konser di ujung tahun 2017 ini lancar dan sukses.

16 December 2017

Kapan sepak bola Sidoarjo naik kelas?

Musim ini Deltras belum beruntung. Klub bola Sidoarjo itu gagal promosi ke Liga 2. Harus terhenti di 16 besar oleh Persik Kendal. Padahal materi pemain Deltras cukup bagus. Apalagi Wimba Sutan, kapten dan top scorer yang kelasnya Liga 2 atau Liga 1.

Yang sudah pasti promosi ke Liga 2 musim depan adalah Blitar United dan Persik Kendal. Ini juga menunjukkan bahwa Kendal bukan tim kacangan. Deltras disikat di babak 16 besar dengan skor meyakinkan 3-1.

Nah, yang menarik, Blitar United sukses berkat sentuhan tangan dingin pelatih Gatot Mulbajadi asli Sidoarjo. Gatot sejak di zona Jatim sudah menunjukkan kelasnya sebagai coach yang bisa membentuk Blitar United sebagai the winning team. Menangan. Konsistensi ini diperlihatkan di putaran nasional yang berlangsung di Kendal Jateng.

Sebelumnya Persebaya juga sukses promosi ke Liga 1. Kaptennya Rendi asli Sidoarjo juga. Beberapa pemain kunci pun berasal dari kota petis dan udang itu.

Mengapa Sidoarjo sendiri, Deltras dan Persida, malah gagal? Persida yang kemarin bermain di Liga 2 harus degradasi ke Liga 3. Gabung Deltras yang sama-sama satu kota, satu stadion. 

Riyadh Ahmad, tokoh bola Sidoarjo, yang sekarang jadi ketua PSSI Jatim, bersama semua insan sepak bola di Kabupaten Sidoarjo perlu ngopi bareng. Cari solusi terbaik untuk memajukan sepak bola. Sebab egoisme pengurus dan klub-klub di Sidoarjo terlalu tinggi. 

Kita punya banyak klub tapi levelnya masih sangat rendah. Ada Persida, Deltras, Sinar Harapan... dan 80an klub-klub internal. Mestinya dibentuk satu tim yang benar-benar kuat seperti Persebaya di Surabaya. 

Suporter bola di Surabaya hanya mendukung Persebaya. Bukan yang lain. Itu yang membuat Bhayangkara United pindah dari Surabaya ke Bekasi karena tidak punya penonton dan suporter setia. Padahal Bhayangkara tim kuat yang tahun ini jadi juara Liga 1.

Mas Riyadh dan kawan-kawan sempat bikin sarasehan bola di pendapa kabupaten. Pak Bupati, KONI, insan bola, perwakilan klub hadir. Tapi tidak ada solusi. Apalagi kalau sudah masuk ke pembentukan sebuah tim super untuk Sidoarjo. Pasti panas.

''Biarkan saja situasinya berjalan seperti saat ini,'' ujar seorang pengamat dan pentolan suporter. 

Yah... mudah-mudahan saja tahun depan Deltras atau Persida atau Sinar Harapan bisa naik kelas. Agar Gelora Delta Sidoarjo, salah satu stadion terbaik di Indonesia, bisa jadi arena pertandingan kelas nasional atau internasional. Sayang kalau stadion yang pernah dipakai untuk Piala AFF itu hanya diisi pertandingan klub-klub tingkat kecamatan alias tarkaman.

14 December 2017

Gereja Katolik Tidak Dikenal Tetangga

Barusan saya bersepeda lawas di kawasan Waru Sidoarjo. Mampir ke Wisma Tropodo melihat genangan air. Kawasan ini langganan banjir sejak dijadikan perumahan. Drainasenya buruk.

Singgah sebentar di halaman Gereja Katolik Salib Suci. Gereja ini dibangun oleh Romo Heribert Ballhorn SVD kalau tidak salah 30 tahun lalu. Pater asal Jerman itu berkarya selama 27 tahun di Paroki Salib Suci.

Beda dengan romo-romo diosesan yang biasa dimutasi setiap tiga tahun, romo-romo kongregasi alias reverendus pater (RP) bisa menggembala sebuah paroki dalam waktu sangat lama. Bisa puluhan tahun macam Pater Heribert ini.

Saya kemudian singgah di warkop milik seorang wartawan emeritus (pensiunan). Di Desa Tropodo, Kecamatan Waru, juga. Satu desa dengan Gereja Salib Suci itu.

"Dari mana Anda?" tanyanya ramah.

"Tadi mampir sejenak di gereja sebelah itu. Mau ngobrol sama romonya karena dari dulu romonya selalu ada yang dari Flores NTT, daerah asal saya."

"Gereja besar itu Katolik atau Protestan?"

"Katolik lah. Namanya aja Paroki Salib Suci."

Saya tidak cerita bahwa gereja itu digembalakan romo-romo SVD. Mengapa romo SVD pasti banyak dari Flores dsb. Sebab bapak yang muslim ini pasti bingung. SVD itu apa? Praja apa pula? Dan seterusnya.

Sambil ngopi (enak banget), saya merenung. Gereja Salib Suci sudah hampir 30 tahun. Kok penduduk satu desa tidak tahu ini gereja Katolik atau Protestan? Apa yang salah? Umat Katolik setempat kurang sosialisasi dengan warga di Desa Tropodo?

Umat yang bukan Katolik tidak mau tahu alias cuek? Toh, gereja itu tempat ibadah agama lain?

Syukurlah, di era digital ini ada Mbah Google yang punya peta akurat. Ada google maps. Sehingga orang Papua atau Flores yang berkunjung ke kawasan Bandara Juanda bisa bertanya ke Google di mana Gereja Katolik terdekat. Bisa juga Protestan, Pentakosta, Advent... atau lebih spesifik lagi Gereja Salib Suci atau Gereja Bethany.

Mengapa harus ke Google? Kalau bertanya kepada orang di pinggir jalan atau warga sekitar hotel hampir pasti tidak ada yang tahu. Walaupun lokasi gereja itu tak sampai 500 meter dari rumahnya.
Mbah Google jadi rujukan utama di jaman now karena manusia-manusia di dunia nyata makin cuek dengan sesama. Khususnya yang berbeda agama, aliran, ras, keyakinan dsb.

Manchester City Ciamik, United Membosankan

Musim ini kelihatannya milik Manchester City. Semalam tim asuhan Pep Guardiola yang pelontos itu menang lagi. Skor telak 4-0.

Kelihatannya City sangat sulit dikalahkan tim mana pun. MU juga dipermalukan di kandangnya dengan permainan menyerang, umpan-umpan akurat, dan lapar gol. Inilah yang membedakan MU ala Jose Mourinho yang mengandalkan serangan balik. Jurus klasik Jose yang dulu sangat efektif.

Sayang, RCTI semalam (tepatnya Kamis dini hari) lebih suka menyiarkan MU vs Bournemouth. Apa boleh buat, saya terpaksa nonton ini. MU cuma menang 1-0 hasil sundulan kepala (sundul ya pakai kepala, bukan bahu) Lukaku.

United malah sering terancam. Tidak kelihatan bahwa dia klub besar. Untung ada De Gea, kiper paling joss di Liga Inggris. Tanpa orang Spanyol ini rasanya MU tidak mungkin duduk di posisi kedua tabel sementara.

Sebagai penggemar Pep, sejak menyihir dunia dengan tiki-taka di Barcelona, saya ingin City tetap kencang dengan gaya permainan ciamik. Plus gol-gol indah dan banyak. Sekaligus membungkam gaya bertahan Jose yang membosankan. Mou bikin boring, begitu judul berita kemarin.

Seharusnya Pep yang pegang MU. Bukan Jose. Sebab gaya klasik MU yang rancak selama hampir 30 tahun di tangan Sir Alex paling dekat dengan Pep. Jose justru antitesis Pep. Dan itu yang terlihat ketika kedua pelatih top ini pegang Barcelona dan Real Madrid di Spanyol.

Perubahan gaya MU ini mungkin terpaksa dilakukan manajemen untuk mengangkat tim yang terpuruk setelah ditinggal Sir Alex. Sebab dua pelatih sebelumnya gagal total. Jose yang berjasa mengembalikan MU ke Liga Champions (Liga Juara-Juara kata koran-koran di Malaysia).

Tapi ya itu... ada harga yang harus dibayar sangat mahal. Permainan MU tidak enak ditonton. Membosankan. Bikin ngantuk. Apalagi kalau siaran langsung di atas pukul 00.00. Dulu mata ngantuk jadi melek begitu melihat permainan MU yang meledak-ledak.

Semoga saja City menang terus.

11 December 2017

Mesin penerjemah dianggap seksis

Mesin penerjemah di internet sering dipakai untuk membantu orang Indonesia yang tidak paham atau kalimat asing. Khususnya bahasa Inggris. Namanya juga mesin, kualitas terjemahannya tentu buruk. Tapi untuk kalimat pendek biasanya akurat.

Entah disengaja atau tidak, mesin bernama google translate itu sering membuat terjemahan yang seksis. Memojokkan perempuan. Begitu yang disampaikan Soe Tjen Marching PhD, arek Suroboyo yang kini jadi dosen di London, Inggris. Saya sendiri tidak pernah perhatikan mesin penerjemah itu.

Soe Tjen yang memang aktivis tulen itu menulis:

"How sexist can googletranslate be? Have a look at the translation below. The third person pronoun "dia" in Indonesian is gender neutral. However, googletranslate assumes certain things/positions are ascribed to males/females (the considered more important and more intellectual ones are usually those of males)."

Hehehe.... Kaget juga saya. Setelah saya iseng mengetes mesin penerjemah itu, ternyata ada benarnya. Tapi tidak semua. Ada DIA yang netral, ada yang merujuk gender. DIA CANTIK misalnya menjadi SHE bukan HE.

Lalu, siapa yang bertanggung jawab membuat terjemahan yang dianggap seksis itu? Begitu pertanyaan Soe Tjen. Gak ngerti. Google yang disalahkan? Gak lah.

Sebagai mesin penelusur nomor wahid, Google tentu hanya menyimpan kata-kata atau kalimat yang dibuat pengguna. Simpanan ribuan atau jutaan kata itu kemudian dijadikan semacam pola. Kalau sebagian besar pengguna translate.google.com memberi masukan yang seksis ya Mbah Google ya manut ae.

Sistem itu juga yang dipakai di google maps dan sebagainya. Kalau pengguna memberi masukan yang akurat tentang alamat tertentu, maka hasilnya juga akurat. Sebaliknya, kalau input datanya ngawur alias iseng ya ngawur pula hasilnya.

Inilah yang dialami Pratiwi, mahasiswi dari Bandung, saat mencari situs Terung di Krian Sidoarjo. Nona manis itu begitu bergantung pada gawai. Sangat yakin bahwa google maps itu akurat. Soalnya di Bandung selalu tepat, katanya.

Apa yang terjadi? Mahasiswi ini kesasar jauh dari lokasi. Gara-gara petunjuk di google maps yang mbeleset. "Akhirnya, saya tanya ke orang-orang di pinggir jalan. Alhamdulillah, sampai juga di lokasi," katanya.

Kembali ke terjemahan DIA yang dianggap seksis itu. Suka tidak suka, budaya Indonesia masih patriarkis meski sudah masuk era digital. Mindset yang sudah berlangsung sejak zaman purba itu masih bertahan di jaman now.

PKK masih ada. Darma Wanita ada. Istri masih dianggap bertugas memasak dan membuat wedhang kopi... seperti lirik lagu dangdut koplo yang sangat populer itu. Karena istrinya tidak mau masak, tidak mau bikin kopi, suaminya mencari hiburan di luar rumah. Waduh.... waduh.....

Budaya patriarki inilah yang mungkin tidak ada lagi di Barat. Seperti yang selalu diangkat di video-video Sascha Stevenson tentang bule wanita yang kawin dengan laki-laki Indonesia itu.

10 December 2017

Giliran patung balet di Citraland diturunkan

Sudah belasan tahun patung sepasang penari balet jadi penanda kawasan Citraland Surabaya. Patung balerina itu garapan seniman top negeri ini. Cocok dengan visi Pak Ciputra sejak dulu: membangun kawasan bernuansa seni.

Selama ini ya aman-aman saja. Orang melintas di sekitar patung itu begitu saja. Tak pernah ada polemik atau kontroversi di media massa. Silakan buka arsip koran-koran lama terbitan Surabaya sejak awal 2000. Tidak ada polemik soal patung.

Polemik patung di Surabaya, yang masih saya ingat, cuma satu. Patung kerapan sapi di dekat belokan Basuki Rahmat dan Urip Sumoharjo. Patung balapan sapi khas Madura itu dianggap tidak cocok dengan spirit Kota Pahlawan.

"Mestinya dipasang patung pejuang kemerdekaan yang lebih mencerminkan semangat arek-arek Surabaya. Bukan malah ditaruh patung sapi," ujar Cak Kadar suatu ketika.

Almarhum yang dikenal sebagai budayawan senior ini mengusulkan agar patung kerapan sapi itu dipindahkan ke Madura. Polemik ini sempat ramai di media massa (belum ada media sosial). Tapi pelan-pelan hilang begitu saja. Dan sampai sekarang patung kerapan sapi masih tegar berdiri.

Begitulah. Selama bertahun-tahun para seniman dan pemerhati kota hanya konsen dengan ruang publik. Khususnya karya seni yang dibuat dengan uang rakyat alias APBD. Perumahan dianggap sebagai ranah swasta meskipun nantinya juga jadi permukiman penduduk.

Karena itu, hampir semua perumahan kelas tengah atas punya tetenger atau landmark. Ciputra yang sejak dulu ngomong kota nuansa seni pun melengkapi perumahan-perumahannya dengan seni patung dsb. Indah nian... bagi orang yang punya apresiasi seni.

Anehnya, di era media sosial yang heboh, muncul pandangan baru yang keras. Massa main geruduk. Minta agar patung yang dianggap porno atau bertentangan dengan keyakinan mereka harus diturunkan. Main ultimatum harus dibongkar dalam tempo sekian hari.

Itulah yang terjadi di Sidoarjo. Patung petani, nelayan, dan perajin hasil tambak Kota Delta diturunkan karena tekanan massa. Pakai argumentasi dan legitimasi agama. Maka patung yang masih baru itu pun diturunkan.

Dari Sidoarjo, aksi protes patung dilakukan di Tuban. Patung Dewa Kwan Kong di kompleks kelenteng diminta bongkar karena dianggap tidak sesuai dengan karakter lokal. Media sosial heboh. Sebab patung Kwan Kong ini dibandingkan dengan patung Jenderal Sudirman.

Mudah ditebak. Pihak kelenteng, orang Tionghoa, tidak mau ambil risiko. Di mana-mana minoritas itu lebih suka bermain aman... kecuali Ahok yang berani melawan arus. Akhirnya dimakan arus politik SARA juga.

Kemarin giliran Surabaya yang kena. Modusnya sama. Ada ormas ngeluruk patung balerina di Citraland yang dianggap porno. Patung itu kemudian ditutupi kain putih. Tentu saja manajemen Citraland tidak mau ambil risiko. Besoknya patung itu diturunkan.

Rasanya aksi seperti ini bakal terus ada di NKRI ini. Seiring makin kuatnya masyarakat yang berhaluan konservatif. Biasanya menjelang pemilihan umum kepala daerah, pemilihan legislatif, atau pemilihan presiden isu SARA jadi menu gorengan yang panas. Apalagi sudah terbukti berhasil di Jakarta.

Ngobrol rupiah di warung kopi

Warkop milik Bu Mualim di Rungkut Surabaya ini menarik. Di atas meja dipajang cukup banyak uang lama dan baru. Ada juga ringgit Malaysia, mata uang Portugal, USA, Spanyol, hingga Malaysia. Katanya dikasih seorang kolektor uang lama di Surabaya.

Di depan saya ada uang kertas Rp 10.000. Tiganya masih laku, satunya yang bergambar Sri Sultan Hamengkubuwono IX sudah lama ditarik. Sembari ngopi pahit, saya membayangkan masa lalu. Tahun 1992. Ketika uang Rp 10 ribu itu baru dirilis.

Wow... betapa hebatnya nilai uang 10 ribu pada awal 1990an itu. Duit segitu bisa dapat bensin 10 liter. Beli beras juga dapat banyak. Pegang uang Rp 10.00 gambar Sultan juga habisnya lama. Apalagi cuma untuk ngopi dan beli pisang goreng yang enak.

Kini, akhir 2017, uang Rp 10.000 gambar Frans Kaisiepo (emisi 2016) cuma uang receh di Indonesia. Kalau ditukar bensin cuma dapat satu liter lebih sedikit. Beras juga dapat sedikit. Rujak cingur cuma dapat kembali Rp 1.000.

Betapa hancurnya nilai rupiah. Khususnya sejak krisis moneter 1997. Nilai tukar uang kita merosot sekian ratus persen. ''Enak jaman Pak Harto. Barang-barang murah, bensin murah, sembako murah,'' ujar seorang bapak di warkop pinggir jalan itu.

Mahal dan murah itu relatif. Orang kaya sekali makan bisa habis Rp 100 ribu. Wong cilik cukup makan nasi kucing Rp 3.000. Tidak tepat juga membandingkan nominal harga hari ini dengan 20 atau 30 tahun lalu.

Yang sebenarnya terjadi itu bukan harga-harga yang naik, membubung tinggi, tapi inflasi yang parah. Nilai tukar rupiah anjlok luar biasa. Sementara penghasilan rakyat hanya naik sedikit.

Bagaimana cara membuat rupiah tidak hancur-hancuran seperti ini? Kulo mboten sumerep. Mbak Sri selaku menteri keuangan pasti paling tahu jurus-jurus silat moneter.

08 December 2017

Waduh... NTT jadi bahan ejekan


NTT kembali jadi olok-olok di tingkat nasional. Soal kemiskinan, pengirim TKI, hingga mutu pendidikan. Minggu lalu yang ngejek NTT justru menteri pendidikan sendiri.

Menteri Muhadjir tidak terima hasil survei PISA yang menempatkan Indonesia di peringkat bawah. Kualitas pendidikan kita sangat buruk. Rupanya Pak Menteri tidak terima. Dia balas mempertanyakan sampel yang dipakai PISA.

"Mungkin PISA pakai sampel di NTT. Kalau sampelnya di Jawa hasilnya pasti tidak seperti itu," kata menteri dari Muhammadiyah itu.

Sebagai perantau asal NTT, saya tertawa kecut membaca omongan spontan mendikbud yang dikutip Jawa Pos itu. Ada benarnya memang. Dan dari dulu kualitas NTT ya seperti itu. Selalu terpuruk di bawah.

Orang NTT sendiri, bahkan sejak saya kecil, biasa mempelesetkan NTT menjadi Nusa Tetap Tertinggal atau Nasib Tidak Tentu. Ada juga yang religius mengartikan NTT sebagai Nanti Tuhan Tolong.

Masalahnya, kali ini yang mengejek NTT (meski faktanya begitu) justru menteri pendidikan. Kok bisa begitu, komentar beberapa teman asal NTT di Jatim. Mestinya pak menteri kerja keras agar kualitas pendidikan di NTT terangkat. Setidaknya mendekati provinsi lain. Bukan malah membuat pernyataan yang makin memojokkan NTT - yang memang sudah lama terpuruk.

Benar saja. Pernyataan mendikbud sempat dibahas di media massa dan media sosial di kalangan NTT. Jelek-jelek begini orang NTT juga banyak yang berada di belakang media massa nasional. Jangan dikira orang NTT tidak membaca pernyataan mendikbud itu.

Akhirnya kemendikbud datangi media massa untuk klarifikasi. Bukan menterinya. "Pak Menteri tidak ada maksud merendahkan NTT," kata Ari Santoso, jubir kemendikbud.

Ari kemudian membeberkan data yang makin memperlihatkan ketertinggalan NTT. Indeks pembangunan manusia NTT hanya 63, sedangkan nasional 70. Hasil ujian nasional di NTT di bawah rata-rata. Kompetensi guru cuma 50, sedangkan nasional 56.

Jumlah sekolah yang terakreditasi di NTT sangat sedikit. Hanya 30 persen saja.

Kalau sudah punya data seperti itu ya, kemendikbud harus KERJA NYATA (pinjam istilah Jokowi). Segera memperbaiki kualitas pendidikan di NTT. Bukan malah menjadi bahan ejekan. Jadi bahan ngeles untuk kontra agumen melawan PISA.

Ojo lali Pak Menteri, NTT itu juga Indonesia lho. Bahkan jauh sebelum proklamasi kemerdekaan, Bung Karno sudah menggembleng nasionalisme Indonesia di Flores tahun 1934-1938. Bung Karno juga merumuskan Pancasila di bawah pohon sukun di Ende, Flores. Baca dong buku-buku sejarah itu!

Lah, kok sekarang ketika lembaga internasional merilis hasil penelitian yang hasilnya gak enak, mendikbud enak saja bilang, "Itu kan di NTT!"

07 December 2017

Ki Boen Liong Dalang Tionghoa Ciamik

Tidak banyak orang Tionghoa yang menggeluti seni pedalangan. Opo maneh dadi dalang. Lah... wong Jowo aja belum tentu suka wayang kulit. Apalagi kids jaman now.

Nah, Tee Boen Liong ini merupakan pengecualian. Wong Tenglang Suroboyo ini sudah lama menekuni seni tradisional Jawa. Bahkan sudah lama menjadi dalang. Makanya Boen Liong lebih dikenal dengan sapaan Ki Boen Lion. Ada juga yang menyapa Ki Sabdo Sutejo.

''Kalau bukan kita yang melestarikan (wayang), lalu siapa lagi? Mosok wong Londo yang diminta belajar seni pedalangan,'' kata seniman serbabisa ini.

Ki Boen Liong sudah biasa bermain di berbagai kota. Di Surabaya dia selalu ditanggap di Kapasan, kampung pecinan di bagian utara Kota Pahlawan. Orang-orang Tionghoa di Kapasan sejak dulu punya tradisi ruwat desa atau sedekah bumi. Salah satu hiburannya adalah wayang kulit.

''Di Kapasan ini wayang kulitnya digelar dua hari berturut-turut. Puji Tuhan, kami punya dalang sendiri, ya Boen Liong itu,'' ujar Antonius Gunawan, tokoh masyarakat Kapasan.

Berbeda dengan ruwat desa di Jawa umumnya, pelaksanaan ruwat desa di Kapasan diadakan untuk merayakan hari lahir Nabi Konghucu. Ada kelentengnya yang dikenal sebagai Boen Bio itu. Gunawan mengatakan bahwa upacara ruwatan menggabungkan budaya Jawa dan Tionghoa.

''Ini yang membuat Kapasan sangat unik. Makanya sering diliput media masa,'' ujar Gunawan lantas tertawa kecil.

Tahun ini Ki Boen Liong tidak pentas di Kapasan. Ia diganti dalang remaja yang tak lain kadernya Ki Sabdo. ''Yang senior harus kasih kesempatan kepada yang muda,'' kata Boen Liong.

Kapan naik pentas lagi?

"Sebentar lagi ada saya pentas di PRJ (Pekan Raya Jakarta). Kalau gak bisa datang jangan khawatir. Nanti saya naikkan di Youtube kok,"  ujar Ki Dalang yang ramah itu.

Ada gak sinden yang cakep dan semok?

Tee Boen Liong: "Hehehe... Saiki sindennya yang semok cuma satu. Tenglang masih 15 tahun."

Hiahaha.... iso ae Ki Dalang Tenglang ini.

06 December 2017

Air Supply vs Musisi Indonesia

Graham Russel dan Hitchcock tiba di Sidoarjo, tepatnya di Bandara Juanda kemarin sore. Rabu malam langsung konser di Surabaya. Sekaligus merayakan 40 tahun karir bermusik kedua seniman sepuh ini sebagai motor Air Supply.

Luar biasa. Graham 67 tahun, Russel 68. Jelang kepala tujuh. Tapi mereka masih keliling dunia untuk bikin konser. Bukan cuma sekadar nostalgia, tapi pertunjukan dengan standar normal Air Supply. Lihat saja tiket masuk ke Grand City yang sangat mahal untuk ukuran Jatim.

Standar yang sama dengan ketika Air Supply lagi di atas angin tahun 80an atau 90an. ''Kami ingin ajak masyarakat Surabaya untuk senang-senang. Menyanyi dan joget bersama,'' kata Russel yang barusan konser di Hongkong.

Musik pop yang melodius, manis, ala Air Supply memang cocok banget dengan selera orang Indonesia. Seperti Peter Cetera yang biasa digandengan David Foster. Tidak heran Air Supply ini sudah sering konser di Indonesia, khususnya Jakarta. Surabaya baru sekali ini.

Setiap kali melihat konser band atau artis senior Barat, saya selalu terenyuh. Prihatin. Sebab penyanyi atau musisi NKRI tidak pernah bertahan lama di blantika musik. Industri musik kita tidak ramah bagi musisi senior. Pop Indonesia hanya kasih tempat untuk artis di bawah 27 tahun rata-rata.

Usia di atas 30 biasanya sudah sepi pasaran. Sulit bikin album. Apalagi bisa tur ke berbagai kota. Satu-satunya band yang eksis sampai tua adalah Godbless yang dimotori Achmad Albar itu. Sayang, standar pertunjukannya beda jauh dengan era keemasan dua atau tiga dekade lalu.

Para musisi sepuh pun harus kerja serabutan agar bisa tetap makan minum. Bahkan ada rocker top lawas yang terpaksa jadi dukun alias paranormal. ''Saya sering ajukan proposal tapi selalu ditolak. Gak laku,'' ujar rocker lawas yang sudah almarhum itu.

Ada juga rocker yang jadi pendeta. Seperti Sunatha Tanjung dari AKA Band. Gitaris ini bisa tenang di usia senja karena sudah ada sumber nafkah... meskipun kalah jauh ketimbang bayaran rock star di masa jayanya. ''Sedikit tapi ada berkatnya. Buat apa bayaran besar tapi tidak berkat. Cepat habis,'' ujar gitaris kawakan ini kepada saya beberapa tahun lalu.

Melihat Air Supply yang masih greng, keliling dunia, saya makin prihatin dengan banyak band bagus kita yang bubar. Dewa 19 hilang karena pentolannya Ahmad Dhani sibuk main politik. Sibuk jadi oposan yang setiap hari menyerang pemerintah. Tidak ada waktu lagi untuk bikin lagu, main band, atau konser.

''Padahal Dhani ini punya talenta luar biasa di musik. Belum tentu 25 tahun sekali ada musisi sekaliber Ahmad Dhani,'' kata Once vokalis Dewa 19.

01 December 2017

Konser Natal SSO 2017 di Manyar Rejo

Bulan Desember datang lagi. Bumi makin basah dua minggu ini. Beda dengan tahun lalu yang kurang basah hingga pekan kedua Desember. Dan... tentu saja mulai masuk Adventus, masa persiapan menyambut Natal.

Bung Ray baru saja kasih tau bahwa Surabaya Symphony Orchestra (SSO) mengadakan konser Natal. Christmas Concert yang digelar orkes simfoni pimpinan Solomon Tong itu digelar pada 19 Desember 2017 pukul 19.00 sampai 21.00. Tempatnya di SSO Auditorium, Jalan Manyar Rejo I/4 Surabaya.

Bisa saya pastikan konser mesti digelar hari Selasa. Kok bukan Jumat Sabtu atau Minggu?

Saya belum tanya ke Bapak Solomon Tong, pendiri sekaligus dirigen SSO yang selalu antusias itu. Selalu lupa kalau sudah ketemu Pak Tong di sekretariat SSO di Urip Sumoharjo, kemudian pindah ke Gentengkali, lalu terakhir punya tanah dan bangunan sendiri di Manyar Rejo.

Yang jelas, sejak dulu saya perhatikan konser-konser besar SSO (Natal, Paskah, dan Kemerdekaan) selalu hari Selasa.

Mungkin kalau diadakan akhir pekan, penggemar musik klasik berada di luar kota. Biasa... liburan bersama keluarga ke Batu, Trawas, bahkan Singapura. Maka Pak Tong sengaja memilih Selasa. Bisa juga Selasa adalah hari baik SSO.

Yang berbeda dari konser-konser sebelumnya adalah tempatnya. Setahu saya baru kali ini tidak diadakan di ballroom hotel bintang lima. Tapi di Auditorium SSO, Manyar Rejo I/4 Surabaya. Mungkin Pak Tong menganggap aula besarnya itu sudah memenuhi syarat akustik untuk pergelaran musik klasik.

Sekadar mengingatkan, SSO pertama kali menggelar konser Natal pada 1996. Sekaligus jadi tonggak berdirinya SSO. Dus, sudah 21 tahun. Luar biasa! Pak Tong mampu menjaga stamina di usia senja dan mampu mempertahankan orkes simfoninya itu. Rutin mengadakan konser besar tiga kali setahun. Non stop!

Konser pertama pada Desember 1996 diadakan di Hotel Westin (sekarang jadi JW Marriott) di Embong Malang. Sempat sekali di Sheraton, kemudian jadi langganan ballroom Shangrila yang memang paling ciamik di Surabaya. Tempat ini juga pas dengan segmen utama penikmat musik simfoni yang jadi target SSO.

Seperti biasa, konser Natal pastilah menghadirkan komposisi yang bernuansa Natal. Paduan suara dewasa, kor anak, lagi solo, hingga piano. Bagi Solomon Tong, yang juga pendiri salah satu sinode gereja Tionghoa, konser Natal sudah merupakan bagian dari ibadahnya untuk menghadirkan musik yang berkualitas kepada masyarakat di Kota Pahlawan.

Persebaya memang luar biasa

Selamat untuk Persebaya!
Selamat datang kembali ke Liga 1!

Awalnya saya meragukan Persebaya bisa lolos ke Liga 1 musim depan. Ini setelah melihat penampilan arek-arek Green Force yang tidak menjanjikan di beberapa pertandingan awal Liga 2 yang selalu disiarkan tvOne itu. Apalagi ketika masih dipegang pelatih Iwan Setiawan.

Para pemain sering salah passing. Salah pengertian. Skema bermainnya juga kurang jelas. Karena itu, tidak heran Persebaya didikte tim kecil macam Madiun Putra. Kemudian kalah oleh Martapura FC. Suporter militan Bonek sempat berteriak keras dengan memasang spanduk protes di kawasan Gedangan, Waru, Krian, Porong dsb.

Oh ya... sebagian besar warga Sidoarjo memang pendukung berat Persebaya. Sejak era perserikatan pemain-pemain bagus dari Sidoarjo menjadi andalan Persebaya. Bahkan, kapten Persebaya sekarang pun asli Sidoarjo.

Syukurlah, manajemen Persebaya tanggap. Iwan Setiawan dipecat. Diganti Angel Alfredo Viera. Coach asal Argentina ini memang jempolan meski awalnya juga kesulitan membenahi permainan Green Force. Alfredo mengubah gaya Persebaya menjadi tim yang bermain pendek, cepat, banyak menguasai bola. Cocok dengan fisik pemain-pemain Persebaya yang kecil dan pendek.

Perlahan tapi pasti, penampilan Persebaya makin joss saja. Makin dominan di lapangan. Menang menang menang.... Posisi di klasemen pun terangkat. Kalau begini terus, peluang besar untuk tampil di 16 besar.

Benar saja. Persebaya akhirnya menjadi the winning team. Tampil di 8 besar, Persebaya mencatat rekor sempurna. Menang 100 persen. Lima pertandingan menang. Opo ora hebat?

Saat melawan PSPS sebenarnya arek-arek sangat tertekan. Maklum, pemain-pemain dari Pekanbaru Riau ini punya badan besar dengan skill tinggi. Kalah penguasaan bola, tapi serangan baliknya sangat berbahaya. Apalagi kalau bola sudah dikuasai striker naturalisasi itu. Belum lagi tembakan jarak jauh Viktor Pae asal Papua yang sangat keras.

Syukurlah, coach Alfredo punya strategi meredam PSPS. Begitu dapat peluang, arek-arek bergerak sangat cepat dan bikin gol. Saya kira itulah kemenangan penting yang membuat motivasi arek-arek untuk promosi ke Liga 1 makin membuncah.

Sekarang Persebaya sudah dapat tiket Liga 1. Menjadi salah satu dari 18 klub elite yang berkompetisi di kasta tertinggi sepak bola Indonesia. Tentu saja kualitas tim-tim Liga 1 jauh lebih bagus ketimbang Liga 2. Materi pemain yang ada saat ini saya rasa belum cukup untuk bersaing di papan atas alias enam besar.

Belajar dari kompetisi Liga 1 kemarin, materi pemain yang ciamik menjadi resep sukses Bhayangkara FC sebagai juara. Tim milik polisi itu diperkuat pemain-pemain bagus di semua lini. Otak lini tengahnya Evan Dimas yang notabene mantan pemain Persebaya. Di depan ada Spaso yang haus gol.

Bhayangkara ini unik karena tidak punya suporter. Sejak bermarkas di Gelora Delta Sidoarjo, kemudian pindah ke Bekasi, saya lihat pendukungnya cuma polisi. Itu pun dimobilisasi ke stadion. Bhayangkara tidak punya ikatan batin kedaerahan seperti Persebaya, Arema, Persija, Persib, atau PSMS.

Tapi kok bisa tampil ciamik dan stabil sepanjang 34 pertandingan di Liga 1?

Yah... sekali lagi karena materi pemainnya yang memang hebat. Bukan lantaran faktor nonteknis sebagaimana sempat dituduhkan Haruna, manajer Madura United, beberapa waktu lalu. Fakta di lapangan menunjukkan Bhayangkara selalu tampil bagus dan dominan. Justru pemain-pemain-pemain Madura yang main kayu sehingga dapat tiga kartu merah. Termasuk si Peter mantan pemain Liga Inggris itu.

Pesta kemenangan Persebaya sudah selesai. Sekarang giliran manajemen untuk menyiapkan tim yang berkualitas untuk menyongsong Liga 1 musim depan. Sebab suporter setia alias Bonek dari dulu menginginkan Persebaya menjadi juara kompetisi kasta tertinggi di Indonesia. Bukan cuma sekadar bertahan di Liga 1.

30 November 2017

Ada alumni unjuk rasa di Indonesia

Lagi ramai di internet rencana reuni alumni 212. Tempatnya di Monas Jakarta. Mereka ini ribuan orang yang tahun lalu unjuk rasa mendesak aparat agar segera menangkap Ahok, yang waktu itu gubernur Jakarta.

Ada yang unik dalam istilah itu: reuni alumni 212. Setahu saya, dan menurut banyak kamus, istilah ALUMNI atau ALUMNUS (tunggal) itu terkait dengan lembaga pendidikan seperti sekolah dasar, sekolah menengah, hingga perguruan tinggi. Setelah lama berpisah, sibuk dengan urusan masing-masing, lalu berkumpul kembali. Namanya REUNI.

Saya pun mengecek kamus besar alias KBBI yang terkenal itu. Ada kata ALUMNI dan ALUMNUS. Deskripsinya: ''orang-orang yang telah mengikuti atau tamat dari suatu sekolah atau perguruan tinggi''.

Kok bisa orang-orang yang dulu unjuk rasa disebut alumni? Bikin reuni pula? Dan belum setahun sudah bikin reuni? Hehe....

Setahu saya yang namanya reuni sekolah atau kampus itu tunggu bertahun-tahun. Biasanya setelah bekerja, punya anak, bahkan cucu. Lalu kangen-kangenan sejenak. Orang Tionghoa di Jatim setahu saya paling doyan bikin reuni. Khususnya reuni sekolah dasar, SMP dan SMA. Saya berkali-berkali-kali meliput reuni alumni sekolah-sekolah Tionghoa di Surabaya.

Saya sendiri belum pernah ikut reuni sekolah. Mulai SD hingga SMA dan perguruan tinggi. Beberapa teman berencana gelar reuni tapi gagal terus. Dan saya sendiri tidak antusias alias malas ikut reuni karena tidak ada ikatan batin lagi.

Lah... kok ini ada reuni alumni 212 di Jakarta? Opo maneh?

Mungkin suatu ketika kamus bahasa Indonesia perlu menambah keterangan baru di lema ALUMNI. Bahwa ALUMNI tak lagi terbatas pada lembaga pendidikan atau organisasi tapi juga peserta unjuk rasa.

28 November 2017

Siapa suruh berdoa minta hujan

Saya cukup sering berdoa minta hujan pada Oktober dan November lalu. Maklum, suhu lagi panas ekstrem. Begitu banyak orang Surabaya dan Sidoarjo mengeluhkan suhu yang sudah mendekati 40 celcius. Tapi... doa-doa itu belum dikabulkan oleh Sang Mahakuasa Alam Semesta.

Maka, saya menjadi sering banget minggat ke Trawas Mojokerto. Kawasan pegunungan yang tingginya 800an meter dari muka laut. Suhunya memang enak banget untuk tidur nyenyak. Kontras dengan di Surabaya.

Saking seringnya naik, Mbak Hasanah yang sudah saya anggap keluarga di kawasan Jolotundo heran. Jangan-jangan ada masalah di bawah. Benar. Masalahnya ya suhu yang panas ekstrem. Tidak bisa tidur.

Sang surya, ada doa atau tidak, terus bergerak ke selatan. Gerakan semu matahari karena yang bergeser sebenarnya bumi. Akhirnya permintaan saya mulai dikabulkan Gusti Allah. Hujan mulai turun di Surabaya dan Sidoarjo. Dahsyat!

Saking derasnya, air tergenang di mana-mana. Surabaya terendam parah Kamis lalu. Minggu giliran Porong yang terendam air hingga satu meter. Jalan Raya Porong di kawasan lumpur jadi sungai. Rel kereta api tidak bisa digunakan.

Pagi ini ada laporan bahwa Berbek Waru juga banjir. Genangan setinggi pinggang orang dewasa. Wuih...

Cuaca saat ini memang ekstrem. Selama dua bulan panas ekstrem, diimbangi dengan hujan yang juga ekstrem. Oh ya... tidak jauh dari warkop ini hampir 800 rumah di Tambakrejo, Tambaksawah, dan Tambaksumur ambruk diterjang angin puting beliung pada Rabu sore pekan lalu.

Bukankah kita yang berdoa minta hujan? Setelah dikasih hujan, mengapa menyalahkan hujan? Saya pun merenung. Serba salah kita orang ini. Ibarat makan buah simalakama. Tidak hujan panasnya ekstrem, hujan sedikit saja sudah banjir.

''Paling enak itu ya hujan tapi tidak banjir,'' kata Maya asal Gedangan Sidoarjo.

Hehehe.... Manusia memang suka enaknya sendiri. Sementara alam juga punya rumus keseimbangan sendiri.

Paus Fransiskus atau Pope Francis atau Papa Francesco

Koran pagi ini memberitakan Paus Fransiskus mengunjungi Myanmar. Pemimpin umat Katolik sedunia itu juga menyambangi pengungsi Rohingya. Juga dijadwalkan melawat ke Bangladesh.

Ada teman bertanya di warkop kawasan Rungkut Surabaya. Nama paus yang benar itu siapa? Fransiskus atau Francis atau Francesco atau Franciscus atau Frans atau.... ?

Semuanya benar, jawab saya.

Kalau media berbahasa Inggris ya pasti ditulis Pope Francis. Media bahasa Indonesia ya Paus Fransiskus. Bahasa Malaysia pakai Pope Francis persis bahasa Inggris.

Dari dulu Malaysia tidak punya terjemahan kata pope yang artinya paus. Mereka menganggap paus itu ya ikan besar yang biasa diburu para nelayan Lamalera di Lembata NTT itu. Paus yang di Vatikan tetap saja Pope.

Selain Malaysia, Brunei, dan negara-negara yang tidak punya umat Katolik, sejak dulu Gereja Katolik di seluruh dunia selalu melakukan penolakan nama-nama permandian (santo santa) serta berbagai istilah. Agar cocok dengan gramatika, khususnya sistem bunyi bahasa nasional setempat.

Karena itu, orang Katolik di Indonesia pakai Fransiskus, bukan Francis, bukan Francesco. Bukan pula Franciscus (pakai c) karena bunyi fonem C dan K berbeda dalam bahasa Indonesia. Paus Yohanes Paulus, bukan Paus John Paul, bukan Joannes Paulo dsb.

Orang Katolik di Indonesia pakai Yohanes bukan John. Paulus bukan Paul. Yakobus bukan James. Matius bukan Matthew atau Matthaeus (Jerman, jadi ingat pemain bola Lothar Matthaeus yang top banget di masa lalu).

Albertus bukan Albert. Benediktus bukan Benedict. Lambertus bukan Lambert atau Lamberto. Sisilia bukan Caecilia. Lukas bukan Luke. Dan seterusnya....

Mengapa Pope diterjemahkan menjadi Paus? Jangan lupa, Indonesia dulu dijajah Belanda. Karena itu, kata PAUS dari Belanda yang berarti POPE itu dipungut ke dalam bahasa Indonesia. Mudah diucapkan karena bunyi dan tulisannya sama persis dengan bahasa Indonesia.

Tapi kok Paus di Vatikan disamakan dengan paus yang ikan itu? Tidak juga. Semua bahasa di dunia selalu punya kata-kata yang sama tapi artinya lebih dari satu. Kalimat itu selalu ada konteksnya. Kalau disebut Paus Fransiskus tentu tidak ada kaitan dengan ikan.

Sayang sekali, tradisi transliterasi dan penyerapan kata/istilah yang dilakukan Gereja Katolik sejak tempo doeloe itu mulai digerogoti oleh orang Katolik sendiri. Perhatikan saja nama-nama orang Katolik di Pulau Jawa. Banyak yang pakai Peter, padahal seharusnya Petrus. James seharusnya Yakobus. John seharusnya Yohanes.

Ketika romo menjadi bapak (lepas jubah)

Wajah di situs berita nasional itu sangat saya kenal. Sandyawan Sumardi. Tapi tidak lagi pakai embel-embel SJ di belakang namanya. Juga tidak ada sebutan romo seperti dulu. Cuma ditulis tokoh masyarakat, ketua LSM, dan semacamnya.

Jangan-jangan Sandyawan ini sudah lepas jubah? Tidak lagi jadi romo jesuit? Jadi awam alias orang biasa? Saya pun mengirim pesan kepada seorang romo teman akrab Sandyawan.

''Iya... Sandyawan sudah bukan romo lagi,'' tulisnya. Singkat tapi jelas maknanya.

Saya pun tidak banyak bertanya lagi. Misalnya: Mengapa mundur? Apakah punya istri (dan anak)? Nggak enak dibicarakan. Biasanya hal-hal sensitif macam ini dibicarakan sambil ngopi. Tidak bagus kalau lewat telepon atau WA atau SMS. Ora ilok!

Melihat wajahnya, saya jadi teringat masa lalu. Tahun 96 atau 97 ketika Romo Sandyawan sering diundang ke Jawa Timur. Mahasiswa Katolik saat itu sangat terinspirasi dengan model pastoral ala Romo Sandy. Bersama Institut Sosial Jakarta (ISJ), Sandyawan sangat aktif melakukan advokasi dan pendampingan para korban.

Korban penggusuran hingga korban politik orba. Sepak terjang Sandyawan membuat rezim orba gerah. Dia pun dituduh menyembunyikan pentolan Partai Rakyat Demokratik (PRD) yang sedang diburu aparat. Sandyawan kemudian ditangkap dan diadili. Vonisnya bebas.

Suatu ketika Sandyawan yang romo itu ceramah di Paroki Situbondo. Gerejanya belum lama dibakar massa tak dikenal. Usai ceramah tentang korban, pemihakan kepada wong cilik, option for the poor, Romo Sandyawan memimpin misa minggu palem.

Kebetulan saya ditunjuk jadi solis untuk mazmur. Wow... saya ingat betul homili Romo Sandyawan yang halus tapi menarik. Dia bukan tipe penceramah yang suka bicara keras, meledak-ledak. Suaranya agak lirih tapi isinya berbobot. Khas Jesuit yang intelektual.

Selepas reformasi, setahu saya Romo Sandyawan tidak lagi diundang ceramah di Jatim. Apalagi romo yang jadi teman akrabnya pun dipromosikan untuk tugas yang lebih menasional di Jakarta. Di media massa pun Sandyawan jarang muncul. Apa kabar ISJ?

Akhirnya, tidak sengaja saya melihat foto Sandyawan di laman berita daring. Sandyawan yang tak lagi pakai embel-embel SJ dan romo. Tapi saya percaya dia tetap punya komitmen untuk mendampingi para korban seperti pada era orde baru.

Yang jadi masalah, orang Katolik di Indonesia biasanya kurang respek terhadap romo yang lepas jubah. Para eksim (eks imam) ini sering dijauhi meskipun punya rekam jejak masa lalu yang cemerlang. Akibatnya, banyak eksim yang tertekan atau stres. Mereka pun memilih pindah ke kota lain agar tidak dikenal mantan umatnya.

Semoga Bapak Sandyawan tetap semangat dan selalu diberkati Tuhan dalam pelayanan di masyarakat. (Dalam bahasa Jawa, kata ROMO dan BAPAK artinya sama. Bedanya romo itu krama, bapak ngoko.) Kaum marginal atau wong cilik yang jadi mitra pelayanan Sandyawan selama ini justru kaum ngoko, bukan kromo inggil.

27 November 2017

Sulitnya mencari pembantu jaman now

Sudah lama beberapa ibu gedongan mengeluhkan betapa susahnya cari asisten rumah tangga (ART). Istilah baru untuk PRT: pembantu rumah tangga. Banyak sih pengusaha penyalur pembantu, baby sitter dan sejenisnya di kota besar.

Tapi menemukan pembantu yang cocok, dan kerasan? Ini yang sulit. Zaman dulu para PRT alias ART ini umumnya betah tinggal bersama majikan. Bertahun-tahun. Sampai punya anak. Sampai tua. Sering dianggap keluarga sendiri.

Jaman now? Pembantu yang bisa bertahan satu tahun saja sudah hebat. Biasanya jelang Lebaran, pembantu-pembantu ini mudik dan... hilang seterusnya. Yang balik lagi ke rumah majikan kurang 10 persen.

ART-ART ini sudah pasti balik lagi ke kota karena butuh penghasilan tetap. Tapi biasanya mereka mencari majikan baru yang dianggap lebih cocok. Plus beban kerja yang lebih ringan. Tapi bayaran sama atau lebih tinggi. Bisa juga cari kerja di pabrik, jaga toko, atau kerjaan lain di luar urusan rumah tangga.

Fenomena ini sebenarnya sudah mulai terasa sejak pertengahan 90an. Cuma tidak sehebat sekarang. Dan itu ada kaitan dengan keberhasilan wajib sekolah 9 tahun di Indonesia. (Saya kurang suka istilah wajib belajar 9 tahun. Bukankah semua orang wajib belajar sampai mati?)

Dengan wajib sekolah 9 tahun, gratis di sekolah negeri, otomatis wawasan para gadis remaja ini jauh lebih terbuka ketimbang gadis-gadis yang hanya tamatan SD. Bahkan biasanya setamat SMP, lanjut SMA atau SMK atau MA. Tentu saja para lulusan SMA dari desa-desa ini enggan jadi ART. Mereka lebih suka jadi art worker semacam penyanyi dangdut dan sejenisnya.

Tapi masih banyak kok lulusan SMA yang jadi pembantu di kota besar? Nah, berdasarkan survei saya, yang enteng-entengan, bukan survei beneran ala LSI, sebagian besar pembantu usia muda (lulusan SMA) ini janda muda. Usianya di bawah 24 tahun. Rata-rata punya anak satu.

''Saya kerja untuk membiayai anak saya di kampung,'' ujar seorang mantan ART yang kabur dari majikannya di Surabaya Barat. ''Saya juga pernah jadi TKI,'' katanya.

Jadi TKI pun sebetulnya sama-sama ART alias bekerja sebagai pembantu juga. Tapi upahnya lebih tinggi ketimbang ART di Jakarta atau Surabaya atau Malang. Gaji bulanan ART di Malaysia di atas upah minimum buruh di Surabaya yang Rp 3,2 juga itu. ''Tapi kangen sama anak dan orang tua,'' katanya.

Lantas, mengapa Mbak ART ini sering gonta-gonti majikan? ''Kalau gak cocok ya cari majikan baru,'' ujarnya enteng.

Perlahan tapi pasti, Indonesia ini mulai mengarah ke kehidupan ala orang Barat. Saya selalu perhatikan film-film Amerika atau Eropa tidak ada yang mamanya ART atau pembantu di rumah. Sang aktor biasanya ke dapur untuk memasak makanan untuk pacarnya. Atau si cewek yang masak sendiri di dapur. Atau mamanya si aktor itu yang masak.

Mungkin karena di Barat yang namanya ART diperlakukan sama dengan pekerjaan-pekerjaan lain dengan gaji yang tinggi. Jam kerja, beban kerja, kontrak, hingga job description... harus dibuat sejelas-jelasnya. Itu yang belum ada di Indonesia.

24 November 2017

Surat kertas jadi barang langka

Kapan terakhir kali Anda menerima surat kertas? Bukan surat elektronik. Surat pribadi, bukan surat dinas atau penawaran produk dan semacamnya?

Hem... bisa saya pastikan di jaman now yang serba digital ini hampir tidak ada lagi surat pribadi. Menulis surat pakai tulisan tangan, masukkan amplop, tempel prangko... kirim lewat kantor pos. Tidak mungkin lagi memasukkan ke kotak surat karena sudah tidak ada lagi.

Selama tahun 2017, yang usianya tinggal sebulan ini, saya hanya terima SATU surat. Pengirimnya Cak Kris, wartawan senior RRI Surabaya. Isinya meminta saya menulis artikel pendek untuk katalog beberapa pelukis Sidoarjo yang hendak pameran di Surabaya.

Tanggalnya 27 Januari 2017. Wow... sudah lama banget. Saya kebetulan nemu karena bongkar tumpukan kertas di kantor. ''Saya terpaksa tulis surat itu karena baterai HP-ku mati,'' ujar Kris yang juga dikenal sebagai kurator seni rupa di Surabaya dan Sidoarjo itu.

Satu-satunya surat ini masih mendingan. Tahun lalu tidak ada surat kertas. Praktis sejak akhir Agustus 2013 saya tak lagi mendapat surat kertas khas old school. Tepatnya ketika Ibu Siti Riyati, pelukis senior yang akrab disapa Eyang di Ngagel Jaya Selatan, meninggal dunia. Tiga tahun saya tinggal bersama Eyang yang fasih bahasa Belanda, Inggris, dan lebih suka berkomunikasi dengan Jawa krama inggil itu.

Eyang yang rumahnya super luas itu tentu saja sangat mampu membeli HP alias ponsel. Beli mobil juga bisa lah. Tapi almarhumah yang kelahiran 1933 itu lebih suka menulis surat atau catatan. Setiap hari. Surat-surat itu kemudian dikirim ke sejumlah kenalan, mantan murid, hingga kerabat.

Surat atau pesan untuk saya biasanya ditaruh di atas meja. Biasanya mengingatkan ada agenda pameran, pengajian, pertemuan RW 3 dan sebagainya. Sebaliknya, saya juga diminta menulis surat atau pesan kalau tidak pulang. Ke mana, untuk apa, pulangnya kapan dsb.

''Eyang Yati itu memang punya bakat menulis. Surat-suratnya enak dibaca dengan tulisan tangan miring ke kanan yang indah. Khas orang-orang lama,'' ujar Mas Yanto, pelukis yang sering menerima surat dari si Eyang.

Saya sering mengajari Eyang untuk menulis pesan pakai SMS saja. Lebih mudah dan cepat. Langsung dibalas. Kalau pakai surat lama baru sampai. Malah sering terjadi surat hilang di jalan. ''Gak enak SMS itu. Saya lebih suka telepon langsung dan pakai surat,'' kata mbah yang doyan berlanggan majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat sejak gadis hingga tutup usia itu.

Begitulah. Surat kertas kini tinggal kenangan. Anak-anak muda generasi milenial mungkin belum pernah melihat wujud surat yang pakai prangko. Atau menerima surat dari teman atau keluarga via pos. Sebab sistem komunikasi digital atau seluler di jaman now memang jauh lebih efektif ketimbang via surat lawas.

Tidak perlu menunggu dua tiga hari, seminggu atau dua minggu. Dalam hitungan detik kita bisa mengirim surat elektronik (email) dengan siapa saja, di mana saja. ''Anehnya, sekarang ini janjian sama orang malah sering mbeleset. Beda dengan dulu ketika belum ada smartphone yang canggih,'' ujar Cak Kris.

18 November 2017

Persebaya tinggal satu langkah

Lega rasanya hati ini setelah Fauzi menceploskan gol ke gawang PSPS Riau. Persebaya pun dipastikan lolos ke semifinal Liga 2. Tinggal selangkah lagi tim berjuluk Green Force itu memastikan naik ke Liga 1.

Di warkop kawasan Rungkut Surabaya, belasan penggemar bola sempat ketar-ketir melihat laga Persebaya vs PSPS di layar kaca. Begitu alot. PSPS ternyata sangat tangguh. Bahkan serangan-serangannya sangat berbahaya.

Andai saja ada celah sedikit, pemain seniornya bisa dengan mudah mencetak gol. Untung saja pemain belakang Persebaya mampu menutup ruang gerak striker gaek itu (lupa namanya).

Persebaya yang kalah fisik masih dengan gayanya bermain pendek. Kaki ke kaki. Andalkan umpan terobosan. Sayang, PSPS sudah antisipasi. Buntu di babak pertama.
Syukurlah, di menit-menit akhir ada peluang emas. Umpan Okto dari sisi kiri bisa dimanfaatkan dengan baik oleh Fauzi. Goool!!!

Perjuangan Persebaya untuk kembali ke Liga 1 masih berat. Arek-arek Green Force wajib masuk final. Alias harus menang di semifinal. Dua lawan sudah menunggu: PSMS Medan dan Martapura FC.

Dari empat semifinalis, tiga tim berhak promosi ke Liga 1. Masak sih Persebaya gak iso!!!

Ayo... ayo... Persebaya!!!

12 November 2017

Umat Katolik yang terlambat misa

Misa pertama di Gereja Salib Suci, Tropodo, Waru, Sidoarjo, pagi tadi dipimpin Pater Servas Dange SVD. Lebih sejuk karena mulai pukul 05.30 dan lebih cepat karena ordinarium (Kyrie, Gloria, Sanctus dst) tidak dinyanyikan.

Namun, misa yang terlalu pagi juga membuat cukup banyak umat yang terlambat. Ada yang telat lima menit... seperti saya, tapi ada juga yang telatnya di atas 15 menit. Repot memang umat yang terlambat misa. Sebab bangku-bangku sudah terisi penuh. Gereja Salib Suci ini memang dari dulu selalu ramai.

Nah, orang-orang yang terlambat itu biasanya malu (atau sungkan) maju untuk mengisi bangku kosong. Di bagian depan memang banyak tempat kosongnya. Saya nekat aja maju dan dapat tempat di posisi agak depan samping kiri. Namun ada pula satu keluarga yang memilih pulang karena tidak kebagian tempat duduk.

Gak nyangka, kasus umat terlambat dan sungkan maju ini jadi bahan khotbah Romo Servas. Saya pun merasa tersindir. Takut dimarahi romo. Ternyata yang dibahas adalah umat yang memilih pulang itu tadi. ''Ini harus jadi pelajaran untuk kita semua. Pengalaman itu guru terbaik,'' kata Romo Servas.

Pastor asal Flores ini menyentil sikap umat Katolik di Gereja Salib Suci yang terlalu fokus pada Tuhan dan cuek dengan jemaat yang terlambat. Mestinya ada reaksi. Diarahkan untuk mengisi tempat kosong (biasanya ada di depan). Petugas tatib (tata tertib) pun seharusnya mengantar umat yang terlambat ke tempat yang kosong.

''Kita perlu belajar untuk peduli sesama,'' ujar pater dengan sentilan khasnya.

Kelihatannya Romo Servas merasa kurang enak melihat ada domba-dombanya yang berniat ikut ekaristi tapi gagal hanya karena persoalan sepele. Buat apa gereja punya balai paroki yang luas jika tidak bisa menampung umat yang telat? Toh, tidak lebih dari 10 orang.

Ihwal disiplin ekaristi ini, sikap romo memang berbeda-beda. Ada yang toleran dan memahami seperti Romo Servas. Tapi ada juga yang keras seperti Romo X (sensor). Romo X ini tidak suka melihat umat yang terlambat. Juga tidak suka dengar anak-anak menangis atau jalan-jalan saat liturgi berlangsung.

Umat yang pernah mendengar sentilan (atau kemarahan) Romo X pasti langsung pulang jika misa sudah dimulai. Nekat masuk bisa-bisa jadi bahan homili. Gak enak blass! Dulu saya pernah disindir karena terlambat sekitar 10 menit.

Di NTT, khususnya kampung-kampung di Flores Timur dan Lembata, setahu saya romo-romo tidak marah meskipun banyak umat yang terlambat. Maklum, orang desa harus mengurusi kebun, ternak dsb. Belum lagi harus jalan kaki ke gereja.

Hanya saja, umat yang terlambat itu biasanya punya kesadaran untuk tidak maju sambut komuni. Jika terlambat hingga homili atau khotbah imam. Kalau masih kyrie atau gloria masih dibolehkan komuni. Prinsip ini masih saya pakai sampai sekarang di Jawa.

Lebih baik terlambat daripada tidak misa sama sekali! Begitu alasan pemaaf di NTT. Rupanya pastor asal NTT yang bertugas di Salib Suci itu, Romo Servas, masih menggunakan kearifan lokal NTT untuk 'memahami' umat yang terlambat. Bisa saja ban bocor di jalan, bukan? Bisa juga umat paroki lain yang belum tahu jadwal misa.

Perseka Waru Mundur dari Liga Askab Sidoarjo

Yang namanya kompetisi sepak bola di Indonesia selalu panas. Mulai dari Liga 1 hingga pertandingan bola kelas tarkam. Kompetisi internal Liga Askab Sidoarjo 2017 pun makin lama makin panas. Padahal tujuan utama liga tertinggi di Kabupaten Sidoarjo ini murni untuk pembinaan pemain muda.

Total ada 30 tim peserta kompetisi. Mereka terbagi dalam kelas utama, kelas satu, dan kelas dua. Yang paling keras tentu kelas utama alias kelas tertinggi. Saya biasa menonton di Lapangan Banjarsari Buduran setiap akhir pekan.

Wuih... saling jegal antarpemain, protes wasit, saling dorong, hingga mutung alias mogok main. Wasit terpaksa merogoh banyak kartu kuning. Ada juga kartu merah meskipun saya lihat wasitnya cenderung membiarkan permainan kasar di lapangan.

Sayang, kompetisi yang seharusnya jadi tontonan akhir pekan itu diwarnai aksi tidak terpuji. Perseka Waru memilih mundur dari kompetisi. Padahal tim asal Desa Kepuhkiriman ini dikenal sebagai salah satu klub terbaik di Sidoarjo. Perseka pun kerap menyumbang pemain-pemain bagus untuk Kabupaten Sidoarjo.

Ada apa dengan Perseka? Pihak Askab PSSI Sidoarjo enggan menyebutkannya. Namun bisa diduga Perseka kecewa dengan keputusan wasit dalam satu laga penting. Ganjalan ini gagal diselesaikan pihak askab dan panitia pelaksana (panpel).

''Perseka sudah mengirim surat menyatakan mundur dari kompetisi internal,'' ujar Ibnu Hambal, sekretaris Askab PSSI Sidoarjo, saat saya hubungi via telepon. Tidak disebut alasan mundurnya Perseka dari Liga Askab Sidoarjo.

Yang pasti, pengurus askab sudah koordinasi dengan pandis (panitia disiplin) untuk membahas kasus ini. Khususnya mencari sanksi sesuai dengan tingkat kesalahannya. Perseka bakal degradasi?

''Saya tidak tahu. Soal itu (sanksi) jadi kewenangan pandis. Askab hanya meneruskan surat dari Perseka yang menyatakan mundur,'' kata tokoh bola Kota Delta yang juga pemilik PS Bligo Putra Candi itu.

Dengan mundurnya Perseka, maka peserta kelas utama tinggal 9 tim. Bligo Putra, Tiga Putra Agung, Pesawad Waru, Putra Bungurasih, Tunas Jaya Sepande, Sinar Harapan, Cakra Buana, Trisula Tanggulangin, dan New Star Salam Sukodono.

Mundurnya Perseka sekaligus membuat jumlah laga masing-masing-masing klub berkurang satu. Mestinya 9 kali menjadi 8 kali. ''Kami sudah surati semua tim yang isinya pertandingan melawan Perseka dianggap tidak ada. Pengelola lapangan juga sudaj disurati,'' kata Pak Benu, sapaan akrab Ibnu Hambal.

Sedih juga mendengar kabar mundurnya Perseka dari Liga Askab Sidoarjo. Maklum, saya sangat sering ngopi-ngopi di warkop yang berada di kompleks Lapangan Perseka, dekat pintu gerbang Perumahan Rewwin Waru. Saya juga kerap membahas kiprah klub ini yang selalu berhasil membina pemain-pemain muda. Pelatih-pelatihnya pun banyak mantan pemain top Persebaya.

Mudah-mudahan kasus Perseka segera dicarikan jalan keluar terbaik. Demi masa depan anak-anak dan remaja yang sudah lama mengukir mimpi menjadi pemain sepak bola masa depan.

11 November 2017

Ibu dan anak sibuk main HP

Ibu dan anaknya ini asyik dengan ponsel masing-masing. Sambil menunggu cuci motor di kawasan Pagesangan Surabaya. Serius banget. Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut si anak dan ibu.

Apa boleh buat. Saya pun mencari kesibukan dengan ponsel. Menulis cerita singkat ini. Sebab paket dataku sudah habis. Tidak bisa untuk internet.

Yah... zaman memang sudah berubah. Teknologi informasi, khususnya ponsel pintar (smartphone) telah mengubah perilaku masyarakat. Budaya tutur, jaringan, ngobrol di warkop dsb sudah diganti dengan media sosial.

Luar biasa!

09 November 2017

Pejalan kaki kok disalahkan

Masalah pejalan kaki sedang ramai di internet. Gara-gara Wakil Gubernur DKI Jakarta Sandiaga Uno melontarkan pernyataan yang sedikit banyak menyinggung perasaan pejalan kaki. Katanya pejalan kaki justru ikut menyumbang kemacetan.

Wuih... Baru jadi pejabat sudah bikin kontroversi yang tidak perlu. Jelas saja warganet ramai-ramai mengecam bapak wagub ini. Lah, rakyat dianjurkan jalan kaki, naik kendaraan umum, kok malah diserang? Yang pakai mobil pribadi, bikin jalan macet, malah tidak disinggung sama Sandi.

Soe Tjen Marching, teman lama, dosen di London, Inggris, rupanya ikut panas membaca pernyataan Wagub Sandiaga. Wanita Surabaya yang aktivis ini kemudian menulis begini:

''Pengalaman saya selama di Indonesia: kendaraan itu justru tidak menghargai pejalan kaki. Orang mau nyeberang dilanggar saja. Trotoar dipenuhi sepeda motor plus PKL, jadinya saya males jalan. Padahal di negeri2 yg sudah lebih sadar lingkungan, berjalan itu digalakkan & pejalan kakinya dilindungi. Eh, wa-Gabener satu ini malah bilang begini: Pejalan Kaki Penyebab Semrawut Tanah Abang.''

Betul juga Dr. Soe Tjen yang asli Surabaya ini (meskipun Tionghoa). Saya sudah sering curhat soal itu. Pejalan kaki di Indonesia kalah sama kucing. Kalau kucing lewat di jalan, pengemudi mobil dan motor pasti memperlambat kendaraannya. Kasih kesempatan si kucing lewat. Sebab menabrak kucing bisa kualat.

Beda dengan manusia. Jangankan berhenti agar pejalan kaki bisa menyeberang di zebra cross, pengemudi biasanya tambah gas. Mempercepat laju kendaraannya. Maka sering banget terjadi pejalan kaki jadi korban tabrakan. Pemkot dan pemkab juga tidak membuat jembatan penyeberangan orang.

Minggu lalu saya melihat sendiri pejalan kaki ditabrak di Sidoarjo dan Surabaya. Untung tidak mati.

Ganyang Malaysia cuma jargon kosong

Apa saya bilang minggu lalu. Jangan dulu puas timnas sepak bola kita bisa mengalahkan Timor Leste dan Brunei Darussalam dengan skor telak. Pelatih Indra Sjafrie mestinya paham bahwa dua negara itu levelnya jauh di bawah Indonesia.

Indonesia baru dikasih jempol kalau bisa menggasak Malaysia. Sebab sulit mengalahkan Korea Selatan yang langganan Piala Dunia. Kalau bisa mengalahkan Malaysia, apalagi skor besar tiga atau lima gol, baru hebat. Gak juara gak papa... pokoknya tidak boleh kalah sama Malaysia.

Rupanya prinsip pantang kalah sama Malaysia ini dilupakan Indra Sjafrie. Hasilnya babak belur. Kalah telak 1-5. Jelas aja timnas U-19 dimaki-maki di internet. Pelatih Indra dihajar dengan kata-kata kasar kayak brengsek dan sejenisnya. Padahal Indra pernah dipuji setinggi langit ketika membawa timnas U-19 jadi juara Piala AFF di Sidoarjo.

Kemarin dan pagi tadi saya masih membaca kecaman pedas untuk timnas U-19. Alasan Indra sengaja mencoba taktik tidak bisa diterima. Bahkan ada yang menuduh Indra kemungkinan terima suap sehingga mengalah dari Malaysia.

Kalah menang dalam sepak bola itu biasa. Tapi kalah dari Malaysia itu benar-benar menyakitkan. Kita belum lupa di SEA Games Agustus lalu Indonesia disingkirkan Malaysia di semifinal. Padahal pelatihnya Luis Mila asal Spanyol yang terkenal luar biasa.

Beberapa tahun lalu Indonesia juga disingkirkan Malaysia di final Piala AFF. Padahal di laga-laga awal Indonesia main bagus banget. Gocekan coach Alfred Riedl yang berkelas. Kok keok oleh Malaysia di final? Sulit menjelaskannya.

Saya sendiri baru mulai nonton televisi saat duduk di SMP. Di Larantuka NTT. Hitam putih televisinya pakai aki. Ngecas aki di toko kaset paling top di Jalan Niaga milik baba Tionghoa. Sejak itulah saya pelan-pelan tertarik siaran olahraga macam Dari Gelanggang ke Gelanggang, Arena dan Juara, dan siaran langsung sepak bola sesekali di TVRI.

Nah, setiap kali lawan Malaysia, acara nonton bareng puluhan orang (maklum TV sangat langka dan barang mewah saat itu) selalu heboh. Ganyang Malaysia! Ganyang Malaysia! Ganyang itu apa? Pokoknya hajar. Setelah pindah ke Jatim baru saya paham arti kata ganyang itu.

Sayang, timnas era TV hitam putih selalu kesulitan lawan Malaysia. Dihajar si penyerang jiran yang namanya Dollah Saleh. Mungkin suatu saat Indonesia akan menang. Kita ganyang Malaysia. Di sepak bola.

Tahun demi tahun berganti. Timnas sudah bolak-balik dirombak. Pemain-pemain timnas era TV hitam putih sudah jadi pelatih senior semua. Sebut saja Herry Kiswanto, Rudi Keltjes, Hermansyah, yang sempat jadi teman saya saat melatih Persebaya. Dulu saya kagum banget sama Hermansyah, kiper timnas yang nyentrik dan jago.

Tapi begitulah hasilnya....

Di tahun 2017 ini timnas Indonesia masih belum bisa mengalahkan Malaysia. Ganyang Malaysia cuma sekadar jargon kosong.

Eh, pelatih Indra Sjafrie malah memilih ngalah dari Malaysia. Brengsek!!!

03 November 2017

Baru disahkan, mau direvisi

Perppu ormas baru saja disahkan menjadi undang-undang. Eh, belum sampai seminggu sudah muncul usulan untuk merevisi UU itu. Waduh... kepriye iki?

Mungkin Indonesia ini negara paling aneh di dunia. Bikin undang-undang, regulasi, atau apa pun namanya yang tidak bisa tahan lama. Bahkan ada undang-undang yang bisa dibongkar di tengah jalan agar Koalisi Merah Putih bisa menguasai parlemen. Masih ingat?

Apa boleh buat. Indonesia memang negara yang krisis negarawan. Surplus politisi picik. Ada politikus tua macam Amien Rais yang akhir-akhir ini suka unjuk rasa. Padahal Pak Amien sempat jadi ketua MPR. Posisi yang mestinya membuat politisi naik derajat sebagai negarawan.

Apa pun kritik terhadap KUHP, saya salut dengan undang-undang hukum pidana yang dibuat kolonial Belanda itu. Sampai sekarang KUHP masih dipakai polisi, jaksa, hakim, pengacara dsb. KUHP mampu bertahan satu abad lebih.

Indonesia sudah lama berusaha membuat KUHP baru. Agar lebih cocok dengan perkembangan zaman. Agar sesuai dengan karakter bangsa Indonesia. Hasilnya? Sampai sekarang gak jelas nasibnya. Saya ragu anggota DPR dan pemerintah mampu membuat undang-undang yang bisa tahan lama.

Saya jadi ingat istilah lawas banana republic. Republik pisang. Bangsa yang lembek. Tidak punya prinsip. Pragmatis. Partai-partai tidak punya ideologi selain pragmatisme kekuasaan.

Maka, perppu yang sejatinya dibuat untuk merevisi undang-undang ormas pun direvisi lagi. Nanti UU hasil revisi itu direvisi lagi. Habis kita punya energi untuk revisi revisi revisi.

Roti Paulus yang legendaris di Surabaya

Pagi ini saya ketemu Roti Paulus di sebuah warkop kawasan Waru Sidoarjo. Ah... jadi ingat almarhum Ibu Riyati di Ngagel Jaya Selatan Surabaya yang biasa sarapan roti ini. Saya juga selalu kebagian tugas membelikan Roti Paulus di Jalan Dinoyo 154 Surabaya.

"Ojo lali... Roti Paulus lho. Jangan roti yang lain," begitu pesan eyang yang saya menganggap saya keluarga sendiri.

Sejak dulu Roti Paulus memang bermarkas di Dinoyo 154. Tidak jauh dari jembatan BAT yang terkenal itu. Sekarang merek yang ditonjolkan adalah Roti Pioneer. Tapi orang lawas macam eyang yang meninggal pada usia 80 tahun itu adalah Paulus.

Ingat Paulus, ingat roti! Kalau di Flores, ingat Paulus ingat Perjanjian Baru. Rokor gefkol testim tifi: roma korintus galatia efesus kolose tesalonika timotius titus filemon. Ingat pelajaran agama Katolik di kampung halaman ketika SD dan SMP.

Mengapa eyang kok doyan banget Roti Paulus? Enak dan awet, katanya. Juga murah. Bu Yati yang pernah mengalami pendidikan Belanda dan Jepang itu sudah pernah mencoba macam-macam merek roti produksi Surabaya dan kota lain. Tapi tidak ada yang seperti Paulus, katanya.

"Mungkin karena selera saya sudah terbentuk selama puluhan tahun. Jadi, sulit pindah ke merek yang lain," katanya.

Saya memang pernah beberapa kali membawa roti merek baru dari minimarket. Kemasan dan tampilannya lebih cerah dan menggoda. Tapi setelah dicicipi, eyang yang seniman lukis ini kurang puas. "Beli Paulus aja," katanya.

Sejak itulah saya selalu mampir ke markas Roti Paulus di Jalan Dinoyo 154. Membeli roti cadet istimewa yang masih hangat untuk eyang. Saya sendiri suka roti tawar gandum karena teksturnya agak kasar dan tebal. Beda dengan roti tawar merek lain-lain.

Setelah mencoba roti tawar gandum Paulus barulah saya percaya bahwa makan roti itu bisa kenyang. Buang air besar lancar. Karena seratnya masih utuh. Beda dengan roti yang bukan gandum.

Dua minggu lalu saya ngobrol dengan Liauw alias Koh Jiang di kawasan Trawas Mojokerto. Lelaki Tionghoa ini rumahnya di Buduran Sidoarjo. Aha... ternyata Liauw masih famili dengan pemilik Roti Paulus itu.

"Itu sih roti yang berjaya di masa lalu. Sekarang ini masih bertahan tapi kalah bersaing dengan merek baru," ujarnya diplomatis.

Koh Jiang ini rupanya tidak tertarik membahas Roti Paulus. Padahal saya sangat tertarik karena sering makan. "Gak enak dibicarakan karena menyangkut keluarga sendiri," katanya. "Mending kita bahas Prabu Airlangga aja," ujarnya.

Yo wis.

31 October 2017

Orang Jerman tidak main HP

Andri Hakim, mahasiswa Indonesia di Jerman, belum lama ini menulis begini:

"Yang saya perhatikan dari rekan-rekan sejawat peneliti dan aktivis di Jerman. Mereka tidak pernah main HP untuk sosial media sepanjang waktu kerja.

"Mereka tidak bermain HP juga pada saat makan siang. Mereka tidak bermain HP saat mengobrol langsung. Mereka tidak bermain HP juga pada saat rehat sore."

Telepon seluler atau HP memang seperti candu. Magnetnya luar biasa. Orang Indonesia, khususnya di kota-kota, seperti sulit lepas dari HP. Begitu duduk di warkop atau kafe, langsung main HP. Tal ada lagi obrolan basa-basi dengan sesama pengunjung.

Siang tadi, empat murid SMA yang bolos ke kawasan Jolotundo Trawas uring-uringan gara-gara tidak ada sinyal untuk data internet. Komentarnya gak enak didengar. Kelihatan seperti stres hanya karena kehilangan koneksi di WA, Facebook dsb.

Aneh juga orang kota ini. Jauh-jauh ke Jolotundo bukannya untuk rekreasi, wisata alam, menikmati bangunan cagar budaya era Raja Airlangga tapi cari sinyal internet.
Saya jadi ingat obrolan saya dengan Pratiwi, alumnus Pesantren Gontor. Gadis asal Tulangan Sidoarjo ini bercerita di ponpes terkenal itu semua santri dilarang membawa HP. Entah HP lawas yang cuma untuk menelepon dan SMS hingga ponsel pintar atau gawai model apa pun. Jangankan HP, radio, tape recorder.. pun haram hukumnya.

Bagaimana kalau ada santri yang nekat menyelundupkan HP ke dalam pesantren?

"Tidak mungkin bisa," Pratiwi menegaskan. Sebab pemeriksaan barang-barang elektronik di lingkungan pesantren sangat ketat. Bahkan mungkin lebih ketat daripada di penjara. Belum lagi pondok pesantren biasanya punya mekanisme khusus untuk saling memantau sesama santri.

Begitulah. Ponsel, gadget, dsb yang sejatinya punya banyak manfaat kini jadi masalah di mana-mana. Kuncinya kembali ke masing-masing individu. Apakah kita bisa mengendalikan smartphone itu atau justru kita yang dikendalikan oleh HP?

Yang pasti, sudah enam tahun ini saya mengetik (hampir) semua naskah untuk blog ini pakai HP. Sejak ada promo ponsel Huawei dari Tiongkok, kemudian ganti Blackberry, dan sekarang Samsung.

30 October 2017

Sulit membaca novel O sampai tamat

Tidak lama sebelum meninggal dunia, komponis Slamet Abdul Sjukur meminta saya membaca novel O karya Eka Kurniawan. Bagus sekali, katanya. Baca juga Bilangan Fu... kalau belum baca.

Saya pun mampir ke lapak buku bekas di Jalan Semarang Surabaya. Wow, novel kopian (bahasa halus untuk bajakan) banyak banget. Termasuk O karangan Eka Kurniawan. Saya pun membeli bersama Bilangan Fu dan beberapa novel Pramoedya.

Sampai di rumah buku-buku itu tidak langsung dibaca. Beda banget dengan masa ketika belum ada ponsel yang terhubung internet dengan media sosial yang heboh. Saya usahakan nyicil membaca tapi tidak ada yang tamat.

Novel O ini yang paling susah. Tidak sampai 30 menit... buyar. Buku kopian itu kemudian disimpan begitu saja. Berbulan-bulan. Tahunan. Pak Slamet yang doyan buku-buku berat pun meninggal dunia. Saya tak punya semangat untuk menyelesaikan O yang berat itu.

Entah mengapa, pagi tadi saya berniat membaca novel O. Kalau bisa sih sampai tamat. Apalagi sedang libur di kawasan Seloliman, Trawas, yang adem. Di tengah hutan menghijau segar karena baru disiram air hujan beberapa hari lalu.

Ternyata tidak mudah mengembalikan konsentrasi di era digital dan internet ini. Ada saja godaan untuk mengecek ponsel meskipun sinyal lemah. Tapi saya usahakan membaca buku kertas (bukan e-book), majalah, koran, untuk terapi. Meskipun old school, media cetak punya banyak kelebihan dibandingkan media digital. Begitu kata banyak pakar yang selalu dikutip Bre Redana di kolom-kolomnya.

Deo gratias! Di dekat air sumber Kili Suci itu saya bisa melahap banyak halaman. Sekitar 50 persen isi buku yang lebih 400 halaman itu. Terapi baca buku terpaksa distop karena datang mas Sembodo, teman lama, yang kini ikut mengasuh sebuah pesantren baru di Trawas.

Sembodo antusias bercerita tentang kesibukannya ke Jawa Barat untuk melakukan terapi korban narkoba. "Mereka jangan dibilang pasien tapi santri. Kita angkat derajat mereka biar punya kepercayaan diri," ujar orang Mojokerto ini.

Sembodo ini tipikal tukang cerita. Kalau sudah bicara sulit dihentikan. Bisa berjam-jam dia cerita apa saja yang dianggap menarik. Meskipun belum tentu lawan bicaranya suka dengar.

Apa boleh buat.... Novel O yang rada nyeleneh dan surealis ini belum bisa saya selesaikan. Semoga bisa tamat paling lama tiga hari.

29 October 2017

Dengar Ndherek Dewi Maria, Ingat Rosario

Ndherek Dewi Maria jadi lagu penutup misa di Gereja Katolik Salib Suci, Wisma Tropodo, Kecamatan Waru, Sidoarjo, Minggu (29 Oktober 2017) pagi. Merdu. Kor bapak ibu lansia menyanyikan dengan baik. Organ pengiringnya juga bagus.

Sayang, sebagian besar jemaat sedang berangsur pulang karena Romo Servas Dange SVD sudah kasih berkat penutup dan pengutusan. Maka lagu yang justru paling bagus ini (ketimbang lagu-lagu lain) tidak bisa dinikmati umat. Hanya untuk mengantar umat pulang ke rumah. Mestinya lagu Ndherek Dewi Maria ini dibawakan selepas komuni.

Bukankah sekarang masih Oktober? Bulan Rosario? Kok lagu Maria cuma satu ini? Di ujung ekaristi pula.

Saya pun duduk menikmati lagu devosi berbahasa Jawa itu. Lagu favorit imam-imam senior asli Jawa, khususnya Jawa Tengah dan Jogjakarta. Salah satunya mendiang Monsinyur Hadiwikarta mantan Uskup Surabaya.

Mendengar lagu ini, saya seperti ditegur oleh Bunda Maria. Karena selama Oktober ini, Bulan Rosario, saya sangat jarang berdoa rosario. Mungkin tidak sampai lima kali. Itu pun tidak lengkap 50 Salam Maria.

Ada saja alasan untuk tidak mendaraskan doa paling dasar di lingkungan Katolik itu. Lupa, ngantuk, capek, sibuk, dsb. Padahal rosario lengkap tidak sampai 20 menit. Saya justru kuat menonton sepak bola di TV yang durasinya hampir dua jam.

Mea culpa... mea culpa... mea maxima culpa!

Hidup di Jatim yang katoliknya sangat minoritas ini memang butuh disiplin pribadi ekstra. Sebab tidak akan ada orang yang mengingatkan kita untuk berdoa rosario, ekaristi, doa angelus, novena, aksi puasa dsb dsb.

Beda dengan di NTT, khususnya Flores. Ada saja orang yang ajak kita untuk ikut Kontas Gabungan (doa rosario bersama) plus menyanyikan lagu-lagu devosi sejenis Ndherek Dewi Maria itu.

Romo Thobi Kraeng SVD sudah tiada

Terlalu sering berakhir pekan di luar Surabaya dan Sidoarjo membuat saya kehilangan informasi penting dari Keuskupan Surabaya. Maklum, belakangan saya lebih sering misa di paroki-paroki yang masuk Keuskupan Malang. Sengaja ngadem karena Surabaya sedang panas-panasnya.

Minggu pagi tadi, 29 Oktober 2017, saya ikut ekaristi di Gereja Salib Suci, Wisma Tropodo, Sidoarjo. Yang pimpin misa Romo Servas Dange SVD asal Flores. Pastor ini membacakan intensi misa. Salah satunya untuk ketenteraman jiwa Romo Thobi Kraeng SVD yang meninggal dunia 40 hari lalu.

Oh... Tuhan Allah! Pater Thobi ternyata sudah selesai tugasnya di dunia. Kembali ke pangkuan Sang Pencipta.

Saya pun terpekur mengenang romo asal Lembata NTT ini. Romo murah senyum yang sempat saya kira berasal dari Manggarai karena namanya ada Kraeng. Pater Thobi Muda Kraeng SVD. Sampai ada beberapa pembaca blog ini yang kasih koreksi bahwa Romo Thobi itu asli Lembata. Sama dengan saya.

Meskipun sama-sama asal Lembata, dan tinggal di Surabaya, kita sulit ngobrol lama dengan Pater Thobi. Juga pater-pater lain. Maklum, Pater Thobi ini konsultan keluarga di Keuskupan Surabaya yang tamunya sangat banyak. Tamu-tamu antre di kantornya di belakang Gereja Katedral HKY Surabaya.

Malu kalau kita ngobrol lama dengan Pater Thobi yang sudah jadi milik umat Katolik. Bukan lagi milik orang Lembata, Flores, atau NTT. Ini pula yang menyebabkan hubungan orang NTT, yang bukan romo, dengan para romo atau suster asal NTT tidak bisa terlalu dekat.

"Romo Thobi itu konsultan keluarga yang luar biasa. Jarang ada pastor yang punya kebijaksaan dan pemahaman seperti beliau," ujar Ibu Joice yang juga staf di Komisi Keluarga Keuskupan Surabaya.

Namanya juga masalah keluarga, ada beragam keluhan yang disampaikan umat. Ada orang muda yang mau menikah tapi pasangannya beda agama (disparitas cultus). Ada yang beda gereja kayak Katolik dengan Protestan (Pentakosta, Karismatik dsb). Ada yang telanjur hamil di luar nikah. Macam-macam.

Saya perhatikan, saat ngobrol santai di ruangnya Bu Joice, tetangganya Romo Thobi, satu per satu keluar dengan senyum. Enteng. Ibarat domba yang dituntun gembala baik ke padang rumput hijau.

Saya pun tidak pernah dengar kata-kata negatif tentang Romo Thobi. Juga tidak pernah dengar kalau Romo Thobi sakit berat atau dirawat di rumah sakit.

Maka, saya kaget nian ketika Romo Servas menyebut intensi misa untuk 40 hari meninggalnya Romo Thobi Kraeng SVD. Saya hanya bisa berdoa semoga pater yang ramah ini berbahagia bersama Bapa di surga. Amin!

Requiem... aeternam.

23 October 2017

Negara ateis kok lebih maju

Mantan Menteri BUMN Dahlan Iskan selalu bikin kejutan dengan joke yang menggelitik. Seperti dimuat Jawa Pos pagi ini. Dalam sebuah acara peluncuran buku di Surabaya, Pak Bos mengungkap tantangan Indonesia (mayoritas Islam, semua penduduk wajib beragama) untuk menjadi negara yang makmur.

Dahlan Iskan:

"Indonesia yang bertuhan satu sedang mendapat tantangan dari bangsa yang tidak bertuhan (Tiongkok) dan yang bertuhan banyak (India). Tiongkok yang tidak bertuhan maju sekali.... Ekonomi India sangat maju sejak menghapus swadeshi alias berdikari. Pertumbuhan ekonomi India mencapai 7 persen.

Lantas, kita harus bagaimana? Apakah negara yang bertuhan hanya satu bisa berkompetisi dengan negara yang bertuhan banyak atau tidak bertuhan?"

Hadirin tepuk tangan dan tertawa.

Di forum hari santri ini Pak Dahlan tentu tidak membahas masalah teologi. Monoteisme. Ateisme. Politeisme. Pak Dahlan yang baru kembali dari Tiongkok hanya ingin mengajak peserta seminar (orang Indonesia) untuk kerja kerja kerja.... Agar bisa maju seperti Tiongkok atau India.

Indonesia yang rakyatnya beragama, mayoritas Islam, mestinya bisa lebih maju ketimbang India yang tuhannya banyak atau Tiongkok yang tidak bertuhan. Sebab agama punya daya dorong yang luar biasa bagi pemeluknya. Kok kita kalah sama Tiongkok yang ateis dan komunis?

Ironisnya lagi, di negara bertuhan ini, tingkat korupsi begitu tinggi. Pejabat-pejabat pusat dan daerah bolak-balik dicokok KPK karena nyolong duit rakyat. Bahkan anggaran untuk pengadaan kitab suci hingga urusan ibadah seperti haji pun ditilep. Sekarang lagi heboh uangnya jamaah umrah First Travel diembat si pengusaha yang penampilannya sangat alim.

Lalu, apa yang salah di Indonesia? Bangsa yang selalu bangga dengan agama dan ketuhanannya itu? Saya khawatir lama-lama agama jadi bahan tertawaan di negeri panda.

20 October 2017

Pelukis Sidoarjo Ikut PSLI 2017

Sedikitnya 10 pelukis asal Kabupaten Sidoarjo berpartisipasi dalam Pasar Seni Lukis Indonesia (PSLI) 2017. Mereka menyertakan karya-karya terbaru yang ramah pasar di ajang tahunan untuk memeriahkan hari jadi Provinsi Jawa Timur itu.
Para pelukis Kota Delta yang ambil bagian di PSLI 2017 antara lain M Nasrudin, M Cholis, Bambang Tri, Wiji Sayid, Andris, Daniel De Quelyu, Bangun Asmoro, dan Wadji Iwak.

"PSLI ini jadi ajang silaturahmi dengan para pelukis dari berbagai kota di Indonesia. Kita juga bisa diskusi dan berbagi informasi tentang perkembangan seni lukis di tanah air," ujar Wadji Iwak kepada saya, Jumat 20 Oktober 2017 di Gedung JX International Jalan Ahmad Yani 99 Surabaya.

Pelukis senior asal Desa Bangsri, Sukodono, ini boleh dikata melupakan pelanggan tetap pasar seni lukis. Wadji Iwak seperti biasa menampilkan lukisan-lukisan-lukisan dengan tema ikan. Mulai ikan koi, arwana, hingga ikan bakar yang siap disajikan di meja makan.

"Sudah puluhan tahun saya melukis. Makanya, saya sudah dikenal dengan lukisan ikan. Bukan berarti saya tidak membuat lukisan-lukisan lain yang objeknya bukan ikan," ujar pelukis bernama asli Wadji Martha Saputra ini.

Sesuai nama event, pasar seni lukis, menurut Wadji, para pelukis yang datang dari Surabaya, Sidoarjo, Banyuwangi, Gresik, Jombang, Kediri, Jakarta, Bandung, Bali, Magelang, dan kota-kota lain ini mengusung lukisan yang ramah pasar. Lukisan yang mudah diapresiasi oleh masyarakat. Khususnya kolektor lukisan. "Makanya, lukisan ikan yang saya tampilkan di sini kelihatan indah dan realis. Itu yang disukai orang banyak," tuturnya.

Meski begitu, Wadji tetap menyisipkan beberapa lukisan ikan yang cenderung abstrak dan rumit di stannya. Lukisan seperti ini dianggap mencerminkan isi hati dan idealismenya sebagai seniman. "Seorang pelukis harus bisa pandai-pandai menyiasati situasi ini agar bisa hidup dari kesenian. Kalau cuma menuruti idealisme saja, ya lukisannya sulit laku. Mau makan apa kita?" tuturnya.

Di ajang pasar seni lukis yang berlangsung selama 10 hari ini, Wadji mengaku senang karena beberapa lukisan ikannya sudah diserap pasar. Harganya? "Wah, kalau itu masih dalam proses negosiasi," ujar seniman yang juga kolektor benda-benda pusakan seperti keris bertuah itu.

Kisruh angkutan online vs konvensional

Sejak ojek dan taksi online beroperasi di Jakarta, Surabaya, Bandung, dan kota-kota besar lain, saya sudah duga bakal terjadi gejolak. Taksi-taksi lama, angkot, dan kendaraan umum lain pasti ngamuk. Sebab pasar mereka dikeruk habis.

Benar saja. Masyarakat rame-rame lari ke daring (online) karena mudah diakses. Lewat ponsel. Ojek atau taksi online itu datang jemput di mana saja. Tepat waktu. Sebab angkutan online ini tersedia di berbagai titik. Beda dengan taksi biasa yang hanya mangkal di beberapa titik terbatas.

Jauh sebelum ada taksi atau ojek online, sistem transportasi macam ini sudah jamak di luar Jawa. Khususnya Indonesia bagian timur seperti NTT. Di kampung halaman saya itu (hampir) semua mobil pribadi atau sepeda motor dijadikan angkutan umum. Kita cukup menelepon atau kirim SMS ke nomor tukang ojek atau pemilik mobil pribadi.

Biasanya setiap rumah di Kupang ada nomor-nomor ojek dan pemilik kendaraan pribadi yang bisa dikontak setiap saat. Langganan saya namanya Bapa Anton. Kalau mau ke Bandara Eltari Kupang pukul 05.00 ya pakai jasa bapak ini. Atau pakai ojek seorang nyong asal Timor.

Tidak pakai aplikasi atau internet karena (saat itu) belum ada. Cukup telepon rumah atau HP. Mengapa tidak pakai taksi resmi? Tidak ada. Di ibu kota NTT itu hanya ada beberapa unit taksi milik koperasi TNI AU. Tapi sulit diajak mengantar penumpang ke tempat yang jauh. Saya malah pernah diturunkan di jalan oleh sopir brengsek. Bukti bahwa budaya tolong-menolong dan empati orang NTT (sama-sama pribumi) sudah luntur.

Kembali ke Surabaya atau Jakarta. Di Jawa taksi dan angkutan umum banyak. Mereka punya armada yang cukup. Harus izin macam-macam. Modal raksasa. Karena itu, menggunakan kendaraan pribadi untuk angkut penumpang jelas pelanggaran. Yang boleh angkut penumpang ya plat kuning. Plat hitam haram bawa penumpang... kecuali di NTT.

Ketika angkutan aplikasi booming, maka hancurkan undang-undang dan peraturan lainnya. Ugal-ugalan. Sepeda motor angkut penumpang. Mobil pribadi plat hitam bawa penumpang. Padahal pemerintah daerah dari dulu aktif kampanye agar rakyatnya naik angkot atau bus kota.

Taksi dan ojek aplikasi datang membawa paradigma yang jauh berbeda. Yang tidak pernah terbayangkan sebelumnya. Go-Jek atau Uber bukan perusahaan transportasi tapi seakan-akan punya jutaan unit kendaraan. Tidak sampai dua tahun kekayaan Go-Go-Jek atau Uber melebihi bos-bos taksi yang sudah berusaha selama 30 tahun atau 50 tahun.

Masyarakat sendiri (mayoritas) justru senang dengan angkutan online. Gak mau tau aturan plat hitam, kuning, dsb. Pokoknya cepat, nyaman, murah pula. Maka pelanggaran undang-undang yang dilakukan pihak online dapat pembenaran. Aturan apa pun kalau dilanggar bareng-bareng, pemerintahnya yang bingung. Beda kalau Anda sendiri yang menerobos lampu merah di jalan.

Begitu banyak argumentasi untuk membenarkan angkutan online. Ada yang menyamakan angkutan online dengan koran atau situs berita online. Dua-duanya bisa tetap jalan. Meskipun berita online sudah menggerus pembaca koran cetak.

Argumentasi ini kelihatan logis tapi ngawur. Koran atau situs berita online memang dibuat untuk dibaca di komputer, ponsel atau gawai yang lain. Sebaliknya, orang tetap harus naik mobil atau motor biasa untuk pindah dari satu tempat ke tempat lain. Mustahil orang duduk di kamar, masuk situs taksi online... lalu sampai ke tujuan.

Karena itu, pemerintah sebagai regulator kudu membuat aturan yang pas untuk melindungi taksi, angkot, atau bus kota yang sudah ada. Ojek juga diatur? Ojek ini sebenarnya tidak termasuk angkutan umum. Ojek boleh beroperasi karena tidak ada kendaraan umum roda empat atau lebih... kayak di NTT.

Di sisi lain, revolusi digital, internet, telah menjungkirbalikkan tatanan lama. Di segala bidang. Mau tidak mau... suka tidak suka... harus dihadapi.

17 October 2017

Retorika Pribumi Anies Baswedan

Anies Baswedan baru saja dilantik menjadi gubernur DKI Jakarta. Bekas menteri pendidikan ini langsung menohok dalam pidato pertamanya. Dengan retorika khas politisi, Anies mengangkat isu pribumi vs nonpribumi.

Anies: "Di tempat lain mungkin penjajahan terasa jauh tapi di Jakarta bagi orang Jakarta yang namanya kolonialisme itu di depan mata. Dirasakan sehari-hari."

"Dulu kita semua pribumi ditindas dan dikalahkan. Kini telah merdeka, kini saatnya menjadi tuan rumah di negeri sendiri," ucapnya.

Pribumi itu siapa? Orang Betawi asli? Penduduk yang leluhurnya sudah tinggal di Jakarta sebelum Indonesia merdeka?

Isu pribumi vs pendatang ini sangat sensitif di Indonesia. Sebab rezim Orde Baru mengartikan nonpribumi sebagai warga keturunan Tionghoa. Meskipun sudah enam tujuh generasi di nusantara, orba masih menganggap orang Tionghoa sebagai nonpri. Karena itu, mereka perlu membuktikan kewarganegaraan dengan SBKRI.

Warga keturunan Arab, seperti Anies Baswedan, tidak dianggap nonpribumi. Tidak dianggap pendatang. Padahal pemerintah Hindia Belanda memasukan keturunan Arab sebagai Timur Asing. Bukan pribumi. Anies yang doktor pasti paham banget klasifikasi ala kolonial itu.

Bicara pribumi vs nonpribumi (pendatang) saat ini pasti tidak sesederhana di era 1930an. Batasannya jelas. Mengikuti pembagian masyarakat ala Hindia Belanda.

Lah, sekarang bisakah Anies membuat kriteria warga pribumi itu? Siapakah yang berhak disebut pribumi di Jakarta? Asli Betawi? Yang leluhurnya sudah tinggal di Jakarta sebelum NKRI lahir? Bagaimana dengan orang Tionghoa yang leluhurnya lahir di Jakarta tapi baru resmi jadi WNI tahun 1960an?

Penduduk Jakarta tahun ini tentu sudah berbeda komposisinya dengan tahun 1945. Mungkin yang asli tidak sampai 30 persen. Sebagian besar justru pendatang dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jogja, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua... seluruh Indonesia.

Jakarta itu ibarat melting pot. Semuanya kumpul di situ. Maka membicarakan isu pribumi vs pendatang di Jakarta di era globalisasi ini jelas kontraproduktif. Definisinya tidak jelas. Anies lupa bahwa dirinya juga bukan pribumi karena keturunan Arab.

Yang ingin ditekankan Gubernur Anies di hari pertamanya (mungkin) keberpihakannya pada rakyat. Dia ingin mengingatkan para investor, korporasi (asing atau tempatan), untuk tidak coba-coba mendikte pemerintah Jakarta. Kapitalisme harus dihentikan.

Maka reklamasi laut ditolak Anies sejak kampanye lalu karena dianggap membuat nelayan sengsara. Rakyat menderita. Yang makmur tetap saja investor alias kapitalis properti raksasa.

Rupanya Anies ingin mewujudkan program populisnya seperti saat kampanye lalu. Sekaligus pemanasan jelang 2019.

Taiso dan Senam Pagi Indonesia

Belum lama ini saya melihat orang Jepang (plus belasan orang Indonesia) melakukan senam pagi bersama. Senamnya ringan saja. Beda dengan senam-senam aerobik di arena car free day Minggu pagi.

Aha... ini yang dinamakan taiso. Jadi ingat pelajaran orkes (olahraga dan kesehatan) zaman SMP dulu di Larantuka. Kita hafal taiso tapi tidak pernah lihat gerakan-gerakan senam masal ala Nippon. "Dulu senam taiso dilakukan tiap pagi," ujar Mbah Siti (alm) yang sangat suka taiso.

Gerakan-gerakan taiso sangat sederhana. Tidak berat. Siapa pun bisa mengikuti meskipun belum pernah belajar sebelumnya. Beda dengan senam poco-poco olahraga versi 2016 yang sangat sulit itu.

Syukurlah, sekarang ada Youtube. Saya pun mencari taiso di internet. Banyak banget videonya. Tapi gerakan-gerakannya sama. Ada dua versi taiso. Versi 1 yang gampang dan lebih populer. Cuma tiga menit saja.

Hebatnya, taiso ini dipraktikkan di Jepang sejak 1928. Radio NHK tiap pagi dan sore putar musik pengiringnya, pakai piano, kemudian orang Jepang ramai-ramai melakukan senam ringan ini. Di sekolah, kantor, pabrik... di mana saja. Sampai sekarang!

Melihat taiso di Youtube beberapa kali, saya jadi teringat senam pagi Indonesia (SPI) dan senam kesegaran jasmani (SKJ). Kedua macam senam ini diwajibkan di zaman orde baru. Senam hafalan anak-anak sekolah seperti saya.

SPI punya empat versi: seri A, B, C, D. SKJ yang mengganti SPI juga ada tiga versi. Saya cuma hafal SPI seri D dan SKJ versi paling awal. Sebab kedua versi itu selalu kami lakukan di halaman sekolah dekat pantai itu. Baik dengan iringan musik maupun kosongan.

Dari enam versi senam masal ala Indonesia, menurut saya, SPI seri D yang paling dekat taiso. Musiknya pakai piano. Gerakan-gerakannya sederhana. Teratur. Mudah diikuti. Saya yakin pencipta SPI mengadopsi senam taiso ala Jepang itu.

Sayang, senam masal ala Indonesia tidak pernah bertahan lama. Orang Indonesia sepertinya cepat bosan. Selalu berusaha untuk mencari yang baru. Meskipun senam-senam baru itu tidak lebih bagus ketimbang senam lama.

''Bosan kalau cuma itu-itu aja gerakannya," kata Mbak Rida instruktur senam aerobik di arena CFD Sidoarjo. "Saya sudah buat beberapa versi senam Nusantara. Senam Maumere perlu ada pengganti biar tidak bosan," kata Pak Rusman instruktur senam Maumere di Sidoarjo.

Itulah bedanya taiso dengan senam-senam lain di Indonesia. Orang Jepang sudah tidak bisa dilepaskan dari taiso. Dari generasi ke generasi. Taiso ibarat ritual rutin setiap pagi untuk menjaga kebugaran tubuh masyarakat. Bahkan, para ekspatriat Jepang tetap memainkan taiso di negara mana pun.

Saya pun mencoba mengingat-ingat senam pagi seri D yang dulu diajarkan Bapa Gaspar, penilik olahraga di kecamatanku. Ternyata masih bisa meskipun tidak sempurna. Untung orang Indonesia ini baik hati. Mereka menayangkan rekaman senam lawas dari TVRI itu ke Youtube. Senam pagi sebelum nonton bareng Si Unyil.

16 October 2017

Ampun! Panaaas! 41 Celcius!

Panas? Ampun!

Begitu antara lain judul berita di Jawa Pos edisi Minggu 15 Oktober 2017. Tentang balap sepeda GFJP Suramadu 2017 dengan peserta terbanyak di Indonesia. Medannya rata, tapi panasnya yang luar biasa.

Koran itu menulis cuaca di Madura saat balapan itu di kisaran 39,7 derajat celcius. Suhu sempat menembus 41 derajat celcius saat memasuki kawasan wisata tambang kapur Bukit Jaddih di Kecamatan Socah Bangkalan.

Wow... 41 derajat celcius! Itu panas yang sangat terik. Membakar di tengah hari. Kalau tubuh tidak kuat, kurang minum, bisa semaput.

Suhu di Madura sebetulnya tak jauh berbeda dengan Surabaya. Kalaupun ada selisih, sangat tipis. Beda satu derajat lah.

Tidak heran masyarakat Surabaya dan Sidoarjo sejak tiga pekan ini mengeluhkan suhu yang menyengat. Siang panas ekstrem, malam pun gerah nian.

Saya sendiri sulit tidur sejak 10 hari terakhir. Selalu terbangun pukul 01.00 lebih sedikit. Lalu langsung mengguyur tubuh dengan air yang tidak sejuk. Badan tetap saja tidak bisa didinginkan.

Musim kemarau sedang di puncak teriknya. Sebab posisi matahari di atas Surabaya dan wilayah lain yang koordinatnya sama. Sang Surya lagi bergerak ke selatan. Untuk memanggil sang hujan.

Maka, saya pun minggat ke kawasan Trawas. Tepatnya Desa Seloliman yang dekat situs pemandian Jolotundo itu. Membunuh panas terik dari Sidoarjo.

Benar saja. Tidak sampai tujuh menit saya bisa tidur pulas. Makin lama makin dingin. Sekitar 20 derajat celcius. Di tengah udara segar yang dihasilkan pohon-pohon di tanah milik Perhutani itu. Nikmat banget!

Ternyata bukan cuma saya yang ngalih ke kaki Gunung Penanggungan. Mas Hari, Mas Samsul, dan beberapa orang Surabaya yang lain bahkan sudah lama memilih ngadem di Trawas.

Pak Gatot yang pensiunan panitera PN Sidoarjo malah sudah punya vila khusus di daerah Biting. Heri Biola, seniman musik dan guru, yang dulu punya sanggar di Sawotratap Gedangan Sidoarjo juga tinggal di Trawas yang sejuk. "Saya tetap kerja di Sidoarjo. Tapi tinggal saya istri di sini," ujar Heri yang asli Krembung.

Pantesan... jalan raya dari arah Ngoro ke Trawas didominasi kendaraan bermotor plat L (Surabaya) dan W (Sidoarjo).

Semoga hujan segera turun.