31 December 2016

Trembesi Mulai Menyejuki Tlocor Jabon

Trembesi lagi... trembesi lagi. Dulu saya tidak begitu percaya dengan kedahsyatan trembesi. Pohon peneduh yang sempat dipromosikan sebuah perusahaan rokok sebagai tanaman penghijauan di berbagai kota di Jawa. Tapi waktu juga yang akhirnya bicara.

Pantai Tlocor di muara Sungai Porong, Kecamatan Jabon, Sidoarjo, itu kini sudah terasa lain. Tidak lagi gersang menyengat seperti belasan tahun lalu saat pertama kali saya mampir ke kampung paling pelosok di ujung tenggara Kabupaten Sidoarjo itu.

Ketika diajak pak Bambang Thelo, pelukis senior almarhum, ke Tlocor, rasanya dusun terpencil itu lebih parah ketimbang desa di NTT. Tidak ada jalan raya. Cuma jalan setapak khas pertambakan. Saya dan pak Bambang terpaksa menyusuri bantaran Sungai Porong. Itu pun sering dituntun motornya.

Sampai di Tlocor cuma ada bakau-bakau liar. Panas menyengat. Angin laut berasa garam. ''Tlocor ini kampung paling antik di Sidoarjo,'' kata sang pelukis spesial green art itu. ''Jalannya seperti safari Paris-Dakkar,'' kata mbah seniman yang pernah bekerja di Jerman itu.

Tahun berganti, bulan berlalu. Pada 29 Mei 2006 terjadi semburan lumpur Lapindo di Kecamatan Porong. Sejumlah desa terendam lumpur panas. Semburan masih stabil sampai sekarang. Singkat cerita, air lumpur itu harus disalurkan ke laut. Dibuang lewat Sungai Porong hingga ke Tlocor dan laut di Selat Madura.

Blessing in disguise! Gara-gara bencana lumpur Lapindo ini, Tlocor akhirnya jadi penting. Mau tidak mau BPLS harus membuat jalan raya di sisi selatan Kali Porong untuk memantau pembuangan lumpur ke muara. Apalagi BPLS juga memanfaatkan lumpur Lapindo untuk membuat pulau baru di Tlocor.

Maka, jadilah jalan raya mulus ala tol dari Jembatan Porong hingga Tlocor. Kalau dulu jalan ke Tlocor paling jelek di seluruh Kabupaten Sidoarjo, kini justru jadi jalan terbaik. Mulus dengan pemandangan alami khas kampung tambak. BPLS juga bikin dermaga kecil dengan ikon berupa buah bakau.

Dan... yang tak kalah penting, Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo melakukan penghijauan di sekitar Dermaga Tlocor. Menanam trembesi sebagai pohon utama. Apa bisa trembesi hidup di muara sungai yang kering, gersang, air payau yang asin? Selama ini orang membayangkan trembesi hanya cocok di tanah cukup subur.

BPLS ternyata benar. Trembesi-trembesi percobaan itu kini sudah besar. Sudah bisa bikin sejuk kampung Tlocor. Sayang, trembesi yang ditanam kurang banyak sehingga produksi oksigen belum maksimal.

Pemkab Sidoarjo yang empunya wilayah akhirnya mulai tergerak setelah BPLS membuka isolasi Tlocor. Beberapa kali diadakan penghijauan di sana. Salah satunya menanam trembesi.

Ada yang hidup, ada yang mati, ada yang terbakar. Tapi paling tidak tanaman-tanaman ini bakal menghijaukan Tlocor yang dulu nyaris diabaikan di Sidoarjo.

No comments:

Post a Comment