26 December 2016

Seandainya Tidak Ada Natal

Natal selalu membawa damai! Begitu homili para romo dan pmdeta merujuk Alkitab. Sayang, di Indonesia terbalik. Natal justru membawa kecemasan, intoleransi, hingga politicking yang tidak produktif.

Kecemasan terbesar adalah teror bom. Ini membuat gereja-gereja selalu dijaga ketat menjelang ibadah Natal. Ada pasukan gegana yang mendeteksi bahan peledak. Ada TNI yang mendukung kerja polisi dan sebagainya.

Satpam-satpam di gereja pun ekstra waspada. Siapa saja yang datang ke gereja pun ditanyai punya keperluan apa. Padahal dulu gereja-gereja selalu terbuka untuk umat kristiani yang hendak bersembahyang atau sekadar refleksi. Bisa juga Lectio Divina.

Jumat 23 Desember 2016. Saya mampir ke Gereja Santo Paulus Juanda Sidoarjo. Satpam baru yang belum saya kenal membuntuti saya ketika hendak masuk ke dalam gereja. "Maaf, ada keperluan apa?" tanya mas satpam.

Wah, aneh ini orang!

Orang ke gereja ya urusan ibadah. Kalau tidak ibadah ya bisa duduk-duduk santai. Silentium magnum istilah retretnya. Kok sampai ditanya seperti itu? Niat untuk sejenak merenung di gereja pun buyar. Sebab si satpam rupanya mencurigai saya.

Tapi kalau dipikir-pikir, kecurigaan satpam di gereja-gereja memang sangat beralasan. Ini Natal Bung! Potensi teror bom sangat tinggi. Maka gereja pun disterilisasi  (istilah polisi) macam gedung yang bakal didatangi presiden. Siapa tahu ada teroris yang menyusup ke gereja.

Bom... teror... ancaman ormas radikal... belakangan selalu mewarnai Natal. Sangat kontras dengan pesan Natal yang dinyanyikan para malak kepada gembala-gembala Bethlehem. Maka Natal semakin tidak nyaman untuk dirayakan.

Puji Tuhan, Natal tahun ini aman di seluruh Indonesia. Tak ada ledakan atau teror.

Tanggal 25 Desember 2016 pun berlalu. Otomatis berlalu pula polemik panjang seputar fatwa MUI tentang atribut natal, pohon cemara, selamat natal dsb. Bangsa ini terlalu banyak menghamburkan energi untuk berkelahi hanya karena kakek tua berjenggot itu.

Ah, seandainya tidak ada Natal!

6 comments:

  1. Kenapa Natal yang disalahkan, Bung? Bahkan umat Islam pun menghormati Nabi Isa, bahkan sebagai seorang Mesias, maka itu ia disebut AlMasih (Kristus). Umat Islam pun percaya akan kelahiran Yesus dari rahim Maryam yang masih perawan dan tidak bersuami. Jadi seharusnya judul blog ini "Mengapa harus ada orang fanatik beragama hingga menjadi teroris?"

    ReplyDelete
    Replies
    1. Yang punya blog siapa? Kenapa km yang protes judul blog? Haha
      Buat postingan sendiri saja

      Delete
    2. Bung Lambertus sudah membuat blog post yang bagus. Saya hanya berkomentar, yang saya kira dihargainya; kalau tidak, dia tidak akan muat. Omong-omong, kalau mau pake bhs Inggris, yang betul; postingan itu bahasa apa? "Post" itu sudah kata benda, ngapain harus ditambahi -ing, lantas ditambahi akhiran -an, wkwkwk?

      Delete
    3. Hehe... iki guyonan halus tapi malah ditanggapi lain. Saya jadi ikut gak enak. Salam tahun baru semoga selalu sehat dan semangat.

      Delete
    4. Iya saya mengerti, Cak.

      Delete
    5. Mas Hurek, yang Anda tulis bukanlah suatu guyonan, melainkan hal yang sangat serius, yang harus direnungkan dan dibicarakan secara terbuka, tanpa emosi.
      Anda sangat santun, sadar bahwa pikiran polos tak laku di Indonesia, tidak seperti si-Belitung yang selalu merasa dirinya paling benar.
      Ada ungkapan: Recht haben und Recht bekommen sind zwei paar Schuhe.

      Delete