10 December 2016

Seandainya Gus Dur Masih Ada

Belakangan ini saya jadi ingat Gus Dur. Seandainya KH Abdurrahman Wahid masih hidup, rasanya tak mungkin ada polemik SARA berkepanjangan di negeri ini. Kasus salah ucap Gubernur Ahok pun rasanya tak akan sampai ke polisi, jaksa, hingga pengadilan.

Andai kata Gus Dur masih ada, saya yakin Ahok datang ke Ciganjur, kediaman Gus Dur, ngobrol, makan soto, menceritakan duduk perkaranya.. dan selesai. Bagaimana kalau FPI atau MUI atau ormas-ormas lain tidak terima?

Gus Dur sudah punya jurus untuk menyelesaikannya. Mau pakai bahasa teologi, ayat-ayat, sosiologi, dsb gampang. Gitu aja kok repot! Semua persoalan SARA seberat apa pun bisa diselesaikan Gus Dur dengan diplomasi tingkat dewa.

Sayang, Gus Dur sudah meninggalkan kita tujuh tahun lalu. Lebih sayang lagi, kita belum punya tokoh besar dengan kualifikasi superlatif seperti Gus Dur. Kalau ahli agama sih buanyaaak. Yang hafal kitab suci wuakeh. Yang jago teori ada segudang. Tapi Gus Dur lain.

Selain punya ilmu agama Islam yang sangat tinggi, Gus Dur itu cucunya pendiri NU. Ayahnya KH Wachid Hasjim menteri agama pertama yang juga anggota PPKI pendiri Republik Indonesia. Gus Dur punya segalanya. Yang membuat beliau bisa menjadi peace maker, bapak bangsa, bapak pluralisme.

Tadi malam ratusan orang mengadakan doa bersama untuk Gus Dur, haul ketujuh, di Masjid Cheng Hoo Surabaya. Acara ini dihadiri Gus Solah adik kandung Gus Dur, putri Gus Dur, Inayah, serta sejumlah kiai dan tokoh Tionghoa Jatim. Tidak sedikit umat nonmuslim pun ikut dalam doa bersama itu. Termasuk konjen USA dan konjen Tiongkok.

Bhinneka Tunggal Ika! Kemajemukan, pluralisme, itulah yang menjadi warisan Gus Dur. Berbeda dengan kebanyakan orang yang hanya bicara pluralisme, menurut Gus Solah alias KH Salahuddin Wahid, Gus Dur selalu take action ketika ada masalah SARA atau gangguan terhadap kebinekaan di Indonesia.

"Gus Dur itu aktif. Ketika ada kelompok yang terganggu keyakinannya, Gus Dur bertindak," kata Gus Solah.

Inayah Wahid menambahkan, ayahnya seorang humanis dan pluralis meskipun sangat kokoh keislamannya. Gus Dur berjuang menegakkan Islam yang damai, Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Rahmatan lil alamin. "Kita sering gagal paham terhadap ide-ide Gus Dur," katanya.

Ah, seandainya Gus Dur masih ada!

Saya yakin Presiden Jokowi tidak perlu terlalu capek menemui begitu banyak ulama, begitu banyak ormas, untuk meredam gejolak SARA gara-gara kasus Ahok. Toh, setelah sowan ke mana-mana, hasilnya juga gitu-gitu aja. Unjuk rasa jalan terus, caci maki di media sosial makin seru, dan Ahok harus jadi terdakwa di pengadilan minggu depan.

Semoga Gus Dur bahagia bersama Sang Mahakasih di surga!

2 comments:

  1. Seorang "Santo" seperti Gus Dur meninggal dunia dengan terlebih dahulu memberikan tauladan bagaimana hidup sebagai manusia yang benar-benar beragama, dan tidak menjadikan agama, tidak menjadikan Ustad, tidak menjadikan kitab suci sebagai Tuhan. Semoga para pemimpin bisa mengutamakan kepentingan negara drpd kepentingan golongannya sendiri.

    ReplyDelete
  2. jika masih ada Gus Dur, aku pasti lebih ayem ketimbang sekarang.....

    ReplyDelete