26 December 2016

Kangen Ahmad Wahib dan Soe Hok Gie

Sambil berlibur sejenak, saya mencoba membaca kembali catatan harian Ahmad Wahib dan Soe Hok Gie. Dua pemikir dan aktivis mahasiswa yang sangat menonjol pada akhir kekuasaan Bung Karno dan awal Pak Harto.

Kedua orang ini punya kecerdasan dan pisau analisis jauh di atas rata-rata orang Indonesia. Ahmad Wahib yang asli Sampang, latar belakang santri, tanpa tedeng aling-aling mengkritik wacana dan praktik keagamaan di tanah air saat itu. Pemuda yang mati muda, 31 tahun, bahkan berani mempertanyakan berbagai kemapanan di bidang agama, politik, budaya, pendidikan dsb.

Ah, andaikan Ahmad Wahib masih ada! Andaikan ada Wahib-Wahib-Wabib baru! Mungkinkah ada pergolakan pemikiran yang berani membentur rembok ala Ahmad Wahib di zaman ini?

Bertepatan dengan Hari Natal 25 Desember 1969, Ahmad Wahib menulis catatan tentang filsuf dan agama. Petikannya:

"Seorang filsuf itu sebenarnya tidak perlu beragama dan tidak boleh beragama. Begitu dia beragama, begitu dia berhenti jadi filsuf.

Untuk masing-masing filsuf itu biarlah ada 'agama' sendiri-sendiri yang langsung dia bicarakan dengan Tuhan.

Saya pikir agama-agama yang ada sebagai aturan-aturan sekarang ini adalah agama untuk orang-orang awam yang kurang berpikir. Atau yang telah merasa SELESAI dalam berpikir.

Kasihannya, atau malah ini kehebatannya, filsuf adalah orang yang selalu berada dalam krisis. Dan demi kesejahteraan dunia, tidak perlu semua orang tenggelam dalam krisis yang abadi."

1 comment:

  1. Dalam tasawuf ada tingkatan pemula yaitu syariat, dikit2 harus mengikuti hukum, aturan macam2. Sering2 memaksa orang lain, sampai tidak mengerti hakekat beragama itu apa. Sama seperti persaingan Yesus yang mengajarkan hakekat beragama dengan kaum Farisi yang ingin teguh menegakkan hukum agama Yahudi (syariat).

    ReplyDelete