06 December 2016

Paroki Salib Suci Sidoarjo Juara Umum Festival Paduan Suara Keuskupan Surabaya

Sudah 10 tahun tidak ada lomba atau festival paduan suara di Keuskupan Surabaya. Lama banget! Padahal festival kor resmi keuskupan sangat efektif untuk menggairahkan kor-kor paroki atau stasi atau lingkungan. Kalau tidak ada lomba, biasanya kor-kor Katolik kurang semangat berlatih.

Ada sih festival paduan suara yang diadakan Jawa Pos untuk menyambut Natal. Juga festival di universitas dan lembaga-lembaga lain. Tapi misinya pasti beda dengan liturgi Katolik.

Lomba paduan suara Gereja Katolik mau tidak mau harus diarahkan untuk pengembangan musik liturgi. Bukan bagus-bagusan di konser, dapat banyak medali di luar negeri, masuk televisi dan sebagainya. Buat apa hebat di luar kalau mutu kor liturgisnya jelek?

Maka, inisiatif Paroki Redemptor Mundi, Dukuh Kupang Barat Surabaya, mengadakan festival paduan suara Keuskupan Surabaya layak diapresiasi. Meskipun yang ikut cuma 17 paroki dan satu stasi (Porong Sidoarjo). Belum setengahnya paroki di Keuskupan Surabaya yang jumlahnya 42. Biasanya kalau penyelenggaranya Keuskupan Surabaya hampir pasti semua paroki ikut.

Tapi saya kira gebrakan Redemptor Mundi ini menjadi awal yang baik. Ada tiga kategori lagu yang dilombakan: Gregorian, polifoni, dan inkulturasi. Cocok dengan pakem musik liturgi. Selama ini Gereja Katolik di Indonesia saya nilai terlalu asyik di inkulturasi karena buku Madah Bakti dulu memang berat di inkulturasi. Gregoriannya sangat sedikit. Polifoni tidak ada.

Tidak hanya berlomba, peserta juga diajak mengikuti lokakarya dan choir clinic. Klinik paduan suara ini antara lain menghadirkan mas Budi Susanto dari Malang. Mas Budi ini dirigen, arranger, dan komposer kor yang sangat berpengaruh di Indonesia di era reformasi. Kor-kor mahasiswa Indonesia umumnya membakan komposisi anggitan Budi Susanto ketika mengikuti international choir festival.

Mas Budi menekankan pentingnya produksi suara. How to inilah yang sering diabaikan kor-kor kita, khususnya di Gereja Katolik. Akibatnya, lagu-lagu liturgi lawas yang seharusnya sudah di luar kepala pun terdengar mentah. Ndak enak blas! Pokoknya setiap misa ada kornya. Belum ada upaya sungguh-sungguh untuk mewujudkan prinsip Gereja: Qui bene cantat bis orat!

Akhirnya, sesuai dugaan saya, Paroki Salib Suci Waru, Sidoarjo, meraih juara umum. Paroki binaan romo-romo SVD memborong tiga kategori, yakni Gregorian, polifoni, dan inkulturasi. Saya tidak kaget karena sejak dulu Salib Suci memang sangat konsen mengembangkan Gregorian dan polifoni. Dan itu tak lepas dari sosok Romo Heribert Balhorn yang sangat menekankan ekaristi klasik.

Ketika Gereja-Gereja lain getol dengan inkulturasi, Salib Suci Waru aktif mengembangkan Gregorian. Saya pernah menulis catatan di blog ini: suasana misa di Salib Suci itu rasanya lain dibandingkan paroki-paroki lain di Jawa Timur. Selamat untuk Paduan Suara Salib Suci Sidoarjo!

Hasil Lomba Paduan Suara Keuskupan Surabaya 2016

Juara umum: Paroki Salib Suci Sidoarjo

Kategori Gregorian:

Juara : Paroki Salib Suci Sidoarjo
Peringkat 2: Paroki Roh Kudus Surabaya
Peringkat : 3 Paroki Aloysius Gonzaga Surabaya

Kategori Polifoni Suci

Juara : Paroki Salib Suci Sidoarjo
Peringkat 2: Paroki Roh Kudus Surabaya
Peringkat 3 : Paroki Gembala yang Baik Surabaya

Kategori Inkulturasi

Juara : Paroki Salib Suci Sidoarjo
Peringkat 2 : Paroki Kristus Raja Surabaya
Peringkat 3 : Paroki Roh Kudus Surabaya

No comments:

Post a Comment