31 December 2016

Musik koplo cermin masyarakat stres

Musik dangdut koplo diputar sangat keras di pinggir jalan raya Candi Sidoarjo. Saya meminta mbak pemilik warung untuk mengurangi volume salonnya. Tapi dia tidak mau. Sudah biasa, katanya.

Tiga laki-laki tampak menikmati dangdut koplo dari orkes lokal itu sambil main ponsel. Mumpung gratis karena ada wi-fi. Tepuk tangannya mana, teriak si biduan yang berbusana minim.

Koplo memang bukan dangdut biasa ala Rhoma Irama, Ida Laila, Hamdan AT, atau Meggy Z di masa lalu. Berbalut rock, pop, etnik.. koplo sudah jadi genre baru di jagat musik Indonesia. Rhoma Irama menolak koplo masuk organisasi dangdut PAMMI karena dianggap bukan dangdut.

''Saya tidak bisa mengatasi koplo karena memang bukan dangdut,'' ujar sang raja dangdut itu.

Tak didukung Rhoma Irama, koplo justru berkembang sendiri di kafe, warkop, hingga gang sempit di kota dan desa. Orang hajatan nanggap koplo. Promosi produk apa saja di Sidoarjo ada koplonya. Malam tahun baru koplo yang dominan.

''Saya punya stok penyanyi koplo dari usia remaja sampai STW,'' kata Mas Takim pengelola salah satu orkes dangdut di Sidoarjo. ''Tinggal duit sampean berapa. Kalau cuma segitu ya saya kasih STW aja. Hehehe.... Kalau mau yang muda ya tambahin dong duitnya.''

Lalu, apa enaknya koplo? Kok bisa menggeser dangdut yang lemah gemulai dan lebih sopan?

Saya sendiri sulit menemukan di mana letak keenakan musik koplo. Semakin lama dinikmati, semakin tidak nyaman. Apalagi banyak penyanyi koplo yang suaranya fals. Bahkan penyanyi koplo paling top, punya jutaan penggemar, sering meleset pitch control-nya. Aransemen musiknya juga biasa-biasa saja.

''Orang sekarang itu cuma butuh penyanyi cantik, muda, bahenol. Urusan suara nomor sekian,'' ujar seorang pemain organ tunggal di Sidoarjo spesialis koplo.

Kepopuleran koplo di tanah air boleh jadi sebagai cerminan masyarakat sekarang. Ugal-ugalan, rada ngawur, tak peduli harmoni dan tatanan konvensional,  dan stres. Tidak heran musik koplo ini menjadi menu utama kafe-kafe dangdut yang dipenuhi tante-tante purel.

Hidup koplo!

No comments:

Post a Comment