25 December 2016

Misa Malam Natal di Pamekasan

Misa Natal di Surabaya dan Sidoarjo sudah biasa. Natalan di kampung halaman Lembata NTT yang hampir semua penduduknya Katolik pasti tak asing. Ikut ekaristi Natal di Bali yang mayoritas Hindu juga sudah. Maka, saya putuskan mengikuti ekaristi Natal 2016 di Pamekasan, Pulau Madura.

Namanya juga kota santri yang 99 koma sekian persen Islam, tidak ada tanda-tanda Natal di Pulau Madura. Papan reklame, spanduk pesta diskon akhir tahun, tidak ada. Jangan bayangkan ada pohon terang (natal) atau aksesoris Santa Claus atau lagu-lagu Natal terdengar di Madura.

Jangankan di pusat belanja atau tempat umum, rumah atau toko Tionghoa Katolik pun tak ada yang memasang pohon natal. Bahkan, Sabtu malam, di dekat Gereja Katolik Pamekasan pun orang-orang tidak tahu kalau sebentar lagi ada misa malam Natal pukul 20.00. Tidak heran, banyak warga yang heran mengapa polisi menutup satu ruas jalan di depan Gereja Katolik Pamekasan.

Yang paham ada liturgi Natal ya polisi dan tentara. Mereka mengadakan apel Operasi Lilin untuk mengamankan ibadah Natal di lima atau enam gereja yang ada di Pamekasan.

"Saya tidak tahu kenapa polisi kok tutup jalan. Mestinya malam Minggu jalan jangan ditutup," ujar seorang ibu penjual kopi tak jauh dari Gereja Katolik.

Saya hanya tersenyum sendiri. Di pusat kota yang cukup modern ternyata orang tidak tahu ada Natal. Ini juga karena pihak Gereja sendiri terlalu low profile. Tak ada aksesoris di halaman gereja. Tak ada spanduk ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru dari dewan paroki, OMK dsb. Adem ayem aja.

Suasana Natal baru terasa di dalam Gereja Maria Ratu Para Rasul. Ada kandang Bethlehem yang cukup besar di sebelah kiri. Di kanan pohon terang dengan lampu kelap-kelip. Umatnya juga sudah banyak meskipun misa masih 40 menit lagi. Paduan suara di depan kanan dekat pohon terang itu.

Misa malam Natal dipimpin Romo Fajar Tejo Soekarno. Pastor Paroki Sampang, yang wilayahnya mencakup Kabupaten Sampang, ini awalnya melatih beberapa aturan liturgi yang baru. Mulai maklumat Natal hingga gerakan membungkuk dan berlutut saat doa Aku Percaya.

Beberapa tahun belakangan ini memang ada sejumlah perubahan dalam tata perayaan ekaristi  (TPE). Doa-doa yang dulu diucalkan umat (hafal luar kepala) kini hanya boleh diucapkan romo. Kata 'amin' di akhir doa pun dihilangkan kalau didoakan bersama-sama seperti Bapa Kami. Orang Katolik yang jarang ke gereja bisa dipastikan pangling dengan perubahan ini.

Misa pun dimulai seperti biasa. Lagu Malam Kudus yang syahdu terasa indah karena kor dan organisnya bagus. Kemudian Gloria in Excelsis Deo...

Suasana misa yang semarak kian gayeng saat homili. Romo Fajar Tejo yang asli Batu Malang ini sesekali melontarkan guyonan yang membuat umat tertawa kecil. Isi homilinya masih tentang berita gembira kelahiran sang Almasih di Lukas 2:11.

Misa berlangsung selama hampir dua jam. Itu pun karena Romo Fajar mengurangi nyanyian prefasi dan beberapa aklamasi yang biasanya dinyanyikan dalam misa raya seperti malam Natal.

Usai misa, seperti biasa saling salaman selamat Natal. Romo Fajar menyalami satu per satu umat di halaman depan Gua Maria. Beda dengan di Surabaya atau Sidoarjo, yang umatnya langsung pulang, di Pamekasan ini ada acara ramah tamah di pastoran. Menikmati makanan dan minuman ringan sambil ngobrol santai.

"Dari dulu Pamekasan ini aman dan damai. Tidak ada masalah dengan warga karena kami saling menghargai satu sama lain," ujar Yustinus Subianto, pengusaha Tionghoa yang juga pengurus dewan paroki.

Di luar pagar gereja, suasana alun-alun yang disebut Arek Lancor itu kian ramai. Musik dangdut koplo terdengar di berbagai lapak PKL. Suasana Natal pun perlahan-lahan menghilang.

No comments:

Post a Comment