23 December 2016

Menikmati Musik Natal di Era YouTube

Sejak ada YouTube, kebiasaan mencari kaset atau CD lagu Natal hilang. Cukup tidur atau duduk manis di rumah, main ponsel, langsung ke YouTube. Luar biasa perkembangan teknologi informasi abad ini. Ibarat mukjizat yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Sambil membuat catatan ringan ini, saya menikmati album Natal lama Nat King Cole. Diunduh dari internet. Gratis. Cukup bayar paket data internet... beres. Asyik bagi kita, tapi kasihan musisi dan produser yang sudah habis duit banyak untuk bikin album yang bagus itu.

Selain Nat King Cole, saya juga menikmati suara emas Sinatra, Whitney, hingga beberapa penyanyi Indonesia. Juga lagu-lagu Natal versi jazz, piano, hingga instrumen yang unik dan aneh. Ada pula gending rohani Jawa yang bernuansa kristiani tentu saja.

Berkat YouTube, konser-konser Natal alias Christmas Concert di berbagai negara bisa kita ikuti. Dari situ sadarlah saya bahwa musisi Barat memang luar biasa. Sehebat-hebatnya pemusik atau penyanyi atau paduan suara Indonesia sebetulnya masih kalah jauuuuh dari wong Londo.

Revolusi teknologi informasi ini membuat wawasan kita makin luas. Tanpa batas. Kita tidak lagi membusungkan dada, merasa hebat, ibarat katak di bawah tempurung.

"Semua musik Barat itu jelas bagus karena memang kultur mereka. Kita hanya bisa adaptasi," ujar Yockie Suryo Prayogo, musisi dan komposer senior yang dulu ikut God Bless dan music director LCLR tahun 70an dan 80an.

Kalau dulu, sebelum ada internet, koleksi lagu-lagu Natal saya sangat terbatas. Sekarang lagu-lagu Natal di YouTube bukan lagi ribuan tapi jutaan. Dan selalu bertambah setiap detik. "What a wonderful world!" kata Armstrong legenda jazz Amerika.

Dari semua musik Natal itu, saya takjub dengan konser Natal di Wina Austria. Luar biasa dahsyat! Lagu-lagunya sih biasa, hampir semaunya kita kenal. Tapi kerapian musik, kualitas artis, paduan suara, suasana dsb... seng ada lawan!

Jauh banget dengan kualitas musik Natal ala Indonesia. Sebuah paduan suara yang dulu saya anggap top karena jadi rujukan gereja-gereja di Indonesia ternyata kedodoran di YouTube. Paduan suara sopran alto tenor bas ternyata tidak asyik. Blending-nya payah. Solisnya pun gak enak.

Dan itu bukan hanya album Natal tapi hampir semuanya. Penggarapan kita masih cenderung seadanya, asal jadi. Kalau ini dibiarkan ya habislah kita di era globalisasi ini.

2 comments:

  1. Bung Hurek, apakah lagu Natal yang Anda dengar di-Youtube adalah Wiener Saengerknaben Weihnachtslieder ?
    Coba Anda cari di Youtube ; City of Prague Philharmonic Orchestra Missa Luba Sanctus ( If..)
    Selamat menikmati musik tersebut !

    ReplyDelete
  2. Kalau Wiener itu memang ciamik soro. Kalau Prague belum lihat. Nanti saya coba tengok.

    Setelah saya renungkan, musik klasik itu kulturnya orang eropa, DNA eropa.. maka orkestra2 di eropa dijamin bagus2. Namanya juga seni tinggi alias fine art yg menjadi roh spiritual mereka meskipun sebagian mereka sudah tidak ke gereja. Hehe...

    Di indonesia pun saya lihat paduan suara yang paling bagus membawakan lagu2 natal atau misa kelas tinggi justru kor pimpinan Avip Priyatna yang beragama Islam. Sebagian penyanyinya juga muslim. Saya yakin mereka ini tidak akan pindah agama meskipun bertahun2 membawakan komposisi misa klasik. Mungkin bakal ada fatwa baru dari MUI soal seniman hehehe..

    ReplyDelete