22 December 2016

Melarang Atribut Natal di Tempat Umum

Tahun lalu polisi-polisi, khususnya polwan cantik, patroli dengan sepeda pancal. Menjaga keamanan jelang kebaktian atau misa malam Natal di sejumlah kota. Para polwan pakai topi merah putih ala Santa Claus.

Tidak ada yang cemberut. Semuanya asyik-asyik aja. Akankah patroli dengan atribut si Santa itu masih bisa ditemukan sekarang? Hehe... kayaknya ndak mungkin lagi deh. Kecuali di NTT, Papua, atau Manado. Di Jawa rasanya foto polwan bersepeda dengan topi Santa Claus (sering dikacaukan dengan Sinterklaas) ini tidak akan ada lagi.

Makanya foto yang dirilis Mabes Polri Desember 2015 ini menjadi foto bersejarah. Bahwa di Indonesia  (dulu) atribut natal ala barat asyik-asyik aja. Tidak ada masalah. Oh ya, bisa dipastikan polwan itu 98 persen muslim.

Kini, Desember 2016, situasinya sudah berubah drastis. MUI baru saja bikin fatwa bahwa memakai atribut yang bernuansa Natal atau  tahun baru Masehi hukumnya haram bagi umat Islam. Sama dengan menyerupai orang kafir. Hukumannya neraka! Wow...

Saya yang berasal dari NTT, tepatnya pulau kecil di kawasan Flores Timur, yang mayoritas Katolik hanya bisa geleng kepala. Karena topi Santa Claus, pohon terang dan aksesoris di pusat belanja di kota-kota besar Jawa dianggap simbol Nasrani.

Lah, di kampung saya yang hampir semua penduduknya Katolik tidak kenal Santa Claus. Tidak pernah pasang pohon cemara (natal) karena memang tidak ada listrik. Sinterklaas juga tidak ada. Baik di gereja atau di rumah.

Santa Claus itu orang kudus dari mana? Tidak ada di daftar orang kudus yang biasa dirilis penerbit Cipta Loka Caraka Jakarta. Santa Claus tak lebih dari aksesoris untuk rame-rame ala orang barat yang memang punya budaya seperti itu. Kolumnis dari Prancis kemarin menulis di Kompas bahwa Santa Claus itu tak lebih dari tokoh rekaan, dewa musim dingin.

Aksesoris untuk memeriahkan liturgi Natal di gereja ya cuma kandang, palungan, gembala, orang majus. Itu pun cuma ada di gereja stasi atau paroki. Di rumah-rumah orang kampung di NTT ya biasa aja. Seperti hari biasa. Kecuali memutar lagu-lagu Natal.. bagi yang punya.

Kita menghargai fatwa MUI tentang haramnya atribut Natal. Seperti juga kita menghormati fatwa MUI pada 1980an tentang haramnya mengucapkan selamat natal atau selamat hari raya nonmuslim. Sebagai penjaga akidah, majelis itu merasa berkewajiban membentengi umatnya agar tidak tercemar keimanannya.

Yang paling penting, jangan sampai ada ormas yang main hakim sendiri. Masuk ke pusat-pusat belanja, tempat umum, untuk merazia orang yang pake topi Santa Claus. Sebab di negara hukum yang beradab tidak boleh ormas atau milisi main hakim sendiri meskipun membawa-bawa nama Tuhan atau agama. Hanya aparat penegak hukum macam polisi atau satpol PP yang berwenang melakukan tindakan hukum. Dan... polisi pun tidak boleh membiarkan ormas melakukan sweeping, sosialisasi fatwa dsb.

Kalau memang fatwa MUI mau dijadikan hukum positif, ya silakan pemerintah dan DPR RI bikin undang-undang larangan memasang atribut nonmuslim di Indonesia, larangan menjual terompet, larangan memutar lagu-lagu nonmuslim di tempat umum. Atau bikin perda tentang larangan memelihara babi dan anjing.

Selamat Natal 2016.

6 comments:

  1. Selamat Natal, Bung!

    ReplyDelete
    Replies
    1. Terima kasih mas... Sampean tercatat dalam sejarah sebagai orang pertama yg mengucapkan selamat natal kepada saya tahun 2016. Kelihatannya sepele tapi sangat berarti karena saat ini mengucapkan selamat natal bisa jadi masalah besar. Bisa dianggap melawan fatwa MUI hehe.. salam sehat yg paling penting. Apalah artinya natal dan tahun baru kalo kita sakit.

      Delete
    2. Sebenarnya ini masih advent kan? Tidak boleh ucapkan Selamat Natal. Tetapi Gereja Katolik sudah hapuskan tukang sweeping sejak era pencerahan.

      Delete
  2. Negara wajib melindungi kebebasan umat nasrani untuk merayakan natal. Umat Islam wajib untuk menghormati hal tersebut. yang patut dilindungi adalah ketika ada pemaksaan penggunaan atribut non muslim kepada yang bukan pemeluknya, sebagaimana tidak boleh memaksa umat nasrani menggunakan peci dan jilbab saat perayaan hari besar Islam. Saya menghargai pendapat anda tentang MUI. Karena itulah indahnya toleransi.. :) --> juliantimaesarah.com

    ReplyDelete
  3. Bung Hurek, Selamat Hari Natal ! Apakah Bung Hurek tidak pusing kepala, karena terlalu sering dan banyak geleng-geleng kepala ?
    Wajah para polwan difoto terlihat sangat ceria.
    Di Tiongkok komunis para xiaojie pelayan toko mulai bulan November sudah pakai topi Santo Klaus. Entah apakah mereka dipaksa oleh pemilik toko, namun mereka cekikikan merasa lucu.
    Gara2 fatwa MUI, saya jadi terkenang pada masa lalu, ketika anak perempuan saya yang tidak beragama, setiap tahun sukarela ikut membawa Bintang Betlehem ber-sama2 teman2 sekolahnya yang macak jadi Caspar, Melchior dan Balthasar, keliling berjalan kaki dari satu rumah kerumah lainnya, menyanyi, dingin2, cuaca bersalju, meminta uang sedekah, dikumpulkan untuk sumbangan kepada umat Katolik keseluruh dunia, negara2 berkembang, terutama ke Ordo SVD dipulau Flores. Melihat situasi Ibu Pertiwi masa sekarang, saya juga ikut geleng2 kepala.

    ReplyDelete
  4. Salam Natal juga utk sampean.. meskipun bukan kristiani hehe. Damai Tuhan itu utk semua manusia apa pun iman kepercayaannya.
    Kalau xiaojie di tiongkok saya percaya karena sering nginceng di Youtube. Mereka kan punya darah dagang sehingga tidak akan melewatkan momentum akhir tahun untuk cari cuan hehe... Asal tahu saja hampir semua aksesoris natal di indonesia itu made in China. Orang Tiongkok yg komunis jelas tidak punya fatwa2 haram ini itu. Bahkan ideologi kapitalisme yg dulu diharamkan pun sekarang malah dirayakan di Zhongguo. Tapi rasanya nona2 cungkuo itu tidak akan jadi nasrani meskipun tiap hari pake topi santa dan aksesoris natal.

    Hemmm... sangat menarik ada anak perempuan yg tidak beragama. Sebaiknya baca salah satu artikel saya yg dulu. Kalau ke indonesia supaya ngaku katolik atau buddha atau konfusius karena orang2 kita biasanya bertanya: agamamu apa? Jangan sekali2 menjawab tidak beragama. Bisa panjang urusannya mas.. salam sehat.

    ReplyDelete