22 December 2016

Liku-liku mencari renungan Natal untuk koran

Setiap menjelang Natal, saya selalu kebagian tugas menyediakan artikel renungan Natal untuk dimuat di halaman depan (front page). Tidak sulit. Sebab banyak sekali romo atau pendeta di Surabaya dan Sidoarjo.  Tinggal minta saja. Penulis yang bukan rohaniwan pun lumayan banyak. Bahkan ada penulis mantan seminari yang sangat rajin bikin artikel bernuansa kristiani.

Kalau tidak ada yang siap, ya saya tulis sendiri. ''Tapi sebaiknya romo atau pendeta,'' pesan wartawan senior yang muslim. Maklum, kontributor awam biasanya meminta honor tinggi. Sedangkan rohaniwan, khususnya romo, mau menulis pro bono alias gratis.

Di atas kertas memang kelihatan gampang. Tapi mendekati deadline, rohaniwan yang sebelumnya bilang siap ternyata tidak siap. Sebab jelang Natal kesibukan di gereja memang luar biasa. ''Maaf gak bisa,'' kata seorang pendeta gereja aliran Haleluya tahun lalu.

Apa boleh buat, saya pun kembali menelepon Romo Benny Susetyo, kenalan lama saya. Beliau pernah jadi pembimbing kami di universitas ketika masih frater. Saya makin dekat ketika romo asal Malang ini bertugas di Situbondo. Tak jauh dari Jember, paroki saya dulu.

Kalau soal artikel, Romo Benny ini jagonya. Topik apa aja dia lahap. Refleksi Natal dari berbagai angle ada. Mau yang liturgis? Yang nyentil pemerintah? Yang mengkritik elite politik? Yang banyak kutipan Alkitab? Ada semua.

Tapi kalau tiap tahun renungan Natal diisi Romo Benny juga kurang asyik. Bisa dituduh KKN. Atau terlalu berbau Katolik. Kok gak pernah pendeta Protestan yang menulis? "Sudah saya usahakan tapi beliaunya gak bisa," jawab saya apa adanya.

Edisi Natal 25 Desember 2016 tinggal dua hari. Menulis sendiri sih bisa. Tapi saya bukan romo atau pendeta. Maka saya pun memutuskan mampir di Gereja Katolik Yohanes Pemandi Wonokromo Surabaya. Puji Tuhan, ada Romo Silas Wayan Eka Suyasa SVD (foto atas) sedang ngobrol dengan lima umat.

"Romo, goe perlu tulisan moen renungan Natal. Bauk goe muat pi koran edisi 25 Desember 2016," kata saya dalam bahasa Lamaholot (Flores Timur).

Romo Wayan ini asli Bali tapi kuliah di Seminari Ledalero dan cukup lama bertugas sebagai imam di Flores Timur. Tepatnya di Pulau Adonara. Beliau juga beberapa kali mengunjungi kampung saya di Lembata. Maka obrolan dalam bahasa daerah itu makin gayeng aja. Sangat jarang saya menemukan lawan bicara bahasa Lamaholot di Jawa Timur.
Kebetulan sejak dulu selalu ada romo asal Flores Timur yang menggembala umat Katolik di Paroki Wonokromo. Saat ini pastor parokinya Romo Kris Kia Anen SVD yang berasal dari Adonara, Flores Timur. Bahasa Lamaholot Romo Wayan masih sangat lancar meskipun beliau sudah bertahun-tahun bertugas di Surabaya.

Singkat cerita, naskah renungan Natal akan dikirim lewat email saya paling lambat Sabtu pagi 24 Desember 2016. "Terima kasih aya-aya (banyak) Romo," kata saya sambil menjabat erat tangan Romo Wayan Eka.

Begitulah. Kedekatan psikologis, latar belakang sebagai putra Lamaholot, memang sangat menunjang urusan renungan Natal. Hal inilah yang tidak saya punyai ketika meminta naskah dari pendeta-pendeta protestan, pentakosta, atau karismatik.

4 comments:

  1. Harusnya anda minta dengan bahasa Haleluya.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Aku gak iso boso Haleluya.. hehe. Wonge sibuuuk terus, keliling ke mana2 kasih santapan rohani. Wong kampung kayak aku isone ya bahasa jawa utawa lamaholot.

      Delete
    2. Anda kan berbakat berbahasa macam-macam. Gampang dipelajari itu. Tinggal sisipkan kata-kata tiap beberapa kalimat. "Puji Tuhan", "Haleluya", "Tuhan memberkati", hehehe. Di Amerika saya pernah ikut persekutuan pelajar haleluya. Kadang-kadang bahasa Gereja Haleluya impor van Amerika iki aneh. Misalnya ada lagu "Our God is Wonderous" diterjemahkan "Allah Kita Heran". Lho, Allah Maha Kuasa pencipta alam semesta, kok heran? Tentu maksudnya "Allah kita hebat" atau "Allah kita ciamik", tetapi diterjemahkan begitu, huahahahahaha.

      Delete
  2. Iku terjemahan masa lalu... jadul banget. Seperti Allah Kita Heran, saudara-saudari yang kekasih dalam Tuhan, hormat diberi...

    Kemungkinan besar para pemusik liturgi di masa lalu kurang menguasai bahasa Indonesia yang benar sehingga kelas kata sifat, kata kerja, kata benda dsb dicampur begitu saja. Begitu pula rumus SPO yang diajarkan di sekolah dasar.

    Menulis syair lagu itu tidak mudah karena harus mencari kata yang cocok sesuai dengan notasi. Ini bukan masalah khas gereja tapi juga di musik indonesia umumnya. Banyak lagu bagus yang syairnya kurang pas alias dipaksakan. Sebaliknya ada syair bagus, puitis.. tapi tidak pas dengan musiknya.

    ReplyDelete