25 December 2016

Kapel Santa Maria Assumpta di Sampang

Di Jawa Timur ada 38 kabupaten/kota. Satu-satunya yang tidak punya Gereja Katolik adalah Kabupaten Sampang di Pulau Madura. Saya tidak tahu apakah ada gereja untuk protestan atau pentakosta. Yang pasti, Sampang ini memang unik.

Masyarakat Sampang memang boleh dikata 100 persen Islam. Tapi sejak dulu ada pedagang Tionghoa yang Buddha, Konfusius, atau Nasrani. Ada juga pendatang suku Jawa, Sumatera, bahkan luar Jawa yang nonmuslim.

Umat Katolik sejak dulu sudah ada di Sampang. Wilayahnya masuk Paroki Maria Ratu Para Rasul, Pamekasan. Maka dulu umat Katolik harus pergi ke Pamekasan untuk misa di gereja dekat alun-alun kota. Cukup jauh. Sekitar 40 menit dengan mobil atau sepeda motor.

Syukurlah, ada pedagang Tionghoa yang Katolik di Sampang punya kepedulian tinggi terhadap gereja. Dia memasrahkan salah satu ruangan di belakang tokonya di Jalan Sudirman sebagai kapel. Semacam musala pribadi di kalangan muslim.

Di kapel itulah umat Katolik di Kabupaten Sampang mengadakan ibadah atau misa mingguan. Ukurannya lumayan besar. Cukup untuk menampung 100 jemaat. "Rata-rata yang ukut misa mingguan 80an orang," ujar seorang aktivis muda Stasi Sampang.

Sabtu 24 Desember 2016.

Saya mampir ke Kapel Santa Maria Assumpta Sampang di pinggir jalan raya tengah kota. Ada lima atau tujuh polisi sedang melakukan 'sterilisasi' menjelang misa malam Natal. Romo Yosef Gheru Kaka SVD tampak serius bicara dengan pimpinan polisi dari Polres Sampang.

Namun suasananya guyub dan cair. Regina mahasiswi Ubaya dan Olly (juga Tionghoa Sampang tapi kerja di Surabaya) terus berlatih lagu-lagu Natal: Gita Surga Bergema dan Gloria In Excelsis Deo dari Puji Syukur.

"Kornya mana? Kok latihan sendiri?" tanya saya.

"Belum datang. Nanti malam aja latihan menjelang misa jam delapan," kata Regina yang berkacamata.

Maka saya diminta menyanyikan Gloria untuk diiringi dua organis Sampang itu. Hehe... lumayan dapat kenalan baru yang ramah. Sementara polisi-polisi masih serius mendeteksi kemungkinan ada bahan peledak di dalam gereja kecil itu.

Saya kemudian berkenalan dengan Romo Yosef Gheru Kaka SVD yang ternyata orang Sumba NTT. Sehari-hari pastor ini bertugas di rumah pembinaan calon imam (novisiat) SVD di Malang. Beliau mendapat tugas mengisi ekaristi di Stasi Sampang Madura.

Romo Yosef mengapresiasi semangat kawanan kecil Katolik di Sampang yang cukup bergairah dalam hidup menggereja. Populasi yang sedikit, cuma seratusan jiwa, mereka tetap rajin beribadah meskipun sering tanpa pastor. "Luar biasa, ada umat yang menyediakan kapel ini untuk Stasi Sampang," ujar Romo Yosef.

Dalam hati saya pun memuji pedagang Tionghoa ini. Stereotipe bahwa orang Tionghoa cuma memburu uang uang uang, binatang ekonomi, terpatahkan di Sampang.

Saya pun pamit untuk melanjutkan perjalanan ke arah timur Pulau Madura.

No comments:

Post a Comment