26 December 2016

Dua Cabup Tionghoa di Lembata NTT

Orang NTT di Jawa jelas tidak punya hak pilih dalam pilkada di kampung halamannya. Tapi masalah politik di nagi (tempat asal) selalu jadi bahan obrolan saat jumpa di gereja, warkop, atau media sosial.

Salah satu yang disoroti adalah banyaknya pasangan calon yang berebut kursi bupati. Padahal jumlah penduduk kabupaten di NTT itu rata-rata di bawah 500 ribu jiwa. Hak pilihnya lebih sedikit lagi. Bandingkan dengan Kabupaten Sidoarjo Jatim yang penduduknya 2,5 juta jiwa.

"Di Flores Timur yang maju enam pasangan," ujar Paulus Latera, guru SMA Petra Kalianyar Surabaya yang asli Adonara, Flores Timur. "Suhu politik di kampung terus menghangat."

Kalau di Flores Timur enam pasangan, di daerah saya Kabupaten Lembata ada lima pasangan yang berkompetisi. "Saya lagi sibuk berjuang untuk Viktori," ujar Yohanes Boro, adik sepupu saya, yang jadi tim pemenangan Viktori (Viktor Nado-Muhammad Nasir).

Lima pasangan yang berlaga di Lembata itu:

1. Tarsisia Hani Chandra-Linus Beseng atau Halus.
2. Herman Loli Wutun-Yohanes Vianney Burin atau Titen.
3. Lukas Lipataman Witak-Ferdinand Leu atau Winners.
4. Eliaser Yentji Sunur-Thomas Ola Langoday atau Lembata Baru
5. Viktor Mado Watun-Muhammad Nasir atau Viktori.

Bupati Yentji Sunur dan Wakil Bupati Viktor Mado pecah kongsi. Maju sendiri-sendiri dengan menggandeng pasangan baru. Herman pernah maju lima tahun lalu. Lukas Witak akhirnya lolos kendati lima tahun lalu dicoret KPU setempat.

Yang mengagetkan saya adalah Hani Chandra. Saya tidak menyangka kalau teman kelas saya di Larantuka dulu ini seorang politikus ulung. Satu-satunya perempuan, keturunan Tionghoa, usia dan pengalaman politik paling hijau.

Saya kenal baik ayahnya  (almarhum) yang dulu sering mampir ke rumah saya di desa. Hani memang sangat cerdas sejak SD tapi tak banyak bicara. Rupanya perjalanan hidup telah menempa dia menjadi politikus yang vokal di Lembata.

Tampilnya Hani sebagai calon bupati membuat pilkada Lembata ini diikuti dua cabup yang keturunan Tionghoa. Satunya lagi Yentji Sunur mantan bupati. Bisa jadi dari 94 kabupaten/kota yang menyelenggarakan pilkada hanya Lembata yang punya dua calon bupati keturunan Tionghoa.

Tapi sentimen SARA tidak bisa dipakai untuk senjata politik seperti kasus Ahok di Jakarta. Sebab sejak dulu masyarakat Lembata punya ikatan kekerabatan yang sangat kuat. Orang Tionghoa biasa berkunjung dan menginap di rumah orang-orang kampung di desa. Tidak ada jarak antara pribumi dan Tionghoa.

Siapa yang bakal menang? Sulit diramalkan. Sebab lima pasangan calon ini punya kelebihan dan kelemahan sendiri. Yentji dan Viktor yang boleh dianggap petahana tentu punya kelebihan karena lebih dikenal masyarakat. Tapi Lukas Witak dan Herman Loli Wutun tidak bisa dianggap remeh.

Begitu juga Hani Chandra bisa jadi kuda hitam. Selamat bertanding Hani!

No comments:

Post a Comment