31 December 2016

Don Bosco Selamun Pemimpin Redaksi Metro TV



Cukup banyak orang Flores NTT yang berkecimpung di media. Mulai media lokal, regional, nasional, bahkan internasional. Tahun 1950an sudah ada beberapa jurnalis hebat asal Flores. Mereka umumnya jebolan seminari yang fasih filsafat dan poliglot. Menguasai banyak bahasa.

Sebut saja Marcel Beding, Alex Beding, atau Michael Beding dari Lembata. Ada juga Valens Doy yang fenomenal dengan deskripsi liputan olahraga yang luar biasa. Peter Rohi dari Sabu juga fenomenal.

Wartawan-wartawan pelopor yang sebagian sudah almarhum ini fenomenal karena muncul justru NTT saat itu masih primitif. Tak ada listrik, televisi, telepon dsb. Sekarang pun NTT masih terbelakang tapi tidak separah tahun 80an dan 90an. Buktinya pagi kita di Surabaya, siang sudah di Lembata. Dulu butuh empat sampai tujuh hari.

Semua wartawan pelopor asal NTT itu tentu bekerja di media cetak. Belum ada yang di televisi. Mungkin juga karena TV membutuhkan wajah yang mempesona, cantik rupawan, sebagai presenter. Orang NTT macam saya sulit memenuhi kriteria itu.

Hebatnya, di tengah industri TV yang membutuhkan penampilan fisik itu, ada jurnalis NTT yang bisa tembus. Gak banyak sih. Yang paling menonjol adalah DON BOSCO SELAMUN asal Manggarai Flores. Namanya sangat lekat dengan televisi berita di Indonesia.

Ketika TV swasta belum banyak, Don Bosco sudah berperan di balik Liputan 6 SCTV. Di masa Orde Baru Liputan 6 luar biasa dahsyat di Indonesia. Pak Bosco kemudian jadi pemimpin redaksi Metro TV yang sejak awal diprogram sebagai televisi berita.

Sukses di Metro, Don Bosco diajak merintis televisi baru : Berita Satu TV. Sayang, TV ini hanya bisa dilihat di internet atau berbayar. Sehingga kurang populer di masyarakat yang sebagian besar menyaksikan televisi biasa alias terestrial.

Belakangan saya lihat nama dan wajah Don Bosco muncul lagi di Metro TV. Oh, pasti diminta kembali jadi pemred! Begitu batin saya. Putra Nababan pemred lama pasti lengser. Ternyata benar. Situs Berita Satu memberikan perpisahan wartawan dan karyawan Berita Satu dengan Don Bosco.

Pria berkepala plontos ini berpesan agar Berita Satu tetap menjaga independensi, objektif, berimbang dan akurat dalam menyampaikan informasi. Tidak jadi media partisan.

Akankah pesan itu bisa diwujudkan saat memimpin Metro TV? Hem... rasanya idealisme Don Bosco akan berbenturan dengan pragmatisme para pemilik televisi di Indonesia hari ini.

Surya Paloh bos Metro TV berkepentingan dengan partainya Nasdem. Aburizal Bakrie tvOne jadi corong Koalisi Merah Putih dan kepentingan bisnisnya. Harry Tanoe menjadikan beberapa televisinya sebagai corong kampanye Partai Perindo. TV yang lain juga begitu.

Masih terlalu dini untuk menilai warna pemberitaan Metro TV setelah Don Bosco jadi ketua redaksi. Tapi naga-naganya tantangan politik ekonomi di Metro TV jauh lebih berat ketimbang di Berita Satu.

Selamat bertugas Bung DSB!

2 comments:

  1. Siapa pun yg mimpin pasti sulit membuat metro tv, tvOne, dan televisi2 lain di indonesia bisa independen.

    ReplyDelete
  2. Semoga Metro Tv semakin maju....

    ReplyDelete