12 December 2016

Dahsyatnya Musik Pop LCLR 1970an

WIJAYA KUSUMA
Ciptaan Tedjo Baskoro
Vokal Dhenok Wahyudi

Tiada... tiada...
Seanggun untai ayu
Mahligai kesumamu
Serasa purnama pun kan mengaku kaulah ratu yang satu

Tiada... tiada...
sesuci puspa ayu
Semurni pesonamu
Semerbak merangkumi menyejuki relung kalbu nan syahdu

Selalu dan selalu...
kau terbitkan rindu
Kemilau kau pujaan,
kau sanjungan insan

Pintaku pun harapku
semaikan bahagia
Lestarilah cemerlang
K'lak surya menjelang

#WijayaKusumaLCLR


Saya beberapa kali mengikuti acara yang dihadiri Hassan Wirayuda ketika masih menjabat menteri luar negeri kabinet SBY. Pak Hassan didampingi istrinya. Sama dengan menteri-menteri yang lain. Saya sama sekali tidak memperlihatkan Bu Hassan dan istri-istri menteri yang lain karena news value-nya bukan mereka.

Belakangan saya baru tahu kalau istri Pak Hassan itu ternyata penyanyi pop terkenal pada 1970an dan 80an: Dhenok Wahyudi. Penyanyi yang mencuat di ajang Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR). Tekstur suaranya enak. Bisa mendaki nada tinggi dengan mulus ala vokalis klasik.

"LCLR itu menghasilkan lagu-lagu pop yang sangat berkualitas. Mungkin belum ada saingannya sampai sekarang," ujar Cak Bambang seniman senior Surabaya.

Jujur aja, sebagai orang kampung asal NTT, nama Dhenok Wahyudi tidak kami kenal. Pun artis-artis lain yang mengisi album LCLR. Sebab lagu-lagu model begitu tidak punya pasar di kawasan timur.

"Musiknya berkualitas tapi sulit dinikmati oleh masyarakat biasa. Kasetnya tidak akan laku," ujar seorang baba Tionghoa yang dulu berdagang kaset di Flores.

Asal tahu saja, tempo dulu kaset-kaset yang laku hanya musik pop melankolis ala Pance, Rinto, Obbie Messakh, Deddy Dores.. dan sejenis. Musik pop ala LCLR ini memang lain dari lain. Istilah sekarang: anti mainstream! Mencoba menawarkan opsi baru di tengah arus musik yang cenderung latah dan seragam.

Meskipun pindah ke Jawa Timur, referensi saya tentang LCLR pun sangat minim. Sebab teman-teman dekat bukanlah orang yang suka musik. Hadi yang sekolah di SMAN 3 senang Godbless. Johanes asal Sumba suka Dian Piesesha. Yanuar malah doyan heavy metal.

Setelah sekian tahun berlalu datanglah Youtube. Kaset-kaset jadul yang di masa lalu hanya bayangan sayup-sayup kini muncul semua di Youtube. Semuanya ada. Termasuk LCLR yang sering diceritakan itu. Akhirnya saya baru ngeh LCLR sejak lima tahun lalu.

Wow... luar biasa!

Lagu-lagu yang dibawakan Dhenok Wahyudi dan kawan-kawan memang beda dengan lagu-lagu pop pasaran. Nuansa klasiknya sangat kuat. Syairnya pun puitis nian. Khususnya lagu-lagu yang ditulis Tedjo Baskoro, salah satu pencipta lagu yang sangat menonjol di LCLR.

Belakangan saya pun akhirnya tahu kalau music director album LCLR tak lain Jockie Suryo Prayogo. Saya lebih mengenal JSOP sebagai pemain keyboard Godbless. Jockie juga yang menciptakan Biar Semua Hilang, lagunya Nicky Astria yang dulu pernah kami bawakan di lomba vocal group antarsekolah.

Belakangan saya pun sering berdiskusi dengan mas Jockey Suryo Prayogo tentang musik pop, sosial budaya, hingga kasus Ahok di Jakarta. Pantesan album LCLR bobot musikalnya tinggi seperti itu. "Waktu itu kami tidak berpikir dagang kaset. Kami ingin menawakan musik pop yang bisa dibanggakan," kata JSOP.

Saya pun rajin menyimak lagu-lagu LCLR era 70an dan jelang 90an. Garapan JSOP dengan vokalis hebat macam Dhenok Wahyudi memang khas dan lain. Album LCLR yang digarap komposer lain cenderung tak berbeda jauh dengan pop kreatif (istilah dagang kaset saat itu). Maka LCLR pun akhirnya tamat riwayatnya.

Meski begitu, LCLR sudah jadi tonggak dalam sejarah musik pop Indonesia. Bahwa di masa lalu ada seniman-seniman musik macam JSOP, Baskoro, atau Dhenok Wahyudi pernah menghasilkan kerja budaya yang sangat serius untuk memperkaya seni pop Indonesia. Kerja kebudayaan yang sejak era milenium (nyaris) tak ada lagi, selain perayaan banalitas kosong di televisi.

Semalam, di tengah gerimis, saya bolak-balik memutar lagu Dhenok Wahyudi di ponsel: WIJAYA KUSUMA dan YANG ESA DAN KUASA. Bahkan, sambil menulis catatan ini, suara bu Dhenok Wahyudi nan merdu merayu itu terus menemani.

Syair puitis khas Baskoro di LCLR 1970an membuat saya geleng-geleng kepala. Kok bisa ya lagu pop remaja saat itu mengusung lirik yang berat untuk ukuran saat ini. Kok serius banget remaja zaman dulu! Sementara lirik lagu-lagu remaja sekarang tidak jauh dari selingkuh, naksir kamu, teman tapi mesra, jadikan aku pacarmu, hancur hatiku mengenang dikau...

Ah, eranya memang sudah jauh berubah!

No comments:

Post a Comment