12 December 2016

20 Tahun Surabaya Symphony Orchestra (SSO): Konser Natal 2016

Apa kabar Surabaya Symphony Orchestra  (SSO)? Masih baik-baik saja. Pak Solomon Tong, pendiri dan dirigen orkes simfoni satu-satunya di Jawa Timur, ini masih rajin berlatih dan gelar konser.

Konser besar tiga kali setahun: jelang Natal, Paskah, dan kemerdekaan. Ada juga konser-konser kecil dan pesanan untuk galang dana amal. Misalnya konser untuk yayasan kanker, paliatif, atau ulang tahun organisasi atau komunitas tertentu.

Yang terbaru, SSO bikin konser Natal 2016 di Shangri-La Surabaya pada 13 Desember 2016. Saya perhatikan selalu di Hotel Shangri-La dan selalu hari Selasa. Dulu pernah di Westin (konser pertama Desember 1996) dan Sharaton tapi tidak langgeng. "Saya lebih cocok di Shangri-La," kata Pak Tong.

Mengapa Selasa? Saya belum pernah bertanya meskipun saya sangat sering ngobrol berdua dengan sang konduktor Solomon Tong. Yang jelas tidak ada kaitan dengan fengshui. Sebab Pak Tong ini, meskipun lahir di Fujian, sangat teguh dengan Alkitab. Beliau mendirikan beberapa Gereja Tionghoa di Surabaya.

Kembali ke konser Natal. Ini sekaligus merayakan hari jadi ke-20 SSO. Selama 20 tahun Pak Tong sangat konsisten mengadakan konser simfoni meskipun musik ini tidak mudah dijual. Hanya karena idealisme yang luar biasa, SSO tak pernah jemu menemui penggemar musik klasik di Surabaya.

"Selalu ada mukjizat setiap kali saya adakan konser," kata Pak Tong kepada saya. Mukjizat itu berupa bantuan uang atau fasilitas lain untuk mendukung konser. Sebab tiket hanya bisa menutupi 20 persen biaya produksi.

Seperti biasa, konser Natal versi SSO selalu menampilkan lagu-lagu Natal populer, seriosa atau lagu klasik Barat dan Indonesia, serta tak ketinggalan nomor rohani asal Tiongkok. Ada juga penampilan anak-anak binaan sekolah musik SSO. Biasanya ada dua atau tiga instumentalis yang mengisi concerto.

Aryo Wicaksono pianis muda memainkan karya Franz Liszt. Grace Rozella sang violinis remaja menampilkan karya Chopin. Dua orang ini sudah beberapa kali mengisi konser SSO di Surabaya.

Biasanya ada bintang tamu dari luar negeri baik itu Tiongkok maupun Amerika dan Eropa. Tapi belakangan ini agak jarang. Mungkin karena itu tadi... terlalu mahal meskipun selalu ada mukjizat.

Sayang, sudah lama saya tidak menyaksikan langsung konser SSO karena tidak mungkin libur hari Selasa. Ah, seandainya konsernya malam Minggu!

Selamat untuk Bapak Solomon Tong dan SSO yang menggelar konser ke-89. Luar biasa, 20 tahun bikin konser 89 kali. Artinya setahun 4,45 konser. Semoga Pak Tong selalu sehat di usia menjelang kepala delapan!

6 comments:

  1. Moga moga tidak dipaksa bubar oleh forum pembela umat atau apa lah.

    ReplyDelete
  2. Ooh.. itu di jawa barat yg punya forum2 intoleran. Kalau di jawa timur sih dari dulu aman dan damai karena karakter masyarakat dan pemerintah daerahnya beda. Gubernur jabar itu orang pks yg ideologinya kurang pancasila. Lebih sering aksi bela palestina dan sejenisnya.

    ReplyDelete
  3. Karakter masyarakat jatim itu beda dengan jabar meski sama2 di pulau jawa. Ojo lali.. Bhinneka Tunggal Ika itu aslinya dari jatim tepatnya kerajaan majapahit di trowulan mojokerto. Mpu Tantular menggambarkan kebersamaan hidup rakyat yg berbeda agama dan paham di majapahit. Filosofi tantular ini kemudian diambil Indonesia... makanya ormas2 anti bhinneka sangat sulit hidup di jatim karena ditolak masyarakat.

    ReplyDelete
  4. Urang Sunda paling tidak suka dengan Majapahit krn mereka ditaklukkan Gajah Mada walau sudah menyerahkan puteri mereka utk dinikahi Hayam Wuruk; utusan2 dan puteri mereka dibantai dalam peristiwa Bubat. Krn itu tidak ada jalan yg diberi nama HW atau GM. Filosofi Tantular digali oleh Sukarno yg juga orang Surabaya hehehe.

    Lha ya itu biarpun ada isu Kristenisasi dll dr dulu penduduk Jatim ya mayoritas besarnya tetap Islam. Berarti Kristenisasi tidak efektif, apa sih yg ditakutkan. Ono ono wae orang yang imannya rendah.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul banget... itulah kehebatan nilai2 Bhinneka Tunggal Ika pada era Majapahit yg wilayahnya lebih luas dari NKRI sekarang. Tapi makin lama rakyat Nusantara sendiri makin mengabaikan nilai2 luhur itu. Kasus2 intoleransi itu paling banyak terjadi di Jawa Barat. Terakhir ya pembubaran KKR Pendeta Stephen Tong oleh ormas itu. Sayangnya aparat keamanan memilih bermain aman dengan menuruti kemauan ormas. Ini sangat merisaukan tapi sudah dianggap biasa di mana2.

      Delete
  5. Baru saja dibicarakan ternyata ada sweeping kupluk Sinterklas di Galaxy Mall. Saya pribadi tidak suka orang Indonesia kok pake kupluk Sinterklas, norak banget. Tapi ngapain hrs pake sweeping dengan atas nama agama. Ini gerombolan pengacau ujung ujungnya njaluk sangu

    ReplyDelete