31 December 2016

Musik koplo cermin masyarakat stres

Musik dangdut koplo diputar sangat keras di pinggir jalan raya Candi Sidoarjo. Saya meminta mbak pemilik warung untuk mengurangi volume salonnya. Tapi dia tidak mau. Sudah biasa, katanya.

Tiga laki-laki tampak menikmati dangdut koplo dari orkes lokal itu sambil main ponsel. Mumpung gratis karena ada wi-fi. Tepuk tangannya mana, teriak si biduan yang berbusana minim.

Koplo memang bukan dangdut biasa ala Rhoma Irama, Ida Laila, Hamdan AT, atau Meggy Z di masa lalu. Berbalut rock, pop, etnik.. koplo sudah jadi genre baru di jagat musik Indonesia. Rhoma Irama menolak koplo masuk organisasi dangdut PAMMI karena dianggap bukan dangdut.

''Saya tidak bisa mengatasi koplo karena memang bukan dangdut,'' ujar sang raja dangdut itu.

Tak didukung Rhoma Irama, koplo justru berkembang sendiri di kafe, warkop, hingga gang sempit di kota dan desa. Orang hajatan nanggap koplo. Promosi produk apa saja di Sidoarjo ada koplonya. Malam tahun baru koplo yang dominan.

''Saya punya stok penyanyi koplo dari usia remaja sampai STW,'' kata Mas Takim pengelola salah satu orkes dangdut di Sidoarjo. ''Tinggal duit sampean berapa. Kalau cuma segitu ya saya kasih STW aja. Hehehe.... Kalau mau yang muda ya tambahin dong duitnya.''

Lalu, apa enaknya koplo? Kok bisa menggeser dangdut yang lemah gemulai dan lebih sopan?

Saya sendiri sulit menemukan di mana letak keenakan musik koplo. Semakin lama dinikmati, semakin tidak nyaman. Apalagi banyak penyanyi koplo yang suaranya fals. Bahkan penyanyi koplo paling top, punya jutaan penggemar, sering meleset pitch control-nya. Aransemen musiknya juga biasa-biasa saja.

''Orang sekarang itu cuma butuh penyanyi cantik, muda, bahenol. Urusan suara nomor sekian,'' ujar seorang pemain organ tunggal di Sidoarjo spesialis koplo.

Kepopuleran koplo di tanah air boleh jadi sebagai cerminan masyarakat sekarang. Ugal-ugalan, rada ngawur, tak peduli harmoni dan tatanan konvensional,  dan stres. Tidak heran musik koplo ini menjadi menu utama kafe-kafe dangdut yang dipenuhi tante-tante purel.

Hidup koplo!

Aneh, koran ikut libur!

Sejak 80an koran Jawa Pos dan anak-anaknya terbit nonstop. Tanggal merah tetap terbit. Sebab masyarakat juga butuh informasi saat berlibur. Bayangkan jika televisi pun ikut terbit pada tanggal merah? Media online pun libur?

Gebrakan Jawa Pos itu dilakukan jauh sebelum ada internet. Televisi pun hanya satu: TVRI. Tahun 2000an konstelasi media massa sudah jauh berbeda.

Anehnya, sampai sekarang semua media cetak Jakarta (kecuali Jawa Pos Group) masih tetap tidak terbit saat tanggal merah. Lebaran libur. Natal libur. Tahun baru prei. Maulid Nabi off. Mirip pegawai negeri sipil. Masih untung tidak cuti bersama ala PNS.

Informasi di televisi dan khususnya online sebetulnya sudah sangat cukup untuk mengetahui berbagai informasi. Sehingga tidak terbitnya koran tidak begitu merisaukan. Toh banyak berita di koran-koran yang sama dengan di internet.

Bagi saya, yang kecanduan koran dan majalah sejak mahasiwa, yang jadi masalah adalah edisi Minggu. Jujur aja koran Jakarta edisi Munggu punya kelebihan di liputan gaya hidup, sastra, kolom, seni budaya, perjalanan. Ini yang tidak ada di online yang berita-beritanya pendek dan padat.

Bulan Desember 2016 (plus tahun baru) jadi runyam karena tanggal merah jatuh pada hari Minggu. Maulid Nabi, Natal, kemudian tahun baru. Otomatis koran Jakarta yang selalu saya baca itu tidak terbit. Saya kehilangan edisi Minggu. Padahal edisi ini yang selalu saya baca agak tuntas. Beda dengan edisi reguler yang kadang cuma lihat judulnya aja.

Pelanggan koran jelas dirugikan. Sebab dia sudah membayar di muka  (atau di belakang) dengan harga tetap bulanan. Ada tanggal merah atau tidak, uang langganan sama saja. Ini yang kurang diperhatikan para penerbit surat kabar yang suka libur tanggal merah itu.

Mudah-mudahan para penerbit koran mau mengubah kebijakannya pada 2017. Bukan apa-apa. Kita punya kepentingan bersama untuk mempertahankan industri media cetak di tengah gempuran media daring dan media sosial.

Salam tahun ayam!

Selamat Jalan Desember yang Panas

''Saya lagi ngopi di warkop,'' ujar Cak Priyo.

''Warkop mana?''

''Warkop Planet Mars. Aman damai guyub rukun... gak ada gegeran soal tanggal merah,'' ujar pelawak dan presenter TV lokal di Surabaya itu.

Halus tapi mengena. Cak Priyo cukup intensif membuat TS untuk diskusi di medsos teman-teman Sidoarjo. Ada keresahan yang merata beberapa tahun belakangan ini. Khususnya setiap bulan Desember.

Ada Natal dan Tahun Baru. Selalu muncul fatwa haram mengucapkan selamat natal. Kemudian haram kostum dan atribut kakek jenggot putih, pohon cemara dsb. Belakangan ada lagi haram jualan dan meniup trompet. Capek deh...

Selepas tahun baru, sudah menunggu Sincia alias tahun baru Imlek. Jangan-jangan ada fatwa tentang lampion, baju cina, dsb. ''Di planet Mars gak ada fatwa-fatwaan. Beda dengan di bumi yang selalu dikinthili bulan sebagai satelitnya,'' kata teman yang lain.

Karena ada satelit yang namanya bulan, ya mau tidak mau ada pergantian hari, bulan, tahun. Tidak mungkin menghapus bulan Desember atau Januari dari penanggalan. Kecuali ada fatwa yang benar-benar super dan berlaku di seluruh dunia.

Syukurlah, Natal sudah lewat sehingga fatwa tentang santa claus tinggal dokumen. Tahun baru juga segera lewat. Kalau di tempat lain, khususnya Amerika dan Eropa, Desember jadi bulan liburan yang dingin menggigil, di Indonesia Desember justru menjadi bulan terpanas yang tak usah dikenang.

Selamat ngopi di Mars!

Don Bosco Selamun Pemimpin Redaksi Metro TV



Cukup banyak orang Flores NTT yang berkecimpung di media. Mulai media lokal, regional, nasional, bahkan internasional. Tahun 1950an sudah ada beberapa jurnalis hebat asal Flores. Mereka umumnya jebolan seminari yang fasih filsafat dan poliglot. Menguasai banyak bahasa.

Sebut saja Marcel Beding, Alex Beding, atau Michael Beding dari Lembata. Ada juga Valens Doy yang fenomenal dengan deskripsi liputan olahraga yang luar biasa. Peter Rohi dari Sabu juga fenomenal.

Wartawan-wartawan pelopor yang sebagian sudah almarhum ini fenomenal karena muncul justru NTT saat itu masih primitif. Tak ada listrik, televisi, telepon dsb. Sekarang pun NTT masih terbelakang tapi tidak separah tahun 80an dan 90an. Buktinya pagi kita di Surabaya, siang sudah di Lembata. Dulu butuh empat sampai tujuh hari.

Semua wartawan pelopor asal NTT itu tentu bekerja di media cetak. Belum ada yang di televisi. Mungkin juga karena TV membutuhkan wajah yang mempesona, cantik rupawan, sebagai presenter. Orang NTT macam saya sulit memenuhi kriteria itu.

Hebatnya, di tengah industri TV yang membutuhkan penampilan fisik itu, ada jurnalis NTT yang bisa tembus. Gak banyak sih. Yang paling menonjol adalah DON BOSCO SELAMUN asal Manggarai Flores. Namanya sangat lekat dengan televisi berita di Indonesia.

Ketika TV swasta belum banyak, Don Bosco sudah berperan di balik Liputan 6 SCTV. Di masa Orde Baru Liputan 6 luar biasa dahsyat di Indonesia. Pak Bosco kemudian jadi pemimpin redaksi Metro TV yang sejak awal diprogram sebagai televisi berita.

Sukses di Metro, Don Bosco diajak merintis televisi baru : Berita Satu TV. Sayang, TV ini hanya bisa dilihat di internet atau berbayar. Sehingga kurang populer di masyarakat yang sebagian besar menyaksikan televisi biasa alias terestrial.

Belakangan saya lihat nama dan wajah Don Bosco muncul lagi di Metro TV. Oh, pasti diminta kembali jadi pemred! Begitu batin saya. Putra Nababan pemred lama pasti lengser. Ternyata benar. Situs Berita Satu memberikan perpisahan wartawan dan karyawan Berita Satu dengan Don Bosco.

Pria berkepala plontos ini berpesan agar Berita Satu tetap menjaga independensi, objektif, berimbang dan akurat dalam menyampaikan informasi. Tidak jadi media partisan.

Akankah pesan itu bisa diwujudkan saat memimpin Metro TV? Hem... rasanya idealisme Don Bosco akan berbenturan dengan pragmatisme para pemilik televisi di Indonesia hari ini.

Surya Paloh bos Metro TV berkepentingan dengan partainya Nasdem. Aburizal Bakrie tvOne jadi corong Koalisi Merah Putih dan kepentingan bisnisnya. Harry Tanoe menjadikan beberapa televisinya sebagai corong kampanye Partai Perindo. TV yang lain juga begitu.

Masih terlalu dini untuk menilai warna pemberitaan Metro TV setelah Don Bosco jadi ketua redaksi. Tapi naga-naganya tantangan politik ekonomi di Metro TV jauh lebih berat ketimbang di Berita Satu.

Selamat bertugas Bung DSB!

Trembesi Mulai Menyejuki Tlocor Jabon

Trembesi lagi... trembesi lagi. Dulu saya tidak begitu percaya dengan kedahsyatan trembesi. Pohon peneduh yang sempat dipromosikan sebuah perusahaan rokok sebagai tanaman penghijauan di berbagai kota di Jawa. Tapi waktu juga yang akhirnya bicara.

Pantai Tlocor di muara Sungai Porong, Kecamatan Jabon, Sidoarjo, itu kini sudah terasa lain. Tidak lagi gersang menyengat seperti belasan tahun lalu saat pertama kali saya mampir ke kampung paling pelosok di ujung tenggara Kabupaten Sidoarjo itu.

Ketika diajak pak Bambang Thelo, pelukis senior almarhum, ke Tlocor, rasanya dusun terpencil itu lebih parah ketimbang desa di NTT. Tidak ada jalan raya. Cuma jalan setapak khas pertambakan. Saya dan pak Bambang terpaksa menyusuri bantaran Sungai Porong. Itu pun sering dituntun motornya.

Sampai di Tlocor cuma ada bakau-bakau liar. Panas menyengat. Angin laut berasa garam. ''Tlocor ini kampung paling antik di Sidoarjo,'' kata sang pelukis spesial green art itu. ''Jalannya seperti safari Paris-Dakkar,'' kata mbah seniman yang pernah bekerja di Jerman itu.

Tahun berganti, bulan berlalu. Pada 29 Mei 2006 terjadi semburan lumpur Lapindo di Kecamatan Porong. Sejumlah desa terendam lumpur panas. Semburan masih stabil sampai sekarang. Singkat cerita, air lumpur itu harus disalurkan ke laut. Dibuang lewat Sungai Porong hingga ke Tlocor dan laut di Selat Madura.

Blessing in disguise! Gara-gara bencana lumpur Lapindo ini, Tlocor akhirnya jadi penting. Mau tidak mau BPLS harus membuat jalan raya di sisi selatan Kali Porong untuk memantau pembuangan lumpur ke muara. Apalagi BPLS juga memanfaatkan lumpur Lapindo untuk membuat pulau baru di Tlocor.

Maka, jadilah jalan raya mulus ala tol dari Jembatan Porong hingga Tlocor. Kalau dulu jalan ke Tlocor paling jelek di seluruh Kabupaten Sidoarjo, kini justru jadi jalan terbaik. Mulus dengan pemandangan alami khas kampung tambak. BPLS juga bikin dermaga kecil dengan ikon berupa buah bakau.

Dan... yang tak kalah penting, Badan Penanggulangan Lumpur Sidoarjo melakukan penghijauan di sekitar Dermaga Tlocor. Menanam trembesi sebagai pohon utama. Apa bisa trembesi hidup di muara sungai yang kering, gersang, air payau yang asin? Selama ini orang membayangkan trembesi hanya cocok di tanah cukup subur.

BPLS ternyata benar. Trembesi-trembesi percobaan itu kini sudah besar. Sudah bisa bikin sejuk kampung Tlocor. Sayang, trembesi yang ditanam kurang banyak sehingga produksi oksigen belum maksimal.

Pemkab Sidoarjo yang empunya wilayah akhirnya mulai tergerak setelah BPLS membuka isolasi Tlocor. Beberapa kali diadakan penghijauan di sana. Salah satunya menanam trembesi.

Ada yang hidup, ada yang mati, ada yang terbakar. Tapi paling tidak tanaman-tanaman ini bakal menghijaukan Tlocor yang dulu nyaris diabaikan di Sidoarjo.

Hutan Trembesi di Juanda

Tak sampai lima tahun trembesi-trembesi di Jalan Raya Juanda Gedangan Sidoarjo itu sudah menghutan. Cabang-cabangnya membentang bak payung raksasa. Jalan menuju ke Bandara Juanda itu pun terasa sejuk.

Bagi orang Surabaya atau Sidoarjo, atau siapa pun pengguna Bandara Juanda, perubahan di Raya Juanda ini sangat terasa. Saya masih ingat pada 2005, ketika wilayah gereja saya dialihkan dari Paroki Pagesangan Surabaya ke Paroki Santo Paulus Juanda, jalan raya di wilayah kekuasaan TNI AL itu masih terlihat kosong. Ada tanaman penghijauan tapi masih kecil-kecil. Kiri kanan jalan tampak terang.

Kini, akhir Desember 2017, waduh... luar biasa! Oksigen berlimpah ruah di kawasan yang masuk Kecamatan Gedangan dan Sedati ini. Ketika Surabaya dan sekitarnya dipanggang matahari, gerah, orang mandi keringat, di kawasan Juanda ini rasanya sejuk. Mirip wilayah perdesaan yang punya hutan lebat.

Trembesi-trembesi itu sudah jadi hutan di Juanda. Mestinya keberhasilan ini segera ditularkan ke kawasan lain di Sidoarjo yang masih gerah. Contohnya di Lingkar Timur. Sampai sekarang jalan alternatif Sidoarjo-Malang itu masih kosong. Hampir sama dengan ketika baru dibangun 10 tahun lalu.

Ah, seandainya sejak awal ditanami trembesi atau angsana (sono)! Bisa dipastikan sekarang sudah jadi hutan kota yang asri. Sayang, birokrat yang berwenang belum tanggap. Tidak tahu bahwa tanaman-tanaman peneduh macam trembesi, angsana, sawo kecik dsb ternyata sangat efektif untuk menghijaukan kota.

Terima kasih Enterolobium saman alias Mbah Trembesi!

27 December 2016

Hotel Garuda Pamekasan yang Tergilas Zaman

Di masa lalu banyak band atau artis ibukota yang manggung di Pamekasan. Di kliping koran-koran lama saya pernah baca sejumlah figur kondang macam Achmad Albar, Camelia Malik, Rhoma Irama, hingga A. Rafia. Artis-artis itu selalu dikabarkan menginal di Hotel Garuda.

Hingga 1990an, Hotel Garuda di Jalan Mesigit Nomor 1 merupakan salah satu dari sangat sedikit hotel di Pamekasan. Maka, tak banyak pilihan akomodasi bagi para tamu selain bermalam di situ. "Kondisinya waktu itu juga masih bagus dan terawat," ujar Pak Ahmad warga asli Pamekasan.

Bagaimana kondisi Hotel Garuda saat ini? Hem... memprihatinkan! Temboknya sudah keropos. Catnya kusam. Beberapa bagian sudah lapuk. Jauh banget dari image sebuah hotel yang berlokasi di pusat kota.

Secara kasat mata jelas terlihat bahwa Hotel Garuda ini sudah tidak layak beroperasi. Perlu renovasi besar-besaran. Hanya dengan sedikit sentuhan saja, aura hotel ini bisa kinclong lagi seperti dulu. Lokasinya yang sangat strategis sulit ditandingi hotel-hotel lain.

Sayang, manajemen belum mendapatkan investor hingga saat ini. Maka hotel pun tetap menerima tamu minus servis layaknya hotel-hotel di kota. "Yang penting bisa istirahat dengan biaya murah," kata Gatot tamu asal Surabaya.

Tarif Hotel Garuda Pamekasan ini memang sangat murah. Paling mahal Rp 150 ribu. Fasilitas: dua tempat tidur, AC, televisi, toilet. Yang paling murah Rp 40 ribu. Fasilitas: kipas angin kecil. Itu saja. Kamar mandi di luar.

Mungkin karena murah, kamar-kamar Rp 40 ribuan ini selalu ramai setiap malam. Orang luar yang bertugas di Pamekasan biasanya menginap di sini. Bahkan banyak yang berlanggan macam sewa kamar saja. Bandingkan dengan vila di Trawas atau Pacet yang sekarang paling murah Rp 200 ribu per malam.

"Alhamdulillah, tamu selalu ada," kata seorang pegawai.

Sejak dibuka Jembatan Suramadu, pelan-pelan Madura mulai menggeliat. Hotel-hotel baru bermunculan dari Bangkalan, Sampang, Pamekasan hingga Sumenep. Beberapa di antaranya milik jaringan besar di Surabaya.

Sayang banget kalau manajemen Hotel Garuda tidak cepat membaca perubahan zaman. Akibatnya, hotel ini hanya terkenal di koran-koran masa lalu.

26 December 2016

Dua Cabup Tionghoa di Lembata NTT

Orang NTT di Jawa jelas tidak punya hak pilih dalam pilkada di kampung halamannya. Tapi masalah politik di nagi (tempat asal) selalu jadi bahan obrolan saat jumpa di gereja, warkop, atau media sosial.

Salah satu yang disoroti adalah banyaknya pasangan calon yang berebut kursi bupati. Padahal jumlah penduduk kabupaten di NTT itu rata-rata di bawah 500 ribu jiwa. Hak pilihnya lebih sedikit lagi. Bandingkan dengan Kabupaten Sidoarjo Jatim yang penduduknya 2,5 juta jiwa.

"Di Flores Timur yang maju enam pasangan," ujar Paulus Latera, guru SMA Petra Kalianyar Surabaya yang asli Adonara, Flores Timur. "Suhu politik di kampung terus menghangat."

Kalau di Flores Timur enam pasangan, di daerah saya Kabupaten Lembata ada lima pasangan yang berkompetisi. "Saya lagi sibuk berjuang untuk Viktori," ujar Yohanes Boro, adik sepupu saya, yang jadi tim pemenangan Viktori (Viktor Nado-Muhammad Nasir).

Lima pasangan yang berlaga di Lembata itu:

1. Tarsisia Hani Chandra-Linus Beseng atau Halus.
2. Herman Loli Wutun-Yohanes Vianney Burin atau Titen.
3. Lukas Lipataman Witak-Ferdinand Leu atau Winners.
4. Eliaser Yentji Sunur-Thomas Ola Langoday atau Lembata Baru
5. Viktor Mado Watun-Muhammad Nasir atau Viktori.

Bupati Yentji Sunur dan Wakil Bupati Viktor Mado pecah kongsi. Maju sendiri-sendiri dengan menggandeng pasangan baru. Herman pernah maju lima tahun lalu. Lukas Witak akhirnya lolos kendati lima tahun lalu dicoret KPU setempat.

Yang mengagetkan saya adalah Hani Chandra. Saya tidak menyangka kalau teman kelas saya di Larantuka dulu ini seorang politikus ulung. Satu-satunya perempuan, keturunan Tionghoa, usia dan pengalaman politik paling hijau.

Saya kenal baik ayahnya  (almarhum) yang dulu sering mampir ke rumah saya di desa. Hani memang sangat cerdas sejak SD tapi tak banyak bicara. Rupanya perjalanan hidup telah menempa dia menjadi politikus yang vokal di Lembata.

Tampilnya Hani sebagai calon bupati membuat pilkada Lembata ini diikuti dua cabup yang keturunan Tionghoa. Satunya lagi Yentji Sunur mantan bupati. Bisa jadi dari 94 kabupaten/kota yang menyelenggarakan pilkada hanya Lembata yang punya dua calon bupati keturunan Tionghoa.

Tapi sentimen SARA tidak bisa dipakai untuk senjata politik seperti kasus Ahok di Jakarta. Sebab sejak dulu masyarakat Lembata punya ikatan kekerabatan yang sangat kuat. Orang Tionghoa biasa berkunjung dan menginap di rumah orang-orang kampung di desa. Tidak ada jarak antara pribumi dan Tionghoa.

Siapa yang bakal menang? Sulit diramalkan. Sebab lima pasangan calon ini punya kelebihan dan kelemahan sendiri. Yentji dan Viktor yang boleh dianggap petahana tentu punya kelebihan karena lebih dikenal masyarakat. Tapi Lukas Witak dan Herman Loli Wutun tidak bisa dianggap remeh.

Begitu juga Hani Chandra bisa jadi kuda hitam. Selamat bertanding Hani!

Kwan Im Kiong Pamekasan jadi jujukan anak muda

Sepanjang hari ini banyak sekali anak-anak muda dari Pamekasan dan Sumenep mengunjungi Kelenteng Kwan Im Kiong di pantai Talangsiring Pemakasan Madura. Rombongan yang sebagian besar remaja putri, pake jilbab tentu, asyik berfoto di depan tempat ibadah Tridarma yang lebih dikenal sebagai Vihara Avalokitesvara itu.

Dari pagi sampai sore, para pengunjung memanfaatkan hari libur untuk menikmati salah satu tempat wisata warga Tionghoa di Jawa Timur itu. "Setiap hari selalu ramai. Anak-anak muda itu senang foto bareng dan selfie di sini," kata Pak Widodo yang sudah 21 tahun bekerja di kelenteng ini.

Generasi muda Madura itu juga asyik mengamati sejumlah arca khas Tionghoa di dalam kelenteng. Apalagi kompleks ini terbilang unik. Ada lithang untuk Konghucu, kelenteng Taoisme, wihara Buddhis, dan pura untuk umat Hindu. Ada juga musala untuk umat Islam yang ingin salat.

Rombongan Tionghoa juga ada. Tapi tidak banyak. Saya cuma melihat satu rombongan dari Jakarta tujuh orang. Menurut Pak Widodo, liburan Natal ini tidak banyak orang Tionghoa yang datang berkunjung ke Kwan Im Kiong. Tahun baru juga sedikit.

"Yang banyak justru anak-anak muda yang muslim," ujar bapak asal Malang ini seraya tersenyum.

Kemungkinan pengunjung bakal lebih banyak pada tahun baru Imlek yang jatuh pada 27 Januari 2017. Namun pihak kelenteng tidak bikin acara khusus.

Kwan Im Kiong Pamekasan sejak dulu hanya bikin acara besar tiga kali setahun untuk menghormati Dewi Kwan Im. Yakni bulan 2, 6, dan 9 penanggalan Tionghoa. Tanggalnya sama-sama 18. Di tiga event besar ini biasanya ribuan orang Tionghoa dari berbagai kota tumplek blek di sini.

Ada penginapan yang bisa menampung ribuan orang. Gratis.

Kangen Ahmad Wahib dan Soe Hok Gie

Sambil berlibur sejenak, saya mencoba membaca kembali catatan harian Ahmad Wahib dan Soe Hok Gie. Dua pemikir dan aktivis mahasiswa yang sangat menonjol pada akhir kekuasaan Bung Karno dan awal Pak Harto.

Kedua orang ini punya kecerdasan dan pisau analisis jauh di atas rata-rata orang Indonesia. Ahmad Wahib yang asli Sampang, latar belakang santri, tanpa tedeng aling-aling mengkritik wacana dan praktik keagamaan di tanah air saat itu. Pemuda yang mati muda, 31 tahun, bahkan berani mempertanyakan berbagai kemapanan di bidang agama, politik, budaya, pendidikan dsb.

Ah, andaikan Ahmad Wahib masih ada! Andaikan ada Wahib-Wahib-Wabib baru! Mungkinkah ada pergolakan pemikiran yang berani membentur rembok ala Ahmad Wahib di zaman ini?

Bertepatan dengan Hari Natal 25 Desember 1969, Ahmad Wahib menulis catatan tentang filsuf dan agama. Petikannya:

"Seorang filsuf itu sebenarnya tidak perlu beragama dan tidak boleh beragama. Begitu dia beragama, begitu dia berhenti jadi filsuf.

Untuk masing-masing filsuf itu biarlah ada 'agama' sendiri-sendiri yang langsung dia bicarakan dengan Tuhan.

Saya pikir agama-agama yang ada sebagai aturan-aturan sekarang ini adalah agama untuk orang-orang awam yang kurang berpikir. Atau yang telah merasa SELESAI dalam berpikir.

Kasihannya, atau malah ini kehebatannya, filsuf adalah orang yang selalu berada dalam krisis. Dan demi kesejahteraan dunia, tidak perlu semua orang tenggelam dalam krisis yang abadi."

Seandainya Tidak Ada Natal

Natal selalu membawa damai! Begitu homili para romo dan pmdeta merujuk Alkitab. Sayang, di Indonesia terbalik. Natal justru membawa kecemasan, intoleransi, hingga politicking yang tidak produktif.

Kecemasan terbesar adalah teror bom. Ini membuat gereja-gereja selalu dijaga ketat menjelang ibadah Natal. Ada pasukan gegana yang mendeteksi bahan peledak. Ada TNI yang mendukung kerja polisi dan sebagainya.

Satpam-satpam di gereja pun ekstra waspada. Siapa saja yang datang ke gereja pun ditanyai punya keperluan apa. Padahal dulu gereja-gereja selalu terbuka untuk umat kristiani yang hendak bersembahyang atau sekadar refleksi. Bisa juga Lectio Divina.

Jumat 23 Desember 2016. Saya mampir ke Gereja Santo Paulus Juanda Sidoarjo. Satpam baru yang belum saya kenal membuntuti saya ketika hendak masuk ke dalam gereja. "Maaf, ada keperluan apa?" tanya mas satpam.

Wah, aneh ini orang!

Orang ke gereja ya urusan ibadah. Kalau tidak ibadah ya bisa duduk-duduk santai. Silentium magnum istilah retretnya. Kok sampai ditanya seperti itu? Niat untuk sejenak merenung di gereja pun buyar. Sebab si satpam rupanya mencurigai saya.

Tapi kalau dipikir-pikir, kecurigaan satpam di gereja-gereja memang sangat beralasan. Ini Natal Bung! Potensi teror bom sangat tinggi. Maka gereja pun disterilisasi  (istilah polisi) macam gedung yang bakal didatangi presiden. Siapa tahu ada teroris yang menyusup ke gereja.

Bom... teror... ancaman ormas radikal... belakangan selalu mewarnai Natal. Sangat kontras dengan pesan Natal yang dinyanyikan para malak kepada gembala-gembala Bethlehem. Maka Natal semakin tidak nyaman untuk dirayakan.

Puji Tuhan, Natal tahun ini aman di seluruh Indonesia. Tak ada ledakan atau teror.

Tanggal 25 Desember 2016 pun berlalu. Otomatis berlalu pula polemik panjang seputar fatwa MUI tentang atribut natal, pohon cemara, selamat natal dsb. Bangsa ini terlalu banyak menghamburkan energi untuk berkelahi hanya karena kakek tua berjenggot itu.

Ah, seandainya tidak ada Natal!

25 December 2016

Misa Malam Natal di Pamekasan

Misa Natal di Surabaya dan Sidoarjo sudah biasa. Natalan di kampung halaman Lembata NTT yang hampir semua penduduknya Katolik pasti tak asing. Ikut ekaristi Natal di Bali yang mayoritas Hindu juga sudah. Maka, saya putuskan mengikuti ekaristi Natal 2016 di Pamekasan, Pulau Madura.

Namanya juga kota santri yang 99 koma sekian persen Islam, tidak ada tanda-tanda Natal di Pulau Madura. Papan reklame, spanduk pesta diskon akhir tahun, tidak ada. Jangan bayangkan ada pohon terang (natal) atau aksesoris Santa Claus atau lagu-lagu Natal terdengar di Madura.

Jangankan di pusat belanja atau tempat umum, rumah atau toko Tionghoa Katolik pun tak ada yang memasang pohon natal. Bahkan, Sabtu malam, di dekat Gereja Katolik Pamekasan pun orang-orang tidak tahu kalau sebentar lagi ada misa malam Natal pukul 20.00. Tidak heran, banyak warga yang heran mengapa polisi menutup satu ruas jalan di depan Gereja Katolik Pamekasan.

Yang paham ada liturgi Natal ya polisi dan tentara. Mereka mengadakan apel Operasi Lilin untuk mengamankan ibadah Natal di lima atau enam gereja yang ada di Pamekasan.

"Saya tidak tahu kenapa polisi kok tutup jalan. Mestinya malam Minggu jalan jangan ditutup," ujar seorang ibu penjual kopi tak jauh dari Gereja Katolik.

Saya hanya tersenyum sendiri. Di pusat kota yang cukup modern ternyata orang tidak tahu ada Natal. Ini juga karena pihak Gereja sendiri terlalu low profile. Tak ada aksesoris di halaman gereja. Tak ada spanduk ucapan Selamat Natal dan Tahun Baru dari dewan paroki, OMK dsb. Adem ayem aja.

Suasana Natal baru terasa di dalam Gereja Maria Ratu Para Rasul. Ada kandang Bethlehem yang cukup besar di sebelah kiri. Di kanan pohon terang dengan lampu kelap-kelip. Umatnya juga sudah banyak meskipun misa masih 40 menit lagi. Paduan suara di depan kanan dekat pohon terang itu.

Misa malam Natal dipimpin Romo Fajar Tejo Soekarno. Pastor Paroki Sampang, yang wilayahnya mencakup Kabupaten Sampang, ini awalnya melatih beberapa aturan liturgi yang baru. Mulai maklumat Natal hingga gerakan membungkuk dan berlutut saat doa Aku Percaya.

Beberapa tahun belakangan ini memang ada sejumlah perubahan dalam tata perayaan ekaristi  (TPE). Doa-doa yang dulu diucalkan umat (hafal luar kepala) kini hanya boleh diucapkan romo. Kata 'amin' di akhir doa pun dihilangkan kalau didoakan bersama-sama seperti Bapa Kami. Orang Katolik yang jarang ke gereja bisa dipastikan pangling dengan perubahan ini.

Misa pun dimulai seperti biasa. Lagu Malam Kudus yang syahdu terasa indah karena kor dan organisnya bagus. Kemudian Gloria in Excelsis Deo...

Suasana misa yang semarak kian gayeng saat homili. Romo Fajar Tejo yang asli Batu Malang ini sesekali melontarkan guyonan yang membuat umat tertawa kecil. Isi homilinya masih tentang berita gembira kelahiran sang Almasih di Lukas 2:11.

Misa berlangsung selama hampir dua jam. Itu pun karena Romo Fajar mengurangi nyanyian prefasi dan beberapa aklamasi yang biasanya dinyanyikan dalam misa raya seperti malam Natal.

Usai misa, seperti biasa saling salaman selamat Natal. Romo Fajar menyalami satu per satu umat di halaman depan Gua Maria. Beda dengan di Surabaya atau Sidoarjo, yang umatnya langsung pulang, di Pamekasan ini ada acara ramah tamah di pastoran. Menikmati makanan dan minuman ringan sambil ngobrol santai.

"Dari dulu Pamekasan ini aman dan damai. Tidak ada masalah dengan warga karena kami saling menghargai satu sama lain," ujar Yustinus Subianto, pengusaha Tionghoa yang juga pengurus dewan paroki.

Di luar pagar gereja, suasana alun-alun yang disebut Arek Lancor itu kian ramai. Musik dangdut koplo terdengar di berbagai lapak PKL. Suasana Natal pun perlahan-lahan menghilang.

Kapel Santa Maria Assumpta di Sampang

Di Jawa Timur ada 38 kabupaten/kota. Satu-satunya yang tidak punya Gereja Katolik adalah Kabupaten Sampang di Pulau Madura. Saya tidak tahu apakah ada gereja untuk protestan atau pentakosta. Yang pasti, Sampang ini memang unik.

Masyarakat Sampang memang boleh dikata 100 persen Islam. Tapi sejak dulu ada pedagang Tionghoa yang Buddha, Konfusius, atau Nasrani. Ada juga pendatang suku Jawa, Sumatera, bahkan luar Jawa yang nonmuslim.

Umat Katolik sejak dulu sudah ada di Sampang. Wilayahnya masuk Paroki Maria Ratu Para Rasul, Pamekasan. Maka dulu umat Katolik harus pergi ke Pamekasan untuk misa di gereja dekat alun-alun kota. Cukup jauh. Sekitar 40 menit dengan mobil atau sepeda motor.

Syukurlah, ada pedagang Tionghoa yang Katolik di Sampang punya kepedulian tinggi terhadap gereja. Dia memasrahkan salah satu ruangan di belakang tokonya di Jalan Sudirman sebagai kapel. Semacam musala pribadi di kalangan muslim.

Di kapel itulah umat Katolik di Kabupaten Sampang mengadakan ibadah atau misa mingguan. Ukurannya lumayan besar. Cukup untuk menampung 100 jemaat. "Rata-rata yang ukut misa mingguan 80an orang," ujar seorang aktivis muda Stasi Sampang.

Sabtu 24 Desember 2016.

Saya mampir ke Kapel Santa Maria Assumpta Sampang di pinggir jalan raya tengah kota. Ada lima atau tujuh polisi sedang melakukan 'sterilisasi' menjelang misa malam Natal. Romo Yosef Gheru Kaka SVD tampak serius bicara dengan pimpinan polisi dari Polres Sampang.

Namun suasananya guyub dan cair. Regina mahasiswi Ubaya dan Olly (juga Tionghoa Sampang tapi kerja di Surabaya) terus berlatih lagu-lagu Natal: Gita Surga Bergema dan Gloria In Excelsis Deo dari Puji Syukur.

"Kornya mana? Kok latihan sendiri?" tanya saya.

"Belum datang. Nanti malam aja latihan menjelang misa jam delapan," kata Regina yang berkacamata.

Maka saya diminta menyanyikan Gloria untuk diiringi dua organis Sampang itu. Hehe... lumayan dapat kenalan baru yang ramah. Sementara polisi-polisi masih serius mendeteksi kemungkinan ada bahan peledak di dalam gereja kecil itu.

Saya kemudian berkenalan dengan Romo Yosef Gheru Kaka SVD yang ternyata orang Sumba NTT. Sehari-hari pastor ini bertugas di rumah pembinaan calon imam (novisiat) SVD di Malang. Beliau mendapat tugas mengisi ekaristi di Stasi Sampang Madura.

Romo Yosef mengapresiasi semangat kawanan kecil Katolik di Sampang yang cukup bergairah dalam hidup menggereja. Populasi yang sedikit, cuma seratusan jiwa, mereka tetap rajin beribadah meskipun sering tanpa pastor. "Luar biasa, ada umat yang menyediakan kapel ini untuk Stasi Sampang," ujar Romo Yosef.

Dalam hati saya pun memuji pedagang Tionghoa ini. Stereotipe bahwa orang Tionghoa cuma memburu uang uang uang, binatang ekonomi, terpatahkan di Sampang.

Saya pun pamit untuk melanjutkan perjalanan ke arah timur Pulau Madura.

23 December 2016

Menikmati Musik Natal di Era YouTube

Sejak ada YouTube, kebiasaan mencari kaset atau CD lagu Natal hilang. Cukup tidur atau duduk manis di rumah, main ponsel, langsung ke YouTube. Luar biasa perkembangan teknologi informasi abad ini. Ibarat mukjizat yang tak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Sambil membuat catatan ringan ini, saya menikmati album Natal lama Nat King Cole. Diunduh dari internet. Gratis. Cukup bayar paket data internet... beres. Asyik bagi kita, tapi kasihan musisi dan produser yang sudah habis duit banyak untuk bikin album yang bagus itu.

Selain Nat King Cole, saya juga menikmati suara emas Sinatra, Whitney, hingga beberapa penyanyi Indonesia. Juga lagu-lagu Natal versi jazz, piano, hingga instrumen yang unik dan aneh. Ada pula gending rohani Jawa yang bernuansa kristiani tentu saja.

Berkat YouTube, konser-konser Natal alias Christmas Concert di berbagai negara bisa kita ikuti. Dari situ sadarlah saya bahwa musisi Barat memang luar biasa. Sehebat-hebatnya pemusik atau penyanyi atau paduan suara Indonesia sebetulnya masih kalah jauuuuh dari wong Londo.

Revolusi teknologi informasi ini membuat wawasan kita makin luas. Tanpa batas. Kita tidak lagi membusungkan dada, merasa hebat, ibarat katak di bawah tempurung.

"Semua musik Barat itu jelas bagus karena memang kultur mereka. Kita hanya bisa adaptasi," ujar Yockie Suryo Prayogo, musisi dan komposer senior yang dulu ikut God Bless dan music director LCLR tahun 70an dan 80an.

Kalau dulu, sebelum ada internet, koleksi lagu-lagu Natal saya sangat terbatas. Sekarang lagu-lagu Natal di YouTube bukan lagi ribuan tapi jutaan. Dan selalu bertambah setiap detik. "What a wonderful world!" kata Armstrong legenda jazz Amerika.

Dari semua musik Natal itu, saya takjub dengan konser Natal di Wina Austria. Luar biasa dahsyat! Lagu-lagunya sih biasa, hampir semaunya kita kenal. Tapi kerapian musik, kualitas artis, paduan suara, suasana dsb... seng ada lawan!

Jauh banget dengan kualitas musik Natal ala Indonesia. Sebuah paduan suara yang dulu saya anggap top karena jadi rujukan gereja-gereja di Indonesia ternyata kedodoran di YouTube. Paduan suara sopran alto tenor bas ternyata tidak asyik. Blending-nya payah. Solisnya pun gak enak.

Dan itu bukan hanya album Natal tapi hampir semuanya. Penggarapan kita masih cenderung seadanya, asal jadi. Kalau ini dibiarkan ya habislah kita di era globalisasi ini.

PSN Ngada Flores runner-up Liga Nusantara 2016



Isu politik Ahok dan rasisme di media sosial yang heboh sering membuat kita lupa hal lain yang jauh lebih bermanfaat. Kita larut dalam polemik yang tak jelas juntrungannya. Ujung-ujungnya lupa mengapresiasi prestasi pemain-pemain sepak bola asal Flores NTT di kompetisi tingkat nasional.

PSN Ngada Flores baru saja tampil di partai final kompetisi Liga Nusantara 2016 di Solo. Hasilnya kalah 0-2 dari Perseden Denpasar. Maka PSN Ngada jadi runner-up. Memang belum juara tapi prestasi ini luar biasa untuk ukuran Flores atau NTT.

Liga Nusantara sejatinya cuma kompetisi kasta ketiga. Statusnya pun amatir. Di bawah Indonesia Super League  (ISL) dan Divisi Utama. Tapi jangan lupa, kompetisi Liga Nusantara tahun 2016 diikuti 600 klub dari 34 provinsi di Indonesia. Kompetisinya berjenjang dari tingkat provinsi, regional dan nasional.

Dan... PSN Ngada nyaris jadi yang terbaik. Luar biasa!

Setahu saya, Provinsi NTT yang baru merayakan hari jadi ke-58 belum pernah berjaya di kompetisi sepak bola nasional. NTT selalu gugur di babak penyisihan. Sebab kualitas permainannya masih di bawah standar. Lebih mengandalkan fisik tanpa pola yang jelas.

Ini tak lepas dari ketiadaan pelatih yang mumpuni di Flores. Karena itu, permainan sepak bola yang seharusnya indah itu terlihat berantakan di berbagai kota di NTT. Ada tim yang lupa pertahanan. Menumpuk lima penyerang di muka. Bagaimana tidak kebobolan?

Syukurlah, PSN Ngada Flores ini termasuk salah satu dari sedikit pengecualian. Mereka tidak lagi mengandalkan otot dan emosi seperti beberapa tahun lalu di Sidoarjo. Waktu itu anak-anak Ngada ngamuk di Stadion Gelora Delta Sidoarjo. Akhirnya rusaklah permainan mereka.

Keberhasilan PSN Ngada di Liga Nusantara 2016 semoga menjadi virus positif yang menyebar di NTT. Bahwa NTT pun sebenarnya bisa main bola dengan baik dan benar. Apalagi di masa lalu cukup banyak pemain bola asal NTT yang memperkuat tim-tim besar di tanah air seperti Persebaya, Persema Malang, Arema Malang, Niac Mitra Surabaya, hingga Persija Jakarta.

Almarhum Sinyo Aliandoe yang asli Larantuka pernah menjadi bintang tim nasional pada 1960an dan 1970an. Om Sinyo kemudian dikenal sebagai pelatih timnas yang nyaris meloloskan Indonesia ke Piala Dunia 1986. Sinyo pula yang membentuk karakter dan gaya permainan Arema hingga jadi tim tangguh seperti sekarang.

Selamat untuk PSN Ngada! Tahun depan harus lolos ke Divisi Utama!

(Dengan menjadi runner-up seharusnya PSN otomatis promosi ke Divisi Utama. Sayang, Liga Nusantara 2016 tidak pakai promosi-degradasi. Kompetisi ini dianggap sebagai selingan belaka gara-gara sanksi FIFA.)


22 December 2016

Liku-liku mencari renungan Natal untuk koran

Setiap menjelang Natal, saya selalu kebagian tugas menyediakan artikel renungan Natal untuk dimuat di halaman depan (front page). Tidak sulit. Sebab banyak sekali romo atau pendeta di Surabaya dan Sidoarjo.  Tinggal minta saja. Penulis yang bukan rohaniwan pun lumayan banyak. Bahkan ada penulis mantan seminari yang sangat rajin bikin artikel bernuansa kristiani.

Kalau tidak ada yang siap, ya saya tulis sendiri. ''Tapi sebaiknya romo atau pendeta,'' pesan wartawan senior yang muslim. Maklum, kontributor awam biasanya meminta honor tinggi. Sedangkan rohaniwan, khususnya romo, mau menulis pro bono alias gratis.

Di atas kertas memang kelihatan gampang. Tapi mendekati deadline, rohaniwan yang sebelumnya bilang siap ternyata tidak siap. Sebab jelang Natal kesibukan di gereja memang luar biasa. ''Maaf gak bisa,'' kata seorang pendeta gereja aliran Haleluya tahun lalu.

Apa boleh buat, saya pun kembali menelepon Romo Benny Susetyo, kenalan lama saya. Beliau pernah jadi pembimbing kami di universitas ketika masih frater. Saya makin dekat ketika romo asal Malang ini bertugas di Situbondo. Tak jauh dari Jember, paroki saya dulu.

Kalau soal artikel, Romo Benny ini jagonya. Topik apa aja dia lahap. Refleksi Natal dari berbagai angle ada. Mau yang liturgis? Yang nyentil pemerintah? Yang mengkritik elite politik? Yang banyak kutipan Alkitab? Ada semua.

Tapi kalau tiap tahun renungan Natal diisi Romo Benny juga kurang asyik. Bisa dituduh KKN. Atau terlalu berbau Katolik. Kok gak pernah pendeta Protestan yang menulis? "Sudah saya usahakan tapi beliaunya gak bisa," jawab saya apa adanya.

Edisi Natal 25 Desember 2016 tinggal dua hari. Menulis sendiri sih bisa. Tapi saya bukan romo atau pendeta. Maka saya pun memutuskan mampir di Gereja Katolik Yohanes Pemandi Wonokromo Surabaya. Puji Tuhan, ada Romo Silas Wayan Eka Suyasa SVD (foto atas) sedang ngobrol dengan lima umat.

"Romo, goe perlu tulisan moen renungan Natal. Bauk goe muat pi koran edisi 25 Desember 2016," kata saya dalam bahasa Lamaholot (Flores Timur).

Romo Wayan ini asli Bali tapi kuliah di Seminari Ledalero dan cukup lama bertugas sebagai imam di Flores Timur. Tepatnya di Pulau Adonara. Beliau juga beberapa kali mengunjungi kampung saya di Lembata. Maka obrolan dalam bahasa daerah itu makin gayeng aja. Sangat jarang saya menemukan lawan bicara bahasa Lamaholot di Jawa Timur.
Kebetulan sejak dulu selalu ada romo asal Flores Timur yang menggembala umat Katolik di Paroki Wonokromo. Saat ini pastor parokinya Romo Kris Kia Anen SVD yang berasal dari Adonara, Flores Timur. Bahasa Lamaholot Romo Wayan masih sangat lancar meskipun beliau sudah bertahun-tahun bertugas di Surabaya.

Singkat cerita, naskah renungan Natal akan dikirim lewat email saya paling lambat Sabtu pagi 24 Desember 2016. "Terima kasih aya-aya (banyak) Romo," kata saya sambil menjabat erat tangan Romo Wayan Eka.

Begitulah. Kedekatan psikologis, latar belakang sebagai putra Lamaholot, memang sangat menunjang urusan renungan Natal. Hal inilah yang tidak saya punyai ketika meminta naskah dari pendeta-pendeta protestan, pentakosta, atau karismatik.

Melarang Atribut Natal di Tempat Umum

Tahun lalu polisi-polisi, khususnya polwan cantik, patroli dengan sepeda pancal. Menjaga keamanan jelang kebaktian atau misa malam Natal di sejumlah kota. Para polwan pakai topi merah putih ala Santa Claus.

Tidak ada yang cemberut. Semuanya asyik-asyik aja. Akankah patroli dengan atribut si Santa itu masih bisa ditemukan sekarang? Hehe... kayaknya ndak mungkin lagi deh. Kecuali di NTT, Papua, atau Manado. Di Jawa rasanya foto polwan bersepeda dengan topi Santa Claus (sering dikacaukan dengan Sinterklaas) ini tidak akan ada lagi.

Makanya foto yang dirilis Mabes Polri Desember 2015 ini menjadi foto bersejarah. Bahwa di Indonesia  (dulu) atribut natal ala barat asyik-asyik aja. Tidak ada masalah. Oh ya, bisa dipastikan polwan itu 98 persen muslim.

Kini, Desember 2016, situasinya sudah berubah drastis. MUI baru saja bikin fatwa bahwa memakai atribut yang bernuansa Natal atau  tahun baru Masehi hukumnya haram bagi umat Islam. Sama dengan menyerupai orang kafir. Hukumannya neraka! Wow...

Saya yang berasal dari NTT, tepatnya pulau kecil di kawasan Flores Timur, yang mayoritas Katolik hanya bisa geleng kepala. Karena topi Santa Claus, pohon terang dan aksesoris di pusat belanja di kota-kota besar Jawa dianggap simbol Nasrani.

Lah, di kampung saya yang hampir semua penduduknya Katolik tidak kenal Santa Claus. Tidak pernah pasang pohon cemara (natal) karena memang tidak ada listrik. Sinterklaas juga tidak ada. Baik di gereja atau di rumah.

Santa Claus itu orang kudus dari mana? Tidak ada di daftar orang kudus yang biasa dirilis penerbit Cipta Loka Caraka Jakarta. Santa Claus tak lebih dari aksesoris untuk rame-rame ala orang barat yang memang punya budaya seperti itu. Kolumnis dari Prancis kemarin menulis di Kompas bahwa Santa Claus itu tak lebih dari tokoh rekaan, dewa musim dingin.

Aksesoris untuk memeriahkan liturgi Natal di gereja ya cuma kandang, palungan, gembala, orang majus. Itu pun cuma ada di gereja stasi atau paroki. Di rumah-rumah orang kampung di NTT ya biasa aja. Seperti hari biasa. Kecuali memutar lagu-lagu Natal.. bagi yang punya.

Kita menghargai fatwa MUI tentang haramnya atribut Natal. Seperti juga kita menghormati fatwa MUI pada 1980an tentang haramnya mengucapkan selamat natal atau selamat hari raya nonmuslim. Sebagai penjaga akidah, majelis itu merasa berkewajiban membentengi umatnya agar tidak tercemar keimanannya.

Yang paling penting, jangan sampai ada ormas yang main hakim sendiri. Masuk ke pusat-pusat belanja, tempat umum, untuk merazia orang yang pake topi Santa Claus. Sebab di negara hukum yang beradab tidak boleh ormas atau milisi main hakim sendiri meskipun membawa-bawa nama Tuhan atau agama. Hanya aparat penegak hukum macam polisi atau satpol PP yang berwenang melakukan tindakan hukum. Dan... polisi pun tidak boleh membiarkan ormas melakukan sweeping, sosialisasi fatwa dsb.

Kalau memang fatwa MUI mau dijadikan hukum positif, ya silakan pemerintah dan DPR RI bikin undang-undang larangan memasang atribut nonmuslim di Indonesia, larangan menjual terompet, larangan memutar lagu-lagu nonmuslim di tempat umum. Atau bikin perda tentang larangan memelihara babi dan anjing.

Selamat Natal 2016.

15 December 2016

Tirakatan Jumat Kliwon dan Misa Bahasa Jawa di Paroki Juanda Sidoarjo

Oleh Dr Tri Budhi Sastrio
Tokoh Umat Paroki Santo Paulus, Juanda, Sidoarjo

Pernah ada masanya dulu di seluruh telatah Nusantara ada lebih dari 2000 bahasa daerah digunakan. Seiring dengan berlalunya waktu, saat ini hanya kurang lebih 700 bahasa daerah yang masih ada, hidup dan digunakan.

Jika jumlah bahasa daerah yang dijadikan tolok ukur, tampaknya tidak ada negara lain yang sehebat NKRI baik dalam hal keragaman maupun kedaruratannya. Tidak ada negara lain yang mempunyai bahasa daerah sampai 2000 bahasa daerah. Tetapi juga tidak ada negara lain yang kurang lebih 1300 bahasa lokalnya sirna dan punah begitu saja.

Bagaimana kondisi saat sekarang berkaitan dengan kondisi 'darurat bahasa daerah' ini? Ya masih terus berlangsung.

Kasus paling akhir menimpa sebuah bahasa daerah dari Papua yang penuturnya tersisa 3 orang saja. Mereka sudah tua dan hebatnya lagi mereka justru tidak lagi menetap di satu tempat. Jika ketiganya meninggal dunia, maka satu lagi bahasa daerah akan sirna untuk selama-lamanya.

Kondisi ini tentu sulit dicegah walau sebuah universitas terkenal di Inggris bekerja sama dengan universitas yang ada di Papua mencoba mencatat dan merekam kosa kata bahasa ini. Dengan dana yang memadai dan teknologi yang tersedia hal ini dapat dilakukan. Yang tidak mungkin dapat dilakukan adalah menambah jumlah populasi alami penutur bahasa daerah dari 3 menjadi 100 umpamanya.

Bahasa daerah yang populasi penuturnya puluhan juta, masalah punah sama sekali bukan masalah. Jauh dari punah jauh dari musnah. Tetapi bagi bahasa daerah yang penuturnya kurang dari 10, atau 20 atau bahkan 50, kepunahan jelas diambang mata.

Bagaimana mengatasi ini semua? Siapa yang tahu, Kasidi tidak tahu, para sahabatnya juga tidak. Hanya saja jika berkaca pada catatan bagaimana para murid Tuhan dulu mendapat karunia tiba-tiba saja mampu menggunakan beragam bahasa untuk mewartakan kabar gembira. Maka peran bahasa termasuk bahasa daerah jelas penting.

Karena itu, ayo sempatkan diri untuk hadir pada Kamis, 15 Desember 2016, pukul 21.00, di Paroki St. Paulus, Juanda, Sidoarjo, dalam acara Novena dan Malam Tirakatan Jumat Kliwonan dengan Misa Kudus berbahasa Jawa.

Walau bahasa Jawa jauh dari punah tetapi dalam rangka ikut serta memuliakan Tuhan dalam semua bahasa yang ada. Langkah kecil ini boleh juga didukung sebelum langkah berikutnya untuk bahasa daerah yang lain berani dilakukan.

12 December 2016

20 Tahun Surabaya Symphony Orchestra (SSO): Konser Natal 2016

Apa kabar Surabaya Symphony Orchestra  (SSO)? Masih baik-baik saja. Pak Solomon Tong, pendiri dan dirigen orkes simfoni satu-satunya di Jawa Timur, ini masih rajin berlatih dan gelar konser.

Konser besar tiga kali setahun: jelang Natal, Paskah, dan kemerdekaan. Ada juga konser-konser kecil dan pesanan untuk galang dana amal. Misalnya konser untuk yayasan kanker, paliatif, atau ulang tahun organisasi atau komunitas tertentu.

Yang terbaru, SSO bikin konser Natal 2016 di Shangri-La Surabaya pada 13 Desember 2016. Saya perhatikan selalu di Hotel Shangri-La dan selalu hari Selasa. Dulu pernah di Westin (konser pertama Desember 1996) dan Sharaton tapi tidak langgeng. "Saya lebih cocok di Shangri-La," kata Pak Tong.

Mengapa Selasa? Saya belum pernah bertanya meskipun saya sangat sering ngobrol berdua dengan sang konduktor Solomon Tong. Yang jelas tidak ada kaitan dengan fengshui. Sebab Pak Tong ini, meskipun lahir di Fujian, sangat teguh dengan Alkitab. Beliau mendirikan beberapa Gereja Tionghoa di Surabaya.

Kembali ke konser Natal. Ini sekaligus merayakan hari jadi ke-20 SSO. Selama 20 tahun Pak Tong sangat konsisten mengadakan konser simfoni meskipun musik ini tidak mudah dijual. Hanya karena idealisme yang luar biasa, SSO tak pernah jemu menemui penggemar musik klasik di Surabaya.

"Selalu ada mukjizat setiap kali saya adakan konser," kata Pak Tong kepada saya. Mukjizat itu berupa bantuan uang atau fasilitas lain untuk mendukung konser. Sebab tiket hanya bisa menutupi 20 persen biaya produksi.

Seperti biasa, konser Natal versi SSO selalu menampilkan lagu-lagu Natal populer, seriosa atau lagu klasik Barat dan Indonesia, serta tak ketinggalan nomor rohani asal Tiongkok. Ada juga penampilan anak-anak binaan sekolah musik SSO. Biasanya ada dua atau tiga instumentalis yang mengisi concerto.

Aryo Wicaksono pianis muda memainkan karya Franz Liszt. Grace Rozella sang violinis remaja menampilkan karya Chopin. Dua orang ini sudah beberapa kali mengisi konser SSO di Surabaya.

Biasanya ada bintang tamu dari luar negeri baik itu Tiongkok maupun Amerika dan Eropa. Tapi belakangan ini agak jarang. Mungkin karena itu tadi... terlalu mahal meskipun selalu ada mukjizat.

Sayang, sudah lama saya tidak menyaksikan langsung konser SSO karena tidak mungkin libur hari Selasa. Ah, seandainya konsernya malam Minggu!

Selamat untuk Bapak Solomon Tong dan SSO yang menggelar konser ke-89. Luar biasa, 20 tahun bikin konser 89 kali. Artinya setahun 4,45 konser. Semoga Pak Tong selalu sehat di usia menjelang kepala delapan!

Dahsyatnya Musik Pop LCLR 1970an

WIJAYA KUSUMA
Ciptaan Tedjo Baskoro
Vokal Dhenok Wahyudi

Tiada... tiada...
Seanggun untai ayu
Mahligai kesumamu
Serasa purnama pun kan mengaku kaulah ratu yang satu

Tiada... tiada...
sesuci puspa ayu
Semurni pesonamu
Semerbak merangkumi menyejuki relung kalbu nan syahdu

Selalu dan selalu...
kau terbitkan rindu
Kemilau kau pujaan,
kau sanjungan insan

Pintaku pun harapku
semaikan bahagia
Lestarilah cemerlang
K'lak surya menjelang

#WijayaKusumaLCLR


Saya beberapa kali mengikuti acara yang dihadiri Hassan Wirayuda ketika masih menjabat menteri luar negeri kabinet SBY. Pak Hassan didampingi istrinya. Sama dengan menteri-menteri yang lain. Saya sama sekali tidak memperlihatkan Bu Hassan dan istri-istri menteri yang lain karena news value-nya bukan mereka.

Belakangan saya baru tahu kalau istri Pak Hassan itu ternyata penyanyi pop terkenal pada 1970an dan 80an: Dhenok Wahyudi. Penyanyi yang mencuat di ajang Lomba Cipta Lagu Remaja (LCLR). Tekstur suaranya enak. Bisa mendaki nada tinggi dengan mulus ala vokalis klasik.

"LCLR itu menghasilkan lagu-lagu pop yang sangat berkualitas. Mungkin belum ada saingannya sampai sekarang," ujar Cak Bambang seniman senior Surabaya.

Jujur aja, sebagai orang kampung asal NTT, nama Dhenok Wahyudi tidak kami kenal. Pun artis-artis lain yang mengisi album LCLR. Sebab lagu-lagu model begitu tidak punya pasar di kawasan timur.

"Musiknya berkualitas tapi sulit dinikmati oleh masyarakat biasa. Kasetnya tidak akan laku," ujar seorang baba Tionghoa yang dulu berdagang kaset di Flores.

Asal tahu saja, tempo dulu kaset-kaset yang laku hanya musik pop melankolis ala Pance, Rinto, Obbie Messakh, Deddy Dores.. dan sejenis. Musik pop ala LCLR ini memang lain dari lain. Istilah sekarang: anti mainstream! Mencoba menawarkan opsi baru di tengah arus musik yang cenderung latah dan seragam.

Meskipun pindah ke Jawa Timur, referensi saya tentang LCLR pun sangat minim. Sebab teman-teman dekat bukanlah orang yang suka musik. Hadi yang sekolah di SMAN 3 senang Godbless. Johanes asal Sumba suka Dian Piesesha. Yanuar malah doyan heavy metal.

Setelah sekian tahun berlalu datanglah Youtube. Kaset-kaset jadul yang di masa lalu hanya bayangan sayup-sayup kini muncul semua di Youtube. Semuanya ada. Termasuk LCLR yang sering diceritakan itu. Akhirnya saya baru ngeh LCLR sejak lima tahun lalu.

Wow... luar biasa!

Lagu-lagu yang dibawakan Dhenok Wahyudi dan kawan-kawan memang beda dengan lagu-lagu pop pasaran. Nuansa klasiknya sangat kuat. Syairnya pun puitis nian. Khususnya lagu-lagu yang ditulis Tedjo Baskoro, salah satu pencipta lagu yang sangat menonjol di LCLR.

Belakangan saya pun akhirnya tahu kalau music director album LCLR tak lain Jockie Suryo Prayogo. Saya lebih mengenal JSOP sebagai pemain keyboard Godbless. Jockie juga yang menciptakan Biar Semua Hilang, lagunya Nicky Astria yang dulu pernah kami bawakan di lomba vocal group antarsekolah.

Belakangan saya pun sering berdiskusi dengan mas Jockey Suryo Prayogo tentang musik pop, sosial budaya, hingga kasus Ahok di Jakarta. Pantesan album LCLR bobot musikalnya tinggi seperti itu. "Waktu itu kami tidak berpikir dagang kaset. Kami ingin menawakan musik pop yang bisa dibanggakan," kata JSOP.

Saya pun rajin menyimak lagu-lagu LCLR era 70an dan jelang 90an. Garapan JSOP dengan vokalis hebat macam Dhenok Wahyudi memang khas dan lain. Album LCLR yang digarap komposer lain cenderung tak berbeda jauh dengan pop kreatif (istilah dagang kaset saat itu). Maka LCLR pun akhirnya tamat riwayatnya.

Meski begitu, LCLR sudah jadi tonggak dalam sejarah musik pop Indonesia. Bahwa di masa lalu ada seniman-seniman musik macam JSOP, Baskoro, atau Dhenok Wahyudi pernah menghasilkan kerja budaya yang sangat serius untuk memperkaya seni pop Indonesia. Kerja kebudayaan yang sejak era milenium (nyaris) tak ada lagi, selain perayaan banalitas kosong di televisi.

Semalam, di tengah gerimis, saya bolak-balik memutar lagu Dhenok Wahyudi di ponsel: WIJAYA KUSUMA dan YANG ESA DAN KUASA. Bahkan, sambil menulis catatan ini, suara bu Dhenok Wahyudi nan merdu merayu itu terus menemani.

Syair puitis khas Baskoro di LCLR 1970an membuat saya geleng-geleng kepala. Kok bisa ya lagu pop remaja saat itu mengusung lirik yang berat untuk ukuran saat ini. Kok serius banget remaja zaman dulu! Sementara lirik lagu-lagu remaja sekarang tidak jauh dari selingkuh, naksir kamu, teman tapi mesra, jadikan aku pacarmu, hancur hatiku mengenang dikau...

Ah, eranya memang sudah jauh berubah!

10 December 2016

Seandainya Gus Dur Masih Ada

Belakangan ini saya jadi ingat Gus Dur. Seandainya KH Abdurrahman Wahid masih hidup, rasanya tak mungkin ada polemik SARA berkepanjangan di negeri ini. Kasus salah ucap Gubernur Ahok pun rasanya tak akan sampai ke polisi, jaksa, hingga pengadilan.

Andai kata Gus Dur masih ada, saya yakin Ahok datang ke Ciganjur, kediaman Gus Dur, ngobrol, makan soto, menceritakan duduk perkaranya.. dan selesai. Bagaimana kalau FPI atau MUI atau ormas-ormas lain tidak terima?

Gus Dur sudah punya jurus untuk menyelesaikannya. Mau pakai bahasa teologi, ayat-ayat, sosiologi, dsb gampang. Gitu aja kok repot! Semua persoalan SARA seberat apa pun bisa diselesaikan Gus Dur dengan diplomasi tingkat dewa.

Sayang, Gus Dur sudah meninggalkan kita tujuh tahun lalu. Lebih sayang lagi, kita belum punya tokoh besar dengan kualifikasi superlatif seperti Gus Dur. Kalau ahli agama sih buanyaaak. Yang hafal kitab suci wuakeh. Yang jago teori ada segudang. Tapi Gus Dur lain.

Selain punya ilmu agama Islam yang sangat tinggi, Gus Dur itu cucunya pendiri NU. Ayahnya KH Wachid Hasjim menteri agama pertama yang juga anggota PPKI pendiri Republik Indonesia. Gus Dur punya segalanya. Yang membuat beliau bisa menjadi peace maker, bapak bangsa, bapak pluralisme.

Tadi malam ratusan orang mengadakan doa bersama untuk Gus Dur, haul ketujuh, di Masjid Cheng Hoo Surabaya. Acara ini dihadiri Gus Solah adik kandung Gus Dur, putri Gus Dur, Inayah, serta sejumlah kiai dan tokoh Tionghoa Jatim. Tidak sedikit umat nonmuslim pun ikut dalam doa bersama itu. Termasuk konjen USA dan konjen Tiongkok.

Bhinneka Tunggal Ika! Kemajemukan, pluralisme, itulah yang menjadi warisan Gus Dur. Berbeda dengan kebanyakan orang yang hanya bicara pluralisme, menurut Gus Solah alias KH Salahuddin Wahid, Gus Dur selalu take action ketika ada masalah SARA atau gangguan terhadap kebinekaan di Indonesia.

"Gus Dur itu aktif. Ketika ada kelompok yang terganggu keyakinannya, Gus Dur bertindak," kata Gus Solah.

Inayah Wahid menambahkan, ayahnya seorang humanis dan pluralis meskipun sangat kokoh keislamannya. Gus Dur berjuang menegakkan Islam yang damai, Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Rahmatan lil alamin. "Kita sering gagal paham terhadap ide-ide Gus Dur," katanya.

Ah, seandainya Gus Dur masih ada!

Saya yakin Presiden Jokowi tidak perlu terlalu capek menemui begitu banyak ulama, begitu banyak ormas, untuk meredam gejolak SARA gara-gara kasus Ahok. Toh, setelah sowan ke mana-mana, hasilnya juga gitu-gitu aja. Unjuk rasa jalan terus, caci maki di media sosial makin seru, dan Ahok harus jadi terdakwa di pengadilan minggu depan.

Semoga Gus Dur bahagia bersama Sang Mahakasih di surga!

07 December 2016

Jalur Undangan PTN Perlu Dievaluasi



Sudah lama saya kurang sreg dengan sistem penerimaan mahasiswa baru perguruan tinggi negeri (PTN) jalur undangan. Bukan apa-apa. Selain porsinya yang kebanyakan, 50-60 persen, kualitas calon mahasiswa pun sejatinya tidak istimewa. Sebab jalur undangan ini hanya mengandalkan nilai rapor di SMA.

Tahu sendirilah bagaimana integritas guru-guru dan kepala sekolah. Nilai rapor bisa disulap sebagus mungkin agar siswa bisa tembus PTN tanpa tes alias jalur undangan. Jalur ini otomatis memperkecil jutaan lulusan SMA di seluruh Indonesia yang berjuang keras memperebutkan bangku di PTN lewat jalur reguler alias seleksi bersama itu. (Dulu namanya skalu, sipenmaru, UMPTN, dsb.)

Karena 60 persen sudah di-booking jalur undangan, alokasi bangku untuk jalur free fight competition ini sangat sedikit. Sebab PTN juga diberi kesempatan untuk merekrut mahasiswa via jalur mandiri. Jalur ketiga ini biasanya muahaal banget karena ada misi cari duit. Hanya anak orang kaya saja yang bisa masuk jalur mandiri... meskipun otak tidak terlalu cemerlang.

Selama beberapa tahun ini iseng-iseng saya mencoba mengetes kemampuan mahasiswa PTN baik yang magang atau hendak melamar pekerjaan. Nomor satu saya bertanya bagaimana dia bisa menembus PTN. Lewat jalur mana: undangan atau reguler atau mandiri. Biasanya jalur undangan yang lebih banyak.

Alumnus PTN kok gitu ya? Kok kurang cerdas? Kurang cepat menangkap arah pembicaraan? Logikanya kurang asyik? Sebaliknya, mahasiswa jalur reguler rata-rata sangat cerdas. Tidak perlu penjelasan panjang lebar, dia sudah tahu maksud kita. Bisa belajar cepat.

Ada apa dengan jalur undangan? Masih pantaskah dipertahankan kalau hanya menghasilkan lulusan yang medioker? Syukurlah, pagi ini Pak Budi Santoso akhirnya bisa menjawab pertanyaan saya yang sudah lama terpendam. Lewat artikel bagus di Jawa Pos.

Ternyata dosen senior ITS Surabaya ini punya kompain yang sama dengan saya. Beliau tentu saja jauh lebih valid karena mengikuti proses belajar para mahasiswa sejak semester satu hingga tamat. Pak Budi pun mengeluhkan kemampuan mahasiswa jalur undangan yang kalah dari jalur free fight competition. Mahasiswa-Mahasiswa-mahasiswi tanpa tes ini umumnya kedodoran dari segi akademik.

Kualitas universitas negeri sudah pasti anjlok jika mahasiswanya didominasi jalur undangan dan mandiri yang 60 persen lebih itu. Kalau mau benar-benar bagus, porsi jalur kompetisi setidaknya 90 persen. Jalur undangan dan mandiri cukup 10 persen. Itu pun harus diseleksi ketat karena nilai rapor biasa dimainkan guru-guru SMA untuk memasukkan sebanyak mungkin lulusannya ke PTN.

Ada fakta baru yang dibeberkan Pak Budi di artikelnya itu. Ternyata jalur undangan ini didominasi perempuan alias mahasiswi. Beda dengan jalur free fight yang relatif seimbang. Mengapa? Wanita biasanya lebih telaten dan rajin sehingga nilai rapornya di SMA lebih tinggi ketimbang laki-laki.

Yang jadi masalah, khususnya di ITS, ada sejumlah jurusan yang sangat menuntut kemampuan fisik yang kuat, harus melekan di lapangan atau laboratorium dsb. Maka, dulu jurusan-jurusan itu sering dianggap jurusan laki-laki.

Nah, setelah ada jalur undangan, jurusan-jurusan itu akhirnya didominasi para perempuan. Dosen-dosen kayak Pak Budi ini yang kelimpungan. Tidak bisa maksimal dalam pembelajaran. Pak Budi menduga, para pelajar SMA yang rapornya bagus itu hanya asal pilih fakultas atau jurusan. Pokoknya tembus PTN!

"Mereka tidak memperhatikan nature seorang perempuan ketika kuliah di jurusan-jurusan tertentu, " kata Pak Budi.

Maka, dosen senior ITS ini mengusulkan agar pemerintah mengevaluasi jalur undangan alias SNM PTN itu. Menutup jalur undangan? Rasanya tidak mungkin. Sebab dulu pun ada PMDK yang esensinya sama dengan jalur undangan sekarang. Yang bisa dilakukan adalah mengurangi porsi mahasiswa PTN dari jalur undangan. Biarlah bangku PTN yang sangat terbatas itu hanya diisi mahasiswa-mahasiswi yang benar-benar memenuhi syarat akademik.

06 December 2016

Topik Paling Populer di Blog Ini?

Hehehe... ternyata seks!

Sejak dulu artikel yang berbau esek-esek selalu jadi top hit. Saya perhatikan peringkat atas tak pernah jauh dari tiga topik ini: Lonte TPI Porong, Kupu-Kupu Malam di Sidoarjo, dan Tempat-Tempat Dugem di Surabaya. Banyak benar orang yang mencari artikel (dan gambar) tentang tema 18+ ini.

Padahal, tiga artikel ini sebetulnya ditulis iseng aja. Cuma selintas. Dan sudah lamaaa banget. Materi di artikel itu rasanya sudah tidak cocok lagi. Sebagian tempat dugem itu sudah tutup. Kupu-kupu malam di Aloha pun tak ada lagi.

Tapi ya, namanya naluri primitif manusia, artikel lama yang sudah expired itu tetap saja diklik. Saya sih geli dan geleng kepala melihat peringkat artikel hit. Masih seperti dulu.

Artikel-artikel yang agak serius seperti musik klasik, jazz, atau gerejawi dari dulu nasibnya sama: jarang diklik dan dibaca. Masih lumayan kemarin ada penggemar seriosa yang menulis komentarnya dengan serius. Seriosa ini memang punya peminat khusus. Sangat sedikit tapi orangnya serius dan akademik.

Melihat kecenderungan ini, saya jadi maklum mengapa situs-situs seks, porno, begitu laku di internet. Orang Indonesia konon paling doyan situs seks, kata sebuah penelitian. Makanya, meskipun sudah dblokir pemerintah, situs porno terus saja merajalela di sini.

Demokrasi mayoritas di tingkat RT

Pak Isfanhari guru musik senior yang sering jadi dirigen paduan suara perayaan hari besar nasional di Grahadi Surabaya. Beliau juga komposer dan arranger kor kawakan. Pagi ini Pak Isfan tidak membahas musik tapi justru woro-woro pemilihan ketua RT di Kupangkrajan tempat tinggalnya.

Ada tiga calon yang maju. Ada kampanye kecil-kecilan. Warga diajak datang mencoblos. Mirip pemilu legislatif, pemilihan bupati, gubernur atau presiden. Demokrasi langsung! Tidak pakai musyawarah mufakat atau perwakilan segala.

Kelihatannya sepele tapi sejatinya menunjukkan perubahan sistem budaya kita. Selama ini sangat jarang ada orang yang bersedia jadi ketua RT atau RW. Ini kerja sosial yang tidak digaji. Tanggung jawabnya pun berat. Kalau ada apa-apa, misalnya kecolongan teroris di wilayahnya, ketua RT harus mondar-mandir ke kantor polisi. Ketua RT juga harus keliling ke rumah-rumah. Dan sebagainya.

Karena itu, di tempat tinggal saya yang lama, Ngagel Jaya Selatan, BP boleh dikata ketua RT abadi. Sudah 30an tahun menjabat tanpa pernah diganti. Dia sih sudah bosan. "Tapi tidak ada yang mau. Kalau ada yang bersedia, sekarang juga saya serahkan jabatan saya," katanya.

Di mana-mana memang seperti itu. Di Sidoarjo pun banyak ketua RT yang menjabat lebih dari 10 tahun. Beda dengan jabatan anggota DPRD yang selalu diperebutkan dengan berbagai cara. Apalagi kepada daerah!

Maka pemilihan langsung RT di Kupangkrajan ini saya anggap langka. Mungkin terimbas sistem demokrasi langsung ala pilkada atau pilpres yang heboh itu. Warga yang dulu rikuh, sungkan, berkompetisi di lebel bawah mulai mengikuti langgam politisi. Semoga saja tidak ada isu SARA dalam pemilihan ketua RT!

Di sisi lain, pemilihan langsung yang merambah level RT ini menunjukkan betapa asas musyawarah mufakat makin ditinggalkan rakyat Indonesia. Musyawarah mengandaikan kompromi, negosiasi, tawar menawar. Tanpa ruang negosiasi, maka segala sesuatunya akan diselesaikan dengan metode voting.

"Demokrasi banyak-banyakan suara," ujar Jockey Suryo Prayogo, budayawan dan seniman musik terkenal.

Komposer top ini memang dari dulu menginginkan agar musyawarah mufakat yang menjadi nilai-nilai khas bangsa Indonesia yang dikedepankan. Dan itu hanya bisa jalan kalau UUD 1945 yang asli diberlakukan kembali. Sekarang kita sudah terjebak dalam demokrasi banyak-banyakan suara dengan segala dampak negatifnya.

Tak hanya Jockey yang resah. Sudah lama banyak tokoh lintas profesi mengeluhkan demokrasi liberal pascareformasi. Voting jadi berhala baru. Kuantitas massa jadi andalan untuk memaksakan keinginan kelompok tertentu. Di mana jalan musyawarah itu?

Melihat virus demokrasi mayoritas atau banyak-banyakan suara yang sudah merambah pemilihan ketua RT, rasanya musyawarah mufakat hanya menjadi cerita nostalgia.

Paroki Salib Suci Sidoarjo Juara Umum Festival Paduan Suara Keuskupan Surabaya

Sudah 10 tahun tidak ada lomba atau festival paduan suara di Keuskupan Surabaya. Lama banget! Padahal festival kor resmi keuskupan sangat efektif untuk menggairahkan kor-kor paroki atau stasi atau lingkungan. Kalau tidak ada lomba, biasanya kor-kor Katolik kurang semangat berlatih.

Ada sih festival paduan suara yang diadakan Jawa Pos untuk menyambut Natal. Juga festival di universitas dan lembaga-lembaga lain. Tapi misinya pasti beda dengan liturgi Katolik.

Lomba paduan suara Gereja Katolik mau tidak mau harus diarahkan untuk pengembangan musik liturgi. Bukan bagus-bagusan di konser, dapat banyak medali di luar negeri, masuk televisi dan sebagainya. Buat apa hebat di luar kalau mutu kor liturgisnya jelek?

Maka, inisiatif Paroki Redemptor Mundi, Dukuh Kupang Barat Surabaya, mengadakan festival paduan suara Keuskupan Surabaya layak diapresiasi. Meskipun yang ikut cuma 17 paroki dan satu stasi (Porong Sidoarjo). Belum setengahnya paroki di Keuskupan Surabaya yang jumlahnya 42. Biasanya kalau penyelenggaranya Keuskupan Surabaya hampir pasti semua paroki ikut.

Tapi saya kira gebrakan Redemptor Mundi ini menjadi awal yang baik. Ada tiga kategori lagu yang dilombakan: Gregorian, polifoni, dan inkulturasi. Cocok dengan pakem musik liturgi. Selama ini Gereja Katolik di Indonesia saya nilai terlalu asyik di inkulturasi karena buku Madah Bakti dulu memang berat di inkulturasi. Gregoriannya sangat sedikit. Polifoni tidak ada.

Tidak hanya berlomba, peserta juga diajak mengikuti lokakarya dan choir clinic. Klinik paduan suara ini antara lain menghadirkan mas Budi Susanto dari Malang. Mas Budi ini dirigen, arranger, dan komposer kor yang sangat berpengaruh di Indonesia di era reformasi. Kor-kor mahasiswa Indonesia umumnya membakan komposisi anggitan Budi Susanto ketika mengikuti international choir festival.

Mas Budi menekankan pentingnya produksi suara. How to inilah yang sering diabaikan kor-kor kita, khususnya di Gereja Katolik. Akibatnya, lagu-lagu liturgi lawas yang seharusnya sudah di luar kepala pun terdengar mentah. Ndak enak blas! Pokoknya setiap misa ada kornya. Belum ada upaya sungguh-sungguh untuk mewujudkan prinsip Gereja: Qui bene cantat bis orat!

Akhirnya, sesuai dugaan saya, Paroki Salib Suci Waru, Sidoarjo, meraih juara umum. Paroki binaan romo-romo SVD memborong tiga kategori, yakni Gregorian, polifoni, dan inkulturasi. Saya tidak kaget karena sejak dulu Salib Suci memang sangat konsen mengembangkan Gregorian dan polifoni. Dan itu tak lepas dari sosok Romo Heribert Balhorn yang sangat menekankan ekaristi klasik.

Ketika Gereja-Gereja lain getol dengan inkulturasi, Salib Suci Waru aktif mengembangkan Gregorian. Saya pernah menulis catatan di blog ini: suasana misa di Salib Suci itu rasanya lain dibandingkan paroki-paroki lain di Jawa Timur. Selamat untuk Paduan Suara Salib Suci Sidoarjo!

Hasil Lomba Paduan Suara Keuskupan Surabaya 2016

Juara umum: Paroki Salib Suci Sidoarjo

Kategori Gregorian:

Juara : Paroki Salib Suci Sidoarjo
Peringkat 2: Paroki Roh Kudus Surabaya
Peringkat : 3 Paroki Aloysius Gonzaga Surabaya

Kategori Polifoni Suci

Juara : Paroki Salib Suci Sidoarjo
Peringkat 2: Paroki Roh Kudus Surabaya
Peringkat 3 : Paroki Gembala yang Baik Surabaya

Kategori Inkulturasi

Juara : Paroki Salib Suci Sidoarjo
Peringkat 2 : Paroki Kristus Raja Surabaya
Peringkat 3 : Paroki Roh Kudus Surabaya