03 November 2016

PG Watoetoelis pun ikut ditidurkan

Masih soal pabrik gula (PG) di Kabupaten Sidoarjo. Ternyata tidak hanya PG Toelangan yang ditutup, tapi juga PG Watoetoelis akan ditidurkan tahun depan. Alias tidak giling tebu lagi.

Manajemen PTPN X sepertinya sudah lempar handuk setelah sempat mencoba menggairahkan lagi produksi gula di beberapa parik gula di Jatim. Total ada 10 PG yang "ditidurkan" (istilah pejabat PTPN). Dua di antaranya di Sidoarjo, yakni PG Toelangan dan PG Watoetoelis.

Seperti dugaan saya, manajemen PTPN menilai PG-PG lawas peninggalan Belanda itu sudah tidak efisien. Kapasitasnya jauh di bawah skala ekonomi. Selain mesin-mesin tua, yang paling utama, pasokan tebu yang seret. "Sidoarjo punya empat pabrik gula. Padahal produksi tebu di Sidoarjo tidak mampu memenuhi kebutuhan semua pabrik gula," ujar seorang manajer PG.

Selain dua PG ini, ada dua PG lagi di Sidoarjo, yakni PG Kremboong dan PG Candi Baru. Rupanya PG Kremboong ini yang masih dipertahankan PTPN. Sedangkan PG Candi Baru di bawah manajemen PT Rajawali Nusantara Indonesia. Selama ini Candi Baru mengandalkan pasokan tebu dari luar Sidoarjo.

Apakah PG Toelangan dan PG Waoetoelis hanya ditidurkan sementara? Kemudian dibangunkan lagi? Atau tidur seterusnya? Manajemen PTPN belum memberikan penjelasan gamblang. Yang pasti, sebagian besar petani tebu di Sidoarjo sudah mulai mengalihfungsikan lahannya untuk tanaman lain di luar tebu.

"Menanam tebu itu gak untung. Apalagi masa depannya gak jelas," kata Mas Amak Junaedi, petani tebu asal Kajeksan Tulangan. "PG Toelangan dan PG-PG lain itu memang sudah pantas ditutup. Kondisinya seperti pasien di ICU."

Bukankah PG Toelangan itu membuat Tulangan sangat terkenal? Jadi setting novel Pramoedya Ananta Tour?

"Ah, itu kan masa lalu. Kita tidak bisa hidup dari cerita tentang kejayaan masa lalu. Kita harus lihat ke depan Bung! Mbah saya itu mantan sinder di PG Toelangan... Tapi mau bagaimana lagi? Kondisi ekonomi sudah jauh berubah," kata Amak.

Diskusi dengan pentolan LSM dan tukang demo di Sidoarjo ini kemudian jadi panjang. Saya tidak menyangka kalau orang Tulangan sendiri malah santai saja menanggapi rencana penutupan PG Toelangan. Padahal, saya yang bukan orang Tulangan (Sidoarjo) malah sedih, keberatan, dengan tutupnya PG-PG di Sidoarjo.

Dari 16 PG bikinan Hindia Belanda (ada yang bilang 14 atau 12), sekarang tinggal 4. Tahun depan tinggal 2. Tahun depannya lagi tak tahulah kita. Melihat tren ini, bisa dipastikan ke depan tidak ada lagi PG di Sidoarjo yang ekonomi pertaniannya makin ditinggalkan. Seperti belasan PG di Surabaya yang sekarang tinggal dongeng di buku-buku sejarah.


Sent from my BlackBerry

No comments:

Post a Comment