10 November 2016

Pelajaran dari Pilpres USA yang luar biasa cepat

Kok bisa Trump? Begitu judul koran besar di Surabaya pagi ini.

Ya, banyak orang tidak percaya Donald Trump yang bakal jadi presiden USA. Mereka menganggap Donald punya terlalu banyak kelemahan untuk ngantor di Gedung Putih.

Hamid Awaluddin bekas menteri menulis analisis di Kompas kemarin yang intinya Hillary pasti menang telak. Sehingga Bu Hillary bakal jadi perempuan pertama yang jadi presiden USA. Kok kalah ya sama Indonesia yang pernah punya Presiden Megawati.

Tapi apa yang terjadi? Semua analisis di Indonesia (mungkin juga di USA) meleset semua. Bapak Trump mengacaukan semua jajak pendapat. Hasil survei berantakan. Pak Trump menang 279 vs 218.

Kita sering lupa bahwa pemilihan umum (pilpres atau pileg) selalu melahirkan kejutan. Tak terkecuali di USA. Sehebat-hebatnya Hillary, pintar, berpengalaman, bicaranya enak, bukan jaminan menang. Rakyat punya naluri sendiri. "Ada kekuatan semesta yang bermain dalam kehidupan," ujar mas Rokim, wartawan senior yang mendalami dunia supranatural.

Itulah yang bagi kita orang Indonesia disebut takdir! Kalau memang sudah dikehendaki Hyang Kuasa, jadilah! Tidak ada yang bisa menghalangi. Orang-orang lama selalu bilang seorang raja (pemimpin) adalah orang yang ketiban pulung. Cara mendapat pulung itu? Kerja kerja kerja... dan selanjutnya takdir yang bicara.

Saya yang bukan wong Amerika sih netral saja. Yang menang Trump atau Hillary sama saja. Sebab kedua capres itu tentu sama-sama punya kemampuan untuk jadi presiden. Gak mungkinlah wong kenthir, goblok, ngawur... dipaksakan untuk nyalon. Apalagi menang telak. Emangnya orang USA yang memilih Trump itu goblok semua?

Yang mengharukan, seperti siaran langsung di Metro TV kemarin, Donald Trump menyampaikan pidato kemenangan yang mengesankan. Normatif sih tapi saya apresiasi tinggi sebagai pelajaran untuk Indonesia. Ia memuji Hillary yang sudah mengabdi sangat lama untuk rakyat Amerika. Meskipun terlibat kampanye yang keras, saling menista segala, pada akhirnya pertarungan ini untuk USA juga.

Pak Trump juga bilang di awal pidato bahwa dia sudah menerima telepon dari Bu Hillary yang mengucapkan selamat atas kemenangannya. Luar biasa!

Di usia 70 tahun Pak Trump masih ngotot berjuang untuk tugas kenegaraan yang menyita waktu, energi, pikiran, dsb. Beda dengan para lansia kita yang lebih banyak nongkrong di rumah, ngemong cucu, dengar wayang kulit di radio, ngaji agama, dan sebagainya. Pak Trump membuktikan bahwa manusia punya kesempatan untuk mengabdi, tetap produktif, sampai kapan saja... kalau mau!

Bagi saya, pelajaran paling penting bagi kita di Indonesia adalah ini: Satu, hasil pilpres USA ini luar biasa cepat diketahui. Coblosan hari Selasa, besoknya Rabu sudah final result.

Di Indonesia, hasil pilpres baru diumumkan KPU hampir SATU BULAN setelah hari pencoblosan. Sama persis dengan pemilu pertama tahun 1955. Kalau ada gugatan, bisa tertunda dua minggu lagi.

Dua, capres yang kalah (bersama timmnya) langsung menelepon capres yang menang. Ucapkan selamat! Dan itu tidak sampai 24 jam usai coblosan. Hiruk pikuk pilpres, kampanye yang panas, selesai dengan sejuk.

Di Indonesia? Hehehe.... Jangankan mengakui kekalahan, capres yang kalah malah mengumumkan di televisi, mengklaim sebagai pemenang. Lengkap dengan data lembaga survei abal-abal pesanannya sendiri. Si kalah itu malah menuduh proses pilpres curang, banyak pelanggaran, penggelembungan suara, dsb.

Kita masih ingat, tahun 2014 lalu capres Prabowo berapi-api merasa jadi pemenang (meskipun faktanya terbalik) berbekal data dari PKS. Ternyata data yang dirujuk itu tidak valid. Akibatnya, setelah pilpres suasana politik di Indonesia makin panas.

Saya rasa cukup dua pelajaran itu dulu. Kok bisa ya hasil pilpres di USA bisa diketahui dalam tempo kurang dari 24 jam? Bukan hitung cepat alias quick count yang bisa meleset itu!

Indonesia memang bukan USA yang sudah sangat maju dan canggih. Tapi kalau hasil pilpres kita baru diumumkan satu bulan lebih ya kebangetan!

Sent from my BlackBerry

6 comments:

  1. Mungkin justru si Trump yang belajar dari Fadli Zon dan Setya Novanto waktu dikunjungi itu hari. Apa yang dipelajari? Gunakan rasa takut thd orang liyan untuk membangkitkan rasa benci, primordialisme berdasarkan agama dan ras sehingga mereka kasih suara untuk dirinya. Hehehehe.

    ReplyDelete
  2. Mangkanya si Fadli, Fahri dan Setya perlu nyapres.. biar menang. Mumpung mbah Trump sudah jadi penguasa USA.

    ReplyDelete
  3. Sebagai warga USA sekarang, yang tinggal di negara bagian yang lebih liberal dibandingkan di negara2 bagian pemilih Trump, saya sangat kecewa dan sedih dengan hasil ini. Tetapi saya tidak percaya dengan kekuatan supranatural dalam pemilu ini. Juga tidak setuju dengan pernyataan bahwa Trump memporakporandakan survey, karena minat pemilih itu sudah dari sononya. Hanya, surveyor yang salah polling, atau dalam hal ini, pemilih tidak mau memberitahu dengan jujur karena mereka takut dicap rasis dll karena begitu besar gelombang penolakan terhadap Trump di media. Eh, ternyata ada banyak sekali suara tersembunyi untuk Trump. Bayangkan jika di Indonesia Prabowo yang menang ... aaaargh...!

    ReplyDelete
  4. Begitulah... hampir semua orang indonesia terkejut dengan kemenangan mbah Trump (disebut mbah karena sudah 70 tahun). Semua peramal yakin bu Hillary menang. Tapi balot suara yg akhirnya menentukan hasil pilpres.

    Kalau Prabowo menang juga gak papa karena semua capres pada dasarnya baik. Pak Prabowo (atau mbah Prabowo) kan ingin membuat Indonesia jadi macan Asia. Kayak slogannya mbah Trump itu! Ada konstitusi dan undang2 yg mengatur kewenangan kepala negara.

    Yang jadi masalah kalau ada capres yg programnya menghapus pancasila, memberlakukan khilafah, menutup semua tempat ibadah nonmuslim, melarang perempuan bekerja di luar rumah, melarang musik film dsb..

    ReplyDelete
  5. Benar. Itulah gunanya konstitusi. Seorang Trump hanya bisa menggeser sedikit arah sebiduk kapal bernama Amerika tetapi tidak bisa memutar balik 180 atau bahkan barang membelokkan 90 derajat. Kalau yg kau sebut itu harus ganti konstitusi dulu dan itu berabe, bisa terjadi perang saudara atau paling dikit separatisme.

    ReplyDelete
  6. Saya dan teman2 warga Amerika sangat berduka yg mendalam atas terpilihnya si Donald itu karena perilaku dan ucapannya tidak mencerminkan nilai2 toleransi dan keterbukaan yang menjadi ciri2 Amerika sebagai negara pemimpin demokrasi. Kami sedih karena ternyata sesama warga negara kami yang tinggal di negara2 bagian tertentu memilih untuk menutup mata dan telinga thd ucapan dan tindakannya yang menghina muslim, orang cacat, wanita, imigran berkulit coklat, dll. Rasa duka itu seperti ditinggalkan anggota keluarga yang tercinta.

    Seorang pemimpin, apalagi suatu organisasi besar dengan kewenangan luar biasa seperti Presiden USA, tidak mungkin membuat semua keputusan sendiri. Seorang pemimipin harus "set the tone", menentukan kunci apa yang harus dimainkan oleh orkestra di pemerintah, dan bahkan diikuti oleh masyarakat kebanyakan. Jika sang pemimpin memberi contoh yang jelek, dan malahan menyuarakan nada-nada kebencian dan permusuhan, irama itulah yang akan menggaung di negara tsb. Ingatkah Bung Hurek, akan segala pelanggaran hukum yang dilakukan FPI dan kanca2nya thd minoritas dalam masa pemerintahan SBY, selama 10 tahun?! Sekarang, Jokowi lah yang kebagian hasilnya karena pembiaran oleh pemerintah koalisi SBY tsb membuat banyak orang yang tadinya hanya punya sebersit pikiran negatif menjadi tergugah, terbakar untuk lebih anti toleransi, lebih tidak mau silaturahmi, lebih tidak mau ucapkan selamat Natal, lebih protes soal pembangunan gereja yg sudah ada IMB, lebih membiarkan jika ada tindakan kekerasan thd kaum liyan, dan lebih banyak memposisikan diri sebagai korban penganiayaan bila ada sentilan sedikit saja.

    Lebih daripada memajukan ekonomi, seorang pemimpin harus mengutamakan alam kehidupan yang penuh toleransi, keterbukaan, kedamaian. Kemajuan ekonomi akan datang dengan sendirinya jika lingkungan seperti itu diutamakan.

    Semoga kedua negara yang saya cintai bisa tetap jaya. Amin.

    ReplyDelete