21 November 2016

Launching, Opening, Substitusi, Konsumsi

"Launching itu apa?"

Begitu pertanyaan mas Anang asal Krian usai membaca berita di koran kemarin.

Koran itu memang memuat banyak kata launching di halaman pariwaranya. Launching ruko, launching gudang, launching buku, launching album, hingga launching kegiatan lomba-lomba santai hingga kejuaraan olahraga.

"Apa launching itu pembukaan?" ujar pria 30an tahun yang lulusan SMK itu.

"Cocok. Launching bisa juga disebut pembukaan acara atau kegiatan. Bisa juga peluncuran sebuah produk baru," kata saya berlagak paham bahasa Inggris asli bule.

"Kalau opening artinya apa? Apa bedanya dengan launching?" kejar mas Anang.

Waduh, rupanya mas ini mau ngetes saya!

"Hampir samalah. Mungkin opening lebih cocok untu pembukaan kegiatan atau sekarang lebih populer dengan event. Bisa juga membuka kantor. Ada soft opening, grand opening...," jawab saya sekenanya.
Saya pun lekas meninggalkan warung kopi rakyat jelata di kawasan Buduran Sidoarjo. Kata-kata mas Anang terus berkecamuk di kepala saya. Oh, rupanya kata-kata Inggris seperti launching, opening, soft launching, awarding, topping off... sudah inflasi di media massa. Sebagian masyarakat sangat paham, dan senang karena keren, tapi ada juga orang-orang warkopan yang bingung.

Saya pun sulit membedakan launching dan opening. Sudah minta bantuan Google tapi tetap tidak meyakinkan. "Mengapa tidak dipakai pembukaan saja? Mengapa harus launching?" tanya mas Anang.

Penjelasannya bisa panjang lebar. Dan merambat ke mana-mana: sosial budaya, bahasa, ekonomi, gaya hidup (life style lebih populer di media) hingga mentalitas pribumi yang minderwaardigheids complex di era Hindia Belanda. Mentalitas anak negeri yang tidak percaya diri dengan bahasa nasionalnya.

Kalau mas Anang sering mempertanyakan kata-kata English, saya selalu tersenyum sendiri ketika menemukan kata-kata serapan yang dipaksakan untuk mengganti kata-kata asli yang sudah sangat umum. Contohnya di berita olahraga (sekarang nama rubrik olahraga sudah diganti SPORT):

"Zizou dengan cerdas menyubstitusi hilangnya tiga pilar itu."

Hehehe... MENYUBSTITUSI.

Mengapa tidak dipakai MENGGANTI saja? "Zizou dengan cerdas mengganti tiga pemain pilar yang cedera."

Selain SUBSTITUSI, menyubstitusi, kata serapan lain yang sangat populer di media adalah KONSUMSI: mengonsumsi, dikonsumsi, pengonsumsian....

"Karena tidak punya beras, warga mengonsumsi tiwul."

Lama-lama kata MAKAN bisa tergusur dari percakapan orang Indonesia di kota. "Saya makan nasi" bakal disubstitusi menjadi "saya mengonsumsi nasi".

Begitulah jalannya peradaban. Mesin ketik sudah lama disubstitusi komputer (PC). Komputer disubstitusi laptop. Laptop pun disubstitusi telepon pintar alias smartphone. Dan seterusnya...

Sent from my BlackBerry

6 comments:

  1. Kalau ada bahasa Indonesianya, mengapa harus gunakan bhs Inggris? Saya setuju dengan Pak Lambertus.

    Utk definisi launch dan opening, saya jelaskan. Pertama, dalam bahasa Inggris yg benar, tidak ada istilah launching. Launch itu sendiri sudah merupakan noun, selain juga verb, jadi tidak perlu menggunakan gerund (bentuk -ing). Jadi, di USA atau UK atau Australia atau Canada, kita menggunakan istilah: product launch, bukan product launching. Itu salah kaprah. Rocket launch, bukan rocket launching. Ship launch, bukan ship launching.

    Sedangkan kata open itu merupakan adjective dan juga verb, bukan noun, sehingga verb perlu diubah menjadi gerund untuk digunakan sebagai noun, misalnya: Grand Opening of Hospital, Soft Opening of Restaurant, dll.

    Kapan digunakan Launch vs Opening? Apa yang bisa ditutup, itulah yang di-open. Rumah sakit, rumah makan, perkantoran, acara, museum, konferensi, dll. kan bisa ditutup, jadi harus dibuka.

    Apa yang tidak bisa ditarik kembali (meski terkadang bisa, dengan usaha susah payah), itulah yang diluncurkan, seperti roket ke langit, kapal ke samudera, produk ke pasar, termasuk buku dan software, ide ke masyarakat. Itu tidak bisa ditutup, jadi tidak digunakan opening.

    Semoga membantu.

    ReplyDelete
  2. Substitusi. Dalam Bahasa Inggris, substitusi itu ada makna tersembunyi, yakni mengganti dengan sesuatu yang mirip, yang berfungsi sama. Misalnya, pemain sepak bola dalam suatu tim, aktor dalam suatu pertunjukan, bahan makanan dalam suatu resep masakan. Sedangkan ganti, itu tergantung konteks kalimatnya. Bisa berarti substitute, atau replacement, atau change. Ah, saya setuju untuk menggunakan bahasa Indonesia sedapat mungkin, tetapi menggunakan kata asing jika ada nuansa lebih yang mau diperoleh juga sah-sah saja.

    Konsumsi dalam Bahasa Inggris bermakna lebih luas. Tidak hanya berkenaan dengan makan atau makanan, tetapi juga dalam penggunaan abstrak. Misalnya konsumsi data telepon seluler, tentunya aneh jika kita gunakan kata "makan".

    ReplyDelete
  3. Matur nuwun mas Amrik sudah kasih penerangan yg bagus banget. Tulisan ini cuma curhat aja. Unek2 kecil karena makin lama bahasa Indonesia makin dipenuhi kata2 serapan plus istilah asing. Padahal pakar2 bahasa di masa lalu sudah berusaha untuk membumikan berbagai istilah asing dengan kata2 setempat. Dulu ada ilmu hayat, ilmu bumi, berat jenis, percepatan dsb.

    Istilah reduksi saat kita SMA (ingat reduksi dan oksidasi) sekarang ini banyak dipakai di media massa. Misalnya : Kemenangan MU kemarin mereduksi gap poin dengan City.

    Kata pendidikan diganti edukasi.

    Saya sangat terkesan dengan kata PERHUBUNGAN atau KEMENTERIAN PERHUBUNGAN. Itu istilah yg sederhana dan sangat mengena. Ada juga pengangkutan...

    ReplyDelete
  4. KONSUMSI ini kata yg sangat laku di Indonesia sekarang. Aslinya English, diserap utuh consumtion jadi konsumsi. Kemudian dijadikan MENGONSUMSI atau MENGKONSUMSI atau DIKONSUMSI.

    KONSUMSI terkait KONSUMEN.

    Di Malaysia kata konsumen tidak dipakai. Terangga kita itu pakai PENGGUNA. Makanya ada Persatuan Pengguna Pulau Pinang. Kalau di Indonesia mungkin jadi Asosiasi Konsumen Pulau Pinang.

    ReplyDelete
  5. Yah, Bahasa Indonesia memang akarnya dari Bahasa Melayu, tetapi sudah menyimpang sedikit jauh sehingga menjadi Bahasa Indonesia, berkat pengaruh dari bahasa Belanda, Jawa, dll bahasa daerah yang tidak dimiliki oleh Bahasa Malaysia.

    Pengaruh bahasa asing justru membuat suatu bahasa menjadi kaya. Bahasa Inggris menjadi bahasa internasional karena lebih lentur dalam menyerap kata-kata asing. Bahasa Inggris itu sebenarnya bahasa haram jadah yang tidak murni, karena sepertiga kata-katanya diserap dari bahasa Latin (lewat Bahasa Perancis ketika mahkota Inggris dikuasai oleh Normandia).
    Tetapi, justru ketika terjadi ledakan ilmu pengetahuan yang banyak menggunakan istilah-istilah Bahasa Latin, wow, ia siap.
    Akibatnya, Bahasa Inggris yang asalnya sangat dekat dengan Bahasa Belanda dan Bahasa Jerman menjadi menyimpang. Mana sebelumnya masuk pengaruh dari Bahasa Skandinavia karena Inggris juga pernah dikuasai oleh Orang Viking.

    Setelah ratusan tahun, normal saja kan penggunaan istilah-istilah yang berasal dari Perancis macam revolution, reduction, communication, transportation, oxidation, dll. itu? Atau kata-kata yang berakar Viking seperti window, Thursday, wing?

    Biarkan saja masyarakat kreatif mengkonsumsi perkataan asing dan memperkaya perbendaharaan kata Bahasa Indonesia. Toh dahulu pun ia sudah menyerap banyak kata dari Bahasa Sansekerta dan Arab karena perbendaharaan kata aslinya tidak memadai.

    ReplyDelete