29 November 2016

Jockey Suryo Prayogo maestro pop progresif Indonesia



Akhir-akhir ini saya cukup sering diskusi dengan Jockie Suryo Prayogo. Beliau pemusik kawakan, komposer musik pop era 70an sampai sekarang. JSOP  (begitu julukannya di media online) kondang sebagai pemain keyboards grup rock legendaris Godbless.

Sudah ratusan lagu diciptakan JSOP. Setiap saat musisi yang merintis karir dari Malang itu bahkan hampir setiap hari berkreasi. Dan... lagu-lagunya selalu unik dan berkelas. JSOP-JSOP-lah yang mewarnai album-album LCLR alias lomba cipta lagu remaja di masa lalu.

Diskusi dengan JSOP menurut saya berbeda dengan artis-artis biasa. Sebab yang dibahas bukan cuma musik tapi juga sosial politik budaya hingga agama. Kemarin kami diskusi panjang tentang fenomena pengerasan ideologi agama di Indonesia. Kami pun berpaling ke wacana lama yang sering dibahas Bung Karno pada tahun 1930an.

Saya geleng kepala melihat kemampuan JSOP yang luar biasa. Rujukannya luas. Jelas beliau komposer yang doyan baca buku, diskusi, dan jeli membaca situasi masyarakat. Berapa galaunya JSOP melihat unjuk rasa kasus Ahok di Jakarta yang dikemas begitu canggih.

Mengapa musik pop Indonesia sekarang seperti ini? Perbedaan dengan era lama terlalu jauh. Seperti terputus dengan masa lalu. Orang Indonesia yang berusia di atas 40 makin sulit menyukai lagu-lagu pop sekarang. Sebaliknya anak-anak muda pun tidak bisa mengapresiasi musik pop lama. Bahkan nama-nama besar di masa lalu macam Harvey Malaihollo, Nicky Astria, Elfa, hingga Bob Tutupolly pun tak kenal.

Ada apa dengan musik pop sekarang?

JSOP mengakui musik pop Indonesia tak bisa dilepaskan dari musik Barat. Semua instrumen dari sana. Tangga nada, pola komposisi, sound dan sebagainya aslinya dari Barat. Tapi tidak berarti kita menelan mentah-mentah-mentah gaya pop Barat.

JSOP dkk di masa lalu dengan sadar melakukan adaptasi dan modifikasi. Sehingga rasa Indonesia sangat menonjol. Bukan copy paste begitu saja musik pop USA atau Eropa. "Agnes Monica itu sebetulnya punya karakter yang kuat. Tapi kebule-bulean," ujar JSOP menanggapi pertanyaan saya.

JSOP menulis:

"Pesan yang ingin saya sampaikan: ..... ngapain generasi sekarang harus ikut2an membeo/berkiblat ke musik barat? Kalau soal modern dan lebih cerdas ... itu sudah pasti wong itu produk budaya masyarakat mereka sendiri. Tapi sosiologi kultural kita itu berbeda dengan masyarakat barat.

"Mbok dipaksa2in tetep saja akan wagu dan terdengar eksentrik .... eksentrik itu bukan artistik maupun unik. Konklusinya: pelajari modernisasinya (subjek) .... bukan meniru kulturnya (objek). Kultur dalam hal ini adalah raw material milik kita sendiri. Kuasai cara/metode membuat komposisi yang bisa diadopsi."

Bagaimana dengan musik yang berisik?

JSOP: "Definisi musik yang dianggap berisik itu bukan hanya dari perspektif 'keras atau pelannya' bunyi2an yang terdengar. Berisik itu ketika masing2 struktur bunyi yang ada terkesan tumpang tindih saling memperebutan ruang."

JSOP: "Definisi memperebutkan ruang itu karena banyaknya jenis lalu lintas progresi not yang mau tampil."

Kenapa musik pop justru kehilangan 'gairahnya' ketika di-backup dengan orkestrasi yang megah?

JSOP: "Karena frasanya menjadi 'tua' dan 'mapan'... bertolak belakang dengan filosofi pop yang progressive & revolusioner. Lalu ditulislah  line strings, woodwinds dan lain2 yang kompleks agar tidak terkesan tua, misalnya. Alih2 justru berisik kehilangan identitas karena sebagai sebuah lagu tidak lagi fokus. Musik served lagu atau lagu yang melayani musik.

Mengapa terkesan tua?

JSOP : "... karena disiplin intrumentasi orkestra harus patuh pada doktrin classic, antara lain perfect pitch .... sedangkan pop di era romantic bukan menjadi ketentuan2 yg bersifat mutlak. Ekspresi lebih mendapatkan ruang untuk mengeksplorasi kebebasan. Maka seorang orkestrator bukan hanya harus memenuhi persyaratan teknis/akademik, lebih penting lagi harus menguasai sosiologi musik yang hendak diciptakan.

JSOP: "Perhatikan ketika group2 luar semacam Metallica ketika mereka bekerja sama dengan orkestra .... dimensi orkestra cukup hanya sebagai layer yang tidak maju ke depan mendominasi arransemen. Tidak membuat lalu lintas2 baru dalam komposisi orkestrasinya."

JSOP: "Bikin lagu itu yang susah bukan ngarang melodinya atau nulis syairnya, tapi mempertemukan dua unsur diatas menjadi satu kesatuan frasa yang bisa disebut estetika. Banyak orang asal menulis syair hanya karena merasa gaya bahasanya dianggap mewakili persoalan2 kekinian tanpa peduli pada melodi yang 'terseret2' kebingungan dalam membahasakan pesan2 syair yang tertulis .... lalu dinyanyikan saja sekenanya. Yang penting syairnya dianggap heboh atau ngetren ... duuhh. Setelah persoalan antara melodi dan syair di atas teratasi, barulah kemudian musik berperan untuk membungkusnya agar lebih sempurna."

Apa kelemahan komposer kita?

JSOP: "Kekeliruan2 yang sering kali dilakukan aranger maupun orkestrator musik kita itu seringnya mengaransemen ulang atau reinterpretasi lagu yang membuat karakter lagu tersebut berubah dari frasa aslinya. Bila komposisi baru tersebut dialamatkan ke lagu2 yang sudah dikenal hingga dianggap populer karena mendapat apresiasi yang besar dari publik .... maka yang terjadi adalah semacam 'kecelakaan'. Namun bila memang sengaja dengan tujuan ingin melahirkan image/persepsi baru yang juga ditujukan bagi generasi2 barunya.

Maka diperlakuan waktu cukup panjang sebagai pembuktian atau untuk bisa dibuktikan apakah versi yang baru tersebut mampu memperoleh besaran kadar apresiasi yang sama dari yang sebelumnya. Hal di atas tersebut juga merupakan upaya kreatif dari arranger namun memikul konsekuensi 'riskan' yang cukup besar."

JSOP: "Musik dan lagu2 yang dibuat sejak era generasi saya 1970an (LCLR dan Badai Pasti Berlalu) wajib untuk terus diindakkanjuti proses2 berikutnya melalui pola2 pemahaman yang sama. Bahwa musik pop itu produk budaya. Musik pop bukan sebatas bunyi2an harmoni diatonal apalagi dibatasi
dengan persoalan 'selera' atau kebiasaan2 tertentu yang hanya bersandar pada teori musical serta trend maupun gaya. Menguasai ilmu itu penting. Namun tanpa mengenal filsafat ilmu itu sendiri, musik pop Indonesia hanya akan menjadi komoditas dagangan pragmatis yang akan diperlakukan semena2 oleh pemodal2 yang banal
budaya."

2 comments:

  1. Sebenarnya Ahmad Dhani sangat berbakat dan dia menerapkan proses yg dibilang oleh Cak Jockie. Lagu2nya bernuansa Indonesia walaupun kuat pop rock nya. Tapi areke nggapleki baik dalam rumah tangga dan sikap politiknya yang idiotis.

    Lagunya Andra and the backbone Sempurna itu fenomenal. Kreatif menggunakan Travis style fingerpicking tetapi lirik Indonesianya mantap.

    Selain itu Gigi / Armand Maulana juga bagus. Kalau yang lain2 saya ga ngikuti.

    ReplyDelete
  2. Betul mas... Ahmad Dhani itu komposer yg sangat hebat di Indonesia dan masih terus eksis di televisi. Ketika teman2 segenerasinya sudah gak laku. Cuma cara menyanyi atau pengucapan kata2nya terkesan kemelondo alias dibule-bulekan. Begitu juga artis2 yg berada di bawah manajemennya.
    Sekarang ini Dhani lagi mabok politik dan sangat membenci Ahok. Kata2nya juga kasar, serang pemerintah terus. Makanya, dia mulai kurang disukai masyarakat.

    ReplyDelete