15 October 2016

Skor badminton 5x11 yang cepat

Saya baru saja menyaksikan siaran langsung laga semifinal badminton Taiwan Masters di i-News TV. Pasangan Indonesia Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto menang 3-2 atas pasangan Singapura. Lima game tapi cepat selesai.

Indonesia ketinggalan di dua game awal. Kemudian menang tiga game berturut-turut. Inilah pertama kali dalam hidup saya menonton bulutangkis dengan sistem lima game: 5x11. Format baru ini sedang diuji coba BWF sebelum resmi mengganti sistem 3x21 yang sekarang.

Format poin baru ini rasanya cepat selesai. Di game kedua, saya membaca pesan WA Bapak TBS pemuka gereja yang tinggal di kawasan Waru Sidoarjo. Dia bikin renungan pendek tentang kafir dan tahir. Begitu selesai membaca, pertandingan sudah selesai.

Bagaimana tidak cepat? Sudah rally point, angka akhir cuma 11. Tahu-tahu Indonesia sudah kalah. Tapi bagusnya ruang untuk iklan di televisi jadi lebar. Pemain pun punya waktu istirahat lebih lama.
Sebagai orang lama yang sangat menikmati bulutangkis era Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Alan Budikusuma, Susi Susanti, Morten Frost Hansen, Prakash... kemudian jagoan Tiongkok macam Yang Yang (sering jadi nama alias saya), Han Jian, Guo Bao, atau jawara Malaysia Mishbun Sidek... saya masih sulit menikmati sistem rally point di badminton. Sudah telanjur menikmati sistem service point 3x15.

Dulu, dengan service point, permainan bulutangkis ibarat meditasi panjang. Pemain perlu jaga napas fokus konsentrasi... maraton. Bola bisa lama sekali melayang di udara sebelum dimatikan oleh jumping smash ala Liem Swie King. Sering banget ada skor 15-4 atau 15-7 atau bahkan 15-0 jika kekuatan pemain jomplang. Sebab poin hanya diperoleh pemain yang sedang servis.

Dengan rally point 3x21, pemain yang servis atau tidak sama-sama dapat poin. Salah berarti lawan dapat angka. Maka tidak mungkin ada skor 21-0 atau 21-5. Main sejelek apa pun pasti dapat angka. Sebab si juara dunia sekalipun pasti membuat kesalahan.

Belum selesai belajar menikmati rally point 3x21, BWF bikin perubahan lagi. Sistem lima game dengan 11 point. Tentu satu pertandingan di Taiwan ini belum bisa dijadikan patokan. Tapi saya melihat pemain kita lambat panas. Dua game awal ganda putra ini seperti masih mencari bentuk permainan. Tahu-tahu sudah kalah.

Saya pun meminta pendapat Pak HM Thorieq pemilik sekaligus pembina Fifa Badminton Club Sidoarjo. Bagaimana penilaiannya tentang sistem baru 5x11 ini?

"Fokus dan konsentrasi harus dari awal laga. Kehilangan fokus berarti lawan yang dapat poin," katanya.

Sistem rally point 5x11 juga menuntut speed and power. Pemain-pemain bertipe cepat dan kuat sangat diuntungkan. Karena itu, menurut Pak Thorieq, sistem ini menguntungkan pemain-pemain Eropa yang endurance-endurance-nya rata-rata di atas pemain Asia.

"Tapi kelemahannya skill dan keindahan akan berkurang," ujar bos klub bulutangkis terbesar di Sidoarjo yang juga teman dekat mantan juara dunia Icuk Sugiarto dan Haryanto Arbi itu.

Dengan sistem baru yang singkat dan padat ini, maka kita tidak akan pernah lagi menyaksikan gaya bermain ala Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Taufik Hidayat, atau Rudi Hartono. Pasti akan muncul jago-jago baru yang cocok dengan format 5x11.

Orang bijak berkata, "Setiap orang ada zamannya dan setiap zaman ada orangnya."

No comments:

Post a Comment