21 October 2016

Salam Shalom di Ruang Publik

"Selamat pagi Pak!"

Saya menyapa pria Tionghoa 60an tahun di Kembang Jepun Surabaya. Kawasan pecinan atawa China Town Surabaya yang terkenal itu.

"Shalooommmm.... Shalom!" teriak bapak pengusaha kuliner itu dengan suara dikeraskan.

"Selamat pagi Pak!" jawab saya yang sengaja tidak menjawab dengan Shalom juga.

Saya pun tersenyum sambil terus meninggalkan pedagang itu. Malah tertawa sendiri dalam hati. Baba Tionghoa ini ternyata pemeluk Kristen aliran karismatik yang taat. Dulu dia suka membahas ayat-ayat Alkitab dan bicara tentang kelebihan anak-anak Tuhan.

Selamat pagi kok dijawab Shalom! Hem... rupanya fanatisme bapak berkacamata ini cukup tinggi. Dia merasa lebih afdal pakai salam Shalom (yang dianggap lebih kental kristiani) ketimbang selamat pagi yang dianggap biasa saja alias sekuler.

Mirip dengan sebagian pendengar dan narasumber di Radio Suara Surabaya. Ketika sang penyiar menyapa selamat pagi atau selamag siang atau selamat malam.... dijawab "assalamualaikum" atau "walaikum salam".

Banyak orang Indonesia yang kurang sreg dengan salam yang netral. Makin lama ruang publik Indonesia tidak netral karena segala sesuatu yang berkaitan dengan agama pun dibawa-bawa. Bahkan korps kepolisian alias Polri pun akhir-akhir ini lebih suka pakai assalamualaikum ketimbang selamat pagi atau selamat malam.

Rupanya kebiasaan di kalangan muslim yang punya semangat besar dalam syiar agamanya kini merembet di kalangan nasrani. Khususnya saudara-saudari kita aliran Haleluya alias karismatik. Salam shalom pun makin sering terdengar di ruang publik. Seakan-akan shalom itu salamnya semua orang Kristen, Katolik dsb.

Padahal faktanya tidak demikian. Contoh paling nyata di Flores NTT yang mayoritas Katolik, daerah asal saya. Sejak masih SD sampai sekarang saya tidak pernah dengar ada pastor atau katekis menyampaikan shalom di gereja, gabungan (kring), atau di mana pun. Yang dipakai selalu selamat pagi, selamat tengah hari (jarang ada selamat siang), dan malam bae (selamat malam).

"Selamat pagi bapak ibu dan saudara-saudari!" sapa romo di awal perayaan ekaristi atau misa.

"Selamat pagi romo...," jawab umat agak lirih.

"Saya ulangi," kata romo dengan suara dikeraskan, "selamat pagi!!"

"Selamat pagi!" jawab umat Katolik di kampung saya lebih keras.

Rupanya pastor projo itu belum puas. Jawaban umat yang sudah jauh lebih keras itu dirasa kurang keras. Maka dia pun mengeraskan lagi suaranya. "Selamat pagi!!!!" sapanya disambut "Selamat pagiiii!!!"

Suara di gereja desa di pinggir pantai Laut Flores itu pun meriah. Hampir semua umat tertawa kecil.

Bagaimana dengan di Jawa? Maksudnya di lingkungan Gereja Katolik? Hampir sama. Kecuali mereka yang ikut PDKK alias gerakan karismatik, umat Katolik di Jawa kebanyakan mirip dengan di Flores itu.

Dan itu paling terasa ketika kita ikut misa di kampung-kampung mayoritas Katolik macam Sendangsono atau Promasan di Jogjakarta atau Puhsarang Kediri. Misa pakai bahasa Jawa. Di awal ekaristi sang romo juga menyapa umat dengan "sugeng enjang!"

Berbeda dengan di kampung asal saya, umat Katolik di Promasan Jogja (saya sering misa di gereja tua kompleks ziarah terkenal itu) langsung menjawab dengan suara keras. "Sugeng enjang Romo!"

Gayeng banget.

Mungkin karena pengalaman di Flores dan Sendangsono inilah, saya agak asing dengan salam shalom yang makin mencuat akhir-akhir ini di ruang publik di Jawa. Saya sih lebih suka jika Indonesia punya salam yang netral untuk semua golongan kayak NI HAO MA di Tiongkok.

"Selamat pagi! Luar biasa!" Kalau yang ini sih salam khasnya Andre Wongso, motivator asal Malang yang rupanya masih kalah populer ketimbang Mario Teguh yang juga arek Malang.

3 comments:

  1. Omong-omong tentang umat muslim saat ini yang sangat kentara sekali dalam meramaikan syiar agama hingga "menular" ke umat kristiani saya rasa memang ada benarnya. Kebetulan kami di Malang tinggal di dekat gereja katolik yang berdempetan dengan TK Katolik Santa Maria. Keluarga kami meskipun muslim paling tidak pernah mengenyam pendidikan dasar di lembaga pendidikan yang dimiliki oleh yayasan katolik, termasuk saya yang pernah merasakan TK dan SD di kompleks sekolah katolik di Jalan Panderman, Malang. Memang cukup terasa sekali, sekarang anak-anak TK setiap pagi sebelum masuk kelas selalu bernyanyi lagu-lagu rohani Madah Bakti dengan lantang. Kalau dulu di TK saya, rasanya hampir tidak pernah menyanyikan lagu rohani, bahkan ketika SD saja lagu-lagu rohani tersebut baru sering dinyanyikan ketika menyambut Natal. Kabarnya sih sekarang sekolah katolik hanya menerima siswa dari kalangan sendiri ya? Kebeltulan ibu saya alumni sekolah Santa Maria Surabaya. Kalau reuni sekarang malah banyak kawan-kawannya yang perempuan memakai hijab/jilbab, sampai murid-murid sekolah tersebut saat ini jadi heran, kok alumni sekolahnya ternyata cukup banyak yang muslim.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Matur nuwun mas atas komentar sampeyan. Menambah informasi tentang kondisi di Malang saat ini. Yah.. Malang itu kota paling asyik sehingga jadi jujukan orang NTT dan Indonesia Timur lainnya untuk kuliah sejak 70an. Bahkan sekarang banyak anak NTT yg hijrah ke. Malang untuk sekolah di SMA.

      Tidak benar kalau sekolah2 katolik hanya menerima murid dari golongan sendiri. Secara bisnis sama dengan bunuh diri kalau gitu. Sekolah2 katolik masih sama dengan dulu: terbuka untuk semua orang tanpa membedakan agama ras suku dsb.
      Banyak sekolah katolik yang tutup, khususnya yang kualitas KW2, karena dimakan sekolah2 negeri yg mutunya bagus dan gratisan pula. Hanya sekolah2 katolik unggulan yg bertahan kayak Dempo, Huaing, Santa Maria, atau Cor Jesu...
      Bagaimanapun juga sekolah2 katolik punya ceruk pasar sendiri.

      Delete
  2. Itulah indonesian yg agamis dan penuh gairah beragama. Yang penting sama2 saling menghargai satu sama lain.

    ReplyDelete