03 October 2016

PG Toelangan Tak Lagi Giling Tebu



Setelah Pabrik Gula (PG) Krian tutup pada awal reformasi, naga-naganya PG Toelangan segera menyusul. Pabrik gula yang bersejarah itu pada musim giling 2016 ini tidak lagi menggiling tebu. Pasokan tebu petani disetor ke PG Kremboong yang lokasinya tak jauh dari PG Toelangan.

Andaikan PG Toelangan tak lagi produksi, maka yang tersisa di Kabupaten Sidoarjo cuma tiga pabrik gula: PG Kremboong, PG Watoe Toelis, dan PG Candi Baru. Bukan tak mungkin tiga pabrik lain, yang sama-sama warisan Belanda, pun bakal bernasib sama. Dan itu berarti tragedi bagi Kabupaten Sidoarjo yang tempo doeloe dikenal sebagai salah satu sentra gula di Jawa Timur.

Ambruknya pabrik-pabrik gula di Sidoarjo - juga kota-kota lain di Jawa - sebetulnya sudah diprediksi lama. Sebab struktur ekonomi sudah lama berubah. Makin sedikit warga yang menjadi petani tebu. Lahan pertanian pun menyempit untuk perumahan, industri, dan sebagainya. Karena itu, PG-PG di Sidoarjo sudah lama mengandalkan tebu dari luar kota.

Lihat saja di PG Candi Baru. Setiap hari puluhan truk dari luar kota, khususnya dari selatan, yang menyetor tebu untuk digiling. Kita pun semakin sulit menemukan lahan tebu di Sidoarjo. Tanpa lahan tebu yang luas, pasokan tebu yang stabil, jangan harap pabrik gula bisa bertahan. Mau giling apa?

Mesin-mesin di pabrik gula kita pun sudah sangat uzur. Tapi tidak berarti tidak bisa digunakan. PG Toelangan yang mesinnya tua itu bahkan dulu selalu mencatat laba. Pertengahan tahun lalu pabrik gula ternama ini juga dikunjungi Menteri BUMN Rini Soemarno. Saat itu Rini berkomitmen untuk menjaga bisnis utama pabrik-pabrik gula yang berbasis tebu. Tekad ini untuk menjawab masuknya gula mentah yang selalu ditentang para petani tebu.

Manajemen PG Toelangan pun dengan bangga mengatakan di depan Bu Menteri tentang rencana giling tebu. Apalagi mesin-mesin sudah diperbaiki. PG Toelangan menargetkan giling 229 ribu ton tebu. Sehari bisa giling 1.300 ton. Luar biasa untuk sebuah pabrik tua!

Sayang, hanya berselang setahun, PG Toelangan tak berkutik menghadapi kenyataan. "Kalau sampai tutup seterusnya ya petani-petani tebu pasti beralih ke komoditas lain," kata Amak Junaedi, warga Kajeksan Tulangan, yang juga petani tebu.

Dalam kondisi sekarang, menurut Amak, menanam tebu sangat tidak menguntungkan. Penuh ketidakpastian. Ada persoalan rendemen, kualitas, dsb. Semua ditentukan pihak pabrik. "Beda dengan menanam padi. Kita bisa jual ke mana saja. Kalau menanam tebu ya harus dijual ke pabrik gula," katanya.

Apa boleh buat. Bisnis gula memang tak lagi semanis masa lalu. Apalagi di zaman Hindia Belanda. Maka, pabrik gula di Sidoarjo yang menurut catatan sejarah ada 16, kini tinggal 4 biji. Kalau PG Toelangan ini pun tutup seterusnya, ya tinggal 3.

Sampai kapan bisa bertahan?

5 comments:

  1. Sdr Hurek, tulisan ini mengingatkan saya kpd sejarah perusahaan Kian Gwan, penerus Oei Tiong Ham Concern. Oei Tiong Ham ialah Raja Gula, dan pabrik-pabriknya dioperasikan secara modern, dipimpin oleh insinyur2 Tionghoa lulusan Delft. Distribusi gula sampai ke luar negeri, dengan kapal2 uap yang berlayar dari pelabuhan2 Jawa, lewat Singapura dan Bangkok ke seluruh penjuru dunia. Kemudian anak2nya meneruskan dengan nama Kian Gwan, sebuah perusahaan kapitalis modern yang sangat menguntungkan. Aset2 perusahaan ini kemudian dinasionalisasi oleh pemerintah Sukarno setelah dia mengusir Belanda dari tanah air, dan Kian Gwan dianggap pro Belanda; padahal dia hanyalah perusahaan kapitalis yang mencari untung. Membaca pabrik2 gula sekarang mangkrak, saya berandai-andai perusahaan Kian Gwan tsb dibiarkan dioperasikan oleh manajemen anak2 Oei Tiong Ham yang cerdas dan bersekolah tinggi, kemungkinan mereka akan beradaptasi thd tuntutan pasar, dan terus merenovasi proses pembuatan gula dari hulu sampai ke hilir, termasuk supply chain dan distribusinya untuk ekspor ke berbagai pasar dunia. Sedangkan PG PG yang ada sekarang, sebagai perusahaan pemerintah kemungkinan tidak memikirkan distribusi dan pemasaran. Kesimpulan saya ialah janganlah dengan gampang memaki-kami pengusaha kapitalis!

    ReplyDelete
  2. Terima kasih atas komentar yg mencerahkan dari Xiansheng. Semoga sampeyan selalu sehat dan gembira.
    Beberapa pabrik gula milik Oei Tiong Ham ada di sidoarjo. Sudah lama tutup. Salah satunya di Porong yg sekarang dijadikan markas polisi. Memang pabrik2 gula milik negara alias bumn surut satu per satu. Bangkrut. Tapi anehnya pengusaha2 swasta justru masih semangat bikin pabrik gula yg baru.

    ReplyDelete
  3. Saya tambahkan sedikit. Pabrik gula peninggalan mr Oei Tiong Ham sebetulnya masih tersisa satu di Sidoarjo. Namanya PG Candi Baru. Pabrik ini resminya dikelola manajemen PT Rajawali Nusantara Indonesia yg tak lain perusahaan negara yg mengambil alih aset Kian Gwan.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Sdr Hurek, jangan terkecoh, saya ini bukan xiansheng tua tsb. Pd waktu SMP (thn 1984-85) saya membaca buku di perpustakaan sekolah tentang Oei Tiong Ham Raja Gula, yang ditulis oleh peneliti Yosihara Kunio. Sampai sekarang 30+ tahun kemudian saya masih terkesan oleh kejayaan dan kebesaran jaringan perusahaan Kian Gwan. Mungkin pabrik-pabrik yang baru beroperasi dalam skala kecil, sehingga lebih lincah dalam menanggapi tuntutan pasar. Gula pasir pun ada white sugar, brown sugar; ada yang untuk minum, atau bikin kue. Konsumen atau industri.

      Delete
    2. Maaf.. Xiansheng muda dan tua sama2 cerdas dan mirip wikipedia berjalan. Punya buanyak informasi dan data.
      Buku raja gula itu kemarin saya baca lagi nukilannya di majalah Tempo lawas. Gak sengaja nemu artikel panjang tentang laopan itu Oei Tiong Ham di perpustakaannya om Oei di daerah rungkut. Barulah saya sadar bahwa pt rajawali itu ternyata tidak lain dan tidak bukan nama baru dari konglomerasi Oei tempo doeloe. PT Rajawali itulah pemilik PG Candi Baru di Sidoarjo. Kalau pabrik ini masih lancar produksi meskipun tebunya diambil dari luar sidoarjo. Yang pasti bukan Surabaya yg sudah lamaaa tidak punya sawah atau perkebunan... kecuali kebun semanggi liar yg sempit di Benowo hehe...

      Kamsia... sudah kasih banyak masukan.

      Delete