15 October 2016

Pendeta Idaman bertobat di penjara


Kebaktian di Gereja Emas, Rutan Medaeng, Waru Sidoarjo, selalu berlangsung dramatis. Para tahanan alias warga binaan, baik yang sudah divonis maupun masih sidang, tak kuasa menahan air mata. Larut dalam penyesalan atas pelanggaran yang membuat mereka dijebloskan ke dalam penjara.

Musik, nyanyian, dan suasana ibadat khas karismatik membuat gereja kecil di dalam kompleks rutan itu ibarat kor tangisan. Haleluya! Haleluya! Haleluuuu.. bla..bla.. bla...

Begitulah yang terjadi kemarin di Gereja Efesus Rutan Medaeng ketika Lanny Chandra dan timnya memimpin kebaktian di rutan terbesar di Indonesia Timur itu. Gereja penuh meskipun sebagian tahanan yang beragama Kristen tidak ikut. "Kalau ikut semua ya gak muat," kata Tante Lanny yang sudah hampir 20 tahun melayani narapidana di penjara-penjara di Jawa Timur.

Warga binaan yang nasrani ini kebanyakan terlibat kasus narkotika. Mulai kelas pemakai, pengedar, hingga bandar besar. Ada juga bandar dari Tiongkok atau Taiwan. Biasanya wanita di bawah 30 tahun yang cakep-cakep dan langsing. Aslinya komunis, ateis, tapi setelah dipenjara rajin ikut kebaktian nasrani.

Lanny Chandra tak lupa menyediakan Alkitab bahasa Mandarin untuk para xiaojie ini. "Puji Tuhan, mereka terima Yesus di penjara. Setelah keluar kembali jadi ateis ya urusan mereka dan Tuhan," kata tante yang ahli masak berbagai jenis mi itu.

Bisa dimengerti kalau tahanan dari Tiongkok lebih senang memilih Kristen ketimbang Islam atau Hindu misalnya. Di penjara semua warga binaan memang wajib punya agama. (Untuk keperluan pembinaan rohani.) Urusan akan panjang kalau si napi ngotot tidak beragama.

Nah, di Surabaya ini ada puluhan gereja dan komunitas kristiani yang besuk tahanan alias warga binaan. Selain kebaktian, rombongan pasti membawa makanan kotakan, jajan, sabun dsb. Orang-orang Tiongkok juga merasa lebih dekat dengan komunitas kristiani karena ada satu dua orang yang bisa Mandarin. Contohnya Tante Lanny yang sejak dulu jadi penerjemah resmi di kepolisian, kejaksaan hingga pengadilan.

Sayang, kemarin tidak terlihat nona-nona narkoba asal Cungkuo. Yang jadi pusat perhatian adalah Bapak Idaman Asli. Beliau ini seorang hamba Tuhan alias pendeta di Surabaya asal Sumatera Utara. Mengapa bapak pendeta dijebloskan ke penjara?

Orang Surabaya yang rajin baca koran pasti ingat. Om Idaman ini terlibat kasus pencabulan. Dakwaannya gak main-main: mencabuli 7 bocah yang notabene anak asuhnya sendiri. Om Idaman divonis 15 tahun penjara.

Nah, bapak pendeta yang masih berstatus tahanan ini tampak paling khusyuk berdoa. Mata dipejam, tangan diangkat, bahasa roh berhamburan. Plus air mata penyesalan. Ayi Lanny yang bukan pendeta pun menumpangkan tangan serta mendoakan sang pendeta.

"Ingat Pak, Tuhan Yesus tidak pernah tinggalkan kita. Bapak akan dapat kekuatan Roh Kudus," kata Ayi Lanny kepada sang pendeta.

Wah, sampeyan kok kayak pendeta beneran? Malah jadi penasihat pendeta beneran? "Hahaha... Ayi ini orang biasa. Cuma Tuhan pakai Ayi untuk menyalurkan berkat kepada anak-anak-anak Tuhan di dalam penjara."

Ibadat selama satu jam lebih pun selesai. Saatnya warga binaan menikmati nasi kotak yang dibawa rombongan Pelita Kasih yang dipimpin Ayi Lanny. Tuhan memberkati! Haleluya!

No comments:

Post a Comment