24 October 2016

KLA Project Bintang Jazz Tretes


Jazz Tretes 2016 di Finna Golf Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Sabtu malam (22 Oktober 2016), sukses karena tidak hujan. Saya tak bisa membayangkan tiba-tiba hujan meski gerimis di padang golf yang indah milik Sekar Laut Group itu. Dijamin buyar karena konser digelar di alam terbuka.

Semua penonton dari kelas festival Rp 15 ribu hingga VVIP yang Rp 1 juta berhak menikmati sate ayam plus lontong. Khusus VIP dan VVIP dapat es krim dan nasi punel. Saya yang cuma kelas festival cukup senang dengan sate ayam khas Pandaan itu.

Suasana konser jadi guyub dan meriah. Panggung sederhana berdiri di atas lapangan golf yang didesain mirip terasering sawah. Rumput-rumput hijau yang ciamik soro, istilah Tionghoa Surabaya yang artinya sangat sangat bagus.

Sekeliling arena Jazz Tretes cuma cahaya lampu temaram. Jauh dari keramaian karena Finna Golf ini memang sangat jauh dari permukiman penduduk. Kalau tidak ada pertunjukan macam Tretes Jazz ini, kiita tidak akan bisa masuk ke kompleks Finna. Kecuali para pemain golf amatir dan profesional.

Selepas misa di Gereja Pandaan, tidak terlalu jauh dari padang golf, saya langsung masuk ke arena konser. Petugas satpam sangat ramah, murah senyum. Tiba di lokasi sudah terdengar musik fusion dari Suropati Band anak-anak muda. Cukup rancak.

Sadar kalau undangan dan penonton jazz di Finna Golf ini orang-orang muda era 80an dan 90an, komposisi yang dimainkan pun kebanyakan khas era lama itu. Ada nomor milik Level 42 dan La Samba Primadona dari Krakatau yang vokalisnya Trie Utami itu. Bagus banget permainan band anak muda ini.

Nomor-nomor yang dihadirkan di Jazz Tretes ini memang kebanyakan fusion. Enak didengar, ngepop, tidak rumit, dengan petikan bas yang khas. Gaya yang merangsang orang untuk bergoyang. Sayang, penonton saya lihat lebih sibuk menikmati sate ayam dan es krim... tak lupa sibuk main HP... ketimbang larut dalam lagu.

Penampilan komunitas fusion makin mempertegas selera panitia. Hanya Surabaya All Stars yang masih setia dengan jazz standar. "Kami masih konsisten di jalur jazz dan blues," ujar Tri Wijayanto, gitaris sekaligus pendiri band lawas yang pernah diperkuat mendiang pianis kawakan Bubi Chen itu.

Nomor-nomor jazz ala Surabaya All Stars sangat bagus untuk apresiasi. Tri Wijayanto dkk membuktikan bahwa Surabaya pun punya pemain-pemain-pemain jazz yang tak kalah dengan orang USA. "Sekarang silakan nikmati nomor dari Duke Ellington," ujar Tri Wijayanto yang dikenal sebagai gitaris jazz sejati itu.

Para penonton masih sibuk ber-selfie dan makan sate ayam. Pejabat-pejabat macam Bupati Pasuruan Irsyad, para kepala dinas, memasuki arena konser. Gitaris Mus Mudjiono rupanya diam-diam sudah lama duduk di kursi penonton VVIP. "Kebetulan saya ada di Surabaya. Begitu dengar Jazz Tretes ya saya datang," ujarnya.

Meskipun Surabaya All Stars tampil kompak dan ciamik, hampir semua penonton sebetulnya menunggu KLA Project. Pak Bupati, pejabat-pejabat setempat, ibu-ibu muda dan tua... sudah tak sabar menyaksikan aksi Katon, Lilo, Adi. Begitu pula ratusan Klanis dari Surabaya, Sidoarjo, Pandaan dan sekitarnya.

"Saya sudah bertahun-tahun tidak lihat konser KLA secara langsung. Terakhir waktu masih mahasiswa," ujar seorang wanita manis yang ternyata istri pejabat. Lagu-lagu KLA katanya ngelangutkan jiwa. "Bikin aku tak bisa pindah ke lain hati."

Sayang, KLA Project malam itu kurang disiplin. Konser band-band aliran jazz selesai tapi Katon Lilo Adri dan para pemusik pendukung plus dua penyanyi latar tak nongol-nongol-nongol. Dua MC sudah berusaha mengisi panggung yang kosong dengan joke-joke dan aneka tebakan konyol.

"Mengapa mobil berhenti di lampu merah?"

Beberapa jawaban dinyatakan salah. Yang benar, kata mas MC, karena direm. Kalau gak direm ya gak bisa berhenti. Guyonan-guyonan macam ini lumayan menghibur penonton yang tak sabar menanti KLA.

Pak Bupati pun angkat bicara. "Saya punya pertanyaan. Yang jawab benar dapat hadiah umrah." Mbak MC dan penonton pun penasaran dengan pertanyaan Pak Bupati. "Mengapa KLA kok ndak datang-datang?" Hehe... tidak ada yang mampu menjawab.

Syukurlah, cuaca makin cerah. Kilauan bintang kian menambah indah suasana padang golf terkenal di Jawa Timur itu. Pukul 21.35 KLA Project and Friends sudah siap di atas panggung. Diawali intro kibod Ari Adrian yang aneh, Katon membuka konser dengan Hey... lagu tentang radio itu.

Nuansa tekno dan big band sangat terasa dalam aransemen lagu-lagu panggung KLA Project. Sangat beda dengan lagu-lagu KLA versi kaset atau CD/VCD. Sentuhan jazz ada tapi sangat sedikit. KLA tetaplah KLA yang dikenal sebagai pengusung pop kreatif era 90an (istilah media saat itu).

Kemudian meluncur lagu Menjemput Impian, Lihatlah, Kau Coba Sembunyi, Semoga, Terpurukku di Sini, Nada Indah, Tak Bisa ke Lain Hati, Jogjakarta, dan Tentang Kita.

Semua lagu diaransemen ulang, dipermak habis ala big band dengan seksi tiup yang ramai. Ari Kurniawan diberi sisi ruang yang lebar untuk mengisi saksofon. Kemudian dua peniup trompet yang oke punya.

Dua gadis penyanyi latar ikut memberi energi kepada Katon yang vokalnya tidak sebening dan setinggi dulu. Suara Katon terasa makin tebal. Mulai kesulitan di nada tinggi. Teknik falsetto-nya tak lagi mulus. Tapi itu semua tenggelam oleh big band yang ciamik. Sound system yang bagus membuat konser KLA Project ini layak diapresiasi. Katon Lilo Adi berhasil membasuh kegundahan penonton yang sempat menunggu lama.

Suasana kian meriah ketika Lilo sang gitaris gondrong itu mengumumkan bahwa Adi sedang berulang tahun. Lalu semua orang bernyanyi Happy Birthday Adi... "Jangan tanya ulang tahun yang keberapa," ujar Lilo disambut tepuk tangan penonton.

Pak Bupati dan beberapa pejabat naik ke atas panggung untuk mengucapkan selamat hari jadi Lilo dan KLA. Sebab ulang tahun KLA dan Lilo hanya selisih satu hari. Kadonya kaos khas Kabupaten Pasuruan serta buku potensi pariwisata.

"Konser jazz ini untuk mengangkat potensi wisata di Tretes dan Kabupaten Pasuruan umumnya. Kami ingin menjadikan Tretes sebagai tempat wisata keluarga," kata Bupati Irsyad.

Katon Bagaskara pun mengaku tersanjung karena KLA diundang manggung di Jazz Tretes. Inilah pertama kali KLA manggung di Kabupaten Pasuruan. "Suasana di sini luar biasa. Jujur aja saya dapat inspirasi untuk menulis lagu baru setelah datang ke sini," kata Katon.

Saya pun pulang dengan puas. Penampilan KLA ternyata jauh di atas bayangan saya. Di usia trio KLA yang tak lagi muda, di tengah industri musik yang banjir band-band baru, dengan dominasi artis U-25, KLA Project ternyata masih luar biasa.

Di tengah jalan, di antara rimbun pepohonan, saya pun bersenandung:

"Lupakanlah problema...
anggap saja tiada..."

2 comments:

  1. itu yg ultah adi apa lilo, bang??kok "gak konsisten"? hahaha..

    ReplyDelete
  2. Lilo ulang tahun sabtu, KLA ulang tahun minggu. Selisihnya cuma satu hari. Makanya setelah rayakan HUT-nya si Lilo, disusul hari jadi KLA yg selisihnya cuma dua jam aja. Maaf atas ketidakkonsistenan ini.

    ReplyDelete