28 October 2016

Hore!!! Jessica tidak divonis mati

Syukurlah, Jessica tidak divonis mati! Cukup 20 tahun penjara. Majelis hakim rupanya sepakat 100 persen dengan argumentasi jaksa. Bahkan hakim sedikit lebih jaksa ketimbang jaksanya.

Sebaliknya, pembelaan Jessica yang berurai air mata sama sekali tidak laku. Masuk kotak sampah. Begitu juga pledoi advokat Otto Hasibuan yang 4000 halaman juga tidak laku. Sama sekali tidak direken hakim. Alias sampah juga.

Kalau mengacu pada pertimbangan majelis hakim dan jaksa, vonis 20 tahun itu sangat ringan untuk pembunuhan berencana. Mestinya hukuman mati. Paling sial seumur hidup. Tapi kok cuma 20 tahun? Konon ada pembicaraan sebelumnya dengan pihak Australia. Agar pengadilan Indonesia tidak menjatuhkan hukuman mati untuk Jessica.

Australia intervensi hukum Indonesia? Bisa jadi. Tapi apa pun saya kira pengadilan Jessica ini bisa jadi momentum untuk memperbaiki alias reformasi hukum pidana kita. Khususnya hukuman mati. Kalau bisa sih jangan lagi ada vonis mati!

Kalau cuma Jessica thok yang tidak divonis mati, di mana keadilan di Indonesia? Sementara banyak terdakwa lain, yang pasal KUHP-nya sama, pembunuhan berencana, harus dihukum mati. Kemudian dieksekusi. Mestinya tidak ada diskriminasi di pengadilan.

Dengan divonis 20 tahun, bukan vonis mati, ada ruang yang lebar untuk mengoreksi vonis itu. Sebab bisa jadi pembunuh Mirna itu bukan Jessica seperti versi pengacara dan Jessica sendiri. Kita yakin Tuhan sendiri yang akan menunjukkan keadilan yang sesungguhnya. Termasuk menunjukkan sang peracun Mirna Salihin itu.

Melihat drama di pengadilan yang demikian panjang, saya sendiri tidak terlalu yakin Jessica sejahat itu. Nona manis ini tetap merasa tidak bersalah hingga usai vonis 20 tahun. Ini sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah terjadi di pengadilan-pengadilan kita.

Yang umum itu tersangka di kepolisian, kemudian terdakwa di pengadilan, mengaku bersalah, menyesal, minta maaf, mohon hukuman seringan-ringannya. "Kok Jessica tidak menyesali perbuatannya?" tanya Pak Hakim. 
Lha, bagaimana mau menyesal dan minta maaf kalau Jessica benar-benar tidak melakukan perbuatan memasukkan racun sianida itu? Apalagi saksi-saksi fakta tidak ada. Rekaman CCTV pun tak jelas. Sidang selama 30 kali hanya mendengar pendapat para pakar yang lebih banyak spekulasi dan penuh interpretasi.

Pelajaran lain dari sidang Jessica: pengacara atau penasihat hukum ternyata tidak ada gunanya di ruang pengadilan! Pembelaan 4000 halaman, pernyataan menggebu-gebu di televisi tak lebih dari tong kosong!

2 comments:

  1. Maaf, Pak Lambertus. Nada artikel ini tidak cocok. Menurut saya ada ketidakadilan yang luar biasa. Majelis hakim mengadili dengan dasar emosi bukan fakta. Fakta ialah tingkat racun arsenik yang dituduhkan hanya kecil sekali ada di perut korban, dan keluarga menolak otopsi. Tidak ada bukti langsung sama sekali, yang ada hanyalah pernyataan-pernyataan, pendapat-pendapat, rekaman CCTV yang tidak jelas. Pengadilan kok lebih lucu daripada dagelan Srimulat.

    Selain itu, analogi peribahasa yang lebih tepat ialah: Anjing menggonggong, kafilah berlalu. Jika tong kosong nyaring bunyinya, seakan-akan pembelaan itu tidak berdasar (kosong), padahal logikanya ada. Hanya, majelis hakim tidak sudi menggunakan otak mereka, hanya menggunakan emosi. Sedangkan kalau mengadili koruptor, mereka tidak menggunakan emosi kasihan thd rakyat yang uangnya sudah dicuri.

    ReplyDelete
  2. Sepakat dan sepaham. Tulisan ini pake gaya ironi. Sejak awal saya melihat sidang jessica ini sangat janggal karena tidak ada saksi fakta, CCTV pun tidak meyakinkan. Bukti2 kuat bahwa jessica memasukkan racun sianida ke kopi juga gak ada. Maka majelis hakim tidak bisa menjatuhkan hukuman 20 tahun dengan bangunan argumentasi seperti kemarin.

    Kalau bukti2 tidak kuat ya terdakwa harus dibebaskan. Kemudian polisi harus kerja keras untuk menemukan pelaku sesungguhnya atau penyebab matinya mirna. Vonis 20 tahun ini juga belum final karena masih ada banding ke PT dan MA. Kemudian ada peninjauan kembali.

    Waktu juga yang akan menjawab. Semoga dalam waktu dekat ketemu penyebab kematian sebenarnya.

    Saya juga angkat pembelaan advokat 4000 halaman yg tidak direken majelis hakim sebagai ironi. Kalo gini caranya ya bubarkan saja penasihan hukum. Mahal2 bayar pengacara tapi gak ngefek blassss....

    ReplyDelete