29 October 2016

Dahlan Iskan ditahan! Kajati Jatim kebablasan!

Sulit dipercaya Kajati Jatim Maruli Hutagalung melakukan tindakan hukum seekstrem ini. Menahan Dahlan Iskan di Rutan Medaeng Sidoarjo. Pak Dahlan dirut PT Panca Wirausaha (perusahaan daerah milik Pemprov Jatim) dituduh korupsi.

Korupsi apa? Puluhan perusahaan plat merah yang sangat parah itu justru diselamatkan DI. Sebagai pengusaha berpengalaman, DI melakukan restrukturisasi. Agar aset-aset mati itu hidup lagi. Kebijakan korporasi ala DI ini justru dipuji berbagai kalangan di Jatim. Parlemen pun ikut mendukung.

Betapa tidak. Perusahaan-perusahan daerah itu terbukti bisa cetak laba. Dari aset yang cuma Rp 63 miliar menjadi Rp 250 miliar. Naik empat kali lipat.

Bukannya diapresiasi, apalagi DI bekerja 10 tahun sebagai dirut PWU tanpa digaji, mantan menteri BUMN ini malah dijadikan tersangka. Kemudian dijebloskan ke penjara kemarin malam.

Rabu pagi, ketika Pak Bos diperiksa kali kelima di Kejati Jatim, tetangganya Graha Pena markas Jawa Pos, feeling saya sudah gak enak. Kalau sampai diperiksa lima kali, dengan materi yang diulang-ulang, biasanya ada apa-apa....

"Yo opo iki Pak Bos... kok diginikan sama jaksa," bisik saya kepada teman saat rapat di Kembang Jepun Surabaya. Ruang yang pada medio 80an dipakai Pak Bos (Dahlan Iskan) untuk membereskan koran lama Jawa Pos yang saat itu beroplah kecil dan merugi.

Saya pun tidak konsentrasi lagi menyimak materi rapat. Pencet terus beberapa laman berita online. Tak ada perkembangan. Kemudian televisi bikin siaran langsung vonis Jessica. Penjara 20 tahun!

Breaking news! Dahlan Iskan ditetapkan sebagai tersangka! Lima menit kemudian : Dahlan Iskan ditahan di Rutan Medaeng!

Oh Tuhan....

Bahwa Dahlan Iskan bakal jadi tersangka sudah bisa ditebak. Tapi ditahan di rutan? Ini yang benar-benar di luar dugaan hampir semua orang yang mengetahui riwayat kesehatan Dahlan Iskan. Cerita panjang lebar nan mencekam sudah ditulis Pak Bos, maestro features, di buku Ganti Hati dan Hati Baru yang laris manis itu.

Singkat cerita, Dahlan Iskan menjalani operasi transplantasi liver di Tianjin Tiongkok pada Agustus 2007. Sejak itu beliau wajib menjaga diet, olahraga, rutin minum obat-obatan sekian macam sekian kali sehari. Harus tepat waktu. Lingkungan kerja dan tempat tinggalnya pun harus sangat steril.

Pak Maruli dan para jaksa tentu sudah tahu kondisi Pak Dahlan. Apalagi ada surat resmi dari Dr Sun Xiaoye dari rumah sakit di Tianjin tentang kondisi kesehatan Dahlan Iskan. Intinya, nyawa Pak Dahlan terancam jika berada di dalam penjara.

Apalagi, kita tahu, Rutan Medaeng ini sejak dulu kelebihan penghuni. Sekitar 2000 orang. Padahal idealnya di bawah 1000 tahanan. Bisa dibayangkan seorang Dahlan Iskan yang hidup dengan liver cangkokan harus tinggal dalam penjara macam ini.

Betul kalau di Medaeng ada poliklinik. Ada dokter, perawat dsb. Tapi kapasitasnya tidak dirancang untuk menangani orang dengan rekam medik seperti Dahlan Iskan. Bahkan rumah sakit terbaik di Indonesia pun belum tentu adekuat. Makanya Pak Dahlan harus rutin kontrol ke Tiongkok.

Sungguh tega pihak kejaksaan, khususnya Pak Maruli, menjebloskan Pak Dahlan ke penjara di Medaeng Sidoarjo. Surat dokter dari Tiongkok itu sebenarnya sudah sangat cukup untuk "menahan" Dahlan Iskan di luar penjara. Menahan pasien ganti hati di dalam penjara sama dengan melanggar hak asasi manusia (HAM) karena terkait kelangsungan hidup manusia yang bermartabat.

Biarlah proses hukum tetap berjalan karena Pak Dahlan tak akan melarikan diri. Juga tidak mungkin mengulangi perbuatan dan menghilangkan barang bukti. Sebab kasus ini sudah berlalu 14 tahun....

Kita berharap Pak Kajati Maruli Hutagalung masih punya hati demi kesehatan Pak Dahlan Iskan. Terlalu mahal risikonya! Kita juga percaya Tuhan melindungi Pak Dahlan yang selalu bilang ingin memaksimalkan umur untuk berbuat baik sebanyak mungkin untuk bangsa dan negara yang dicintainya.

No comments:

Post a Comment