03 October 2016

Bahasa Indonesia Bukan Bahasa Melayu

Sepasang REMAJA jatuh cinta
Di bawah asuhan dewi asmara...

Lagu lawas milik Koes Plus ini sering dinyanyikan Pak Bambang, pelukis senior Sidoarjo, almarhum, di kafe. Lagunya memang enak dan pernah sangat ngetop di era 1970an dan 80an.

Namanya sepasang remaja tentu laki-laki dan perempuan. Pasti bukan pasangan sejenis. Namun kolom bahasa Damiri Mahmud, esais dan penyair asal Medan, di Kompas akhir pekan lalu membuat saya galau. Ada informasi yang selama ini tidak saya ketahui.

Damiri Mahmud orang Melayu. Bahasa ibunya bahasa Melayu. Berbeda dengan kita yang bukan Melayu, orang Melayu Sumatera atau Malaysia punya kosa kata yang jauh lebih kaya. Mereka juga tahu benar makna kata asal bahasa Melayu sebelum jadi bahasa Indonesia.

Karena itu, sejak dulu saya menaruh minat khusus pada tulisan-tulisan pemerhati bahasa atau pujangga Melayu. Termasuk Damiri Mahmud yang juga dikenal di Malaysia dan Singapura.

Kembali ke REMAJA. Menurut dia, kata remaja itu feminin atau khas wanita. Kalau laki-laki tidak bisa dipakai remaja, tapi BELIA. Karena itu, Damiri memprotes istilah remaja putri yang lazim digunakan di media massa atau masyarakat. Hiperkorek, katanya. Sebab remaja, dalam benak orang Melayu, sudah tentu perempuan.

Bagaimana dengan remaja putra atau remaja laki-laki? Bung Damiri pasti geleng-geleng kepala karena aneh. Remaja kok laki-laki-laki?

Saya kemudian membuka kamus besar bahasa Indonesia (KBBI). Penjelasan tentang REMAJA:

re·ma·ja 1 a mulai dewasa; sudah sampai umur untuk kawin: ia sekarang sudah -- , bukan kanak-kanak lagi; 2 a muda: pengantin perempuannya masih -- benar; 3 n pemuda: Pemerintah mendirikan gelanggang -- untuk sarana kegiatan olahraga;
-- kencur ki remaja yg belum cukup umur.

BELIA:
be·lia a muda sekali; remaja
ke·be·li·a·an n perihal belia; keadaan yg masih remaja.

Begitulah. Bahasa Indonesia memang aslinya bahasa Melayu tapi sudah mengalami perkembangan yang luar biasa. Ada sejumlah kata Melayu yang bergeser maknanya seperti REMAJA atau BELIA. Kedua kata ini dianggap netral untuk bahasa Indonesia meskipun orang Melayu menganggapnya berjenis kelamin.

Apakah maknanya perlu dikembalikan ke konsep asal bahasa Melayu? Saya rasa sangat sulit karena sudah menjadi lema yang diterima masyarakat Indonesia secara luas. Tentu saja tidak mengabaikan keberatan dan kritik Damiri dkk. Apalagi penggunaan remaja dan belia yang tidak membedakan pria vs wanita ini sudah berlangsung selama puluhan tahun.

Masih banyak contoh kata-kata bahasa Melayu yang ternyata bergeser maknanya dalam bahasa Indonesia. Kata KAKAK dalam Melayu hanya untuk perempuan seperti Kak Ros. Sedangkan laki-laki dipakai ABANG. Sedangkan dalam bahasa Indonesia, kata KAKAK bisa dipakai untuk perempuan dan laki-laki. Kata ABANG untungnya hanya dipakai untuk laki-laki.

Ini sekali lagi membuktikan bahwa bahasa Indonesia memang berbeda dengan bahasa Melayu. Apalagi bahasa Malaysia. Karena itulah, bisa dimengerti bahwa film anak-anak Upin dan Ipin dari Malaysia pun diberi teks terjemahan bahasa Indonesia. Kalau dibiarkan apa adanya, tanpa terjemahan, orang Indonesia pasti bingung. Kecuali orang-orang Melayu di Sumatera yang bahasa ibunya memang bahasa Melayu.

1 comment:

  1. Bahasa Indonesia itu memang tidak 100% Bahasa Melayu, Bung Hurek, tetapi si-mboknya ya Bahasa Melayu. Memang ada perbezaan, eh, perbedaan, tetapi tidak sedalam perbedaan antara Bahasa Mandarin dan Bahasa Kanton, misalnya. Kedua bahasa itu mutually intelligible, artinya dapat dimengerti oleh penutur masing-masing, tanpa banyak mengeluarkan energi otak (mental effort). Mirip dengan Bahasa Norwegia dan Bahasa Swedia, dua-duanya sama-sama bahasa Skandinavia, tetapi ada perbedaannya; atau antara Bahasa Belanda di Nederlands dan Bahasa Flemish yang di Belgia.

    Memang tidak sedekat Bahasa Inggris Amerika dan Bahasa Inggris asli Britania yang 99.99% sama sehingga banyak aktor Inggris yang bekerja di Hollywood. Kuncinya untuk mengecilkan perbedaan itu ialah jika kebudayaan ke-2 negara itu sama, dalam arti mengkonsumsi media yang sama, baik lagu, koran, televisi, cerita, dll. seperti orang Inggris dan orang Amerika. Tetapi tidak demikian rupanya. Negara Indonesia terlalu kaya dengan budaya lokal, dan begitu terbuka menyerap pengaruh budaya lokal tsb, plus India, Cina, Amerika, dll. sehingga bahasa kita berkembang pesat. Sedangkan Bahasa Melayu di tanah asalnya di-identikkan dengan bumiputera, keraton, dan Islam, sehingga Orang Dayak, Orang Cina, dan Orang Tamil di sana tidak sudi menggunakan bahasa itu dalam keseharian mereka. Bandingkan dengan Bahasa Indonesia yang malah menggerus penuturan bahasa ibu di kalangan kaum Arab, tenglang Tionghoa, wong Jawa Timur, dll.

    Lama-lama, orang Melayu di sana pun akan menggunakan Bahasa Indonesia, lalu mengklaim, lho Bahasa Indonesia itu milik orang Malaysia, hahaha.

    ReplyDelete