24 October 2016

Ave Verum di Gereja Katolik Pandaan

Sebelum menonton Jazz Tretes di Finna Golf Prigen, saya mampir dulu ke Gereja Katolik Pandaan, Kabupaten Pasuruan, untuk misa malam Minggu. Sebab tidak mungkin misa hari Minggu. Sudah lama saya memang jadi jemaat setia misa malam Minggu yang liturginya sama dengan misa hari Minggu.

Wow, rupanya frater-frater dari Malang yang jadi paduan suara. Para calon pastor ini rupanya sedang keliling gereja-gereja di Keuskupan Malang untuk cari dana pertemuan para frater praja se-Jawa. Suasana gereja tua di pinggir jalan itu pun jadi meriah.

Para frater rupanya sengaja mencari lagu ordinarium yang sulit: Misa Kita IV. Biasanya ordinarium ini hanya dibawakan kor-kor yang terlatih. Kor-kor biasa yang jarang latihan dipastikan kewalahan membawakan lagu misa karya Romo Sutanto SJ ini.

Kor para frater interdiosesan yang bermarkas di dekat sekolahan Cor Jesu Malang itu lumayan enak. Kor sejenis putra. Sangat jarang kita mendengar paduan suara sejenis putra yang cuma tenor dan bas aja. Yang lazim di gereja ya SATB: sopran, alto, tenor, bas.

Para frater yang muda-muda itu bernyanyi dengan semangat. Mungkin terpengaruh oleh dirigennya yang memang antusias. Umat Katolik di Pandaan pun ikut bersemangat. Beda dengan misa mingguan biasa yang kornya sering kurang bergairah.

Salah satu lagu yang berkesan di hati saya adalah Ave Verum karya Mozart. Lagu komuni ini selalu membekas karena dulu sering kami nyanyikan di Paroki Jember yang juga masuk Keuskupan Malang. Saat lomba paduan suara di Malang, saat saya masih mahasiswa, lagu syahdu ini jadi lagu wajib.

Awalnya saya tidak tahu di mana letak keindahan lagu klasik itu. Aneh! Banyak nada-nada miring atau kromatis. Dinamika pun banyak. Crescendo... decresendo.. pp... ppp.. f.. ff...fff... Pelajaran seni suara di SD dan SMP benar-benar diterapkan di Ave Verum Corpus...

Dulu saya hanya geleng-geleng kepala melihat Pak Harjo, mantan rohaniwan yang pelatih paduan suara di Paroki Jember, berkali-berkali-kali melatih dinamika halus kasar dsb. Begitu lirihnya pp, nada-nada nyaris tidak kedengaran. Seperti orang berbisik. Lagu beliau pelan-pelan menaikkan suara hingga fff...

Makin sering lagu klasik dinyanyikan rasanya makin enak. Kita akhirnya menemukan kenikmatan komposisi Mozart itu. Dan tidak akan lupa seumur hidup. Itulah yang saya alami dengan Ave Verum. Sampai sekarang saya masih hafal dengan baik syair dan musiknya. Termasuk intro dan ekstro (coda).

Nah, kor Ave Verum dari para frater yang masih kuliah di STFT Widya Sasana Malang itu menurut saya agak lemah di dinamika. Permainan crescendo, decresendo, ppp, pp, f, ff, fff.. hampir tidak terasa. Mungkin karena bukan lomba atau festival.

Memang ada kebiasaan buruk di kalangan paduan suara gereja: berlatih sangat intensif hanya kalau akan mengikuti lomba. Padahal di buku-buku nyanyian liturgi selalu ada kutipan: Qui bene cantat bis orat! Siapa yang bernyanyi dengan baik nilainya sama dengan berdoa dua kali!

Mboten nopo-nopo. Yang pasti, kor para frater malam itu telah memberi kesan mendalam di hati saya. Mengingatkan masa kuliah, masa mengenal kor beneran, sekaligus apresiasi komposisi hebat WA Mozart.

Terima kasih mas-mas frater! Semoga semuanya bisa jadi romo yang baik!

No comments:

Post a Comment