03 October 2016

Antusiasme Bola dan Degradasi Kuantitas

Ngopi dan baca koran itu asyik. Ritual rutin setiap pagi. Meskipun berita-berita di koran sudah muncul di internet kemarin, informasi di surat kabar tetap punya nilai lebih. Setidaknya bagi saya.

Seperti biasa, saya selalu mulai membaca halaman olahraga. Sepak bola Eropa! Aha.. ada berita kecil tentang berkurangnya penggemar Liga Italia di Italia. Sebab pemain-pemain top dunia makin jarang bermain di Italia. Tinggal Higuan yang sejatinya bukanlah super star sekelas Ronaldo atau Messi.

Di tubuh berita hasil terjemahan itu ada kalimat yang menggelitik. Begini bunyinya: "Meski antusiasme sepak bola di negara pimpinan Presiden Mattarella itu mengalami degradasi kuantitas...."

Hebat nian kata-kata serapan yang canggih itu. ANTUSIASME SEPAK BOLA. Siapa yang antusias? Mestinya masyarakat atau penonton. Masyarakat antusias menonton sepak bola. Sepak bola atau bola basket atau badminton atau futsal adalah permainan biasa.

Yang lebih hebat lagi ini: MENGALAMI DEGRADASI KUANTITAS.

Tidak salah sih ungkapan itu. Tapi saya selalu ingat pesan almarhum Rosihan Anwar, wartawan kawakan, mahaguru para wartawan di Indonesia. Bahwa bahasa jurnalistik itu hendaknya sederhana, singkat, tidak bergelemak peak.

Pesan lama yang sering diulang dalam pelatihan redaktur itu rupanya mulai diabaikan para jurnalis muda. Mereka makin gandrung menggunakan kata-kata besar, big words, plus gado-gado English dalam tubuh berita. Padahal bahasa Indonesia punya kosa kata yang sangat cukup.

DEGRADASI KUANTITAS sebetulnya bisa diganti dengan TURUN atau BERKURANG. Singkat, padat, jelas, sederhana. Orang-orang kampung rasanya sulit memahami DEGRADASI KUANTITAS atau AKSELERASI MODERNISASI atau INTERVENSI KULTURAL dan sejenisnya.

Anak kalimat di berita sepak bola Italia tadi bisa diubah menjadi "meski penonton sepak bola turun"..

Ah, jadi ingat buku Bahasa Jurnalistik karangan Rosihan Anwar yang sudah saya hibahkan ke salah satu organisasi mahasiswa di Surabaya. Selamat pagi!

3 comments:

  1. Bgmn dengan antusiasme pengunjung ke blog anda, apakah juga mengalami degradasi kuantitas? Wkwkwkwk.

    ReplyDelete
  2. Hehe... Ada degradasi kuantitas dan kualitas yg signifikan karena influence sosmed dan lifestyle yg berubah. Tapi visitasi yg terlacak di google masih signifikan di atas rata2. Overall ada dinamika up n down.. seperti itulah. Terima kasih atas antusiasme sampean yg masih mau berkunjung dan menulis komentar. Suwun.

    ReplyDelete
  3. Bung, di jaman dulu sahabat yg berjauhan berkorespondensi dengan surat, lalu bertahun-tahun kemudian korespondensi mereka dipublikasikan untuk umum. Begitulah saya memandang blog ini. Dengan e-mail tidak bisa berpantang kata. Dengan blog kita bisa bertukar pikiran dan langsung dipublikasi untuk umum agar mereka yang tertarik bisa langsung berkomentar.

    ReplyDelete