29 October 2016

Senjakala Blog di Hari Blogger Nasional

Saya baru tahu kalau di Indonesia ada hari blogger nasional. Diperingati setiap 27 Oktober. Tahun ini sudah jalan sembilan tahun. Wow, ternyata blogging masih ada di Indonesia yang makin gandrung media sosial ini.

Ketika masih baru (seperti semua barang baru), blogging memang luar biasa bergairah di tanah air. Mulai artis, guru, orang biasa, pedagang, pelajar, hingga petani dan nelayan bikin blog. Komunitas blogger sempat ramai di berbagai kota.

Di Surabaya, dulu, arek-arek blogger biasa berkumpul, diskusi, nulis bareng di Taman Bungkul. Masih pakai laptop yang besar. Belum ada netbook. Smarphone belum terbayang. Di Sidoarjo kumpulnya di alun-alun. Bahkan Sidoarjo pernah jadi tuan rumah kongres blogger. Ramai banget!

Tapi teknologi informasi berkembang dan berubah begitu cepat. Revolusi itu datang lewat smartphone. HP yang bisa nyambung internet. Media sosial makin bergairah. Muncul micro blogging dengan twitter dan sejenisnya. Facebook makin booming karena telepon pintar tadi.

Lalu, blogging pun menjadi cerita lawas. Barang antik. Teman-teman yang dulu rajin blogging hijrah ke medsos. Tulisan pendek, status informal, langsung disambut komentar berjubel di social media. Beda dengan blog yang makin kehilangan pembaca dan komentator.

Maka blogger kawakan AH, yang dulu mengajari wartawan-wartawan muda belajar blogging, pun tak lagi rajin menulis di blognya yang dulu jadi rujukan banyak orang Indonesia. Selain sibuk dengan urusan lain, AH lebih banyak diskusi di media sosial. Blognya mangkrak.

Inikah senja kala blog? Bisa jadi benar tapi bisa salah. Sebab media sosial sebagus apa pun tidak bisa menggantikan tulisan panjang ala blog. Meskipun di Facebook pun ada fasilitas untuk blogging.

Masih relevankah blog di era serba medsos? Masih perlukah hari blogger nasional? Yang pasti, komunitas-komunitas blogger di banyak kota sudah lama bubar jalan.

Selamat hari blogger nasional?


Sent from my BlackBerry

Dahlan Iskan ditahan! Kajati Jatim kebablasan!

Sulit dipercaya Kajati Jatim Maruli Hutagalung melakukan tindakan hukum seekstrem ini. Menahan Dahlan Iskan di Rutan Medaeng Sidoarjo. Pak Dahlan dirut PT Panca Wirausaha (perusahaan daerah milik Pemprov Jatim) dituduh korupsi.

Korupsi apa? Puluhan perusahaan plat merah yang sangat parah itu justru diselamatkan DI. Sebagai pengusaha berpengalaman, DI melakukan restrukturisasi. Agar aset-aset mati itu hidup lagi. Kebijakan korporasi ala DI ini justru dipuji berbagai kalangan di Jatim. Parlemen pun ikut mendukung.

Betapa tidak. Perusahaan-perusahan daerah itu terbukti bisa cetak laba. Dari aset yang cuma Rp 63 miliar menjadi Rp 250 miliar. Naik empat kali lipat.

Bukannya diapresiasi, apalagi DI bekerja 10 tahun sebagai dirut PWU tanpa digaji, mantan menteri BUMN ini malah dijadikan tersangka. Kemudian dijebloskan ke penjara kemarin malam.

Rabu pagi, ketika Pak Bos diperiksa kali kelima di Kejati Jatim, tetangganya Graha Pena markas Jawa Pos, feeling saya sudah gak enak. Kalau sampai diperiksa lima kali, dengan materi yang diulang-ulang, biasanya ada apa-apa....

"Yo opo iki Pak Bos... kok diginikan sama jaksa," bisik saya kepada teman saat rapat di Kembang Jepun Surabaya. Ruang yang pada medio 80an dipakai Pak Bos (Dahlan Iskan) untuk membereskan koran lama Jawa Pos yang saat itu beroplah kecil dan merugi.

Saya pun tidak konsentrasi lagi menyimak materi rapat. Pencet terus beberapa laman berita online. Tak ada perkembangan. Kemudian televisi bikin siaran langsung vonis Jessica. Penjara 20 tahun!

Breaking news! Dahlan Iskan ditetapkan sebagai tersangka! Lima menit kemudian : Dahlan Iskan ditahan di Rutan Medaeng!

Oh Tuhan....

Bahwa Dahlan Iskan bakal jadi tersangka sudah bisa ditebak. Tapi ditahan di rutan? Ini yang benar-benar di luar dugaan hampir semua orang yang mengetahui riwayat kesehatan Dahlan Iskan. Cerita panjang lebar nan mencekam sudah ditulis Pak Bos, maestro features, di buku Ganti Hati dan Hati Baru yang laris manis itu.

Singkat cerita, Dahlan Iskan menjalani operasi transplantasi liver di Tianjin Tiongkok pada Agustus 2007. Sejak itu beliau wajib menjaga diet, olahraga, rutin minum obat-obatan sekian macam sekian kali sehari. Harus tepat waktu. Lingkungan kerja dan tempat tinggalnya pun harus sangat steril.

Pak Maruli dan para jaksa tentu sudah tahu kondisi Pak Dahlan. Apalagi ada surat resmi dari Dr Sun Xiaoye dari rumah sakit di Tianjin tentang kondisi kesehatan Dahlan Iskan. Intinya, nyawa Pak Dahlan terancam jika berada di dalam penjara.

Apalagi, kita tahu, Rutan Medaeng ini sejak dulu kelebihan penghuni. Sekitar 2000 orang. Padahal idealnya di bawah 1000 tahanan. Bisa dibayangkan seorang Dahlan Iskan yang hidup dengan liver cangkokan harus tinggal dalam penjara macam ini.

Betul kalau di Medaeng ada poliklinik. Ada dokter, perawat dsb. Tapi kapasitasnya tidak dirancang untuk menangani orang dengan rekam medik seperti Dahlan Iskan. Bahkan rumah sakit terbaik di Indonesia pun belum tentu adekuat. Makanya Pak Dahlan harus rutin kontrol ke Tiongkok.

Sungguh tega pihak kejaksaan, khususnya Pak Maruli, menjebloskan Pak Dahlan ke penjara di Medaeng Sidoarjo. Surat dokter dari Tiongkok itu sebenarnya sudah sangat cukup untuk "menahan" Dahlan Iskan di luar penjara. Menahan pasien ganti hati di dalam penjara sama dengan melanggar hak asasi manusia (HAM) karena terkait kelangsungan hidup manusia yang bermartabat.

Biarlah proses hukum tetap berjalan karena Pak Dahlan tak akan melarikan diri. Juga tidak mungkin mengulangi perbuatan dan menghilangkan barang bukti. Sebab kasus ini sudah berlalu 14 tahun....

Kita berharap Pak Kajati Maruli Hutagalung masih punya hati demi kesehatan Pak Dahlan Iskan. Terlalu mahal risikonya! Kita juga percaya Tuhan melindungi Pak Dahlan yang selalu bilang ingin memaksimalkan umur untuk berbuat baik sebanyak mungkin untuk bangsa dan negara yang dicintainya.

28 October 2016

Hore!!! Jessica tidak divonis mati

Syukurlah, Jessica tidak divonis mati! Cukup 20 tahun penjara. Majelis hakim rupanya sepakat 100 persen dengan argumentasi jaksa. Bahkan hakim sedikit lebih jaksa ketimbang jaksanya.

Sebaliknya, pembelaan Jessica yang berurai air mata sama sekali tidak laku. Masuk kotak sampah. Begitu juga pledoi advokat Otto Hasibuan yang 4000 halaman juga tidak laku. Sama sekali tidak direken hakim. Alias sampah juga.

Kalau mengacu pada pertimbangan majelis hakim dan jaksa, vonis 20 tahun itu sangat ringan untuk pembunuhan berencana. Mestinya hukuman mati. Paling sial seumur hidup. Tapi kok cuma 20 tahun? Konon ada pembicaraan sebelumnya dengan pihak Australia. Agar pengadilan Indonesia tidak menjatuhkan hukuman mati untuk Jessica.

Australia intervensi hukum Indonesia? Bisa jadi. Tapi apa pun saya kira pengadilan Jessica ini bisa jadi momentum untuk memperbaiki alias reformasi hukum pidana kita. Khususnya hukuman mati. Kalau bisa sih jangan lagi ada vonis mati!

Kalau cuma Jessica thok yang tidak divonis mati, di mana keadilan di Indonesia? Sementara banyak terdakwa lain, yang pasal KUHP-nya sama, pembunuhan berencana, harus dihukum mati. Kemudian dieksekusi. Mestinya tidak ada diskriminasi di pengadilan.

Dengan divonis 20 tahun, bukan vonis mati, ada ruang yang lebar untuk mengoreksi vonis itu. Sebab bisa jadi pembunuh Mirna itu bukan Jessica seperti versi pengacara dan Jessica sendiri. Kita yakin Tuhan sendiri yang akan menunjukkan keadilan yang sesungguhnya. Termasuk menunjukkan sang peracun Mirna Salihin itu.

Melihat drama di pengadilan yang demikian panjang, saya sendiri tidak terlalu yakin Jessica sejahat itu. Nona manis ini tetap merasa tidak bersalah hingga usai vonis 20 tahun. Ini sangat jarang, bahkan hampir tidak pernah terjadi di pengadilan-pengadilan kita.

Yang umum itu tersangka di kepolisian, kemudian terdakwa di pengadilan, mengaku bersalah, menyesal, minta maaf, mohon hukuman seringan-ringannya. "Kok Jessica tidak menyesali perbuatannya?" tanya Pak Hakim. 
Lha, bagaimana mau menyesal dan minta maaf kalau Jessica benar-benar tidak melakukan perbuatan memasukkan racun sianida itu? Apalagi saksi-saksi fakta tidak ada. Rekaman CCTV pun tak jelas. Sidang selama 30 kali hanya mendengar pendapat para pakar yang lebih banyak spekulasi dan penuh interpretasi.

Pelajaran lain dari sidang Jessica: pengacara atau penasihat hukum ternyata tidak ada gunanya di ruang pengadilan! Pembelaan 4000 halaman, pernyataan menggebu-gebu di televisi tak lebih dari tong kosong!

24 October 2016

KLA Project Bintang Jazz Tretes


Jazz Tretes 2016 di Finna Golf Pandaan, Kabupaten Pasuruan, Sabtu malam (22 Oktober 2016), sukses karena tidak hujan. Saya tak bisa membayangkan tiba-tiba hujan meski gerimis di padang golf yang indah milik Sekar Laut Group itu. Dijamin buyar karena konser digelar di alam terbuka.

Semua penonton dari kelas festival Rp 15 ribu hingga VVIP yang Rp 1 juta berhak menikmati sate ayam plus lontong. Khusus VIP dan VVIP dapat es krim dan nasi punel. Saya yang cuma kelas festival cukup senang dengan sate ayam khas Pandaan itu.

Suasana konser jadi guyub dan meriah. Panggung sederhana berdiri di atas lapangan golf yang didesain mirip terasering sawah. Rumput-rumput hijau yang ciamik soro, istilah Tionghoa Surabaya yang artinya sangat sangat bagus.

Sekeliling arena Jazz Tretes cuma cahaya lampu temaram. Jauh dari keramaian karena Finna Golf ini memang sangat jauh dari permukiman penduduk. Kalau tidak ada pertunjukan macam Tretes Jazz ini, kiita tidak akan bisa masuk ke kompleks Finna. Kecuali para pemain golf amatir dan profesional.

Selepas misa di Gereja Pandaan, tidak terlalu jauh dari padang golf, saya langsung masuk ke arena konser. Petugas satpam sangat ramah, murah senyum. Tiba di lokasi sudah terdengar musik fusion dari Suropati Band anak-anak muda. Cukup rancak.

Sadar kalau undangan dan penonton jazz di Finna Golf ini orang-orang muda era 80an dan 90an, komposisi yang dimainkan pun kebanyakan khas era lama itu. Ada nomor milik Level 42 dan La Samba Primadona dari Krakatau yang vokalisnya Trie Utami itu. Bagus banget permainan band anak muda ini.

Nomor-nomor yang dihadirkan di Jazz Tretes ini memang kebanyakan fusion. Enak didengar, ngepop, tidak rumit, dengan petikan bas yang khas. Gaya yang merangsang orang untuk bergoyang. Sayang, penonton saya lihat lebih sibuk menikmati sate ayam dan es krim... tak lupa sibuk main HP... ketimbang larut dalam lagu.

Penampilan komunitas fusion makin mempertegas selera panitia. Hanya Surabaya All Stars yang masih setia dengan jazz standar. "Kami masih konsisten di jalur jazz dan blues," ujar Tri Wijayanto, gitaris sekaligus pendiri band lawas yang pernah diperkuat mendiang pianis kawakan Bubi Chen itu.

Nomor-nomor jazz ala Surabaya All Stars sangat bagus untuk apresiasi. Tri Wijayanto dkk membuktikan bahwa Surabaya pun punya pemain-pemain-pemain jazz yang tak kalah dengan orang USA. "Sekarang silakan nikmati nomor dari Duke Ellington," ujar Tri Wijayanto yang dikenal sebagai gitaris jazz sejati itu.

Para penonton masih sibuk ber-selfie dan makan sate ayam. Pejabat-pejabat macam Bupati Pasuruan Irsyad, para kepala dinas, memasuki arena konser. Gitaris Mus Mudjiono rupanya diam-diam sudah lama duduk di kursi penonton VVIP. "Kebetulan saya ada di Surabaya. Begitu dengar Jazz Tretes ya saya datang," ujarnya.

Meskipun Surabaya All Stars tampil kompak dan ciamik, hampir semua penonton sebetulnya menunggu KLA Project. Pak Bupati, pejabat-pejabat setempat, ibu-ibu muda dan tua... sudah tak sabar menyaksikan aksi Katon, Lilo, Adi. Begitu pula ratusan Klanis dari Surabaya, Sidoarjo, Pandaan dan sekitarnya.

"Saya sudah bertahun-tahun tidak lihat konser KLA secara langsung. Terakhir waktu masih mahasiswa," ujar seorang wanita manis yang ternyata istri pejabat. Lagu-lagu KLA katanya ngelangutkan jiwa. "Bikin aku tak bisa pindah ke lain hati."

Sayang, KLA Project malam itu kurang disiplin. Konser band-band aliran jazz selesai tapi Katon Lilo Adri dan para pemusik pendukung plus dua penyanyi latar tak nongol-nongol-nongol. Dua MC sudah berusaha mengisi panggung yang kosong dengan joke-joke dan aneka tebakan konyol.

"Mengapa mobil berhenti di lampu merah?"

Beberapa jawaban dinyatakan salah. Yang benar, kata mas MC, karena direm. Kalau gak direm ya gak bisa berhenti. Guyonan-guyonan macam ini lumayan menghibur penonton yang tak sabar menanti KLA.

Pak Bupati pun angkat bicara. "Saya punya pertanyaan. Yang jawab benar dapat hadiah umrah." Mbak MC dan penonton pun penasaran dengan pertanyaan Pak Bupati. "Mengapa KLA kok ndak datang-datang?" Hehe... tidak ada yang mampu menjawab.

Syukurlah, cuaca makin cerah. Kilauan bintang kian menambah indah suasana padang golf terkenal di Jawa Timur itu. Pukul 21.35 KLA Project and Friends sudah siap di atas panggung. Diawali intro kibod Ari Adrian yang aneh, Katon membuka konser dengan Hey... lagu tentang radio itu.

Nuansa tekno dan big band sangat terasa dalam aransemen lagu-lagu panggung KLA Project. Sangat beda dengan lagu-lagu KLA versi kaset atau CD/VCD. Sentuhan jazz ada tapi sangat sedikit. KLA tetaplah KLA yang dikenal sebagai pengusung pop kreatif era 90an (istilah media saat itu).

Kemudian meluncur lagu Menjemput Impian, Lihatlah, Kau Coba Sembunyi, Semoga, Terpurukku di Sini, Nada Indah, Tak Bisa ke Lain Hati, Jogjakarta, dan Tentang Kita.

Semua lagu diaransemen ulang, dipermak habis ala big band dengan seksi tiup yang ramai. Ari Kurniawan diberi sisi ruang yang lebar untuk mengisi saksofon. Kemudian dua peniup trompet yang oke punya.

Dua gadis penyanyi latar ikut memberi energi kepada Katon yang vokalnya tidak sebening dan setinggi dulu. Suara Katon terasa makin tebal. Mulai kesulitan di nada tinggi. Teknik falsetto-nya tak lagi mulus. Tapi itu semua tenggelam oleh big band yang ciamik. Sound system yang bagus membuat konser KLA Project ini layak diapresiasi. Katon Lilo Adi berhasil membasuh kegundahan penonton yang sempat menunggu lama.

Suasana kian meriah ketika Lilo sang gitaris gondrong itu mengumumkan bahwa Adi sedang berulang tahun. Lalu semua orang bernyanyi Happy Birthday Adi... "Jangan tanya ulang tahun yang keberapa," ujar Lilo disambut tepuk tangan penonton.

Pak Bupati dan beberapa pejabat naik ke atas panggung untuk mengucapkan selamat hari jadi Lilo dan KLA. Sebab ulang tahun KLA dan Lilo hanya selisih satu hari. Kadonya kaos khas Kabupaten Pasuruan serta buku potensi pariwisata.

"Konser jazz ini untuk mengangkat potensi wisata di Tretes dan Kabupaten Pasuruan umumnya. Kami ingin menjadikan Tretes sebagai tempat wisata keluarga," kata Bupati Irsyad.

Katon Bagaskara pun mengaku tersanjung karena KLA diundang manggung di Jazz Tretes. Inilah pertama kali KLA manggung di Kabupaten Pasuruan. "Suasana di sini luar biasa. Jujur aja saya dapat inspirasi untuk menulis lagu baru setelah datang ke sini," kata Katon.

Saya pun pulang dengan puas. Penampilan KLA ternyata jauh di atas bayangan saya. Di usia trio KLA yang tak lagi muda, di tengah industri musik yang banjir band-band baru, dengan dominasi artis U-25, KLA Project ternyata masih luar biasa.

Di tengah jalan, di antara rimbun pepohonan, saya pun bersenandung:

"Lupakanlah problema...
anggap saja tiada..."

Ave Verum di Gereja Katolik Pandaan

Sebelum menonton Jazz Tretes di Finna Golf Prigen, saya mampir dulu ke Gereja Katolik Pandaan, Kabupaten Pasuruan, untuk misa malam Minggu. Sebab tidak mungkin misa hari Minggu. Sudah lama saya memang jadi jemaat setia misa malam Minggu yang liturginya sama dengan misa hari Minggu.

Wow, rupanya frater-frater dari Malang yang jadi paduan suara. Para calon pastor ini rupanya sedang keliling gereja-gereja di Keuskupan Malang untuk cari dana pertemuan para frater praja se-Jawa. Suasana gereja tua di pinggir jalan itu pun jadi meriah.

Para frater rupanya sengaja mencari lagu ordinarium yang sulit: Misa Kita IV. Biasanya ordinarium ini hanya dibawakan kor-kor yang terlatih. Kor-kor biasa yang jarang latihan dipastikan kewalahan membawakan lagu misa karya Romo Sutanto SJ ini.

Kor para frater interdiosesan yang bermarkas di dekat sekolahan Cor Jesu Malang itu lumayan enak. Kor sejenis putra. Sangat jarang kita mendengar paduan suara sejenis putra yang cuma tenor dan bas aja. Yang lazim di gereja ya SATB: sopran, alto, tenor, bas.

Para frater yang muda-muda itu bernyanyi dengan semangat. Mungkin terpengaruh oleh dirigennya yang memang antusias. Umat Katolik di Pandaan pun ikut bersemangat. Beda dengan misa mingguan biasa yang kornya sering kurang bergairah.

Salah satu lagu yang berkesan di hati saya adalah Ave Verum karya Mozart. Lagu komuni ini selalu membekas karena dulu sering kami nyanyikan di Paroki Jember yang juga masuk Keuskupan Malang. Saat lomba paduan suara di Malang, saat saya masih mahasiswa, lagu syahdu ini jadi lagu wajib.

Awalnya saya tidak tahu di mana letak keindahan lagu klasik itu. Aneh! Banyak nada-nada miring atau kromatis. Dinamika pun banyak. Crescendo... decresendo.. pp... ppp.. f.. ff...fff... Pelajaran seni suara di SD dan SMP benar-benar diterapkan di Ave Verum Corpus...

Dulu saya hanya geleng-geleng kepala melihat Pak Harjo, mantan rohaniwan yang pelatih paduan suara di Paroki Jember, berkali-berkali-kali melatih dinamika halus kasar dsb. Begitu lirihnya pp, nada-nada nyaris tidak kedengaran. Seperti orang berbisik. Lagu beliau pelan-pelan menaikkan suara hingga fff...

Makin sering lagu klasik dinyanyikan rasanya makin enak. Kita akhirnya menemukan kenikmatan komposisi Mozart itu. Dan tidak akan lupa seumur hidup. Itulah yang saya alami dengan Ave Verum. Sampai sekarang saya masih hafal dengan baik syair dan musiknya. Termasuk intro dan ekstro (coda).

Nah, kor Ave Verum dari para frater yang masih kuliah di STFT Widya Sasana Malang itu menurut saya agak lemah di dinamika. Permainan crescendo, decresendo, ppp, pp, f, ff, fff.. hampir tidak terasa. Mungkin karena bukan lomba atau festival.

Memang ada kebiasaan buruk di kalangan paduan suara gereja: berlatih sangat intensif hanya kalau akan mengikuti lomba. Padahal di buku-buku nyanyian liturgi selalu ada kutipan: Qui bene cantat bis orat! Siapa yang bernyanyi dengan baik nilainya sama dengan berdoa dua kali!

Mboten nopo-nopo. Yang pasti, kor para frater malam itu telah memberi kesan mendalam di hati saya. Mengingatkan masa kuliah, masa mengenal kor beneran, sekaligus apresiasi komposisi hebat WA Mozart.

Terima kasih mas-mas frater! Semoga semuanya bisa jadi romo yang baik!

21 October 2016

Salam Shalom di Ruang Publik

"Selamat pagi Pak!"

Saya menyapa pria Tionghoa 60an tahun di Kembang Jepun Surabaya. Kawasan pecinan atawa China Town Surabaya yang terkenal itu.

"Shalooommmm.... Shalom!" teriak bapak pengusaha kuliner itu dengan suara dikeraskan.

"Selamat pagi Pak!" jawab saya yang sengaja tidak menjawab dengan Shalom juga.

Saya pun tersenyum sambil terus meninggalkan pedagang itu. Malah tertawa sendiri dalam hati. Baba Tionghoa ini ternyata pemeluk Kristen aliran karismatik yang taat. Dulu dia suka membahas ayat-ayat Alkitab dan bicara tentang kelebihan anak-anak Tuhan.

Selamat pagi kok dijawab Shalom! Hem... rupanya fanatisme bapak berkacamata ini cukup tinggi. Dia merasa lebih afdal pakai salam Shalom (yang dianggap lebih kental kristiani) ketimbang selamat pagi yang dianggap biasa saja alias sekuler.

Mirip dengan sebagian pendengar dan narasumber di Radio Suara Surabaya. Ketika sang penyiar menyapa selamat pagi atau selamag siang atau selamat malam.... dijawab "assalamualaikum" atau "walaikum salam".

Banyak orang Indonesia yang kurang sreg dengan salam yang netral. Makin lama ruang publik Indonesia tidak netral karena segala sesuatu yang berkaitan dengan agama pun dibawa-bawa. Bahkan korps kepolisian alias Polri pun akhir-akhir ini lebih suka pakai assalamualaikum ketimbang selamat pagi atau selamat malam.

Rupanya kebiasaan di kalangan muslim yang punya semangat besar dalam syiar agamanya kini merembet di kalangan nasrani. Khususnya saudara-saudari kita aliran Haleluya alias karismatik. Salam shalom pun makin sering terdengar di ruang publik. Seakan-akan shalom itu salamnya semua orang Kristen, Katolik dsb.

Padahal faktanya tidak demikian. Contoh paling nyata di Flores NTT yang mayoritas Katolik, daerah asal saya. Sejak masih SD sampai sekarang saya tidak pernah dengar ada pastor atau katekis menyampaikan shalom di gereja, gabungan (kring), atau di mana pun. Yang dipakai selalu selamat pagi, selamat tengah hari (jarang ada selamat siang), dan malam bae (selamat malam).

"Selamat pagi bapak ibu dan saudara-saudari!" sapa romo di awal perayaan ekaristi atau misa.

"Selamat pagi romo...," jawab umat agak lirih.

"Saya ulangi," kata romo dengan suara dikeraskan, "selamat pagi!!"

"Selamat pagi!" jawab umat Katolik di kampung saya lebih keras.

Rupanya pastor projo itu belum puas. Jawaban umat yang sudah jauh lebih keras itu dirasa kurang keras. Maka dia pun mengeraskan lagi suaranya. "Selamat pagi!!!!" sapanya disambut "Selamat pagiiii!!!"

Suara di gereja desa di pinggir pantai Laut Flores itu pun meriah. Hampir semua umat tertawa kecil.

Bagaimana dengan di Jawa? Maksudnya di lingkungan Gereja Katolik? Hampir sama. Kecuali mereka yang ikut PDKK alias gerakan karismatik, umat Katolik di Jawa kebanyakan mirip dengan di Flores itu.

Dan itu paling terasa ketika kita ikut misa di kampung-kampung mayoritas Katolik macam Sendangsono atau Promasan di Jogjakarta atau Puhsarang Kediri. Misa pakai bahasa Jawa. Di awal ekaristi sang romo juga menyapa umat dengan "sugeng enjang!"

Berbeda dengan di kampung asal saya, umat Katolik di Promasan Jogja (saya sering misa di gereja tua kompleks ziarah terkenal itu) langsung menjawab dengan suara keras. "Sugeng enjang Romo!"

Gayeng banget.

Mungkin karena pengalaman di Flores dan Sendangsono inilah, saya agak asing dengan salam shalom yang makin mencuat akhir-akhir ini di ruang publik di Jawa. Saya sih lebih suka jika Indonesia punya salam yang netral untuk semua golongan kayak NI HAO MA di Tiongkok.

"Selamat pagi! Luar biasa!" Kalau yang ini sih salam khasnya Andre Wongso, motivator asal Malang yang rupanya masih kalah populer ketimbang Mario Teguh yang juga arek Malang.

15 October 2016

Skor badminton 5x11 yang cepat

Saya baru saja menyaksikan siaran langsung laga semifinal badminton Taiwan Masters di i-News TV. Pasangan Indonesia Fajar Alfian/Muhammad Rian Ardianto menang 3-2 atas pasangan Singapura. Lima game tapi cepat selesai.

Indonesia ketinggalan di dua game awal. Kemudian menang tiga game berturut-turut. Inilah pertama kali dalam hidup saya menonton bulutangkis dengan sistem lima game: 5x11. Format baru ini sedang diuji coba BWF sebelum resmi mengganti sistem 3x21 yang sekarang.

Format poin baru ini rasanya cepat selesai. Di game kedua, saya membaca pesan WA Bapak TBS pemuka gereja yang tinggal di kawasan Waru Sidoarjo. Dia bikin renungan pendek tentang kafir dan tahir. Begitu selesai membaca, pertandingan sudah selesai.

Bagaimana tidak cepat? Sudah rally point, angka akhir cuma 11. Tahu-tahu Indonesia sudah kalah. Tapi bagusnya ruang untuk iklan di televisi jadi lebar. Pemain pun punya waktu istirahat lebih lama.
Sebagai orang lama yang sangat menikmati bulutangkis era Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Alan Budikusuma, Susi Susanti, Morten Frost Hansen, Prakash... kemudian jagoan Tiongkok macam Yang Yang (sering jadi nama alias saya), Han Jian, Guo Bao, atau jawara Malaysia Mishbun Sidek... saya masih sulit menikmati sistem rally point di badminton. Sudah telanjur menikmati sistem service point 3x15.

Dulu, dengan service point, permainan bulutangkis ibarat meditasi panjang. Pemain perlu jaga napas fokus konsentrasi... maraton. Bola bisa lama sekali melayang di udara sebelum dimatikan oleh jumping smash ala Liem Swie King. Sering banget ada skor 15-4 atau 15-7 atau bahkan 15-0 jika kekuatan pemain jomplang. Sebab poin hanya diperoleh pemain yang sedang servis.

Dengan rally point 3x21, pemain yang servis atau tidak sama-sama dapat poin. Salah berarti lawan dapat angka. Maka tidak mungkin ada skor 21-0 atau 21-5. Main sejelek apa pun pasti dapat angka. Sebab si juara dunia sekalipun pasti membuat kesalahan.

Belum selesai belajar menikmati rally point 3x21, BWF bikin perubahan lagi. Sistem lima game dengan 11 point. Tentu satu pertandingan di Taiwan ini belum bisa dijadikan patokan. Tapi saya melihat pemain kita lambat panas. Dua game awal ganda putra ini seperti masih mencari bentuk permainan. Tahu-tahu sudah kalah.

Saya pun meminta pendapat Pak HM Thorieq pemilik sekaligus pembina Fifa Badminton Club Sidoarjo. Bagaimana penilaiannya tentang sistem baru 5x11 ini?

"Fokus dan konsentrasi harus dari awal laga. Kehilangan fokus berarti lawan yang dapat poin," katanya.

Sistem rally point 5x11 juga menuntut speed and power. Pemain-pemain bertipe cepat dan kuat sangat diuntungkan. Karena itu, menurut Pak Thorieq, sistem ini menguntungkan pemain-pemain Eropa yang endurance-endurance-nya rata-rata di atas pemain Asia.

"Tapi kelemahannya skill dan keindahan akan berkurang," ujar bos klub bulutangkis terbesar di Sidoarjo yang juga teman dekat mantan juara dunia Icuk Sugiarto dan Haryanto Arbi itu.

Dengan sistem baru yang singkat dan padat ini, maka kita tidak akan pernah lagi menyaksikan gaya bermain ala Liem Swie King, Icuk Sugiarto, Taufik Hidayat, atau Rudi Hartono. Pasti akan muncul jago-jago baru yang cocok dengan format 5x11.

Orang bijak berkata, "Setiap orang ada zamannya dan setiap zaman ada orangnya."

Pendeta Idaman bertobat di penjara


Kebaktian di Gereja Emas, Rutan Medaeng, Waru Sidoarjo, selalu berlangsung dramatis. Para tahanan alias warga binaan, baik yang sudah divonis maupun masih sidang, tak kuasa menahan air mata. Larut dalam penyesalan atas pelanggaran yang membuat mereka dijebloskan ke dalam penjara.

Musik, nyanyian, dan suasana ibadat khas karismatik membuat gereja kecil di dalam kompleks rutan itu ibarat kor tangisan. Haleluya! Haleluya! Haleluuuu.. bla..bla.. bla...

Begitulah yang terjadi kemarin di Gereja Efesus Rutan Medaeng ketika Lanny Chandra dan timnya memimpin kebaktian di rutan terbesar di Indonesia Timur itu. Gereja penuh meskipun sebagian tahanan yang beragama Kristen tidak ikut. "Kalau ikut semua ya gak muat," kata Tante Lanny yang sudah hampir 20 tahun melayani narapidana di penjara-penjara di Jawa Timur.

Warga binaan yang nasrani ini kebanyakan terlibat kasus narkotika. Mulai kelas pemakai, pengedar, hingga bandar besar. Ada juga bandar dari Tiongkok atau Taiwan. Biasanya wanita di bawah 30 tahun yang cakep-cakep dan langsing. Aslinya komunis, ateis, tapi setelah dipenjara rajin ikut kebaktian nasrani.

Lanny Chandra tak lupa menyediakan Alkitab bahasa Mandarin untuk para xiaojie ini. "Puji Tuhan, mereka terima Yesus di penjara. Setelah keluar kembali jadi ateis ya urusan mereka dan Tuhan," kata tante yang ahli masak berbagai jenis mi itu.

Bisa dimengerti kalau tahanan dari Tiongkok lebih senang memilih Kristen ketimbang Islam atau Hindu misalnya. Di penjara semua warga binaan memang wajib punya agama. (Untuk keperluan pembinaan rohani.) Urusan akan panjang kalau si napi ngotot tidak beragama.

Nah, di Surabaya ini ada puluhan gereja dan komunitas kristiani yang besuk tahanan alias warga binaan. Selain kebaktian, rombongan pasti membawa makanan kotakan, jajan, sabun dsb. Orang-orang Tiongkok juga merasa lebih dekat dengan komunitas kristiani karena ada satu dua orang yang bisa Mandarin. Contohnya Tante Lanny yang sejak dulu jadi penerjemah resmi di kepolisian, kejaksaan hingga pengadilan.

Sayang, kemarin tidak terlihat nona-nona narkoba asal Cungkuo. Yang jadi pusat perhatian adalah Bapak Idaman Asli. Beliau ini seorang hamba Tuhan alias pendeta di Surabaya asal Sumatera Utara. Mengapa bapak pendeta dijebloskan ke penjara?

Orang Surabaya yang rajin baca koran pasti ingat. Om Idaman ini terlibat kasus pencabulan. Dakwaannya gak main-main: mencabuli 7 bocah yang notabene anak asuhnya sendiri. Om Idaman divonis 15 tahun penjara.

Nah, bapak pendeta yang masih berstatus tahanan ini tampak paling khusyuk berdoa. Mata dipejam, tangan diangkat, bahasa roh berhamburan. Plus air mata penyesalan. Ayi Lanny yang bukan pendeta pun menumpangkan tangan serta mendoakan sang pendeta.

"Ingat Pak, Tuhan Yesus tidak pernah tinggalkan kita. Bapak akan dapat kekuatan Roh Kudus," kata Ayi Lanny kepada sang pendeta.

Wah, sampeyan kok kayak pendeta beneran? Malah jadi penasihat pendeta beneran? "Hahaha... Ayi ini orang biasa. Cuma Tuhan pakai Ayi untuk menyalurkan berkat kepada anak-anak-anak Tuhan di dalam penjara."

Ibadat selama satu jam lebih pun selesai. Saatnya warga binaan menikmati nasi kotak yang dibawa rombongan Pelita Kasih yang dipimpin Ayi Lanny. Tuhan memberkati! Haleluya!

08 October 2016

Kisruh izin membangun gereja di Pasarminggu



Masalah izin membangun gereja mencuat lagi justru di Jakarta. Tadinya saya pikir Jakarta yang kosmopolit sudah beres persoalan SARA khas Indonesia ini. Ternyata saya keliru. CNN memberitakan kasus GBKP Pasarminggu Jakarta yang terkatung-katung.‬‪ Bangunan gerejanya disegel dan ditutup pemerintah.

GBKP itu gereja protestan khusus untuk warga Batak Karo. Kalau bukan Karo ya tidak masuk Gereja Batak Karo meskipun kristiani. Kalaupun Karo, tapi Katolik atau Pentakosta atau Baptis atau Karismatik atau Advent ya tidak bisa ikut GBKP.‬‪

Model gereja suku ala GKBP atau HKBP atau Gereja Toraja ini sangat sangat khusus di Indonesia. Karena itu, sangat sulit dipahami oleh jemaat di luar GBKP atau HKBP. Jangankan camat lurah wali kota atau gubernur yang beragama Islam, orang Katolik macam saya pun (dulu) sangat sulit memahami sistem gereja macam ini.‬‪

Tanpa memahami latar belakang dan sistem penggembalaan di GBKP atau HKBP dan gereja-gereja umumnya, kasus-kasus seperti di Pasarminggu ini akan sering muncul. Dan bisa merembet ke mana-mana. Apalagi aturan pembangunan tempat ibadah versi pemerintah kontras dengan model gereja etnis kategorial ala HKBP, GBKP, dan hampir semua gereja di lingkungan nasrani yang non Katolik.‬‪

Aturan resmi pemerintah menuntut sebuah tempat ibadah (implisit gereja) hanya bisa didirikan jika punya jemaat warga setempat. Minimal 90 umatnya penduduk setempat dekat gereja yang akan dibangun. Nah, di kota besar sangat sulit menemukan lahan yang di sekitarnya ada 90 umat yang bakal bergereja di situ.‬‪

Contoh bagus di Surabaya, tepatnya di kawasan Ngagel Jaya Selatan. Ada gereja aliran pentakosta. Saya tinggal di dekat gereja itu selama lima tahun. Saya perhatikan warga RT/RW setempat yang bergereja di situ tidak sampai tujuh rumah. Malah tidak sampai tiga rumah. Meskipun penduduk yang beragama Nasrani mayoritas di RT 4 itu.‬‪

Ketua RT-nya orang Sumatera Utara yang gerejanya jauh di Surabaya Utara. Padahal gereja pentakosta itu persis di depan rumahnya. Warga RT 4 yang sebagian besar Katolik tentu ikut Gereja Paroki Santa Maria Tak Bercela di Ngagel Madya. Sekitar satu km dari perumahan. Banyak juga jemaat GKI atau Protestan yang gerejanya di luar Ngagel.‬‪

"Di dekat sini kan ada gereja. Kok kalian malah beribadah di gereja lain yang jauh dari sini?" tanya kenalan di warung kopi. Cak Ali itu heran karena gereja pentakosta itu justru jemaatnya hampir semuanya orang luar RT 4.‬‪

Begitulah kekhasan di kalangan kristiani yang punya begitu banyak denominasi atau aliran gereja. Karena itu, aturan pemerintah yang mewajibkan sebuah rumah ibadah harus punya jemaat asli daerah itu sangat sulit diterapkan di lingkungan nasrani. Lebih sulit lagi gereja etnis ala HKBP atau GBKP.‬‪

Syukurlah, orang Ngagel Surabaya ini sangat bijaksana dan matang. Karena itu, warga RT dari dulu mengizinkan berdirinya gereja pentakosta meskipun mereka sangat tahu bahwa tempat ibadah itu hampir tidak dipakai warga setempat. Mana ada orang Katolik yang mau kebaktian di gereja aliran pentakosta/karismatik? Mana ada orang Protestan macam GKI atau Reformed yang mau ikut kebaktian yang pakai band dan keplak-keplok?‬‪

Sayang, seperti dikutip CNN Indonesia, "Lurah Tanjung Barat Debby Novita menganggap jemaat GBKP Pasar Minggu bukanlah penduduk setempat. Debby mencatat, hanya 11 dari 105 jemaat gereja itu yang berdomisili di Tanjung Barat."‬‪

Hehehe... Pastilah warga setempat tidak banyak. Bahkan mungkin tidak ada. Sebab warga keturunan Karo jelas diaspora, para perantau asal Sumatera Utara. Kebetulan mereka punya sebidang tanah... kemudian ingin bikin gereja. Bisa saja di lingkungan RT itu tidak ada umat nonmuslim. Dan itu biasa di Indonesia yang mayoritas muslim.‬‪

Berbeda dengan gereja-gereja protestan, pentakosta, karismatik, baptis, advent dsb yang bersifat kategorial, gereja katolik sejak dulu bersifat teritorial atau parokial. Makanya umat Katolik wajib mengikuti paroki (wilayah) tempat tinggalnya.‬‪

Contoh: orang Katolik yang tinggal di Ngagel atau Pucang atau Bratang Surabaya wajib bergereja di Paroki Ngagel. Tidak bisa ikut Paroki Katedral di Polisi Istimewa atau Paroki Wonokromo atau Paroki Kristus Raja. Ketika tinggal di Jambangan, saya ikut Paroki Sakramen Mahakudus Pagesangan. Ketika tinggal di Gedangan, saya ikut Paroki Santo Paulus Juanda.‬‪

Sistem paroki khas Katolik ini sedikit banyak cocok dengan aturan main pendirian gereja ala pemerintah. Tapi tetap bermasalah karena di Jawa umat Katolik sangat minoritas. Karena itu, syarat minimal 90 umat Katolik bergereja di gereja yang akan didirikan tidak selalu mudah dipenuhi di kota-kota kecil. Apalagi desa-desa.

Syukurlah, tidak semua pejabat berpikiran sempit macam lurah dan wali kota di Pasarminggu Jakarta itu. TNI Angkatan Laut sejak dulu selalu menyediakan lahan fasumnya untuk tempat ibadah agama-agama minoritas. Karena itu, di lahan milik Marinir Gedangan Sidoarjo berdiri Gereja Katolik St Paulus dan Pura Jala Siddi untuk umat Hindu.

Kalau mau betul-betul ketat mengikuti aturan minimal 90 umat setempat, kayaknya umat Hindu mustahil bisa memiliki pura sebagus itu di Gedangan. Sebab setahu saya tidak ada umat Hindu yang ber-KTP Desa Gedangan.

03 October 2016

PG Toelangan Tak Lagi Giling Tebu



Setelah Pabrik Gula (PG) Krian tutup pada awal reformasi, naga-naganya PG Toelangan segera menyusul. Pabrik gula yang bersejarah itu pada musim giling 2016 ini tidak lagi menggiling tebu. Pasokan tebu petani disetor ke PG Kremboong yang lokasinya tak jauh dari PG Toelangan.

Andaikan PG Toelangan tak lagi produksi, maka yang tersisa di Kabupaten Sidoarjo cuma tiga pabrik gula: PG Kremboong, PG Watoe Toelis, dan PG Candi Baru. Bukan tak mungkin tiga pabrik lain, yang sama-sama warisan Belanda, pun bakal bernasib sama. Dan itu berarti tragedi bagi Kabupaten Sidoarjo yang tempo doeloe dikenal sebagai salah satu sentra gula di Jawa Timur.

Ambruknya pabrik-pabrik gula di Sidoarjo - juga kota-kota lain di Jawa - sebetulnya sudah diprediksi lama. Sebab struktur ekonomi sudah lama berubah. Makin sedikit warga yang menjadi petani tebu. Lahan pertanian pun menyempit untuk perumahan, industri, dan sebagainya. Karena itu, PG-PG di Sidoarjo sudah lama mengandalkan tebu dari luar kota.

Lihat saja di PG Candi Baru. Setiap hari puluhan truk dari luar kota, khususnya dari selatan, yang menyetor tebu untuk digiling. Kita pun semakin sulit menemukan lahan tebu di Sidoarjo. Tanpa lahan tebu yang luas, pasokan tebu yang stabil, jangan harap pabrik gula bisa bertahan. Mau giling apa?

Mesin-mesin di pabrik gula kita pun sudah sangat uzur. Tapi tidak berarti tidak bisa digunakan. PG Toelangan yang mesinnya tua itu bahkan dulu selalu mencatat laba. Pertengahan tahun lalu pabrik gula ternama ini juga dikunjungi Menteri BUMN Rini Soemarno. Saat itu Rini berkomitmen untuk menjaga bisnis utama pabrik-pabrik gula yang berbasis tebu. Tekad ini untuk menjawab masuknya gula mentah yang selalu ditentang para petani tebu.

Manajemen PG Toelangan pun dengan bangga mengatakan di depan Bu Menteri tentang rencana giling tebu. Apalagi mesin-mesin sudah diperbaiki. PG Toelangan menargetkan giling 229 ribu ton tebu. Sehari bisa giling 1.300 ton. Luar biasa untuk sebuah pabrik tua!

Sayang, hanya berselang setahun, PG Toelangan tak berkutik menghadapi kenyataan. "Kalau sampai tutup seterusnya ya petani-petani tebu pasti beralih ke komoditas lain," kata Amak Junaedi, warga Kajeksan Tulangan, yang juga petani tebu.

Dalam kondisi sekarang, menurut Amak, menanam tebu sangat tidak menguntungkan. Penuh ketidakpastian. Ada persoalan rendemen, kualitas, dsb. Semua ditentukan pihak pabrik. "Beda dengan menanam padi. Kita bisa jual ke mana saja. Kalau menanam tebu ya harus dijual ke pabrik gula," katanya.

Apa boleh buat. Bisnis gula memang tak lagi semanis masa lalu. Apalagi di zaman Hindia Belanda. Maka, pabrik gula di Sidoarjo yang menurut catatan sejarah ada 16, kini tinggal 4 biji. Kalau PG Toelangan ini pun tutup seterusnya, ya tinggal 3.

Sampai kapan bisa bertahan?

Bahasa Indonesia Bukan Bahasa Melayu

Sepasang REMAJA jatuh cinta
Di bawah asuhan dewi asmara...

Lagu lawas milik Koes Plus ini sering dinyanyikan Pak Bambang, pelukis senior Sidoarjo, almarhum, di kafe. Lagunya memang enak dan pernah sangat ngetop di era 1970an dan 80an.

Namanya sepasang remaja tentu laki-laki dan perempuan. Pasti bukan pasangan sejenis. Namun kolom bahasa Damiri Mahmud, esais dan penyair asal Medan, di Kompas akhir pekan lalu membuat saya galau. Ada informasi yang selama ini tidak saya ketahui.

Damiri Mahmud orang Melayu. Bahasa ibunya bahasa Melayu. Berbeda dengan kita yang bukan Melayu, orang Melayu Sumatera atau Malaysia punya kosa kata yang jauh lebih kaya. Mereka juga tahu benar makna kata asal bahasa Melayu sebelum jadi bahasa Indonesia.

Karena itu, sejak dulu saya menaruh minat khusus pada tulisan-tulisan pemerhati bahasa atau pujangga Melayu. Termasuk Damiri Mahmud yang juga dikenal di Malaysia dan Singapura.

Kembali ke REMAJA. Menurut dia, kata remaja itu feminin atau khas wanita. Kalau laki-laki tidak bisa dipakai remaja, tapi BELIA. Karena itu, Damiri memprotes istilah remaja putri yang lazim digunakan di media massa atau masyarakat. Hiperkorek, katanya. Sebab remaja, dalam benak orang Melayu, sudah tentu perempuan.

Bagaimana dengan remaja putra atau remaja laki-laki? Bung Damiri pasti geleng-geleng kepala karena aneh. Remaja kok laki-laki-laki?

Saya kemudian membuka kamus besar bahasa Indonesia (KBBI). Penjelasan tentang REMAJA:

re·ma·ja 1 a mulai dewasa; sudah sampai umur untuk kawin: ia sekarang sudah -- , bukan kanak-kanak lagi; 2 a muda: pengantin perempuannya masih -- benar; 3 n pemuda: Pemerintah mendirikan gelanggang -- untuk sarana kegiatan olahraga;
-- kencur ki remaja yg belum cukup umur.

BELIA:
be·lia a muda sekali; remaja
ke·be·li·a·an n perihal belia; keadaan yg masih remaja.

Begitulah. Bahasa Indonesia memang aslinya bahasa Melayu tapi sudah mengalami perkembangan yang luar biasa. Ada sejumlah kata Melayu yang bergeser maknanya seperti REMAJA atau BELIA. Kedua kata ini dianggap netral untuk bahasa Indonesia meskipun orang Melayu menganggapnya berjenis kelamin.

Apakah maknanya perlu dikembalikan ke konsep asal bahasa Melayu? Saya rasa sangat sulit karena sudah menjadi lema yang diterima masyarakat Indonesia secara luas. Tentu saja tidak mengabaikan keberatan dan kritik Damiri dkk. Apalagi penggunaan remaja dan belia yang tidak membedakan pria vs wanita ini sudah berlangsung selama puluhan tahun.

Masih banyak contoh kata-kata bahasa Melayu yang ternyata bergeser maknanya dalam bahasa Indonesia. Kata KAKAK dalam Melayu hanya untuk perempuan seperti Kak Ros. Sedangkan laki-laki dipakai ABANG. Sedangkan dalam bahasa Indonesia, kata KAKAK bisa dipakai untuk perempuan dan laki-laki. Kata ABANG untungnya hanya dipakai untuk laki-laki.

Ini sekali lagi membuktikan bahwa bahasa Indonesia memang berbeda dengan bahasa Melayu. Apalagi bahasa Malaysia. Karena itulah, bisa dimengerti bahwa film anak-anak Upin dan Ipin dari Malaysia pun diberi teks terjemahan bahasa Indonesia. Kalau dibiarkan apa adanya, tanpa terjemahan, orang Indonesia pasti bingung. Kecuali orang-orang Melayu di Sumatera yang bahasa ibunya memang bahasa Melayu.

Antusiasme Bola dan Degradasi Kuantitas

Ngopi dan baca koran itu asyik. Ritual rutin setiap pagi. Meskipun berita-berita di koran sudah muncul di internet kemarin, informasi di surat kabar tetap punya nilai lebih. Setidaknya bagi saya.

Seperti biasa, saya selalu mulai membaca halaman olahraga. Sepak bola Eropa! Aha.. ada berita kecil tentang berkurangnya penggemar Liga Italia di Italia. Sebab pemain-pemain top dunia makin jarang bermain di Italia. Tinggal Higuan yang sejatinya bukanlah super star sekelas Ronaldo atau Messi.

Di tubuh berita hasil terjemahan itu ada kalimat yang menggelitik. Begini bunyinya: "Meski antusiasme sepak bola di negara pimpinan Presiden Mattarella itu mengalami degradasi kuantitas...."

Hebat nian kata-kata serapan yang canggih itu. ANTUSIASME SEPAK BOLA. Siapa yang antusias? Mestinya masyarakat atau penonton. Masyarakat antusias menonton sepak bola. Sepak bola atau bola basket atau badminton atau futsal adalah permainan biasa.

Yang lebih hebat lagi ini: MENGALAMI DEGRADASI KUANTITAS.

Tidak salah sih ungkapan itu. Tapi saya selalu ingat pesan almarhum Rosihan Anwar, wartawan kawakan, mahaguru para wartawan di Indonesia. Bahwa bahasa jurnalistik itu hendaknya sederhana, singkat, tidak bergelemak peak.

Pesan lama yang sering diulang dalam pelatihan redaktur itu rupanya mulai diabaikan para jurnalis muda. Mereka makin gandrung menggunakan kata-kata besar, big words, plus gado-gado English dalam tubuh berita. Padahal bahasa Indonesia punya kosa kata yang sangat cukup.

DEGRADASI KUANTITAS sebetulnya bisa diganti dengan TURUN atau BERKURANG. Singkat, padat, jelas, sederhana. Orang-orang kampung rasanya sulit memahami DEGRADASI KUANTITAS atau AKSELERASI MODERNISASI atau INTERVENSI KULTURAL dan sejenisnya.

Anak kalimat di berita sepak bola Italia tadi bisa diubah menjadi "meski penonton sepak bola turun"..

Ah, jadi ingat buku Bahasa Jurnalistik karangan Rosihan Anwar yang sudah saya hibahkan ke salah satu organisasi mahasiswa di Surabaya. Selamat pagi!