16 September 2016

Sulit Menemukan Kopi Flores di Flores

Soto madura itu sangat terkenal di Surabaya. Dulu saya sering mampir ke warung soto madura di Jalan Bengawan Surabaya. Sekarang pusat soto madura itu sudah tergusur. Soto madura juga mudah ditemukan di Sidoarjo, Malang, dan kota-kota lain di Jawa Timur.

Anehnya, ketika keliling kota Pemekasan belum lama ini, saya tidak menemukan warung, depot, atau restoran yang jual soro madura. Di tempat wisata pantai Talangsiring juga tidak ada soto madura. Sate madura juga kosong. Kok bisa soto madura tidak ada di pusat Pulau Madura?

Begitulah. Ini mirip kopi flores yang lagi naik daun di televisi. Koran Kompas pagi ini juga memahas panjang lebar festival kopi flores di Jakarta. Kayak apa sih kopi flores itu? "Kopi arabika yang dibudidayakan di Pulau Flores, NTT," begitu jawaban saya kepada teman yang asli Jawa Timur.

Jawaban generalis ala ludrukan yang tidak bermutu. Sebab saya sendiri yang asli NTT, Lembata, bagian dari Flores Timur (dulu), tidak pernah menikmati kopi flores itu. Padahal sejak kecil saya sudah gemar ngopi. Kopi jenis apa saja. Bahkan, di rumahku ada mesin giling (selep) kopi buatan Belanda.
Kopi yang tumbuh di tanah tinggi tentu hanya cocok di Flores bagian barat. Kayak Ngada dan Manggarai. Kalau Flores Timur atau Lembata pasti susah. Apalagi curah hujan sangat kurang. Ada kopi terkenal milik kongregasi romo-romo SVD di Hokeng Flores Timur. Itukah yang dinamakan kopi flores? Atau kopi manggarai dan ngada seperti konteks berita di Kompas?

Yang pasti, cerita tentang kopi flores ini ternyata tidak sesuai image di media massa. Saat berlibur ke NTT, mulai dari Kupang kemudian Flores dan Lembata, saya justru sedih karena budaya ngopi di kampung halaman sudah berubah drastis. Saya tidak lagi menemukan orang yang sibuk menyangrai kopi di dapur. Kemudian digiling sendiri atau dibawa ke selep seperti masa kecil saya dulu.

Ketika saya minta dibuatkan kopi, apa yang terjadi? Kopi saset buatan pabrik di Jawa Timur yang dikeluarkan. Kopi Tugu Luwak dari Gresik dan Kapal Api dari Sidoarjo. Ada juga Torabika yang masuk pasar belakangan. Tapi yang paling banyak justru Tugu Luwak.

Mana kopi yang dari kampung? "Tidak ada. Tugu Luwak ini yang paling disukai orang," kata adik perempuan saya.

Hem... Saya pun sadar telah terjadi perubahan selera dan kultur yang luar biasa di kampung halaman. Dulu, sewaktu SD di pantai utara Lembata, hampir tidak ada kopi buatan pabrik yang masuk kampung.

Kopi Kapal Api sudah ada tapi kurang disukai. Orang-orang kampung pada 1980an dan 1990an menganggap kopi hasil industri di Jawa, yang dijual di toko-toko milik baba-baba Tionghoa, rasanya aneh.

Waktu jualah yang mengubah segalanya. Rakyat tidak lagi membeli biji kopi dari pedagang untuk disangrai dan dicampur jahe, jagung, dan bumbu-bumbu lain sesuai selera. Terlalu repot. Cukup membeli kopi sasetan, diseduh dengan air panas, selesai.

1 comment:

  1. Sulit menemukan kopi Flores di Flores.
    Demikian pula, tidak ada nasi ayam Hainan dipulau Hainan.
    Di Tiongkok masakan ayam itu disebut ayam Wenchang, 文昌鸡.
    Bung Hurek saya di Tiongkok masih punya 1 Kg. biji kopi arabika asli dari pulau Flores. Biji kopinya kecil2 dibandingkan daripada biji kopi asal pulau Jawa.
    Kecuali kopi Flores, saya juga masih punya kopi Toraja, Dampit dll.-nya. Biji2 kopi itu saya dapat kiriman dari seorang paman di Pasar Pabean Surabaya. Toko kopi itu sudah ada sejak tahun 188O, warisan dari kakek moyang.
    Konon pendiri pabrik kopi cap Kapal Api dulunya adalah bekas pegawai dari toko kopi kakek-saya. Lha wong bos Kapal Api, waktu datang ke Surabaya dari Fujian, cuma kenal Teh Wulong. Semua tentang perkopian, beliau belajar dari kakek saya. Syukur Alhamdulillah keturunan beliau berhasil menjadi raja kopi di Indonesia, bahkan sampai diexport ke China.

    ReplyDelete