30 September 2016

Selamat untuk atlet Jatim dan NTT

Pekan Olahraga Nasional (PON) ke-19 ditutup tadi malam. Tuan rumah Jawa Barat sukses jadi juara umum dengan 217 medali emas. Disusul Jawa Timur 132 emas dan Jakarta yang emasnya sama. Cuma beda di medali perak dan perunggu.

Jabar memang luar biasa. Peroleh medalinya jauh melampaui Jatim Jakarta. Selisihnya 85 emas. Kok begitu perkasa? Mengapa Jatim dan Jakarta terpaut begitu jauh? Sudah banyak analisis di surat kabar dan internet. Mulai teknis, nonteknis, penghalalan cara demi emas, hingga soal klenik perdukunan.

Tapi kita harus akui Jabar memang benar-benar berambisi dan layak juara umum. Saya menyaksikan final voli putri Jabar vs Jatim di TVRI. Jatim memang kedodoran. Kalah kelas. Kalah segalanya. Jadi, pantas kalah 3-0.

Laga final bola basket putra juga sama. Sejak menit awal pemain-pemain Jabar merajalela. Jatim memang kalah. Asli kalah. Bukan karena wasit berat sebelah atau faktor nonteknis. Karena itu, meskipun banyak kecurangan, kisruh, emas Jabar tetap jauh lebih banyak ketimbang Jatim dan  Jakarta.

Selain Jatim, saya juga memperhatikan hasil yang diraih Nusatenggara Timur (NTT), tempat kelahiranku. Awalnya sempat bikin kami deg-degan karena tim NTT nol medali. Sampai empat hari jelang penutupan. Koran-koran di NTT juga sibuk membahas persoalan ini. Jangan-jangan kontingen NTT pulang kampung tanpa medali.

Syukurlah, di dua hari terakhir NTT langsung melejit. Dapat emas perak perunggu. Total 7 emas 7 perak 9 perunggu. Biasanya anak-anak SD di NTT bakal mendapat pertanyaan saat ujian sekolah (macam saya dulu di Lembata). Berapa perolehan medali NTT di PON Jabar? Ingat-ingat 7-7-9.

Kalau mau fair, NTT sebenarnya bisa dapat emas di atas 10 keping. Sebab sebagian dari tujuh perak itu sebetulnya emas... jika wasit jujur dan objektif. Salah satunya di tinju 56 kg. Petinju Jabar yang jelas-jelas nyonyor, tidak bisa melanjutkan pertandingan, berdarah-darah akibat pukulan petinju NTT malah dimenangkan!

Inilah salah satu keajaiban di PON Jabar. Petinju yang kalah RSC di final malah dapat medali emas. Akhirnya petinju NTT yang marah menyerahkan medali perak kepada petinju tuan rumah. Jadi, petinju Jabar itu dapat emas dan perak sekaligus.

Hehehe... Perlu dicatat di museum rekor Indonesia!

Meskipun resminya hanya dapat 7 emas, orang NTT tidak perlu bersedih. Sebab faktanya ada belasan atlet asal NTT yang dapat emas dengan membawa bendera provinsi lain. Sonde apa-apa lah! Yang penting mereka bisa meraih prestasi untuk Indonesia.

Sejak dulu banyak atlet NTT yang hijrah ke Jawa dan daerah lain karena banyak faktor. Mulai dari bonus yang wah, fasilitas latihan, perhatian pemerintah, hingga peluang untuk mempertajam rekor. Saya sendiri tidak keberatan. Toh saya sendiri pun orang NTT yang sudah lama transmigrasi ke Jawa Timur.

Saya bisa pastikan pelari asal NTT yang menang di PON, meski cuma perunggu, bakal lebih tajam rekornya di Jatim. Sebab fasilitas latihan di Surabaya, Sidoarjo, atau Malang sudah kelas dunia. Beda jauh dengan di Stadion Kupang yang tidak terurus itu.

Belum lagi dukungan pakar-pakar olahraga, sport science, dan sebagainya. Kemudian uji coba dan kesempatan berlaga di luar negeri. Petinju peraih emas PON asal NTT pun sebaiknya ke Jawa kalau mau menekuni tinju profesional.

Selamat untuk para atlet Jatim dan NTT!

2 comments:

  1. Halo slmt sg abang. Slm kenal. Bisa tdk sy minta bhan ttg musik gereja? Sy menulis skripsi ttg musik gereja tp kekurangan bhan n ide2. Sy sgt membutuhkn bntuan abang.

    ReplyDelete
  2. Ama Paul.. bahan2 musik gereja pasti sangat banyak dan mudah diperoleh di era internet ini. Yang paling mudah ke komisi liturgi paroki atau keuskupan. Mereka punya ribuan lagu dan buku. Tema ini sangat menarik.

    ReplyDelete