26 September 2016

Salah Kaprah Juara Dua dan Juara Harapan

"Klub saya juara empat," kata mantan pemain sepak bola top era 90an.

Saat ini dia jadi pelatih sekaligus pemilik sebuah SSB di Kabupaten Sidoarjo. "Biasanya sih anak-anak saya juara satu. Minim juara dualah."

Kata-kata seperti ini sudah sangat lazim di masyarakat. Hampir semua wartawan olahraga juga menggunakannya: juara 1, juara 2, juara 3, juara 4... dst. Tapi saya sudah lama tergelitik dengan istilah ini.

Juara kok banyak? Setahu saya, sebelum buka kamus, yang namanya juara itu ya satu orang. Atau satu regu/tim. Tidak ada yang namanya juara dua tiga empat lima dst. Apalagi juara harapan satu, juara harapan dua, juara harapan tiga dst.

Akhirnya saya gatal juga membuka kamus besar. Saya cek lema JUARA. Aha, penjelasannya ternyata cocok dengan konsep saya selama ini.

Kamus bahasa Indonesia menulis: "Juara: Orang (regu) yg mendapat kemenangan dlm pertandingan yg terakhir."

Ada lima pengertian juara. Tapi dalam konteks ini (olahraga, lomba, kompetisi, kontes), juara itu sang pemenang di laga terakhir (final). Yang kalah di final ya runner-up. Bukan juara dua. Lebih pas: peringkat kedua. Disusul peringkat ketiga keempat kelima dst.

Kok ada juara harapan segala? Bahkan, dalam lomba-lomba di lingkungan gereja ada juara harapan satu sampai harapan tiga. "Biar lebih banyak yang dapat hadiah," ujar seorang ibu aktivis paroki di Surabaya.  Hehe...

Rupanya salah kaprah juara satu dan juara harapan ini cuma ada di Indonesia. Kalau kita rajin membaca berita-berita berbahasa Inggris niscaya tidak ada juara yang lebih dari satu. CHAMPION itu ya juara! Artinya sama persis dengan JUARA versi kamus standar bahasa Indonesia. Tidak ada the second champion atau the third champion!

Karena itu, saya lebih suka istilah medali emas perak perunggu yang dipakai di olahraga atau olimpiade fisika atau matematika. Lomba paduan suara internasional pun pakai istilah peraih emas perak perunggu. Emas untuk juara alias peringkat satu. Perak posisi kedua, perunggu ketiga.

3 comments:

  1. Kalau dalam Bhs Ingrris, juara ke-2 itu first runner up, lalu 2nd runner up, dst. Champion hanya satu, Sang Jawara. Kalau Juara Harapan tidak ada, hanya biasanya dalam kontes-kontes kecantikan atau untuk lomba anak-anak diadakan label tertentu, seperti "Miss Congeniality", atau "Most Improved". Istilahnya consolation prize atau hadiah penghibur, tetapi tetap bukan juara.

    Salah kaprah ini mungkin penyebabnya kultural, di mana di Indonesia sulit untuk mencuat sendiri walaupun juara 1. Jadi yang lain disebut juara juga.

    ReplyDelete
  2. Terima kasih Mas.. dan betul sekali analisisnya. Di Indonesia memang panitia lomba apa pun ingin bagi2 hadiah. Ingin agar sebanyak mungkin peserta yg menang. Standarnya ada 6 pemenang. Makanya ada juara satu dua tiga.. plus juara harapan satu dua tiga. Malah ada lagi juara favorit.

    Syukurlah, dalam pemilihan duta wisata sejak dulu tidak ada istilah juara satu, juara dua, juara tiga...

    Contoh: juara pemilihan duta wisata Surabaya itu namanya Cak dan Ning Surabaya. Disusul wakil 1 dan wakil 2. Kemudian Cak dan Ning persahabatan.

    Tapi ya itu.. karena sudah telanjur salah kaprah, kita yang menulis JUARA thok, maksudnya terbaik, masih ditanya orang. Juara piro? Juara berapa?

    ReplyDelete
  3. Meskipun salah yg kaprah, sehingga sudah dianggap biasa dan benar, istilah juara satu, juara dua dst membuat kita bisa dengan mudah mengetahui peringkat atau ranking peserta atau tim. Kalau cuma disebut Duta Wisata Persahabatan pasti tidak banyak orang yg tahu bahwa peserta itu berada di peringkat 4. Beda kalau istilah Duta Wisata Persahabatan itu disebut juara harapan satu hehe...

    ReplyDelete