20 September 2016

Pelukis Rudi Isbandi yang nyentrik


Banyak kenangan indah bersama almarhum RUDI ISBANDI. Pelukis senior Surabaya ini meninggal dunia jelang 80 tahun di Jakarta akhir pekan lalu. Seniman komplet, begawan seni rupa, perintis museum seni rupa (yang keburu tutup), tokoh dewan kesenian, dan macam-macam lagi.

Sudah begitu banyak seniman yang saya temui dan akrabi. Tapi Rudi Isbandi benar-benar unik. Baik kata-katanya yang jenaka, cerdas, kritis, tapi juga laku kesehariannya. Rambutnya dibiarkan panjang awut-awutan. Tidak pernah disisir atau dirapikan. Tidak pernah dicat.

"Saya biarkan apa adanya. Saya justru lebih suka wajah dan penampilan saya sekarang ketimbang waktu muda dulu," kata Pak Rudi saat ngobrol dengan saya di rumah plus museumnya Karangwismo I/10 Surabaya. Tak jauh dari kampus Universitas Airlangga.

Karena itu, Pak Rudi hampir setiap hari membuat sketsa wajahnya. Kadang pakai tangan kiri, kadang tangan kanan. Pria kelahiran Jogja 2 Januari 1937 ini ingin membuktikan bahwa tangan kiri dan kanan sebetulnya sama-sama penting. Sama-sama bisa dipakai untuk melukis, menulis, dan apa saja. Tidak benar anggapan bahwa tangan kiri cuma sekadar pelengkap tangan kanan.

Sketsa-sketsa wajah ini kemudian diberikan kepada siapa saja untuk suvenir. Saya pun dapat satu. Sketsa yang dibuat pakai tangan kiri. "Bagaimana? Ada bedanya skesta hasil tangan kanan dan kiri?" tanya Pak Rudi.

"Mirip banget. Sama bagusnya," jawab saya memuji. Pujian yang tulus. Sebab gambarnya seorang maestro seni lukis yang sudah mengasilkan lebih dari 2.000 karya seni rupa ini memang ciamik.

Sketsa wajah sendiri ini boleh dikata cuma mainan sambil lalu. Sejak akhir 90an Rudi Isbandi makin gandrung instalasi. Barang-barang bekas seperti rantai sepeda, gir, logam-logam rongsokan mesin... dia tata jadi karya seni. Semua karya ada filosofi dan kritik sosialnya. Termasuk menyoroti hiruk pikuk politik saat krisis moneter dan reformasi tahun 1998.

"Seniman tidak boleh diam. Seniman itu bicara lewat karya-karyanya," ujar ayah dua anak ini saat menjelaskan beberapa karya instalasi di lantai atas museumnya. (Putranya Totok sudah lebih dulu almarhum. Putrinya Titik Ratih yang menemani jelang akhir hidupnya.)

Almarhum Rudi Isbandi meraih penghargaan dari Presiden Soeharto, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Gubernur Jatim, Menteri Luar Negeri RI, Pemerintah Mesir, Menko Kesra, KB Lestari Teladan Tingkat Nasional, lencana kemanusiaan dari Presiden Megawati, dan beberapa penghargaan bergengsi lainnya. Tidak terhitung penghargaan-penghargaan kecil. Pak Rudi kemudian dipercaya untuk menjadi anggota tim seleksi calon penerima penghargaan gubernur dan wali kota.

Gaya Rudi Isbandi ini sekilas mirip Slamet Abdul Sjukur, seniman musik kontemporer asli Surabaya, yang berpulang tiga tahun lebih dulu. Sama-sama suka blusukan. Pak Slamet blusukan dengan dibantu kruk. Pak Rudi blusukan jalan kaki ke mana saja kakinya melangkah.

Setiap hari Pak Rudi blusukan ke kampung-kampung di Surabaya. Jalan kaki pagi sampai siang, bahkan petang. "Jalan, jalan, jalan aja... Itu saya lakukan selama puluhan tahun," katanya.

Rudi Isbandi yang gondrong awut-awutan itu tak tergonda naik angkot atau nunut motor dan mobil. Sebab biasanya ada saja kenalannya yang kebetulan melihat dia bermandi keringat di jalan. Diajak numpang mobil. "Lah, wong aku niatnya jalan kok."

Tak sedikit warga yang mengira Pak Rudi ini seorang gelandangan yang cuma luntang-lantung di jalan. Maklum, pakaian yang dipakai sangat sederhana layaknya wong cilik. Orang tidak tahu kalau beliau ini salah satu perupa sukses yang lukisan-lukisannya dihargai tinggi oleh kolektor. Itulah yang membuat dia bisa membuat museum seni rupa dengan biaya miliaran rupiah pada 2010.

Selamat beristirahat panjang untuk Pak Rudi dan Ibu Sunarti! Semoga bahagia di surga!

2 comments: